Dua orang jagoan yang terlahir dari rahimku satu sama lain berbeda sifatnya.Yang lebih tua lebih cenderung memanfaatkan waktunya untuk kegiatan belajar dengan buku. Internet baginya tidak seberapa penting. Bahkan kalau kami perhatikan, dia tidak menguasai teknologi internet dengan baik, sehingga kerap "direndahkan" adiknya. Ya begitulah "Si Bebek Jelek" kami yang unik.
Si bungsu justru sangat malas berkutat dengan buku-buku sekolahnya. Maka tak heran jika dia tak memiliki banyak text books. Tapi, kebutuhan pengetahuannya dipuaskan lewat internet. Baginya, menyimpan buku-buku yang hanya diperlukan di sekolah sama dengan menyita lemari serta menjaring debu.
Sejak di SD dulu kecintaannya akan komputer sudah kental. Semasa kelas 3 SD dia sudah bisa menguasai words dan program-program mainan. Bukan karena paksaan pihak sekolahnya di Belgia, melainkan karena ketertarikannya sendiri. Masih kuingat dengan jelas ketika diminta membuat karya tulis untuk dipresentasikan di muka kelasnya, dia memilih topik "Komputer dan Teknologi Informasi". Sesuatu yang tak terbayangkan untuk anak kelas 4 SD, apalagi anak dusun dari Bogor yang walaupun merupakan penyangga ibu kota negara tak juga beranjak semaju Jakarta atau setidak-tidaknya Bekasi dan Tangerang.
-ad-
Perkenalannya dengan "insan yang lucu" ini juga diawali di internet. Tahun 2004 dia menggilai setiap blog yang dibuat oleh Bang Arham -begitu dia menyebutnya-. "Super kocak, dan menyenangkan," katanya kepadaku waktu aku iseng-iseng ikut mengintai blognya di Indosiar. Ada sepotong wajah Arham pemuda Kendari di atas sebuah WC serta Arham-Arham yang menjelma dalam bentuk manusia lain. Akupun sepakat dengan anakku bahwa orang yang satu ini sangat kreatif dan menyenangkan.
Arhamlah yang menggugah minat anakku untuk mempelajari semua teknologi internet sedalam-dalamnya, sehingga dengan pe-de-nya dia mau ditugasi guru-gurunya di sekolah untuk menjadi asisten guru TI. Sebagai akibatnya kami harus rela memenuhi semua keinginannya akan buku-buku TI termasuk berbagai serial photoshop. Hasilnya memang tak mengecewakan, wajah anakku dirubahnya sendiri menjadi seorang raja TI yang memikat hatiku sehingga menyebabkan aku menyimpannya di dalam layar ponselku sampai kini.
-ad-
Suatu hari secara tidak disengaja salah seorang guru bantu di sekolah anakku memperkenalkan Multiply. Semua kehebatan Multiply disodorkan kehadapannya, sehingga anakku tergerak untuk mencobanya. Siapapun tahu kehebatan site kesayangan kita yang satu ini toch? Maka anakkupun tiba-tiba beralih ke Multiply dan menyatakan good bye forever dengan Indosiar.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Disana dia berpautan lagi dengan Bang Arham idolanya. Dan darinyalah dia banyak menimba ilmu baik secara langsung maupun melalui insiprasi-inspirasi yang ditularkannya. Sampai secara tak sengaja kutemukan sitenya di "http://indoidols.multiply." dengan wajah imutnya yang "menggelitik" minta dikomentari.
Rasa kasihkupun menggelegak. Maklum waktu itu umurnya sudah meningkat remaja. Dan sudah hilang kebiasaannya untuk bersandar manja di dada atau pangkuanku. Bahkan untuk sekedar mencium pipinya yang lembut yang dulu seringkali kugigiti dengan bibir segemas-gemasnyapun, kini tak mudah lagi kulakukan.
Kumasuki sitenya. Tiba-tiba ada instruksi untuk memasukkan accountku disana. Nenek yang maha bodoh itupun terpana! Maka dengan bismillah kuketuk pintu adiminstrator Multiply dan kuperkenalkan diriku sebagai Bundel, seekor makhluk tak berharga namun berarti besar dalam kehidupan kami. Seekor kucing kampung berbulu kuning dengan ekor pendek yang senantiasa menggeluti kaki-kaki kami setiap pagi dan malam serta ketika kami membuka pintu rumah sehabis bepergian. Bundel, ya Bundel, nama panggilan kesayangan yang diberikan anak-anakku dan ayahanya uhntuk si Beannie kucing kesayanganku yang tak beribu dan berayah di pelataran rumah BTN kami.
Jadilah Bundel kemudian menggoda menyapa manja Indoidols di sitenya. Pemuda itu nyaris marah. Tapi ketika dia tahu siapa di balik kepala gundul abu-abu penuh tanda tanya di rumah yang kosong, tertawalah dia. Dihampirinya aku di kamar kerja suamiku. Dan diguncang-guncangnya tubuhku melampiaskan gemas. Mulut itu tertawa lebar-lebar hingga tak tersadar dia mendaratkan ciuman di keningku. Ah, manisnya.
-ad-
Nenek iseng itu tak berniat apapun juga. Maka aku membiarkan rumah mayaku kosong sampai suatu hari secara tak sengaja aku bertumbukan dengan teman-teman sekolahku semasa gadis di site seseorang. Darinya aku mendapat "suntikan" untuk mengisi Multiplyku. Dan anakkupun menyambutnya dengan gembira.
Dan tertatih-tatihlah aku membangun rumahku seorang diri. Hanya sekali-sekali tanpa kunafikan, aku minta bantuan anakku yang senantiasa bete dengan pertanyaan-pertanyaan bodohku yang terus berulang dari minggu ke minggu. Tapi alhamdulillah dia sangat sayang padaku. Aku dilayaninya dengan baik sebaik dia memperlakukan sahabat-sahabatnya. Sampai akhirnya aku berniat "mendua". Lalu kudirikanlah rumahku yang ini. Jandra22 tempat aku melampiaskan semua rasa hatiku serta merekam semua perjalanan hidup pribadi keluarga kami semata.
Disini pula, di jandra22 salah seroang kontakku bermaksud memperkenalkan aku pada Bang Arham. Ya, aku langsung teringat makhluk satu yang lucu itu. Maka kuberanikan diri mengetuk pintu rumahnya sambil menyebut identitas asliku. Padahal, mengundang diri menjadi kontak orang lain adalah pekerjaan yang paling jarang kulakukan. Bukan apa-apa, aku tahu siteku sangatlah menjemukan. Garing, begitu istilah Bang Arham. Tanpa suara dari musik apapun, tanpa video, serta tak banyak warna. Site asli yang plain dari sononye.
-ad-
Arham tak menolak "lamaran"ku. Walaupun aku tahu toch dia tak pernah jalan-jalan kemanapun. Di suatu blognya dia mengisahkan perjalanannya ke Jakarta untuk memperkenalkan diri sebagai penulis buku langka bernuansa komedi. Anakku bilang, isinya diambil dari blognya dan diolah kembali.
Bulan lalu ketika suamiku bertugas ke Jakarta, aku memesan sebuah untuk anakku. Dia tertawa kegirangan, "ibu memang paling hebat deh. Lho kok tahu sih itu yang aku mau minta sebagai oleh-oleh?" katanya sambil menjejeriku di meja makan. Di seberang meja makan layar kaca televisi kami sudah menyala siap akan mempertunjukkan drama situasi komedi "OB". Sebentar lagi kami siap tertawa-tawa sambil makan malam.
Dia terus saja mendesakku untuk menjawab waktu dilihatnya aku hanya bungkam mengunyah sepiring nasi. Senyumku kuberikan padanya. "Oh, ibu sekarang jadi fansnya Bang Arham juga ya?" selidiknya. Mataku melirik Harry yang penuh nafsu menunggu jawabanku. "Ampun mak, ibuku ikutan ketularan ngikik terus," katanya. Lalu tawa kamipun berderai.
-ad-
Dari dalam kopor suamiku mengeluarkan setumpuk buku. Tapi yang pertama kulihat adalah "Jakarta Underkompor" yang bernuansa biru dengan wajah idola kami di sampulnya. Ya, buku itu tentu akan nongol paling dulu sebab dia berupa buku saku. Anakku cepat merebutnya, memeluk bapaknya dan lari dalam kebahagiannya yang entah kapan akan berakhir. "Ibu jangan baca duluan ya, habiskan tuh buku-buku setumpuk itu........." teriaknya sambil menghilang ke dalam kamar belajar.
Sampai hari ini aku belum membacanya betul, sebab dia masih mendominasi kepemilikan buku itu. Konon kata anakku, humor yang tidak garing walaupun tidak juga maha cerdas.
Semua yang diparodikan Bang Arham terasa enak untuk disimak. Dan gaya bahasa bloggernya sudah terpoles sedemikian rupa. Tak salah kalau Kendari Pos menjadikannya sebagai salah satu motor penggerak media massa terbesar di Sulawesi Tenggara itu.
Kata anakku kami harus mengumumkan kepada dunia bahwa "Jakarta Underkompor" sudah sampai ke ujung dunia saudara-saudara Mp-ers! Inilah kami, pasangan ibu dan anak yang bergaya narsis dengan "menggenggam" Bang Arham di tangan kami.
"Hai, hallo semuanya! Hallo Indonesia! Hallo Kendari! Hallo Bogor! Hallo Bang Arham! Kita berkumpul di Semenanjung Harapan tempat bertemunya cinta membara Samudera Atlantik dengan Samudera Hindia."