Powered By Blogger

Kamis, 05 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (XIII)

Hari-hari tanpa Ami yang menjemukan dulu kini sudah berakhir. Dia kembali ke tengah-tengah pergaulan kami, bahkan tetap dengan keceriaannya yang sama. Hanya kini Ami semakin jarang bepergian keluar rumah bersama-sama. Aku sendiri juga jarang menemuinya seperti dulu. Aku takut Taufik kurang berkenan. Meskipun demikian kami tidak putus hubungan.

Hanya E-mail yang jadi sarana komunikasi kami. Ami bisa mencurahkan apa saja yang ada di hatinya padaku melalui surat elektronik itu tanpa diketahui keluarganya.

Dalam salah satu E-mailnya Ami bercerita bahwa penyakitnya kambuh kembali. Dia tak bisa keluar rumah sebab kakinya tak bisa dibawa melangkah. "Kayaknya sakitku yang dulu kambuh lagi deh, Nik. Aku nggak punya daya untuk meregangkan kakiku, apalagi untuk melangkah. Akankah aku jadi paralized? Duh, do'akan aku ya Nik. Aku nggak mau menyusahkan mas Taufik dan anak-anak lagi. Kasihan mereka, mereka sudah cukup dibuat susah," tulisnya. Aku terpaku membacanya. Ami tak mampu berjalan? Apa reaksi suaminya kali ini? Apakah suami dan anak-anaknya tak menyadari keadaannya sehingga dia perlu mengeluhkannya lewat E-mail?

Kubalas E-mailnya dengan sebuah pertanyaan yang sesungguhnya menusuk pikiran dan jiwa seseorang yang sehat, "sakit apa mbak? Pak Taufik nggak tau ya? Kenapa nggak terus terang aja sih mbak?"

Tiga hari aku menunggu balasannya, sampai tiba sebuah amplop tertutup pada mail boxku yang jarang-jarang kugunakan untuk kirim-mengirim kabar. Dan aku membacanya dengan teliti walaupun rasanya tak sabar lagi mengetahui isinya.

"Dear Nonik, salam, maaf ya Nik aku baru bisa jalan ke depan komputer dan buka E-mailmu. Aduh, selama tiga hari aku di kasur, ternyata banyak lho mail numpuk di inboxku," begitu prolognya.

"Aku nggak ngerti apa nama sakitku. Dari dulu sudah ada dan setia menengokku setiap bulan. Penyakit wanita NIk, seperti yang aku pernah ceritakan padamu juga. Dulu setiap bulan aku selalu menderita begini, sehingga aku jadi beban untuk tunanganku. Dia harus mengantar-jemput aku ke kelasku. Sebab setiap datang bulan, aku akan merasakan cramp yang luar biasa hebatnya. Seluruh bagian kaki kananku mulai dari pangkal paha hingga ke ujung jari menolak untuk diajak bergerak. Dia telah menyiksa tidak saja diriku, melainkan suamiku juga. Dari duluuuu........ Nik. Do'akan aku kuat menanggungnya ya Nik. Sakit itu kini merambah sampai ke paru-paru dan ujung-ujung jari tanganku juga. Tobat Nik, duh sakitnya minta ampun!" keluh Ami. Terbayang di mataku seorang perempuan datang bulan dengan muka pucat yang membungkuk karena kesakitan. Memang Allahlah yang menghendakinya karena Allah jugalah yang menciptakan penyakitnya. Tapi tak urung aku keberatan. Aku kasihan padanya dan serasa ikut merasakan penderitaan itu. Lalu aku ikut menyeringai sendiri.

Sekali lagi kubalas E-mail Ami sambil menyatakan keinginanku untuk datang menjenguk. Dia mengijinkan dengan syarat aku tidak boleh ribut menceritakan sakitnya kepada siapapun termasuk istri pimpinan suami kami. "Tolong jangan bilang siapa-siapa supaya aku tidak harus terima tamu banyak-banyak," pesannya.

Pikiranku semakin kacau membuat analisa dan perkiraan sendiri. Apakah kiranya Ami betul-betul sakit parah ataukah hanya ekspresi dari jiwanya yang tertekan? Dengan tak sabar aku memburu rumahnya selepas mengantarkan Buyung ke sekolah. Hardi kutitipkan begitu saja ke tangan Nia. "Ibu mau nengok masyarakat yang sakit ya Ni," pesanku sedikit berbohong agar Nia yang juga polos tak keceplosan bicara kalau-kalau ada orang mencariku nanti.

Sekeranjang pear yang justru mulai tua dan gembur kesukaan Ami kubawa sebagai buah tangan. Dia menerimanya dengan senang di muka pintu rumahnya setelah berjuang beringsut dan berhasil turun mempersilahkanku masuk. "Aduh, maaf ya Nik, kamu pasti kelamaan nunggu di luar. Silahkan masuk," pintanya sambil menerima pelukanku. Wajahnya kelihatan menyeringai kesakitan.

Aku mengikutinya ke ruang keluarga dimana dia merebahkan dirinya di love seat. "Ma'af Nik, kakiku mesti berselonjor begini, baru enakan," katanya lagi sambil lagi-lagi menyeringai. Belum-belum sudah iba aku melihatnya. "Sakit apa sih mbak?" tanyaku semakin penasaran.
Di hadapan kami meja itu kosong nyaris tanpa apa-apa dan nampak bagai lama tak disentuh. Hanya remote control TV yang berserakan dan majalah-majalah anak-anak tertumpuk tak teratur di bawahnya, kelihatan sangat jelas dari balik kaca.

"Sebetulnya penyakit perempuan. Sumbilangeun, kalau kata orang di kampung nenek mas Taufik sih. Penyakit menstruasi yang nama ilmiahnya dismenorhoea" ia menjelaskan dengan baik.

"Kalu dulu sih nggak pake sakit di paru-paru. Tapi sekarang, masya Allah, untuk menarik nafaspun sakit. Bahkan sekarang, tanganku nggak bisa ngangkat apa-apa," dia nampak mencoba memosisikan tubuhnya di kursi itu.

Aku mencoba-coba membandingkannya dengan pengalamanku sendiri. Rasanya, diriku juga sering mengalami sakit menstruasi. Tapi, betul juga dia. Rasanya tak sampai demikian menyiksa. "Sudah ke dokter mbak?"

Ami menggelengkan kepalanya. "Belum, mana mungkin aku jalan ke dokter," jawabnya.

"Kok jalan sih, 'kan ada pak Taufik, minta diantar mobil 'kan bisa mbak," tanyaku lagi.

"Hm, dokternya cuma di situ, setelah jembatan yang dekat halte bus itu. Jadi memang harusnya jalan kaki," jawabnya lagi sambil memegangi dadanya. Nampak wajahnya pucat.

"Tapi 'kan mbak nggak bisa jalan jauh," jawabku sambil membayangkan lokasi yang disebutkannya. Ada kira-kira satu kilometer dari rumah Ami, menyeberangi jalanan yang cukup padat arus lalu lintas.

Ami cuma tersenyum, "Mas Taufik nggak sempat ngantar aku Nik. Nggak 'pa-'pa juga kok. Minggu depan 'kan sembuh dengan sendirinya. Kali ini dia menarik nafas sambil menggeser kakinya sangat pelan supaya bisa sampai di sofa dengan enak. Aku memperhatikan dan mau mencoba membantunya. Dia menggeleng menolak, karena katanya, dia lebih nyaman kalau menggerakkannya sendiri. Sangat iba aku melihatnya.

Menurut Ami, kejadian kambuhnya penyakit ini di tengah malam. Dia merasa tiba-tiba sangat kesakitan dan perutnya kembung. Ketika dia bermaksud memiringkan tubuhnya, dadanya serasa berat dan terhimpit sesuatu yang menyebabkan dia merasa sesak nafas serta sakit dada. Dia tahu ini bukan penyakit warisan dari neneknya itu. Namun juga bukan penyakit datang bulan yang sudah  lama menghilang dari kehidupannya. Tapi tak urung dia cemas juga.

Di dekatnya suaminya tampak tertidur pulas dengan bola mata yang bergerak-gerak di balik kelopaknya yang menutup sempurna. Dengkurannya sangat lembut.

Semakin pagi, dia semakin tak mampu bergerak. Sehingga air matanya nyaris tumpah. Dan disaat jam wekkernya membunyikan alarm pagi hari, dia betul-betul menangis putus asa. Karena dia tak bisa bangkit melaksanakan tugasnya menyiapkan segala keperluaan suami dan anaknya.

Di saat itulah suaminya terbangun lalu memandanginya dengan kebingungan pula. "Ada apa?" tanyanya singkat waktu menyaksikan Ami tengah bergulat mencoba bangkit dengan menumpukan tangan di sisi ranjangnya. Nampak keringat dingin telah memenuhi keningnya di wajah yang disertai seringaian.

"Perut, pinggul, kaki, tangan dan bahkan paru-paruku sakit," jawab Ami menjelaskan.

"Kenapa?" lagi-lagi tanya yang singkat.

Ami cuma menggelengkan kepala. "Barangkali penyakitku waktu gadis dulu kambuh lagi, tapi sekarang aku tak bisa bergerak sama sekali. Dadaku sakit, kakiku seperti sangat kaku," air mata mulai membasahi pelupuknya.

Taufik bangkit memandangnya sejenak. Kemudian Ami berhasil menuntaskan usahanya dan melangkah keluar kamar menyelesaikan ritual paginya. Dia melewatkan acara mandi dan sembahyang, sebab dia tahu dia akan butuh waktu sangat lama untuk sampai di dapurnya serta memasak untuk sarapan.

Anak-anaknya merasa iba. Mereka berjanji untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah sepulang sekolah nanti, sedangkan Taufik menyuruhnya beristirahat. "Kamu jangan mikir masak, nanti aku yang cari makan untuk kita," pesan suaminya sebelum melangkah meninggalkannya ke kantor.

Seharian itu Ami hanya menghabiskan waktu di kasurnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak juga untuk membuang sampah ke lantai bawah tanah, padahal petugas dinas kebersihan kota akan mampir menjemput sampah pada hari itu. Dia mengelus dada dan menyebut nama Allah memohon kekuatan saja.

Penyakit itu berlangsung beberapa hari, tanpa upaya suaminya membawanya ke dokter. Ami sendiri si makhluk ajaib menurutku cuma diam pasrah. Baginya lebih baik dia menuntaskan "acara jatah bulanannya" yang keparat itu saja dulu agar dia bisa ke dokter sendiri tanpa merepotkan suaminya yang semakin tak punya banyak waktu. "Itu lebih baik, mas Taufik sibuk Nik," jelasnya.

-ad-

Aku menawarinya membantu menyetrika atau memasak, namun ditolaknya. "Nanti mas Taufik malah curiga aku didatangi kamu," katanya mencegah aku yang sudah siap mencari bahan-bahan di dapurnya. "Terima kasih Nik, doakan saja aku lekas pulih lagi. Biasanya seminggu seelsai sih," dia mencoba tersenyum meredakan ketegangannya sendiri.

Pagi itu makin kutahu bagaimana Taufik yang sesungguhnya. Lelaki yang sulit diduga apa maunya. Satu lagi cap telah kuberikan padanya. Sekalipun baik dan sayang pada istrinya, tapi jelas Taufik tak mau berpayah-payah lagi menuntun Ami yang sakit seperti dulu diceritakan Ami dengan kebanggaan seorang wantia yang sejati. Itu artinya, Taufik mulai jemu pada Ami.Ya Allah, kuatkanlah Amiku, pintaku seraya menutup pintu rumahnya yang kemudian dibiarkannya tak terkunci.

Dari jalanan kulihat Ami berdiri bertelekan di pinggir jendela pada sisi meja makan keluarganya, ia melambaikan tangannya padaku dengan pandangan sayu yang mengibakan hati wanita mana pun. Bus kota melaju di jalanan yang penuh sesak itu. Meninggalkan guratan bekas rodanya di aspal jalanan.

(BERSAMBUNG)

15 komentar:

  1. numpang baca mbak.... Salam kenal

    BalasHapus
  2. kasian banget Aminya .............
    tega banget tuh suaminya........

    BalasHapus
  3. Namanya cerita...... 'kan mau dibuat seru biar menguras air mata.

    BalasHapus
  4. YA, nanti diampuni. Terima kasih ya nak Siti. Siang-siang udah nongol. Nggak masak apa tadi? Awas mas Toro marah kayak Taufik.

    BalasHapus
  5. wah kurang ngajar banget tuh punya suami kaya gitu pengen nonjok kayaknya, gak berperikemanusiaan, gila kali dia.
    kalo saya sih kalo mau datang bulan biasanya suka perut kembung serasa masuk angin, itupun suami saya langsung aja ngerokin trus mijitin saya trus disuruh istirahat.

    BalasHapus
  6. Wah, syukur deh. Pertama syukur Wati punya suami yang sangat perhatian. Kedua, syukur Taufiknya nggak ada. Tapi hebat juga ya aku, bisa menggiring emosi orang? Buktinya tiap hari Wati balik lagi. Aku usahain tiap hari ngempi, kebeneran sekarang pak Dubes sama ibu lagi dinner, suamiku juga reception di tempatnya Beland, kloplah!

    BalasHapus
  7. Iya bener! Do'ain aja teh Ratih semoga Allah menyertai semua langkahnya. Tapi btw, kalo nggak dibuat susah dan patut dikasihani nggak rame kali ya ceritanya?

    Ya udah sekarang aku mau nanya, habis gini enaknya dibikin sjkenario kayak apa teh Ratih?

    BalasHapus
  8. Duh Bunda.... ada apa denganku. maksud hati pengen baca lanjutan cerita kisah cinta segiempat Taufik-Ami-Lis-wanita satu lagi ini, tapi sepekan rasanya malaaaassss. Hidung mampet otak ikut mampet... Buka MP sambil lewat, FB kagak kunjung diganti statusnya... duuuh... ampe udah 3 postingan novelet bersambung aku lewatkan begitu saja. Maaf daku Bunda maafkan....

    BalasHapus
  9. Lho, kasihan. Udah sembuh? Semoga cepet sehat lagi ya mbak. Ini gaweane wong iseng aja kok. Dibujuk-bujukin sama temen-temen sih, terutama temen-teemn sekampung, jadi provokator itu maju deh menuntut saya nyoba nulis seriusan. Alah, elek ae kok mbak, jangan kuatirlah, nggak rugi ketinggalan baca ini. Silahkan distor aja di flash disknya mbak Niken untuk dibaca kalo lagi santai. Yang lain juga gitu kok, datang untuk metik aja dulu.

    BalasHapus
  10. kok contradictive sih soal sifat si taufik ini mbak.. yg namanya sayang kan suppose dia mau nuntun istrinya yg sakit mbak.. kalo dia jemu, ya dia gak sayang dong mbak.

    BalasHapus

Pita Pink