Powered By Blogger

Sabtu, 05 Juli 2008

KEMBALI KE MASA LAMPAU (III)

Winter di Cape Town adalah musim hujan yang  panjang. Sejak aku bangun tadi pagi, kusadari cucuran langit sudah memasuki hari ke-empat. Dan winter kali ini adalah winter terburuk kedua sepanjang hidup kami. Aliran listrik di sekitar kamar tidur kami (saja) tiba-tiba pula bermasalah setelah petugas instalatur memeriksa jaringan listrik yang akan diremajakan. Lagi-lagi mengingatkanku pada witner delapanpuluhenam di Kanada sana.

-ad-

Waktu itu tahun kedua penugasan penuh suamiku sebagai diplomat. Ibuku sudah berpulang saat aku baru beberapa bulan meninggalkan kampung. Dan pikiran jernihku memaksaku untuk tidak kembali ke kampung sekedar menyaksikan tanah makam ibuku. Ibuku seorang muslim yang tentu harus segera dimakamkan, sehingga bagiku cukup mengirim doa dan sekedar uang pembeli bunga. Anak-anak gadis kecil mbakyuku yang sudah menjadi "anak-anak" kami jugalah yang dengan terpaksa menyelenggarakan semua urusan kematian ibuku. Mbakyuku -ibu anak-anak itu- yang bertanggungjawab merawat orang tua kami sedang dalam proses pendidikan akhirnya di Amerika Serikat sesuai dengan penugasan pemerintah. Kakak-kakakku yang lain tinggal di luar kota dan sibuk dengan pekerjaan serta rumah tangga masing-masing. Inilah sebentuk kepahitan yang harus kutelan dengan sabar dan tawakal. Yang pada akhirnya membuahkan pahala, berupa kehadiran buah cintaku yang kedua dengan mas Dj.

-ad-

Andriarto lahir dengan Caesar di Ottawa General Hospital pada musim gugur delapanpuluhenam. Dedaunan yang mulai berubah warna nampak cantik kuning kemerah-merahan membahagiakan kami. Untuk pertama kalinya kandunganku dibuka, menghindari kecelakaan kelahiran seperti yang terjadi tiga tahun sebelumnya ketika aku melahirkan Dimasdjati di kampung. Beratnya hanya dua kilo setengah saja, tapi jelas jauh lebih besar daripada almarhum kangmasnya. Dan binar matanya yang bening serta rambut lebatnya jelas karunia yang baik dari Allah kepada kami suami-istri. Tak putus-putusnya kami bersyukur. Bahkan mas Dj segera mengganti Honda Civic Hatchback kami yang dua pintu dengan Toyota Camry putih keluaran terbaru demi kenyamanan anak kami berkendara.

Kami menidurkannya di sisi ranjang kami pada sebuah tempat tidur bayi baru. Selimut dan segala perlengkapan tidurnya kami beri berwarna biru dengan nuansa jantan sebagai doa ketegaran jiwa dan keteguhan sikap anak kami. Kamiyah assisten rumah tanggaku kami jemput dari kampung untuk merawat anakku sejak dalam kandunganku. Akhirnya dia jadi inang pengasuh yang setia sampai anakku duduk di SMP, tanpa pernah sedikitpun mengeluh.

Hidup ini demikian indah. Apalagi bayi kami bukan tipe bayi rewel yang kerap menangis. Gerakannya yang halus dan bibir lembut itu begitu menenteramkan dan menghibur hati. Rasanya aku mau beroleh anak lebih banyak lagi asal semua serupa dirinya. Dia hanya akan menangis bila lapar, basah atau tidak nyaman, dan mencari bapaknya di waktu bangun tidur pagi. Jam biologisnya senantiasa tahu kapan saatnya dia harus meneriakkan kata "bapak-bapak-bapak" yang dilafalkannya sebaga "baba-baba-baba" untuk mendapatkan peluk hangat  ayahnya serta sebutir telur setengah matang kegemaran mereka berdua itu.

-ad-

Winter itu adalah winter terburuk. Andrie kecilku baru dua bulan saja. Salju yang turun setiap hari serupa benar dengan serpihan kapuk di muka halaman gedung IPB. Belum lagi temperatur yang sangat rendah -empat puluh derajat di bawah nol celcius- membekukan seluruh alam. Salju itupun berubah serupa kristal kaca bening yang menggelayut di ranting-ranting Mapple tree yang ditidurkan musim. Bentuknya yang tak beraturan menggemaskan dan mengakibatkan aku ingin mengambilnya sebagai kenang-kenangan.

Seakan mengerti, salju beku itu betul-betul jadi kenanganku yang abadi tanpa harus kupetik. Dunia tiba-tiba gelap. Padahal gema lagu-lagu natal dan nyala lampu-lampu hias mulai semarak berpendaran di seluruh penjuru kota. Di toko-toko biasa dijumpai nenek-nenek tua saling menyapa dengan menggumamkan lagu "Jinggle bells, jinggle bells, jinggle all the way......... hello Anne," lalu tangan-tangan tua itu berangkulan mesra sambil saling merapatkan pipi. Suasana natal yang penuh kebahagiaan dan rasa kehangatan. Sementara anak-anak kecil juga ramai melingkari Father Christmas minta berfoto bersama dan mengharapkan hadiah darinya. Natal yang seharusnya meriah penuh cahaya ceria.

Tapi tidak demikian natal tahun delapanpuluhenam itu. Angin dan salju beku di pepohonan serta kawat-kawat listrik memutuskan aliran listrik nyaris di seluruh penjuru kota Ottawa. Dingin serta merta menyergap. Naluriku sebagai ibu memaksaku untuk mengangkat anakku dan membawanya naik ke tempat tidur kami menjadi semacam garis demarkasi yang justru menyemarakkan cinta kasih mas Dj padaku. Dia senantiasa menganggap aku terlalu ingin mendominasi si kecil, sementara aku juga menganggapnya ingin menjadikan Andrie sebagai miliknya semata. Akhirnya, kami selalu berpelukan bertiga mengusir dingin dan mengikat cinta. Bahkan setelah jaringan listrik diperbaiki dua hari kemudian, Andrie tetaplah menghuni kasur kami setidak-tidaknya tiap beberapa hari sekali.

-ad-

Ottawa. Kota kenangan itu. Titik mula bertumbuhnya karier suamiku yang dimulai sebagai "tenaga serabutan" di berbagai bidang mulai dari bidang penerangan, sosial dan budaya, protokol-konsuler, hingga bidang ekonomi dan asisten kepala perwakilan.

Tanpa bimbingan dan arahan Duta Besar-Duta besar kami DR. Hasjim Djalal dan Drs. Adiwoso Abubakar, mustahil suamiku bisa melangkah jauh. Di belakang mereka senantiasa diharapkan ada suamiku. Dan dia diminta menimba sebanyak-banyaknya ilmu kedua Duta Besar kami tersebut. Termasuk ilmu bersosialisasi. Segala macam pekerjaan dicobakan kepada suamiku, termasuk mengantar-jemput tetamu di Mirabelle Airport yang jauhnya dua jam perjalanan lebih dari Ottawa.

Untuk itu dinas tidak menyiapkan sopir. Suamkiku diminta menyopiri Duta Besar Hasyim Djalal di musim winter tahun delapanpuluhlima. Dengan gemetaran si Tole -pangeranku- duduk di belakang Buick yang besar kendaraan dinas Duta Besar kami. Tubuhnya yang mungil mengakibatkan dia sulit menjangkau pedal rem dan gas. Belum lagi salju yang turun tanpa henti serta jalanan beku minta perhatian yang sangat serius. Tiap sebentar kepalnya melongok-longok jauh ke depan macam seseorang yang sombong.

Kata Dino Djalal dalam bukunya yang terbaru 'HARUS BISA", maka demikian pulalah suamiku menghadapi ayah Dino pada hari itu. Di belakang suamiku, Yang Mulia Duta Besar duduk tenang sambil menyimak berita dari radio. Kali itu tiba-tiba mobil kehilangan kendali, oleng dan terbanting ke arah tepian jalan. Tepat di mukanya, tiang listrik yang kokoh menjulang. Ketika kepanikan melanda, Tangan Allah membelokkan roda menghantam gundukan salju setinggi hampir dua meter diikuti seru Subhanallah. Astagfirullahaladzim. Serta wajah-wajah yang pucat pasi. Mereka terhindar dari tiang listrik, tersadar dan segera berucap Alhamdulillah.

Perjalanan berlanjut hingga airport Mirabelle dengan penuh kehati-hatian disertai ucapan terima kasih dari Bapak Duta Besar setelahnya. Winter itu sungguh jadi kenangan pertama dan abadi bagi kami. Terutama ketika winter datang sekejam tahun ini, dengan hujan-hujan-dan hujan yang menciutkan nyaliku. Lengan kiriku terasa begitu ngilu karenanya. Dan aku tahu, sudah saatnya aku makan pagi untuk menelan obat penghilang rasa sakit itu sekaligus melupakan kemuraman dunia yang tercipta sejak kemarin dulu.

11 komentar:

  1. kapan2 mau ikut bund,a nake mobil itu jg

    BalasHapus
  2. empat puluh derajat di bawah nol celcius- membekukan seluruh alam (sampai minus segitu ??? wow..!!) my sis teh Nina juga sekarang lagi tugas di Toronto, setahun terakhir tanpa suami hanya dengan 3 anaknya, saya lihat foto anaknya yang bungsu umur 9 tahun sedang menangis bergetar kedinginan karena telat dijemput, dia harus jalan kaki pulang kerumah melalui jalanan bersalju tebal "hikzz... kasihan", katanya winter disana dahysatttt.. yach hanya bisa bantu do'a aja dari jauh.

    BalasHapus
  3. winter di sini paling hanya 2 derajat, tapi udah dingin banget ... apalagi di sana jauh di bawah minus ... kalau aku disana, kaya'nya ngga pernah mandi hihihi .... bbbrrrrbrbrbrbr ...

    BalasHapus
  4. Kalau sudah begitu (terutama saat thunder dan snow storm) sekolah dan kantor otomatis diliburin teh. Syerem lah....... Hayu doain teh Nina sama anak-anaknya.

    BalasHapus
  5. Disini juga nggak dingin nak Siti. Cuma angin dan hujunnya itu lho bisa 3-4 hari nggak mandeg-mandeg. Hari ini hujan mandeg setelah sore. Berarti hujnnya tia ssetengah hari. Lain banget dengan disana. Tapi mandi ya tetep jalan juga walaupun nggak setiap hari.

    BalasHapus
  6. mungkin memang kalo karir dimulai dari bawah, pada saat sampai atas akan lebih sukses ya bu, baik batin maupun hasil kerjanya lebih terasa? selamat buat ibu sekeluarga.

    BalasHapus
  7. Kayaknya sih gitu, latihannya kan udah banyak tuh. Terima kasih ya jeng doanya.

    BalasHapus
  8. wah ga bisa di bayangkan ya gimana dinginnya musim winter di sana..........

    BalasHapus
  9. Bikin beku deh pokoknya. Nggak tau ya setelah pemanasan global apa juga masih seperti dulu. Salam kenal, terima kasih udah mampir.

    BalasHapus
  10. Emangnya dulu kakaknya pernah kenal sama saya.
    Siapa namanya.

    BalasHapus

Pita Pink