Powered By Blogger

Selasa, 03 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (X)

Seorang staff baru tiba-tiba meninggal di kantor suamiku. Pejabat senior pula, rekan sekerja pak Taufik. Beliau belum sempat punya rumah yang nyaman, bahkan kelurganyapun baru datang menyusul dan masih dalam tahap penyesuaian diri disini.

Semalam tahlilan dilangsungkan di aula kantor. Pak Taufik datang seorang diri tanpa anak-anaknya. Agaknya mereka mulai terbiasa ditinggal seorang diri di rumah. Bahkan aku tahu, sejak almarhum pak Rudi masuk rumah sakit dua bulan lalu pak Taufik sudah kerap berlama-lama meninggalkan anak-anaknya demi menemani bu Rudi merawat suaminya. Sebab suamiku bilang, mereka dulu memang teman satu kantor di Jakarta.

Kematian itu kembali mengingatkan aku akan Ami. Fantasiku bermain-main sendiri membayangkan kondisi Ami yang sungguh-sungguh samar bagi kami. Tak jelas sakit apa, di mana dan dalam perawatan siapa.

Selama ini yang kami tahu Ami sehat-sehat saja kecuali penyakit bawaannya yang memang terkontrol dengan baik dan sama sekali tak sempat menimbulkan masalah. Bahkan beberapa kali yang kudengar dibawa berobat justru anaknya yang tertua. "Penyakit semacam kami ini memang mereda sendiri di usia dewasa," jelas Ami waktu menceritakan kondisinya sendiri. "Namun di usia tua, bisa timbul kembali dan minta perhatian penuh seperti almarhumah nenekku," sambungnya.

Oh ya Allah Ami, apakah kau sedang didera penyakit lamamu seperti yang kau gambarkan itu? Aku mencoba menghitung umur Ami. Sesungguhnya belum terlalu tua. Baru sedikit di atas empat puluh tahun, karena dia sebaya dengan mbak Tining kakak tertuaku. Anak-anak merekapun sebaya. Endang dan Didit kemenakanku kedua dan ketiga seumuran dengan Rizqi dan Ridho. Gelisah aku membayangkan Ami sampai aku lupa bahwa selepas doa yang terakhir ibu-ibu diharapkan turun ke dapur menyiapkan hidangan untuk para pelayat.

"Bu Tri, yuk kita keluarkan makanan sekarang," ajak bu Budiman. Ibu-ibu sudah sibuk sebagian di dapur mengangsur-angsurkan piring berisi kue-mue untuk diletakkan di lantai mendekati para petakziah, sebagian lainnya menempatkan nasi dan lauk-pauknya untuk bersantap bersama di ruang makan di lantai bawah. Aku bergegas mencari sepatuku dan ikut bersama bu Budiman ke bawah. Mataku bersirobok dengan pak Taufik yang nampak dingin dan tak bergairah bersandar ke dinding di dekat pintu. Aku menebar senyum yang dibalasnya dengan hambar. Terbit iba hatiku padanya. Apakah dia memikirkan kondisi istrinya sendiri di tanah air, batinku.

Malam itu sembahyang tarawih kami laksanakan sekalian tahlilan di kantor, sekalipun biasanya kami hanya berjamaah di akhir pekan. Pak Hidayat seorang sesepuh masyarakat yang mengetuai ikatan masyarakat muslimin Indonesia memilih bacaan yang singkat-singkat karena diburu waktu. Belum lagi dia masih harus menyampaikan pencerahan pada kami.

Intinya pak Hidayat mengingatkan bahwa hidup dan mati manusia berada di tangan Allah. Begitu pula dengan perjodohan, katanya. Tak seorang pun tahu kapan akan tiba gilirannya seperti almarhum pak Rudi yang tiba-tiba terserang kanker pada usus besarnya begitu dia sampai di pos penempatannya di luar negeri. Allah tak kenal memilih. Siapa pun akan dipanggil-Nya jika itu memang kehendak-Nya. Dan setiap orang harus rela menjalaninya demi keimanannya kepada Sang Maha Pencipta, Khalik langit dan bumi.

Hatiku tergetar mendengarnya. Diriku seperti disengat. Seakan aku diingatkan kapan masanya aku akan diambil-Nya kembali. Atau apakah juga Allah akan segera mengambil Ami dari tangan anak-anak baik hati itu? Berdeburan riak di dadaku, memecah kuali kasih sayang yang kunamakan hati di balik bilik jantungku sana.

-ad-

Lebaran berlalu dengan ruang kosong di hatiku. Terus terang aku kehilangan Ami dan keluarganya, sekalipun ada staff baru keluarga Agus Darmawan yang masuk segera mengingat pak Rudiansyah yang baru tiba itu langsung sakit dan wafat pula. Konon menurut Erna istrinya, secepat kilat mereka harus mempersiapkan keberangkatan yang sedianya baru akan terjadi setelah Januari dengan tujuan ke perwakilan lain.

Di masa Hari Raya Idul Firi yang kebetulan berbarengan dengan Natal, pak Taufik justru mengajukan cuti menengok istrinya. Hatiku semakin gundah memikirkan Ami yang sudah setengah tahun sakit tak berketentuan nasibnya. Ibu-ibu mengirimkan buah tangan untuk Ami sebagai tanda kasih yang diterima keluarganya dengan setengah hati. "Aduh, kami jadi merepotkan ya? Ibu-ibu, kami hanya mohon doa untuk ibunya anak-anak," jawab Taufik ketika menerima pemberian kami. Aku sendiri secara khusus menitipkan sehelai kain dan selendang koleksi terbaruku yang kudapat dari tetamu dinas suamiku. Demi untuk menyenangkan Ami kuikhlaskan semuanya. Rejeki tak akan ke mana, batinku.

Sebetulnya seharusnya hatiku justru ceria. sebab lampu-lampu di pusat kota tempat berkumpulnya turis-turis dari segala penjuru dunia nyala benderang menyambut Natal. Belum lagi toko-toko berhias secantik mungkin memamerkan kemegahannya.

Di dekat rumahku saja, square kecil serupa alun-alun tempat orang berangin-angin, menyulap dirinya. Di senja hari gerobak-gerobak berhias nongkrong disitu menggelar dagangan, Kue-kue natal, mainan anak-anak bahkan segala kerajinan tangan yang serba cantik dan khas. Tapi tak ada yang bisa menghibur hatiku dan melupakan kerinduanku pada Ami. Sambil lewat di depannya air mataku sering merembes sendiri membayangkan anak-anak Ami yang sedang berkutat merawat ibu mereka di seberang benua sana.

-ad-

Aku bertandang ke tempat keluarga Baskara untuk menyampaikan salam Natal bersama keluargaku. Elisa menyambutku tetap sambil duduk di kursinya. "Totally bed rest," demikian kata suaminya menjelaskan. Wajahnya tampak pucat. Namun Elisa tetap sabar menerima keadaannya. "Do'akan aku bisa mempertahankan kehamilan ini ya Nik," pintanya sebelum kami berpamitan pindah rumah. Aku mencium keningnya dan memeluk tubuhnya dengan hangat. Harum bayi seperti menyebar di sana. Kami bertatapan sejenak sebelum kutebar senyum terakhirku untuknya.

Setelah peristiwa itu kudengar Elisa keguguran dan suaminya memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia sebab kebetulan sekolahnya telah selesai. Aku sempat menjenguknya dan menyemangatinya untuk tetap tegar. Tapi apalah dayaku manusia? Hari-hariku bersama Elisa sebelum kepulangannya hanya diisi kesedihan semata.

-ad-

"Bu Tri, kemarin saya ketemu istrinya pak Taufik lho," tiba-tiba Erna menghampiriku selagi aku dan dia bersama-sama menjaga kantin.

Aku nyaris melompat dari kursiku tak percaya. Ami telah kembali. Syukurku pada-Nya, kata hatiku.

"Bu Taufik? Bu Agus sudah kenal dari dulu?" tanyaku tak sabar.

"Belum, baru kemarin itu. Saya ketemu di kios mesin cuci dekat penginapan saya," jawab Erna seraya tersenyum.

"Orangnya ramah ya bu?" sambungnya lagi sambil mengelap setumpuk cucian piring yang harus dikeringkannya sebelum kami masukkan kembali ke ruang penyimpanannya di dapur.

Kuletakkan kalkulator yang tengah kupakai menghitung penghasilan kantin hari itu. Dengan rasa ingin tahu yang sangat kudesak Erna untuk menceritakan pertemuannya dengan perempuan yang bernama bu Taufik itu.

Kutarik Erna menjauh, kami berdiri di dalam area kamar kecil. "Sttt.., saya penasaran, bu Taufik yang mbak maksud orangnya seperti apa?" selidikku. "Kulitnya kuning, pendek seperti saya, rambutnya ikal?" berondongku segera.

Erna mengangguk sambil menambahkan, "rasanya ada tahi lalat di tengah-tengah alisnya deh, itu yang khas," jelas Erna. Bayangan Amipun segera melintas di mataku. Ya, itu Ami, pasti Ami.

"Dari mana bu Agus tahu bahwa dia bu Taufik?" selidikku lagi makin penasaran.

Erna menceritakan kisahnya. Konon sambil menunggu cucian berputar di mesin, dia duduk-duduk diam di dekat seorang "Filipino" atau "Singaporean" yang tak begitu jelas baginya. Masing-masing sibuk dengan bacaannya, karena Erna sedang menyelesaikan membaca buku petunjuk untuk orang asing yang baru memulai kehidupannya di negara ini. Hadiah selamat datang dari organisasi kami untuk setiap anggota baru.

"Perempuan itu tiba-tiba menegur saya setelah mengalihkan cuciannya ke mesin pengering," penuturan Erna lagi. "Dia langsung pakai Bahasa Sunda. Tentu saja saya kaget bukan main bu, di tengah-tengah Benua Eropa yang ramai ini ada orang asing menegur saya dengan bahasa daerah."

"Terus bu Agus bilang apa?" selidikku makin penasaran. Kuteliti setiap kamar kecil di dekatku. Aman, tak satu pun bertanda merah. Berarti kami memang cuma berdua. Sebab para karyawati baru saja mulai kembali mengerjakan tugas kantor mereka. Aman untukku.

"Saya jawab dengan Bahasa Indonesia karena saya nggak pinter Bahasa Sunda bu, saya orang Betawi," jawab Erna.

"Ya terus, bu Agus jawab apa, atau bu Agus tanya-tanya?" kataku makin penasaran. Ingin rasanya aku meninju wajah teman bicara baruku ini karena aku sudah tak sabar ingin mendengar soal kondisi Ami. Terlintas di mataku Ami jadi kurus kering dan layu dibabat penyakitnya yang aku sendiri belum tahu apa namanya.

"Hm, saya tanya kok orang Filipina atau Singapur bisa Bahasa Sunda, dan dia balik ketawa," jawab Erna menjelaskan. "Orangnya mirip Cina 'kan ya bu? Sipit? Kulitnya kuning?" lanjut Erna kali ini menanyaiku.

Aku mengangguk pasti. "Ya, itu dia. Betul itu bu Taufik. Bagaimana keadaannya? Kurus, pucat?"

Erna menggelengkan kepalanya. lalu diceritakan Erna, dia memperkenalkan diri sebagai istri seorang pegawai negeri sipil yang ditugaskan di kantor yang sama dengan suami Erna. Dia menyebutkan nama suaminya.

Segera ingatan Erna melaju ke pembicaraan kami sewaktu menengoknya beramai-ramai dulu. Memang kami sampaikan kepadanya kami mewakili Ibu Taufik, Ketua Bidang Sosial Budaya yang sedang sakit di Indonesia.

Menurut pengamatan Erna dia baik-baik saja, meski agak tertutup. Dia bilang dia dalam kondisi sakit namun sudah mulai membaik. Karenanya dia tidak diizinkan dokter keluar rumah. Tapi untuk urusan rumah tangga semisal mencuci ke kios cucian, dia harus melakukannya sendiri sebab mereka tak punya pembantu, "Anak-anak dan suami saya pulang sore, bahkan ayahnya lebih sering pulang malam, Maklum pekerjaan di kantor suami kita sangat sibuk," penuturannya pada Erna. Anak-anak itu ditugasi belanja, sehingga Ami hanya tinggal memasaknya di rumah.

Sebelum berpisah, Ami bilang kalau ingin menemuinya lagi untuk tanya ini-itu seputar kebutuhan pendatang baru, Erna disarankan mencuci setiap Selasa atau Jum'at pagi ketika Ami juga keluar mencuci. Tapi Ami tak pernah melarang Erna untuk menceritakan pertemuan mereka kepada kami. Entah apa sebabnya. Hanya akulah yang kemudian memohon pada Erna untuk tidak membicarakannya kepada siapapun, bahkan aku minta jasanya untuk terus menemui Ami di waktu-waktu yang mereka sepakati guna mengorek lebih dalam keberadaan dan kondisi Ami yang sesungguhnya.

Senyum itu dikulum lembut. Erna menurut padaku, dan berjanji mengabariku lagi segera setelah dia dengar cerita selanjutnya dari mulut Ami sendiri. Tuhan telah memberikan jalan kepada kami untuk menolong Ami. Aku ikut tersenyum dan terus tersenyum seharian sampai matahari kembali di kaki langit menenggelamkan menara tinggi di sekitar pusat kota.

22 komentar:

  1. Absen bun! Tp yg ke 9 blm baca.. segera dicari!!

    BalasHapus
  2. Absen bun! Tp yg ke 9 blm baca.. segera dicari!!

    BalasHapus
  3. Hai, ngantuk ya? Tidur dulu sana. Absen kok sampe dua kali. Ini bukan di kilang. Tak de upahmu kalaupun absensi disii dua kali.

    Terima kasih ya udah dateng ke tempat ini terus. Baik deh mbak Lina.......

    BalasHapus
  4. Hehe, skrg lina lg kerja bun! Td gprs nya ga bgus jd ke kirim 2x... *kutunggu sampe selesai pokoknya..

    BalasHapus
  5. bun panjang amat critanya ga sabar ni nunggu the end-nya :P

    BalasHapus
  6. Yuk, ulurkan tanganmu, kita bergandengna biar nggak jatuh.

    BalasHapus
  7. It's a never ending story bu!!! Pokoknya aku mau buat teh Ratih bingung dan penasaran aja dulu. Jangan dibikin gampang ditebak, biar teh Ratih geregetan gitu......

    BalasHapus
  8. mbak, orang betawi rata2 bisa bahasa sunda :)

    BalasHapus
  9. Pasif. Ngerti tapi ngucapinnya nggak bener. Jadi kalo udah ngadepin orang Priangan asli biasanya milih pake Bahasa Indonesia. Pembokatku juga Betawi pinggiran (orang Bogor ras Betawi). Dia kalo ngomong sama aku pake Bahasa Indonesia. Aku coba maksa dia ngomong Bahasa Sunda, halah bener, wagu banget. Sampe pada ketawa.

    BalasHapus
  10. Mama,,,,,,,,,,, mana jawaban atas pertanyaan gw soal si mister ius itu? Apanya ya?

    BalasHapus
  11. waaaah itu sih.. rahasia doooongggg....

    BalasHapus
  12. lagi-lagi saya simpan semua dulu, ya, tante.. nanti baca di rumah :)

    BalasHapus
  13. Silahkan mbak. Maaf ya jelek wong sing nulis ibu rumah tangga.

    BalasHapus
  14. "Ingin rasanya aku meninju wajah teman bicara baruku ini karena aku sudah tak sabar ingin mendengar soal kondisi Ami."

    sama nih saya juga ingin meninju sutradaranya.... penasaran pengen tau kelanjutannya. sabaaaarr....sabaaarrr

    BalasHapus
  15. jadi sebenernya si Ami itu ngga ada di Indonesia ... tapi tetep di situ? di negara mana budhe? lupa ...

    BalasHapus
  16. Aduh Wat, sutradaranya bukan aku kok. Cuma pikiranku itu. Lha gimana mau bisa ninju pikiranku, hehehe......?

    Besok insya Allah off seminggu ya? Ada kak Didot di rumahku soalnya pak Dubes dines seminggu disini. Jadi biasalah I'm on duty.

    BalasHapus
  17. Di negara Antah Berantah yang ada di dalam otaknya Julie Andra, gitu lho nak.

    BalasHapus
  18. oh mau ada bu sugeng ya? diem2 aja maen internetnya, atau bu sugeng ajak aja bu liat2. ok deh salam aja buat beliau ya.

    BalasHapus
  19. Yo'i. Beliau sampe sini tiga jam lagi. Tapi malem ini terus langsung cocktail ke Residence Inggris di seberang rumahku.

    BalasHapus
  20. Ami sudah datang ya...............Allhamdulilah.

    BalasHapus
  21. Wa syukurillah. Saya juga ikut seneng kok.

    BalasHapus

Pita Pink