Powered By Blogger

Rabu, 02 Juli 2008

KEMBALI KE MASA LAMPAU (I)

Mendekati bulan Agustus adalah masa-masa sibuk untuk seluruh rakyat Indonesia. Tidak terkecuali kami. Kegiatan Peringatan HUT RI di luar negeri sama meriahnya dengan kegiatan yang sama di tanah air. Rangkaian pesta besar dimulai dengan Pekan Olah Raga Masyarakt Indoensia diikuti dengan Upacara Bendera dan diakhiri dengan Resepsi Diplomatik. Semua harus disiapkan bersama segera setelah selesai dengan Peringatan Hari Anak Nasioanal di bulan Juli. Walau tak banyak masyarakat Indonesia di tempat tugas suamiku, tapi kami tetap juga tak bisa berleha-leha. Dan untuk itu aku harus mempersiapkan tenaga sebaik mungkin.

Tenaga. Sesuatu yang menjadi sesuatu yang sangat mewah dan istimewa untukku saat ini. Lajunya pergerakan umurku membawa keausan pada organ-organ tubuhku. Aku menjadi mudah lelah akhir-akhir ini dan sangat "tua". Ya, tua, kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini.

Kubaringkan tubuhku di atas tempat tidur sambil memejamkan mata. Aku baru selesai melaksanakan sembahyang dhuhur yang segera kusambung dengan sembahyang ashar setelah seharian keluar rumah untuk merancang penyelenggaraan Peringatan HUT RI dan Hari Anak Nasional.

Di luar rumah dua orang kulit putih asyik memeriksa jaringan listrik di rumah dinas kami yang sejak dulu belum pernah diperiksa dan diperbaiki. Kemarin aku bertemu mereka di kantor suamiku dan sempat saling berucap salam. Kali ini aku lega mendapati para bulai itu bekerja untuk kami menggantikan instalatur listrik langganan kami yang lama yang kuanggap melecehkan diriku. Ataukah sejak tahun lalu aku sudah berubah dan menjadi terlalu sensitif? Aku tak mengerti dan jadi sulit memahami diriku sendiri. Bahkan aku juga tidak mengakui bahwa penyakit asthma bawaanku sejak kecil sedang "datang menyapa" kemarin siang. Dengan tegas dan ekspresi keheranan kutantang teman-temanku yang mendapati kondisi asthmaku yang kambuh untuk membuktikan. Dengan tegas juga mereka mengacu kepada bunyi-bunyi nyaring yang terdengar aneh dari arahku. Akukah yang kini jadi manusia lain, tanyaku dalam hati.

Kelopak mataku sudah lebih dari sepuluh menit mengatup, tapi lena itu tak jua datang. Tak ada mimpi sebagaimana biasanya yang menghiasi bunga tidurku. Yang ada hanya suara tangga digeser-geser orang di luar jendela kamarku dan gumaman tak jelas. Maka kucoba untuk membuat film sendiri dengan mengingat segala masa laluku.

-ad-

Mei delapanpuluhlima aku sampai di Ottawa untuk yang pertama kali sebagai "manusia selundupan". Waktu itu suamiku baru "separuh kerja", karena statusnya adalah pemagang bersama empat orang teman lainnya yang sama-sama diplomat baru lulusan Pusdiklat Departemen Luar Negeri di Iskandarsyah.

Papie, paman suamiku yang berfungsi menggantikan bapak mertuaku sejak beliau berpulang di usia yang sangat muda dulu baru menyusul almarhum bapak di usianya yang ke tujuhpuluhtiga. Namun aku masih punya ibu yang melahirkanku dan butuh perhatian penuh sejak sakitnya sepuluh tahun lalu.

Tapi kejenuhanku di rumah serta kenyataan harus berpisah dengan mas Dj untuk pertama kalinya memaksa mas Dj untuk secara  diam-diam mengundangku ke Ottawa. Dengan berbekal izin bapak pimpinan yang begitu mudah jatuh kasihan pada suamiku, sampailah aku di Ottawa berbekal paspor hijau sebagai warga negara Indonesia biasa.

Aku si bocah dusun serba terpana dengan kemegahan nuansa luar negeri yang pernuh gemerlap. Jadi kegiatanku sehari-hari selagi suamiku di kantor adalah berputar-putar di pusat kota untuk menikmati kemegahannya yang jauh dari kelas toko bertutupkan bilah papan berjejer seperti di kampungku sana. Di hari-hari tertentu saat ibu-ibu senior mengerjakan keperluan HUT RI aku juga diajak serta sehingga bisa ikut magang.

Ternyata Ottawa yang megah tidaklah semeriah metropolitan Jakarta pada saat ini. Dulu, sekitar duapuluh lima tahun yang lalu tak ada sarana hiburan. Sehingga penduduknya harus keluar kota untuk mencari hiburan. Dan suamikupun biasa membawa aku ke daerah di pinggiran St. Lawrence River. Ada sebuah museum terbuka disana. Inilah pengalaman baru untukku.

Namanya Upper Canada Village. Dengan berkendaraan selama dua jam saja, kami sampai di sebuah desa tepi sungai yang luas namun sunyi. Morrisburg, Ontaria, begitu bunyi yang kubaca pada papan-panan nama di sekitarnya. Sedikit sekali gedung-gedung perkantoran, perniagaan bahkan rumah. Namun, di tepian sungai yang kemudian kutahu namanya St. Lawrence River ada sekelompok bangunan kuno yang membawaku ke ruang waktu yang aku belum pernah mengalaminya. Jauh ke masa silam.

Bangunan pertama di bagian muka perkampungan itu adalah "Woolen Mills" alias pemintalan benang wool. Lengkap dengan gaya kunonya di abad ke sembilan belas, Rumah sederhana itu berdiri utuh sebagai "Asselstine's Woolen Factory". Belum nampak mesin-mesin otomatis disitu, sehingga terbayang olehku betapa para perempuan Scotlandia yang mendarat sebagai imigran pertama di Morrisburg harus menyediakan kedua tangan mereka yang lembut guna membuat penghangat tubuh keluarga mereka. Padahal, di musim dingin, Kanada sungguh menggigilkan dengan temperatur yang membekukan air. Aku terpana sendiri, sampai suamiku menarik lenganku mengajak berpindah ke bangunan selanjutnya.

Sama kunonya, berdirilah rumah bata merah tanpa polesan dengan kusen yang juga serba merah. Harum roti panggang tercium dari dalamnya. Dan ketika kulongokkan kepala melaui jendela kaca, sebuah oven raksasa berdiri di atas sebuah tungku batu. Melayangkan ingatanku ke buku-buku dongengku yang dulu dibelikan ibu di Filia Stroes dikampungku. Rasanya tikus-tikus pekerja yang putih keabu-abuan sigap berkeliaran dari tungku ke meja kayu bolak-balik untuk menciptakan pemuas lapar. Aku mengerjap-ngerjap tak percaya. Rasanya ibuku ada di sebelahku, berdiri menatapku mesra dengan senyum dan binar di matanya saat mengisahkan "Hansel and Gretel" dari Fairy Tales di tangannya. Mesra dan merdu sekali. Rasanya tak mungkin aku beranjak dari situ seandainya suamiku yang baik hati dan sangat penyabar tidak menggandengku berpindah lokasi. Dengan berat hati aku ikut melangkah menjauh.

Lalu rumah kayu di tepi air itu. Konon sejarahnya adalah penggergajian kayu untuk memenuhi kebutuhan seluruh penghuni Morrisburg. Di Kanada dipandang sesuatu bagian dari masa lampau, jika menggergaji kayu harus menggunakan dua pasang tangan manusia. Seorang menggenggam gergaji raksasa di bagian atas, diikuti seorang lagi pada bagian bawah kayu yang diletakkan setengah berdiri. Kami tidak merasa perlu berlama-lama sebab di Indonesia sendrii masih banyak orang pada abad keduapuluh ini mengerjakan penggergajian kayu dengan cara yang sama. Aku cuma tersenyum sambil mengajak mas Dj menjauh.

Lalu dua rumah kayu di depan mata kami. Di dalamnya seorang lelaki asyik mengerjakan sesuatu yang lebih pantas dinamakan kerajinan. Ternyata, rumah itu adalah pabrik sapu milik seorang petani yang ingin menambah penghasilan penutup kebutuhan dapur. Lagi-lagi aku tersenyum sendiri, menyaksikan kecekatan tangan bulai bertubuh tinggi itu menghasilkan sapu mirip dengan sapu-sapu di kampungku. Tapi tak urung aku tetap merasa kagum, sebab kebiasaan seabad yang lalu masih eksis di Kanada yang modern ini dan dipertontonkan pula untuk banyak orang terutama generasi muda yang sudah sangat "kelistrik-listrikan". Sesuatu yang belum pernah kusaksikan di negeri kita, batin kami.

-ad-

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk orang. Aku terkejut, dan segera buyar bayangan masa silam tadi. Sambil menjawab ya, aku bergegas bangkit, merapikan diri. Belum sepenuhnya sadar, sepotong kepala lelaki bulai mirip orang di lamunanku menegur dari pintu yng dikuakkannya sendiri. Astgfirullah, batinku. Kusapu kedua mataku untuk meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi.

Dan lelki itu dengan pedenya minta ijin memeriksa jaringan listrik di kamarku.Dia berdiri memaku sejenak. Mungkin dia sediri tertegun, menyaksikan aku tidak lagi berkerudung seperti ketika dia melihatku untuk pertama kalinya. Aku tersenyum malu. Mengutuk diriku senddiri. Mengapa begitu teledornya aku. Berbaring-baring di saat senja telah merebak, Kupersilahkan dia masuk, sementara itu aku bergegas merapikan rambut dan berlalu meninggalkannya. Mencari kebebasan dalam secangkir kopi tubruk yang kuseduh dan kemudian kuhirup pelan-pelan di muka televisi yang sengaja tak kunyalakan. Aku masih ingin mengenangkan kembali masa lampauku, ketika pertama kali aku keluar negeri dengan semangat bajaku dan tenaga yang bulat utuh, Dapatkah kiranya aku kembali ke masa lampauku?

6 komentar:

  1. kita memang ngga bisa kembali ke masa lalu ... tapi kita khan bisa mengulang masa-itu ... jalan2 ke Ottawa sebagai turis .... hehehe

    Semoga budhe selalu diberi kesehatan ... dihari2 sibuk menyambut acara bulan depan. Budhe nyanyi lagi ngga?

    BalasHapus
  2. Memang, masa lampau terkadang indah bila dikenang. dan kadang pula membuat kita geli, tertawa tersipu-sipu. Selamat berweek end....

    BalasHapus
  3. Terima kasih. Sama-sama ya pak.

    BalasHapus
  4. mbak, mau liat film ku enggak? itu menang togel 100000 juta dollar hahahaha... mo gila deh mbak nyengir2 sendiri ngebayangin gue beli private jet hahahaha...

    BalasHapus
  5. Mane donk miss? Mau ah...... mana tau kecipratan tuh duit togel.

    BalasHapus

Pita Pink