Powered By Blogger

Jumat, 27 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (XXVIII)

Aku terdiam merenung di atas pembaringanku. Malam mulai merayapkan dingin ke sekujur tubuhku. Kutarik selimut rapat-rapat menjangkau daguku. Tapi aku tetap sulit tidur. Masih saja terbayang olehku betapa Ami bersedia dimandikan sedemikian rupa.

Pikiranku terus berjalan menjalari seluruh syaraf ingatanku, mencoba-coba untuk membenarkan semua tindakan Ami. Ya, memang Ami dalam keadaan sudah sangat tertekan. Rasionya sudah mulai hilang seiring menipisnya kesabaran dalam hatinya. Apapun pasti akan dilakukannya untuk mengembalikan cinta kasih suaminya kepadanya, atau menurut bahasa Ami, menarik kembali suaminya dari lembah neraka yang tak pernah diridhai Allah itu..

Siapa pun perempuan itu, jika sakit hatinya memuncak, dia pasti akan mencari jalan sebagai pelepas stressnya. Dan aku membenarkan Ami, dia memilih mendatangi guru ngajinya daripada sembarang orang. Dia ingin mendapatkan penguatan jiwa lewat doa-doa yang tentu tak bertentangan dengan agama dan kepercayaan manapun.

Tapi soal mandi kembang itu? Aduh, bingung sekali aku memikirkannya. Aku hanya bisa mendoakan dalam harap semoga apa yang dilakoninya bukanlah syirik. Dan andaikata pun Allah tidak membenarkannya, maka kumohon bukan kepada Ami lah kemurkaan itu ditimpakan. Aku sungguh sayang pada Ami, apalagi sekarang baru terkuak olehku betapa tujuh tahun lamanya dia memendam semua perasaan tersisih dari suaminya dan kecemburuan yang beralasan itu. Andaikata itu terjadi padaku, aku yakin tak akan kuat menghadapinya.

Dentang lonceng di jam dinding kami sudah berbunyi dua kali. Sebentar lagi matahari akan bangun. Aku mencoba untuk berdzikir hingga tidur itu mampir menemaniku, membuaiku dalam kesenyapan hati dan pikiran. Duh, nikmatnya terasa ketika aku terbangun oleh sentakan selimut ditarik suamiku.

"Oh, sudah subuh ya?' kataku buru-buru duduk sambil mengusap-usap kelopak mataku. Bumi seperti bergoyang sebab aku sempat terkejut, Aku duduk barang sejenak, melihat suamiku sudah mengambil handdoeknya akan mandi pagi. Segera aku beranjak.

"Kamu kecapekan tuh jalan-jalan ke Sukabumi dengan bu Taufik kemarin," komentar suamiku.

"Ya, maklum seru, pake acara ke sawah segala sih," timpalku sekenanya sambil bergegas mencoba bangkit mengambil air sembahyang di kamar mandi pembantuku. Aku tak boleh kesiangan dan melalaikan tugasku menyediakan sarapan pagi bersama Kurnia, begitu tekadku.

Pembantuku itu sudah rapi, di tangannya semangkuk telur dikocok-kocoknya hingga menimbulkan buih tinggi.

"Saya masak nasi uduk saja ya bu, habis mau tanya ibu kemarin ibu langsung istirahat, pagi ini kesiangan bangun, capek ya bu?" kata pembantuku dari dapur. Aku menyahut singkat dengan anggukan.

Di meja makan mas Tri menyuruhku mengantarkan paspor bu Taufik dan anaknya yang sudah dikembalikan dari kantor setelah mendapat pengesahan lapor diri di tanah air sesuai prosedur yang diharuskan dinas.

"Paspornya ada di meja kerja, di dalam laci bagian tengah," pesan suamiku.

Aku mengangguk senang, sebab tanpa kusangka hari ini aku akan dapat kesempatan  bertemu Ami lagi. Telah kurencanakan aku nanti akan mengajaknya makan siang di luar sebelum minggu depan dia kembali ke posnya.

Anak-anak menolak untuk ikut ke tempat Ami. Mereka ingin mencoba permainan baru yang baru dibeli minggu lalu sebagai hadiah kenaikan kelas mereka. Mumpung libur, kuizinkan mereka bermain sepuasnya.

-ad-

Aku sampai di rumah keluarga Ami tepat ketika Ami akan berangkat menemui guru ngajinya lagi. "Aduh, maaf mbak nggak pake telepon dulu, tadi mas Taufik tiba-tiba nyuruh saya mengantarkan paspor. Saya nggak lama kok mbak," kataku di muka rumah keluarganya begitu menyadari dia akan keluar rumah.

Ami mengajak aku ke tempat ustadzahnya sekalian. "Aku mau tanya-tanya lagi ke mak Azizah, ikut aja yuk?" bujuk Ami. Tanpa ragu-ragu aku mengiyakan permintaannya karena sesungguhnya aku juga agak khawatir akan nasib Ami kalau dia mengunjungi guru ngaji itu sendirian saja.

Bu Azizah ada di rumahnya, baru selesai mengajar di rumah bu dokter Farid tak jauh dari rumah Ami. Bahkan dia masih memakai abaya hitamnya yang kemarin dulu dipakainya.

"Mari bu, silahkan masuk. Aduh kebetulan saya baru pulang ngajar juga," katanya. Dia mempersilahkan kami duduk di kursinya yang kemarin, maklum di rumah itu memang tak ada perabotan lainnya lagi. Anaknya Umar ada di rumah, baru saja tiba dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik sepatu di kawasan Tangerang sehabis berdinas malam.

"Maklum orang kecilan bu, terpaksa pulang kerja malam masih mesti belanja dulu buat istrinya dagangan di sekolahan," kata mak Azizah menjelaskan. Tapi tak urung Umar masih juga menyempatkan diri ke dapur menjerang teh dan menghidangkan sepiring bakwan yang katanya bagian dari dagangan istrinya di kantin sekolah anak mereka.

Bertemankan segelas teh manis dan sepiring bakwan, Ami menceritakan maksud kedatangannya. Dia ingin tahu apa arti kalimat Arab yang dituliskan pak haji untuknya kemarin. Juga do'a-do'a itu.

"Oh, ini artinya, ibu minta supaya hubungan cinta kasih dan sayangnya bapak sama perempuan itu diputus sama Allah. Yang ini, ibu minta supaya dibukakan pintu hati suami ibu untuk ibu. Nah, yang mesti ditaro di pintu rumah ini, artinya minta supaya bapak selalu dikasih kewaspadaan, dijaga dan dilindungin selama di luar rumah sehingga saban hari bakal selalu inget sama ibu dan kepengin cepet-cepet kumpul dengan keluaga di rumah lagi," jelas bu Azizah satu demi satu.

Ami nampak mengangguk-angguk mengerti. Namun dari mulutnya masih saja keluar pertanyaan berbau keraguan, "tapi bener ya ustadzah, artinya begitu?"

"Iya bu, ibu kudu yakin. Kalo ibu yakin, Allah bakal kasih jalan buat ibu rukun kembali sama bapak, banyak kok bu yang ketolong mamang saya," jawab mak Azizah mantap.

Ami terlihat menarik nafas lega dan tersenyum manis. Setelah itu Ami bercerita lagi mengenai perbuatan suaminya selama ini. Sebetulnya dia cuma memperdalam apa yang telah diceritakannya di hari-hari yang lalu. Namun satu dua pengakuannya, merupakan hal baru bagiku yan sungguh menggelitik.

Dikatakannya, seringkali di waktu tengah malam, dia sekan-akan mendapat bisikan dari hati nuraninya, bahwa di ponsel suaminya masih ada SMS-SMS baru dari wanita itu, sekalipun suaminya sudah menyatakan putus hubungan. Suatu malam dia berhasil membongkarnya sendiri dan mendapati SMS bertanggal hari kemarin dan hari itu, yang menyatakan bahwa suaminya tak jadi menemui wanita itu di suatu tempat. Bahkan kemudian dia menanyakan apakah hari itu si wanita sudah mendarat di negara tujuannya. Sungguh suatu pukulan bagi Ami yang paling menyakitkan.

Maka keesokan malamnya Ami menanyai suaminya lagi tentang kebenaran putusnya hubungan mereka. "Sungguh, telah kuputuskan hubungan kami. Kamu harus percaya padaku," jawab suaminya ketus.

"Tapi, aku yakin, naluriku mengatakan hingga tadi siang, kau masih bertukar SMS dengannya. Dia sedang dalam perjalanan dinas ke luar negeri juga 'kan?" desak Ami.

Suaminya merah padam, setengah memaksa dia minta diambilkan kitab suci untuk bersumpah. Tapi Ami yang bijaksana mengatakan tidak mau melaksanakannya. Cuma dipesankannya untuk tidak meladeni wanita itu lagi, kapan pun juga. Bahkan dengan sabar Ami mengatakan bahwa suaminya benar, dia sudah memutuskan hubungan, namun wanita itu yang masih nekad mengejar suaminya. Perkataan Ami dibenarkan oleh suaminya, karena itu sekali lagi dia mendesak minta diambilkan Al Qur'an, yang tentu lagi-lagi ditolak Ami.

"Sudahlah, akang tak perlu bersumpah. Aku percaya pengakuan akang jujur. Hanya pesanku, tolong jangan dekati dan bahkan jangan ladeni lagi wanita murahan itu," tutup Ami.

Tak urung menjelang keberangkatan Ami menjemput anaknya ini, Taufik menanyakan kesiapan Ami untuk berbicara dengan wanita itu di telepon. Ami yang tak menyangka, sungguh-sungguh terkejut dibuatnya. Diantara keterkejutannya dan rasa senangnya, dia mengangguk pasrah. Lalu diperhatikannya suaminya menekan nomor telepon wanita itu di ponselnya.

Pada kesempatan pertama, hubungan tidak dapat tersambung. Dan Ami mengatakan tak berkeberatan seandainya tak bisa bicara, dia minta diizinkan untuk menemui langsung wanita itu, sebab menurut Ami, dia tahu di mana tempat tinggalnya.

Suaminya yang sama sekali tak menyangka reaksi Ami, nampak pucat dan gugup. "Jangan, jangan datangi dia, tunggu, aku masih mencoba lagi menghubungi nomornya," kata suaminya sambil terus menekan-nekan keypad ponselnya.

"Aduh, kok belum juga sih," gerutunya panik. Kelihatan sekali dia begitu gelisah.

"Ya sudah, ibu bilang jangan risaukan, ibu masih bisa datangi orangnya biar pembicaraan ini jelas dan disaksikan suaminya sekalian," reaksi Ami sambil menyisir rambutnya di muka kaca rias kamar tidur mereka. Senyap terasa begitu mencekam.

Pada percobaan ketiga, ponsel itu segera diserahkan ke tangan Ami, "ini, bicaralah," kata suaminya. Ami memandang lurus padanya, "bapak dulu lah," sanggah Ami. Lelaki itu cuma menggeleng dan berujar singkat, "sudah," seraya beranjak pergi meninggalkan Ami sendirian di kamarnya bertemankan wanita itu di ujung sana.

Menurut Ami, dia memperkenalkan diri dengan nama resminya, Suratmi diikuti nama suaminya. Lalu dia menanyakan kabar wanita itu sebelum dilanjutkan dengan pernyataan bahwa dia dan anak-anaknya telah mencium hubungan terlarang wanita itu dengan suaminya,

Wanita itu cepat menyahut membela diri dan mengatakan bahwa dia hanya kawan kerja suaminya yang dinilainya lelaki sangat cerdas, penuh perhatian kepada teman-teman dan lingkungannya serta baik hati. Dinyatakannya juga bahwa antara dia dan suaminya tidak ada hubungan apa-apa, kecuali sekedar teman sekerja walaupun berlainan instansi, tegasnya.

Ami segera menyahuti dengan membenarkan semua pernyataan wanita itu, tapi sekaligus juga dia mengatakan bahwa dibalik semua kebaikan suaminya, ada riwayat masa lalu keluarganya yang kelam. Namun Ami tak berniat memerinci apapun, karena aku tahu cinta Ami pada suaminya bukanlah disebabkan Ami mengejar status sebagai anggota masyarakat kelas atas yang selain berpendidikan, bangsawan pula.

Tiba-tiba secara mengejutkan wanita itu menyahuti ucapan Ami dengan suatu kalimat yang nadanya dipaksakan untuk mengesankan kesantunan dan kebijakan orang itu. Tapi, ajaibnya dia memanggil Ami dengan nama kecilnya. "Teh Ami jangan suka membicarakan kejelekan Aa Taufik ya, selama ini Aa juga nggak pernah membicarakan tentang teteh Ami kepada saya."

Telinga Ami serentak berdiri sembilan puluh derajat. Dia sangat terkejut karena tak menyangka wanita yang diajaknya bicara menyebut nama kecilnya, padahal tadi dia memperkenalkan diri sebagai Suratmi. Dan ajiab pula, wanita yang mengatakan suaminya tak pernah bercerita menyebut-nyebut dirinya, tahu bahwa dia punya nama kecil Ami.

Belum sempat dia mendebat panjang lebar, wanita itu kemudian menyatakan bahwa dia tak ada hubungan dengan suaminya dan berniat menutup telepon dengan menanyakan, hal yang sungguh-sungguh mencegangkan, bila Ami akan sampai di Jakarta. "Itukah pertanyaan orang yang tidak pernah berhubungan lagi dengan suamiku dan membicarakan aku?" tanya Ami retoris pada kami.

Kepala Ami berdentam bukan main dan rasanya nyaris meledak. Dia menarik nafas panjang, beristighfar di dalam hati sebelum kemudian menyampaikan bahwa dia bermaksud memberitahukan sejauh ini hubungan gelap Taufik dengan wanita itu tak merugikan dirinya sama sekali. Namun justru diingatkannya bahwa wanita itu telah merugikan diri sendiri, sebab wanita itu punya pekerjaan dan karier bagus yang terhormat yang bisa terganjal oleh perbuatan nistanya sendiri.

Wanita itu terdiam sesaat sebelum kemudian mengiyakan pesan terakhir Ami, "titip jaga diri anda baik-baik. Diri anda punya masa depan yang cemerlang, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga semata. Di mana pun kelak kalau anda bertemu dengan suami saya lagi, tolong ingatkan suami saya untuk menjaga harga diri, martabat dan karier kalian, terutama kariermu. Sebab, saya tahu, bagi suami saya bekerja bukanlah untuk mencapai puncak kariernya, melainkan untuk berbuat banyak yang akan memberi arti bagi masyarakat, maklum dia dulu anak janda yang kenyang makan asam-garam kehidupan," tutup Ami terdengar sangat bijak.

Tak ada setetes pun air mata, bahkan saat Ami mengulang kembali ceritanya dimuka kami, aku dan mak Azizah di gang pengap itu. Kata-katanya terlontar datar, lembut dan sangat santun namun mengena.

Mak Azizah mengelus-elus pundak Ami, aku menggenggam tangannya. Kami berbagi kebahagiaan mendengar penuturan Ami yang begitu santun jauh dari emosi murahan yang meledak-ledak.

"Dari mana mbak Ami tahu alamat wanita itu?" tanyaku tentang rencana Ami mendatanginya ke kotanya.

Ami tersenyum nakal. "Ada deh, pokoknya aku punya intel-lah. Intel inside," guraunya.

Sambil berjalan pulang dari rumah bu Azizah Ami mengatakan bahwa dia memanfaatkan jasa saudaranya di kota itu untuk menelusuri nama dan alamat yang dtiemukannya sewaktu membongkar-bongkar tas kerja suaminya setelah kejadian SMS-SMS menyakitkan itu.

"Kertas itu tak lebih dari separuh lebarnya kartu nama, dimasukkan memojok di dalam tas. Tapi Allah berada di pihakku dan anak-anak Nik, aku dituntunNya dalam sekali raba kesana. Kau boleh percaya, boleh tidak Nik, Ini bukan kejadian pertama untukku. SMS-SMS dua hari berturut-turut yang disangkalnya itu, juga kuketahui lewat sesuatu bisikan yang aku tak tahu bisikan siapa di tengah malam itu, tepat  ketika aku menyelenggarakan shalat tahajjudku," urai Ami padaku.

"Kata saudaraku, betul ada nama itu di jalan yang kusebut. Dia seorang pegawai negeri yang menambah penghasilannya dengan membuka biro jasa pernikahan, event organizer sekaligus menyediakan hiburan pesta. Dan dia sendiri itulah sinden di kelompok seni tradisional yang diasuhnya. Saudaraku menelepon ke sana, berpura-pura menanyakan jasa pengaturan rencana pernikahan," kata Ami lagi sambil tersenyum jenaka malah nyaris tertawa. Dia terkikik sendiri sehingga memancing tawaku juga.

Jalanan Jakarta yang panas siang itu tak lagi kami hiraukan. Aku jadi semakin terkagum-kagum saja pada Ami yang menolak kuajak makan siang di luar. Sebagai gantinya dia bahkan menghentikan gerobak bakmi ayam di muka rumah keluaga Pandunagara seakan-akan pelengkap kebahagiaan hatinya yang mulai tumbuh.

(BERSAMBUNG)

25 komentar:

  1. ni ceritanya novel ya bunda..?
    kpn diterbitkan..?jalan ceritanya bagus bunda..
    walau rose belom baca sepenuhnya..

    BalasHapus
  2. wah harus pelan nich bacanya.......masih baca...........

    BalasHapus
  3. ami dapat bisikan?? dari hati nurani seorang is3 ya bun? lina bru aja bdebat ttg kesetiaan, antara laki dan perempuan ni bun, sama abang angkatku... hhhfff.... cowk itu mmg ga mau kalah...

    BalasHapus
  4. Ini ceritanya cerita-ceritaan nak.
    Apa iya bagus, apa iya ada yang mau beli novel saya?
    Halah, bagusan tulisanmu kok.
    jadi makin nggak pe-de nih ibu hahaha.......

    BalasHapus
  5. Sialhkand itelusuri dari bab I kalo mbak Tatik berkenan. terima kasih mbak udah mampir.
    Apa kabar? Si kecil nggak sakit-sakit lagi 'kan?

    BalasHapus
  6. Iya, hati seorang istri itu nggak mungkin bisa dibohongi suaminya lho.

    BalasHapus
  7. Setuju bun! Itu yg kubilang sama abgku tadi!

    BalasHapus
  8. Nah, bagus. Pertahankan pendapat itu. Jangan mau direndahkan lelaki ya?!

    BalasHapus
  9. Iya bun! Hehehe... tadi lina blajar dari ami.. :D

    BalasHapus
  10. Wo....., pantesan. Wis ndisik ya Lin, aku arep turu tas jaga bazaar, laris manis ddolan sateku.

    BalasHapus
  11. wah..lina tadi sore mau beli sate ma gulai ga jadi bun, wong si pakdhe sate ga jualan.... *met istirahat bun!

    BalasHapus
  12. begitu pandainya Ami menjaga emosinya.......

    BalasHapus
  13. Assalamualaykum...

    bu dhe, kangen... saya udah ketinggalan banyak cerita bu dhe nih :(

    BalasHapus
  14. Sekarang udah bangun, udah shalat, udah mandi, udah ngopi, udah fresh! Tinggal siap-siap jualan di hari terakhir. Soale udah mulai Rabu malem, wis kesel!

    BalasHapus
  15. Kan, dia selalu istighfar walaupun cuma di dalam hati, gitu lho kak Lely, hehehe.....

    BalasHapus
  16. Ketinggaan apa nduk, cah ayu? Ketinggalan sepur, bis apa piye?

    Ayo dioyak wae....... Apa kabar? Sukseskah dengan tugas-tugas yang setumpuk itu?

    BalasHapus
  17. bisikkan hati nurani seorang istri, biasanya selalu benar :)

    BalasHapus
  18. Dan kebenaran itu akan terbiukti kemudian, serta membawa hikmah bagi kedua pihak.

    BalasHapus
  19. betull bunda..., Allah akan memberikan cobaan kepada umatNYA untuk naik 'kelas', iya engga ?

    BalasHapus
  20. Kayaknya iya sih. Saya nggak ngalamin soalnya.

    BalasHapus
  21. jangan ach ngalamin seperti Ami bun, aku sich gak sanggup dechh..

    BalasHapus
  22. Seperti perang psikologis ya Bu... waktu mereka bicara di telepon itu.

    BalasHapus
  23. Oh? Waduh jadi ketahuan fantasi say aterlalu melambung nggak midak donya, piye mbak? Aduuuuh............ isin!

    BalasHapus
  24. Nggak lah Bu... tetap membumi kok walau agak dramatis. Perempuan kan memang bisa dramatis apalagi kalau lagi emosi :D.
    Oya, biro jasa pernikahan itu maksudnya wedding organizer ya? Salut untuk kecermatan Bu Julie mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia :).

    BalasHapus
  25. Iya, itu lho yang ngurus mulai dari sewa pakaian, juru rias, foto manten dst...... kira-kira 'kan semacam biro jasa? Biasanya dia menyediakan paket hiburan sekalian toch? Bulan lalu waktu keponakan saya nikah, ada juga organ tunggalnya (silahkan klik foto galeri "Virus Menyanyi"). Si penghibur ini jadi satu paket dengna urusan pakaian, juru rias dst tadi.

    Jaman saya nikah dulu, semua saya urus sendiri, mulai cari gedung, cetak undangan, nyebar undangan, cari caterer, cari juru rias (dukun manten alias juru paes) dan beli baju/jahit baju. Dekorator juga nyari sendiri (biasanya keluarga pada kerja bakti). Penanggungjawab tata suara/audio, juga saudara yang ditunjuk, plus juru foto. Sekarang sih enak ada yang menawarkan jasa lengkap, ya?

    BalasHapus

Pita Pink