Powered By Blogger

Senin, 17 Juni 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (72)

Kepergian Ina, perempuan cantik di umurnya yang ke 45 tahun memberi banyak pelajaran bagi saya. Waktu akan meninggalkan rumahnya, rumah duka yang saya inapi selama dua malam, saya menemukan sebuah buku baru yang nampaknya belum lama selesai dibaca di meja tidur di kamarnya. Saya pungut buku itu, sebab saya selalu ingin tahu apa saja yang dibaca orang lain. 

Wajah seorang lelaki yang bulat bertopi dengan pandangan mata mengarah ke atas menghiasi halaman depannya. Penulisnya Risma Inoy, agaknya seorang blogger mencatatkan dan mengisahkan perjuangan seorang penyanyi lumpuh yang berkarya dari atas kasur dan kursi rodanya akibat terserang penyakit Guillain Barre Syndrome (GBS) yang relatif baru diketahui di Indonesia.

Membaca intinya yang dituliskan orang di bagian tertentu bukunya, saya memutuskan untuk meminjamnya. Sebab saya yakin buku itu tentu ada manfaatnya bagi para penderita penyakit berat, tak terkecuali saya. Sebab buku yang disebut-sebut inspiratif ini diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di tanah air yang kualitas bacaannya tak diragukan lagi. Jadi pastilah buku ini akan membawa angin segar, pencerahan bagi saya dan anak-anak saya.


***

Benar saja, di buku itu dikisahkan seorang pemuda 17 tahun yang tiba-tiba mengidap kelumpuhan ketika sedang bertamasya bersama teman-temannya ke pantai. Gejala-gejala awal penyakit yang terdiagnosa bertahun-tahun kemudian itu cuma rasa nyeri pada tulang-tulangnya dan lemas yang membuat anggota geraknya menjadi kaku. Belakangan dia terserang sesak nafas hingga pingsan yang membuatnya benar-benar tak mampu lagi bangkit untuk selamanya. 

Bayangkan, seorang pemuda remaja yang tengah mengayuh perahunya ke masa depan tiba-tiba dihadapkan pada penyakit yang sedemikian dahsyat dan mengerikan. Soal sakitnya digambarkan amat sangat luar biasa. Apalagi ketika berbulan-bulan hingga tahunan dia tak bisa beranjak dari pembaringannya akibat kelumpuhan, kulit bagian belakang tubuhnya menjadi luka permanen yang menyakitkan. Pelan-pelan dagingnya membusuk menimbulkan lubang yang perlu dibersihkan dengan serangkaian tindakan bedah guna mencegah infeksi yang makin meluas. Bagaimana rasanya, sudah lah, tak perlu kita ketahui sebab hanya akan membuat kita semakin takut, ngeri dan ingin menangis saja. Dua puluh dua tahun dia menjalani semua itu dengan tabah dalam "kebutaan" pengetahuan tentang penyakitnya. Namun dia tetap tabah menjalani hari-harinya yang dijalankan di RS maupun tempat pengobatan alternatif serta di dalam kamar tidur rumahnya sendiri. Dengan dukungan dana yang tak sedikit keluarganya mencoba segala upaya penyembuhan, yang tak pernah mendatangkan hasil. Hanya berkat kesabaran si sakit lah semua teratasi, tentu saja ditunjang oleh kasih sayang orang-orang dekatnya yang tulus mencintainya termasuk kemudian teman SMA nya yang memilih untuk diperistri supaya bisa merawat penderita ini selamanya. Betapa penuh keharuan serta mengajarkan serangkaian semangat dan cinta kasih bagi siapa pun yang membacanya. Tak heran kiranya Ina membaca buku ini yang entah dihadiahkan oleh siapa. Boleh jadi dibelinya sendiri ketika dia merasa jemu dengan rutinitas sakitnya lalu memaksa suaminya untuk mendorongnya di atas kursi roda ke toko.

Ina juga inspiratif untuk saya. Dia tak menangisi nasibnya ketika terusir dari rumahnya sendiri yang terjual guna mendanai biaya sakitnya. Dia tak larut dalam penyesalan ketika akhirnya dia terpaksa harus bergabung di rumah mertuanya yang juga sudah sakit-sakitan. Di sana dia sendiri ikut merawat sang ibu yang sudah ditinggal lebih dulu oleh suaminya akibat kanker hati. Tentu saja sesanggupnya, sebab saya tahu persis rasanya penderita kanker. Tubuh mudah merasa letih. Itu yang dulu juga saya alami, tapi saya tak pernah dilabeli dengan label penderita "penyakit orang gedongan". Ya, tak salah kiranya kalau kanker dikategorikan penyakit orang kaya. Sebab kalau kita miskin, tinggal menunggu lubang kubur saja adanya, kecuali kita menerima dana Jamkes seperti yang sekarang alhamdulillah saya nikmati. Dulu itu, sepandai-pandainya dokter di negeri tetangga tempat banyak rakyat Indonesia berobat, sel-sel liar di tubuh saya selalu dikatakan sel jinak. Sampai bosan saya mendengar penjelasannya, apalagi menjalani rangkaian bedah yang seperti tak habis-habisnya dicadangkan untuk saya. 

***

Melayat ke rumah kerabat mendatangkan pengetahuan lebih dalam lagi mengenai Jaminan Kesehatan (Jamkes), sebuah program yang digulirkan pemerintah untuk membantu pendanaan kesehatan rakyat tidak mampu. Kata istri sepupu saya seorang perawat senior di sebuah RS tua, Jamkes terbagi dua. Program tingkat nasional yang pemegang kartu Jamkesnya bisa berobat di mana saja di seluruh Indonesia, adalah Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sedangkan mereka yang kehabisan kuota Jamkesmas namun dipandang perlu dibantu, diberi Jamkes tingkat daerah yang penyelenggaranya adalah Dinas Kesehatan masing-masing daerah tingkat II. Namanya pun disesuaikan menjadi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Kekurangannya hanya tidak bisa digunakan secara nasional, terbatas saja di daerah di mana Jamkesda itu dikeluarkan. Itu sebabnya di RS tempat saya berobat pun, loket pelayanan pasien Jamkesda Kota dipisah dari loket pelayanan Jamkesda Kabupaten. 

Jamkesda yang dibiayai dari APBD masing-masing daerah tentu saja dananya tidak akan bisa diseragamkan. Tentunya disesuaikan dengan Pemasukan Asli Daerah (PAD) masing-masing. Itu juga sebabnya dokter onkologi saya mengatakan, bahwa penggunaan obat-obatan terbagus selalu dikabulkan oleh pengelola Jamkesda Kabupaten tidak seperti di wilayah kota. Sangat bisa dimengerti, soalnya objek wisata daerah kami yang mendatangkan pemasukan dari sektor wisata sebagian besar terletak di wilayah Kabupaten. Begitu juga dengan pabrik-pabrik serta kekayaan alam terletak di Kabupaten. Kabupaten kami antara lain menghasilkan emas, yang ditambang di daerah sebelah barat berbatasan dengan wilayah Propinsi Banten. Belum lagi penambangan batu kerikil/pasir serta batu kapur semuanya berada di wilayah Kabupaten.

Menilik itu semua, sebetulnya terasa perlunya pemerintah pusat meningkatkan anggaran kesehatan agar masyarakat yang memerlukan dan perlu menerimanya merasakan pemerataan. Dengan demikian, tak perlu ada pikiran kotor yang muncul di benak penerima Jamkesda dengan plafon anggaran kecil. Saya tersenyum kecut ketika awal pelaksanaan kemoterapi saya akan dimulai dokter menganjurkan saya untuk berpindah kediaman ke wilayah kabupaten lalu mengajukan permohonan Jamkesda di sana agar saya bisa memperoleh obat terbaik mengingat kanker saya sudah dalam stadium lanjut III-B yang sifatnya sangat agresif pula. Sesuatu hal yang sangat tidak mungin, dan tidak pula patut sebab hanya akan menyalahi aturan pemerintah belaka namun terlontar begitu saja dari rasa keprihatinan seorang dokter yang penuh dedikasi dan belas kasih terhadap tugasnya.

Saya saksikan di luar negeri rakyat di sana sudah memiliki dana kesehatan sendiri. Sehingga ketika sakit, ada yang menjamin biaya pengobatan mereka. Bahkan di Republik Afrika Selatan bekas negara apartheid pun, di wilayah-wilayah pemukiman orang kulit hitam disediakan RS serta pusat-pusat perawatan kesehatan yang mudah dijangkau penduduknya. Nyaris tak ada bedanya dengan pemeliharaan kesehatan warga kulit putih di distrik mereka yang "terang benderang bermandikan cahaya gemerlap". 

Soal asuransi kesehatan ini, saya pun pernah hampir menghadapi masalah ketika mengikuti tugas mantan suami saya di luar negeri. Waktu itu entah mengapa, tak seorang pun pegawai di kantor mantan suami saya yang ikut asuransi kesehatan. Secara resmi selama di luar negeri memang semua pegawai diminta membayar sendiri asuransi kesehatan mereka, sebab tentu saja ASKES PNS yang kami gunakan di Indonesia tidak berlaku secara internasional. Tapi, demi menyadari bahwa saya dan anak saya yang seorang sakit-sakitan, saya berhasil membujuk kepala keluarga kami untuk ikut asuransi. Berhubung preminya terbilang mahal, jadilah hanya kami berdua yang diasuransikan dan ternyata memang betul-betul terpakai.

Pada suatu hari saya mengalami pendarahan yang tidak berhenti-henti yang saya curigai berasal dari organ reproduksi saya. Karena cenderung menghebat sehabis saya bawa bekerja di Dharma Wanita untuk membantu pelaksanaan kegiatan kantor, akhirnya saya memeriksakan diri ke RS. Dokter mengatakan saya hamil di luar kandungan dan perlu segera dioperasi. Untung saja saya ikut asuransi itu tadi, jika tidak tak tahu akan dibayar dengan apa biaya RS yang demikian mahal itu. Lebih untung lagi sakit saya di RS tak berlama-lama. Cukup seminggu saya dirawat, sesuai dengan batas yang diizinkan pihak asuransi. Maka, berkaca dari pengalaman pahit tersebut, setiap penugasan di LN akhirnya kami semua ikut asuransi. Inilah yang kemudian juga sangat menolong ketika saya menjalani serangkaian pembedahan di Singapura serta Republik Afrika Selatan. Jadi kesimpulannya, bersedia payung sebelum hujan amatlah penting artinya. Merawat kesehatan sebelum sakit, sangat dianjurkan. Akan tetapi akan lebih baik jika dibarengi dengan menabung guna berjaga-jaga seandainya kita jatuh sakit. Sakit itu bisa memiskinkan kantung sih, betul 'kan?! :-(

(Bersambung)

6 komentar:

  1. Ternyata sesudah "berpulang" pun almarhumah masih meninggalkan sesuatu yang berguna buat orang lain ya, Bund... setidaknya buat Bunda yang menemukan buku bagus itu.

    Saya juga punya kakak ipar yang lumpuh sejak usianya belasan tahun. Konon penyakit langka juga yang nggak ada obatnya.
    Tapi sampai sekarang dia hidup mandiri, nggak pernah ngerepotin saudara-saudaranya. Malah kita yang sehat kadang-kadang jadi malu kalau ngeliat dia dengan keterbatasan begitu masih rajin kerja, bisa bantu orang lain juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin aja saudara Cipie penderita GBS kayak penyanyi ini. Dia mengisahkan, penyakit ini baru ketahuan namanya belakangan ini di Indonesia, dulunya dianggap penyakit langka.

      Soal Ina, saya memang harus berterima kasih banget karena buku yang dibelinya itu memacu saya untuk nggak menyerah menghadapi nasib saya.

      Salam buat saudaranya ya cik, salut lah sama mereka.

      Hapus
    2. Nggak taulah apa namanya. Yang jelas waktu usia belasan tahun tiba-tiba aja tulang belakangnya jadi melenting. Badannya makin lama makin doyong ke belakang, kayak orang mau nanggah gitu. Lama-lama jadi nggak bisa jalan, tangannya juga nggak bisa ngangkat, cuma bisa duduk aja.
      Tapi dia bisa jahit, pinter bikin kue dan buka warung buat penghidupannya sendiri.

      Hapus
    3. Tuh ya cipie, Tuhan selalu sayang sama ummatNya. Walau dikasih sakit dan keterbatasan fisik tapi dikaruniai ilmu jahit, masak dan dagang buat menjaga harga dirinya tetap tinggi. Asal kita percaya pada Allah dan rencanaNya sih. Salut banget! Salam sayang ya buat beliau.

      Hapus
  2. banyak "ilmu" dari almarhumah.. *alfatihah..
    bukunya asik dibaca nih mbak.. jadi tahu jenis penyakit ini..

    BalasHapus

Pita Pink