Powered By Blogger

Sabtu, 14 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (XIX)

Aku jarang sekali menerima E-mail dari kedua temanku itu. Tapi walaupun begitu, hati kami masih saling terpaut satu sama lain. Mereka sering hadir di dalam mimpiku, atau selintas berkelebat di dalam bayanganku. Elis tentu sudah hamil tua sekarang.

Kuketik sebuah E-mail untuk Ami sekedar menanyakan keadaan Elis. Barangkali saja antara mereka masih sering terjadi kontak bahkan saling mengunjungi. Kutahu kebetulan rumah Ami juga di daerah Jakarta Selatan yang sejalur dengan Depok.

Jawaban itu tiba tiga hari kemudian, isinya lagi-lagi mengejutkanku. Elisabeth dalam keadaan sakit. Tekanan darahnya tinggi dan kakinya bengkak-bengkak. Sudah sebelas hari dia dirawat di Rumah Sakit sambil menunggu kelahiran bayinya. Ami sudah dua kali menengok dengan suaminya. Juga anak-anak mereka bergantian datang di sore hari. 

"Kondisinya memprihatinkan sekali Nik. Dia sangat lemah, tubuhnya bengkak air dan sembab pada matanya. Tapi orang tuanya sudah datang dari Surabaya. Begitu juga mertuanya dari Magelang. Mas Baskara terpaksa cuti mengajar. Dia sama sekali tak pernah beranjak dari sisi pembaringan Elis. Aku sendiri merindukan suamiku bisa berbuat seperti itu padaku," tulisnya.

Membaca kalimat demi kalimat Ami, ingin rasanya aku berlari mengunjungi kamar Rumah Sakit Elis dan memberikan semua perhatian yang kupunya. Aku merindukan Elis yang menyenangkan.

Kalimat Ami selanjutnya amat menyentak syaraf resahku, "Menurut dokter ini kasus keracunan kehamilan. ginjalnya tak berfungsi baik. Seharusnya jika terdeteksi dengan baik dia tidak akan mengalami hal seburuk ini. Kemarin dulu sore waktu aku menengoknya, kesadarannya sudah melemah. Tolong do'akan dia dalam sembahyangmu ya Nik," pinta Ami. Ada kekhawatiran yang sangat disana berbaur dengan perhatian yang besar sebagai hikmah persahabatannya dengan Elis.

Malam itu aku duduk merenung, membaca yasin dan dzikri-dzikir berulang kali untuk Elis. Duh Tuhan, batinku, mengapa selalu saja Elisabeth mengalami problema dengan kehamilannya? Mas Tri juga turut mendo'akan Elis dalam shalatnya.

Empat hari sesudah itu aku menerima E-mail lagi dari Ami dengan berita yang sangat menyedihkan. Sophia Elisabeth Handayani menyerah kalah di bawah serangan keracunan kehamilan itu. Dia "tertidur" dan tak pernah terbangun lagi segera setelah dokter memutuskan untuk melahirkan bayinya dengan caesar. Seorang gadis cilik yang cantik berkulit putih bersih mirip dirinya ditanggalkan dari rahimnya dan ditinggalkan ke dalam tangan suaminya. Air mataku tumpah berhamburan tak berkesudahan. Kuguncang-kuncang rambutku sendiri sambil meratapi nasib Elis. Tak kusangka, aku tak pernah bisa berjumpa lagi bahkan tak juga diberi kesempatan berpamitan dengan sahabatku di akhir hayatnya.

-ad-

Kuberanikan diri untuk menelepon Baskara di rumahnya dengan berbekal nomor yang diberikan Ami lewat E-mail. Dia sendiri yang menerimanya dengan suara parau dan berat.

"Terima kasih bu Tri. Saya juga tidak menduga dia akan pergi secepat ini. Kami telah membawanya ke rumah sakit yang baik. Bapak mertua saya memindahkannya ke Rumah Bersalin Harapan Kita dua hari menjelang kepergiannya. Tapi semua ini sudah terlalu serius, dan terlambat. Saya mohon doanya untuk istri saya dan anak kami Rafaela," ucapnya sedih.

Ceritanya anak mereka terlahir normal dan sehat. Berat badannya mencapai dua kilo sembilan ons saja, dengan panjang limapuluh senti. Dia akan merawatnya sendiri dibantu orang tuanya, "saya yakin akan mampu merawat dan mengasuhnya sebaik Elis melakukannya," janji Baskara. Air mataku pun meleleh lagi.

-ad-

Aku membongkar kembali semua kenang-kenanganku dengan Elisabeth. Ada CD yang kubeli bersamanya, ada buku-buku yang juga kami dapatkan bersama. Bahkan album foto pemberiannya sebagai kenang-kenangan. Dia menaruh tidak saja foto kami berdua, namun entah mengapa, ada terselip fotonya bersama keluarga Ami. Di salah satu foto itu, bahkan hanya ada foto Ami dengan Taufik berdua.

Di foto itu Taufik tersenyum manis sekali, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Lis, ini apa maksudnya kamu masukkan di sini?" tanyaku waktu itu.

Elis tersenyum jenaka, "hey, buat kenang-kenangan dong, bahwa yang memperkenalkan kamu lebih akrab dengan pak dan bu Taufik adalah aku, akulah yang mengambil foto ini waktu kami jalan-jalan liburan dulu. Jadi kuharap selamanya kau tidak akan lupa kepada persahabatan kalian dan juga tak lupa padaku," jawabnya sambil terus saja tersenyum.

"Aku tahu, dulu kamu juga sudah kenal dengan sendirinya dengan bu Taufik, 'kan otomatis toch karena pekerjaan suamimu? Tapi aku tahu kau sungkan menghadapinya kerena dia seniormu. Suaminya lain bagian pula dengan suamimu. Karena itu aku ingin membuat kalian akrab satu sama lain, begitu........." tukasnya menjelaskan. "Kau bisa banyak menimba ilmu padanya, sebab dia sangat baik. Sebaliknya dia jadi punya teman curhat di lingkungannya karena dia tak pernah keluar rumah dan jarang ngobrol dengan suaminya. Sudah kukatakan 'kan bahwa komunikasi mereka suami-istri buntu?"

Sekarang kuingat persis pembicaraan itu yang dilakukannya di atas sofa ini suatu hari sepulangnya dia dari gereja. Album ini dibelinya di toko di dekat gereja yang memang menjual banyak barang bagus-bagus sebagus album bersampul putih dengan hiasan bunga-bunga biru campur perak di tanganku ini.

"Sini lihat," katanya waktu itu, mengajak aku mendekat mengikuti arah telunjuknya. "Ini aku berhasil memesrakan mereka. Pak Taufik tersenyum terus, manis 'kan selagi istrinya mesra menggandeng lengannya?"

Aku memperhatikan foto itu. Nampak pasangan Taufik dan Ami begitu bahagia.

"Tapi kau tahu apa komentar Ami melihat fotonya sendiri?"

Aku menggelengkan kepala dan mengangkat bahu, "nggak tahu."

"Eh, Elis, kamu salah, dia tersenyum tidak untukku lho. Dia tersenyum untuk seseorang disana yang dicintainya......... Gitu katanya," Elis berkata ringan.

"Maksudnya apa Lis?" tanyaku tak mengerti.

Kini giliran Elis yang mengangkat bahunya dan menjawab jenaka, "nggak jelas ya, mungkin dia mencemburuiku......." lalu pecah lah gelak kami membahana bahkan tersisa dalam rekaman di ruang ingatanku hingga sekarang.

"Ibu melamunkan tante Elis?" sapa Buyung tiba-tiba. Dia telah kuberitahu kematian Elis.

"Foto-foto itu mengingatkan ibu pada tante Elis?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan. Gambar itu terasa buram oleh air yang menggenang di mataku.

"Lebih baik ibu berdo'a buat dia, dia orang baik 'kan bu? Aku juga sudah mendo'akannya tadi malam. Moga-moga dibukakan pintu surga ya bu?"

Aku mengelus rambutnya lalu mengangguk dan tersenyum. Kupasang sandalku, dan kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Air sembahyang ada disana untuk menyucikan diriku yang akan mendo'akan kebaikan untuk Elisabeth sahabatku.

(BERSAMBUNG)

15 komentar:

  1. Hikz... akhirnya perjuangan eliz berakhir...

    BalasHapus
  2. Tapi ceritanya masih panjang nduk. Penasaran ora?

    BalasHapus
  3. Tetap jadi penggemar setia bun..

    BalasHapus
  4. Tengkyu. Nek bosen boleh mandeg kok. Hari ini kowe kemana? Jangan lupa bawa payung, musim hujan 'kan?

    BalasHapus
  5. Yah, namanya juga disetting biar seru teh Ratih...........

    BalasHapus
  6. huk huk huk yg ini asli mengharu birukan hati..............:(

    BalasHapus
  7. anaknya Elis selamat ya? namanya bagus Rafaela...

    BalasHapus
  8. Oh kasihan...... berarti ini menguras emosi pembaca, he?!

    BalasHapus
  9. Oh kasihan, berarti yang ini berhasil menguras emosi pembaca dong?

    BalasHapus
  10. Diceritakan begitu, biar bu Lely nangis.......
    Rafaela terlalu gaya ya? Enaknya diganti apa nih?

    BalasHapus
  11. Sediiih :(.
    Oiya, soal Bu Ami, saya jadi ingat para istri beberapa teman kami yang jadi ibu rumah tangga. Mereka (tentu nggak semuanya) kadang mengeluh agak kurang kegiatan + teman, nguplek di rumah saja. Jarang saling berkunjung kecuali arisan/pengajian.

    BalasHapus
  12. Apalagi tugas kantor kami sering berpindah, jadi mungkin ada yang baru mulai akrab eh harus berpisah (nggak banyak yang ada internet buat jaga silaturahmi). Tetangga jarang yg seusia. Sampai pernah kemarin ada yang gelap mata mengira suaminya selingkuh...

    BalasHapus
  13. Apalagi di luar negeri jeng. Pembantu kadang-kadang kita nggak punya, anak harus diantar-jemput ke sekolah sendiri (untuk yang masih usia SD) sesuai peraturan sekolah. Kepengin ikurt kursus mahal. Wah, banyak kendalanya lah. Terutama waktu negara kita di awal krismon sebelas tahun yang lalu, saya juga merasakan hal yang sama.

    Hanya bisa bilang, sabar, ini 'kan dialami oleh banyak orang.

    BalasHapus
  14. Saya rasa dimana-mana pegawai negeri sipil pengalamannya sama. Cuma daerah tugasnya aja yang berbeda.

    ami ini menggambarkan teman satu korps dengan kami. Walau bukan kisah nyata senyata-nyatanya. Di korps kami perpindahan terasa sangat menyulitkan. Terutama anak-anak harus bisa menyesuaikan diri. Makany sebetulnya anak-anak diplomat itu banyak yang udah bosan ke luar negeri dan memilih jadi penduduk di dalam negeri aja setelah dewasanya. Contohnya antara lain Ines Sukandar, Ivan Gunawan, Kania Sutisnawinata dan masih sangat banyak lainnya termasuk Nirina Zubir Amin.

    BalasHapus

Pita Pink