Powered By Blogger

Senin, 23 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (XXVI)

Taksi pak Binsar tetangga lima rumah dariku kami sewa ke rumah Ami. Anak-anak mereka semua menunjukkan wajah cerah. "Aku mau masuk gudang ya bu, ada buku dan mainan yang mau aku ambil," pinta si bungsu Ridho. Rizqi juga tak mau kalah, katanya dia akan membawa pindah perlengkapan sekolahnya sekalian. Katanya, selama ini dia hanya membawa barang sedikit ke rumah uwaknya. Maklum mereka berdua harus tidur di satu kamar sehingga lemarinya sangat terbatas. Ami mendengarkan dengan sabar dan mengabulkan keinginan anak-anaknya,

"Tapi ibu mau pergi ke rumah mak Azizah ya? Ibu mau belajar ngaji dan shalat apa tuh yang terakhir dulu diajarkan mak Zizah. Biar nggak lupa," kata Ami sambil tersenyum lega dan memincingkan sebelah matanya padaku. Aku mengangguk mengerti.

"Nanti siang, beli makan di warung pak Karno. Ibu minta balado kentang, gulai ati-ampela, sayur kacang panjang dan tempe goreng. Kalian boleh pilih lainnya, sekalian tanya pak supir dan tante Tri mau apa," pesan Ami.

Kedua anaknya mengangguk dan menjawab serempak. Lalu mereka menanyai kami masing-masing.

Di perjalanan yang hanya setengah jam itu kami mengobrol santai. Tapi tak sepatahpun Ami melanjutkan curahan hatinya semalam.

Kami lalu turun di muka pintu gerbang rumah Ami. Rizqi menekan bel pada pintu, Seorang lelaki paruh baya tampak mengintai dari gordijn jendela ruang tamu sebelum kemudian keluar membukakan pintu menyambut kami.

"Itu penjaga rumahku. Lik Dullah dengan istrinya, pegawai pabrik garment di blok Q," kata Ami menjelaskan. "Lumayan Nik, daripada dikosongkan, lebih baik mereka numpang tinggal padaku. Biasanya lik Dullah masuk pagi, bergantian dengan istri dan adiknya, tapi entah kenapa gini hari dia ada di rumah."

Lelaki yang dinamakan lik Dullah dan istrinya yang belakangan kuketahui bernama So'im bergegas menyambut kami dengan mencium tangan Ami dan menepuk-nepuk bahu anak-anak itu.

"Nggak ke pabrik lik?" tanya Ami.

"Kebetulan jadwal giliran dirubah bu, sekarang Atun yang kerja, saya dan mbok-e ada di rumah, kena giliran siang dan malam," jawab lik Dullah sambil mempersilahkan masuk.

Rumah itu masih tetap bersih dan terawat. Hanya saja perca-perca guntingan kain nampak di atas meja makan keluarga mereka seperti ada orang sedang bekerja.

"Aduh maaf bu, ini saya bawa sedikit lemburan," kata So'im malu-malu seraya beranjak merapikannya.

"Nggak 'pa-'pa Im, toch kamu nggak tahu ibu mau datang," jawab Ami kalem. Anak-anaknya sudah menghambur ke dalam dan memasuki kamar mereka masing-masing.

Kami tak berlama-lama di rumah, karena Ami segera ingin menemui guru ngajinya di perkampungan belakang tempat tinggalnya.

"Saya panggilkan mak Azizah kesini bu?" lik Dullah menawarkan diri.

Ami menggeleng dan melenggang ke luar lalu menyeretku memasuki gang di perkampungan yang sarat anak-anak kecil berbaur dengan kucing, anjing liar, ayam serta segala jenis binatang termasuk lalat dan tentu saja bau busuk sampah yang dikerumuninya. Panas pagi Jakarta menyentak gairahku.

-ad-

Rumah itu berada di lembah, mendekati bantaran kali. Hanya petak batako kusam tanpa warna. Tapi ada cahaya dari jendela lebar yang sengaja dibuat dan dibuka pemiliknya menghadap ke timur.

"Assalamu'alaikum bu hajah," seru Ami dari luar.

Seorang wanita kira-kira sebaya dirinya muncul dari dalam berabaya hitam. "Wa'alaikum salam, masya Allah, bu Taufik? Lha kok ada di sini? Kok ke sini sendiri?" Senyumannya lebar, tapi tetap menampakkkan keterkejutan dirinya.

"Iya bu hajah, mau jemput si bungsu biar ikut pindah. Perkenalkan dulu, ini sahabat saya bu Triatman," kata Ami sambil memperkenalkanku.

Kusambut uluran tangan guru ngaji Ami dengan senang hati. Diapun mempersilahkan kami masuk, duduk di kursinya yang sudah pudar kehilangan warna serta tenggelam ke tanah ketika kami duduki. "Aduh maaf ibu-ibu, tempatnya nggak pantes nih," katanya malu-malu.

"Sudah jangan dipikirin bu hajah, saya ke sini memang sangat perlu mau bicara dengan bu hajah, nih,' jawab Ami.

Tak lama diapun mulai dengan kisahnya, selagi guru ngaji itu mendengarkan dengan sabar dan saksama.

"Jadi saya sekarang mesti gimana bu hajah? Ada orang yang bisa bantu saya menguatkan iman dengan do'a-do'a nggak ya?" tanya Ami akhirnya sampai ke pokok persoalan.

Ibu Azizah menyebutkan nama seseorang di pelosok Sukabumi sana sebagai orang yang dimaksud Ami. "Paman saya sendiri sih, sudah banyak kok yang baikan lagi setelah dimandikan dengan jampi-jampi dan dibekelin do'a serta dzikir dari paman saya," terang bu Azizah. "Ini bukan musrik meminta-minta sama jin, cuma paman saya mengajarkan do'a sambil mendo'akan juga. Nah, do'anya itu diucapkan di air kembang, air kembangnya terus dipake mandi deh," sambungnya lagi menjelaskan secara rinci.

Ami tampak terdiam merenungi. Urat-urat di sekitar dahinya berkerut menandakan dia berpikir keras.

"Ibu inget pak Saman yang supir kopaja 'kan? Noh yang di RT 4? Lagi dia baru diberhentiin dari kerjanya, dia minta tolong sama paman saya. Dimandiin dan diajarin do''a gitu, eh, nggak lama dia dapet kerja jadi supir Kopaja ini. Pan dulunya mah tukang anter jemput anak sekolah," cerita mak Azizah untuk memberi contoh dan meyakinkan Ami.

"Kalu ibu setuju, saya sedia anter ke rumahnya, kita naik bus juga bisa," celoteh bu Azizah lagi pada akhirnya.

Ami menyatakan kesanggupan dan tekad bulatnya. Tapi aku mencegahnya dengan hati-hati, "mbak, kurasa lebih baik pak haji itu yang diundang ke sini, rasanya terlalu riskan kalau mbak yang harus mendatanginya," pintaku.

Ami memandangku dengan tegas, ternyata dia tetap pada keinginannya, "nggak, aku harus mencobanya Nik. Barangkali kita bisa menyewa taksi pak Binsar ini daripada naik bus, iya toch? Aku ingin yang terbaik untuk suamiku Nik, untuk keselamatan dirinya dunia akhirat," jawab Ami sambil menggigit bibirnya.

Aku hanya bisa mengangkat bahu. "Ya sudahlah kalau memang mbak maunya begitu, asal mbak yakin saja akan keberhasilannya," jawabku pada akhirnya.

Kemudian mereka berunding soal hari keberangkatan setelah mak Azizah lebih dulu menelepon saudaranya itu lewat ponsel Ami. Besok pagi kami diputuskan akan kesana.

Kami minta diri. Tinggal tugasku memesankan taksi pak Binsar lagi seharian. Untunglah beliau bersedia,mengantarkan besok pagi. Aku akan menjemput Ami di rumah keluarga Pandunagara pagi-pagi sekali.

Semalaman aku nyaris tak tidur memikirkan apa yang akan kusaksikan besok di rumah seorang haji di Sukabumi. Antara percaya dan tidak, aku akan menenami dan mendampingi sahabatku ke dukun. Ah, tak salahkah jika aku mengistilahkan haji itu sebagai dukun?

Mas Triatman menangkap gelisahku, "ibu kenapa sih melamun terus? Bubur ayam cuma diaduk-aduk tak habis-habis?" pancingnya.

Aku menunduk menghindari tatapannya, "hm nggak, ibu minta ijin ya? Bu Taufik minta ditemani ke tempat kerabat guru ngajinya di Sukabumi untuk belajar ngaji seharian," kataku ragu-ragu.

"Di mana? Di ustadnya penyanyi yang diribut-ributkan TV itu?" selidik suamiku sambil menyuap buburnya.

"Hm, bukan sih, di rumah ustad tua pemilik pesantren, gurunya ustadzah bu Taufik," jawabku apa adanya.

"Ya sudah, silahkan, asal hati-hati ya. Naik apa?" tanya suamiku lagi.

Aku menunjuk rumah pak Binsar, "diantar pak Binsar lagi, aku janji cepat pulang kok."

Suamiku diam saja. Diam dalam arti yang dalam, mungkinkah dia kebingungan sendiri akan kegiatan kami yang di luar kebiasaan ini? Aku pun turut terdiam, merenungi semua gerak langkah Ami sahabatku sayang. Semoga Allah menuntunnya mencapai kebahagiaan.

(BERSAMBUNG)



17 komentar:

  1. Novel naon? Halah! Bade digaleuh ku kang Arul, mangga we nyanggakeun.

    Heuheuheu.......

    BalasHapus
  2. Mggu ini lina krja malem bun! Jadi skrg posisi di pabrik... di antara mesin2 yg bising dan dingin ac...

    BalasHapus
  3. Mandi kembang Bun ... ?? wahhhh...Ibu Ami apa sudah yakin dengan cara itu ?

    BalasHapus
  4. hahaha.. bisaan aja si mbak kasih contoh budaya abal2 orang kite ye mbak.. suka ngerekomen yg enggak2 kek si mak azizah! kemana aja gue jalan, (including di msia sini!) suka direkomen gitu deh. brobat ke sini, ke situ, baca ini kalo mo punya anak, ke dukun itu, minum air ini, air itu, makan telor itik.. macem2. samaan gitu indo ma malay persisssss

    BalasHapus
  5. Ya, itu kenyataan yang ada. Malaysian, Singaporean, even Brunei itu satu darah sebetulnya sih dengan kita. Makanya kebiasaannya sama, adatnya aja persis. Aku tuh paling geram kalo ada orang meributkan Malaysian dan Singaporean ngaku-ngaku kesenian kita sebagai kesenian mereka, terus orang kitanya jadi marah.

    Gimana nggak sama,. lha nenek moyangnya sebagian adalah orang Indoensia yang pergi berlayar mau naik haji dari pelabuhan-pelabuhan sepanjang semenanjung Malaya. Terus nggak balik lagi ke Indoensia entah karena kehabisan bekal untuk beli ticket kapal pulang, entah sengaja menclok dulu mau dagang supaya duitnya bisa jadi modal di kampung halaman (kayak TKI sekarang).

    Foto-foto dokumentasinya bisa dilihat di Museum Taman Warisan Melayu, Saingapura, yang letaknya di Kampung Gelam dekat dengan Masjid Sultan yang terkenal itu.

    Sebetulnya, mau digamain lagi kita udah ditakdirkan jadi saudara dengan mereka?

    BalasHapus
  6. KayAknya mau nggak mau wajiB ngikutin deh. Lha tiap pagi-siang-sore waktu jamannya aku masih di Singapura (apalagi di Indonesia tentunya), acara TV infotaintement melulu.

    Gimana nggak ngerti jadinya? Kepaksa bu!!!

    Bapak-bapak kayak dia nih kan kalo siang istirahat makan. Rasanya pas jam makan kalo ybs makannya sambil ngadepin TV adanya infotaintment sama acaranya si Eko-Ulfa itu ya? Aduh, apa sih nama acaranya, "Kocok-Kocok" ya?

    Aku dulu kepaksa nonton waktu bolak-balik aja masuk RS. Di rumah juga dapetnya kasur, nggak bisa ngapa-ngapain, ya nonton TV. Nemunya di Singapura cuma RCTI sama SCTV. Padahal temen-temen yang di East Coast pada bisa dapet TPI sama Metro apa segala.......

    TV lokal cuma satu si Suria yang bikin boring itu. TV Malaysia better, tapi gitu-gitu juga. Mesti pasang kuping baik-baiuk buat ngertiinnya.

    BalasHapus
  7. Penasaran betul sama apa yang akan terjadi di tempat 'dukun' itu... Bu Nonik bertindak betul dengan mengingatkan sahabatnya... tapi nggak sampai melarang banget juga sih ya.

    BalasHapus
  8. Ya, namanya juga cerita ya jeng. Dan menurut pengarangnya, dia kepengin ceritanya rada rame. haduh, jadi begitulah karakter Nonik dibuat mengikuti karakter Ami yang unik itu.............

    Terima kasih ya jeng duah mampir baca-baca di tempat ini!

    BalasHapus
  9. kalo gak salah banyak juga artis2 yang datang kesana ya bu...
    hehehe... sok nyanyahoanan, maklum sering liat gosip di tv nih.

    BalasHapus

Pita Pink