Powered By Blogger

Senin, 13 Januari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (167)

ila! Hujan turun lewat dari bulan berakhiran ber-ber-ber berhari-hari. Sejak Sabtu air lebat itu tercurah membasahi tanah membuat kami menggigil semua. Jakarta mulai kebanjiran. Itu artinya saya tidak bisa melaksanakan perintah onkologis saya untuk memeriksakan diri ke RSK Dharmais sekaligus membeli obat kemoterapi saya yang sulit diperoleh itu.

Pikiran saya bingung bukan main karena terkendala hujan. Walau untuk ke Jakarta kang Jamil kenalan keluarga saya yang biasa mengantar itu bersedia, tapi saya takut terjebak banjir. Dapat dibayangkan susahnya hati menghadapi suasana sedemikian rupa itu dalam keadaan menanggung sakit. Anak bungsu saya Yadi pun berpikiran sama. Apalagi setelah dia mencari tahu suasana di Jakarta ternyata banjir sudah merebak termasuk di wilayah Jalan S. Parman tempat berdirinya RS..

"Gimana, ibu masih tetap mau pergi?" Sambil duduk di sisi pembaringan saya dia mengusap-usap pucuk kepala saya.

"Takut juga ya dik. Nanti malah tertahan di jalanan," ucap saya bimbang. "Tapi gimana ya, mas Bayu juga sudah sangat cemas, terutama Carboplatin itu dulu mesti cepat terbeli," terbayang raut wajah dokter saya kemarin sore yang nampak bingung.

"Jadi gimana dong, ibu maunya beli obat aja ke YKI?" Tanya Yadi lagi.

"Ya, itu yang terpenting sih. Tapi 'kan bisa ya kalau yang pergi cuma kamu?" Kata saya lagi bimbang.

Anak saya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi terus soal CT Scan gimana dong? ramalannya besok dan lusa intensitas hujannya deras sampai sangat deras lho," katanya menggambarkan cuaca yang semakin kelam.

Saya terdiam sejenak. Sejurus kemudian terlintas gagasan untuk minta izin melakukannya di Bogor saja pada fasilitas kesehatan yang memiliki alat lebih baru dibandingkan di RS tempat saya berobat. Saya kemudian menyuruh anak saya untuk lapor dulu kepada dokter serta minta pengarahan bagaimana sebaiknya.

Si kakak lekas bereaksi. Sayang telepon dokter tak dijawab sehingga dia menyusuli lewat SMS. Tak berapa lama dokter mengizinkan. Tapi kami sekaligus diminta melaksanakannya di tempat saja sekalian dengan roentgent, USG rongga perut dan test penanda tumor. Memang selama ini sudah bertahun-tahun saya tak pernah mengeceknya. Baik pemeriksaan Ca 125 untuk kanker di organ reproduksi apalagi Ca 15-3 untuk kanker payudara. Padahal test penanda tumor ini akurat sebagai penanda awal meningkatnya aktivitas sel kanker.

"Ya udah kalau gini clear, besok pak Jamil dipakai di dalam kota. Antarkan kita dulu ke RS baru antar mas Drie ke BPJS," putus saya.

"Woi, enak wae! Nanti mas Drie kesiangan ngantri. Di balik aja deh. Drop dia dulu, baru pak Jamil stand by di RS. Pulangnya mas kita jemput," sanggah si adik. "Ingat lho yang ngantri di BPJS menumpuk."

Saya mengangguk-angguk membenarkan. "Eh tapi, formulirnya sudah kamu down load dan isi 'kan?" Tanya saya mengingatkan.

"Udah, tinggal ibu tanda tangani. Foto juga sudah ditempelkan semua kok. Tinggal bikin copy KTP ibu dan adik," sahut si kakak meyakinkan.

"Copy KK?" Tanya saya lebih lengkap.

"Ada, sisa ngurus SKTM dulu itu," ujarnya melegakan. Saya tinggal mengingatkannya untuk membawa berkas-berkas aslinya. Dan dia pun memahaminya. Begini lah setelah kami hidup bertiga. Anak-anak saya menjadi semakin mandiri. Termasuk mengurus segala administrasi yang berkaitan dengan keperluan keluarga.

Sambil memejamkan mata mencari kenikmatan, pikiran saya berkelana ke mana-mana. Sampai di urusan CT Scan yang semula diminta dokter untuk dilakukan di kantor beliau tidak bersama-sama perintah lainnya di RS ini, saya dapat alasannya. Pertama ini RS swasta. Peralatannya lebih tua dibandingkan di kantor beliau. Jadi, hasilnya lebih akurat di sana. Tapi ketika saya sulit ke Jakarta, saya diarahkan ke RS ini saja meski di RS lain di sini ada yang mesinnya masih baru. Sebab, 'kan lha ya tidak etis menumpang di RS lain. Apa kata dokter spesialis radiologinya dong?! Menurut saya itu suatu bukti lagi bahwa dokter onkologi saya tak gegabah.

Malam itu saya terbangun sekali saja, tapi pukul tiga pagi saya sudah terjaga tanpa bisa tidur lagi. Waktu sekitar satu jam itu saya lewatkan untuk membaca tafsir Al-Qur'an di mana di antaranya seruan untuk bersabar bagi orang-orang yang mendapat ujian termasuk orang yang diganjar dengan penyakit. Rasanya saya kembali ditampar Allah supaya tidak mengeluh dan menangis. Maluuuuu.... rasanya sewaktu kemudian saya menunaikan shalat Subuh. Sebab seakan-akan Allah menertawakan saya yang sesungguhnya cengeng di dalam meski tegar di luaran.

Waktu itu di luar jalanan basah, namun tak kedengaran genting di rumah diguyur hujan. Hampir saja saya terpikir untuk jadi ke Jakarta. Tetapi sewaktu menyalakan televisi, niat itu saya urungkan. Jakarta banjir di berbagai tempat. Sehingga berimbas ke jalan tol Jagorawi yang menghubungkan kota kami dengan Jakarta. Belum lagi di suatu daerah banjir dikabarkan cukup tinggi dengan arus kuat yang mampu menyorong mobil hingga melaju bak ikan berenang. Daripada celaka, lebih baik saya di dalam kota saja.

Benar saja setengah delapan pagi sewaktu ke luar dari rumah jalanan sudah kembali dihujani air curahan langit, membuat lalu lintas di luar pagar rumah kami padat merayap. Untung kang Jamil pandai mencari jalan tikus, sehingga kami lewat di tempat yang aman. Anak-anak sekolah masih nampak satu-dua orang digenggaman tangan ibunya atau di boncengan motor. Agaknya hujan membuat mereka kesiangan.

Sampai di kantor BPJS yang dulunya kantor PT ASKES di Jalan Jenderal Ahmad Yani nampak mobil bertebaran hingga ke jalanan. Baru kemudian saya ketahui dari anak saya bahwa meski hujan lebat tetapi animo pendaftar tetap banyak. Kami tinggalkan Andrie di situ, lalu kami melanjutkan perjalanan ke RS melintasi perumahan kami lagi yang intensitas kepadatannya tetap tidak berkurang. Gila! Setiap musim hujan jalanan macet jadinya.

Saya memutuskan ke kantin dulu karena belum sempat makan obat. Sayang sejak Sabtu langganan saya libur. Terpaksalah saya makan nasi dengan soto ayam. Karena takut efeknya buruk bagi saya, tak banyak yang meluncur ke perut. Meski begitu saya tidak lapar. Dalam pada itu sewaktu menghubungi Andrie dia bilang urusannya lancar. Saya berpesan untuk menunggu dijemput, sebab saya tiba-tiba merasa tak akan berlama-lama di RS. Maka sehabis makan saya diantar si bungsu langsung menuju Unit Radiologi.

Lumayan banyak juga pasien di situ, di antaranya pasien rawat inap yang menunggu di atas tempat tidurnya. Petugas radiologi menanyai saya apakah sudah berpuasa untuk CT Scan? Masya Allah, saya lupa. Akhirnya saya putuskan untuk memundurkan jadwal hingga ke hari Rabu lusa. Lagi pula uang tunai kami tak akan mencukupi untuk membayar semuanya sebab saya harus memesan obat kemoterapi juga.

Dari situ saya berjalan tertatih-tatih ke Laboratorium yang kebetulan sepi pasien. Ketika melintas di muka salah satu poliklinik saya bertemu dengan zuster Herlina alias teh Eeng yang berpembawaan ramah-ceria. Dia bangkit dari duduknya untuk menyapa saya seperti biasanya dengan ramah.

"Assalamu'alaikum, dah tahu ya bu, dokter Bayu resmi ganti waktu praktek mulai hari ini?" Sapanya dengan informasi yang ingin saya ketahui dan berniat saya tanyakan kepada perawat di poliklinik 16 pagi.

"Oh, benar udah ya teh? Okay deh terima kasih kalau gitu. Teh Eeng selalu menyenangkan deh, informatif," sambut saya seraya menyalaminya.

"Ya. Saya senang sih sama ibu, selalu bersemangat," balasnya. "Ibu udah daftar?"

"Oh saya udah kontrol kemarin dulu kok. Ini justru disuruh ke radiologi, laboratorium sama apotek. Payah Carboplatin saya nggak kebagian dana, jadi saya mau pesan sendiri," jawab saya menjelaskan. Dalam hati saya berkata seandainya saya tidak bersemangat pasti zuster Eeng tak akan berbuat sebaik ini kepada saya. Intinya dia bersikap manis karena saya bukan pasien lunglai yang bisanya cuma mengaduh-aduh terus. :-D

"Oh gitu ya. Didoain aja deh semoga semua lancar, aman. Tetap semangat ya!" Serunya seraya kembali ke meja kerjanya selagi saya berlalu ke Laboratorium. Di deretan bangku tunggu saya lihat ada pasien memperhatikan kami, entah apa yang menarik hatinya. Mungkinkah jalan saya yang jelek atau keakraban antara perawat dengan saya?

Sebetulnya RS ini aneh juga. Onkologis saya mengganti waktu prakteknya. Tapi entah mengapa tak ada pengumumannya secara resmi. Hanya kabar angin yang kami dengar dari sesama pasien saja. Maka jadinya tak heran jika beliau beranggapan manajerial di sini kurang baik. Insiden dua minggu yang lalu itu dilabeli dokter saya dengan kata-kata, "saya nggak ngerti sama pihak  RS ini." :-p  Insiden kedua saya rasa akan terjadi lagi minggu ini ketika banyak pasien yang tidak tahu datang mendaftar di jadwal yang lama. Ketidaktahuan mereka membuat kedatangan ke RS jadi sia-sia. Sedangkan malam ini dokter pun sepi pasien. Di situlah dokter akan mencipratkan pertanyaannya soal kelangkaan pasien. Apakah sudah beredar informasi yang terbaru atau bagaimana kejadiannya, sebab beliau sengaja meluangkan waktunya untuk melayani pasiennya di kampung malam itu meski perjalanan Senin malam dari Jakarta padat.

"Dik, ibu pengin duduk di wheel chair deh," tiba-tiba saya merajuk sebab kaki saya terasa amat ngilu lagi kaku di udara yang menebarkan rasa dingin.

"Dari tadi nggak aku lihat yang kosong. Udah lah jalan sedikit lagi, ibu masih sanggup kok. Tadi bu Eeng bilang harus tetap semangat," sahut si bungsu seraya menuntun saya. Dia memang benar entah mengapa tak ada kursi roda menganggur satu pun. Jadi artinya saya harus terus tegak menguatkan tekad menopang badan. Lalu melangkahlah saya menyeret sepasang kaki tua ini.

Tak berlama-lama menunggu saya sudah dipanggil. Petugas tersenyum menyambut saya sewaktu saya mengeluhkan sulit mencari vena saya yang bagus. Karena itu saya berharap dikerjakan oleh teknisi senior.

"Ah, ibu mah tos apal sih nya, janten kasieunan ti payun,"  katanya mengomentari saya yang sudah ketakutan duluan berhubung saya hafal sekali dengan kondisi vena saya yang rusak disebabkan proses kemoterapi.

"Sumuhun bapa, kantenan atuh......," jawab saya membenarkannya. Lelaki berambut keperakan berombak rapi itu menampakkan deretan giginya yang bagus seraya tertawa kecil. "Mangga we lah calik heula...... bismillah."

Dua orang teknisi mendatangi saya. Yang seorang masih sangat belia, sedang satunya cukup senior. Saya ingin dipegang yang senior dan kebetulan memang dia yang akan bekerja. Masih dalam bahasa Sunda saya ulangi lagi keluhan saya. Dia pun menjawab dengan sungguh-sungguh dalam bahasa Indonesia bahwa dia tak akan membiarkan saya kesakitan, sebab vena saya harus dijaga untuk proses kemoterapi nanti.

Dipilihnya vena di punggung tangan saya, bukan di balik siku meski vena di punggung tangan baru digunakan dua hari yang lalu. Saya katakan dokter saya tak sekalian menyuruh saya memeriksakan penanda tumor kemarin dulu sebab waktu itu diwakilkan kepada spesialis bedah umum. Sambil menjalani proses yang amat lamban disebabkan tersendat-sendatnya darah saya yang tersedot ke tabung kami bercakap-cakap. Dia selalu saja menjawab dalam bahasa Indonesia hingga saya menyadari siapa dia. 

"Eh, nuwun sewu bu, kula mboten niteni nek kula ajeng-ajengan kalih njenengan. Tiwasane tek jak ngomong Sunda hahaha.....," ucap saya begitu teringat bahwa dia teknisi asal Purwokerto yang memang paling piawai mengambil darah saya. Akhirnya kami jadi beralih ke dialek ngapak yang kata orang lain sih menggelikan itu. Sayang darah saya akhirnya tiba-tiba berhenti sama sekali sebelum jumlahnya cukup sehingga anak buahnya dimintanya mengambil lagi melalui vena lainnya tentu saja.

"Wah mbak, cukup deh segitu," rajuk saya. 

"Eh kurang bu untuk tumor marker mah, mesti ngambil sedikit lagi," ujarnya menjelaskan.

"Ah, jangan ditusuk lagi lah. Kekurangannya ngambil dari yang kemarin dulu. Atau pastinya udah dibuang ya?" Lontar saya asal-asalan membayangkan jarum bayi itu akan menyakiti saya lagi.

"Wah ya nggak bisa, jangankan kemarin dulu. Yang kemarin juga udah basi lah bu," kata teknisi belia seraya mempersiapkan vena lain di balik siku lengan saya.

"Siapa sih pasiennya?" Tiba-tiba teknisi yang sedang bekerja di seberang saya bertanya seraya mengalihkan perhatiannya kepada saya. "Oh si ibu, sabar ya bu.....," dia menyemangati. Saya sih cuma tersenyum membenarkan. Teknisi itulah yang mengambil darah saya sebelumnya. Jadi dia tahu persis seberapa besar siksaan untuk saya dan koleganya ini. Tapi untunglah didapat 1 cc lagi sebelum saya beralih ke apotek. Hasil laboratorium perlu diperiksakan di laboratorium besar di luar RS sehinnga saya baru bisa mengambilnya paling cepat tiga hari lagi pada jadwal saya berkonsultasi dengan onkologis.

Beralih di apotek pasien banyak juga meski hujan deras masih datang dan pergi. Bu Daisy apoteker yang bertanggung jawab atas pengadaan obat saya ternyata sedang ikut rapat staff. Saya ditemui oleh staff nya yang ternyata jauh lebih tua umurnya dibanding beliau. Staffnya dengan mudah mengenali kami. Tapi dia tak begitu mengerti pokok permasalahan yang kami hadapi. Namun setelah anak saya gencar menjelaskannya dia pun menangkap intinya.

"Oh, jadi obat ini mau dibayar sendiri? Memang sih dik Jamkesda sudah menutup klaimnya," ujarnya.

Anak saya mengangguk sambil menjelaskan bahwa berhubung mereka lalai menginformasikan kepada kami sehingga kemoterapi saya terlambat lagi, maka dokter menyetujui pembelian obat secara mandiri. Rencananya kami akan berangkat membeli di YKI pusat sekalian ke RSKD tetapi terkendala hujan. "Oh baiklah alau begitu, kami pesankan, nanti biayanya kami tagihkan belakangan," kata asisten apoteker itu.

"Tapi tolong segera ya bu, ini kasus gawat bu, nanti dokter Bayu kecewa terus," kedengaran anak saya yang berdiri menghadapnya memberi peringatan. Wah di dalam hati saya, ternyata kondisi saya memang cukup serius. Maka saya harus bisa menghambatnya segera semampu saya. Barangkali hanya dengan berlaku tenang, pasrah dan tawakal saja itu dapat tercapai. Sesuatu yang tak mudah sebenarnya.

Harga obat yang berjuta-juta itu memenuhi pikiran saya. Tapi saya tak bingung sebab Allah saya yakini ada di samping kami. Aroma KekuasaanNya yang dahsyat sering menguar memenuhi sekeliling hidup saya.

Tak urung kami meninggalkan RS juga untuk menjemput si kakak di kantor BPJS. Katanya dia harus membayar premi kami di bank tertentu yang ditunjuk. Jalanan sudah mulai lancar, tapi halaman kantor BPJS justru semakin padat hingga bahu jalan beralih fungsi menjadi lahan parkir.

Premi BPJS terbagi tiga. Sebagai pengguna SKTM saya masuk kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dikenai premi 25,- ribu Rupiah seorang per bulan. Sesuai dengan pemberitahuan pejabat DKK minggu lalu. Nantinya dalam rawat inap saya cuma mendapat kelas 3. Selanjutnya peserta yang menginginkan perawatan di kelas 2 membayar premi 45,- ribu Rupiah, sedangkan 60,- ribu Rupiah untuk perawatan di kelas 1. Bagi orang yang tak pernah mengalami sakit serius sistem ini justru terasa memberatkan dan tak bermanfaat. Saya simak komentar kang Jamil yang mengatakan membayar tapi tak turut memanfaatkan. Walau menurut saya, lebih enak begitu, daripada membayar dan mengalami sakit atau tidak ikut BPJS tapi tiba-tiba sakit keras. Coba bayangkan dari mana kita bisa memperoleh uang puluhan hingga ratusan juta dengan mudah untuk membiayainya???

Sambil melaju ke Bank Mandiri anak saya terus saja bercerita soal BPJS dan pengalamannya barusan. Soal pembayaran premi masyarakat diarahkan ke Bank Mandiri, BRI dan BNi '46. 

Mengenai diri saya, ternyata saya berkasus. "Oh pantas kamu ngurusnya agak lama," komentar saya.

"Ya. Sebab ternyata di basis data mereka identitas ibu tercantum sudah. Tapi merupakan peserta ASKES bukan Jamkesda," cerita anak saya.

"Lha iya betul. Tapi itu dulu. Ibu sekarang nggak bisa mengakses ASKES ibu lagi wong kartu ibu nggak pernah ada di tangan, dipegang PNS nya sendiri," sahut saya spontan. Sejak semula berobat teman-teman DWP saya sering bertanya-tanya mengapa saya kesulitan dana pengobatan sedemikian hebat meski punya jaminan kesehatan PNS. Dan itu selalu saya jawab saya tidak lagi diberi izin memanfaatkannya oleh mantan suami saya sebagai pemegang haknya.

"Nah tadi akhirnya ku katakan juga. Kujelaskan malah bagaimana jauhnya bentangan jarak antara kita dengan bapak. Maka akhirnya si petugas masuk dulu berkonsultasi dengan pimpinannya, lalu keluar dengan solusi ibu disesuaikan statusnya jadi ikut aku. Bayaran preminya aku ambil yang 60,- biar ibu bisa dapat kelas 1 waktu perawatan." beber anak saya melegakan.

"Oh ya alhamdulillah. Ya mas, ambil kelas 1 deh. Just in case, kalau tiba-tiba sewaktu-waktu ibu perlu dilarikan ke RS sedangkan untuk ke RSKD kejauhan, misalnya emergency gitu lho, ibu biar di keep di kelas 1 RSKB supaya mas Bayu lebih senang visiting. 'Kan tahu sendiri beliau bilang RS ini kamarnya nggak memadai," ujar saya dibenarkan kedua anak-anak saya. 

Tak terasa mobil tiba di Bank yang juga padat. Termasuk antrian pembayaran premi BPJS. Kami menunggu sekitar setengah jam tapi tanpa kartu JKN BPJS di tangan anak saya. Sebab ternyata bukti setoran premi pertama itu lah yang bisa ditukarkan dengan kartu JKN BPJS. Sehingga setelah mengembalikan saya ke rumah terlebih dulu baru lah anak saya diantarkan menyongsong masa depan pengobatan saya yang insya Allah akan jadi lebih baik, kembali ke kantor BPJS mengambil kartu kepesertaan kami.

Marilah kita berharap saudara-saudaraku..........

(Bersambung)

6 komentar:

  1. Insya Allah semua berjalan dng baik, lancar dan tanpa hambatan birokrasi lg buat ibu dlm pengobatan. Bu..cerita di atas ibu pny jaminan kesehatan PNS, kenapa ga make itu bu? *maap kalo saya jd usil pengen tau* abis gemes...sm birokrasi yg hrs dihadapin ibu sm anak2 kalo mau berobat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga harapan kami. Rencananya kartu JKN mau saya coba pakai, tapi hujannya nakutin euy, jadi saya batal. Besok aja deh.

      Soal Askes ada persoalan intern di keluarga saya.

      BTW onkologis saya ketawa waktu saya cerita ada pasien koleganya yang pengin pindah ke dia. Dia bilang, "ah, ilmunya sama kok......."sambil ketawa.

      Hapus
    2. jadi nanti pas saya check up ke Dharmais, jadi ketawan dong "nah ini nih pasien yang di bilang sama bu julie..."gitu kali ya bu kata dokter ibu..he he he
      Iya bu...dari jumat sampai hari ini ujan mulu...apalagi waktu hari senin bu..banjirrr di mana-mana.
      Jadi rencana nya kapan bu mau ke Dharmais nya? janjian yuk.....

      Hapus
    3. Nggak bakalan diketawain kok, wong saya nggak nyebut nama. Saya cuma bilang dari klinik dr. DDP

      Iya dalam waktu dekat saya ke RSKD karena tadi saya ke RSKB mau pemeriksaan penunjang memanfaatkan JKN saya. Eh, ternyata sistemnya lain dari sistem Jamkes. Pemeriksaan penunjang hanya berlaku di jaswal prakteknya dokter yang minta pemeriksaan. Artinya tadi nggak bisa dan saya mesti balik lagi Sabtu. Takutnya dokter saya kecewa lagi, terus nyuruh ke RSKD sekalian secepatnya.

      Ia nanti kalau saya mau ke sana saya kabarin via blognya mbak Evi ya.

      Hapus
  2. Iya yah, jakarta banjir lagi.. Wargax pasti mikir seribu kali kalo mau keluar, Semoga banjirx lekas ada solusi dan Ibu lekas membaik Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin-amin-amin. Ini hujan lebatnya baru turun. Terima kasih ya mbak Eti.

      Hapus

Pita Pink