Powered By Blogger

Jumat, 27 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (XXIX)

Persahabatanku bersama Ami sudah mencapai titik puncaknya. Dia tetap mengharapkanku untuk menemani dan mendampinginya. Dan aku sendiri, selalu senang bisa berada di dekatnya, seperti siang ini ketika aku dan suami kembali mengantarkannya ke Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Rizqi akan menempati tempat kostnya dengan kuantar. Keluarga Pandunagara masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan kegiatannya, kecuali ibu Pandu yang disapa Ami sebagai ceu Ningsih, membolos dari kantornya untuk mengantar Ami. Tapi jika kuperhatikan, antara ceu Ningsih dengan anak-anak Ami kelihatan terhalang oleh rasa sungkan yang menurutku agak berlebihan.

Seperti siang itu, ketika dia menawari Rizqi untuk membawa peralatan makan miliknya ke rumah kost, Rizqi menolak dengan sopan. Dikatakannya dia akan menumpang makan pada ibu kostnya atau pergi makan ke warung nasi. Padahal aku tahu, calon ibu kost Rizqi waktu itu mengatakan, dia tidak bisa menyediakan lauk-pauk yang enak sebab semasa aktif berdinas di Rumah Sakit dulu, dia jarang punya kesempatan memasak. Karenanya biasanya anak kost di situ memilih untuk makan di luar atau memasak sendiri di dapurnya. Untuk itu disediakan sepojok tempat di belakang dapur bu Pratiwi, nama induk semang Rizqi itu untuk meletakkan kompor dan peralatan memasak anak-anak kostnya.

Tak ada tangisan di mata Rizqi. Hanya tatap mata yang tak putus-putusnya dan mengandung cinta yang dalam terhadap ibu dan adiknya. Juga pelukan erat yang dalam disertai ciuman yang bertubi-tubi sebelum Ami dan Ridho masuk ke dalam bandara.

"Kakang titip ibu ya De, jangan menyusahkan ibu di sana. Kalau ibu ada kesulitan atau penyakitnya kambuh lagi, kasih tahu aku ya? Jaga dan rawat ibu baik-baik, kakang titipkan sama kamu," kudengar dia membisikkan salam perpisahan yang bernada sangat dewasa ke telinga adiknya.

Ridho mengangguk dalam-dalam dan membalas dengan ucapan serupa, "kakang juga, hati-hati di rumah orang lain. Selamat belajar ya kang, jangan lupa jaga diri dan kesehatan, juga nanti sering-sering SMS atau ngimeil," lalu dia menciumi kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Aku pasti akan sangat rindu kakang," bisiknya seraya menjauh memasuki area dalam bandara menyusul ibu mereka.

-ad-

Hari perpisahan itu sepertinya semakin mendewasakan Rizqi. Setiap minggu kalau kutanyakan keadaannya, dia selalu menjawab baik-baik saja. Bahkan sewaktu kami menengoknya di akhir bulan, ibu kostnya mengatakan dia sangat sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Bahkan hampir tiap hari dia kedatangan sekelompok teman-temannya untuk belajar bersama atau sekedar berbincang-bincang di kamarnya. "Warnet di sebelah rumah sini jadi langganan mereka sekarang, seminggu minimal empat kali," cerita ibu Pratiwi. Rizqi tersenyum mengangguk mengiyakan. "Banyak tugas sekolah tante, juga kegiatan OSIS, kebetulan saya ketuanya," alasan Rizqi.

Saat pengambilan raport tiba, Rizqi meneleponku minta tolong diambilkan raport. "Ibu nggak bisa pulang tante, karena kata Ade, ibu sedang sakit," ceritanya mengiba.

Penyakit pada kandungan Ami nampaknya kambuh kembali, dan menurut Rizqi Ami sedang dalam perawatan dan pengamatan seorang ahli kebidanan dan kandungan di sebuah rumah sakit swasta yang bagus di sana. "Kata bapak, di rumah sakit itu peralatan lengkap, tenaga medis memadai, tapi suasananya sepi dan tenang mirip di sebuah hotel. Kasihan, ibu tidak bisa jalan lagi dan kesulitan bernafas. Paru-parunya bermasalah lagi," cerita Rizqi. Di antara rasa prihatinku, terselip kegembiraan, sebab upaya Ami mendo'akan suaminya dulu tampaknya membuahkan hasil. Suaminya berbalik memikirkan dia dan mengupayakan kenyamanan serta kenikmatan yang terbaik untuknya sepanjang dia sakit.

Rizqi menyongsongku di muka pintu gerbang sekolahnya. Dia mempersilahkanku mengikutinya ke kelasnya sambil memperkenalkan kepada wali kelasnya yang menyambutku dengan hangat. Aku membaur bersama para orang tua murid, yang ternyata salah satu di antaranya adalah orang tua murid teman anakku Buyung.

"Ini anak sahabat saya mama Arini, ibunya di luar negeri sedang sakit, jadi saya yang mewakili," jawabku menjelaskan ketika ibunda Arini menanyakan hubunganku dengan Rizqi.

"Ya, seingat saya saya juga kenal ibunya. Ramah dan senang mengobrol. Sakit, di mana?" perempuan paruh baya itu menanyaiku lagi. Aku menjawab apa adanya. Kemudian dia menitipkan salam dan do'anya untuk Ami.

"Rizqi juga baik hati, senang bergaul, sopan dan banyak temannya di sini. Kata anak saya sih merupakan salah satu bintang kelas IPS," cerita Mama Arini tentang Rizqi. Aku mengangguk menyetujuinya.

Kelas sudah semakin sepi ketika kusadari nama Rizqi belum juga dipanggil. Sampai akhirnya tinggal dua orang saja lagi, bertiga dengan orang tua murid yang sedang menerima raport anaknya di meja konsultasi sana.

Perempuan berdarah Arab yang kini duduk denganku inilah yang kemudian menerima gilirannya, meninggalkan aku seorang diri. Rizqi nampak melongok-longokkan kepalanya dari jendela, seperti tak sabar lagi. Aku menebarkan senyumku kepadanya.

"Silahkan ibu, wali murid Muhammad Rizqi Rahman," tiba-tiba pak guru mengejutkanku yang tengah membuang pandang ke luar kelas.

Aku melangkah menghampirinya dengan senyum hangat.

"Mohon ma'af pak, ibunda Rizqi tidak bisa pulang dari tempat tugasnya karena sakit dan sekarang sedang dalam perawatan dokter," kataku membuka percakapan.

"Ya, saya mengerti bu. Dan saya pun menghargai kehadiran ibu. Biasanya memang ibunya selalu datang sendiri mengambilkan raport anaknya termasuk ketika kenaikan kelas kemarin. Beliau datang, walaupun saya tahu beliau ada di luar negeri. Saya tahu prinsip beliau bahwa pendidikan anak adalah urusan maha penting bagi orang tuanya," jawab pak guru panjang lebar. "Itulah yang saya hargai dari keluarga Rizqi."

"Jadi, bapak sudah dua tahun berturut-turut jadi wali kelas Rizqi?" tanyaku lancang.

"Oh, tidak, tapi kami semua sangat mengenali ibu Taufiq. Sebab selain Rizqi Ketua OSIS di sini, beliau dan ayahnya merupakan orang tua yang aktif memantau perkembangan sekolah anaknya," jelas pak guru lagi. "Di akhir pekan, pak Taufik bahkan tak segan-segan menjemput anaknya ke sekolah sendiri," tutupnya.

Lalu dia mulai membuka lembaran raport Rizqi dan menjelaskannya padaku. Ada beberapa nilai yang berubah, sayangnya agak sedikit merosot. "Saya lihat akhir-akhir ini terutama sejak akhir kelas satu, Rizqi sering kedapatan melamun walau semua pekerjaannya masih bisa diselesaikan. Bahkan seringkali dia menjadi murid yang terakhir menyerahkan tugas-tugasnya."

Guru Rizqi menduga Rizqi seperti punya beban masalah di rumahnya. Sebab sejauh itu, hubungan dengan teman-teman sekolahnya berlangsung baik. Tapi Rizqi sering kelihatan
malas pulang ke rumah, atau bahkan malas ke luar rumah, begitu menurut pengakuan teman-teman dekatnya. Dia juga lebih suka menyendiri di mushala sekolah berlama-lama atau di perpustakaan.

Dulu menurut Ami, di rumah pun Rizqi hanya senang membaca, menulis-nulis atau main musik di kamarnya. Ada sebuah keyboard yang sengaja diletakannya di sana.

Pak Daud guru Rizqi memintaku untuk menyampaikan masalah ini kepada orang tuanya, dengan maksud agar anaknya dapat menyelesaikan kelas dua dengan baik sebagai bekal menempuh pendidikan di kelas tiga yang kelak akan membawanya masuk ke universitas.

"Insya Allah saya sampaikan pak, saya bisa menghubunginya lewat telepon atau mengiriminya E-mail," janjiku disambut perasaan senang pak guru.

"Bantuan ibu sangat kami hargai, dan informasi dari ibu mengenai sakitnya ibunda Rizqi akan saya jadikan masukan kepada guru Bimbingan dan Penyuluhan yang akan menindaklanjutinya kemudian. Terima kasih atas kesediaan ibu hadir di sini," kata pak guru pada akhirnya.

Aku membungkuk hormat menyalaminya, lalu berlalu menghampiri Rizqi. "Kita bicara di rumah tante ya? Atau kakang mau makan di luar dengan tante dan oom? Nanti tante bisa minta tolong oom jemput di sini sehabis mengambil raport dik Buyung dan dik Hardi," kataku menawarkan kesejukan batin.

"Hm, nggak usah tante, bicara di rumah tante saja, kalau boleh nginap, mau juga sih," jawabnya kemudian. Lalu kami berjalan beriringan ke pemberhentian kendaraan umum yang akan mengantar kami pulang ke rumahku. Aku menyarankan Rizqi untuk berpamitan pada ibu kostnya dulu, tapi dia mengatakan sudah melakukannya tadi pagi. "Saya memang sudah rencana kepengin tidur di rumah tante hari ini," katanya ringan. Aku memeluknya dan mengguncang-guncang jambulnya layaknya kepala anakku sendiri. Rizqi pun tetrtawa malu-malu.

-ad-

Aku minta ijin suamiku untuk menelepon Ami atau pak Taufik dari rumah. Dengan senang hati dia menyambungkan line telepon untukku. Tanpa sepengetahuan Rizqi kusampaikan apa hasil konsultasi di sekolah Rizqi tadi pagi.

Ami sendiri yang mengangkat telepon walau suaminya ada di dekatnya. Dia mendengarkan semua kata-kataku dengan cermat tanpa menyela dengan komentar. Setelah habis, baru dikatakannya bahwa dia akan mendiskusikan ini dengan suaminya nanti malam. "Terima kasih atas bantuan, kebaikan dan terutama perhatianmu pada kami, Nik, semoga Allah membalas semuanya. Akan saya diskusikan dengan ayahnya nanti malam," janjinya.

Ami mengatakan bahwa dokter masih meneliti penyakitnya. Tapi kandunganku sudah pasti akan diangkat segera. "Jaringan otot di rahimku membengkak," keluhnya. "Obat-obat itu tak ada gunanya lagi untukku, do'akan aku ya Nik. Juga aku titip Rizqi," ceritanya sambil minta ijin bicara dengan anaknya.

Tak lama berselang kedua orang ibu dan anak itu telah asyik terlibat percakapan. Rizqi kedengaran berbisik-bisik lirih, seakan-akan membicarakan sesuatu yang patut dirahasiakan sebelum kemudian menyerahkan tangkai telepon padaku kembali. Air mukanya nampak muram. Aku mengelus-elus kepalanya sambil menerima tangkai telepon dari genggamannya.

"Ya Nik, sampaikan ma'af pada pak Tri, kami telah merepotkan kalian. Kata Rizqi dia minta ijin sering-sering pulang ke rumahmu. Dia tidak begitu cocok dengan keluarga uwaknya yang sangat sibuk dan penuh aturan layaknya di rumah keluarga bangsawan," kata Ami. Aku mengiyakannya serta meminta maaf pula seandainya kami juga tak dapat melayani kebutuhan Rizqi dengan baik. Sekali lagi aku mendo'akan keberhasilan operasinya serta kesembuhan sempurna baginya sebelum menutup telepon.

Malam itu Rizqi menumpahkan semua perasaannya padaku. Dia sangat kecewa pada uwaknya yang dinilainya terlalu membela Taufik. "Waktu pulang dari Sukabumi dengan tante, ibu bicara terbuka dengan wa Ningsih. Tapi tante, wa Ningsih malah bilang, ibu dilarang berprasangka terhadap bapak. Katanya, seumur hidup bapak nggak pernah berprasangka buruk terhadap ibu atau siapa pun juga. Juga bapak tak pernah menyakiti hati orang, jadi tidak pada tempatnya ibu mendukunkan bapak. Waktu itu ibu jadi nangis," tutur Rizqi.

"Ibu bukan ke dukun 'kan ya tante? Salahkah kalau ibu minta diajari do'a oleh seorang ustad?" tanya Rizqi seakan tak minta dijawab.

"Kalau tante tahu, tingkah laku bapak akhir-akhir ini begitu berbeda, menyita perhatian kita, dan terbukti menyakiti hati kami, bersalahkah jika ibuku mengatakan bahwa bapak meninggalkan kami?" gerak bibir itu mulai mengarah ke bawah, matanya sayu siap menitikkan hujannya air mata. Aku tak sampai hati melihatnya. Hatinya nampak begitu terluka.

"Kakang benar, tapi mereka juga tidak bisa disalahkan kang, mungkin uwakmu merasa dipermalukan ayahmu sehingga uwakmu membela ayahmu. Tidak apa-apa kang, kakang jangan sakit hati, tak perlu tersinggung. Itu hal yang wajar dan manusiawi. Tapi yakinlah bahwa ibumu tidak berdukun. Ibumu hanya minta diajari berdo'a untuk keselamatan ayahmu dan rumah tangga kalian. Itu yang tante ketahui," kataku membujuknya.

Anak lelaki itu menangis di kasurku. Bahunya terguncang-guncang tertelungkup di bantalku. Lelehannya membentuk gambaran-gambaran bundar tak beraturan.

Aku tetap di sisinya, mengelus-elus rambutnya yang lebat sampai dia merasa lega dan jatuh tertidur kelelahan. Di dalam lelapnya kuharap ada mimpi indah bersama ayah-ibu dan orang-orang terdekat yang disayanginya. Semoga.

(BERSAMBUNG)

20 komentar:

  1. Kasian rizqi... yg jd korbn slalunya anak2..

    BalasHapus
  2. Tapi jangan nangis ya. Terima kasih sudah ikut berduka untuk Rizqi, adiknya dan tentu sang bunda.

    BalasHapus
  3. Makanya nduk, mbesuk kalo pilih suami yng cintanya dijamin nggak luntur ya?

    BalasHapus
  4. hhhhh lagi-lagi anak yg jadi korban...............

    BalasHapus
  5. Kan yang paling deket dengan orang tua yang memang anak. Jadi apsti emreka yang jadi korban. Lagipula anak-anak di Indoensia dikondisikan untuk tidak boleh ikut bicara mengenai permasalahan yang dihadapi orang tuanya. Bisanya cuma jadi penonton aja. Makanya, kalo pertarungan itu berhasil buruk, mereka jadi korban. Bahkans elama bertarungpun mereka sudah jadi korban sebagai penonton. Hiii...... serem!

    BalasHapus
  6. kasian Rizqi bun, mudah2an dia tidak trauma yaa...:)

    BalasHapus
  7. wah...ceritanya bagusssss...
    gak sabar nunggu sambungannnya bun...:)

    BalasHapus
  8. Enaknya terus gimana dong keterusan kisahnya? Ayo sumbang ide mbak Kris!

    BalasHapus
  9. Terima kasih. Tapi lebih asyik lagi kalo mbak Arni baca dari bab I nya. Dijamin seru! Pindah aja dulu ke flash disk. Nanti dibacanya nyicil.

    BalasHapus
  10. iya bun...tadi udah aku copas tanpa ijin :D

    tengkiyu ya bun....

    BalasHapus
  11. hehehe....Risqi akan tumbuh menjadi pemuda yang sangat menghargai / Santun dalam menghadapi wanita...gimanaa buunnn...???

    BalasHapus
  12. YA, silahkan. Kalo mau ikutan jadi komentator boleh juga datang tiap hari, biar ide di otakku mengalir makin lancar aja.

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah Rizqi mau curhat dan ada yang mau dicurhati pula ya Bu... kebayang kalau dipendam sendirian terus-terusan...

    BalasHapus
  14. Iya, ya, duh gimana tuh hihihihi......

    Saya bingung nih mbak, kayaknya fantasi saya kok berhasil menggiring emosi pembaca ya?

    BalasHapus
  15. Menurut saya selain tokoh Ami, tokoh AKU juga hebat. AKU sangat peduli dan perhatian kepada orang lain. Terus Bu...saya tunggu episode berikutnya...(berseri kayak sinetron tetapi berbeda muatannya).

    BalasHapus
  16. Wah, terima kasih ya pujiannya. hidung saya makin mekar kayak jambu disigar loro! Saya memang bikin orang penasaran ya? Kok semua bilangnya gitu, malah ada yang minta saya kirim ke penerbit. Aduh......... nggak salah tuh?

    Ini memang novel mbak. Tiap bab ganti cerita, tapi nyambung dengna bab sebelumnya. Jadi kalo nggak urutan bacanya bakalan bingung.

    Apa kabar mbak? Mana tulisan liburannya lagi?

    BalasHapus
  17. Karena Bu Julie sudah berpengalaman dengan putranya sendiri... bagaimana gejolak emosi lelaki remaja, apa saja yang memicunya dan jadi kepeduliannya...

    BalasHapus
  18. Oh gitu ya? Walaupun yang saya kisahkan orang lain (ini kan fiksi), tapi memang saya kira-kira pantesnya seperti apa gitu. Mbak, kalo ada masukan saya juga mau dikasih tau. Ini adalah "sekolah saya mengarang".

    BalasHapus

Pita Pink