Powered By Blogger

Selasa, 17 Februari 2009

BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN (XXI)

"Cinta kasihmu padaku kuharapkan abadi selalu

  Setulus hati aku memintakan kesadaranmu

  Cinta kasihmu padaku tak sedetikpun akan terhenti

  Sampai matipun aku jalani asal kau setia..............."

Begitulah pagi itu kudengar suara Ami menyenandungkan "Saling Percaya" yang dulu kerap kudengar dari koleksi pita kaset kakakku. Dia kelihatan sangat cantik dalam balutan gaun biru muda yang menutupi tubuhnya yang mulai sintal.

Ami yang kukenal memang seorang periang. Bersenandung adalah kegemarannya. Bahkan dulu ketika kami masih sama-sama istri staff di luar negeri, dia tak malu-malu menyuarakan lagu-lagu apa pun lewat mulutnya di saat asyik bekerja bakti di kantor suami kami. "Sebagai pelepas lelah," alasannya, "daripada mesti nyari-nyari tape dan kaset atau ngobrol ngalor-ngidul yang tak jelas 'kan?" katanya disertai anggukan setuju kami semua teman-temannya,

Tak merugi, suara Ami memang cukup lumayan, Inilah yang menyamarkan semua perasaan yang sesungguhnya ada di hati terdalam Ami. Perempuan kesepian yang serba tanggung. Tak pernah bergaul dengan sembarang orang di luar rumah karena dia sangat amat menghargai suaminya yang begitu protektif atau mungkin juga posesif.

"Wah bu, pagi-pagi sudah menghibur kerabat kerja," sapaku waktu membuka pintu sekretariat organisasi dan mendapati beliau duduk di sana sedang menulis-nulis rencana kerja yang harus kami laksanakan segera sambil bersenandung. Cantik sekali ia pagi itu.

"Ya, daripada sepi Nik," jawabnya sambil mempersilahkan aku duduk di dekatnya. Belum ada siapa-siapa di situ, Sebab bu Syarif yang seharusnya menangani urusan ini masih di atas bus jemputan yang mengantarkan dia dan suaminya dari kompleks.

Aku mendekatinya. Tercium harum wewangian Eropa yang sangat lembut dari tubuhnya. "Hm, bu Taufik wangi sekali, parfum apa sih?" tanyaku penasaran.

Dia tersenyum memandangku dan mempermainkan ballpoint di tangannya, "ah, murahan kok, saya dulu selalu beli di Drugstore, Le jardin de Paris, sekarang sih sudah nggak keluar lagi. Bahkan andaikata kamu berani-beraninya menanyakan itu pada penjual parfum, kamu akan ditertawakan, kuno, katanya," lanjut Ami diakhiri dengan tawa renyah.

Tapi biarpun demikian, aku sungguh kagum padanya. Dia termasuk salah satu di antara jarang orang yang cermat dalam memakai segala sesuatu termasuk parfum. Yang kuingat memang ada patokan tak tertulis bahwa memakai parfum harus dicobakan di titik nadi dulu. Jika wanginya "nempel" dan "lembut",  berarti itulah yang cocok untuknya. Tak peduli merek dan harga. Sebab keharuman parfum konon tak dapat dipaksakan cocok untuk semua tubuh. Ami memang cermat, batinku.

"Berapa orang bu yang lolos seleksi penerimaan beasiswa?", tanyanya padaku.

Aku buru-buru mengeluarkan catatanku hasil survey dengan bu Syarif kemarin dulu. "14 orang bu, tapi kita harus cermati lagi sebab jatah kita kan cuma lima anak," laporku.

"Klop, 14 juga dalam catatan saya," timpal Ami sambil melirik ke kertas di depannya, "Yang tiga keluarga masing-masing mengajukan dua orang anak, bukan?" tanyanya lagi.

Kini giliranku mencermati kertas di tanganku, "ya, pak Endang, bu Sutarsih, dan pak Deswar," jawabku sambil menyodorkan catatanku. Nama-nama itu segera kulingkari agar Ami mudah menelitinya.

Diambilnya kertas di tanganku, lalu kami mulai berdiskusi serius disambung dengan kedatangan bu Syarif kemudian. Kelihatan sekali Ami yang dinista suaminya sebagai perempuan tak berpendidikan, ternyata masih menampillkan kualitas yang layak untuk duduk sebagai istri pendamping suami yang baik. Aku tersenyum kecut mengenangkannya sambil membayangkan apa yang pernah terjadi pada Ami nun di belahan bumi sebelah barat sana dulu itu.

"Nampaknya kita harus memilih antara pak Heru dengan pak Amri," usul bu Syarif memberi masukan kepada Ami sebagai ketua untuk memutuskan.

"Alasannya apa?" tanya Ami sabar.

Anak-anak pak Heru dan pak Amri sama-sama perlu ditolong bu. Yang lain-lain masih bisa kita pertimbangankan lagi. Ronni anak pak Amri duduk di STM kelas 3, kalau kita tidak memberinya beasiswa dia nggak bisa ikut ujian, bu, Susi anak pak Heru juga butuh sekali bu, dia duduk di kelas akhir SMP, tanpa bantuan kita dia akan drop out juga," jelas bu Syarif.

Ami mendengarkan baik-baik sambil meneliti kertas di tangannya, "Ronni yang mana sih? Kok saya nggak menemukan nama Ronni?" tanya Ami.

"Khaironni bu," jawab kami bersamaan, "nomor delapan."

"Bagaimana kalau keduanya jadi prioritas?" tanya Ami.

"Maaf bu, jatah kita cuma dua atau paling banyak tiga, sebab direktorat lain di lingkungan ini juga punya banyak calon yang kemarin sama-sama lulus seleksi," jawab bu Syarif memberanikan diri.

Ami tidak nampak marah. Dia menekuni kertasnya kembali selagi seorang pelayan meletakkan gelas-gelas minum berisi sirup marjan merah di hadapan kami dan sepiring bolu kukus entah dari mana. Ami mengangguk mengucapkan terima kasih seraya mempersilahkan kami minum, " maaf di rumah hanya ada bolu kukus, jangan kecewa ya ibu-ibu," kata Ami.

Kami membalas tawaran Ami dengan kata yang serupa sambil menyelesaikan perbincangan kami. Ternyata Ami juga seorang ibu yang penuh perhatian kepada lingkungannya.

"Kalau saya boleh sarankan, kita kabulkan keduanya, lalu satu lagi kita ambil salah satu di antara putra pak Deswar, bu Tarsih atau pak Endang, karena mereka memang butuh betul Tinggal kita seleksi enam orang anak ini siapa yang paling butuh," usulku. Aku sudah tahu sifat Ami. Dia tak pernah bisa menolak permintaan orang kecil. Kuingat dulu Ami pernah mengorbankan sebagian uang arisannya untuk membantu seorang staff yang anaknya harus dioperasi mendadak karena menginjak jarum jahit ibunya yang tercecer di karpet. Padahal mereka baru tiba dan tidak punya asuransi yang preminya terkenal mahal itu.

Bu Syarif memandang padaku penuh tanya, maksudnya tentu menyesalkan ucapanku yang sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang telah kami sepakati kemarin.

Kuinjak kakinya sambil kutatap matanya. Bu Syarif diam menunduk. "silahkan, saya ikut kebijaksanaan ibu," jawab bu Syarif pada akhirnya.

"Bagaimana dengan kondisi anak yang enam lagi?" tanya Ami penuh selidik.

"Rata-rata sama bu, tak ada yang di kelas akhir. Tapi melihat kondisi keluarganya saya memilih keluarga pak Deswar. Anaknya tujuh, baru menikah dua, yang bersekolah tiga, yang dua menganggur," terang bu Syarif.

"Wow!" Ami membelalakkan matanya, "baru nikah dua dan anaknya tujuh ada yang pengangguran?"

"Iya bu, yang dua kembar dua, jadi sebetulnya hamil lima kali tapi hidup semua," jawabku menegaskan.

"Ya, tolong tetapkan satu anak pak Deswar kalau begitu,' putus Ami melegakan.

Bu Syarif dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui kehendak Ami. Di mataku Ami tetaplah seorang perempuan sempurna. Bijak dan bisa dibanggakan, tak seperti tuduhan suaminya yang tak akan pernah kulupakan betapa menyakitkannya.

-ad-

Siang itu kerja kami selesai dengan tenang. Aku berhasil sekaligus membuatkan surat pengantar permohonan kepada pengurus induk setingkat di atas kami sambil menyiapkan kelengkapan data para calon penerima bea siswa. Ami menungguiku dengan sabar karena dia berjanji akan pulang bersamaku naik kendaraan umum. "Capek kalau aku mesti nunggu mas Taufik Nik, beliau pasti pulang larut malam. Maklum selalu sibuk dengan rapat-rapat antar departemen yang melelahkan di luar kantor itu," alasan Ami. Aku mengangguk mengiyakan.

Sehabis makan di kantin kantor kami pulang bersama. Bu Syarif tak ikut serta karena rumahnya tak searah dengan kami. Aku sendiri sebetulnya jadi memutar jalan mengingat aku berkewajiban moral mendampingi istri boss suamiku sampai ke daerah rumahnya.

Di bus kota Ami bercerita tentang segala kesibukan suaminya termasuk gangguan SMS malam hari itu. "Aku kasihan sama dia, selalu pulang kelelahan dan harus siap dipanggil dengan SMS-SMS itu," katanya.

Aku tak bereaksi apa-apa. Tapi jauh di dalam hatiku, aku meragukan kesibukan dan kepadatan kerja pak Taufik, terlebih-lebih mengingat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri perempuan lain di sisi pak Taufik waktu di Bandara Changi dulu. Kubiarkan Ami terus mengobrol melepaskan semua beban batinnya yang keluar tanpa disadarinya. Bendungan air mata itu toch harus meluap juga.

"Ibu di mana?" kudengar suara Ridho di telepon ketika kami hampir sampai di daerah rumah Ami.

"Masih di Patas sayangku, kamu sudah lama pulang? Sudah makan sore? Kakangmu juga sudah di rumah?" kudengar jawaban Ami. "Bicaranya jangan teriak-teriak dong dik, malu kedengaran orang," bujuk Ami sambil melirik padaku.

Aku tersenyum padanya, "ya beginilah orang punya anak. Biarpun sudah kelas enam, manjanya minta ampun. Maklum kurang perhatian bapaknya," kata Ami pada akhirnya, Sorot matanya nampak kecewa kali ini namun wajah bulat telur itu masih penuh senyum juga.

"Sabar mbak, semua kan demi kesuksesan karier pak Taufik sendiri," jawabku. Namun jauh dalam hatiku aku trenyuh telah mengucapkannya, Sebab Ami benar, anak-anak selalu butuh kebersamaan dengan orang tuanya. Lebih-lebih lagi anak lelaki dengan ayahnya.

Ami permisi turun di Hero dekat rumahnya, "Nik aku turun di sini ya? Mau cari kue buat nanti sore anak-anak dan bapaknya 'kan belum kusediakan snack," katanya seraya bangkit mendekati pintu.

Aku mengangguk mengiyakan sambil memandangi sosoknya yang tak goyah dan tak meleleh diguncang ganasnya kehidupan Jakarta di hawa panas yang mendekati 33 derajat Celsius. Bus Bianglala melaju lagi meninggalkan Ami perempuan sempurna itu di halaman Hero Supermarket.

(BERSAMBUNG)

23 komentar:

  1. Penyeleksian yg hebat!! Jd bea siswa itu bnar2 tepat sasaran

    BalasHapus
  2. ada kutipan dari buku 'Istana Kedua', karangan Asma Nadia, seperti ini; 'Jika cinta bisa mencukupkan seorang perempuan hinga setia pada 1 lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan 1 perempuan'.
    Pas ya untuk Ami, Perempuan yang Setia.. :) Lanjut bunda ditunggu sambungannya yaaa..

    BalasHapus
  3. Iya, di dunia nyata juga kan memang harus gitu, nggak boleh asal kasih aja. Kasihan ynag bener-bener butuh 'kan?

    BalasHapus
  4. Wah? Apa? Lanjut? Memang udah berhasil mengejar ketinggalan sampe tammat disini?

    Heibat bener karyawati yang satu ini! Sabar ya mbak. Pasti dikau menyesal baru melamar diriku disni sekarang hehehe......

    BalasHapus
  5. Lin, gimana Ami-nya? Siip 'kan aku nggambarinnya?mKalo kurnag sip nanti aku robah lagi karakternya menurut pembaca setiaku.

    BalasHapus
  6. betulll bun nyeeseeellll, tapi kata orang2 'sebelah sana' better late than never, cuit..cuiittt...bahasanya...sssttt....bunda resepnya ada yang di CoPas sama Krisna looo....itu yang bikin jajanan pasar, gpp kan... :) telat kalo bunda larang sekarang machhh..dah kejadian...

    BalasHapus
  7. Silahkan, saya malah senang kalo blog saya ada gunanya untuk orang lain.

    BalasHapus
  8. sampe ke indo, ketemu lagi sama bu Ami, udah gitu jadi atasannya, memang dunia serasa sempit.

    BalasHapus
  9. Namanya juga kantor suami-suami kita. Nggak luas 'kan? Coba perhatiin. Lokasiny aya cuma disitu-situ aja. Nah, kalo disebar paling ya ketemu juga sama bekas temen di pos. Ada lho yang berkali-kali sekantor terus, nggak di luar nggak di dalem. Contohnya suami saya sama Dubesnya, suami saya sama pak Emir.

    BalasHapus
  10. Sejauh ini sifat amy masih satu yg menonjol, cintanya tulus... lina suka kesederhanaannya...

    BalasHapus
  11. Nanti ibu bilangin sama Aminya ya (tuing.....tuing...... lari nyari Ami dulu).

    BalasHapus
  12. Keakraban Bu Ami - Bu Nonik kelihatan waktu Bu Ami menegur suara di telepon itu, kalau nggak cukup dekat pasti sungkan mengingatkan.

    BalasHapus
  13. Iya, tapi mereka tetap tahu batas. Di kantor atau dalam urusan organisasi, dia akan disapa bu Taufik oleh bu Triatman. Hahaha..... jeli juga nih pembaca saya.

    Terima kasih mbak Leila. Hari ini saya lagi seneng, sebab dikirimi buku baru hasil blogging salah satu kontak saya dar Malaysia. Bukunya kocak, jadi langsung pengin baca lagi walaupun saya sebetulnya udah baca di sitenya. Penasaran.........

    BalasHapus
  14. Blog lucu? Malaysia? Buku My Stupid Boss bukan, Bu? Saya baru saja selesai baca soalnya.

    BalasHapus
  15. Iya, betul. Saya baru dapet separo (sebetulnya sih baca ulang aja karena kan itu diambil dari tempat dia di Mp ini). Tetep aja ngikik, terutama bagian dia kisahkan si Bangla halah lucune poll!

    Kontaknya mbak Leila juga toch?

    BalasHapus
  16. Bukan kontak saya sih Bu... Cuma kemarin heran kok buku ini heboh banget diomongin beberapa kontak saya, kebetulan sempat ke Gramedia dan... yah, jadilah saya seharian kemarin ngakak guling-guling (apalagi belum pernah baca blognya sebelumnya).

    BalasHapus
  17. Oh gitu? Kalo baca blognya 'kan isinya lebih variatif tuh. Makin seru aja, sampe guling-guling beneran. Ada pembahasan-pembahasan ilimiah mengenai gajala sosial atau fenomena alam, tapi bahasanya ya kayak gitu di blog yang soal dunia kerjanya. Ada lagi soal keseharian keluarganya (antara dia dengan suami, dengan anak-anak, dengan ayahnya, dengan keluarga suaminya yang Malaysian). Rame deh.

    Rencananya nanti saya mau tulis soal saya baca buku itu tapi di blog satunya aja ah.......... takut ngganggu proses postingan novel saya hahaha...... beliau tuh kebetulan nawarin saya jadi kontak di kedua blog saya.

    Selamat menggilirkan buku itu ke teman-teman, soalnya kasihan kalo nggak pada ikut baca. Hari ini bagian anak saya yang mau baca, sebab dia juga bukan kontaknya sih, dia bilang malu kalau mau gaul sama tante-tante hehehe......

    BalasHapus
  18. Hehehe, saya malah baru dapat alamat blognya tadi pagi dari seorang teman, asyik memang...

    BalasHapus
  19. Selamat bergabung bersamanya. Aduh kalo gitu saya termasuk yang beruntung, saya diajak jadi kontaknya di dua site sekaligus, tanpa saya harus repot-repot minta ijin adding beliau. Hahaha......

    BalasHapus
  20. Oh, saya dapatnya yang di blogspot, Bu... Beliau punya MP juga toh?

    BalasHapus
  21. Ya, kontak saya sih disini sama di bundel. Udah jadi tuh blog saya soal bukunya beliau.

    Eh, yang di blogspot kurang seru lho. Banyakan yang di Mp. Rame abisss!!!

    BalasHapus

Pita Pink