Powered By Blogger

Minggu, 26 Mei 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (63)






Awan mendung dengan matahari yang mengintai malas di sela-selanya menjadi pembuka hari yang menandai ketidaknyamanan dalam hidup saya seharian ini. Walau saya tahu hujan lebat semalam mengabarkan bahwa sepertinya musim penghujan akan datang kepagian, tetapi saya tetap tidak siap bahkan dibalut kemuraman. Untung saja ini bukan hari Sabtu jadwal saya berobat ke Rumah Sakit sehingga saya bisa bersantai menghabiskan hari-hari di atas pembaringan saya saja. Tapi tak urung saya tidak juga mudah terlelap, sebab saya sudah kembali dilanda "bad mood". Temper tantrum itu datang lagi seakan-akan ingin menguasai jiwa saya yang kelabu.

Sebetulnya yang membuat saya ingin marah hanyalah masalah sepele. Besan sepupu saya hari ini menikahkan putrinya. Kami diundang datang, karena sewaktu sepupu saya menikahkan anak gadisnya di Jawa Timur tahun lalu saya tak dapat datang. Soalnya saya sudah dalam keadaan sakit. 

Bagi saya, undangan ini wajib kami utamakan. Tidak saja disebabkan kami belum berkesempatan berkenalan dengan pihak pengundang, melainkan juga karena sepupu saya beserta keluarganya tak dapat hadir di Bogor sini. Kendala jarak dan keadaan kesibukan keluarganya lah penyebabnya. Mengingat itu, saya tak ingin mengecewakan kemenakan saya yang khusus datang mengantarkan undangan itu dengan tangan malam-malam rintik gerimis ke rumah saya. Saya pastikan anak-anak saya harus datang seawal mungkin mewakili keluarga besar kami, mewakili sepupu saya, tentunya.

Anak-anak saya bersedia. Dengan syarat saya tidak ikut sebab mereka khawatir saya akan tergoda hidangan perhelatan yang tentunya mengandung banyak pantangan bagi saya. Kakak saya pun menyatakan akan datang dengan anak-menantunya. Tapi saya menyuruh anak-anak saya untuk berangkat sendiri, sebab lokasi pesta jauh sekali dari rumah lagi pula melewati daerah pusat perbelanjaan yang biasanya padat wisatawan luar kota. Untuk itu saya sarankan mereka menyewa kendaraan sekalian berziarah ke makam keluarga berhubung sejak saya sakit tak pernah lagi kami menengok makam. Di Bogor yang sudah kesulitan tanah pemakaman, kita harus sering-sering berziarah supaya makam keluarga kita terawat. Sekarang di Bogor banyak sekali makam-makam yang tiba-tiba dikabarkan lenyap begitu saja, tergantikan oleh makam baru karena keluarga pemiliknya tidak pernah kelihatan berziarah. Jadi saya khawatir itu terjadi pada keluarga kami seperti yang dulu sering diberitakan di media massa, terutama di pemakaman umum Cina.

Ternyata anak saya malas ke makam. Kata mereka, tak pantas berziarah memakai kemeja batik rapi. Walau saya usulkan untuk pulang berganti pakaian dulu, mereka tetap tak mau. Ya, saya mencoba mengerti. Berkenaan dengan akan tibanya awal Ramadhan, kiranya anak-anak saya ingin berziarah massal bersama warga kota lainnya di masa itu seperti adat kebiasaan di kampung kami.

Kemudian saya minta mereka menyewa angkutan kota, sebab di kota kami yang bertetangga dengan kota metropolitan sama sekali tak ada taksi. Satu-dua yang kelihatan melintas adalah taksi sewaan dari Jakarta yang mengantarkan penumpangnya ke Bogor. Saya ingatkan bahwa menjaga silaturahim dengan cara tidak terlambat tiba di tempat undangan merupakan adab ummat Islam. Anak saya mengerti, namun mereka lebih memilih ikut dengan keluarga kakak saya yang entah akan berangkat kapan. Akibatnya sepagi itu saya marah-marah tak ada habisnya. Sehingga anak-anak saya pun merasa jengah, lalu menuruti kemauan saya. Mereka berangkat lebih dulu serta tiba dua puluh menit lebih awal dari keluarga kakak saya.

Seharusnya dengan begitu saya tak perlu kecewa lagi. Tapi entah mengapa, saya tetap saja memendam sisa-sisa amarah yang mengakibatkan luka pada tumor saya terasa sangat menusuk-nusuk. Parahnya lagi pagi-pagi jaringan listrik sudah mati sehingga tak ada sarana hiburan. Bahkan sekedar untuk membaca pun ruangan terasa gelap ditelan awan mendung di angkasa. Akhirnya saya terpaksa menelan obat pereda rasa sakit yang sudah dua hari ini sengaja saya tinggalkan mengikuti anjuran dokter. Saya berharap akan merasa lebih baik karenanya.

Saya habiskan waktu untuk mengobrol dengan kemenakan saya yang sejak dipindahkan tugasnya dari pabrik ke kantor pusat perusahaan di Jakarta, jarang tidur di rumah. Sebab pulang-pergi Bogor-Jakarta tak menjanjikan dia tiba tepat waktu di kantornya setiap hari. Kemenakan saya menghidangkan sepiring nasi ketan untuk sarapan saya tanpa diminta, sedang dia sendiri makan kue-kue kecil sambil menyeruput teh manis panas yang kepulan asapnya tertangkap mata saya. Lalu siangnya sambil menunggu listrik tersambung kembali, kami makan sebungkus pecal yang bumbunya legit meski tidak terlalu kental. Sungguh nikmat yang meredakan amarah saya agaknya.

Ah ya, mengobrol bisa meredam stress juga. Bahkan sambil mengobrol itu saya teringat pesan kakak saya yang pernah merawat almarhum suaminya penderita kanker. Waktu itu kepada anak-anak dan kakak sulung saya yang tinggal menemani saya dia berpesan untuk bersabar jika kelak setelah menjalani kemoterapi saya menjadi galak. Dulu suaminya juga pemarah seperti keadaan saya sekarang. Tapi dia tahu itu bukan sifat aslinya, melainkan bawaan dari rasa tak nyaman yang diakibatkan oleh rangkaian pengobatan kanker yang sakitnya tak tertahankan. Belum lagi di hari-hari terakhirnya, almarhum ipar saya sama sekali tak mau makan, selalu merasa kepanasan sehingga minta bertelanjang dada. Duh, saya tak mau menjadi seperti itu. Lebih-lebih lagi saya tak mau mati sekarang dalam keadaan menyusahkan orang lain. Maka lagi-lagi saya merasa harus banyak beristighfar guna mengadukan hal saya kepada Tuhan. Kemenakan saya tersenyum menanggapi hal ini.

Saya kemudian mengambil air sembahyang sebab sudah masuk waktunya sembahyang dhuhur, bertepatan dengan suara adzan kaji dari masjid di kejauhan. Saya hadapkan wajah dan hati saya hanya kepadaNya, seraya memohon ampunan atas kelakuan saya yang menyusahkan perasaan anak-anak saya. Tentu sekalian memohon kesembuhan yang sesembuh-sembuhnya karena penyakit ini tak ada baik-baiknya selain membantu menyadarkan saya bahwa saya harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Itulah yang sekarang menjadi landasan saya untuk semakin mempelajari agama. Saya takut segera mati tanpa bekal untuk dinikmati di alam kubur.

Sedang berdzikir tiba-tiba kedengaran salam anak-anak di muka pintu. Dengan sumringah mereka menceritakan perhelatan yang mereka datangi. Tak dinyana, di mana pun kami berada, ke mana pun keluarga saya melangkah, selalu saja ada orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan keluarga kami. Kata anak saya, pengantin wanitanya tak lain dan tak bukan adik kelasnya semasa di SMA! "Dik Aning yang pertama mengenali saya, dia tanya belakangan kepada dik Gissa ~kemenakan saya yang mengundang ke pernikahan Aning~ apakah saya kak Andrie kakak kelasnya di SMA?" cerita anak saya Andrie. Subhanallah! Anak saya konon terperangah mendengar namanya disebut-sebut pengantin. Dia menyadari bahwa riasan pengantin itu telah "merubah" wajah si anak dara sedemikian rupa sehingga dia tak lagi mengenali temannya dulu. Kemudian mereka sekali lagi bersalam-salaman. Tapi kali itu adalah salam persaudaraan yang insya Allah abadi, sebab kini kami terikat kekerabatan jadinya. Mulailah hati saya yang penuh nafsu busuk tercerahkan oleh peristiwa tak terduga itu meski mendung tetap saja menaungi angkasa, menggantungkan awan-awan gelap yang sepertinya sarat air tapi malas untuk menumpahkannya ke bumi.

(Bersambung)

4 komentar:

  1. Bunda... apa kabar? Kangen Bunda nihh... Salut dengan semangat bunda yang rajin nulis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih ada teman lama bertamu. Terima kasih sapaannya. apa kabar nih, cantik? Iya kita lama nggak ketemu di mana-mana ya. Saya lagi nunggu kesempatan dioperasi, doain ya biar saya panjang umur.

      Gimana dengan pelajaran bahasa Koreanya, makin banyak yang ikut belajar denganmu kan?! Sukses selalu ya.

      Hapus
  2. masih boleh makan pecel nih mbak? bikin adem hati ya abis makan pecel..

    ituloh mbak, makam disana ga dibayar ke tukang yang urus biar ga digusur? ato ditiban? biasanya di pemakamanan umum kan bayar sama tukang bersihbersih walupun lama ga berkunjung..

    dunia ternyata sempit ya.. pengantinnya masih "temen" pun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh dong, pecel kan sayuran. Saya kalo males makan nasi, ya makan pecel itu aja biar aman. Kebetulan di tukang soto yang dekat rumah saya itu sekarang jualan bumbunya legit deh.

      Makam biar pun ada yang kita titipi masih mungkin kegusur karena yang jaga makam orang banyak sih. Sedangkan yang kita titipi cuma seorang doang. Yang benernya sih kan asal kita udah bayar kontrak tanah makam setahun nggak bakalan digusur, cuma saya tetep aja was-was.

      Hapus

Pita Pink