Powered By Blogger

Kamis, 25 April 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (50)



Cinta kasih ternyata tak pernah kering dalam kehidupan saya. Meski saya ditinggalkan kepala keluarga kami selagi anak-anak belum mandiri, akan tetapi ternyata peristiwa itu justru menunjukkan kepada kami bahwa cinta kasih itu tak dibatasi oleh hubungan kekerabatan dan darah saja. Sebab bumi Allah itu maha luas, di mana manusia yang menghuninya pun amat banyak dengan segala sifat mereka yang tak pernah terduga bagaimana adanya.

Baru-baru ini teman-teman lama saya bergantian menengok ke rumah. Nyaris seperti diatur, mereka tak datang serempak. Agaknya di antara mereka seperti sudah ada kesepakatan untuk bergiliran datang supaya saya lebih sering lagi bertemu dengan orang-orang di luar lingkungan rumah saya agar saya tak merasa ditinggalkan seorang diri serta terasing. Sepertinya mereka ingin menunjukkan bahwa saya tetaplah bagian dari kelompok mereka, meski saya pernah diracuni bisikan syaithon yang memaksakan kehendaknya untuk menempatkan saya pada posisi terkucil. Subhanallah, Tuhan Maha Adil! Mereka ingin menghibur saya dan mendorong supaya saya bisa melupakan segala kepahitan serta penyakit saya agar bisa lekas sembuh.

Memang demikianlah, suasana yang menggembirakan hati dipercaya akan membantu mempercepat kesembuhan seseorang selain tentu saja upaya-upaya medis. Setelah kunjungan teman-teman sejawat satu angkatan dari kalangan Korps Pejambon Enam yang mengantarkan uang bantuan pengobatan saya, masih ada lagi kunjungan teman sejawat yang datang dari salah satu negara Eropa. Di sela-sela kesibukan menikahkan putrinya di Surabaya, beliau sengaja bertandang ke tempat saya sebelum kembali ke tempat tugasnya. Dulu pun ketika saya dihadang masalah amat berat, beliau menyempatkan diri menengok saya dan anak-anak untuk membantu menyelesaikan persoalan kami. Karena itu saya tak akan pernah lupa kepada beliau yang terhitung orang bijak tersebut.

Tak hanya itu, seperti yang sudah saya ceritakan di jurnal sebelumnya saya kedatangan teman lama dari Kanada yang juga membawa titipan tanda simpati teman-teman kami di sana. Kedatangannya yang juga sekalian akan menengok adik iparnya yang dikabarkan sakit serupa saya serta ternyata sama-sama berobat di sinshe saya menjadi penguat keyakinan saya bahwasannya ternyata saya tidak pernah dikucilkan orang. Masih sangat amat banyak orang yang peduli kepada saya. Sehingga sempat terlintas untuk membujuk iparnya yang sakit itu untuk kembali ke sinshe dan menjalani pengobatan ganda seperti saya. Keinginan ini sudah saya sampaikan melalui teman yang membawa kami berobat ke sinshe karena saya sendiri sebetulnya belum kenal dengan pasien tadi. Sayang kemarin di harinya saya berobat ke sinshe tak terlaksana, sebab teman saya tak kelihatan datang apalagi orang yang akan saya bujuk tadi. Dengan menahan kecewa saya mencoba mengerti mengapa kami tak bisa bertemu. Pasalnya teman kami di dalam jawaban SMS nya memenuhi permintaan saya mengatakan, sebaiknya saya tak usah mempercakapkan pengobatan sinshe dulu kepadanya meski saya boleh bertandang ke rumahnya kelak dengan diantarkan teman saya ini. Terbersit di pikiran saya bahwa si pasien agaknya sudah jenuh dengan penyakitnya sehingga tak lagi peduli dengan pengobatan apa yang dijalaninya. Ah, menyedihkan sekali. Sebab saya percaya bahwa segala upaya pengobatan terutama yang nyata-nyata membawa hasil sebaiknya terus dilakukan dengan segala cara. Apalagi soal ongkos berobat, sinshe kami termasuk sinshe yang relatif berjiwa sosial tanpa mementingkan ongkos pengobatan dari pasiennya. Saya telah membuktikan itu. Uluran tangannya sangat membantu menguatkan stamina saya dalam melawan serangan kanker yang masuk kategori agresif berdasarkan pemeriksaan laboratorium anatomi RSK Dharmais.

Hari ini kejutan manis itu datang lagi. Sahabat sejati saya yang suaminya merupakan mantan atasan langsung mantan suami saya kembali datang mengantar seseorang dari masa amat lalu saya. Istri purnakaryawan yang kini sudah almarhum itu terkenal amat pendiam dan halus budi bahasanya. Sebagai putri Parahyangan dari kota yang dilingkupi gunung dan perbukitan asri serta samudera sekalian, Sukabumi, bu Tien amatlah menyenangkan. Keluarga beliau terkenal dermawan sejak dulu. Meski posisi almarhum suaminya dapat dikatakan cukup baik dan berpengaruh, tetapi mereka tak sombong. Inilah yang membuat saya sudah menduga akan kedatangan beliau ketika sahabat akrab saya berkirim SMS meminta izin untuk datang membawa kejutan lagi untuk saya tapi tak disebutkan siapa orangnya.

Setiap gerak langkah yang ditimbulkan bu Tien adalah keindahan yang menyejukkan jiwa. Tutur katanya yang amat lembut adalah cerminan sejuknya air tanah Sukabumi yang menghidupi manusia di sekitarnya. Bu Tien yang senantiasa berdandan trendy tetaplah ibu yang berpola pemikiran sarat tradisi. Yakni sebagai perempuan atau ibu sejati hendaknya tidak banyak bicara dan datang dengan nasehat-nasehatnya yang tidak perlu. Beliau cukup membawakan kehangatan cinta kasih lewat cerita-cerita keluarganya sendiri yang amat menyentuh kalbu yang membukakan mata saya bahwa kanker itu memang harus dilawan semampunya. Sebab ternyata, kemenakan beliau yang turut saya kenal ternyata telah meninggal muda dibabat kanker kelenjar getah bening yang merangsek menghabisi isi perutnya mulai dari rahim, indung telur semacam yang saya derita dulu bahkan hingga usus besar dan usus halusnya. Dia terlambat berobat sebab senantiasa menyepelekan rasa sakit yang dideritanya, sehingga ketika usianya genap 47 tahun dia meninggalkan dunia yang fana ini dengan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya yang belum mandiri. Tapi bu Tien menyampaikannya kepada saya dalam kata-kata yang terpilih sehingga tak mengagetkan dan merenggut kebesaran semangat saya untuk melawan kanker.





Kunjungan ibu Tien Sukarna yang duduk di sebelah saya bersama kak As dan mbak Naning

Siapa sangka sekarang bu Tien sudah berumur lebih dari delapan windu? Sosoknya yang masih gagah ditunjang oleh gigi geliginya yang nampak utuh serta rambut yang menghitam kelam membuat saya terpicu untuk ikut-ikutan ingin merawat diri sebaik-baiknya. Cucunya yang sudah sembilan orang adalah harta karun yang membahagiakan beliau, begitu yang saya tangkap dari obrolan kami. Sedangkan putrinya yang empat orang adalah wanita-wanita karier yang bisa dibanggakan sebab punya potensi yang baik untuk memajukan bangsa ini.

***

Lagi-lagi kanker kelenjar getah bening kedengaran di telinga saya. Namun berbeda dari yang saya lihat sendiri dulu, pada pasien ini kanker itu menyerang perutnya, bukan rongga dadanya seperti pasien yang dulu berobat dari rumah dinas mantan suami saya di Singapura. Kondisi ini mengingatkan saya pada kemenakan teman saya yang juga saya lihat sendiri ketika di Singapura, penderita kanker kelenjar getah bening yang mengeluh sakit perut. Jadi, almarhumah Endah adalah pasien kanker kelenjar getah bening yang saya dengar untuk ketiga kalinya sepanjang hidup saya.

Menurut cerita bu Tien, pasien yang satu ini mengalami sakit perut namun disepelekan. Dia seringkali keluar-masuk kamar kecil tetapi selalu dijawab sedang masuk angin jika ada yang menanyakan sebetulnya apa yang terjadi padanya. Hingga suatu hari perutnya membesar. Tapi lagi-lagi dia berdalih perutnya kembung, hingga benar-benar merasa kesakitan sehingga keluarganya memaksanya berobat ke RS di Jakarta. Di RS itu mula-mula dia didiagnosa menderita radang usus buntu yang membuat perutnya membengkak. Kemudian barulah dokter mencurigai tumbuhnya massa di dalam rongga perut. Tetapi semula dicurigai sebagai tumor kandungan yang belakangan diketahui merupakan kanker kelenjar getah bening yang tumbuh di rongga perut sehingga menempel di ususnya baik usus besar maupun usus halus serta rahim berikut indung telurnya. Dapat dibayangkan bukan seberapa besarnya tumor itu? Juga rasanya yang amat menyiksa?

Saya pun dulu mengalaminya bersamaan dengan tumbuhnya kista yang dinyatakan jinak di indung telur saya. Sehingga pembengkakan di indung telur itu menempel di sebagian usus halus saya yang akhirnya membusuk dan dibuang sebanyak sebelas sentimeter saja. Meski akhirnya dokter yang merawat saya di Singapura membebaskan saya dari jeratan penyakit kanker lewat hasil patologi anatomi yang mereka lakukan, nyatanya di tahun berikutnya penyakit saya tak ikut musnah. Saya masih terus saja mengeluhkan nyeri yang sama berikut kegiatan keluar-masuk kamar kecil persis seperti almarhumah Endah hingga akhirnya sekali lagi saya harus merelakan perut saya dijamah untuk menghabiskan organ kandungan saya yang masih tersisa berupa sebelah indung telur saya. Barulah sejak itu saya merasa lebih baik, meski rasa sakit sesekali terasa hingga kini yang entah apa penyebabnya. Pernah dokter ahli penyakit dalam saya di negeri kecil mungil itu mendiagnosa sebagai "Irritable Bowel Syndrome/IBS" (sindroma irritasi usus) sehingga saya harus rutin memeriksakan diri dan mengonsumsi obat-obatan yang katanya akan sangat menolong meski nyatanya tidak. Tapi saya tak bisa menggugat, sebab menurut keterangan baik dokter saya maupun naskah-naskah kedokteran, penyakit ini tak diketahui apa penyebabnya. Jadi saya terpaksa berpasrah nasib. Untunglah ketika akhirnya kini saya menderita sakit di payudara saya, penyakit yang nyaris tanpa nama itu mempunyai "derajat" yang tinggi, yakni kanker. Jadi mendengar kisah penderitaan kemenakan ibu Tien ini saya hari ini merasa yakin bahwa apa yang disebut IBS oleh dokter saya di Singapura berikut tumbuhnya jaringan liar di sekitar organ reproduksi saya secara terus-menerus dari tahun ke tahun dulu itu sesungguhnya adalah kanker jua. Namun saya kini justru merasa amat beruntung, karena kanker itu tak bisa merenggut nyawa saya. Insya Allah.

Sebagai penambah semangat saya berjuang menghadapi ganasnya kanker, ibu Tien menghadiahi saya sepasang telekung cantik berikut kitab suci dan buku doa. Subhanallah, ternyata selalu ada cinta kasih yang menghampiri saya tak terduga. Sebagai pengingat akan pentingnya memohon kepada Allah, bu Tien bijak menyentil saya lewat pemberian beliau. Pesannya seraya menyerahkan hadiah istimewa itu, hendaklah saya mendoakan juga beliau dan keluarganya seraya berpasrah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Siapa pun tahu Tuhan itu si Empunya hidup. Jadi, hendaklah kita senantiasa bersandar kepadaNya. Cinta kasihNya seluas samudera, dan saya sudah membuktikannya, alhamdulillah!



(Bersambung)

14 komentar:

  1. Balasan
    1. Nggih, mbenjang mawon nek bar kemo dinten Setu nggih. Kesuwun rawuhe nak Patjoel.

      Hapus
  2. bu, i-b-s itu gejalanya pakai diare atau konstipasi. kok diagnosanya bisa ngawur gitu ya. pantesan obat2nya gak ngaruh.

    semangat ya bu, maap blog saya khusus makanan.. jangan dibuka drpd ngiler hehehe

    *yg cuma bisa ngasih semangat dari jauh*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang iya, dan penyakit saya kan begitu juga gejalanya. Iya deh lain kali saya nggak main ke rumah jeng Onit ah daripada ileran.......... :-(

      Hapus
  3. Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.
    Mudah-mudahan semua kejutan manis ini membuat Bunda makin cepet sembuh ya...

    Tapi kalo liat di foto, Bunda mah masih kelihatan kayak nggak sakit lho. Masih manis pula senyumnya. Hebat pisan daya tahannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah semua ini karena KaruniaNya semata cik. Anak-anak diberi kekuatan batin dan fisik merawat saya, jadi saya bisa tegar menghadapi penyakit saya. Semua orang juga bilang gitu, malah yang datang nengok sudah siap-siap mau nangis aja akhirnya narik lagi air matanya hahahahaha........

      Karena itu saya mesti bersyukur sama pertemuan saya dengan teman lama yang bawa saya ke sinshe itu lho. Hebat memang pengobatan herbal Cina, selalu ada hasilnya asal nggak pakai alat apapun, murni pakai enerji tangannya dan herbal gitu aja.

      Hapus
  4. telekung itu mukena bukan mbak?
    salam ya buat ibu tien, baik sekali sahabatsahabat mbakjulie..

    itu soal diagnosa, ga heran deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, orang Melayu nyebutnya Telekung termasuk orang Singapura.

      Nanti kalau saya kontak beliau saya sampaikan salamnya ya, lihat wajahnya aja udah bikin hati tenang deh. Suaranya selain lembut, juga jarang kedengaran, beliau lebih suka nanya sepotong terus menyimak jawaban kita dengan baik. Saya juga heran, ternyata teman-teman saya nggak ada yang musuhin saya seperti yang dulu dibilang seseorang ke saya. Baik deh, terutama yang satu angkatan waktu suami masing-masing masuk Kemenlu. Terasa bahwa angkatan kami itu ternyata terbukti angkatan yang paling solid. Dulu waktu teman ada yang suaminya meninggal mendadak begitu baru sampai di posnya yang baru di LN, kami semua turun tangan mendampingi keluarga almarhum. Yang di dalam negeri nunggu jenazah di kampung halaman beliau terus setelahnya para istri datang berkunjung untuk membantu menata hati anak-istri beliau. Pokoknya kelihatan sekali bahwa kami satu keluarga besar yang saling mencintai. Alhamdulillah!

      Hapus
    2. sampai sudah pada pensiun pun masih kompak ya mbak.. benerbener keluarga sejati..
      senang deh ada keluarga kaya gini.. itu sampe ananda ikutan difoto bareng..

      Hapus
    3. Iya banget. Bahkan sekarang yang diserahi tugas tanggung jawab mendampingi dan memantau perkembangan pengobatan penyakit saya, istri pensiunan karena ibu Ketua DWP Kemenlu kan sibuk. Jadi lewat yang sudah nggak punya kewajiban di kepengurusan DWP dipasrahi ngasuh saya, hehehe........ jadi merasa dapat kehormatan deh.

      Itu anak saya waktu baru lahir saksi matanya ya bu Tien sih.

      Hapus
  5. wah, senengnya... dikunjungi teman2 lama
    tapi yang namanya ibu Tien itu kok bener2 ga tampak sudah lebih dari 8 windu ya bun?
    awet muda banget...

    BalasHapus
  6. Iya jeng, senangnya nggak tergambarkan lagi deh, mana oleh-olehnya bagus sekali, nggak terbayang saya akan memilikinya. Bu Tien itu hidupnya senang, kecukupan dan suaminya amat memperhatikan serta memanjakan beliau. Jadi ya tanpa beban pikiran orang akan kelihatan sehat serta awet muda, begitu menurut saya sih. Semoga ibunya jeng Lala juga semakin membaik dari hari ke hari ya, saya doakan. BTW boleh saya nanya kalau nggak tersinggung, apa bapak sudah menghadap Illahi duluan kah sehingga nggak pernah ada diceritakan ngopeni keng ibu? Maaf ya saya mungkin menyinggung perasaan jeng Lala, tapi kepikiran jadinya. Sebab orang sakit memang butuh moral support dari keluarganya sendiri sih menurut pengalaman saya. Biar pun seperti saya banyak yang sayang, nengok, bantu secara finansial, pemikiran dan tenaga, tetap aja mengharapkan ada anak-anak di dekat saya.

    BalasHapus
  7. Bunda, semoga segera sehat seperti sedia kala ya. How I miss you so much since our last friendship in MP. Follow me back ya Bunda. Saya pake nick name di sini. Ssttt rahasiakan nama asli saya ya Bunda...thank you :)....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, saya masih terus akan berjuang kok. Apalagi mengingat pengorbanan teman-teman di DWP dan sanak kerabat saya, rasanya dosa kalau saya sia-siakan waktu pengobatan ini.

      I missed you too for so long. Following backnya ke mana nih? Kasih cluenya dong.

      Salam untuk dik Ajie ya.

      Hapus

Pita Pink