Powered By Blogger

Kamis, 09 Januari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (164)

i saat saya membutuhkan dokter onkologi saya, di saat itu juga beliau kebetulan terpaksa tidak membuka kliniknya. Sesungguhnya saya risau juga, soalnya hanya beliau yang tahu pasti keadaan saya. Tapi untunglah saya dilimpahkan kepada dokter lain yang senior dan menjadi partner setianya selama ini. Ke kliniknya lah saya dianjurkan minta tolong sampai tiba saatnya dokter onkologi bisa menemui saya akhir pekan ini.

Rasa lemah-lesu saya lah penyebab semuanya. Saya memang jadi ikut-ikutan anak saya mempersalahkan asupan makanan saya yang kurang gizi. Tapi pikiran saya selalu mengganggu akal sehat. Selalu saja membisiki, "yang penting bisa makan banyak." Padahal apa yang saya makan cuma kaya karbohidrat, tapi sangat minim protein dan vitamin. Karena itu saya sangat berharap bisa segera bertemu dokter saya mendiskusikan apa yang sebaiknya saya makan sekarang. Terus terang saya sudah lelah dan ingin hidup tenang, selayaknya orang-orang normal. Itu sebabnya buku harian saya ini kini tak mampu saya jamah setiap hari. Saya tak bertenaga lagi.....

Jadi kemarin anak saya kembali ke DKK untuk minta pengantar berobat ke dokter yang ditetapkan onkologis saya. Pasien tetap saja membludak di DKK.  Dan entah mengapa pegawai yang melayani justru surut. Menurut anak saya kepala counter cuma dibantu seorang staff. Tergambar bukan kesibukan dan keributan di sana?! Tapi kali ini anak saya sih dilayani baik-baik, tidak ditanya mengapa minta ke dokter bedah umum. Padahal itu potensial terjadi mengingat saya pasien di poli bedah onkologi. Anak saya cuma diperingatkan untuk segera mengurus kartu kepesertaan JKN di kantor BPJS yang dulunya kantor PT Askes.

"Mas, kenapa masih pakai SKTM, belum ke BPJS ya?" Tanya petugas di situ.

"Belum, 'kan katanya otomatis pak, peserta Jamkesmas dan Jamkesda yang didaftarkan Lurah Desa sudah terdaftar," jawab anak saya polos. Dia memang ingat Kasi Kesra di Kelurahan kami bilang begitu. Nama saya sudah otomatis jadi PBI JKN karena dimasukkan ke dalam daftar penerima olehnya atas instruksi Camat.

"Bukan begitu mas. Nggak bisa otomatis, mesti lapor sendiri-sendiri ke kantor BPJS yang dulunya PT Askes. Bayar preminya tujuh puluh lima ribu sebulan untuk bertiga," ujar petugas itu lagi menjelaskan. Dan lagi-lagi kami teringat pemberitaan di media massa, di mana masyarakat pengguna Jamkesda ditolak pihak RS karena tanpa bertukar kartu JKN namanya tak tercakup lagi. Sehingga artinya mereka mesti mengurus JKN dulu.

Premi sebulan tujuh puluh lima ribu rupiah saja bertiga. Sungguh amat murah sebetulnya, karena PBI memang cuma berhak dirawat di kelas III. Kami pasti akan dengan senang hati membayarnya. Bahkan anak-anak sampai berkhayal ingin segera bekerja, supaya punya penghasilan dan bisa naik kelas, tak harus di kelas III. Untuk sekarang di kelas III pun mereka bersenang hati.

Beginilah ternyata sistem jaminan kesehatan kita yang baru. Cakupannya memang menjadi lebih luas. Tetapi, kalau dipikir-pikir saya yang mendapat hak menggunakan Jamkesda yang selama ini tak ditagih biaya satu sen pun, kini dimintai partisipasi sebanyak Rp. 25.000,-. Betul nilainya tak seberapa, begitu juga untuk kami pasien penyakit berat yang menguras dana negara. Tapi saya langsung teringat kepada mereka yang benar-benar tak berpunya, uang sejumlah itu pun ada nilainya. Apa jadinya sekarang, akan kah mereka bisa terjangkau sebagai PBI JKN? Sementara karena sistem baru ini, para dokter yang semula adem-ayem kini kedengaran mempersoalkan besaran uang jasa mereka yang nyatanya memang sangat tak sebanding dengan jasa-pengabdian mereka. Saya khawatir akhirnya mereka malas berpraktek kemudian mencari kesempatan belajar di luar negeri yang berakhir dengan keengganan mereka kembali ke tanah air. Duh....... miris!

Seringkali saya tak habis pikir melihat kenyataan di tanah air. Dulu pun di masa Orba, pelayanan kesehatan tidak maksimal. Pernah saya dengar alasan salah satu orang Indonesia yang beralih kewarganegaraan karena kecewa terhadap pemerintah. Dia seorang dokter, pakar kebidanan dan kandungan yang bekerja di sebuah RS Swasta yang sahamnya dimiliki penguasa waktu itu. Berhubung kepadanya sering datang pasien dari kalangan bawah yang tak berpunya, seperti onkologis saya beliau mengulurkan bantuan. Karena terlalu sering, dia dikritik pihak manajemen RS. Katanya RS potensial merugi akibat kebaikannya. Dia diminta untuk bertindak profesional dengan menerima semua komponen biaya RS termasuk jasanya. Tentu saja hatinya menolak. Akhirnya beliau dikucilkan yang justru memberi peluang baginya untuk menimba ilmu kembali. Singkatnya beliau pergi ke luar negeri menuntaskan hasrat belajarnya. Di sana ditemuinya atmosfer yang sesuai dengan jiwanya. Maka selepas menuntaskan pendidikannya beliau memilih memboyong keluarganya menetap di negara nun jauh itu, hingga memperoleh kewarganegaraannya sambil terus mengabdi kepada masyarakat. Kita di Indonesia tinggal menonton kegemilangannya saja. 

(Bersambung)



4 komentar:

  1. Bunda... udah lama ngak tak sambangi ini..... selalu kangen....

    Semangat terus, Bunda bisar bisa teap makan banyak dan macem-macem jenisnya ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam mbak Rike. Terima kasih atas penyemangatnya. Iya nih maunya sih gitu bisa enak makan macam-macam. Semoga aja cepat kesampaian. Apa kabar mbak?

      Hapus
  2. dan akhirnya kalangan berduit pada berobat ke singapore..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan mereka tujuannya sekalian wisata-belanja. Di Singapura minta izin nginep di rumah kenalannya hahahaha..... Maaf jadi buka rahasia pribadi.

      Hapus

Pita Pink