Powered By Blogger

Jumat, 10 Januari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (165)

nggan bangun disertai erangan-erangan lirih dari mulut saya kerap terjadi akhir-akhir ini. Penyakit kanker ini demikian menyiksa. Menyakiti dan melemahkan tubuh. Saya ingin segera sembuh, terbebas darinya.

Ini adalah hari pertama sehabis saya disuntik Leucogen untuk menaikkan bilangan sel darah putih saya, karena akhirnya kemarin saya minta disuntik di poli bedah umum. Biasanya begitu disuntik, kondisi saya akan membaik. Tapi tidak kali ini. Saya bahkan jatuh di sisi tempat tidur ketika mencoba bangkit untuk mengambil air sembahyang subuh yang nyaris terlewat lama. Maklum mulai semalam saya terbatuk-batuk terutama di tengah-tengah tidur, sehingga dentang lonceng setengah empat pagi lewat dari tangkapan telinga saya. Akibatnya merdu lengkingan muadzin dari masjid yang bertebaran di sekeliling tempat tinggal saya tak terikuti.

Untung saya segera bisa bangkit kembali meski tertatih-tatih sedangkan anak saya sudah kembali tergolek pulas. Ah benar saja, pukul lima lewat sembilan menit. Rupanya tadi anak saya sengaja tidak membangunkan saya melihat semalaman saya terganggu batuk. Maka segera saya tunaikan shalat subuh disinari matahari yang mulai membayangi bumi.

Dokter bedah umum agak sedikit bingung waktu saya memenuhi panggilan masuk ke polikliniknya.

"Ada apa ini, bu?" Tanyanya sambil mengamat-amati saya.

"Begini dok, jadwal kemo siklus ketiga saya mestinya sudah tiba. Tapi kemarin hasil lab saya banyak yang jelek, sehingga clearance kemo saya belum keluar. Leukosit saya drop betul ke bilangan 1790, juga Hb saya cuma sembilan koma," terang saya.

"Oh......., jadi?" Tanya beliau.

"Saya disuruh dokter Bayu menghadap dokter, minta tolong disuntikkan Leucogen di sini," jawab saya.

Dokter itu mencerna maksud saya sambil menulis-nulis di lembaran Rekam Medis saya. "Hb masih cukup lah bu. Tapi leukosit, berapa tadi seribu tujuh ratus.....?"

Anak saya mengatakan bahwa lembar hasil laboratorium saya sudah ada di Rekam Medis, beliau bisa mengeceknya sendiri. Lalu dokter pun mulai membalik-balik dokumen saya di tangannya. "Di mana ya? Ke dokter penyakit dalamnya kapan?"

"Kemarin dulu dok,"jawab saya yang kemudian diikuti temuannya,

"Oh ya ini, ya rendah sekali ya. Lain-lain cukup bagus bu," ujarnya.

"Kadar ureum atau kreatinin saya di kimia darah, eh, apa sih istilahnya, buruk dok, tidak mencapai angka minimal," terang saya lagi.

"Apa? Ureum? Oh creatinin clearance ya?" Ujar beliau sambil membuka lembaran kedua. "Nggak apa-apa bu, masih memadai kok," jawabnya. "Ya sudah boleh mana obat suntiknya, ada?"

Anak saya segera mengeluarkan bawaan kami. "Dok, silahkan kalau mau periksa pasien lain, saya dengan pak Omrin saja," kata saya ketika mendengar sudah ada pasien lain di bilik sebelah saya. Anak kecil pula. Dia meraung-raung ketakutan bahkan begitu dia masuk ke dalam poli.

Lalu dengan bahasa tubuhnya dokter meminta perawat melakukannya. Dengan senang hati pak Omrin menghampiri bilik pemeriksaan saya. "Ayo bu, silahkan, mau disuntik di mana nih, di lengan atau di perut?" Tanyanya ramah. 

"Di perut ah pak. 'Kan mas Bayu bilang jangan di lengan, mudah infeksi," jawab saya seraya mempersiapkan diri. 

Perawat mulai mengambil kapas dan alkohol, tapi segera saya protes sehingga mengakibatkan dokter berhenti sejenak melihat ulah saya seraya tersenyum geli. "Aih pak Omrin, pakai senjatanya mas Bayu ah," protes saya.

Perawat itu mengerti, tapi pak dokter tidak. Beliau berdiri sejenak mengawasi saya sementara pak Omrin bergegas memenuhi permintaan saya.

"Ini, ayo," katanya.

"Apa sih itu?" Ujar dokter senior itu penuh rasa ingin tahu diakhiri dengan seruan. "Oooooohhhhh...."

"Iya dok, ibu saya paling takut disuntik," anak saya berkomentar yang kemudian saya lengkapi sendiri, "apalagi di perut. Sensasinya itu lho dok. Lebih baik surgery sekalian." Sungguh ucapan konyol yang membuat dokter terbahak-bahak. 

"Ah, ada-ada aja," komentarnya seraya menghampiri pasien balita yang masih juga menangis sementara semprotan dingin yang biasa dipakai onkologis saya beraksi dilanjutkan dengan suntikan yang bagi saya memang amat menyakitkan. 

"Sudah bu," kata pak Omrin seraya tersenyum, tapi jemarinya masih lekat di kulit perut saya.

"Terima kasih ya pak, sakit juga euy," balas saya seraya berkemas-kemas. Memang terasa beda jari beda kelembutannya hahahaha......

***

Ketika keesokan harinya anak saya kembali ke DKK untuk mengurus surat rujukan kontrol saya ke poliklinik onkologi, dia mendapati kepadatan lagi. Meski baru pukul delapan lewat sedikit pasien yang mengantri sudah di atas 20 orang. Dan kali ini semua ada di tempat. Tak berani seperti dulu, banyak yang datang mengambil nomor tapi kemudian ditinggal pergi dulu sehingga ketika nomornya dipanggil pasien itu tak ada. Tentu saja menjengkelkan petugas dan para pasien lain. Anak saya bilang sudah kira-kira seminggu dia melihat pasien yang berlaku semaunya sendiri seperti itu diusir pulang petugas dengan alasan mereka merasa tak dihargai.

Bersama anak saya banyak pasien onkologi termasuk pasien onkologis saya. Tentu saja kami saling mengenal dan langsung duduk membaur dengan akrab. Yang seorang, yakni yang baru dua kali dikemoterapi menceritakan bahwa pasiennya sudah mulai malas makan, ketakutan makan ini-itu. Belum lagi tangan kakinya sudah kesemutan.

"Wah, reaksinya cepat amat bu? Ibu saya sampai tammat kemo yang pertama nggak pernah kesemutan tuh. Baru kali ini, sampai kaku kram segala," komentar anak saya.

"Iya tuh, saya juga  nggak tahu. Tapi sudah saya bilang sih, itu efek kemo. Jadi mesti makan yang benar," sahut si istri yang datang sendiri mengurus rujukan suaminya. Si pasien katanya sedang berurusan lain dengan pihak Kecamatan. "Ini mah, makan tauge takut, kangkung takut, habis waktu googling katanya itu merusak daya kerja obat kemo."

"Eh rambutnya gimana bu? Dah rontok?" Tanya anak saya lagi.

"Udah. Sekalian digundulin sama dia, liciiiinnnn sekarang. Habis jengkel juga sih lihat rambut-rambut bertebaran di sarung bantal," jawab si ibu lagi.

"Hahahaha..... itu rambut lelaki ya?! Coba ibu jadi saya, rambut ibu saya dulu ada di mana-mana. Ya di tempat tidur, ya di lantai, ya di kamar mandi. Tapi ibu saya pe-de aja langsung ke salon juga minta digundulin," sahut anak saya. "Halah, nyapuin rambut perempuan bu......... reseh. Terbang ketiup angin segala," terang anak saya sambil tertawa mengenangkan saat itu. Putaran pertama kemoterapi saya yang menjadikan saya pas ditahbiskan sebagai pasien kanker.

"Eh, besok dokternya praktek nggak ya?" Seseorang menanyai anak saya.

Anak saya sempat terlongong-longong sedikit sebelum menyadari bahwa orang itu bertanya kepadanya. "Oh, insya Allah ada." Dalam hati anak saya bertanya-tanya mengapa dia yang ditanyai. Apakah agaknya mereka menganggap kami punya hubungan khusus dengan dokter.

"Wah susah juga ya kalau tutup lagi. 'Kan udah dua kali tutup.....," keluh mereka yang dibenarkan anak saya. 

Mendengar cerita anak saya, saya cuma geleng-geleng kepala. Membenarkan, dokter belia ini memang menyenangkan dan sedang naik daun.

"Tuh kalau nggak datang lagi, pindah ke dokternya si ibu itu," sahut seseorang melontarkan gagasannya yang segera disahuti yang bersangkutan dengan penolakan. "Ah, enggak mending nunggu aja lagi. Mesti banyak sabar. Udah enakeun sih di dokter kita." Ini benar-benar suatu penegasan yang memperkuat citra positif onkologis saya.

***

Obrolan itu sejalan dengan cerita bu Linda relawan kanker yang menjenguk saya membawa buah tangan berupa suplemen herbal buah berasal dari Cina yang dibelinya di toko hasil bumi tertua di kota kami di daerah Pecinan (China town). Beliau mengajak serta ibu dr. Mariana yang belum saya kenal yang baru dibawanya meninjau panti Wredha milik sebuah gereja Katholik. Perempuan sepuh ini amat baik hati. Tanpa merasa terpaksa, beliau meluangkan waktu bicara dari hati ke hati dengan saya. Juga tak lupa memuji-muji bu Linda sebagai manusia berhati mulia.

Rupanya sebelum ke PW di daerah Tonjong, Kemang, bu Linda juga pernah membawanya ke rumah-rumah pasien kanker dampingannya yang lain. Diantaranya bu Linda mengajak mengunjungi pasien tidak mampu di wilayah kota Bogor Selatan yang termasuk pelosok yang belum pernah saya ketahui, juga ke tengah-tengah kota. 

Kondisi pasien disebutkan sudah sangat parah karena sudah sakit bertahun-tahun. Waktu itu suaminya bekerja di Pertamina di luar kota. Entah mengapa dia sepertinya tak dibawa ke onkologis, hingga penyakitnya terus memburuk. Dokter yang dulu mengoperasi tumor payudaranya tak memberi arsip riwayat penyakit dan penanganannya. Sehingga kini ketika bu Linda menghubungi dokter onkologi dari Yayasan Kanker indonesia (YKI) maupun Yayasan Dompet Dhuafa mereka kebingungan menanganinya. Ibaratnya pemeriksaan mesti diulang dari awal, sebab hasil biopsi pun tak pernah ada di tangan pasien yang menilik pekerjaan suaminya tentu bukan orang tak berpendidikan.

Sedangkan pasien di wilayah tengah-tengah kota jauh lebih baik keadaannya. Semula dia berobat dan ditangani onkologis di salah satu RS pemerintah yang besar di Jakarta. Payudaranya sudah dibuang sebelah. Tetapi sekarang di bekasnya tumbuh benjolan lagi. Siapa pun tentu merasa khawatir. Karena itu dia kembali berkonsultasi dengan dokternya. Apa daya dokternya terkesan arogan dan meremehkan. Dengan tenang tanpa melalui pemeriksaan yang teliti dikatakan bahwa payudaranya bersih, sudah tak ada lagi benjolan di situ. Seketika si pasien menghendaki dokter untuk merabanya. Masya Allah, ternyata dokter itu tetap menolaknya dengan ucapan yang kurang pantas. 

Berhubung demikian, dia kemudian ingin berganti dokter. Dan konon katanya, dia membaca dan mendengar mengenai onkologis saya. Lalu dia mendaftar ke RS minggu lalu, yang bersamaan dengan tutupnya poliklinik secara berturut-turut. Tak kehilangan akal dia bergegas ke RSKD demi untuk bisa berobat padanya. Tentu saja dia kesiangan, sehingga nomor antrian di poliklinik RSKD pun sudah habis. 

Untung dia bertemu bu Linda yang sedang mendampingi pasien. Setelah mendengarkan kisahnya bu Linda berinisiatif mencarikan pasien asal Bogor. Mereka diminta berkenalan dulu, selanjutnya bu Linda menitipkan orang itu kepadanya. Alhamdulillah si pasien bersedia, begitu pun dokter kami mau tak mau tak menolak juga. Sekarang semakin banyak saja pasien beliau, termasuk "pasien selundupan" begini. Entah siapa pula lagi yang turut mempromosikan dokter muda cemerlang kebanggaan desa kami ini?! Yang jelas 'kan ya tak mungkin kalau hanya gara-gara E-Diary saya ini?! :-)

Oh ya, sebagai balas jasa atas kebaikan dan kedermawanan bu Linda, hari ini, Sabtu, saya diminta bu Linda menolong "pasien baru" lagi. Yakni pasien pindahan yang pernah diceritakan payudaranya sudah membusuk kedua-duanya. Coba bayangkan, bagaimana dia tidak ingin ganti dokter kalau selama hampir tiga tahun berobat penyakitnya tak membaik sedangkan perawatan luka pun tak pernah diajarkan?! 

"Ya, ya deh saya dampingi. Besok saya memang ke poli kok," janji saya. "Ngomong-ngomong kalau emergency kenapa dia nggak ke dokternya aja dulu waktu dr. Bayu tutup minggu lalu, bu Linda?" Tanya saya penasaran.

"Ah, udah ilfil katanya. Dia udah bertekad mau ganti dokter aja ke dokternya bu Julie..... Lagian katanya waktu minggu lalu dia kecelik itu, memang banyak yang menyayangkan kenapa baru sekarang milih ke dr. Bayu.......?!" Jelas bu Linda.

"Lho, siapa gitu yang ngomong?" Tanya saya.

"Banyak orang yang ketemu di pendaftaran pada hari itu," sahut bu Linda.

"Oh.... oh...., yang jelas bukan saya ya, saya nggak merasa ketemu dan bukan provokator lho hehehehe........," timpal saya.

"Ah udah ah, kalau ke sini pasti keasyikan ngobrol. Tuh suplemen buat Hb diminum ya, tiga kali sehari juga boleh. Saya masih mau ke Cipinang Gading," tutup bu Linda berpamitan.

Saya cuma bisa mengangguk dan melambaikan tangan dari atas pembaringan saya mengiringkan kepergiannya yang saya tahu bukanlah perjalanan yang sia-sia. Semangat bu Linda dan kini dr. Mariana di mata saya amatlah luar biasa. Semoga Tuhan menyertai mereka.

(Bersambung)


2 komentar:

  1. bun, bunda tuh ternyata takut disuntik ya? :) beda2 ya bun, saya gak masalah kalo disuntik dan periksa2 lainnya tapi jangan ditanya pemeriksaan gin :(

    btw nama dokter yang baik (dan yg kurang baik) memang cepat beredar ya.


    salam
    /kayka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya bangrt, sam periksa ke dokter gigi juga takut sekali :-D

      Dulu waktu masih anak-anak kalau ada vaksinasi keliling kota yang mampir di sekolah-sekolah, saya pasti ketakutan. Pas SMA minta didekap bapaknya anak-anak yang waktu itu pacar kecil saya hahahaha.......

      *rahasiadiungkapjujur*

      Hapus

Pita Pink