Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

INTERMEZZO: DARI GUBUK KE ISTANA (2)

Dalam kesedihan yang begitu melukai insan yang telah dengan sepenuh hati menguatkannya serta membuatnya bertahan ini, segudang urusan administratif harus diselesaikan malam itu juga. Usai ku kabari salah satu saudara sepupu terbaikku maka ia dengan sigapnya segera meluncur dari kantornya yang kebetulan berjarak tak terlalu jauh dari rumah sakit. Dengan cukup tergopoh-gopoh ia berlari menuju lift lalu menuju kamar 706 yang menjadi rumah singgah terakhir bunda selama 1 bulan lamanya ini. Wajahnya yang begitu murung dan sedih menghampiriku sembari menyemangatiku lalu seketika itu juga menitikkan air matanya di hadapan bunda yang sudah terbujur kaku dibalut kain putih. 

Tanpa pikir panjang, tanganku diraihnya dan digeretnya mendekati pintu untuk menanyai tentang apa yang harus diurus melewati banyak orang yang saat itu sudah hadir di kamar bunda. Lalu ku jabarkan satu per satu hal yang harus kuurus padanya sembari masih berusaha tegar sebisaku. Sesegera itu ia menuntunku ke bawah untuk mengurus semuanya karena ia punya pengalaman serupa saat mengurus pamanku beberapa tahun yang lalu. Selain itu ia juga bekerja di bidang perbankan sehingga banyak tahu mengenai sistem pembayaran dan keuangan. Usai mengurus pembayaran, ia pun mengajakku mencari tempat mengurus ambulans yang akan dipakai untuk membawa bunda kembali ke tempat tinggal kami yang memang sudah berusia 23 tahun dan butuh beberapa perbaikan di sana-sini meski tak terlalu banyak. Ku rasa walau memang tak bisa dibilang sederhana, namun tempat tinggal kami ini tentu tak sebanding dengan rumah baru bunda yang kuperkirakan amatlah megah. Ini tentu hanya apabila Allah SWT. meridhoi bunda untuk ditempatkan di rumah yang seperti itu. 

Usai mengurus semua urusan administratif, aku diminta menanti kedatangan petugas dari kamar jenazah yang akan membawa bunda untuk malam itu juga dimandikan serta dibungkus kain. Pertanyaan mulai banyak muncul dari orang-orang yang sudah ramai berkumpul di kamar 706 yang kelak akan menjadi kenanganku sepanjang hidup. Seperti salah satu teman sekolah bunda, kebetulan dulu tahun 2002 ibunya sempat sakit di rumah sakit yang sama dan kalau tidak salah meninggal di sana juga sehingga menurut bunda ia tak berani menjenguk bunda selama berada di RS itu. Mungkin kelak hal serupa akan terjadi padaku meski aku akan berusaha semampuku untuk bisa melupakan kenangan pahit ini dan membiasakan diri dengan situasi seperti ini. Akhirnya setelah nyaris 30 menit berlalu, tibalah para petugas dari kamar jenazah yang berjumlah dua orang. Dipindahkannya lah tubuh bunda yang alhamdulillah sama sekali tak nampak kurus ke dalam sebuah peti berbahan metalik. Diantarnya bunda menuju kamar jenazah guna dimandikan dan dibalut. 


Micropore
Setibanya di sana, telah menunggu seorang perempuan yang tubuhnya tak terlalu tinggi telah siap menerima bunda untuk segera dibersihkan. Diambilnya lah sebatang sabun mandi serta dibukalah kedua kran air yang berada tepat di atas pundak bunda. Satu per satu bagian tubuh bunda dibersihkannya dengan hati-hati. Saat tiba pada bagian paha kiri yang baru saja dioperasi beberapa waktu yang lalu, muncullah darah merah yang mengalir. Ia memintaku mencari plester yang mampu merekatkan kain kassa yang kelak akan digunakan untuk menutupi luka itu. Kubawakannya segulung pita Micropore namun ditolaknya karena dianggap tak cukup kuat. 


Hypafix/Fixomull Stretch
Kemudian ia memintaku untuk pergi ke apotik mencari pita perekat lainnya yang lebih kuat. Namun ternyata apotik malam itu cukup ramai sedangkan para petugasnya masih sibuk di bagian dalam sehingga tak ada seorang pun yang tersedia di meja pelayanan. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke lantai 7 guna meminta pita perekat dari ruangan zuster. Saat kutanya apakah aku boleh meminta perekat Hypafix atau yang dikenal juga dengan sebutan Fixomull Stretch sesuai permintaan dari kamar jenazah, wajah mereka agak terheran-heran namun saat itu juga langsung diberikannya satu gulungan lebar kepadaku.

Dengan secepat mungkin kuturuni satu demi satu anak tangga darurat guna mempercepat urusan memandikan jenazah. Rasa lelah yang muncul akibat dari pergerakanku ke sana ke mari naik turun lantai seolah tak menjadi beban lagi bagiku. Sesampainya ku di sana langsung pita itu diambil petugas perempuan itu. Lalu ku bantu ibu-ibu memandikan bunda serta menutup lukanya sambil kupandangi wajah bunda yang membuatku terbayang akan kegigihannya selama ini dalam melawan penyakitnya. Kurasakan kekuatan itu tak pergi menghilang bersama raganya. Kekuatan itu senantiasa berada di sini bersama kami anak-anaknya serta orang-orang terdekatnya. Satu demi satu kain serta kapas menutupi tubuh bunda yang saat dipanggil sang pencipta nampak cukup gemuk. "Ibunya gemuk ya mas." ujar perempuan yang memang biasa memandikan jenazah itu. Dengan nada yang sedikit bergetar kuiyakan pernyataan perempuan itu tadi. Saat itu keadaan di luar kamar jenazah telah ramai oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Banyak sanak saudara, teman serta kerabat yang sudah memadati lorong-lorong di sekitar kamar jenazah. Silih berganti mereka melongokkan kepala ke dalam ruang jenazah sekedar untuk melihat kondisi terakhir bunda. Tiba-tiba telepon genggamku bergetar pelan berkali-kali. Kulihat pada layarnya muncul sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Kuangkat dan kusapa orang yang berada di ujung sana. Ternyata suara ayahku menyahut dengan nada yang cukup lembut. Seketika itu juga aku tak kuasa lagi menahan rasa sedih yang teramat dalam ini. Beliau menguatkanku dengan berbagai ucapannya meski sesekali aku tak dapat menjawabnya dan hanya menggantung pembicaraan kami. Ku teringat akan beliau yang berada di negeri orang nun jauh di sana, tanpa kami anak-anaknya. Pembicaraan tak berlangsung lama karena ku tak kuasa menahan segala rasa sedih dan rindu padanya. Usai bunda ditutupi dengan rapi, tubuh diperciki tetesan wewangian agak tak memunculkan aroma tak sedap kelak. 

Usailah sudah bunda "disucikan". Digotonglah tubuh bunda menuju ambulans yang telah menanti di luar diiringi begitu banyak orang yang bahkan aku tak ingat siapa-siapa sajakah mereka yang hadri malam itu. Tak berapa lama kemudian berputarlah roda-roda mobil yang mengantarkan kami bersama bunda menuju gubuknya bunda diikuti beberapa deret mobil yang tak lain adalah saudara-saudara kami. Hawa malam dan pendingin ruangan (AC) semakin menusuk setiap orang yang berada di dalam mobil saat kemacetan ibu kota menghadang laju kami. Dua jam perjalanan antara ibu kota dan kota hujan kali ini terasa yang paling berat bagiku. Dulu acap kali bunda mempersilahkanku dengan sangat ikhlas dan penuh kasih sayang terlelap di pangkuannya sampai tak sadar telah tiba di tempat tujuan. Kini bunda yang tertidur meski bukan dipangkuanku. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sejumlah orang yang terdiri dari tetangga, saudara, teman serta kerabat telah menanti di gubuk kami.

Dengan bantuan segenap orang saat itu, kugotong dan kubaringkan tubuh bunda di ruang tamu secara hati-hati. Kuperhatikan wajahnya yang nampak putih berseri. Seketika itu pula tubuh bunda dikerumuni orang-orang terkasih untuk didoakan. Buku Yasin yang tersedia berkat hasil pengumpulan salah seorang sepupuku langsung habis dipinjam. Kami mulai dihujani berbagai pertanyaan, umumnya seputar kronologis kepergian bunda. Walau masih sambil berusaha menyembunyikan rasa sedihku, kronologis lengkap kepergian bunda ku ceritakan dengan lancar. Termasuk pada salah seorang teman semasa bunda mengikuti kegiatan Pramuka, yang kebetulan menjadi orang yang sempat membawa bunda berobat ke seorang sinshe asal bekasi. Orang ini ku anggap sebagai salah satu orang yang cukup berjasa dalam menjaga kesehatan bunda. Karena tanpanya, mungkin bunda bisa saja sudah pergi sejak lama. Kebetulan ia juga seorang penderita kanker payudara namun yang bersifat jinak. Alhamdulillah sekarang ia telah sembuh dari penyakitnya hanya dengan berobat ke sinshe meski harus menjalani pengobatan itu selama delapan tahun lamanya.
Rangkaian kata terakhir bunda di blog

Sekira satu jam kemudian, saat tubuh kami mulai terasa lelah para pelayat pun sudah semakin berkurang. Hanya tinggal sanak saudara serta kerabat yang masih setia menemani kami dalam kedukaan ini. Kubacakan surat Yasin di depan tubuh bunda. Tak berapa lama saudara-saudaraku dari Bandung tiba tak  sambil langsung memelukku di pagar rumah dan menangis sejadi-jadinya. Kutenangkan mereka semua sambil ku katakan bahwa kami tidak kenapa-kenapa. Waktu sudah semakin pagi, tapi diriku tak sanggup untuk bahkan sekedar merebahkan badan ini. Bukan karena pelayat yang memang tak henti-hentinya menanyakan seputar kepergian bunda, melainkan akibat dari pikiran yang masih terpaku pada kepergiannya. Kira-kira saat itu jam menunjukkan pukul 3 pagi, aku teringat akan blog bunda ini yang masih punya sebuah tulisan dalam format draft. Kubuka komputer jinjingku tak jauh dari tubuh bunda yang telah terbujur di belakangku. Kukuatkan hati ini untuk menyelesaikan kata demi kata sambil terus menahan rasa sedih ini. Tiba-tiba telepon rumah berdering cukup keras, dan kakakku mengangkatnya. Ayahku kembali menyahut dari ujung sana sambil bertanya serta kembali menguatkan hati kami berdua. Telepon itu tak lama diberikan kepadaku. Nyaris saja kujawab suara ayahku, namun belum sampai di telingaku, rasanya diriku sudah tak sanggup menjawab. Kukembalikan telepon itu sambil setitik demi setitik air membasahi keyboard komputer jinjingku. Kuselesaikan seketika itu juga tulisan bunda yang pada saat itu berakhir di huruf "R". Setelah itu kututup komputerku lalu ku berusaha berbaring di kamar untuk sejenak beristirahat.

Saat ku terbangun dari tidurku yang terasa paling berat sepanjang hidup sampai dengan saat ini, kulihat waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi. Pelayat telah memadati gubuk kami sementara kami belum sempat apa-apa. Ku tinggalkan mereka sejenak untuk membersihkan diri sebisaku. Badan ini masih terasa amat lelah dan jiwa ini belum sepenuhnya tenang. Seusainya kusambut para pelayat yang ternyata sudah semakin membludak. Silih berganti ku diberondong sejumlah pertanyaan sampai ku tak sempat untuk sekedar meminum seteguk air pun. Mereka pun bergantian mendoakan bunda dengan tanpa rasa malu menitikkan air mata. 

Satu jam telah berlalu, mobil jenazah telah tiba di halaman gubuk kami. Bunda pun lekas dibawa naik untuk disholatkan di masjid dekat rumah yang kebetulan salah satu pengurusnya adalah tetangga kami. Tak sampai lima menit kami sudah tiba di sana. Tubuh bunda dibungkus tikar lalu dibawa ke depan untuk segera disholatkan. Tak berapa lama kemudian bunda pun dishalatkan dengan sekhusyuk mungkin. Beberapa saat kemudian bunda langsung dibawa kembali naik mobil jenazah diiringi rintik hujan yang semakin deras. Lalu sirene pun berbunyi tanda mobil siap berangkat menerobos jalan-jalan kecil menuju rumah bunda yang terakhir. 

Kupikir hujan akan mereda, namun ternyata justru semakin menjadi-jadi dan mengakibatkan genangan air di depan pintu taman pemakaman bahkan hingga ke dalam pemakaman. Beramai-ramai kami menggotong tubuh bunda yang tak bisa dibilang ringan menerobos becek dan ojek (emang Cinta Laura??) haha...
Tiba-tiba pundakku ditepuk oleh seseorang yang wajahnya seperti tak asing lagi. Dengan raut wajah yang masih agak bingung, kusalami orang itu yang ternyata setelah beberapa detik kemudian ku sadari adalah teman sesama blogger sejak di Multiply dulu, kang Tian Arief. Maklum ia saat itu mengenakan jas hujan sehingga wajahnya yang basah tak terlalu ku kenali. Kebetulan lokasi makam bunda tak terlalu jauh dari pintu masuk dan masih dekat dengan kantor makam serta makam kedua orang tua bunda, sehingga perjalanan menerobos hujan pun tak terlalu lama. Setibanya di sana telah menanti beberapa orang penggali kubur dan banyak sekali pelayat termasuk dari rekan-rekan blogger MP antara lain mbak Mia, mbak Ari, mbak Anis, dan beberapa orang lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu per satu. Turut mengantar pula saat itu beberapa istri duta besar RI yang saat ini masih bertugas di luar negeri serta beberapa mantan duta besar dan pensiunan Kementerian Luar Negeri. 


Di bawah guyuran hujan yang sudah sangat amat deras, perlahan-lahan tubuh bunda dimasukkan ke liang lahat. Aku yang semula berniat membantu memasukkannya terpaksa digantikan karena tak sanggup akibat lengan kiriku yang pernah patah 10 tahun yang lalu dan belum dilepas pennya itu. Ada bekas lecet menyayat di kaki kiriku dengan darah yang masih mengalir. Ku bersihkan dengan diguyur air hujan. Kakakku yang dari tadi membantu memasukkan tubuh bunda, lalu mengumandangkan adzan terindahnya. Semuanya ia lakukan demi bunda, sosok perempuan yang paling ia sayangi dalam hidupnya. Usai adzan dikumandangkan, ia pun kembali naik dan perlahan-lahan tubuh bunda mulai terkubur tanah yang ditumpuk petugas makam. Tak sampai di situ, rupanya para petugas makam sudah menyiapkan beberapa bongkah rumput untuk menutupi makam bagian bawah.

Kakakku menyampaikan pesan-pesannya

Kemudian kakakku menyampaikan sepatah dua patah kata dengan penuh ketegaran hatinya di hadapan semua pelayat. Lalu disusul oleh perwakilan dari Kementerian Luar Negeri yang diwakili oleh bpk. Arief Harapan, salah satu teman satu angkatan ayahku. Beliau menyampaikan pesan-pesannya sambil terisak karena tak kuasa menahan rasa sedih atas kepergian bunda yang dianggapnya sangat berjasa dalam mempersatukan teman-teman seangkatan. "Ibu Julie ini adalah teman kami yang ... baik, yang telah mempersatukan kami teman-teman di Kemenlu." begitu kira-kira katanya. Kakakku menepuk-nepuk pundaknya guna menenangkannya. Rekan-rekan blogger dan teman sekolah pun sempat diminta kesediannya untuk menyampaikan pesan mereka, namun sepertinya tak ada yang sanggup berucap dalam kesedihan mereka. Tak lama kemudian dengan dipimpin oleh bpk. Moenir Ari Soenanda, salah satu teman ayahku dan bunda di Kemenlu juga, doa pun dikumandangkan.
Sambutan dari bpk. Arief Harahap
Lalu bunga pun mulai ditaburkan di atas rumah bunda. Aku tak berniat menaburkan bunga karena memang kebiasaan di dalam keluarga kami sejak kami masih kecil tak pernah menaburkan bunga warna-warni. Sebab kedua orang tuaku menganggap bahwa itu hanya mengotori makam saja. Sebagai gantinya kami berdua yang memunguti bunga-bunga kamboja di sepanjang makam. Warnanya yang putih serta ukurannya yang besar memberikan kesan indah dan tenang. Sesudah semua orang menaburkan bunga, saat itulah aku baru menyadari bahwa kini bunda sudah tinggal di sebuah istana yang Allah SWT. janjikan pada setiap umatnya. Kalau di dunia saja sudah semegah itu, bagaimana dengan keadaan istana bunda yang sesungguhnya di alam sana? Tentu berlipat-lipat kali lebih megah dan mewah.


Para pelayat menaburi bunga

Para pelayat menaburi bunga

***

Istana bunda sudah cantik
Empat hari kemudian salah seorang kakak sepupuku datang melayat. Ia tinggal di kota Yogyakarta dan kebetulan saat bunda pergi tengah sibuk dengan pekerjaannya sehingga baru sempat datang 4 hari kemudian. Saat itu kupikir kondisi makam bunda masih sama seperti hari sabtu saat baru dimakamkan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat kondisi makam bunda yang sudah sepenuhnya ditumbuhi rumput hijau yang apik. Menurut salah satu petugas makam yang memang sudah menjadi langganan dan kenalan baik kami dalam mengurus makam-makam keluarga yang ada di sana sejak lama, rumput-rumput itu ia pasang agar makam bunda yang terletak persis di pinggir jalan ini tak hanya berupa gundukan tanah biasa. Selain itu telah tertanam sebuah pohon kecil pada bagian kaki yang membuatnya semakin indah. Sekali lagi kurasakan bahwa inilah istana bunda. Bunda tak pernah mengharapkan agar dipindahkan ke sebuah istana, bunda selalu mengajarkan kami untuk mensyukuri segala bentuk nikmat yang kita terima. Tapi Allah SWT. ternyata punya rencana yang jauh lebih indah lagi. Subhanallah.
Bunga kamboja yang selalu kami pungut sendiri


Dari sana kulanjutkan perjalananku menuju tempat pemakaman lain untuk menjenguk makam kakakku yang pertama. Lokasi pemakamannya tak jauh dari rumah masa kecil bunda yang tak lain adalah rumah kakekku. Sambil melewatinya, kami berpamitan dengan orang-orang sekitar seraya menceritakan sedikit kronologis kepergian bunda. Tak berapa lama sesudah itu, tibalah kami di dekat pemakaman kakakku, mas Didit. Ia meninggal saat baru lahir, tepatnya saat baru berusia 3 jam saja di gendongan ayahku. Saat itu bunda tak sanggup melahirkan secara normal nampun karena baru pengalaman yang pertama, maka dipaksakan dan akhirnya kakakku terjepit sehingga kehabisan oksigen. Kata dokter kala itu, kalaupun kakakku sempat terselamatkan mungkin akan mengalami cacat mental. Setidaknya itulah yang berkali-kali bunda ceritakan pada kami sejak dulu. 

Rumah kakakku, Mas Didit
Hujan turun deras pagi itu. Kami keluar dari mobil dengan menerobos hujan menggunakan payung serta jaket. Tapi guyuran hujan yang semakin deras memaksa kami untuk berteduh sejenak. Setelah sekitar 10 menitan, hujan pun mereda dan kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju makam. Sesampainya di pemakaman, kami disambut oleh genangan air yang lebih banyak lagi daripada di pemakaman bunda kemarin. Selangkah demi selangkah kaki ini menerjang air hujan sebelum akhirnya sampai di makam mas Didit. Kubersihkan sedikit makamnya dari gumpalan-gumpalan lumut serta hamparan rumput liar yang nampak seperti "menghiasi" rumahnya itu. Lalu kulanjutkan dengan berdoa seraya menitipkan bunda padanya. "Mas, sekarang kita gantian ya ngurus ibu. Sekarang kowe yang ngurus ibu di sana. Jagain ibu ya dan ibu juga pasti akan merawat dan jagain mas Didit. Yang akur ya sama ibu." begitu ucapku padanya dalam doa-doaku. Sebelum meninggalkan rumahnya, aku mencium nisannya pada bagian kepala sambil kutitipkan bunda sekali lagi padanya. Kini semua sudah selesai, bunda sudah kuantarkan sepenuhnya ke alamnya yang baru. Tinggal kami berdua yang harus melanjutkan hidup ini dengan sebaik mungkin tanpa melupakan ayah. Insya Allah jika memang kelak sudah tiba waktunya, kami akan merawat ayah sebagaimana kami merawat bunda dulu.

Jumat, 28 Februari 2014

INTERMEZZO: DARI GUBUK KE ISTANA (1)

Apa yang akan aku tulis ini agak keluar dari kronologi Serenada Dalam Lembah Biru. Tulisan ini khusus menceritakan saat-saat terakhir ibuku tercinta menjalani hidup di dunia hingga pada waktunya dipindahkan ke rumah barunya yang entah bertipe berapa dan bertingkat berapa. Maka dari itu kusematkan judul INTERMEZZO untuknya.

Jari-jemari ini belum terasa lelah saat ungkapan-ungkapan terakhir bunda tertuang dalam lembar putih nan bercahaya ini sekira hari selasa 18 Februari malam lalu. Justru diri ini yang sempat bertanya pada bunda, "Apa ibu belum capek? Bukannya ibu mau istirahat?". Dalam keadaan nafas yang seperti dibuka-tutup salurannya, beliau hanya menjawab "Belum". Maka tak ada rasa curiga maupun khawatir yang muncul di pikiranku. Aku hanya bisa terus mengagumi sosok wanita yang masih ingin menunjukkan semangatnya ini. "Luar biasa sekali ibuku ini" pikirku dalam hati. Malam itu aku tak bisa mengucapkan perasaan ini keras-keras. Seolah-olah ada yang memaksa diri ini untuk tidak mengatakannya langsung pada bunda. Tapi semua itu terjadi pada hari selasa. Selepas itu, tak ada yang tahu hendak berbuat apa bunda kelak.

Dua hari berselang, malam semakin menusuk raga ini dengan hawa dinginnya. Bunda sudah tak merangkai kata-kata lagi. Mungkin ini adalah istirahat bunda dari kegiatan rutinnya. Apakah ini sekedar istirahat atau "istirahat" yang lebih lama lagi? Malam itu bunda terlelap dengan pulasnya, terbangun setiap dua jam sekali hanya selama kurang lebih satu menit sebelum kembali menikmati tidurnya yang tenang. Selama beberapa hari sebelumnya, tidur menjadi emas dalam gua besar bagi bunda. Satu sampai dengan satu setengah jam lamanya adalah waktu yang paling lama yang bisa bunda tempuh saat terlelap. Lantas selebihnya bunda tak kuasa menutup mata sayunya yang mengundang banyak senyum serta tangan baik untuk menenangkannya. Hari kamis lalu sungguh benar-benar seperti Allah mempersiapkannya untuk tidur lebih tenang lagi di kemudian hari.


Punggung yang terkena decubitus (lecet)


Fajar telah menyongsong di hari Jum'at yang memang tak begitu cerah. Ku bangkit dari tidurku di atas lantai dingin yang ditutupi selimut tebal hasil perburuan kakakku di dekat RS. Bunda telah bangun, hendak dibersihkan badannya oleh perawat-perawat cantik sambil ku bantu mereka memiringkan badannya yang memang sudah tak bisa miring sendiri itu akibat patah tulangnya dan punggungnya sudah terkena decubitus (lecet akibat kuit yang lembab). Setiap ruas tubuhnya diusap menggunakan washlap (mudah-mudahan tulisannya tidak salah, kalau salah nanti bunda yang koreksi dari sana, hehe) beroleskan sabun batangan warna merah yang seolah-olah menggambarkan semangat bunda. Usai dibersihkan, bunda diolesi krim pelembab kulit yang biasa beliau gunakan sudah sejak beberapa tahun belakangan ini semenjak produk serupa yang merupakana merk dagang internasional menjadi tak terjangkau harganya. Kuolesi sampai ke kepalanya yang memang sudah tanpa rambut dan alis.


Saat diuap dengan obat asthma
Seusai dibersihkan, layaknya hari-hari biasa di RS, bunda meminta pada perawat untuk diuapi dengan obat asthma. Hal ini sudah menjadi ritual harian yang dijalani bunda semenjak pindah dirawat di RS Dharmais. Pagi itu proses penguapan berlangsung seperti biasa, namun seusai diuap rupanya nafas bunda tak membaik. Masih teringat di benakku betapa susahnya bunda harus bernafas dalam ketidak berdayaan untuk bergerak.

Selepas itu tak lama kemudian datanglah seporsi nasi kuning lengkap beserta empingnya dan teh manis hangat yang menjadi sarapan pilihan bunda pagi itu. Beliau pun langsung meminta untuk disuapi sarapannya itu. Kuantarkan sendokan pertama ke mulutnya yang masih agak basah setelah dilap tadi. Kemudian kususulkan sendokan kedua yang dilahapnya dengan cukup cepat. Nampak bunda cukup menikmati sarapan pagi itu meski mengaku agar seret. Lalu setelah berhenti sejenak, disantaplah sendokan ketiga dengan perlahan-lahan. Tak berapa lama kemudian bunda meminta menyudahi sarapan paginya. "Sudah ah dik. Buat kamu aja nasi kuningnya" katanya padaku. Tanpa pikir panjang, nasi kuning lengkap yang sejujurnya tak seenak buatan bunda di rumah itu pun kulahap dengan cepat. Mubadzir kalau tak dimakan, pikirku saat itu.

Seusai menyantap nasi kuning, bunda bertanya padaku "Kita punya apa sih dik?" Lalu ku jawab "Ada roti kalau ibu mau." "Roti apa dik?" tanyanya kembali. "Ini yang aku lagi gigit, roti pisang." jawabku. Lalu bunda bilang "Ya udah mau deh daripada gak ada yang dipakai buat ngisi perut." Lantas kuserahkan roti itu ke tangan kanannya yang sudah dipenuhi noda-noda berwarna biru akibat terlalu sering ditusuk jarum baik untuk mengambil darah, diinfus maupun untuk kemoterapi. Baru saja dua gigit bersarang di mulutnya, bunda menyudahi santapan rotinya dan meminta agar diberi obat pagi saja supaya bisa segera tidur lagi dan beristirahat yang cukup. Rupanya obat-obatan itu tak mampu membuatnya terlelap. Bunda semakin gelisah dan tiba-tiba meminta agar tangan kanannya dipegangi. 

Tak lama datanglah petugas laboratorium yang hendak mengambil sample darah. Maka kulepaskan tanganku dari cengkraman tangan bunda sembari mempersilahkan petugas laboratorium bekerja. Tusukan pertama gagal, begitu pula dengan tusukan kedua. Sebab pemeriksaan ini mengharuskan pasien diambil darahnya dari pembuluh darah perifer. Biasanya ketika bunda harus diambil darahnya dari situ, beliau akan merasa sangat amat kesakitan hingga tak jarang berteriak sambil sesekali meneriakkan nama dokter onkologisnya. Namun apa yang terjadi pagi itu cukup berbeda. Tak ada teriakkan sekecil apapun, hanya ada tarikan bibir yang menandakan rasa sakit itu. Diriku pada saat itu hanya berpikir bahwa mungkin bunda sudah mulai terbiasa dengan suntikan di bagian itu. Akhirnya diputuskan bahwa pengambilan darah dibatalkan pagi itu, akan dicoba lagi nanti siang atau sore. Aku dan kakakku bergantian masih terus memegangi tangan kanan bunda yang mencengkram makin kuat. Saat kami hendak mandi pun salah satu tetap harus memegangi tangan bunda. Mungkin ini awal dari firasat buruk bunda yang akhirnya tak tersampaikan kepada kami.


Lengan bunda yang sudah membiru
Awalnya, foto yang sempat kakakku potret untuk menggambarkan tangan bunda yang sudah membiru akibat hematoma adalah yang foto sebelah kiri. Namun dengan instinct fotograferku, aku memotret ulang dengan hasil foto yang di sebelah kanan agar nampak jelas hematomanya serta pasien yang menderita. Ternyata hasilnya malah menyerupai salam perpisahan bunda yang sempat kuabadikan.

Jam menunjukkan pukul 9:30 pagi, seorang perawat masuk seperti biasa membawa alat pengukur tekanan darah. Dengan ramahnya dia mengucapkan "Bu, saya tensi dulu ya". Lalu dibalasnya oleh bunda dengan sebuah anggukan kecil dalam rasa sakit yang teramat sangat pedih. Pada saat yang bersamaan aku pamit untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di seberang RS yang meski kecil tapi cukup lengkap. Sebab sejak seminggu belakangan ini, bunda seringkali meminta dibelikan es krim merk "M" yang punya beberapa varian rasa antara lain Brownies, Gold dan Infinity untuk menenangkan pikirannya. Menurut beberapa orang dan hasil jalan-jalan mayaku, cokelat mampu meredakan ketegangan pikiran manusia. "Bu, aku pamit ke SJ dulu ya. Mau beli es krimnya ibu sama keperluan lainnya." Lalu bunda menjawab "Ya udah, hati-hati ya". Pergilah aku dengan segera.

Hanya sekitar satu jam lamanya aku berada di sana, lalu aku kembali ke kamar di RS. Dengan wajah dan badan yang masih agak dihinggapi air-air keringat, aku mengetuk pintu kamar sambil menyapa "Assalamualaikum bu". Betapa terkejutnya aku ketika mendapati bunda dalam keadaan yang terengah-engah. "Ibu kenapa mas?" tanyaku pada kakakku yang setia menemani selama tiga minggu lamanya di RS Dharmais. Secara sigap ia pun menjawab "Gak tahu. Orang ini barusan baru habis diuap lagi kok." dengan wajah yang agak panik. Tanpa pikir panjang, kuperiksa tiap-tiap bagian dari selang oksigen yang memang sudah terpasang sejak awal masuk RS ini. Sebenarnya selang oksigen itu sempat dilepas setelah menjalani operasi patah tulang di paha kirinya. Namun tak sampai dua hari, bunda meminta selang itu dipasang lagi. Lalu akhirnya ku temukan penyebab sesak nafas bunda yang saat itu makin menjadi-jadi. Siapa sangka ternyata selang oksigen bunda tak tersambung lagi ke tabung oksigen selepas diuapi tadi. "Nih mas, selangnya gak nyambung." ujarku. "Oh, maaf banget ya." balasnya dengan nada memelas dan agak panik. Jadi rupanya bunda hanya dipasangi selang oksigen tanpa ada oksigen yang keluar. Saat itu juga kusambungkan kembali selang oksigen itu. Dalam sekejap pernafasan bunda terdengar sedikit membaik walaupun benar-benar hanya sedikit sekali membaiknya.

Melihat kondisi bunda yang semakin mengkhawatirkan, para perawat dibantu dokter umum yang berjaga di lantai 7 tempat bunda dirawat, memutuskan untuk memasang alat monitor untuk memantau detak jantung, tekanan darah, pernafasan serta kadar oksigen bunda. Alat yang sama pernah terpasang tepat seminggu sebelumnya dengan hasil pemantauan yang baik sehingga tak perlu dipasang lebih dari 24 jam. Sampai dengan saat ini, hasil pemantauan melalui layar masih cenderung baik. Tekanan darah masih berkisar di antara 140 sampai 160 sementara detak jantung masih berada di kisaran 90 sampai dengan 102. Sedangkan kadar oksigen dan pernafasannya pun masih cukup bagus, sampai tak ada kesan mengkhawatirkan yang muncul di diri kami.

Tak berselang terlalu lama, bunda sekali lagi minta agar bisa tidur dan beristirahat. Lalu kami dimintanya untuk memintakan sepucuk obat tidur kepada perawat. Ternyata apa daya keinginan bunda ini tak dikabulkan perawat dengan alasan dapat mempengaruhi paru-paru dan kerja jantung. Untuk itu mereka akan berkonsultasi kepada segenap dokter yang menangani bunda dengan penuh kasih sayang. Setelah berkonsultasi dengan dokter orthopedi, ternyata obat tak kunjung diberikan. Dokter orthopedi ternyata ingin berkonsultasi dengan dokter ahli kemoterapi, yang ternyata malah mengonsultasikannya kepada dokter spesialis jantung dan spesialis paru-paru. Sekian jam menunggu obat itu pun tak kunjung bunda dapatkan. Rupanya dokter jantung tak memberikan respon apa-apa. Dengan sigapnya, sekira jam 1 siang meski penuh risiko, dokter ahli kemoterapi memberanikan diri memutuskan untuk memberikan obat tidur dengan dosis terkecil. Namun apa daya bunda merasa sudah terlambat sekali. "Ah, kalau gini ya udah percuma. Ibu udah keburu gak pingin tidur." ujarnya berkali-kali. Kami hanya bisa menenangkan bunda sembari memberi tahu bahwa obat tidur yang akan diminumnya baru akan bereaksi beberapa jam kemudian. Bunda pun makin kesal dan jengkel dengan pihak rumah sakit. Kami memaksanya untuk menelan obat tidur itu bersama obat-obat siang yang biasa bunda konsumsi setiap hari. Tapi siang itu bunda tidak mau makan sama sekali meski menu makan siang telah tersaji sejak 2 jam yang lalu. Maka kami berinisiatif menyuapinya dengan sebuah pisang Cavendish yang hanya mampu bunda santap separuhnya dan tiga belah pepaya. Seusai itu barulah segala obat-obatan tadi kami berikan pada bunda.

Dalam keadaan yang seperti itu kami masih harus terus memegangi tangan bunda yang cengkramannya semakin erat seolah tak ingin berpisah dari kami. Bunda menyuruh kami memesan makan siang yang dapat diantarkan langsung ke kamar dari pusat perbelanjaan di seberang RS agar kami tidak harus melepaskan cengkraman tangan kanannya. Tak berselang terlalu lama, tibalah makanan pesanan kami dan kami disuruhnya untuk makan secara bergantian. Bunda tak kunjung dapat tertidur dan semakin mengeluh tentang lambatnya obat tidur diberikan. Untuk menenangkan diri bunda minta disuapi es krim lagi namun ternyata tak ada pengaruhnya sama sekali. 

Kondisi bunda seusai itu semakin nampak berbeda. Saat itu kondisi bunda seperti seseorang yang tengah batuk berdahak namun tak dapat menelan maupun mengeluarkan dahaknya sendiri. Dahak itu seolah-olah seperti tersangkut di kerongkongannya. Berulang kali bunda memintaku mendekatkan piring ginjal yang selalu tersedia di ranjangnya sebagai wadah apabila seandainya beliau hendak muntah atau mengeluarkan kotoran apapun dari mulutnya. Namun ternyata piring ginjal itu tetaplah bersih hanya berisi sedikit ludah-ludah kecil yang mungkin merupakan hasil dari usaha keras bunda membuang dahaknya. "PirGin.. PirGin.." ucapnya berkali-kali meski tetap saja tak ada yang keluar.

Jam menunjukkan pukul 3 sore dan snack sore pun tiba. Kali ini menunya berupa sepotong kue kecil dan segelas jus alpukat yang memang tak nampak begitu menarik. Bunda masih saja gelisah dengan keadaan yang tak kunjung memberinya kesempatan untuk tertidur. Dalam kegelisahan yang sedemikian beratnya bunda sempat bertanya pada kami "Adik sayang kan sama ibu? Mas sayang kan sama ibu?" yang lalu kami balas dengan jawaban "Ya" serta anggukan kepala terikhlas kami. Seumur hidup, apa yang paling kami bisa ikhlas lakukan dan berikan antara lain adalah merawat dan menyayangi orang tua. Kemudian bunda memintaku untuk mengusap-usap kepalanya yang sudah sama sekali tak memiliki rambut akibat efek kemoterapi terakhir pada tanggal 20 januari lalu di Bogor. Alisnya pun sudah habis bak dicabuti tiap hari oleh mahluk-mahluk tak kasat mata.

Jarum pendek menunjukkan jam 4 sore telah tiba. Bunda bertanya padaku "Kita punya sirup apa?" "Gak ada sirup bu." jawabku. Pertanyaan itu diulangnya sekali sambil kujawab "Kita gak punya sirup bu. Kalaupun aku turun beli ke bawah mungkin udah tutup. Ada juga jus alpukat kalau ibu mau." dengan tenangnya. Beliau hanya menjawab "Ah ya udah." yang tak kuanggap sebagai sesuatu yang terlalu serius.

Sekira satu jam kemudian atau sekitar jam 5 sore, bunda memintaku untuk menyuapkan jus alpukat itu kepadanya. "Ya udah ibu mau deh jus alpukatnya" begitu ujarnya padaku. Tanpa pikir panjang, sesegera itu juga kusuapkan jus alpukat yang sebenarnya isinya tidak terlalu banyak itu. Pada tegukkan terakhir, seperti biasa bunda menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk menyudahi minumnya. Jus itu tak dihabiskannya, menyisakan sedikit pada bagian dasarnya atau boleh dikatakan hanya nyaris habis saja.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5:30. Segelontor cairan berwarna kecokelatan mulai keluar dari mulut bunda yang sebelah kanan. Kubersihkannya dengan beberapa helai tissue kering tanpa ada rasa panik sedikitpun. Aku menganggapnya sebagai kotoran biasa yang mungkin memang tadi tak sempat tertelan. Sekira lima belas menit kemudian atau tepatnya pukul 5:45 keluarlah cairan serupa dari mulut sebelah kirinya yang dengan sigap langsung kubersihkan sambil aku terus mengajak bunda beristighfar seraya menyebut nama Allah SWT. dan menyemangatinya. "Ibu kuat kok bu. Allahu akbar. Bismillahirrahmanirrahim." ujarku berulang kali. Kakakku yang juga berada di ruangan itu turut menjadi panik karenanya. Kusaksikan dengan seksama mata bunda sudah mulai tak bergerak sama sekali. Rasa panik yang teramat sangat ini memaksaku memanggil para perawat yang langsung datang berdua disusul salah seorang perawat lainnya kemudian. Tekanan darah bunda melonjak menjadi 196 sedangkan detak jantungnya menembus angka 126. Dalam waktu yang amat sangat singkat detak jantungnya menurun ke angka 122, 120, 100, 91, 90, 71, 62, 61, 60, lalu sempat naik lagi menjadi 61 dan kemudian 62. Akan tetapi tiba-tiba langsung turun lagi ke angka 45. Karena kondisi yang semakin kritis maka dipanggilah dokter jaga sore itu yang langsung mengecek kondisi secara keseluruhan. Detak jantung semakin merosot hingga ke angka 20-an dan sesaat kemudian tibalah pada titik terakhir yaitu angka NOL (0). Dipegangnya lah nadi bunda lalu dokter itu menyampaikan pada kami "Mas, ikhlaskan aja ya ibunya udah gak ada".

Tanpa ada rasa kaget yang berlebih, kami segera menghubungi semua orang untuk mengabari kejadian ini. Aku sendiri sembari menahan rasa sedih yang teramat dalam ini berusaha menghubungi orang-orang yang ku punya nomor kontaknya di telepon selulerku meski sebagian besar daripada mereka tak mengangkat teleponku. Setengah jam lamanya kami mengabari sanak saudara, kerabat serta teman tentang wafatnya bundaku tercinta. Kakakku tak sama sekali menunjukkan raut wajah yang sedih, malah masih bisa sedikit bergurau dengan orang-orang yang dihubunginya.  

(bersambung)

[Haryadi] 

Selasa, 25 Februari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (180): Bising namun sunyi

elah lima hari bunda menempati alamnya yang baru. Beberapa hari belakangan ini para saudara, teman, tetangga serta kerabat silih berganti berkumpul bersama kami berusaha menguatkan hati kami padahal mereka yang justru tak kuasa menahan derasnya air mata. Nyaris tak bisa dihitung berapa banyak insan yang menangis baik secara fisik (menitikkan air mata) atau hanya sekedar dalam hati. Kemarin pun ada salah satu teman bunda yang datang ke rumah sambil terisak. Setelah aku menceritakan saat-saat terakhirnya, dia malah semakin menjadi-jadi meski masih malu-malu untuk mengambil tissue. Tak lama kemudian akhirnya dia tak kuat lagi menahan derasnya air mata dan meminta izin untuk mengambil sehelasi-dua helai tissue. Kupersilahkan dengan senang hati. Sekali lagi rupanya sosok bunda begitu menginspirasi bagi banyak orang. Ah, masih tak percaya rasanya.

Pagi ini  rasanya beda sekali. Aku bangun agak siang sekitar pukul enam lebih. Lampu-lampu kumatikan sendiri. Jendela-jendela beserta tirainya kubuka sendiri. Padahal biasanya aku terbilang agak manja, mungkin malah cenderung merepotkan bunda. Meski bunda sudah susah berjalan apalagi jika harus turun dari kamar tidurku di lantai atas, beliau nyaris tiap hari turun tangga sendiri lalu kemudian membuka setiap jendela dan mematikan lampu-lampu yang sudah tak perlu dinyalakan. Sedangkan aku bangun lebih siang sekitar pukul 7 atau bahkan dulunya bisa antara pukul 8 hingga 11. Sungguh kebiasaan yang amat buruk. Kali ini semua kulakukan sendiri. Kakakku yang kemarin nampak kelelahan, baru bangun sekitar pukul tujuh kurang, itupun setelah aku berulang kali mencoba membangunkannya. Setelah mematikan lampu dan membuka jendela, tak lupa aku shalat Subuh sekaligus mendoakan bundaku tercinta.

Seusai itu TV di ruang makan pun masih nampak padam. Padahal biasanya bunda sudah "nongkrong" di depan TV sambil menyaksikan berita atau tayangan lain semisal Solusi Keluarga Sakinah: Mamah dan Aa, Was Was atau acara gosip lainnya. Tapi bunda lebih sering memindah-mindah saluran televisi untuk mencari program berita yang sedang tayang. Bahkan semenjak masuk RS, beliau selalu meminta dinyalakan televisi sekitar pukul 6 pagi dan 4 sore untuk mencari program berita. Menurutnya, selama di RS beliau jadi kurang update terhadap kejadian-kejadian di luar sana. Pernah beberapa kali terlontar dari mulutnya pertanyaan "Apa gak ada berita seputar SBY (presiden) ?" Sebab yang ada di benaknya adalah, setiap menyetel TV yang muncul berita letusan gunung Sinabung. Sementara SBY tak mendapat porsi sedikitpun, sampai akhirnya dia mengunjungi para pengungsi erupsi gunung Sinabung meski dengan sedikit "mewah". Terkadang walau belum masuk waktunya tayangan berita, beliau sudah mencari berita. Dan yang terakhir kali sekitar 2 minggu terakhir ini beliau selalu minta disetelkan channel Indosiar tepat pukul 5 sore untuk mentonton kuis yang memang jadi favorit keluarga kami sejak kami masih kecil: New Family Seratus. Mungkin bunda teringant dulu saat tante dan para pamanku masih ada, setiap lebaran pasti kami mengadakan kuis Family 100 tiap lebaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang super konyol bersumber dari buku-buku humor. Kakakku yang paling rajin dalam menyiapkan semua pertanyaan padahal usianya pada saat itu masih belum genap 10 tahun. 

Oke, kembalilah ke masa kini. Setelah menunaikan shalat subuh, aku menghangatkan sarapan berupa mie goreng yang telah aku beli malam tadi lalu kunyalakan televisi serta laptoku agar aku bisa sarapan, sambil memantau blog dan Facebook serta sambil menyimak informasi-informasi terkini seperti yang rutin dilakukan bunda. Rupanya pemberitahuan di FB-ku sudah penuh lagi. Blog pun sudah semakin banyak yang membacanya.  Inilah yang mebuat keramaian 2 hari belakangan ini tiba-tiba terasa sunyi.

***

Banyak yang bertanya soal "resep" bunda kepada kami. Lantas "resep" apa yang mereka maksud? Sampai dengan hari ini setahuku, bunda amat jarang menuliskan resep masakan yang ia ketahui, di blognya. Biasanya resep itu hanya akan diajarkan kepada teman-temannya di Dharma Wanita atau orang-orang terdekatnya. Memang bunda dulu punya buku kumpulan resep-resep masakan yang beliau kumpulkan dari berbagai majalah dan tabloid sejak kami kecil dulu. Buku itu tak pernah berpindah tangan. Bunda menyimpannya dengan sangat rapi meski ukurannya cukup besar dan tebal serta pernah diajak keliling dunia nyaris ke semua benua. Tapi rupanya yang ditanyakan orang-orang bukan resep itu. Melainkan "resep" bagaimana bunda mendidik kami anak-anaknya sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Menurutku pribadi tidak ada resep khusus yang bunda terapkan. Sama sekali tidak ada. Bapakku adalah saksi hidupnya. Beliau yang bersama bunda mendidik kami berdua hingga kami dewasa kini. Benar-benar kami hanya dididik dengan metode yang umum saja. Diajari sopan santun, berkenalan dengan keluarga hingga keluarga yang jauh, serta dibiasakan untuk mendidik diri sendiri tentang kedisiplinan dalam hidup. Salah satunya yang selalu bunda ingat dan kami juga ingat adalah, bapak kami tidak pernah membangunkan orang yang bangun kesiangan. Itu baginya dianggap sebagai resiko atau kesalahannya sendiri. Dengan begitu kami tahu betapa pentingnya bangun pada waktu yang sewajarnya. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa kalau kita bangun siang, rejekinya terlanjur diambil orang.

Mungkin orang-orang bertanya seperti itu karena melihat kegigihan dan kesetiaan kami merawat bunda sampai akhir hayatnya tanpa pamrih. Bagiku pribadi, merawat orang tua bukanlah sebuah kewajiban dan bukanlah sebuah keterpaksaan pula. Ini memang sudah naluri saja, rasanya enak sekali kalau bisa merawat orang tua sampai akhir hidupnya. Dua tahun kami berdua merawat bunda dalam kesakitan beliau yang sungguh tak terkira. Di masa-masa sakitnya yang parah ini, beliau tidak pernah sekalipun mengeluh, marah kepada Allah SWT maupun mencaci maki kami hanya karena rasa sakitnya yang sudah tak tertahankan dan kami dianggap kurang perhatian. Selama ini yang orang tahu adalah penyakit Kanker Payudara bunda yang sudah 2 tahun bersarang di tubuhnya. Tapi sesungguhnya, penyakit beliau telah ada sejak 14 tahun yang lalu. Waktu itu kami masih terlalu kecil untuk mengerti rasa sakitnya. Sehingga tak banyak yang bisa kami lakukan untuk menenangkannya dari semua rasa sakit yang dideritanya. Kasihan sekali rasanya kalau melihat semua itu ke belakang. 

Salah satu senyum terindahnya semasa sakit
Bunda selalu menegaskan kepada semua orang bahwa dirinya telah diberi nyawa tambahan sebanyak 12 kali oleh Allah SWT sang maha pencipta. Dua belas kali? Memang begitulah kenyataannya. Sepanjang hidupnya, beliau sudah keluar-masuk kamar bedah sebanyak 13 kali dengan operasi patah tulang kemarin sebagai hitungan yang ke-13. Selebihnya bermacam-macam termasuk melahirkan kami berdua secara cesar, operasi minor seperti gigi dan amandel, serta berbagai operasi lainnya di bagian perut dan bahu yang berujung pada penyakit kankernya ini. Lantas mengapa bunda tidak pernah menyebutkan nyawa tambahan yang ke-13? Mungkin itulah tanda dari Yang Maha Esa bahwa setelah itu beliau tak akan diberi nyawa tambahan lagi. Sudah cukup bagiNya memberi kesempatan bagi bunda untuk menjalani hidup di dunia ini bersama kami dan keluarganya serta teman-teman terkasih. Tanpa perlu mendengar apa-apa lagi dari bunda, kami sudah tahu bahwa 12 nyawa tambahan adalah bentuk kekuatan dan semangat hidup yang amat tinggi yang bunda tularkan pada kami. Sejak kecil memang bunda cenderung sering sakit. Tapi operasinya tak sebanyak setelah beliau dewasa dan punya kami berdua. Hanya memang keluarga beliau dulu, termasuk kakek & nenek kami seolah tak percaya bahwa beliau memang penyakitan. Bunda acap kali dianggap berlebihan dan hanya ikut-ikutan sakit. Namun pada akhirnya semua itu terbukti. Tak perlu ada yang disesali. Mungkin memang begitulah cara kakek & nenek kami mendidik bunda agar menjadi insan yang lebih kuat dan tidak mudah mengeluh.

Kepergian bunda rupanya telah dipersiapkan oleh kakek-nenek kami sejak dulu. Setidaknya dalam keadaan sakit yang luar biasa sekalipun, bunda sudah tahu bahwa dirinya tak boleh mengeluh. Ya mungkin inilah cara Allah SWT mempersiapkan umatnya untuk mampu menjalani hidup di dunia maupun di akhirat. Wallahhu a’lam.

(bersambung)

[Haryadi]


Minggu, 23 Februari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (179): Akhir Dari Sebuah Awal

Pertama-tama perkenankan saya, Haryadi, putra bunda Julie yang bungsu untuk menyampaikan banyak terima kasih atas kesediaan dan keikhlasan teman-teman bloggers baik yang dulunya punya sarang di Multiply maupun yang sekarang baru bertemu beliau di Blogspot atau yang hanya mengintip dari Wordpress untuk menyemangati serta mengantar beliau sampai ke rumahnya yang terakhir meski seharian diguyur hujan deras. Mulai saat ini, blog ini akan saya isi semampu saya, dengan cara penyampaian saya yang jelas berbeda dari ibu saya, dan dengan isi yang benar-benar apa adanya. Mohon dimaklumi jika apa yang akan saya tulis kelak mungkin terlalu terbuka. Sepertinya memang setelah ditinggal ibu, urat malu saya sudah terputus satu. Saya hanya ingin melanjutkan apa yang pernah ibu saya mulai sejak di Multiply sampai sekarang. Saya yang memperkenalkannya dengan Multiply. Kemudian saya yang menyarankannya agar bersarang di Blogspot. Semuanya ingin saya buka apa adanya agar yang membaca pun bisa mengambil hikmahnya dan Insya Allah bisa bermanfaat untuk orang banyak.

***

esungguhnya tiada yang tahu apa kehendak Allah SWT. Tuhan yang maha pengasih serta maha penyayang selanjutnya. Kita sebagai umat manusia hanya bisa tawakal dan terus berikhtiar agar kehidupan kelak akan menjadi lebih baik.

Sebenarnya saat ini tak ada sama sekali rasa kecewa maupun kehilangan berlebih terhadap sosok yang sehari-hari aku panggil Ibu, Un, Une, Mamutnyuw, Mutnyuw, atau yang biasa disapa teman-teman maya sebagai Bunda. Oleh karena ini adalah dunia yang agak berbeda dari kehidupan di alam nyata dan di sinilah beliau rajin meluangkan sedikit atau banyak waktunya untuk berbagi apa saja yang ada di dalam pikirannya dengan orang banyak, maka aku akan memanggilnya sesuai panggilan sayang teman-teman bloggers, Bunda.

Seperti segala hal yang bersentuhan dengan hamparan pasir, bunda pun tak lupa selalu meninggalkan jejak atau berpesan kepada diri kami akan banyak hal. Jejak yang bunda tinggalkan selama ini, hanya kami anggap sebagai pesan biasa dan belum tentu akan terjadi maupun terbukti. Semuanya Wallahu’alam bissawab, benar-benar hanya Allah SWT yang tahu. Tapi perlahan-lahan satu per satu pesan bunda mulai muncul kebenarannya. Kami merasakan sendiri semua yang pernah bunda pesankan dalam masa akhir-akhir hidupnya.
Ramainya pengiring bunda

Bunda pernah berpesan banyak hal sewaktu beliau sudah mulai sakit dan mulai berobat ke sana ke mari, meminta belas kasihan pemerintah melalui program Jamkesda yang mengharuskan peserta memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari namanya saja sudah cukup jelas bahwa memang surat ini diperuntukkan bagi warga yang tidak mampu. Mungkin bunda bukan kriteria warga yang seperti itu. Rumah kami tak bisa dibilang mungil. Dibilang sederhana pun rasanya amat tidak pantas. Untuk dinyatakan tua dan tak terawat pun mustahil. Sebab kondisinya memang masih cukup kokoh, bersih dan terawat. Lantai masih dari keramik, tembok pun bukan dari bilik. Atapnya pun sudah genteng yang layak. Hanya ada kebocoran sedikit di sana sini.

Salah satu pesan bunda yang selalu saya ingat sampai dengan hari ini adalah:

"Kalian berdua berkorban demi ibu, untuk kesembuhan ibu, ikhlas tanpa pernah mengeluh. Jadi segala rizki dan kebaikan yang kalian terima sekarang ini adalah buah kerja keras kalian dalam merawat ibu. Kelak kalau nanti ada lagi bantuan-bantuan tak terduga dari orang-orang, itu juga karena keikhlasan kalian dalam merawat ibu. Ibu bersyukur punya anak seperti kalian berdua yang sekaligus sebagai penyemangat hidup."

Kira-kira begitulah pesan yang berulang kali bunda ucapkan di hadapan kami. Bagi kami saat itu, ini hanyalah salah satu cara bunda untuk menenangkan pikiran kami, untuk menyemangati kami dan untuk menunjukkan kepada kami bahwa yang hebat bukanlah beliau melainkan kami berdua. Tapi kami tidak pernah berpikir bahwa inilah pesan terhebat yang pernah bunda sampaikan semasa hidupnya. Inilah pesan yang setiap kali aku ingat-ingat belakangan ini selalu membuatku menitikkan air mata. Sementara bagi kakakku, ini hanyalah sebuah pesan. Tidak perlu melibatkan air mata apalagi sampai menciptakan replika air terjun Niagara yang kebetulan berada di negeri kelahirannya, di wajah kami. Saat kuketik kata-kata ini pun perasaanku masih sangat amat terharu. Ya, terharu. Rasa haru yang sangat amat luar biasa. Aku bukan bermaksud menyesali kepergian bunda. Itu semua sudah aku ikhlaskan. Tapi kekuatannya yang beliau sampaikan kepada kami memang benar-benar tiada duanya.

Hal serupa ternyata juga dirasakan oleh banyak sekali bloggers. Dari sekian banyak pesan-pesan yang bermunculan di Facebook, salah satu yang cukup menyita perhatianku adalah pesan dari:

Shanti Saptaning "Bunda Julie sudah menyentuh banyak hati teman2 mpers, banyak yg mendoaka, banyak yg merindukan, selamat jalan Bundel ...."

Jujur sebelum ini, aku sendiri belum pernah melihat atau sekedar tahu ada orang yang sebegitu dirindukannya apalagi orang itu hanyalah seorang penulis di blog. Mungkin banyak pembacanya yang tidak pernah bertemu langsung. 

Doa dari salah satu blogger lainnya yang juga menyita perhatianku adalah:

Arum Indriani Wisnu Nagara

"Subhanallah, beliau ini contoh nyata tentang kekuatan bertahan dan gak menyerah. Semoga beliau dilapangkan dan diterangkan kuburnya oleh Allah. Aamiin"

Kalau hendak dikutip satu per satu rasanya hampir tidak mungkin. Begitu banyaknya pesan yang tertulis mendoakan bunda sampai rasanya aku seperti selalu menunggu update-an terbaru karena takut ada pesan yang tak terbaca padahal itu adalah doa.

Ternyata apa yang bunda pesankan selama ini benar adanya. Bukan hanya perhatian teman-teman bloggers yang luar biasa banyak tadi, tapi juga dari pihak keluargaku. Semenjak bunda dinyatakan wafat pada Juma't sore sekitar pukul 17:45 WIB, aku dan kakakku sama sekali tidak harus dipusingkan dalam mengurus hal-hal baik administratif di RS maupun mempersiapkan penyambutan bunda di rumah kami hingga proses shalat jenazah di masjid dan pemakamannya. Semua sudah diurus oleh sepupu-sepupuku tercinta. Padahal apalah yang pernah aku perbuat untuk membantu mereka? Aku masih kuliah tingkat akhir, aku tak selalu bisa ke tempat mereka, aku tak pernah sempat ikut mendoakan almarhum tanteku/budeku yaitu kakak pertama ibuku yang wafat pada bulan November 2013 lalu dengan penyakit yang sama namun stadium yang masih lebih rendah pada setiap kesempatan tahlilan. Selama ini aku seperti mau menang atau enaknya sendiri. Hanya bunda yang aku pikirkan tiap hari jam menit hingga detik. Semua kebaikan ini terasa bagai mimpi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bahkan percaya atau tidak, aku nyaris tak mengeluarkan sepeserpun uang untuk segala proses di atas. Subhanallah. Betapa adil dan baiknya engkau ya Allah. Inilah bukti bahwa doa seorang ibu itu memang dahsyat adanya.

Buku inilah yang paling pertama kulihat.
Seperti secara tiba-tiba, sore tadi menjelang maghrib, aku merapikan setumpukan buku-buku yang ada di meja tidur di samping ranjangku. Rupanya buku yang paling atas yang paling dulu kulihat berjudul "Dahsyatnya Do'a Ibu". Seketika itu juga aku akhirnya menciptakan replika air terjun Niagara di wajahku. Subhanallah, pikirku dalam hati. Ternyata apa yang bunda sampaikan akhirnya menjadi kenyataan. Sembari menuliskan kejadian tadi sore ini mataku kembali berkaca-kaca. Memang inilah yang ingin Allah tegaskan kepada umatnya bahwa apabila Dia berkehendak, maka jadilah kenyataan. Bahwa memang Doa seorang ibu itu begitu dahsyatnya.

(bersambung)

[Haryadi]

Jumat, 21 Februari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (178)

asa-rasanya penyakit saya semakin memerlukan perhatian dan perlakuan yang khusus. Hingga hari ini, penyakit asma saya masih belum tertangani dengan baik. Meski saya tidak lagi mengeluarkan suara yang bising dari rongga paru-paru saya, akan tetapi sesak nafas saya tetap saja ada. Hal ini membuat saya sulit untuk berbicara secara leluasa. Karenanya, setiap hari saya harus diinhalasi yakni diuapi dengan obat-obat tertentu yang dimasukkan ke dalam jalan nafas saya melalui selang oksigen. Selain itu, kondisi fisik saya secara umum juga cukup buruk. Darah saya masih saja terlalu kental sehingga dokter perlu memberikan obat pengencer darah. Dan dokter ahli penyakit jantung pun masih rajin memantau kondisi kondisi detak jantung saya yang seringkali terlalu cepat. 

Keadaan-keadaan seperti ini membuat saya belum sanggup untuk kembali ke meja radiasi walau hanya sekedar untuk melanjutkan pembuatan peta kepala saya yang perlu ditutupi ketika radiasi sedang berlangsung. Masalahnya, di atas meja radiasi saya harus berbaring terlentang tanpa bantal. Sehingga saya potensial akan bertambah merasa sesak nafas. Padahal radiasi itu diharapkan dapat menjadi senjata ampuh untuk melawan tumor-tumor yang tumbuh sangat cepat dan ganas di tengkorak kepala saya.

Sedangkan untuk membasmi tumor yang semakin massive di tulang selangka saya, dokter akan menggunakan kemoterapi. Dalam keadaan kondisi fisik saya secara umum yang tidak prima kemoterapi pun tak bisa dilakukan. Hal ini menimbulkan kerisauan pada diri saya, apalagi pada onkologis saya dan dokter ahli kemoterapi.

***

Sudah beberapa hari saya selalu merasa amat kesakitan. Tumor di tulang selangka saya masih terus tumbuh meski ukurannya sudah menyerupai buah mangga Indramayu. Rasa sakitnya jangan ditanya, sungguh amat menyiksa. Apalagi, tangna saya yang terserang cacat linfedema sehabis operasi pengangkataan kelenjar getah being saya tahun lalu juga terasa amat menyakitkan. Pasalnya tumor dan limfedema saya letaknya saling berdekatan bahkan bersambungan. Tangan yang terserang limfedema itu dulunya rajin saya bawa setiap seminggiu tiga kali untuk difisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik. Akan tetapi lama-lama saya kewalahan juga. Yakni ketika kaki saya mulai terasa sakit yang ternyata diakibatkan oleh munculnya penyebaran tumor di tulang yang kemudian patah ketika saya terjatuh sebulan yang lalu. Saya baru kembali lagi difisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik pertengahan pekan lalu. Atas perintah dokter, setiap hari berhubung saya sudah pasien rawat inap di RSK Dharmais ini, awal pekan ini terapis senior memfisioterapi saya sambil mengajari mahasiswa-mahasiswa yang sedang magang. Caranya memfisioterapi tentu saja diupayakan begitu perfect mengakibatkan saya merasa amat nyeri. Hanya sekitar 2 jam setelah difisioterapi itu, tangan limfedema sekaligus tumor di tulang selangka saya merasa amat sakit. Karena begitu sakitnya saya sampai menangis kuat-kuat serta minta obat penahan nyeri yang lebih kuat lagi kepada tenaga medis. Bahkan semalaman saya sampai tidak dapat tidur. Hal ini amat mengejutkan adik sepupu mantan suami saya yang kebetulan menginap menjaga saya semalaman di RS. Katanya beliau tak tega mendengar tangisan saya, sebab ketika beliau merawat saya dahulu di sebuah RS di Singapura untuk membuang rahim, indung telur, serta usus halus saya yang juga ditumbuhi penyakit saya tidak pernah merasakan kesakitan seperti ini. Sehingga akhirnya, keesokan harinya saya mangkir dan mogok difisioterapi. Tetapi hasilnya apadaya di pagi hari berikutnya saya sudah terbangun pada pukul tiga pagi oleh serangan nyeri yang menurut saya jauh lebih nyeri daripada serangan sebelumnya. Padahal sebelum tidur saya sudah mendapat obat penahan nyeri dalam dosis tinggi. 

Karena tak tahan lagi akan rasa nyeri itu saya terpaksa memanggil dan membangunkan perawat untuk mengadukan keadaan saya supaya saya boleh mendapat obat penahan nyeri lainnya yang lebih ampuh dan lebih kuat. Mula-mula saya, masih setia menanti kedatangan perawat itu setengah jam lamanya. Tetapi lama-kelamaan ketika dia tidak juga datang sedangkan rasa sakit menyengat maka saya memanggil perawat sekali lagi. Kali itu anak saya Andri ikut terbangun. Bersama saya dia menunggu respons perawat. Sayangnya perawat yang masuk kemudian ke kamar saya, cuma bisa menjanjikan akan melapor terlebih dulu kepada dokter jaga yang ternyata amat lamban dilakukannya sehingga sempat membuat saya menangis meraung-raung bagaikan seorang bayi. Karena anak saya tak tahan lagi mendengar erangan-erangan saya yang lebih tepat disebut jeritan, maka dia berupaya mencari perawat lain. Setelah itu barulah seorang perawat lelaki mendengarkan keluhan saya dan memenuhinya. Agaknya setelah satu jam mereka baru mau memenuhi permintaan saya. Saya pun lalu mendapat obat penahan nyeri dosis tinggi yang langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah saya. Efeknya tidak segera terasa. Baru kira-kira 45 menit kemudian rasa sakit itu teratasi. Dan sepanjang 45 menit itu saya tetap jua menagis meraung-raung tanpa mengenal rasa malu meski suara saya terdengar ke mana-mana. Ah agaknya air mata saya menjadi senjata untunk menerbitkan belas kasihan para perawat. Kejadian itu terulang lagi malam ini sejak sore hari. Anak-anak saya kemudian menagih obat penahan nyeri yang agaknya karena habis persediaannya, tak saya terima. Maka kemudian saya memaksa perawat untuk memberikan obat sejenis lainnya yang efeknya jauh lebih kuat lagi karena cara memakainya langsung dimasukkan ke dalam tubuh melalui lubang anus pasien. Obat ini hanya perlu waktu setengah jam saja itupun paling lama, untuk dirasakan hasilnya.Tapi pada akhirnya rasa sakit mereda dan saya dapat tidur sekitar 2 jam hingga pagi menjelang. Berhubung saya jera dengan pengalaman malam-malam sebelumnya, tadi malam sebelum tidur saya minta obat itu lagi, sekaligus minta diuapi dengan tehnik inhalasi yang buktinya ampuh menjangkau seluruh kantung alveola di paru-paru saya. Saya bangun pada waktu yang normal menurut jam biologis saya Tentu saja mengucap syukur dan merasa amat beruntung atas keadaan ini. 

Pukul setengah enam pagi perawat memandikan saya dengan cara hanya mengelap tubuh saya yang sama sekali belum bisa banyak bergerak. di atas kasur yang saya tiduri. Kegiatan mandi ini meski cuma sebentar dan seadanya amatlah saya sukai. Sebab tubuh saya bagian belakang mulai mengalami luka-luka kulit yang menyeluruh akibat berbaring pada satu posisi saja sebulan penuh lamanya. 

Susahnya, setiap kali habis dimandikan tubuh saya akan selalu merasa kelelahan. Ditandai oleh nafas yang memburu pendek-pendek dan putus-putus. Dokter ahli paru-paru yang dijadikan konsulen onkologis saya di dalam merawat saya menegaskan bahwa saya terbukti memang tidak dapat melakukan kegiatan fisik seringan apapun di saat seperti sekarang ini. Ingatan saya kemudian melayang ke masa-masa lalu di saat saya masih sekolah dan menyandang predikat ABG. Pada masa-masa itu saya sering sekali mendapat disepensasi dari guru olahraga saya untuk tak mengikuti prlajaran yang diajarkannya. Tentu saja kemudahan yang saya terima saat itu membuat iri teman-teman saya bahkan menuai protes Tapi the life must go on. Dulu saya tak terpengaruh protes teman-teman saya, sehingga nilai pelajaran olah raga saya selalu di angka 6. Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika di tahun 2006 ketika saya ditugasi membawa teman-teman DWP saya dari KBRI Singapura  melakukan kunjungan kerja ke tempat teman-teman yang sedang mengikuti penugasan suami mereka di eropa. Kami bepergian selama satu minggu ke tiga begaara. Akan tetapi DI hari keempat saya justru ambruk total. Di hari itu saya terpaksa dipuiangkan ke penginapan kami di pinggirian kota Paris, Perancis. Karena ternyata saya sama sekali tak mampu lagi bangkit berdiri untuk berjalan dan menyertai teman-teman menyelesaikan agenda kunjungan kami selama 2 hari di sana. 

-----------------------------------------------------------------------------------

upanya sampai di sini pertempuran sengit antara kanker dan pengobatan itu. Alinea di atas adalah titik akhir yang sesungguhnya. Tak ada kelanjutan yang dapat terungkap melalui rongga-rongga mulut beliau. Kini hanya "tangan-tangan mungilnya" yang mampu menyampaikan segala hal yang belum sempat tersampaikan. Beliau sudah tenang di sisiNya dan kami yakin beliau tidak akan pernah berhenti bercerita tentang segala kisah hidupnya baik pahit maupun bahagia dari tempatnya sekarang yaitu di surga yang telah Allah SWT janjikan bagi umatnya yang beriman dan bertaqwa. Doa serta dukungan dari teman-teman semua amatlah berharga bagi beliau, sosok yang bagi kami begitu luar biasa tiada tandingannya. Mungkin kami hanyalah bagian terkecil dari kekuatannya, tapi kami yakin Insya Allah apa yang telah beliau perjuangkan selama ini akan bisa kami selesaikan dengan lebih baik lagi.

Inilah kondisi terkini ibunda. Tak kuasa kami menahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk mata ini. Semoga engkau kini ditempatkan di tempat terindah bersama putramu Dimasdjati Utomo bin Andradjati dan seluruh keluargamu, bu. Kami akan terus berusaha untuk menyelesaikan apa yang belum sempat kau selesaikan. SELAMAT JALAN IBU!





Senin, 17 Februari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (177)


ur'an adalah panduan hidup keluarga kami. Walaupun di antara kami tiada yang fasih, sering menimbulkan protes dari almarhumah kakak sulung saya. Tetapi kami tetap menggunakan Al-Quran sebagai acuan di dalam bertindak setiap hari. Suatu hari teman-teman SMP saya yang setia Rini, Winnie, dan Ati datang menengok saya tanpa pemberitahuan ke rumah. Kata mereka kemudian, ternyata saya sedang berbaring-baring sambil membaca Al-Quran kecil. Mereka amat menghargai saya karenanya. Karena dalam keadaan kesakitan yang sangat, saya masih juga bersentuhan dengan Al-Quran. Padahal saya sendiri menganggap apa yang saya lakukan adalah hal wajar yang biasa dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Jadi perbuatan saya tidak aneh bukan?

Saya dan anak-anak saya tidak pernah menganggap diri kami shalehah dan sholeh. Tapi Insya Allah nama dan keagungan Allah SWT tak pernah hilang dari ingatan kami. Seperti apa yang diingatkan Anida, teman masa kecil suami saya sebagai berikut:

"Manfaat mengucap kata Allah bagi kesehatan.

Dalam sebuah penelitian di Belanda yang dilakukan oleh seorang profesor psychologist yang bernama Vander Hoven (VH), di mana telah melakukan sebuah survei terhadap pasien di rumah sakit Belanda yang kesemuanya non-musliom selama 3 tahun.

Dalam penelitian tersebut Vander Hoven melatih pasien untuk mengucapkan kata Allah dengan jelas dan berulang-ulang. Hasil dari penelitian tersebut sangat mengejutkan. Terutama sekali untuk pasien yang mengalami gangguan pada fungsi hati dan orang yang mengalami stress atau ketegangan. Alwatan, surat kabar Saudi sebagaimana mengutip dari pernyataan profesor VH, yang mengatakan bahwa seorang muslim yang biasa membaca Al-Quran secara rutin dapat melindungi mereka dari penyakit mental dan penyakit-penyakit yang ada hubungannya (psychological diseases). Vander Hoven juga menerangkan bagaimana pengucapan kata Allah tersebut sebagai solusi dari kesehatan. Ia menekankan dalam penelitiannya bahwa huruf pertama dalam Allah yaitu A dapat melonggarkan (melancarkan) pada jalur pernafasan dan mengontrol pernafasan. Huruf konsonan L di mana loidah menyentuh bagian atas rahang, dapat memberikan efek rileks. Vander Hoven menambahkan bahwa huruf H pada Allah dapat menghubungkan antara paru-paru dan jantung di mana dapat mengtrol sistem dari denyut jantung. 

Subhanallah! Sungguh luar biasa kebesaran Allah ta'ala ini di mana peneltian yang dilakukan oleh seorang profesor non muslim yang tertarik dan meneliti akan rahasia Al-Quran ini sangat mengejutkan para ahli kesehatan di Belanda."

Saya tahu pesan Anida ini yang dikirimnya lewat SMS, bermaksud untuk mengingatkan saya untuk senantiasa berdzikir terutama ketika sakit keras di rumah sakit. Saya bukannya tidak mau diingatkan begitu, tetapi saya ketika melakukannya beberapa hari yang lalu dengan dzikir di dalam hati justru kehabisan nafas sehingga menyebabkan serangan berat kemarin pagi. Jadi menurut saya, para dokter dan perawat, kita harus bisa mengukur sendiri seberapa besar kemampuan kita untuk mengucap dzikir di saat-saat sakit begini. Memaksakan diri justru tidak disukai oleh Alah SWT.

Hari kemarin serangan asma saya membaik setelah dokter ahli jantung memerintahkan perawat untuk memasang alat-alat pemonitor denyut jantung, tekanan darah, kapasitas oksigen serta kemampuan bernafas saya sepanjang 24 jam. Alat-alat itu berbunyi amat berisik, membuat saya tak dapat tidur. Bayangkan saja, dalam 24 jam saya hanya mampu tidur satu setengah jam saja, yakni sejak pukul 2 pagi hingga pukul setengah empat menjelang subuh. Padahal siang harinya si bungsu, telah menolak setiap orang yang ingin datang menjenguk kecuali keluarga dekat kami. Kerabat mantan suami saya yang sudah seperti saudara kandung kami sendiri, cuma berani datang setengah jam di waktu sore bertiga peserta putri dan kemenakannya. Sekedar memenuhi keinginan saya yang rindu kepada beliau dan memberikan dukungan moral kepada kedua anak saya yang sudah berminggu-minggu tak pulang ke rumah demi untuk merawat saya. Apalagi seharian kemarin keadaan saya betul-betul memburuk.

Selain tak dapat tidur, sudah lima hari saya tidak dapat buang air besar. Padahal di rumah sakit, makanan dari dapur datang sehari 5 kali dan harus dimakan oleh pasien sedapat mungkin. Menurut anak saya, keadaan perut saya yang penuh itulah yang menyebabkan saya tak dapat tidur. Dia teringat episode kejang otak di kampung halaman ketika saya memaksakan diri mengejan untuk buang air besar. Saya pun sepakat dengannya. Karena itu kemarin, saya mengeluhkan hal ini kepada salah seorang dokter saya. Beliau berjanji akan meresepkan obat pencahar yang langsung akan dimasukkan lewat anus. Tetapi saya tunggu sampai sore obat itu tak ada juga. Maka saya menagih kepada salah seorang perawat yang justru mengatakan sama sekali tak tahu-menahui soal pemberian obat itu. Kemudian saya katakan kalau memang begitu saya minta dipompa saja. Waktu itu sudah lewat tengah malam. Perawat mengatakan tidak berani melakukannya. Sebab akan sulit mencari alatnya di tengah malam buta begini. Dia malah menyuruh saya melupakan semuanya dan mencoba untuk tidur saja. Ah! Mana mungkin saya dapat tidur dengan perut yang begitu penuh. Akhirnya saya nekat untuk dimintakan sedikit obat tidur kepda dokter jaga. Ternyata usulan ini bahkan ditolak keras oleh pihak rumah sakit. Alasannya, penderita asma yang sedang dalam serangan akan sangat berbahaya jika menelan obat tidur. Bahkan jika saya meminta untuk dipompa untuk mengosongkan perut saya, itu pun tidak boleh sembarangan. Alasanya kadar sel darah merah (hemoglobin) pasien harus dicek terleih dahulu. Sebab jika jumlahnya tidak sesuai, pasien bisa kejang otak seperti yang saya alami beberapa minggu yang lalu. Akhirnya dalam keputusasaan saya hanya bisa mengatupkan mata, mengosongkan pikiran dan mengenang semua kebaikan Allah satu setengah jam lamanya. Tak lama kemudian adzan kaji mulai dikumandangkan orang di masjid-masjid, yang sayangnya hanya bisa saya tangkap melalui layar televisi. Pagi telah tiba bersama akhir pekan yang tak begitu cerah. Akan tetapi kata anak saya sahabatnya semenjak sekolah dasar memutuskan akan berangkat dari Bogor untuk menjenguk saya. Dan barangkali juga bibi saya dari Matraman berkenan datang sepulangnya dari gereja. Tapi saya telah berjanji kepada pelawat dan anak-anak saya untuk tidak banyak mengobrol. Sekarang saya putuskan untuk beristirahat tidur saja. Semoga tercapai istirahat yang cukup sebagai penebus ketidak tiduran saya di hari kemarin.

Benar saja, kira-kira pukul setengah 2 bibi saya datang cuma berdua bersama putrinya. Beliau adalah mantan perawat RSCM semasa gadisnya. Dan tak dinyana lima menit kemudian teman-teman maya saya mantan blogger Multiply juga datang menjenguk. Jeng Ari Wijaya, jeng Rengganis, jeng Ana yang belum pernah saya kenal tiba-tiba masuk ke kamar perawatan saya bersama cucunda Bimo putra kesayangan jeng Ari yang belum pernah saya lihat di dalam gendongan ibunya. Setelah itu masuklah jeng Tintin Sjamsudin yang rupanya hingga hari ini meski sudah terpisah "kampung" masih rajin saja berkunjung ke blog saya ini. Tak cukup hanya itu, sahabat anak saya semenjak SD ternyata juga jadi datang bersama ibunya, Puji Nurhayati dengan menumpang kereta Commuter Line. Mereka beramai-ramai datang dari rumah masing-masing demi menunjukkan simpatinya kepada kami sekeluarga. 

Teman-teman maya saya katanya amat terkagum-kagum sebab nyaris setiap hari dalam keadaan sakit begini di ranjang RS, masih terus setia menulis menuangkan semua kisah hidup dan pengalaman saya. Jadi mereka berminat untuk melihat sendiri bagaimana keadaan fisik saya yang sesungguhnya. Ada kepedihan campur kekaguman yang menggenangi pelupuk mata mereka. Mereka tak mengira keadaan saya sudah sedemikian buruknya. Tapi mereka sekaligus menghargai dan terkagum-kagum kepada kedua anak saya yang dengan sepenuh bakti dan kasih sayang mau berbuat apa saja untuk saya, termasuk membantu mengetikkan jurnal-jurnal ini; yaitu jurnal yang menurut para pembaca saya ditulis dengan hati yang penuh makna. Untunglah para tetamu saya sadar diri. Mereka tak berlama-lama di tempat saya. Satu demi satu mereka berpamitan untuk mempersilahkan beristirahat. Kata mereka kondisi saya betul-betul nampak lemah, lelah dan kesakitan. Sikap mereka yang penuh pengertian ini, rupanya terpantau juga oleh perawat yang kemudian menyampaikan kepada saya kegembiraannya. Sebab tetamu saya bukan tipe mereka yang iseng berlama-lama mengobrol mengganggu jadwal istirahat pasien.  

***

Semalam peristiwa yang buruk kembali terjadi atas diri saya. Saya muntah-muntah sehingga mengganggu tidur kami sekeluarga. Peristiwanya berawal dari rasa sakit tumor saya yang sedang bertumbuh terus di tulang selangka saya. Tulang selangka itu berhubungan langsung dengan kelenjar ketiak saya yang sudah dibuang pada operasi di bulan Juni, sehingga kini lengan dan tangan saya menjadi cacat. Seperti biasanya di rumah peristiwa ini amat menyakiti saya, sehingga seringkali saya menjerit-jerit tengah malam hingga memanggil-manggil nama onkologis saya tanpa disadari. Jadi tadi malam saya melapor kepada perawat yang segera menghubungi onkologis saya mengenai keadaan saya. Dokter Bayu menyuruh perawat untuk menambahkan dosis obat anti nyeri dari 50 mg menjadi 100 mg. Hal ini dilakuannya sebab saya terbukti tak bisa lagi menerima pereda nyeri dari jenis morfin yang dulu biasa saya gunakan jika saya sedang dirawat di RS. Apa daya, dosis yang ditingkatkan itu justru membuat perut saya berontak sehingga saya muntah-muntah tengah malam sampai pagi. Si bungsu Haryadi bangun sebentar namun kemudian segera tertidur kembali sebab dia sudah sangat kelelahan tidur di rumah sakit selama 3 minggu menjaga saya. Sedangkan Andri kakaknya memilih untuk terus berjaga hingga pukul 3 pagi sebab perawat di RS ini apalagi di saat akhir pekan jumlahnya sangat sedikit sehingga sulit untuk segera melayani pasien. Contohnya tadi pagi pada pukul 2 walau sudah dipanggil-panggil, perawat datang melayani saya setengah hati. Dia hanya mengelap mulut dan ceceran muntahan di dagu serta dada saya. Selebihnya anak saya Andri harus membuang sendiri bekas muntahan saya. Perawat pun mengatakan minta maaf sejak sore sebab sebagian mereka memang sedang libur sehingga digantikan sementara oleh perawat-perawat dari Ruang ICU. Saya diminta menahan nyeri supaya bisa tidur nyenyak. Terpaksa saya mencobanya dan akhirnya dapat tertidur sekitar 2 jam saja. Meski demikian, saya tetap bersyukur karena saya masih bisa melaksanakan sembahyang subuh saya. 

Hari ini anak bungsu saya minta izin untuk pulang ke rumah barang sehari. Sebab, selain dia perlu merebahkan diri yang benar, pakaiannya pun nyaris kotor semua. Selain itu, rumah kami yang terpaksa dibiarkan kosong hanya dititipkan kepada satpam tentu saja perlu dibersihkan. Semula Andri kakaknya berkeberatan. Tetapi saya bisa mengerti keinginannya. Sehingga, saya carikan solusi yang baik. Saya tawari mereka untuk menelepon adik mantan suami saya guna minta tolong menggantikan si bungsu menjaga saya. Sebab saya khawatir, perkiraan si kakak bisa terbukti yakni saya tiba-tiba memburuk kembali ketika hanya dijaga seorang diri oleh salah seorang anak saya. Si bungsu semula menolak usulan saya bahkan mengatakan bahwa kakaknya mau menang sendiri. Dugaan ini saya bantah melalui alasan bahwa jika memang terbukti terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan lagi pada diri saya, tentu si kakak akan memerlukan teman berbagi rasa guna meredakan pikirannya serta meringankan tugas-tugasnya dari satu tempat ke tempat lain di dalam rumah sakit ini. Maklumlah sistem kerja BPJS-JKN masih belum berjalan dengan baik. Apalagi yang saya tawarkan untuk mengganti si bungsu bukan orang lain bagi kami. Adik ipar saya ini suami-istri justru perawat utama saya ketika saya sakit di Singapura dari tahun ke tahun. Mereka memang ditugasi mantan suami saya untuk merawat saya semasa itu. Akhirnya anak bungsu saya berhasil juga membujuk kakaknya sehingga si kakak tak lagi berkeberatan ditinggal pulang semalam dan ditemani oleh bibi mereka. 

Pagi hingga siang hari ini saya juga merasa seperti mendapat rahmat. Meski nafas saya tak kunjung membaik, tetapi dua orang kemenakan saya yang datang menjenguk hanya bertandang sebentar saja, juga tidak mengobrol lama-lama bahkan meminta saya untuk segera beristirahat tidur. Sampai sekarang nyaris pukul 3 sore alhamdulillah saya tidak menerima tamu siapapun juga lagi kecuali melihat ada panggilan telepon tak terjawab di ponsel saya yang berasal dari Amie teman SMP hingga SMA saya. Agaknya ketika dia menelepon tadi, saya benar-benar mematuhi nasehat kemenakan-kemenakan saya untuk tidur.

Dalam tidur itu saya tidak merasa nyenyak. Tubuh saya tetap tidak bugar. Tetapi apa lagi kah yang dapat kami lakukan untuk membantu keadaan ini. Tak lain dan tak bukan hanya melipat tangan berdoa memohon kepadanya agar masih tetap mendampingi kami. Tiada yang lebih indah selain kepercayaan kita kepada tuhan yang maha berkehendak pemilik alam semesta.

(bersambung)

Pita Pink