Powered By Blogger

Minggu, 23 Juni 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (76)






"THIS SITE WILL BE TEMPORARY CLOSED". Begitu anak saya mengajari saya untuk menulis permulaan jurnal ini. Soalnya dia yakin banyak orang yang akan mencari-cari tulisan saya selama seminggu ke depan, tetapi penulisnya belum mampu duduk menuliskan perjalanan hidupnya sehari-hari seperti biasanya.

Besok saya masuk perawatan di RS Kanker Dharmais untuk membuang payudara saya yang sakit dan membusuk meski kini bau busuknya sudah tak tercium lagi sejak dirawat dengan serius. Pembedahan ini akan menjadi yang ke-12 kali sepanjang hidup saya jika dihitung dengan bedah-bedah minor serta bedah Kaisar untuk melahirkan kedua anak saya.

Takut kah saya? Rasanya tidak terlalu. Saya justru lebih takut disuntik tepat di pusar saya seperti yang saya jalani kemarin. Soalnya untuk saya suntikan itu baru pertama saya alami dan lagi sasarannya pun bukan tempat yang umum.

Tapi tidak bisa bohong juga sih, saya memang cukup ngeri dengan suasana di RSKD. Pasalnya meski merupakan RSU tetapi tentu saja sebagai lembaga pusat penelitian kanker nasional di sana banyak pasien dengan penampilan yang mengerikan berkat hiasan pembalut luka di sana-sini dan kepala-kepala tanpa rambut. 

Kebanyakan pasien di poliklinik kanker adalah perempuan. Pertama saya sadari ketika saya terlalu lama menunggu dokter datang di RS di kampung kami. Saya tengok kiri dan kanan saya secara iseng, isinya para ibu. Ada juga sih kaum lelakinya, namun mereka kelihatannya hanya mengantarkan pasien perempuan seperti halnya anak-anak saya. Setelah itu kalau kebetulan saya berobat di RSKD saya pun iseng-iseng lagi memerhatikan keadaan sekitar. Begitu juga adanya, kebanyakan duduk lah kaum perempuan di kursi-kursi tunggu klinik. Saya kemudian menduga-duga sendiri, agaknya prevalensi penderita kanker lebih banyak perempuan jika dibandingkan dengan lelaki. Dan dari hasil mengobrol sesama pasien, saya pun menyimpulkan kebanyakan kami menderita kanker payudara meski ada juga yang bukan.

***

Kemarin dulu sewaktu mempersiapkan operasi, saya sempatkan diri mengobrol dengan para pasien kanker. Banyak yang penampilannya masih serupa orang sehat. Tapi sesungguhnya di balik tubuh mereka yang gemuk ada penyakitnya. Tentu lebih-lebih lagi di tubuh yang kurus kering. Sebagaimana yang saya temui ketika baru menjejakkan kaki di lobby RS. 

Telinga saya disambut oleh suara batuk-batuk hebat yang kedengaran melengking kering dari mulut seorang perempuan kurus di deretan bangku tunggu. Dia seakan-akan repot hendak mengeluarkan lendir di tenggorokannya, membuat suami entah saudara lelakinya menggosok-gosok punggungnya sambil menatap dengan prihatin. Tak salah lagi, perempuan itu pasti penderita penyakit berat. Mungkin saja kanker paru-paru seperti yang merenggut nyawa ayah mertua saya juga Lina salah seorang teman saya dulu. Tapi boleh jadi juga menderita penyakit lainnya karena RS ini punya banyak dokter spesialis termasuk yang tak dipunyai RS lain, yakni dokter spesialis paliatif yang bertugas untuk memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada para penderita yang tingkat penyakitnya sudah parah atau bahkan belum diketahui sakit apa sama sekali, beserta keluarganya. 

Teman saya pegawai di sini lah Direktur Unit Paliatif yang sempat menumbuhkan sedikit ketersinggungan pada saya sewaktu pertama saya dibawa berobat oleh teman-teman DWP Kemenlu. Sebab sebetulnya karena tidak pernah bertemu di suatu unit kerja baik di dalam maupun di luar negeri dengan bu dokter yang direktur itu, saya jadi tak mengenal beliau. Karena itu saya sempat mengira saya dianggap teman-teman saya sudah tak mungkin disembuhkan lagi sehingga memerlukan jasa pendampingan dokter paliatif. Kisruh kecil ini berakhir dengan hubungan manis di antara saya dengan sang dokter waktu saya menyampaikan keberatan saya kepada bu dokter. Beliau bilang kepada saya adalah hanya suatu kebetulan belaka saya dibawa menghadap seorang dokter spesialis paliatif. :-D

Di lorong tempat tunggu pasien klinik khusus yang saya datangi, saya ditanyai oleh seorang perempuan tentang tujuan kedatangan saya. Dia tak mengira saya pasien kanker payudara stadium lanjut yang akan dioperasi, karena dilihatnya tubuh saya kekar serta tak layu. Apalagi saya mengenakan jilbab sebagaimana biasanya, bukan sekedar tutup kepala layaknya penampilan muslimah lainnya sehari-hari. Perempuan sebaya saya itu datang untuk mencari ahli darah mengantarkan ibundanya yang menderita kekurangan sel darah merah yang parah. Mereka dikirim dari RS Fatmawati yang tak mampu memperbaiki kondisi si sakit. Jika dilihat, ibu sepuh berusia kira-kira tujuh puluh lima tahun itu memang nampak pucat. Tubuhnya pun cenderung kurus. Saya jadi tahu, lorong itu adalah tempat berkumpulnya para spesialis spesifik semacam ahli hematologi darah, ahli bedah kanker, ahli paliatif dan ahli bedah-bedah lainnya.

Berpindah ke ruang tunggu pasien dokter jantung, saya justru bertemu dengan berbagai pasien tua maupun muda dengan tubuh yang kurus maupun gemuk. Saya ada di antara yang gemuk, meski tidak segemuk yang lain. Suara pertama yang saya dengar berasal dari pembicaraan sepihak seorang perempuan kurus tinggi yang saya taksir berumur lebih tua sedikit dari saya, mendekati enam puluh tahun. Dengan telepon genggam di tangannya tak henti-hentinya dia memperbincangkan situasi dan suasana kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah. Seru sekali agaknya, diselingi kata-kata dalam bahasa daerah. Belakangan barulah kami saling sapa setelah dia puas dengan teleponnya. Perempuan bersuku Batak tapi lebih menyerupai orang Maluku itu penderita kanker payudara juga, stadium yang lebih rendah dari saya. Dia sudah lama berobat di situ, akan tetapi beberapa kali menjalani terapi di RSCM karena RSKD pernah tak memiliki alat radiasi. Sebagai PNS guru dia merasa sangat beruntung bisa berobat di mana saja menggunakan fasilitas ASKES. Agaknya dia merasa iba kepada saya setelah mendengar cerita saya bahwa saya terpaksa berobat di kampung saja karena saya cuma pengguna Jamkesda. Namun untungnya dokter saya mau mengorbankan uangnya untuk mendanai saya berobat di RSKD ini karena keterbatasan alat serta tenaga di ruang operasi RS di daerah kami.

Ibu guru yang kurus itu tertarik mendekati kami yang kebetulan gemuk semua setelah mendengar kami mempercakapkan mengenai kanker payudara yang kami idap. Dua orang ibu gemuk yang asyik bercakap dalam bahasa Jawa menceritakan bahwa kanker mereka terdeteksi setelah dilakukan biopsi dengan cara mengiris sedikit jaringan tumor mereka untuk diperiksa di laboratorium Patologi Anatomi. Waktu itu saya sempat terheran-heran sebab dulu saya hanya dibiopsi dengan cara diambil sampel tumor saya menggunakan jarum serupa jarum suntik berukuran besar. "Mboten kok bu, tumor kula dibeleh, dipendet sak manten," kata kedua ibu itu seraya menunjukkan seruas ibu jarinya. Tumor mereka disayat diambil dagingnya sebesar seruas ibu jari, itu yang mereka alami. Yang seorang juga pasien kiriman RS Fatmawati, jadi biopsinya dilakukan di RS Fatmawati. Sementara biopsi saya dulu dilakukan di Bogor dan hasilnya yang ditampung di dalam sebuah kotak kecil sekali yang transparan saya bawa sendiri ke RSKD. Kelihatan jelas isinya semacam jaringan lemak yang amat tipis. Oh ya, besok lusa kakak saya yang juga dicurigai mengidap kanker payudara setelah dokter mengetahui saya mengidapnya, juga akan menginap semalam untuk dibiopsi dengan cara seperti biopsi pasien RS Fatmawati tadi. Pasalnya kakak saya berobat kepada dokter onkologi lainnya bukan dokter saya yang menjadi semakin sibuk dan karenanya sulit ditemui di Bogor.

"Tumor saya juga dibiopsi di RSCM dengan dibedah begitu," tiba-tiba ibu guru tadi menengahi obrolan kami. "Ibu pasien kiriman juga ya? Dari mana?" Selidiknya.

"Saya pasien dokter 'BB' dari Bogor. Tapi RS di daerah kami tidak punya peralatan dan tenaga yang memadai untuk operasi saya yang katanya rumit membutuhkan keterampilan tingkat tinggi," jawab saya. Guru itu mengangguk-angguk. "Ya, banyak pasien yang nggak bisa ditangani di daerah dirujuk ke sini. Ini kan pusat penanganan penyakit kanker, saya pun akhirnya ke sini juga, meski saya tinggal di Jakarta," bebernya antusias. "Tumor ibu macam mana, stadiumnya berapa? Saya stadium II, tapi habis kemo selalu saja tubuh saya lemah kekurangan Hb. Itu sebabnya saya ke sini mau minta asam folat. Dulu malah saya sempat dirawat sebab itu," ceritanya tentang dirinya. Saya pun kemudian menjawab sejelas-jelasnya.

Jawaban saya memancing komentar salah seorang ibu gemuk yang datang disertai anak SMP yang mendampinginya. Katanya beliau juga tumornya luka pecah menimbulkan lubang dan berbau seperti tumor saya. Rasanya selain sakit pun gatal. Amat mirip dengan kondisi saya. 

"Tumor saya sih nggak pecah bu, nggak gatal juga, cuma keluar cairan dari putingnya," celetuk salah seorang di antara kami di situ memancing seorang perempuan muda yang kurus kering tapi tetap bergairah, kemudian ikut-ikutan bertanya. Dia tidak menderita kanker payudara.

Perempuan yang semula saya kira gadis Korea itu ternyata pengidap kanker serviks. Penderitaannya berupa rasa sakit dan pegal-pegal di sekitar pinggulnya mirip kista ovarium yang dulu membawa saya berkali-kali ke atas meja bedah. Bedanya, dia tidak mengalami kejang otot tapi pendarahannya hebat tak kunjung berhenti. Pantas saja sejak tadi dia kelihatan memegang-megang pinggangnya seraya meringis seperti menahan sakit. Kulitnya yang terang ternyata bukan disebabkan darah Korea, melainkan gadis Sunda yang kekurangan sel darah merah akibat pendarahan hebat yang dideritanya. Kasihan sekali saya mendengar penuturan ibunya bahwa gadis itu sudah dioperasi, dikemoterapi dan meninggalkan dua anak kecil-kecil di rumahnya. Tapi suaminya nampak amat suportif, duduk mendampinginya dengan sabar.

Perempuan muda berumur tiga puluh tahunan itu khawatir penyakitnya akan menyebar ke payudara juga. Atau setidak-tidaknya kelak tumbuh di payudara seperti penyakit saya.

Seorang lainnya mengaku menderita kanker rektum atau anus. Ibu belia berumur 29 tahun yang juga kurus kering dengan kulit hitam seperti si ibu guru tadi sudah dipasangi kantung kolostomi untuk membuang kotorannya. Dulu operasi itu dilakukan di Kuching, Malaysia Timur setelah dokter di Singkawang, Kalimantan Barat mendiagnosanya mengidap kanker. Waktu itu dia dirujuk ke Jakarta, ke RSKD ini. Akan tetapi karena terlalu lemah, memandang jauhnya perjalanan dengan pesawat, keluarganya membawanya berobat ke Malaysia naik mobil selama sepuluh jam. Tetapi setelah uangnya habis, dia pun menurut berobat ke Jakarta. Di sini dia menumpang tinggal pada keluarganya untuk menghemat ongkos. Katanya anaknya baru seorang, terpaksa ditinggalkannya di Singkawang. Dia menghadap dokter untuk mengganti kantung kolostominya yang sudah butuh diperbaharui. Begitulah nasib penderita kanker kolorektal. Tubuhnya sudah tergantung kepada kantung yang harganya saya taksir tidak murah juga.

Perempuan terakhir yang menghampiri saya adalah seorang pegawai PT Krakatau Steel yang datang khusus dari Cilegon seorang diri menumpang bus selama kurang lebih dua jam. Semula saya kira dia sesama penderita kanker payudara melihat kepalanya ditutupi ciput. Tetapi ternyata dugaan kami keliru. Dia akan mengobati luka di dahinya yang tidak lebar, akan tetapi dicurigai dokter bersifat ganas. Sambil mempermainkan gadget di tangannya, perempuan berumur nyaris enam puluh tahun dan akan memasuki masa pensiunnya ini memperlihatkan hasil browsingnya tentang pengobatan hiperbarik. Tapi saya tak tertarik membahasnya. Yang saya tahu pengobatan menggunakan tabung berisi oksigen ini pernah menolong menyelamatkan almarhumah sahabat saya yang sakit sehabis menyelam di Laut Jawa.

Menjelang penderita kelainan kulit itu pergi, datanglah seorang perempuan gemuk lagi yang saya taksir orang Jawa juga. Benar saja ketika disapa pasien lain, dia mengaku datang dari Batang, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kanker payudaranya kambuh kembali setelah sekian tahun, karena dia mengakui tidak rajin memeriksakan dirinya. Padahal dia sudah pernah dioperasi serta diperingatkan dokter untuk rajin memeriksakan diri. Ketika saya menimpali pembicaraannya dengan menanyakan apakah di Pekalongan, Pemalang atau Semarang tak ada dokter yang bisa memeriksanya, dia menjawab dengan malu-malu bahwa dokter itu ada hanya dia yang tak patuh. Selama ini dia sudah merasa sehat dan biasa mengonsumsi jejamuan herbal. Tapi dugaan saya barangkali saja bukan herbal Cina semacam yang saya makan dan memberi manfaat tubuh yang fit pada saya termasuk ketika dikemoterapi.

***

Agaknya kanker memang bisa kambuh kembali bahkan setelah dinyatakan sembuh sehabis dioperasi, dikemoterapi maupun disinar. Buktinya kebanyakan pasien yang saya temui adalah pasien-pasien lama yang sudah sakit menahun lalu sempat dinyatakan sembuh. Sebagian besar justru datang dari luar Jakarta, termasuk saya yang datang dari kota terdekat. Kiranya kanker memang masih merupakan penyakit yang tak mudah ditangani bahkan oleh seorang dokter yang ahli sekali pun. Betapa menyedihkannya.

Tadi pagi teman sekolah saya Butet yang memang sangat memperhatikan saya, kembali datang menengok setelah mengetahui dari anak saya bahwa saya siap akan dioperasi hari Selasa. Dia tak hanya membawa buah tangan berupa apel yang segar, juga dibawakannya cerita untuk mendukung saya berani melawan kanker tanpa kenal menyerah. Meski ibundanya dulu meninggal karena kanker kulit setelah tekun menjalani perawatan dengan radiasi alias penyinaran di RSKD, tetapi dia mengharapkan saya tak takut-takut. "Kamu lihat istri bang Edi, kakak ipar Emmy teman kecil kita dulu, akhirnya kanker di paru-paru mengakhiri nyawanya setelah dia lebih dulu diserang kanker payudara. Soalnya meski dia seorang ilmuwan, peneliti, tetapi dia lebih mempercayai segala pengobatan alternatif daripada ke dokter. Dan kamu jangan lakukan itu. Upayamu makan herbal dan terapi sinshe, tidak boleh membuatmu malas melakukan pengobatan ke dokter. Jalani semua kemoterapimu sehabis ini ya Jul, aku tahu kamu kuat. Lihat, wajahmu berseri-seri seperti tidak sakit apa pun. Badanmu gemuk seperti orang sehat, lagi pula kulitmu tetap cerah," bujuknya seraya memegang-megang lengan saya. Butet memang selalu penuh perhatian kepada teman-temannya.

Betapa mengerikannya ketika Butet menceritakan kondisi istri bang Edi yang di akhir hayatnya selalu mengeluarkan cairan kental serupa agar-agar dari paru-parunya yang ditampung di kantung khusus transparan. Nafasnya pun tinggal satu-satu, sedang bobotnya berkurang drastis. Dia mengingatkan saya kepada kerabat saya yang meninggal dua minggu yang lalu.

Sedangkan saudara sepupu Butet pasien di RSCM penderita kanker kelenjar getah bening di leher, kulitnya terutama pada wajah, nampak menghitam efek kemoterapi. Rambutnya sih konon tidak habis sama sekali, namun jelas saja rontok hebat tak ubahnya rambut saya. Itulah sebabnya Butet meminta saya untuk tak melepas pengobatan ke sinshe, namun juga mematuhi semua proses pengobatan di RS. "Kamu beruntung sekali, meski Jamkesda mu tidak bisa mendanai operasi mu, tapi dokter yang merawatmu bersedia memberikan uangnya untukmu. Aku jadi ingat sepupuku, dia sering kali pulang dari RSCM dengan bantuan dokternya karena kehabisan ongkos, termasuk dibayari ongkos pengobatannya sebagian oleh si dokter duluan. Kanker memang nggak murah Jul, jadi kamu mesti memanfaatkan segala kemudahan yang tersedia untukmu dengan sebaik-baiknya," pungkas Butet sebelum mencium kening saya dan memeluk erat tubuh saya lalu melangkah pulang.

Kasih sayang itu terus jua melimpah kepada saya. Dan saya lagi-lagi merasa amat beruntung. Siapa yang tidak senang coba dapat bantuan serta perhatian dari sana-sini? Ah, persahabatan, betapa indahnya dia di dunia ini.

(Bersambung)

8 komentar:

  1. Bunda, semangat ya..
    semoga semuanya lancar..

    Doaku dari jauh.. *peluk erat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya masih kepengin eksis bisa ngeblog lagi kok. Diaminin ah doanya. Kayaknya semakin banyak yang doain saya, semakin sering saya ngaminin, semakin mantap saya ke RS menggapai kesembuhan saya.

      *peluk balik* saya berangkat dulu ya...........

      Sampai jumpa, till we meet again, ngantos pinanggih malih, wilujeng patepang deui.........

      Hapus
  2. Kirim doa dari jauh, semoga semuanya lancar dan Bunda bisa segera sehat kembali...
    *peluk sayang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirimannya diterima dengan senang hati ya cik. Terima kasih banyak. Sekarang saya lagi tunggu giliran duoperasi, kata dokternya sih sore.

      Hapus
  3. "Kasih sayang itu terus jua melimpah kepada saya. Dan
    saya lagi-lagi merasa amat beruntung. Siapa yang tidak
    senang coba dapat bantuan serta perhatian dari sana-
    sini? Ah, persahabatan, betapa indahnya dia di dunia ini"

    Peluk bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. peluk cinta juga buat nak Indri dan Medina cantik.

      Hapus
  4. keren ada sahabat mbak julie orang batak yang baik dan bikin semangat..
    go go eda butet..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadi maghrib dia datang bawa tenan-teman SMA. Kayaknya sekalian habis tahlilan 100 harian teman saya yang meninggal kena DB itu.

      Hapus

Pita Pink