Powered By Blogger

Sabtu, 08 September 2012

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (1)




Senja sedang menjatuhkan matahari ke barat ketika saya menutup pintu untuk mengunci diri sendiri. Sekelompok teman yang baik budi baru saja minta diri sehabis menjenguk saya seraya memompakan semangat untuk tetap bertahan hidup.

Saya seorang pesakit tumor ganas, yang telah melewati masa ke masa hidup beriringan dengan malaikat maut yang siap mengintai mencabut nyawa. Beberapa tahun lampau, "cubitan" di daerah perut saya diikuti rasa kaku yang menjalar dari sekitar pinggul hingga ke ujung jemari kaki saya dan juga tangan-tangan saya, telah membuat saya mengerti bahwa Allah mulai menguji kesabaran saya sebagai ummat manusia yang sering lupa diri. Saya memang tak pernah berolah raga, karena sekedar untuk membayangkannya saja, saya sudah merasa ngeri takut kehabisan nafas. Sebab sesungguhnya saya memang sering sekali kehabisan nafas. Dokter saya bilang dulu, itu warisan yang diberikan nenek, ibu dari ibu saya, sebagai tanda bahwa saya adalah keturunan seorang penderita asthma.

Gangguan di perut saya akhirnya berakhir dengan upaya pembuangan organ kandungan saya satu demi satu di meja bedah. Mula-mula rahim saya diambil, karena otot rahim saya menebal bengkak. Tak ada yang bisa dilakukan pada otot rahim bukan? Apa pun itu penyebabnya, maka mengangkat dan membuang rahim hanyalah satu-satunya cara untuk membebaskan diri dari sengatan rasa sakit itu. Beruntunglah dokter mengabari bahwasannya tumbuhan yang dibuang itu dinyatakan jinak oleh seorang dokter ahli patologi yang terpercaya. Adenomyosis nama penyakit itu. Indah untuk dituliskan, mudah untuk disebutkan, tapi sukar untuk diterima badan.

Bersamaan dengan pembedahan itu, dokter kebidanan dan kandungan yang menolong saya, menemukan sejumlah besar kista jinak pada indung telur saya sehingga harus dibersihkan. Dan itu ternyata tumbuhan liar yang sangat suka mengganggu saya, sehingga dia tumbuh dan tumbuh terus dari masa ke masa, lalu saya pun harus merelakan untuk membuang satu indung telur saya yang terserang cukup parah. Diikuti di tahun berikutnya, karena rasa sakit yang sama menyerang kembali, saya terbaring lagi di meja bedah untuk membuang inding telur yang tersisa. Sialnya, tahun sebelumnya usus halus saya ikut dibuang sebagian dalam satu pembedahan tersendiri pasca dibuangnya indung telur saya yang pertama. Indikasinya ada pada darah segar yang tak mau berhenti keluar dari mulut saya sesudah saya keluar dari ruang pemulihan dan masuk ke ruang rawat inap yang sepertinya sudah menjadi milik pribadi saya karena seringnya saya terbaring di situ.

Kini penyakit itu berubah menjadi ganas di payudara saya. Rasa sakit bagaikan dihunjam belati sangat tajam, amat mengganggu saya. Itu yang membawa langkah kaki saya mencari pengobatan lagi, selain payudara saya yang berubah bentuk karena terisi oleh benjolan sebesar biji alpukat. Belum lagi puting payudara saya jadi tertarik ke dalam serta berwarna merah. Rasanya, selain nyeri, tentu saja gatal di dalam daging sana. Alangkah susahnya.

***







Penyakit kanker apa pun jenisnya, tak bisa disepelekan. Tapi penanganannya pun membutuhkan ketelitian dan ketekunan. Jika seorang pengobat melakukannya terburu-buru demi berlomba dengan waktu yang memang kerap mendahului kesembuhan dengan mencabut nyawa penderitanya, hampir dapat dipastikan penyakit itu akan terus kambuh hingga akhirnya penderita tak lagi tertolong. Saya sudah melihat sendiri banyak teman senasib yang dulu bertemu bahkan minta ditemani berobat di luar negeri, ketika saya menetap dan sakit di negara-negara yang super modern itu. 

Persinggungan saya yang pertama dengan penyakit kanker adalah ketika saya menyaksikan suami teman saya dibabat habis oleh kanker kandung kemih dalam waktu tak sampai setahun. Dia baru dimutasi ke salah satu perwakilan RI di Eropa Barat dua bulan saja ketika dia mengeluhkan pegal pada pinggangnya diikuti kemudian oleh rasa sakit. Bahkan setelahnya dia tak bisa buang air kecil tanpa kesakitan yang sangat. Lelaki berumur genap lima puluh tahun itu, akhirnya hanya berhasil melewati bulan ketiga di kisaran usia ke-lima puluhnya lalu berpulang ke ribaan Tuhan.

Di negara super modern penghasil banyak tenaga medis unggul pun, ternyata penyakit kanker tak takut oleh kegigihan dokter yang melakukan riset memeranginya. Ketika itu kemoterapi dari golongan terbaru yang dikabarkan tercanggih pada tahun 2000 itu, sudah tak ada gunanya lagi pada nyawa teman mantan suami saya. Hanya delapan bulan dia bertahan dengan rongrongan kanker. Innalillahi wa innailaihi raji'un.

(BERSAMBUNG)

8 komentar:

  1. bude semangat terus yaaa.....
    We love you :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga masih kepengin seneng-seneng sama teman-teman dan anak-anak kok.

      Terima kasih ya, I love you all too!!!

      Hapus
  2. bacanya dari no.9 sampe no.1..

    indung telur diangkat, ga dapat menstruasi lagi kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya dipaksa menopause udah lama, untung aja enggak kena osteoporosis. Itu yang saya syukuri dengan senang hati.

      Hapus
  3. selalu semangat ya mbak.. salam sehat selalu.. pelukpeluk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peluk balik, terima kasih lho udah mampir bertandang ke rumah ini. Semoga silaturahmi kita terus terjaga ya?!

      Hapus
  4. mbak Julie, mohon ijin tulisan-tulisan dalam blogspot ini saya cetak kemudian saya kliping untuk menjadi bagian dari perpustakaan keluarga, agar enak dan nyaman dibaca para anggota keluarga.

    Banyak limu yg saya dapatkan di sini. Kami benar-benar berinvestasi soal kesehatan sejak dini. Dan menularkannya pada anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan dik Iwan, dengan senang hati. Tapi ini kan cuma penuturan orang bodo gitu lho, jadi isinya ya persis curhat. Setidak-tidaknya saya kepengin merekam perjalanan penyakit saya dan upaya perlawanan itu.

      Terima kasih atas apresiasinya, salam sehat selalu, salam untuk seluruh anggota keluarga, semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT.

      Hapus

Pita Pink