Powered By Blogger

Kamis, 14 Januari 2010

DI BALIK GEMERCIK PINTU AIR MANGGARAI

Langit mendung di atas kota Jakarta tak menyurutkan langkah ibu dan anak itu menyusuri jalanan ramai di sekitar pintu air Manggarai. Ada debu yang diterbangkan angin di sekitar mereka, hinggap di baju putih perempuan separuh baya itu serta mengotori kacamata baca anaknya yang rabun sejak kecil.

"Ke mana kita harus melangkah Mak?" Pemuda itu menghentikan kaki indungnya yang dengan sigap akan mengarah ke utara. Kereta Listrik yang membawa mereka baru saja lari menuju pemberhentian berikutnya, di Cikini dan pemberhentian-pemberhentian selanjutnya.

Si ibu berhenti, diam terpaku, kerut-merut di keningnya menunjukkan dia sedang mengingat-ingat sesuatu. Bayangannya memang segera berlari ke masa mudanya, ketika dia dan ayah pemuda itu berbimbingan tangan mencari arti hidup mereka yang disebut sebagai jati diri.

Mereka mendatangi pusat keramaian Indonesia untuk sebuah memoar. Sejarah keberadaan mereka di bumi ini.

"Hm, kalau tidak salah ke arah sini, tuh ke utara...........," dia menebarkan pandang kosong seraya menunjuk ke suatu tempat di kejauhan. Dan melangkahlah terus kaki-kaki itu, hingga dia dihinggapi setitik keraguan karena kota telah berubah wajah.

Si ibu menghentikan langkahnya, menggamit lengan anaknya, terdiam sebentar, menoleh ke deretan bajaj yang mengantri menunggu muatan di muka pintu stasiun. Dan dia memutuskan untuk menukar arah, balik badan menuju ke selatan yang tidak begitu diyakininya.

Dan di selatan situ, sesuatu yang semakin asing di otaknya kembali menghentikan langkahnya untuk sekali lagi memutar kaki mengarah ke utara. "Ya. Mak tak ragu lagi. Di sana, di bawah sana, di arah sebelah barat pintu air, itu tempat yang kita tuju." Lalu keduanya melangkah pasti, menderap kaki tegap, menuju masa lalu mereka.

Deretan pedagang sepatu murahan sekaligus tukang sol menjadi pemandangan pertama yang hinggap di bola mata mereka. Kemudian lalu lalang otobis, sedan, jeep dan motor yang berbaur dengan si oranye bajaj menghadang mereka untuk mencermati arah yang pasti.

"Assalamu'alaikum bu, ma'af saya mau mengganggu. Bisakah ibu menolong saya menunjukkan arah Jalan Minangkabau? Saya hendak mencari seseorang dari masa lalu kami di situ," sapanya ketika dia menampak seorang perempuan penjual peralatan tulis-menulis duduk mencakung di kedainya di pertigaan jalan.

Ditengadahkannya wajahnya menatap si pendatang. Dibetulkannya letak kerudungnya, seraya ditunjukkannya arah di hadapannya yang katanya masih cukup jauh. "Ah, ibu harus menyeberang ke arah sana, ibu lihat lampu lalu lintas itu? Di situ banyak pedagang keramik, ibu bisa menayakan kepada mereka letak Jalan Minangkabau dengan tepat. Ma'afkan saya tidak banyak tahu," sambutnya ramah diiringi senyuman.

Maka ibu dan anak itu mengucapkan terima kasih mereka seraya beranjak pergi. "Tapi ibu boleh menumpang sembarang kendaraan umum dari sini, tempatnya masih cukup jauh," seru perempuan itu lagi dari kedainya.

Meski mengangguk, sang ibu membisikkan di telinga anaknya sebuah pengharapan yang bernada menguatkan, "naluriku benar semata. Ayo gunakan kaki-kaki kita yang menyimpan tekad. Kita akan sampai ke sana dengan segera."

Si pemuda menorehkan pandang tak percaya di hati ibundanya, yang segera diredam dengan senyum dan untaian nada kepastian, "aku ingat masa itu. Kami berbimbingan menyeberangi jalanan ini, menapaki kaki lima itu, dan kita akan segera sampai. Masih tercium bau keringat ayahmu yang sudah lekat bercampur dengan Monsieur Rochas yang dulu kubelikan di Pasar Kosambi. Ayolah melangkah lagi, dan kita ulangi kini jalan kenangan kami. Engkaulah pemuda yang kusimpan di laci mimpiku.........."

Dan pemuda itupun memaku semangatnya. Degup jantungnya berlomba dengan derak-derak langkah yang dihasilkannya dari sepasang sepatu kulit hasil kerja keras ayahnya. "Aku tekadkan tetap mengawalmu, emak. Kemanapun emak ingini, aku ada bersamamu. Dan akulah tiang penopang itu andai kau harus tumbang dihancurkan kejamnya impianmu............"

---------

Jakarta di awal duaribu sepuluh adalah kota yang pengap. Basahnya lumpur menambah kejorokan kota. Membawa kaki melangkah lebih berhati-hati menguak merah-hitamnya metropolitan yang lama ditinggalkan anak Betawi.

"Sebaiknya kita menenangkan diri dulu sejenak di dalam pertokoan megah ini anakku. Ada serpih-serpih kenangan yang harus aku tata lagi, dan kugali ulang," kata perempuan itu seraya mencoba menarik sekeping pintu kaca yang cukup tebal. Sayang, hari masih terlalu pagi untuk berdiam diri di situ. Maka dilanjutkannya lagi perjalanan itu ke titik lampu yang sudah semakin jelas di penglihatannya. Si pemuda setia mengiringkannya.

Ternyata Jakarta bukanlah kampungnya. Dan titik lampu yang ditunjukkan ibu penjaga kedai yang tadi ditanyanya, hanyalah area di muka batang hidungnya. Mereka berdua tersenyum lega seraya saling menggenggam tangan dan berpandangan. "Tempatnya sudah dekat ya, mak?"

Perempuan itu mengangguk-angguk tetap dengan senyuman yang tersungging. Pagi yang mendung itu mulai dijalari kehangatan dari hati yang memancarkan harapan bahagia.

Sederetan penjual keramik keperluan rumah ada di hadapan mereka. Wastafel, bak cucian, we-se dan sejenisnya berdampingan mesra dengan kursi-kursi roda, tongkat serta berbagai keperluan orang sakit. Pedagangnya para pribumi yang ulet nampak mengelap, memoles dan membersihkan barang dagangan mereka. Agak berseberangan dengan kedai-kedai itu, air sungai yang keruh masih tetap seperti dulu rajin menggelontorkan sampah menuju laut Jawa. Di bawah jembatan yang membelah kota, pintu air setia menjalankan tugasnya, persis seperti limapuluhlima tahun yang lalu, ketika darah moyang mereka mengalir berceceran di sekitar situ.

------------

Kaki-kaki itu limbung tak tentu tapaknya. Terbaca jelas Jl. Sultan Agung di daerah yang sedang diinjaknya itu. "Ah, kemana kita harus bertanya? Ini bukan Jalan Minangkabau yang kita cari.........," sambat perempuan itu lemas.

"Ya mak," sahut anaknya. "Tapi semua petunjuk mengarah kesini, termasuk memori emak yang tajam dan kuat," katanya melanjutkan.

Mata perempuan yang mulai mengarah ke senja itu menatap nanar. Dia tak bisa mempercayai penglihatannya. Dihentikannya langkah kakinya sambil digenggamnya terus tangan pemuda yang hangat itu. "Apakah kita telah kehilangan jejak dan kehilangan harapan?" Tanyanya tak pasti entah kepada siapa.

"Belum mak," kedengaran deru dentam suara pemuda itu memecah gendang telinganya. "Kita pasti menemukannya. Emak selalu tahu caranya........" Lalu digamitnya lagi tangan sang bunda yang menggenggam harapan sempurna.

Dengan sejuta kebimbangan dia menanyakan alamat yang ditujunya kepada seorang polisi lalu lintas yang sedang berjaga di atas sepeda motornya, dan sang polisi itu menjawab dengan jelas. "Kembalilah ke ujung jalan, berbeloklah ke kanan, Disitulah letaknya Jalan Minangkabau." Ditinggalkannya seulas senyum dari bibir yang tertutup kumis rimbunnya yang dibalas dengan ucapan terima kasih serta sorot mata yang indah.

Ah, jalan itu begitu meragukan. Tak ada tanda-tanda bahwa jalan besar itu bertajuk Minangkabau. Maka, langkahnya berbelok diikuti persetujuan anaknya ke arah yang diingini kakinya. Di dalam situ, ada sebidang jalan sempit dengan deretan rumah tinggal penduduk yang masih cukup tradisional. "Jalan Pariaman," demikian bunyi yang diucapkan mulut perjakanya.

"Di sini, di sini kita akan menemukan mutiara hidup yang kita cari. Ya, di sini." Perempuan itu bergumam sendiri tanpa menghiraukan kebimbangan perjakanya. Sehingga sang perjaka turut menghimpun keyakinan untuk menelusuri gang selebar dua mobil sahaja.

"Ini rumah pertama," ujar anaknya sambil memandangi sebuah bangunan tua yang tampaknya tak lagi berpenghuni. Hanya ada secarik kertas dengan tulisan, "Dijual. Hubungi nomor telepon sekian." Pupus harapan di hadapan mata, dimakan oleh gerbangnya.

"Kita teruskan ke utara, di sana, di sebelah sana kita akan bertemu.........," ibu itu menggumam menggenggam harapannya. Lalu kaki-kaki itu melangkah lagi menderapkan kulit di bawah telapak sepatunya.

"Di mana? Pada siapa?" Sebentuk tanya bertalu-talu tak terucap di benak sang pemuda. Sebab dia tak tahu apa-apa tentang dirinya, tentang kedua orang tuanya, apalagi tentang moyangnya dahulu.

Satu-satu bangunan terlewati dengan para penghuninya bertebaran menghiasi kampung serupa gambar di kanvas pelukis jalanan Tanah Abang. Tembok-tembok tua yang diyakini ibunya tak setua nenek moyangnya, bahkan juga tak setua dirinya, seakan-akan mengejek angkuh menertawakan niatannya. Tapi hatinya telah bertekad, niatan telah membulat baja.

"Sekolah Trisula," ucap anaknya di depan sebuah bangunan sederhana bertingkat dua. Tonggak bola basket menghiasi lantainya yang terbuat dari semen. Dan sejumlah anak muda memamerkan enerjinya di situ. "Maka kita selayaknya kembali, karena ini jalan tikus tiada berujung," begitu katanya datar.

"Tidak," bantah si ibu. "Aku menyimpan tanya di ujung sana. Di selasar jalan yang tak jelas, kita menyimpan asa. Tegakkan betismu. Melangkahlah terus tegap-tegap. Tidak hanya untukmu, tapi untukku juga," perempuan itu membasahi bibirnya.

Pagi mendung di Jakarta mengirimkan semangat baru ke dadanya. Dan dia mengekor di belakang ibunda. "Jakarta hari ini adalah perkecualian. Bukan sengatan mata hari yang menguras tenaga dan emosi, ananda," demikian dengan jelas dan sadar didengarnya ibunya menggumam. Dan diapun mengangguk setuju.

----------

Lelaki tua itu dijumpai mata anaknya, sedang mencakung di teras rumah betonnya yang sempit di balik serangkaian besi baja yang membentuk pagar. "Dia ada di situ, mengapa emak tidak berniat menanyainya?" Kata yang terlontar dari mulut sang bujangan menyentuh hatinya.

"Dia siapa?" Balas sang bunda. "Perempuan itukah?" Selidiknya sambil menoleh ke belakang. Seorang perempuan seusianya duduk-duduk santai di mulut gang menjemur tubuhnya yang tambun kecokelatan. Rambutnya dipangkas pendek mirip lelaki nyaris kemerahan.

Sang anak menggelengkan kepalanya. "Bukan, bapak tua di balik pagar besi itu," tunjuknya membuat sang bunda mengerti benar.

Kemudian disentuhnya lengan anaknya, dan merekapun berdiri mendekat, ke hadapan sang kakek yang masih bugar. "Assalamu'alaikum, izinkan kami mengganggu bapok," sapa perempuan itu.

"Wa alaikum salam anak muda, silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Balas sang lelaki santun dengan kearifan lokal seorang pribumi.

"Ya, saya mencari Jalan Minangkabau, karena saya mencari masa lalu kami. Adakah bapak berkenan membantu?" Mata kuyu itu menelisik setiap kerut di wajah sang penunggu kampung yang baru saja ditunjukkan Allah kepada mereka secara menakjubkan.

Dengan mengerutkan keningnya, lelaki itu meneliti kesungguhan yang diucapkan perempuan itu. Setelahnya dia menunjuk ke arah selatan, "kalau anda tadi datang dari sebelah sana, maka anda telah menginjak Jalan Minangkabau."

"Ada yang anda cari di Jalan Minangkabau itu?" Mata tua itu menelisik lagi menjabarkan semua tanya di kepalanya.

Sang perempuan bergumam, "ummmm......... saya mencari masa lalu kami. Apakah anda penduduk lama di sini?"

Lelaki itu tak menjawab, tapi sorot matanya sangat meyakinkan.

"Saya ingin mengetahui mengenai seorang Habib yang berprofessi sebagai Tabib di situ pada kurun waktu Indonesia baru merdeka..........," perkataan itu menggantung begitu saja dari mulutnya yang kering,

Serta merta dengan bahasa tubuhnya yang halus, lelaki itu bermaksud membukakan pintu pagarnya, yang disongsong dengan permohonan sang tetamu agar diizinkan duduk bersamanya di teras. Pagi menuntaskan air di langit lewat gerimis yang turun rintik-rintik di bumi Jakarta.

"Silahkan," katanya dengan suara tuanya yang masih cukup merdu sambil menarik sebuah kursi lagi untuk dirinya agar muat untuk mereka mengobrol bertiga.

Mata tua itu mengawasi kedua tetamunya dengan tajam ganti berganti tanpa bantuan kacamata. Gigi-giginya yang putih rapi berderetan memamerkan keperkasaannya lahir dan batin sejak usia muda hingga tibanya senjakala.

"Apa yang ingin anda ketahui dari Habib itu?" Sang kakek bertanya tegas.

"Banyak. Apakah bapak penduduk asli disini?" Sahut sang perempuan mendesak lagi.

"Ya dan tidak. Saya bekerja untuk SS di kala republik ini baru berdiri......." Jawab sang kakek.

"Staat Spoor?" Mulut perempuan itu berusaha membunyikan kata Belanda yang asing di telinga sang anak.

"Ya, di Balai Yasa Manggarai. Istri saya penduduk sini, sedangkan saya datang dari daerah Jatinegara," lanjut sang kakek menjelaskan. "Pada tahun 50-an daerah ini belum seramai sekarang. Saya mengajari anak-anak mengaji di kala senggang. Dan salah seorang murid saya adalah keluarga dari Habib keturunan Arab di Jalan Minangkabau. Hussin namanya," dia menuntaskan ceritanya.

Dan perempuan itu tersangkut kembali pada ingatannya sendiri. Mulutnya menganga lebar, dengan senyum yang sempurna dibenarkannya perkataan sang Kyai. "Ya betul, kalau tidak salah Habib itu berdarah Arab dan mempunyai sifat penolong. Ibu mertua saya telah mendapat seorang anak darinya, karena beliau memang dapat membantu persalinan di rumahnya itu," ujarnya.

"Oh ya. Betul, Habib itu juga bekerja sebagai Tabib. Dan karena pekerjaannya ini pula, Habib itu tiba-tiba menghilang di awal tahun enampuluhan. Saya tak tahu lagi kemana dia pergi. Tak ada jejaknya yang tertinggal, tak ada rekam miliknya yang nampak di daerah sini lagi. Saya dengar Habib itu telah dibawa polisi." urai sang kakek dengan jelas.

Perempuan itu membuka telinganya lebar-lebar dan menegakkannya tinggi-tinggi selayaknya anjing mewaspadai sesuatu. "Maksud bapak bagaimana?" Tanyanya bingung. "Saya tidak mengerti."

"Saya mendengar kisah bahwa sang Tabib gemar berbuat hal yang kurang pada tempatnya terhadap orang-orang yang ditolongnya, dan salah seorang di antaranya adalah keluarga dari orang ternama di negeri ini. Sebagai akibatnya dia harus menanggung beban diamankan oleh kepolisian serta menghilang tanpa jejak dan tak berbatas," jawab lelaki tua itu.

Perempuan itu terkejut mendengarnya. Nampak kebingungan campur kekecewaan dan keterkejutan muncul di rona wajahnya. Dia saling berpandangan dengan anaknya.

"Ma'afkan saya. Kami harus menemui Tabib itu. Saya memerlukannya untuk menyempurnakan jalinan silaturahim anak-anak saya dengan moyang kami. Adakah bapak berkenan mencarikan jalan untuk kami anak beranak?" Lidahnya seperti kelu. "Saya memang tak berkepentingan langsung. Namun saya harus melakukan ini semua demi keluarga kami. Sebab bapak anak-anak saya sedang berada di persimpangan jalan menuju kesenangan duniawinya belaka," Begitu pedih kata-kata itu diluncurkan lidahnya. Tapi tak setetes jua air mata menjatuhkan diri ke pangkuannya.

Lelaki tua itu terdiam sesaat. Dia seperti mengingat-ingat sesuatu atau hanya mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkannya kepada ibu beranak itu. Di lidahnya, jutaan kata-kata berdesakan minta dibunyikan. Dan dia menarik nafasnya dalam-dalam.

"Jadi, rumah Tabib itu adalah tempat pertama anda meneguk susu ibunda?" Tanyanya penuh curiga.

Perempuan itu menggelengkan kepalanya, "tidak, tak ada yang pernah meneguk susu ibu di situ. Rumah itu adalah persinggahan kami sebelum sampai kepada buaian bunda sejati," dan dia berusaha menuntaskan kata-kata yang harus diucapkannya dengan kebenaran sejati.

Lelaki itu menatap mereka tajam.

"Ananda," sebut lelaki tua itu, "saya tak banyak tahu dan tak bisa banyak bicara. Kampung ini bukanlah 'palungan' yang menampung kehadiran ananda di bumi ini dulu. Kami telah berbenah diri, memoles wajah dan menukar rupa."

Perempuan itu dengan anaknya mendengarkan dengan seksama.

"Di ujung jalan ini dulu hanyalah padang rumput semata yang dihiasi bebungaan di tanah merah. Sekarang besi dan batu beton ditancapkan orang sedalam-dalamnya dan dipancang tinggi membentuk gedung. Tak ada lagi ruang tersisa. Bahkan sekedar untuk mendirikan sepeda yang dulu dikayuh orang sebagai kereta angin, kita tak bisa. Kampung ini sudah terbarukan suasana," mulut lelaki itu memberikan gambaran tentang dunianya yang baru.

"Anak-anak kecil tidak lagi kecil dan berguru pada saya. Mereka telah jadi diri mereka sendiri seiring pertumbuhan badan dan perkembangan jiwa, membuat mereka terpaksa keluar kampung dan menjadi guru bagi anak-anak mereka sendiri entah dimana. Tak mungkin saya mengitari seluruh kota dan menggunakan telunjuk saya untuk menandai mereka lagi satu demi satu. Karenanya ma'afkanlah saya. Saya tak dapat menjadi pelita yang membawa terang ke tempat dimana kini sang Tabib berada. Ananda, berjalanlah sendiri, melangkahlah ke depan, jangan surut dan jangan pernah ingin kembali ke masa lalu anda." Baris-baris kata yang tak ingin didengar dengan sesungguhnya oleh perempuan itu kini menjejali telinga dan otaknya yang telah mengontak lidahnya untuk terus bertanya dan melangkah.

Kini pagi beralih menjadi siang. Matahari yang telah tua mulai nampak tanpa malu-malu lagi. Sinarnya yang menyakiti kulit mengingatkan dia bahwa bukan saja hatinya yang sakit dan terluka. Jauh di balik itu, nun disana ada harapan-harapan yang memuruk tersudut hampa.

Lalu diiringi senyum dan anggukan kepala yang takzim ibu dan anak itu mohon diri, kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sebab nyata-nyata jati diri mereka telah sirna ditelan gemuruhnya air yang mengalir turun di pintu air Manggarai. Gemerciknya menghalangi suara-suara hatinya yang pernah merintih menangiskan nasib dirinya yang sendiri. SEBATANG KARA DI DUNIA.

20 komentar:

  1. Bun, ada beberapa kata yg salah tulis. . .

    BalasHapus
  2. Ak msh kbur dgn ceritanya. Tp ak sgt suka dgn gaya tulisnya.

    BalasHapus
  3. Ya, nanti aku lihat dan aku betulisn kalo nggak males mbak. Terima kasih koreksinya yang selalu ada aja!!!

    BalasHapus
  4. Bingung ya kangmase? Kayak saya bingung menafsirkanPuisi di Kompas Minggu hari ini kok........

    BalasHapus
  5. Hu'um. . . kan katanya penerbit suka naskah yg siap terbit ga bnyak edit. . [tentu juga kekuatan cerita penting] hehehe. . . *lina sotoy*

    BalasHapus
  6. Hohhohohoh....... wis jan! pintere anakku wedok. Apa iki naskah layak didol tha Lin?

    *Mak-mak blo'on mode on*

    BalasHapus
  7. Kenapa ga dicoba di kirim ke majalah atau surat kabar bun?? Sapa tau bisa tembus. . . .

    BalasHapus
  8. termarjinalisasi dr status memang sangat menyedihkan.

    BalasHapus
  9. Ah, bikinan nenek-nenek kurang kerjaan, mana mungkin tembus?

    BalasHapus
  10. Di balik rasa menyedihkan, ada rasa terbuang yang tak mungkin dienyahkan. Meski air Ciliwung terus mengalir digelontorkan hujan di pegunungan sana.

    BalasHapus
  11. Ayo bunda! Jangan PESIMIS!! Hilangkan ketakutan. . .! *Nyemangatin bunda dari belakang*

    BalasHapus
  12. ah aku harus panggil apa nih. bun juga kah?

    Sebagai pembaca, aku katakan tulisan diatas sangat layak untuk menjadi sebuah karya yang patut di hargai.... bagus kok...

    BalasHapus
  13. Mas, atas nama orang yang sama (saya punya dua site) saya sampaikan terima kasih atas penghargaannya terhadap tulisan ngawuran saya ini. Manggil apa aja boleh kok. The ngapaker's panggil saya biyunge.........

    BalasHapus
  14. bu, bagus sekali tulisannya. Kadang pengen bisa nulis sebagus ibu

    BalasHapus
  15. Salam alaikum bu Ninda! Wah rupanya ornag-orang Bruxelles masih pada eksis di Mp? Saya kira pada pindah semua. Padahal saya kangen lho sama kabar-kabar dari Bruxelles.

    Terima kasih atas pujiannya. Saya sendiri padahal nggak yakin bahwa saya bisa nulis aih, jadi malu deh.

    BalasHapus
  16. Saya mengharap ada cerita sebelumnya dari cerita ini, jadi ada suatu sebab akibat hehe,,,, dari jalan ceritanya sendiri saya kurang mengerti urut2annya. tapi dari makna tersiratnya saya nangkep ada beberapa point
    1. KOmplen dengan kondisi Jakarta ( sekitar PIntu Air Manggarai ) yg sudah acak adul.
    2. Dalam hidup ini tidaklah begitu penting melihat kebelakang apalagi mengorek2 apa isisnya, yg penting berdiri tegap menatap masa depan dengan segenap usaha. hehe bener gak sih bu??

    BalasHapus
  17. Intinya gini mbak Dri :
    1. Ada seseorang yang terlahir di Jakarta, konon di sekitar pintu air itu. Tapi dia tidak tahu persis siapa yang melahirkannya.

    2. Dia kemudian mencari tahu jati dirinya, dengan menelusuri daerah Manggarai. Tapi penelusurannya tidak berbuah apa-apa, karena Manggaria sekarang jauh dari Manggarai sat katanya dia dilahirkan itu.

    3. Berdasarkan pertemuant idak disengaja dengan tetua kampung disitu, dia mendapat gambaran tentang orang yang menolong persalinannya, yang katanya sudah lama raib karena dicokok polisi. Karena itu semakin gelaplah jati dirinya.

    4. Orang itu kemudian memutuskan untuk memberitahukan kepada anak semata wayangnya, untuk jangan mencari tahu darimana mereka berasal. Tutup masa lalu, dan tataplah masa depan yang masih panjang. Begitu.........

    Terima kasih sudah mampir. Pasang Headshot baru hasil pose di Seminyak dong?

    BalasHapus
  18. Makasih udah diterangkan bu hehe,,, headshotnya gak bakala ada yg diseminyak bu hehe,,, kurang mendukung suasananya.

    BalasHapus
  19. Coba kirim ke majalan Noor, Mbak Julie. Tapi sebaiknya diedit dulu biar lebih crispy. Beberapa fakta tampaknya ditulis berulang, misalnya: Perempuan itu terkejut mendengarnya. Nampak kebingungan campur kekecewaan dan keterkejutan muncul di rona wajahnya. Terkejut muncul dua kali.
    Kalau kalaimat-kalimat diefektifkan, cerita akan lebih fokus dan tajam. Jumlah kata untuk cerpen di majalah paling banyak 3000 kata. Ayo Mbak, semangat.

    BalasHapus
  20. Alhamdulillah jeng Ary. Akhirnya ada juga orang yang berkompeten untuk "ndadani" tulisan percobaan si nenek bawel hehehehe....... barakallahu!

    BTW majalah Noor itu majalah apa ya? Islami nampaknya? Maaf saya kurang gaul, tapi insya Allah setelah saya dadani, saya akan cari alamatnya majalah itu dan mencoba mengirimkannya. Terima kasih sekali. Kaidah penulisan katanya juga belum saya perbaiki kok jeng, pokoknya karena orang ngiseng, yang penting diketik dulu terus dilihat respons kontak saya. Dasar amatiran banget ya jeng?

    Salam hangat dari Bogor.

    BalasHapus

Pita Pink