Powered By Blogger

Jumat, 03 Januari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (161)

wal tahun tiba. Satu Januari dua ribu empat belas sudah terlampaui dua hari yang lalu. Saya berharap dia akan jadi pengantar yang baik untuk kesehatan saya sehingga membawa kesembuhan yang berarti. Seperti ungkapan onkologis saya di malam tahun baru yang berbunyi " Semoga di tahun depan kondisi kesehatan ibu dan keluarga semakin baik dan penuh berkah. Amin."

Memang hanya Tuhan yang tahu segalanya, termasuk soal kesembuhan saya. Tapi di bawah penanganan dokter yang cerdas dan penuh dedikasi terhadap pekerjaannya, bukan tak mungkin saya akan mendapat nikmat kesehatan itu. 

Saya memang amat mendambakan jadi orang sehat. Apalagi sejak kecil saya memang kerap didera sakit, yang menyebabkan nilai pelajaran olah raga saya selalu kurang. Keadaan itu menjadikan olah raga tak saya sukai yang ujung-ujungnya mendatangkan penyakit kanker sebab ini bukan gaya hidup yang benar.

Menurut banyak sumber yang bisa dipercaya, gaya hidup tidak sehat seperti makan makanan yang termasuk kategori junk food, makanan yang yang dibakar dan jarang berolah raga menjadi pemicu kanker. Termasuk di dalam junk food itu adalah makanan berpengawet, meski vetsin atau penyedap rasa menurut dr. Edward Harahap Sp. B.U dari unit bedah saluran kemih RSKD dalam penyuluhannya tidak termasuk barang berbahaya. Dengan serius meski terkesan bergurau beliau bilang, "kalau vetsin itu membahayakan kesehatan, mengapa tidak ada yang pabriknya  ditutup pemerintah?" Aneh tapi nyata plus meninggalkan kebingungan besar di benak saya.

Hari ini, Jumat, 3 Januari 2014 anak saya kembali ke Dinas Kesehatan Kota (DKK) untuk mengurus rujukan kontrol pra kemoterapi saya ke dokter ahli penyakit dalam hari Senin nanti. Pada hari itu hasil pemeriksaan laboratorium saya diharapkan sudah selesai, sehingga dokter ahli penyakit dalam tinggal menyuruh perawat melakukan pemeriksaan jantung saya dengan mesin Elektro Kardiografi (EKG). Lalu setelahnya sambil melakukan pemeriksaan palpasi (dengan rabaan tangn) beliau menimbang-nimbang apakah saya layak dikemoterapi dalam waktu dekat atau belum. Jika belum, maka saya harus diobati lebih dulu hingga kondisi tubuh saya bugar.

Tak ada hal-hal yang menghambat dalam urusan hari ini. Sebab pendanaannya murah saja. Tadinya saya mengantisipasi jangan-jangan dengan diresmikannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), saya sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang hingga kini belum menerima kartu kepesertaan akan dipersulit. Nyatanya tidak. Pemerintah kota kami betul-betul teguh pada janjinya yang diumumkan minggu lalu bahwa kami masih dilayani dengan administrasi Jamkesda. Saya angkat topi dan hormat karenanya. Anak saya pun kali ini pulang dengan wajah yang berseri-seri tanpa keluhan. Artinya insya Allah dalam minggu ini kemoterapi saya bisa berlangsung, meski pembuluh darah saya masih rusak semua. Pecah-pecah dan mengeras, ciri-ciri orang yang kebanyakan ditusuki jarum infus. Maklum aslinya udah dari sono-sononye pembuluh darah saya tipis dan bengkok-bengkok sehingga sulit ketika akan dipasangi infus. Adapun hambatan soal pengadaan obat, saya kira bisa diatasi dengan melihat pengalaman bulan lalu. Ketika itu mereka kesulitan mencari dosis yang besar, sehingga saya berharap waktu itu mereka sudah sekalian menyimpan stock untuk beberapa kemoterapi saya.

Kemulusan urusan Jamkesda saya itu bukan berarti kemenangan untuk semua orang tak mampu. Saya berkesimpulan demikian ketika menerima telepon dari ibu drh. Linda relawan kanker yang dipercaya untuk mendampingi saya dan tentu saja beberapa pasien lain lagi.

Sebetulnya saya yang sudah berencana menelepon bu Linda, untuk memenuhi keinginan onkologis saya mengalihkan penyuluhan kanker ke wilayah tempat tinggal bu Linda mengingat respons dari pemerintah desa kami amat lamban. Padahal kanker terus saja mengganas, sehingga prevalensinya dari hari ke hari semakin meningkat. Onkologis saya berpikir, daripada tidak ada penyuluhan sama sekali, berpindah wilayah pun tak merugikan. Saya cuma tersenyum-senyum saja menyadari hal itu. Sebab terbayang betapa meruginya lurah dan camat kami ditinggalkan begitu saja oleh pakar kanker warga mereka yang dengan kesadaran dan keikhlasannya ingin berbuat sesuatu bagi lingkungannya sendiri. Kecamatan tetangga akan beruntung menerima kiprah kami berdua.

Nah untuk itu saya harus bicara dulu dengan bu Linda yang akan kami mintai kesediaannya sebagai nyonya rumah. Saya tahu bu Linda pasti bersedia dengan senang hati karena merasa diuntungkan. Tetapi 'kan ya tidak sopan kalau ujug-ujug saya dan onkologis saya menodong begitu saja. Maka saya berniat meneleponnya setelah natal dan tahun baru berlalu dengan asumsi beliau sudah kembali ke rumahnya.

Telepon pagi-pagi di hari kedua tahun baru itu selain untuk mengecek keadaan saya sambil menyampaikan doa selamat tahun baru, juga ternyata mengeluhkan soal kesulitan mengurus pembiayaan pasien tidak mampu dampingannya di wilayah kabupaten.

Pasien itu seorang purna karyawan lembaga penelitian kehutanan yang bekerja sama dengan pihak asing. Dulu pekerjaannya adalah juru masak di kantor besar itu. Usianya 61 tahun menderita kanker payudara yang sudah sangat parah pada kedua belah sisi. Dikarenakan statusnya yang istri tidak janda pun bukan sejak suaminya meninggalkannya untuk perempuan lain, dia tak punya pemasukan apa pun setiap bulannya. Bayangkan saja, pesangonnya sebagai juru masak tidak seberapa dan pelan-pelan habis untuk menghidupi dirinya bersama anaknya yang bekerja serabutan. Karenanya penyakitnya tak pernah dibawa ke dokter.

Bu Linda kemudian teringat akan saya yang berkasus sama. Ketakutan menghadapi biaya RS. Dulu saya memilih berobat ke sinshe, terlebih-lebih ketika dua orang dokter sepakat mengirimkan saya kepada seorang onkologis. Sedangkan pasien yang tengah menderita itu juga berobat ke juru penyembuh alternatif, hingga ada yang memaksanya berobat ke RS.

Sungguh persis dengan pengalaman saya, cuma bedanya saya berobat ke dokter yang merupakan PNS di RSKD, sedangkan ibu itu ke dokter yang bekerja di Pemda. Sehingga penanganan kasus saya lebih baik dibandingkan dia yang tak mungkin menggunakan fasilitas RSKD kecuali dirujuk dokternya. Meski toch di RSKD kami harus sama-sama membayar sendiri, namun sebagai pasien kiriman dokter di luar dokter RSKD penanganan terhadap beliau tidak akan berkesinambungan karena berarti dia harus ganti dokter. Sedangkan saya tetap berobat di dokter yang sama, dengan memiliki dua catatan rekam medis yang sama di dua RS. Dengan begitu tak ada kebingungan atau kekisruhan.

Dalam teleponnya bu Linda bilang, pasien ini tak bisa lagi dioperasi. Kedua tumor di payudaranya sudah pecah hingga dadanya rata dan basah seperti beceknya tanah kena hujan. Baunya amat luar biasa, hingga mengakibatkan bu Linda relawan yang biasa menghadapi pasien dengan segala kondisi terbayang-bayang terus hingga setibanya di rumah menjadi sakit. Konon ini kasus terparah yang pernah didampinginya.

Jika tumor saya yang cuma di satu sisi saja sudah menimbulkan bau menyengat, bisa dibayangkan dahsyatnya penderitaan pasien itu sekaligus putra yang merawatnya. Si pasien benar-benar kesakitan dan tak berdaya. Dia cuma terbaring di kasur rumah sederhananya. Saya dulu masih gagah, mampu melakukan segala-galanya sendiri meski lamban. Cuma sesekali saya perlu berbaring yakni ketika luka tumor saya menimbulkan pendarahan hebat.

Oleh sebab itu bu Linda berinisiatif memindahkan pasien ini ke onkologis saya yang dinilainya lebih akomodatif di dalam menampung kesulitan, keluhan ketidak berdayaan pasiennya. Dia sudah melihat sendiri betapa banyak pasien yang berterima kasih karena diuntungkan dokter kami yang sangat pedulian itu. Jadi tujuannya menelepon saya adalah menanyakan tata cara prosedur pengurusan Jamkesda sebab onkologis yang merawat pasien itu tak bisa ditanyai entah mengapa.

Ceritanya dia sudah berupaya sendiri minta bantuan Jamkesda. Namun terbentur masalah data diri yang sepele. Dia sudah menyerahkan foto kopi KTP dan KK nya sebagai syarat, juga surat permintaan bantuan yang menyatakan dirinya sudah tak bekerja lagi. Sialnya baik di KTP maupun KK statusnya masih pegawai, sehingga dipersoalkan. Meski sudah diterangkan bahwa kini pasien ini memasuki pensiun, tetapi masih ada alasan lain yang dipakai menolak.Yakni anaknya bekerja di sektor swasta meski bukan pegawai tetap. Alasan pihak pemerintah selanjutnya, Jamkesda hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar tak bekerja. Dalam hati saya membenarkan dengan menilik keadaan saya sendiri. Kedua anak saya belum ada yang berpenghasilan.

Saya berinisiatif menanyakan alamat pasien itu, sebelum saya menunjukkan jalannya. Sebab saya menduga mereka penduduk wilayah kabupaten yang justru kata dokter saya relatif makmur sehingga royal di dalam menggelontorkan bantuan obat.

Benar saja, rumahnya di perbatasan kota dengan kabupaten yang sudah termasuk wilayah administratif kabupaten. Berhubung di wilayah kota penduduk pekerja dengan penghasilan minim masih diberi Jamkesda, maka jika ada orang mengeluh tak diberi, orang itu kemungkinan bukan penduduk kota. Di kota kami meski jumlah bantuan yang diberikan ditekan semurah-murahnya, tetapi Pemda mengupayakan untuk mengabulkan melalui berbagai siasat misalnya kualitas obat diturunkan seperti kasus saya. Saya rasa begini lebih adil daripada tak dibantu sama sekali.

Oleh karena saya bukan penduduk kabupaten, maka saya tak tahu caranya membantu. Tapi bu Linda tetap berharap kepada kami. Saya ditanyai apakah ada jadwal konsultasi ke dokter hari Sabtu. Jika ya, dia bermaksud menyuruh pasiennya mendaftar juga, lalu saya bawa ke dalam poliklinik untuk diperkenalkan dengan dokter. Selanjutnya saya diminta bicara dengan dokter untuk mencarikan jalan baginya. Tapi sayang jadwal konsultasi saya sudah lewat, tinggal menunggu panggilan dari ruang kemoterapi sehingga bu Linda menarik nafas sedih. Saya tak tahu selanjutnya apa yang akan mereka kerjakan. Hari itu telepon terhenti sampai di situ sebab bu Linda juga sudah lega mendengar saya akan dikemoterapi serta tak memerlukan dana pembeli obat-obat yang tak diberi pemerintah. Seperti biasa sebelum menutup telepon dia mendoakan yang baik-baik serta berpesan agar jika perlu bantuan segera mengontak dirinya. Di dalam hati saya berterima kasih telah dipertemukan dengan seorang relawan yang jika saya amati hidup dan matinya hanya untyk orang lain, kami penderita kanker dan penyakit berat lainnya.

***

Bicara soal orang miskin yang butuh bantuan pemerintah, saya ingin menegaskan bahwa predikat miskin di sini terbagi dua. Yang sebagian adalah orang yang betul-betul tak punya apa-apa dan tak berpenghasilan, sebagian lagi orang yang masih punya harta tapi tak bisa dipakai mendanai pengobatannya karena hartanya tak seberapa. Orang-orang yang demikian boleh jadi punya rumah, punya sepeda motor, tapi tak punya pekerjaan tetap atau gajinya amat minim. Adapun rumah dan sepeda motor itu hasil mencicil selama bertahun-tahun yang sangat boleh jadi belum juga lunas. Untuk itu sebaiknya sebagai pengayom masyarakat sebagaimana diamanatkan UUD, pemerintah harus melihat secara bijak jika ingin menolak memberikan bantuan.

Dulu saya memang termasuk orang berkecukupan. Bahkan ketika karena pekerjaan kepala keluarga kami waktu itu di Singapura, saya sempat mencicipi jadi orang kaya yang menghabis-habiskan uang untuk berobat di sana. Sehingga hasilnya kini, kami tak punya tabungan atau harta apa-apa lagi selain tempat tinggal kami. Padahal anak-anak saya belum ada yang bekerja, selagi saya pun kembali jadi ibu rumah tangga. Untung pemerintah daerah di wilayah saya tinggal amat bijak sehingga mereka bersedia memasukkan saya ke dalam kategori masyarakat yang perlu dibantu.

Oh ya, soal orang kaya yang sanggup berobat ke Singapura tapi kemudian malah minta Jamkesmas, pernah disoroti seorang dokter umum di sebuah media sosial. Dikisahkannya dia menerima seorang pasien yang minta obat untuk melawan efek kemoterapi dengan fasilitas Jamkesmas. Ketika riwayat sakitnya dikorek, pasien dan keluarganya mengaku sakitnya terdiagnosa di Singapura. Tetapi mereka kemudian tak kembali lagi ke sana karena tak punya biaya. Pasalnya mereka sudah menjual harta mereka seharga 100 juta Rupiah. Padahal itu harta satu-satunya. Akibatnya kini mereka terpaksa minta bantuan Jamkesmas untuk pengobatan di RSUD yang cuma diizinkan di ruang rawat kelas 3 untuk perawatan inap. 

Dokter itu menulis, ini adalah orang kaya tanggung. Dibilang miskin tapi sempat mampu berobat di luar negeri, dibilang berharta tapi minta bantuan Jamkesmas. Oh-la-la.........! Begini nih tulis si dokter menyimpulkan, "Rumah sakit di Singapura tidak terlalu menginformasikan biaya kemoterapi sampai selesai dan total biaya perawatannya, karena yakin yang berobat ke sana biasanya uangnya cukup. Kebetulan pasien ini simpanan uangnya ‘nanggung’. Dan kemoterapi selanjutnya memutuskan pakai JAMKESMAS, sementara efek samping kemoterapinya berobat ke praktek swasta. Nah, berobat ke luar negeri sih boleh-boleh saja kalau tujuannya untuk wisata." Ah, untung saya beda keadaan sehingga tidak malu memakai Jamkesda. Namun di dalam hati sih tetap berharap semoga untuk orang yang betul-betul membutuhkan seperti pasien yang sedang dibantu bu Linda ada pertimbangan rasa belas kasihan, gitu lho........... 

SELAMAT AKHIR PEKAN BERKAWAN HUJAN TEMAN-TEMAN YANG BUDIMAN!

(Bersambung)


2 komentar:

  1. ahh betapa mulianya hati Bu Linda ya Bu ... sejuk rasanya membaca masih ada orang yg melimpahkan waktu, fikiran dan tenaganya untuk orang yang kesusahan yang bahkan mungkin tak dikenalnya sebelumnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Mereka orang-orang berhati emas. Komunitas mereka terbentuk rapi. Dan masing-masing relawan menetapkan sendiri wilayah yang akan mereka dampingi. Bu Linda ini orang tuanya di Jakarta, jadi dalam seminggu ada hari-hari bu Linda tinggal di Jakarta, ada hari-hari di sini. Jafi wilayah kerja bu Linda di Bogor dan sebagian Jakarta.

      Pasien yan perlu bantuan itu, kata bu Linda tinggal di daerah neng Winny. Makanya saya nggak paham prosedur administrasinya, meski konon di kabupaten nggak ribet serta uangnya banyak.

      Hapus

Pita Pink