Powered By Blogger

Jumat, 06 Desember 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (145)

Kalau teman-teman ingin tahu seperti apa ekspresi wajah saya akhir-akhir ini, silakan lihat ilustrasi yang saya jaring dari Google ini. Sungguh tidak ada manis-manisnya bukan?! Yang ada saya memang pemarah dan mudah meletup hanya gara-gara persoalan-persoalan yang dianggap sepele.

Contohnya di Rumah Sakit kemarin pagi. Hari itu saya dijadwalkan memeriksakan diri ke dokter ahli penyakit dalam untuk mendapatkan izin kemoterapi yang akan saya serahkan kepada onkologis saya. Sebab pendanaan obat kemoterapi saya sudah jelas sehingga diharapkan saya bisa dikemoterapi hari Sabtu besok. Onkologis saya sendiri sudah kelihatan sangat khawatir menghadapi kasus penyakit saya. Relawan kanker yang biasa dimintai tolong mendampingi pasien beliau bilang, dokter onkologi saya sampai tak nyenyak tidur sebab merasa sangat bertanggung jawab atas hidup mati saya. Ah, sebegitu besarnya dedikasi beliau terhadap tugasnya, amat mengharukan saya.

Untuk menyingkat waktu, anak saya berangkat begitu bumi jadi terang-terang tanah untuk mendaftar ke poliklinik. Saya akan dijemputnya kemudian supaya saya tidak terlalu lama menunggu. Semua berkas sudah dibawanya sekalian termasuk lembaran pemeriksaan laboratorium dan elektrokardiografi yang sayangnya tidak kami periksa lebih dulu bagaimana isinya.

Betul saja saya mendapat nomor giliran 3 di poliklinik yang biasanya padat pengunjung itu. Tapi sialnya, begitu saya mendaftar ulang di bagian pendaftaran RS, berkas saya tidak segera diselesaikan. Kami menunggu sangat lama dengan alasan lembar pengguna dana Jamkesda saya harus menunggu persetujuan Direktur Keuangan RS terlebih dulu. Jadi anak saya disuruh menunggu di bangku tunggu lagi.

Waktu itu kami mengira ibu pejabat sedang rapat pimpinan, tapi satu jam kami tak juga dipanggil. Sehingga saya meminta anak saya menghadap petugas lagi untuk menanyakan apa yang terjadi. Saya khawatirkan setelah permohonan pendanaan obat kemoterapi saya dikabulkan, saya akan kesulitan mendapat biaya pengobatan ke poliklinik yang harus saya lakukan juga.

Petugas tanpa keterangan yang pasti malah menanyai anak saya apakah ingin membayar secara pribadi untuk kali ini. Berhubung anak saya pernah ditegur ketika pada suatu hari membayar pribadi, maka kali ini anak saya menolak. Dikatakannya kami bersedia menunggu ibu pejabat selesai nanti. Sementara itu si petugas cuma mengangguk setuju tanpa penjelasan apapun.

Karena sudah nyaris dua jam terabaikan sedangkan dokter hampir memulai prakteknya, saya meminta anak saya untuk kembali menghadap menanyakan apa yang terjadi. Soalnya saya belum ke laboratorium dan melakukan pemeriksaan jantung sebagai syarat izin kemoterapi. Namun anak saya menolak. Dengan santai dia meminta saya sabar menunggu daripada kena teguran petugas pendaftaran. Seketika itu amarah saya terbangkit dan meledak. Saya katakan kepadanya dia tak berperasaan. Tubuh saya sudah letih dan sakit, dia tega menyuruh saya menunggu terus. Tanpa rasa bersalah anak saya malah melenggang meninggalkan saya berdiri menjauh tanpa menghampiri meja pendaftaran.

Sementara itu perawat sudah menanyakan hasil laboratorium dan perintah pemeriksaan jantung saya. Artinya saya sudah hampir menghadap dokter. Terpaksa saya katakan bahwa urusan pendaftaran saya belum selesai. Maka saya minta giliran saya dimundurkan saja.

Demi mendengar penjelasan saya, kerabat saya yang bertugas di klinik sebelahnya menyahut, "oh bulik, bu Tining nggak bisa ditunggu, beliau tadi rapat di luar kantor meninjau lokasi baru RS."

"Lha?! Kok bagian pendaftaran nggak bilang gitu sih?" Sahut saya terheran-heran.

"Wah, nggak tahu ya, tapi yang jelas beliau pergi," jawab jeng Ninik sehingga saya terpaksa memanggil anak saya dan minta dia membayar pribadi atau pulang saja.

"Kita sabar lagi sih bu, daripada kesannya sudah jadi peminta-minta masih ingin enaknya aja," jawab anak saya santai yang membuat saya semakin meluap. Ketambahan ada pasien di sebelah saya yang baru kali ini saya lihat berusaha mencari perhatian ketika melihat lengan saya yang terbebat pembalut dan digendong. Dengan santainya seperti kebanyakan orang termasuk sopir-sopir angkutan kota yang saya sewa bertanya ringan, "bu, itu tangannya habis jatuh ya?"  Matanya juga diarahkan kepada saya seperti ingin menyelidiki. Kali ini saya tak berniat berbagi kisah atau sekedar mengoreksi. Dengan ketus saya jawab sepatah, "bukan." Lalu dia pun terdiam. Agaknya dia sadari saya sedang tak merasa nyaman.

Saya kemudian mengontak si bungsu dengan SMS mengeluhkan hal ini. Tak lama kemudian saya lihat anak saya di kejauhan menerima panggilan telepon, berkomunikasi lalu menghampiri petugas pendaftaran. Di dalam hati saya tersenyum lega. Pasti itu si bungsu mencoba membujuk kakaknya untuk mengerti kondisi saya. Memang saya akui, si bungsu dari dulu selalu berkeinginan menyenang-nyenangkan saya dengan segala caranya.

Setelah itu anak saya menghampiri saya mengajak saya ke laboratorium. Sehingga saya menanyainya, "memang kamu mau bayar pribadi?" Yang ditanggapinya dengan anggukan kepala, "iya lah, kata adik bayar aja. Nanti kalau ditegur dijawab bahwa nggak mungkin menunggu bu direktur, gitu."

"Euh...., coba dari tadi," balas saya tetap saja mengeluh macam lenguhan kerbau.

"Maaf lah, habis aku takut ditegur lagi seperti yang dulu. 'Kan bagian pendaftaran yang melayani kita orang baru. Dia tadi nggak bilang pejabatnya nggak bisa ditunggu karena rapat dengan Pemda di luar gedung," timpal anak saya.

Saya mencernanya sejenak, kemudian menarik nafas lega dan berujar, "oh ya kalau 'gitu kamu nggak harus minta maaf. Mereka yang lalai nggak berterus terang."

"Ya 'gitu lah. Baru setelah kutanya rapat di luar kantor ya, baru dia 'ngangguk. Payah ah," keluh anak saya yang kini ikut juga merasakan kejengkelan.

Setibanya di laboratorium proses tak terlalu lama, sebab kebanyakan pasien sudah datang lebih pagi. Saya segera dipanggil, namun belakangan baru saya sadari bahwa permintaan onkologis saya adalah pemeriksaan lengkap yang mengharuskan saya menampung air seni saya selama 24 jam untuk diperiksakan di laboratorium lain yang lebih lengkap. "Wah teteh, dokter Bayu minta hitung lengkap kreatinin-ureum segala? Bukan cek darah tipe 2?" Tanya saya spontan kebingungan. Sebab seingat saya sebulan yang lalu saya sudah melakukannya, sehingga baru akan diulang bulan depan.

Teknisi laboratorium itu menyahut cepat, "iya bu. Oh ibu udah pernah ya?"

"Ah, sering lah tiga atau empat kali. Nggak salah tuh, bukannya baru diulang bulan depan?" Jawab saya separuh mendebat.

"Nggak bu, ini, silahkan lihat lembar permintaannya dokter Bayu," dia pun menyodorkan lembaran itu untuk saya baca.

Saya tertawa geli sendiri. Separuhnya saya bersyukur karena saya sadari saya diperlakukan istimewa oleh dokter bijak ini. Saya terpikir beliau tentunya galau melihat kondisi fisik saya yang terus melemah sehingga mempersiapkan kemoterapi saya dengan sangat baik. Persis seperti cerita bu Linda sang relawan kanker beliau sampai mengontak bu Linda tengah malam meminta pendampingan untuk saya.

"Ya sudah teh, silahkan. Saya nurut deh, dokter kok yang lebih tahu kondisi saya," jawab saya sambil tertawa kecil.

"Ya bu, dokter Bayu nggak mungkin salah, ditunggu urinenya besok siang ya," sahut bapak petugas pendaftaran yang sudah sangat mengenal saya ikut-ikutan menimpali.

"Beres lah pak, saya kirim besok siang, terima kasih ya," janji saya tersenyum senang.

Walau senang tapi sesungguhnya hati saya ketar-ketir juga, membayangkan kemoterapi saya akan tertunda lagi. Apalagi kata bu Maria Sitanggang perawat kepala yang berkewajiban mengatur giliran kemoterapi, obat saya belum tersedia. Bahkan di sela-sela tugasnya beliau sempat duduk mengobrol dengan saya mengenai jalannya negosiasi anak saya dengan pejabat DKK kemarin dulu.

"Anak saya menanyakan apa sebabnya obat sudah diturunkan mutunya menjadi second line kok nggak juga didanai kedua-duanya sesuai kesepakatan bulan lalu. Terus jawaban mereka karena di resep ditulis nama dagangnya juga, padahal 'kan itu tulisan pihak apotek tuh bu," terang saya. 

Zuster Maria menyahut, "ah 'kan merek dagang itu isinya sama dengan generiknya. Dan ditulis untuk mempertegas saja, bukan berarti harus diberi yang bermerek." Beliau mengerutkan keningnya.

"Ya itulah bu Maria. Mereka pikir kita minta diberi yang merek dagang," ujar saya lagi.

"Nah kalau pun iya, harganya sama lho bu. Merek A kan?!" Bu Maria berusaha menegaskan lagi.

"Ya betul. Mereka bilang sih lebih mahal. Jadi kalau dibelikan A, maka C nya nggak jadi, begitu katanya," ungkap saya.

"Ah, itu 'kan kata mereka. Mestinya dr. Rofiah 'kan tahu bu Julie, soal obat-obat itu," debat bu Maria.

"Oh bu Rofi nggak mau tahu, kami diminta menghadap atasannya bu dokter gigi Margaretha. Lagipula kata beliau kalau obat sudah tercantum di DPHO kita nggak perlu lagi minta persetujuan dengan lembar Acc. Jadi untuk selanjutnya obat saya bisa langsung diproses seperti dulu bu," jawab saya.

"Ha?! Kok 'gitu. 'Kan mereka buat aturan baru semua obat mesti minta Acc termasuk C dan D yang paling sederhana yang nggak cocok untuk bu Julie dulu itu," jelas bu Maria terheran-heran

"Ya nyatanya kemarin mereka bilang gitu sih bu. Tapi terus anak saya bilang untuk kali ini lihat tulisan dokter di resep, 'kan nggak nyebut merek, jadi permintaannya obat generik. Apa tidak bisa dikabulkan semua setelah turun kualitas begini? Baru kemudian disetujuinya," saya menjelaskan lagi seutuhnya tanpa berniat ingin menjatuhkan pihak-pihak mana pun.

Perawat kepala itu tersenyum masam, "wah, hebat juga negosiasinya. Untung pasiennya orang mengerti. Kalau bukan, terpaksa 'nurut deh ya," komentar bu Maria seraya beranjak melanjutkan tugasnya. Saya cuma bisa tersenyum simpul tapi dalam hati membenarkan ucapannya. Kalau rakyat kecil yang tak punya pengetahuan dan pemahaman baik, rasanya memang hanya bisa tunduk patuh memasrahkan diri. Sebab akan mendebat dengan senjata apa, coba?! Pantas saja banyak orang yang melabeli kami sebagai "pejuang yang gigih".

Sekembalinya dari apotek saya menghampiri zuster Nining yang hari ini mengasisteni dokter ahli penyakit dalam untuk minta direkam jantung. Ternyata dia sedang di dalam klinik, sehingga rekan kerjanya yang lelaki nyaris minta tolong zuster Ninik kemenakan saya. Tapi tentu saja tak jadi sebab dia sedang mengasisteni dokter ahli syaraf. "Sebentar ya bu, teh Nining saya panggil dulu," katanya seraya berlalu ke dalam klinik. Dan lima menit kemudian mereka bertukar peran. Teh Nining mengajak saya ke ruangan EKG tak jauh dari situ.

"Tolong yang bagian tangan kiri nyantel di jari ya teh, soalnya sekarang saya cacat," saya memberitahu teh Nining seraya mengekspose lengan dan tubuh saya.

Diperhatikannya saya baik-baik seraya bertanya, "memangnya bisa gitu, bu?"

"Bisa sekali. Yang ngajari dokter jantung di Dharmais. Coba deh," kata saya meyakinkan.

Dia tercenung sejenak mengamat-amati saya dan bertanya pula, "nggak bisa pembalutnya dilepas dulu apa ya bu?"

"Nggak bisa teh. Coba dulu pakai jari," tegas saya sehingga beliau mengalah dan mau mencobakannya. Rasa ngilu yang ditimbulkan alat perekam itu sesaat kemudian mengganggu dada saya. Tapi agaknya mesin tak bisa beroperasi dengan baik sehingga teh Nining mencurigai jari saya sebagai penyebabnya. Saya pun kemudian mengubah posisi lengan saya. Tetapi tindakan ini pun tak menolong juga, sehingga teh Nining putus asa dan meminta bantuan dua orang perawat lainnya. 

"Bu, kalau di poli jantung, alat penjepit elektrodanya kecil-kecil tentu saja bisa," kata perawat yang seorang yang belum saya kenal.

"Eh bu, bulan lalu di sini juga bisa," bantah saya teringat pemeriksaan bulan lalu yang sukses. Lalu saya kembali mengatur posisi lengan saya menjadi betul-betul lurus sementara teh Nining sekali lagi memindahkan penjepit elektroda itu ke pucuk jari saya. Dan nyatanya sukses. Kami pun senang. Ternyata pengalaman pasien terkadang diperlukan juga oleh perawat. :-)

Untung hasil rekam jantung kata dokter bagus. Jadi meski saya belum bisa masuk ke Ruang Kemoterapi besok Sabtu, tetapi saya sudah menggenggam "sertifikat" jantung sehat. Dan keadaan ini masih terus dijaga dokter ahli penyakit dalam saya dengan pemberian obat jantung. Tinggal saya menyelesaikan kewajiban pemeriksaan air seni saya di apotek, menunggu hasilnya hingga Senin sore lalu berharap kemoterapi saya bisa berlangsung Rabu. Itu artinya sudah tertunda sepuluh hari. Suatu keadaan yang menggelisahkan onkologis saya tentunya. Tapi apa boleh buat. Selain kami pasien tidak cermat membaca perintah dokter, pihak DKK pun tak bisa secepat kilat menyetujui pembelian obat saya. 

***

Hari ini anak saya menyerahkan urine saya ke laboratorium RS untuk kemudian diperiksakan di laboratorium lain yang punya fasilitas tergolong sangat lengkap. Memang harus diakui, meski jejeran dokter di RS swasta milik salah satu partai politik besar dan terlama tempat saya berobat ini terbilang terlengkap di kota kami, tapi RS ini kecil saja. Akibatnya fasilitas pemeriksaan penunjang terbatas. Namun dalam waktu dekat konon RS ini akan diambil alih pemerintah menjadi RSU besar yang sangat dibutuhkan masyarakat. Itulah sebabnya sekarang sedang dibangunkan gedung baru, yang tengah dirapatkan oleh pimpinan RS sehingga pejabatnya sulit dikontak.

Untuk diketahui, di kota Bogor sejak dulu tak pernah ada RS Pemerintah yang resmi. Lebih dari setengah abad yang lalu ibu melahirkan saya di satu-satunya RSU milik Palang Merah Indonesia yang difungsikan sebagai RS Pemerintah hingga sekarang. Baru pada tahun 2002 RS Jiwa Pusat ditingkatkan serta dikukuhkan menjadi RSU Pemerintah dengan nama RS dr. H. Marzoeki Mahdi (RSMM). Ini pun ada alasannya, yakni untuk memberikan fasilitas pengobatan bagi pasien-pasien psikiatri yang sakit secara fisik dan memerlukan perawatan yang sesuai. Sebab biasanya RS yang ada tak bersedia merawat mereka.

Sekembalinya dari RS anak saya bilang, hasil laboratorium baru selesai hari Selasa, sehingga kemoterapi saya pasti harus mundur ke jadwal hari Jumat atau Sabtu. Sebab Rabu pagi saya baru bisa menghadap dokter ahli penyakit dalam lagi sehingga laporan kepada onkologis baru bisa setelahnya, yang artinya malam itu juga. Dengan demikian jika saya dinyatakan fit dan obat kemoterapi sudah tersedia di apotek, maka saya baru boleh dikemoterapi setelah Rabu. Dan mengingat onkolos saya berpraktek hari Sabtu, tentu saya pun memilih hari Sabtu.

Itu artinya kemoterapi saya tertunda dua minggu. Semoga saya kuat menanggungkan akibatnya. Semoga tumor saya tak mengamuk kembali. Sebab yang saya dengar jika sudah disakiti, sel kanker akan cepat meradang lalu meruyak. Padahal sekali lagi saya niatkan : Saya belum mau mati!

(Bersambung)

4 komentar:

  1. sukaaa sama kata-kata yang terakhir "Saya belum mau mati!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,,,,,,, padahal itu buat nyemangatin diri sendiri kok. Sebab onkologis saya bilang, terus aja berjuang, jangan gampang patah arang. :-)

      Terima kasih ya mbak Evi. Mau ganti dokter pindah ke beliau, nggak? Sumprit keren abizzzzz deh orangnya!

      Hapus
  2. mauuuu deh bu pindah..tapi takut...takut saya jadi salah tingkah wkt di periksa sama beliau he he he *udh keGR-an aja ya bu saya nya* tapiii beneran bu.....pengen bu pindah krn kyknya lebih "berkomunikasi" dng pasien deh bu di banding dokter saya..
    Bu Julie...jangan patah arang ya bu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, coba aja. Saya pernah bareng nenek-nenek mendekati 70 tahun dari Kuningan. Dia datang ke RSKD karena disuruh oleh dokter di Kuningan, tapi nggak jelas dirujuk ke siapa. Terus dia dipilihkan bagian pendaftaran, dikasihkan ke beliau. Satumya lagi peserta Jamsostek dari Karawang juga dari RS asalnya udah dirujuk ke beliau di RSKD. Belum lagi di Bogor sini para perawat kalau disuruh milihkan dokter ya ngajukan namanya juga.

      Eh tapi kata relawan kanker, dokternya mbak Evi (dr. DDP ya?) juga enak kok, jiwa sosialnya juga menonjol. katanya lho. Ya nggak sih?

      Hapus

Pita Pink