Powered By Blogger

Jumat, 20 Juni 2008

SI GENDUK PERGI KE KOTA

(DALAM SEBUAH LAGU SELALU ADA INTRO. POSTINGAN SEBELUM INI ADALAH INTRO PEMBUKA DARI JALANNYA RODA KEHIDUPANKU MENGIKUTI SUAMI. INILAH BAGIAN PETAMA DARI PERJALANAN PANJANG ITU)

-ad-

Umurku baru dua puluh lima tahun ketika semua itu terjadi. Pernikahanku dengan mas Dj, my child hood sweet heart, kelahiran anak pertama kami yang berbuah sorga, serta kepergian ibu mertuaku tiga minggu setelahnya. Semua berlangsung di umurku yang baru seperempat abad.

Dengan berlinang air mata, kutinggalkan rumah di tepi kanaal Cidepit di tengah pusat kota Bogor itu. Hatiku risau, sebab aku tak tahu bagaimana aku harus melangkah ke luar duniaku yang sempit untuk menjejak dunia baru yang luas dan penuh gebyar.

Selama ini pengalamanku ke luar rumah hanyalah menuju ibu kota propisni dan ke propinsi tetangga menengok kampung halaman nenek-moyang kami. Tidak lebih, tidak pula kurang.

Kutatapi lekat-lekat semua barang dan ruang di rumah mungil di bibir jurang itu. Potret mertuaku tergantung di situ, namun potret-potretku dengan suami sudah masuk ke dalam kopor President warna biruku yang akan segera kukunci. Di luar rumah bang Udin dengan keluarganya -kerabat suamiku- sudah siap hendak mengantarkanku menyusul mas Dj yang sudah lebih dulu berangkat ke Ottawa. Anggrek-anggrek, kaktus dan viooltjes kesayangan suamiku kusiram lebih dulu. Padanya kutitipkan harapan untuk menyerikan rumah kami agar tak nampak suram sepeninggalku. Sebab tak akan pernah ada lagi riuhnya denndang dari mulutku baik pagi maupun sore hari sambil menatap rumah adat Minagkabau di kejauhan sana yang indah bagai lukisan. Yang senantiasa membangkitkan rasa cintaku pada kampung halaman ini.

Lalu aku melangkah mantap ke luar rumah diiringi lambaian tangan para pedagang makanan di sekitar rumah yang biasa melayani murid-murid SD Negeri Panaragan di sekitar rumah kami. Aku memberanikan diri untuk terbang ke negeri yang jauh tanpa teman, tanpa kemampuan bicara yang cukup. Maklum aku hanyalah gadis desa yang serba kurang.

-ad-

Pesawat biru putih itu telah melambungkanku jauh menuju Amsterdam, melintasi angkasa yang bagai serakan kapas di sekeliling kami. Di sisiku seorang lelaki paruh baya duduk tenang melipat jasnya, membuka majalah dan asyik membaca. Pada bagian lain, seorang ibu asyik melayani anaknya yang masih balita. Menjelaskan tiap-tiap gambar yang melintas pada layar kaca di dekat mereka. Aku tak tahu harus mengapa. Perasaanku senang akan bertemu dengan suamiku, sekaligus bingung sebab di belakangku telah kutinggalkan ibuku yang sakitan dalam keadaan berduaan dengan bapakku yang renta ditemani dua kemenakan kecilku yang cepat menjadi dewasa karena keadaan. Ibu mereka mbakyuku, sibuk menuntut ilmu di Texas memenuhi tuntutan tugasnya sebagai pegawai negeri. Ayah mereka, sibuk sendiri dengan urusan dagangnya yang tak jelas di luar kota, menyisakan tanggungjawb kepada dua anak-anak yang kelak kemudian menjadi dua anakku tertua.

Kupejamkan mata. Aku sama sekali enggan melakukan apa-apa, bahkan tidak juga ingin makan. Hanya sekali-kali kuterima tawaran menu dari pramugari Belanda yang bertubuh besar tegap dengan kulit pucat dan mata birunya. Waktu terasa berjalan sangat lambat menyebabkan aku menjadi juru hitung yang cermat. Sudah lebih dari dua belas jam kami di udara, ketika pada akhirnya kelihatan sinar matahari pagi merebak di balik awan. Lalu tiba peringatan untuk merapikan kembali meja-kursi dan posisi duduk kami karena landasan bandar udara Schiphol sudah di depan mata. Aku menarik nafas lega sekaligus gelisah lagi.Karena kutahu aku akan singgah lama disini, sebelum pesawat berikutnya membawa aku ke tujuan utama, kota Montreal di benua Amerika sana.

-ad-

Si Genduk kebingungan. Itulah istilah yang pantas diberikan padaku. Aku yang "buta huruf" tanpa pendamping kebetulan tipe manusia pemalu, sehingga untuk urusan pindah pesawatpun aku tak tahu harus bagaimana. Namun Tuhan memihakku. Tanpa kuduga seseorang penumpang berbaik hati menanyaiku dan menemaniku untuk urusan transit. Tapi kemudian dia meninggalkanku seorang diri, sampai akhirnya entah bagaimana aku terdampar di bagian muka bandara Schiphol dan bersirobok dengan Zus Jetty serta suaminya, sepupu suamiku yang bertukar kewarganegaraan. Suatu anugerah yang tak terkira. Ternyata, beliau tahu dari kerabat di kampung bahwa aku akan lewat Amsterdam dalam perjalanan pindah ke Ottawa, Lalu mereka sengaja menunggu KLM terpagi dari Jakarta dengan harapan bertemu aku.

Atas kebaikan mereka, aku diarahkan ke meja imigrasi untuk mengurus visa transitku, kemudian membawaku ke luar bandara; mengitari bagian belakang bandara menuju ke luar kota, ke rumah mereka di Alkmaar. Belanda yang senyap. Itulah kesan pertamaku. Negeri datar tanpa hutan dan pegunungan menjadi ciri baginya. Laut, kanaal dan angin yang kencang mewarnai rona wajah negeri ini. Kincir angin di tengah-tengah ladang gandum seakan-akan melambai padaku memperkenalkan diri.

"Julie, harus terbiasa hidup di negeri seperti ini," kata Zus Jetty menuturiku. "Semua serba sepi, besih dan teratur," sambungnya sambil menunjuk beberapa tempat yang kulalui. Hanya padang datar yang memang nyaris tanpa sampah. Bebauan yang berasal dari kotoran binatang menyengat menusuk hidung dihembuskan angin kencang yang lewat di sisi-sisi jendela mobil Escort kak Charles.

Anak-anak sekolah tak nampak. Tetapi orang-orang lalu lalang dengan sepeda masih banyak, mengingatkanku akan kota Yogyakarta. Mereka akan ke kantor, begitu penuturan Zus Jetty sambil meminta kak Charles mengarahkan mobilnya ke sebuah kedai yang lebih pantas disebut toko untuk ukuran di kampungku.

Hawa dingin terasa menyengat kulit tropisku yang hanya berbalut sweater tipis yang kubeli di Bandung dulu. Dia mengajak singgah ke dalam kedai nasi, yang ternyata menjual berbagai lauk-pauk serupa di kampung kita. Zus Jetty berbaris di belakang seseorang sebelum mengambil nomor dari mesin di sudut ruang. Kemudian dengan sabar dia menunggu gilirannya dipanggil untuk dilayani. Aku memperhatikan dengan cermat, mencoba mempelajari tata cara hidup di negeri barat yang sebentar lagi tentu akan kujalani juga. Si Genduk pergi belajar, pikirku.

Sekotak daging berkuah merah dibawanya pulang bersama sayur tauge campur tahu yang tidak ada pedas-pedasnya. Menurut zus Jetty itu adalah rendang a-la Belanda. Jadilah hari itu aku makan menu Belanda yang disebut "rijstafel" untuk pertama kalinya. Lalu kami mengobrol hingga sore ketika Zus Jetty dan kak Charles siap mengantarkanku kembali melanjutkan perjalanan ke benua lain. Sudah sepuluh jam aku tinggal bersama mereka, melepas rindu. Zus Jetty banyak bertanya mengenai kerabat kami. Perhatiannya masih tetap besar, sekalipun sekarang zus Jetty dengan kulit putih bersih, mata cokelat muda dan rambut mulai beruban jadi lebih mirip orang Belanda bahkan mengadopsi sebagian sikap mereka.

"Zus titip suamimu ya, adik zus yang satu itu betul-betul baik hatinya, tolong jangan sakiti dia," pesannya sebelum mengecup lembut pipi dan keningku melepas aku masuk bandara Schiphol untuk memulai kehidupan baruku di luar negeri. Persis sama dengan pesan ceu Kustini, kakak sulungnya sesaat sebelum menutup mata beberapa bulan sebelumnya. Aku mengangguk mantap. Siapa yang tidak mengakui kebaikan hati suamiku, batinku. "Percayalah zus, insya Allah aku akan ikuti semua keinginannya," janjiku. Bibir ini menyungging senyum sebelum zus Jetty dan kak Charles hilang dari pandangan mataku.

-ad-

Perjalanan itu menjadi awal dari segala keterikatanku pada suami. Aku menjumpainya kemudian di bandara Mirabelle sedikit di luar kota Montreal sudah menungguku dengan kehangatan cinta dan senyumnya yang abadi. Kemudian aku dibawanya ke sebuah studio apartemen, rumah satu kamar berderetan dengan kamar-kamar penghuni lain di tengah kota Ottawa. Letaknya di Daly Avenue bercat putih. Disitu dia mengajari bermacam-macam hal baru yang untuk pertama kalinya ada di depan mataku dalam kehidupan ini. Termasuk menyalakan kompor, meyalakan mesin cuci serta memasak. Dia sangat memaklumi kekuranganku, karena sepanjang hidup memang dia ada di sisiku sehingga dia tahu persis siapa diriku dan apa kekuranganku.

"Dik," katanya suatu hari. "Hidup kita masih akan sangat panjang.Ini adalah langkah pertama kita, teruslah belajar dan mempelajari semua kiat hidup. Semoga Allah berkenan meluluskan semua cita-cita kita untuk mengabdi bagi kepentingan orang banyak," tegasnya ketika suatu hari dia mendapatiku menangis kebingungan menerima tugasku yang pertama dari Ketua Dharma Wanita. Tugas yang sederhana. Membuat kue dan mengisi acara dinas. Aku ditantang harus sanggup tampil di muka undangan dengan berkain kebaya. Bagiku kain  kebaya bukan sesuatu yang sulit, tapi menyanggul rambut adalah perkara lain. Aku nyaris menghabiskan waktu dua jam di depan cermin hingga tanganku kaku dan rambutku kusut masai tak karuan. Kemudian datanglah bu Imam salah seorang istri pegawai setempat di kantor suamiku yang memang terkenal luwes dan pandai berdandan. Tangannya yang cekatan membantuku memasang sanggul palsu. Jadilah hari itu aku tampil di muka tetamu resepsi diplomatik HUT RI ke-39 menghibur tetamu untuk yang pertama kalinya. Dan urusan kue itu? Alhamdulillah aku masih diijinkan belajar dari bu Sunkar dan bu Suwandi dua istri diplomat senior di kantor suamiku,

-ad-

Semua kenangan itu datang lagi pagi ini. Ketika aku sedang tiada berdaya melawan rasa sakitku sambil menghadapi kegiatan dinas yang akan berlangsung besok sore hingga lusa. Ingin rasanya aku minta permisi. Tapi seketika itu segera kuingat pesan saudara-saudara suamiku dan suamiku sendiri ketika aku akan berangkat ke pos pertama, "Kita harus berusaha mengatasi keadaan untuk membahagiakan orang banyak. Ini bentuk pengabdian yang dapat kita persembahkan," begitu yang sekarang terngiang kembali di telingaku. Lalu pesan itu juga, "jangan sakiti hati adikku yang baik......." Mataku nanar menatap masa-masa yang sudah lama berlalu dalam bayangku dan masa depan yang belum selesai kujalani. Tuhanku, kuatkanlah diriku, pintaku seraya mengatupkan kedua tanganku penuh harap.

14 komentar:

  1. ditunggu ya bun............lanjutannya

    BalasHapus
  2. genduk

    inget nama tmn SD dulu..

    manggilnya nduk

    BalasHapus
  3. hayohhh tehhh... diterusin nulisnya.... selalu aku tunggu !!!!

    BalasHapus
  4. Ya, kalo ada waktu bisa cepet nerusin. Tapi kayaknya hari ini mau latihan nyanyi dulu deh sambil nungguin pekerjaan lain yang lagi berjalan di rumah. Sabar ya mbak Za.

    BalasHapus
  5. Pasti dari suku Jawa yang jadi transmigran ke Lampung. Umumnya ke Gedong Tataan dan Baturaja. BTW bunda bukan anak transmigran lho......

    BalasHapus
  6. Hallo anak lanangku! Kemana aja? Lagi libur sekolah ya? Nanti sore anterin ibu latihan ya, jangan lupa! Thank's!

    BalasHapus
  7. Hayooooh, nungggunya yang sabar, maklum lagi rada riweuh.......

    BalasHapus
  8. memory-nya ... indah ... tulisan Bunda tuh ya ... enak banget untuk dinikmati ... lanjutannya ya.. Bun. semoga sehat selalu ....

    BalasHapus
  9. Ah, biasa aja koq. Ayo teh Ni mulai nulis yang kayak gini juga, siapa tau suatu hari nanti bisa jadi hadiah ulang tahun perkawinan perak ke mas Lambang? Ayo, ayo.......

    BalasHapus
  10. Aja ngono nduk, iki mung nggo ngeling-eling yen aku jane wong ndeso katrok, dadi aja kemayu!

    BalasHapus
  11. bener kok bunda, apalagi aku dari desit banget..hiks

    BalasHapus
  12. Huakakakakak....... same dunk! Toss dulu ah!!

    BalasHapus

Pita Pink