Powered By Blogger

Rabu, 15 Januari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (168)

ebat benar Kuasa Allah! Hantaman hujan yang menghentak berhari-hari kini musnah sama sekali. Matahari menyembul tipis di balik awan abu-abu seolah malu-malu. Ramalan kantor BMKG ternyata tak terbukti. Tak ada hujan dengan intensitas deras hingga sangat deras untuk hari ini. Atau barangkali saja karena ini hari besar. Ummat muslim ramai berdoa memperingati kelahiran Rasulullah. Walahu 'alam bish shawwab!

Yang jelas anak saya hari ini bisa jalan ke pasar sekalian membelikan saya duster baru yang longgar, sebab sejak sakit saya semakin memuncak tak banyak lagi pakaian-pakaian lama saya yang muat. Tumor itu minta tempat khusus di bahu saya, sebab ukurannya sudah sekepalan sementara yang di dahi juga sudah sulit ditutupi kerudung.

Hujan baru turun belakangan, pukul empat sore, itu pun sebentar. Tapi alhamdulillah bibi mantan suami saya yang tinggal di Jakarta sempat datang menjenguk saya dan pulang sebelum hujan. Meski kaki beliau sudah sakit-sakit karena faktor ketuaan (geriatri), tetapi dengan ikhlas beliau menjenguk saya untuk yang kesekian kalinya hanya dengan menumpang kereta listrik. Sungguh suatu berkah lagi dan juga bukti akan Kasih Sayang Allah kepada siapa yang mempercayaiNya. Pasalnya beliau menggenggamkan sejumlah uang ke tangan saya. Seperti biasanya pesannya uang itu untuk membantu pengobatan saya. Duh, terharu benar saya karenanya. Memang aneh tapi nyata, di keluarga kami tak pernah ada silaturahim yang terputus meski hubungan saya dengan kemenakan beliau sudah lama berakhir.

Meski saya tahu bahwa beliau bersedih mendapati kenyataan saya, tapi air mata itu tak ditumpahkannya. Beliau dulu bekerja di Pemda. Di bagian Tata Usaha pula, sehingga beliau bisa meyakinkan bahwa saya memang tetap berhak memanfaatkan ASKES saya. Dulu beliau menurut pengakuannya malah sempat terkejut mengetahui saya menggunakan SKTM dan dana bantuan banyak pihak untuk berobat. Namun kini sudah lega sebab saya sudah ikut JKN selagi beliau sendiri justru belum sempat mengurusnya.

Sepulangnya beliau saya dan anak-anak kembali tercenung lagi. Soalnya uang pemberian beliau jumlahnya lagi-lagi bisa persis sejumlah uang yang kemarin kami serahkan sebagai tanda terima kasih kepada seseorang yang selama ini banyak membantu kami dengan tenaganya. Subhanallah! Ini adalah kali kedua uang beliau datang menggantikan kekosongan di dompet tipis saya. Dulu juga sudah pernah terjadi dan saya ceritakan di sini.

Keajaiban Tuhan secara nyata terus datang berulang mewarnai kehidupan saya. Apalagi setelah saya tua dan mendekati masa PanggilanNya yang sedang terus saya upayakan untuk boleh ditunda. Sebab terus terang saja, selain anak-anak saya belum ada yang bekerja dan berkeluarga, saya pun merasa masih harus mengingatkan mereka untuk menjauhi larangan Tuhan dan hanya berjalan di JalanNya. Di masa sekarang godaan hawa nafsu buruk jauh lebih dahsyat dibandingkan di masa muda saya dulu. Waktu itu televisi dan dunia hiburan belum sesemarak sekarang sih. Jadi generasi kami relatif lebih aman.

Untuk itu saya mengharuskan diri sendiri rajin membuka-buka Kitab Suci dan buku-buku agama sebagai pemandu. Berkat niat itu alhamdulillah saya yang semula buta huruf kini sudah mulai lancar mengaji. Ibadah lainnya pun insya Allah meningkat lebih baik dibandingkan dulunya waktu saya sering menyebut masa-masa itu sebagai "zaman jahiliyah". 

Malam hari hujan tak lebat. Tapi rasa nyeri dan pegal-pegal yang menetap di sekitar lengan saya yang cacat oleh limfedema serta tumor di tulang selangka mengusik kenyamanan saya. Sialnya sebagian obat saya sudah habis, terutama justru steroid yang diresepkan dokter ahli rehabilitasi medik untuk mengatasi rasa pegal. Tentu saja saya jadi gelisah dan mulai meraung-raung dengan erangan saya yang membawa-bawa nama dokter saya itu he...he...he... *maaf ya dok......*

Anak-anak saya sudah terbiasa dengan kondisi saya ini agaknya. Mereka pun tahu bahwa tak ada yang bisa mereka lakukan untuk saya sehingga mereka asyik main game di dekat saya. Cuma sesekali mereka menoleh memperhatikan saya, meski begitu saya sudah cukup senang. Memang malam tadi cukup menyusahkan hingga walau akhirnya bisa tidur juga, tetapi saya diganggu mimpi-mimpi buruk yang tak dapat saya ceritakan di sini. Akibatnya saya bangun sesudah pukul lima, dan saat saya mengetik diary saya ini tubuh saya tak bugar. *mohon dimaklumi diary ini terhenti dua hari karena kondisi saya terus memburuk*

***

Rabu pagi hujan merebak kembali. Saya memutuskan batal ke RS karena kang Jamil tidak dapat mengantar, sedangkan menyewa angkutan kota di saat hujan lebat terasa menyiksa saya. Seharian saya cuma meringkuk di atas kasur menahan nyeri. Tak dinyana pukul setengah dua siang teman-teman semasa SMP saya datang menjenguk. Winny yang amat baik hati yang bersahabat karib tanpa terputus hingga kini dengan Rini, datang dari Bintaro membawa serta Ati yang masih saja setia menjaga rumah pusakanya.

Pada hari Minggu kami baru mengadakan acara kumpul tahunan, yang direncanakan juga akan mendoakan serta mencari dana untuk saya dipimpin oleh Boetje si juara angkatan. Saya pikir kedatangan teman-teman saya akan menceritakan keriuhan pertemuan itu yang oleh Boetje dipromosikan penuh makanan lezat jajanan sekolah kami dulu, soto mie, doclang, laksa, rebus-rebusan, bajigur ditambah dua menu spesial tekwan dan sate Padang. Ternyata keliru. Mereka benar-benar ingin menyaksikan sendiri kondisi saya, meski Ati tempo hari sudah datang berdua dengan putranya. Agaknya mereka diutus panitia pencari dana sehingga membuat saya terharu sekaligus tersanjung.

Buah tangan Winny yang dermawan itu bukan main banyaknya. Tak hanya roti dan buah-buahan, dia juga menyelipkan amplop serta meninggalkan sebotol madu murni bersama oatmeal. "Kamu mesti makan yang banyak ya Jul. Kalahkan aja rasa malas makanmu. Sebab kamu sangat butuh nutrisi. Madu murni putih ini bisa menolongmu," ujarnya sungguh-sungguh penuh perhatian. Winny yang dulunya pemilih dalam berteman kini betul-betul bersahabat. Terasa sapaan dan perhatiannya bukan lah basa-basi. Dan madu putih itu, rasanya lezat bukan main. Saya sampai terbayang-bayang terus.

Sementara saya mengobrol dengan teman-teman saya, anak-anak saya pun mengobrol berdua. Sebab pagi itu Andrie baru mengurus surat rujukan untuk saya ke Puskesmas Pusat Tanah Sareal dengan fasilitas JKN. Saya harus menanyainya kemudian. Meski begitu, anak-anak saya tak lupa menghidangkan secangkir teh sebagai penghangat suasana mengobrol kami yang lagi-lagi diapresiasi teman-teman saya. Kata para tetamu sih anak-anak lelaki biasanya cenderung acuh tak acuh menghadapi tetamu.

Di dalam obrolan kami terungkap bahwa ternyata Rini membawa pesan teman-teman untuk menggali ingatan saya yang kata mereka sangat tajam tentang teman-teman sekolah dulu. Di antaranya saudara-saudara pak Rizal Ramli yang kritis itu, mereka hanya bisa mengingat Benny. Sedangkan ingatan saya masih lengkap dengan menyebut dua saudara perempuannya, Evi dan Ita. Juga mengoreksi nama resmi mereka di buku induk yang keliru tulis. Saya berjanji akan melakukannya meski dalam keadaan terbatas. Belakangan anak saya bilang, teman-teman saya meledek saya menyepertikan dengan otak komputer plus kamus berjalan yang seharusnya tidak hanya duduk diam di Sekretariat Dharna Wanita Persatuan, melainkan berkantor di sebuah perguruan tinggi seperti Adi yang tahun-tahun belakangan mengepalai sebuah fakultas di UI. Saya terbahak-bahak sendiri mendengarnya. Sebab jujur saja, saya ini dulunya bocah terbodoh di sekolah plus ngantukan di kelas akibat menelan obat-obatan asthma. Sangat bertolak belakang dengan onkologis saya murid paling bersinar di angkatannya kata kemenakan saya dan guru-guru kami yang waktu itu masih mengajar.

Adapun mengenai surat rujukan dari Puskesmas pada sistem JKN, berbeda dari sistem Jamkesmas dan Jamkesda. Dengan Jamkesda terasa sangat merepotkan, sebab setiap akan ke RS entah untuk berkonsultasi ke Poliklinik, melakukan pemeriksaan penunjang maupun dikemoterapi, saya harus membawa surat rujukan dari Puskesmas. Pada sistem JKN, diadopsilah aturan PT ASKES. Surat rujukan dari Puskesmas berlaku selama sebulan. Tapi Puskesmas Desa tak lagi difungsikan sebagai pembuat rujukan. Jadi kami dipersilahkan akan minta rujukan ke Puskesmas Kelurahan atau Puskesmas Pusat Kecamatan yang jaraknya tentu saja jauh dari rumah. Demi kenyamanan berhubung ada fasilitas laboratorium yang lebih besar dibanding di desa, juga tersedia poliklinik dokter spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter gigi saya memilih ke Puskesmas Kecamatan. Di sana pasien memang jauh lebih banyak daripada di desa, namun pelayanannya terbilang cepat. Hanya dalam satu jam urusan selesai. Maka kini tinggal mencoba membuktikan manfaatnya.

Tabik, selamat siang dan salam sehat!

(Bersambung)

3 komentar:

  1. Subhanallaah, Tuhan selalu memberikan rezki kepada hambaNya :)

    dan Tuhan sentiasa mengabulkan doa orang2 yg berdoa, selama siang bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah adanya jika kita berjalan di jalan yang lirus sesuai PetunjukNya.

      Selamat malam kak Tika cantik. Selamat istirahat ya.

      Hapus
  2. Bu julie...apa kabar? baik-baik aja kan bu?

    BalasHapus

Pita Pink