Powered By Blogger

Jumat, 24 Mei 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (62)






Angka yang konon menurut orang-orang merupakan angka keberuntungan itu sudah saya lewati di blog ini. Jurnal saya kali ini akan jadi jurnal ke 301. Tak disangka, setelah memindahkan jurnal-jurnal saya yang lama dari suatu tempat karena keterpaksaan, selama hampir setahun di sini saya sudah berhasil mencapai angka 300. Meski tentu saja isi jurnal saya tak ada yang istimewa atau bagus sehingga menyedot banyak pembaca. Tapi tak mengapa juga, toch tujuan saya membuat blog ini hanyalah untuk mencatatkan semua pengalaman sehari-hari saya saja. Sasarannya pun bukan masyarakat luas, melainkan diri sendiri dan keluarga saya. Namun saya pada akhirnya mereguk kebahagiaan juga sebab tanpa terasa sudah lebih dari lima puluh orang yang menjadi pengikut saya di sini dengan pembaca yang juga lumayan jumlahnya meski saya tahu mereka tak semuanya mengikuti blog saya secara tercatat.

Selama menulis jurnal di sini sudah banyak orang yang masuk untuk mencari tahu segala sesuatu hal mengenai penyakit kanker dan pengobatannya, juga penyakit-penyakit kandungan. Ada yang memasukkan kata kunci "biaya endoskopi di Yogya", "bekas infus kemoterapi bengkak", "endometriosis berobat ke Singapura", "dialog komunikasi perawat dengan pasien" hingga "disuruh gunduli rambut" dan macam-macam hal yang kadangkala membuat saya bertanya-tanya sendiri, mengapa mesin pencari menempatkannya ke blog saya. Lalu dengan demikian merasa sia-siakah saya menulis blog ini?

Tidak. Saya tak menganggap demikian, karena tak ada suatu kesia-siaan yang pernah saya perbuat selama ini jika saya mendengarkan dengan baik apa yang pernah dikatakan sebagian teman-teman dan kerabat saya tentang kegemaran saya tulis-menulis. Menulis di sini justru mendatangkan banyak manfaat, setidak-tidaknya saya jadi banyak kenalan baru.

***

Kali ini saya menulis jurnal terpicu oleh penuturan seorang pramuniaga toko furniture yang melayani kami membeli kursi meja belajar. Soalnya, suatu malam tanpa disangka-sangka, kursi yang sedang saya duduki di muka layar personal computer saya tiba-tiba patah kakinya menyebabkan saya jatuh terduduk di lantai. Untung saya dalam posisi yang nyaman, sehingga saya sama sekali tidak celaka. Namun berhubung ruang belajar kami berada di lantai dua yang terbuat dari kayu, maka bunyi gedebag-gedebug si kursi jelas mengagetkan seisi rumah. Mana lagi saya ikut-ikutan menjerit kaget. Lha bagaimana sih, sedang enak-enaknya duduk mengetik tanpa bergoyang-goyang, tiba-tiba pantat saya langsung menyentuh lantai?! Usut punya usut, ternyata konstruksi kaki kursi itu yang rapuh. Sebab setelah diamat-amati dan dibanding-bandingkan dengan dua lagi kursi sejenis yang dipakai kedua anak-anak saya, kelihatan bahwa kedua kursi lainnya lebih kokoh.

Pramuniaga toko itu saya bisiki untuk tidak menyuruh delivery man mengantarkan kursi ke rumah sebelum pukul empat sore, soalnya saya masih mau pergi berobat ke sinshe sesudah dari toko. Dengan serta merta si tuan toko yang masih muda menanyai saya, siapa yang sakit, dan di mana sinshe itu berpraktek. Saya kemudian memberikan keterangan seperlunya, sambil menunjukkan penyakit saya yang kalau diamat-amati jelas nampak dari luar secara kasat mata.

Demi mendengar penjelasan saya, gadis pramuniaga tadi kemudian mengatakan teringat akan almarhumah ibundanya. Beliau katanya berpulang setelah menderita kanker payudara juga selama dua tahunan. Usianya masih muda, dan penyakitnya sempat diobatkan ke dokter serta menerima sembilan kali kemoterapi berikut penyinaran. Tapi ibundanya tak lagi tertolong meski secara fisik tubuhnya kelihatan gagah, tidak loyo bagaikan orang sakit pada umumnya. Nyaris tak ada bedanya dengan saya, katanya sih begitu.

Saya bertanya kepada dokter siapa ibundanya berobat. Dijawab bahwa ibunya berobat ke RSUPN di Jakarta. Di sanalah ibunya menjalani rangkaian kemoterapi dan radiasi yang mengakibatkan ibunya selalu sakit tak bergairah untuk bangun di minggu-minggu pertama pasca dikemoterapi. Bahkan katanya ibunya muntah-muntah hebat hingga mengakibatkan mulut serta kerongkongannya luka-luka. Sariawan, begitu pengertian saya sebab kakak ipar saya yang menderita kanker kandung kemih juga mengalaminya sebelum akhirnya meninggal juga. "Ibu hebat amat, kalau ibu saya sih, habis kemoterapi semingguan biasanya tiduran melulu," komentarnya seraya merapatkan kedua telapak tangannya ke kepala menggambarkan istirahat ibunya.

"Tapi katanya ibu si teteh kelihatan gagah?" Sergah saya bingung mencernakan kata-katanya yang saling bertolak belakang tadi. Saya pandangi wajahnya yang kuning langsat berseri-seri dihiasi rambut hitam lebat yang diikat rapi.

"Iya, tapi sebetulnya sih sakit bu, maunya tidur-tiduran saja," jawabnya lagi menegaskan. "Badannya gemuk, nggak kurus kering sih...........," ia memperkuat lagi penggambaran tentang sosok ibunya. "Jadi Mamah saya nggak kelihatan kayak orang sakit banget, cuma ya sekarang sih sudah meninggal juga lah," ia mengakhiri ceritanya.

Saya kemudian menceritakan bahwa saya hanya merasa sedikit lesu, tidak muntah-muntah, cuma kehilangan selera makan ditambah tidak sariawan namun menderita bisul-bisul di kepala. Saya buka tudung kepala saya untuk menunjukkannya yang segera disambutnya dengan sahutan, "aiiiiih...... seperti rambut ibu saya, habis dikemoterapi langsung botak. Saya nggak nyangka ibu kayak Mamah saya."

Pembicaraan kami menimbulkan decak kagum dia dan tuan tokonya. Mereka kemudian merasa penasaran akan sinshe saya. Bahkan dari perbincangan kami, tuan tokonya minta alamat sinshe untuk mengobatkan keluarganya yang juga sakit keras. Tentu saja saya berikan dengan senang hati, karena menurut sinshe saya dia tidak boleh mengiklankan diri oleh nenek-moyangnya, namun dilarang menolak pasien yang datang kepadanya oleh sebab cara-cara lain misalnya karena tertarik setelah mendapati ada pasiennya yang tertolong.

***

Kemoterapi jelas menyiksa. Itu satu penegasan lagi bagi saya. Belum pernah saya dengar pasien kemoterapi yang tidak merasa disusahkan oleh efek kemoterapinya. Bahkan pada akhirnya setelah masa yang menyusahkan itu berakhir, pasien belum tentu juga bisa mempertahankan jiwanya. Yang akhirnya menyerah direnggut kanker tak bisa dikatakan sedikit. Ya, sebab kalau menurut pengarang dan penyanyi Dee alias Dewi Lestari di dalam sebuah cerita pendeknya, "kemoterapi ~adalah~ racun yang berbohong jadi obat" (Lara Lana, di dalam Filosofi Kopi).

Definisi asal-asalan tapi benar yang dikatakan Dee tadi menurut saya tepatnya adalah racun ~yang digunakan untuk membunuh sel jahat~ yang menyamar dengan nama obat. Ini jelas berbeda dengan jejamuan sinshe yang alami karena tidak mengandung unsur bahan kimia sama sekali. Jejamuan ini justru mendandani diri sehingga menjadi perawat yang memelihara tubuh penderita agar kuat menjalani "racunisasi" tadi. Jejamuan tak mengakibatkan rusaknya sel-sel sehat pada tubuh saya dan sejumlah penderita kanker yang mendobeli kemoterapi mereka dengan jejamuan herbal. Sebuah buku yang dihadiahkan oleh teman maya saya yang ditulis oleh penderita kanker indung telur yang sudah berhasil melewati kemoterapinya mengatakan bahwa herbal Amerika yang dimakannya bersama-sama obat kemoterapi membantunya kuat mengatasi efek samping kemoterapi. Begitu pun berita di sebuah koran nasional tentang kolaborasi pengobatan herbal Cina dengan pengobatan modern pada sebuah RS khusus kanker di China seperti yang sudah saya tuturkan dulu menyatakan hal yang sama.

Ketika siang itu saya berkonsultasi dengan sinshe, dia memberikan gambaran membaik pada kelenjar ketiak saya yang di minggu sebelumnya dinyatakan agak membengkak, sehingga persis seperti hasil rabaan pemeriksaan dokter mengharuskan saya dikemoterapi sekali lagi minggu depan. Ya, kemoterapi untuk kasus saya, kanker payudara stadium III-B yang agresif memang dirancang sebanyak 3 atau 4 kali dengan jeda waktu masing-masing tiga minggu supaya mengecil dan mudah untuk dioperasi. Sinshe tertawa geli waktu mengingat saya keliru membeli obat padanya. Agaknya gara-gara saya alpa menelan jamu antipembengkakan selama tiga hari lah tumor saya membesar. Lalu mengecil setelah saya kembali menelannya beberapa waktu belakangan ini.

Tak semua kanker payudara dikemoterapi 3 atau 4 kali seperti saya. Masing-masing tergantung kondisi tumornya, pada stadium berapa dengan tingkat keganasan (grade) seperti apa. Ibu pramuniaga toko furniture yang saya jumpai hari itu ternyata meninggal setelah menerima 9 kali kemoterapi. Juga saya sempat berjumpa dengan teman seruangan yang menjalani 6 serta 7 kali kemoterapi. Saya termasuk yang tidak perlu berlama-lama di awalnya, akan tetapi direncanakan dokter onkologi saya, kelak sesudah dioperasi akan dikemoterapi lagi selama setahun penuh mengingat penyakit saya merupakan kasus kambuhan yang berpindah tempat dari organ reproduksi menuju ke payudara. Tak mengapa, saya tetap akan membentengi diri dengan pengobatan sinshe ini.

Hal itu amat didukung abang R sahabat karib kakak saya yang sudah kehilangan istrinya akibat penyakit kanker kelenjar getah bening. Kemarin dulu dia menelepon lagi, sebelum saya berangkat ke sinshe sekedar menanyai kabar terakhir saya. Begitu baik dan penuh perhatiannya dia kepada saya, sampai dia mengingatkan agar saya tak bosan berobat ke sinshe sebab sinshe merupakan pengobat alternatif yang pas. Dulu istrinya tidak dibawanya ke sinshe, melainkan kepada seorang kyai yang memberinya jejamuan juga tapi menggunakan cara pembedahan guna melawan sel jahat itu. Tentu saja selain pasiennya merasa amat kesakitan, hal ini tidak dapat dibenarkan. Semua berakhir sia-sia, si pasien wafat dalam penderitaan yang tak terkirakan. 

Saya pun berjanji kepada bang R untuk mengikuti sarannya. Sekali lagi saya merasakan betapa banyaknya limpahan cinta untuk saya setiap hari. Allahu Akbar! Hanya karena Kebesaran Tuhan jua lah saya merasakan semua itu.

(Bersambung)

6 komentar:

  1. Jadi sekarang ngetik ini sambil duduk di kursi baru dong.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe....... enggak juga sih, lha kan saya ngambil punya salah seorang anak saya. Jadi akhirnya mereka berdua yang beli baru. Kebetulan punya si adik kursinya udah geripis jok nya, dan dia ada niat mau beli cuma tertunda melulu. :-)

      Hapus
  2. enak nih mbak ngetik pake kursi baru.. dan dapat pengalaman dengan pramuniaganya plus "iklanin" sinshenya.. kaya gini deh iklan yang keren, dari mulut ke mulut, ga perlu pake tipi ato bayar biaya iklan.. pasien sinshe yang merasakan manfaatnya sudah iklan sendiri..

    selamat ya sudah jadi blog ke 300 lewat.. terus ngeblog ya mbakyuuu.. ngeblog kan salah satu obat mujarab juga untuk berbagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah enggak pake yang baru kok. Saya ambil punya anak saya, warisan bapaknya tapi enak karena joknya fiber yang keras. Yang baru dipake anak saya, soalnya saya nggak naksir.

      Sinshe memang nggak ngiklan. Saya aja taunya karena dibawa teman yang sembuh oleh dia. Dan teman saya dibawa teman kakaknya yang cocok berobat di dia. Begitu seterusnya sih.

      Insya Allah saya terus ngeblog kok, nggak peduli ada yang baca atau pun enggak.:-D

      *salam pede jaya*

      Hapus
  3. selamat dulu bunda atas postingan ke 301 nya :)

    bunda termasuk produktif lho, rata2 0,86 postingan per hari.

    percayalah bun, tidak ada yang sia2 dari kebiasaan bunda menuliskan pengalaman bunda ini.

    walau saya nyasar ditempat bunda karena 'bogor' tapi saya belajar banyak dari keinginan dan kekuatan bunda memerangi penyakit yang bisa menghinggapi wanita kapanpun dan dimanapun ini.

    semangat bunda! dan terus menulis...

    selamat menikmati sisa hari minggu. dan doa selalu dari jauh untuk kesembuhan bunda...


    salam
    /kayka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya kak. Saya nulis iseng-iseng jadi keterusan tuh hahahaha......

      Selamat nulis juga ya, saya memang ngisi blog rata-rata tiap hari. Kecuali kalau lagi nggak sanggup duduk lama.

      Hapus

Pita Pink