Powered By Blogger

Kamis, 02 Januari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (160)

khir tahun tiba. Tiga puluh satu Desember dua ribu tiga belas, saya masih harus tetap memenuhi kewajiban saya memeriksakan diri ke RS. Karena minggu depan, delapan Januari dua ribu empat belas saya sudah harus dikemoterapi siklus ketiga yang tak boleh tertunda lagi disebabkan siklus sebelumnya terpaksa tertunda. 

Kemoterapi yang merupakan cara ampuh melawan kanker biasa berlangsung setiap tiga minggu sekali selama enam kali. Tubuh penderita dimasuki zat kimia yang amat beracun yang dimaksudkan untuk merusak sel-sel kanker, meski tak dinafikan kenyataannya turut merusak sel-sel yang sehat juga. Cara pelaksanaannya bisa melalui obat yang ditelan, diinfuskan, atau disuntikkan.

Jika pemberian obat kemoterapi tak tepat waktu, sel-sel yang sudah digempur itu akan terbangkit menjadi aktif yang berakibat justru memperparah kondisi pasien. Tak ada cara lain untuk menghindarinya selain segera dikemoterapi lagi. Itu sebabnya tumor saya meski melunak tidak dapat mengecil bahkan menimbulkan nyeri. Tapi saya berharap semoga saja belum mengecil, bukan tidak mengecil.

Itulah yang membuat dokter onkologi saya mewanti-wanti untuk tak melanggar aturan kemoterapi, dengan mengawasi ketat keadaan saya dari hari ke hari. Mulai dari langkah pertama yakni memeriksakan diri ke laboratorium, melakukan pemeriksaan jantung hingga membawa hasilnya untuk ditimbang-timbang dokter ahli penyakit dalam apakah saya cukup tahan menerima obat-obat sitostatika ~demikian istilahnya~ itu. Juga kondisi saya sehari-hari, apakah cukup menerima nutrisi, cukup beristirahat dan tidak tertular penyakit dari lingkungan di sekitar saya.

Saya adalah penderita kanker kelenjar getah bening yang merupakan penyebaran dari kanker payudara stadium lanjut. Meski payudara kiri dan kelenjar getah bening ketiak saya sudah dibuang habis tetapi kurang dari tiga minggu kemudian dia sudah bertumbuh lagi dengan wujud tumor di tulang selangka serta tengkorak sebelah depan kanan saya. Mengingat hal ini, dokter bergerak cepat tapi hati-hati di dalam menangani saya. Meskipun begitu, saya tak menyadari telah diperlakukan secara istimewa hingga satu demi satu tenaga medis di RS menyatakannya.

Pertama perawat yang berkeberatan mengakhiri rangkaian kemoterapi saya dengan obat suntik penaik bilangan sel darah putih. Katanya seumur-umur tak pernah ada pasien yang diharuskan begini. Persis pendapat seorang dokter ahli kemoterapi. Sehingga dokter saya harus melakukannya sendiri di poliklinik, begitu saya keluar dari ruang kemoterapi. Walau tak nampak tersinggung telah diabaikan perawat, tetapi saya yakin beliau menganggap perawat melalaikan instruksi yang ditulisnya di lembar protokol kemoterapi saya secara resmi.

Kedua, petugas laboratorium Selasa pagi. Beliau terheran-heran mendapati perintah pemeriksaan lengkap yang biasanya tidak dilakukan setiap bulan. "Bu, bukannya ibu bulan lalu baru diperiksa lengkap, ya?" Tanya lelaki yang rambutnya sudah keperakan itu sambil menatap kertas di tangannya dan sosok saya ganti-berganti.

"Ya betul pak. Tapi itu 'kan diminta diperiksa lagi toch," jawab saya tenang. Saya tak menyadari ada yang di luar kebiasaan di sini.

Petugas pendaftaran meneliti lagi formulir saya. Ada banyak komponen yang ditandai dokter saya, yang artinya itu permintaan pemeriksaan lengkap dengan melibatkan laboratorium besar di luaran sana. Memang laboratorium RS swasta tempat saya berobat ini tidak seberapa lengkap dan masih terus akan dilengkapi di lokasinya yang baru nanti ketika RS berhenti izin operasionalnya lalu diambil pemerintah sebagai RSUD di wilayah Bogor barat.

"Jadi mesti periksa lengkap lagi ya?!" Kedengaran nada bicara petugas itu seperti terheran-heran.

"Ya tuh, dokter saya maunya begitu," sahut saya polos tapi meyakinkan sehingga petugas laboratorium tak bertanya-tanya lagi. 

***

Melihat dua pengalaman saya di atas, kemudian saya berpikir-pikir sendiri apakah dokter saya memperlakukan saya berbeda dari para pasien lainnya? Sangat boleh jadi demikian, sebab memang saya tak pernah melihat perawat kemoterapi menyuntikkan obat penaik sel darah putih pada pasien-pasien yang selesai dikemoterapi. Bahkan juga pada saya di putaran kemoterapi yang dulu. Artinya saya sekarang diperlakukan di luar aturan kebiasaan. Yang kemudian juga jadi tidak dimengerti oleh seorang dokter ahli kemoterapi. Untuk itu saya jelaskan bahwa tanpa langsung disuntik begitu, maka saya biasanya langsung tumbang. Hanya berselang sehari sejak obat kemoterapi masuk ke tubuh saya, sel darah putih/leukosit saya rusak tersedot sehingga bilangannya turun drastis.

Tindakan dokter onkologi saya menyuntik ini membawa dampak sangat baik. Leukosit saya turun cuma sedikit sehingga menurut dokter ahli kemoterapi masih boleh dikatakan wajar adanya. Hasilnya saya sebagai pasien tak tumbang. Saya masih sanggup melakukan kegiatan harian saya secara normal dengan tubuh yang tak begitu lemas. Contohnya, saya bisa dengan mudah bangkit dari pembaringan atau posisi duduk. Dengan demikian dapat dikatakan dokter berpikir cermat dan bertindak sangat hati-hati terhadap penatalaksanaan pengobatan saya.

Pun juga pemeriksaan laboratorium lengkap dikenakan setiap akan dikemoterapi kepada saya. Tentu ini ada maksudnya, yakni untuk mengetahui secara teliti sebaik apakah kondisi tubuh saya sebelum dikemoterapi. Agaknya dokter khawatir saya akan kepayahan segera setelah selesai kemoterapi. Sebab nyatanya sangat banyak pasien yang sehabis dikemoterapi keadaannya menjadi sangat payah. Contohnya teman saya penderita kanker kelenjar getah bening yang bersarang di sekitar rongga dadanya dekat paru-paru.

Anaknya yang datang menjenguk saya bertutur, semula ibunya cuma sering merasa tidak enak badan disertai demam. Tetapi beberapa RS yang didatanginya di Indonesia tidak berhasil mendiagnosa penyakitnya. Hingga di RS terakhir di Jakarta yang merupakan RS keempat ada kecurigaan tentang penyakit kanker setelah diketemukan benjolan di sekitar lehernya. Waktu itu entah mengapa dia justru berobat ke dokter ahli penyakit telinga hidung dan tenggorokan yang berhasil menghilangkan benjolan itu dengan disuntik, meski gejala-gejala lainnya termasuk demam tak juga hilang. Ketika benjolan itu membesar kembali, dia memilih berobat ke RS yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan di Singapura. Di Singapura itulah penyakitnya ditemukan. 

Pengobatan yang dilaluinya hanya 6 kali kemoterapi tanpa radiasi. Dan sepanjang menjalani kemoterapi itu teman saya sama sekali tak bisa bangkit. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana, juga lemas. Karenanya dia sering tak mampu mengangkat tangannya, apalagi berjalan. Mungkin itu juga sebabnya dokter bertindak sangat berhati-hati menangani saya yaitu lewat perlakuan khusus seperti yang diheran-herankan para petugas RS. Kini saya pun sedang tersenyum sendiri mengingat gurauan perawat yang iseng melabeli saya sebagai pacar dokter karena saya diperlakukan berbeda dari kebanyakan pasiennya. :-D

Setelah dikemoterapi, teman saya mendapat obat yang dimakan selama sekian bulan. Kata anaknya, obat itu bertujuan untuk meregenerasi sel-sel sehat yang terusak oleh gempuran obat-obat kemoterapi itu. Selama menjalani proses ini si pasien nampak membaik sehingga bisa terlepas dari kursi roda yang terpaksa menggendongnya kurang lebih setengah tahun ketika dalam masa kemoterapi. 

Berobat kanker di Singapura memang mahal dan untung-untungan. Saya dulu juga pasien di suatu RS selama 3 tahun. Dengan kondisi tumbuhnya kista di organ-oegan reproduksi saya yang terus berulang setiap tahun meski sudah dibuang dengan pembedahan, mestinya dokter mencurigai adanya keganasan. Kemudian melakukan kemoterapi jika memang ganas. Nyatanya dokter saya selalu menyatakan kista saya jinak, sehingga penyakit saya bagaikan tanpa nama. Dokter muda di Indonesia lah yang bisa melabeli penyakit saya dengan predikat ganas, kanker, ketika akhirnya penyakit itu bersarang di payudara dan kelenjar getah bening saya. Begitu pun seorang teman saya yang diketemukan menderita kanker paru-paru tak pernah membaik di Singapura, meski sudah dikemoterapi. Penyakitnya meruyak, bahkan kemudian diketahui memerlukan obat kemoterapi yang berbeda dari apa yang pernah diterimanya di Singapura ketika sudah menyebar ke hati serta ditangani dokter di Indonesia. Sayang semuanya terlambat. Teman saya berpulang jua.Kami berdua sudah habis-habisan mendanai ongkos pengobatan itu sebagaimana yang dialami teman saya yang anaknya menjenguk saya itu.

Penuturan anaknya mengungkapkan bahwa banyak biaya yang sudah mereka keluarkan. Sehingga meski termasuk orang berada, ketika ibundanya harus tinggal selama 3 bulan di Singapura mereka terpaksa menyewa hotel sederhana. Katanya ongkos kemoterapi tidak berbeda jauh dari di Indonesia, tetapi jasa dokter dan peralatan penunjang pemeriksaan jauh lebih mahal. Sehingga seberapa banyak pun bekal mereka segera habis juga. 

Menyimak cerita-cerita terkurasnya dana ketika berobat di Singapura, maka tak heran jika dokter saya mengusahakan sedemikian rupa menangani saya. Termasuk menganjurkan meminta bantuan pemerintah. Aduhai, termasuk pasien istimewa yang sangat beruntung 'kan saya? Alhamdulillah!

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pita Pink