Selasa, 25 Februari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (180): Bising namun sunyi

elah lima hari bunda menempati alamnya yang baru. Beberapa hari belakangan ini para saudara, teman, tetangga serta kerabat silih berganti berkumpul bersama kami berusaha menguatkan hati kami padahal mereka yang justru tak kuasa menahan derasnya air mata. Nyaris tak bisa dihitung berapa banyak insan yang menangis baik secara fisik (menitikkan air mata) atau hanya sekedar dalam hati. Kemarin pun ada salah satu teman bunda yang datang ke rumah sambil terisak. Setelah aku menceritakan saat-saat terakhirnya, dia malah semakin menjadi-jadi meski masih malu-malu untuk mengambil tissue. Tak lama kemudian akhirnya dia tak kuat lagi menahan derasnya air mata dan meminta izin untuk mengambil sehelasi-dua helai tissue. Kupersilahkan dengan senang hati. Sekali lagi rupanya sosok bunda begitu menginspirasi bagi banyak orang. Ah, masih tak percaya rasanya.

Pagi ini  rasanya beda sekali. Aku bangun agak siang sekitar pukul enam lebih. Lampu-lampu kumatikan sendiri. Jendela-jendela beserta tirainya kubuka sendiri. Padahal biasanya aku terbilang agak manja, mungkin malah cenderung merepotkan bunda. Meski bunda sudah susah berjalan apalagi jika harus turun dari kamar tidurku di lantai atas, beliau nyaris tiap hari turun tangga sendiri lalu kemudian membuka setiap jendela dan mematikan lampu-lampu yang sudah tak perlu dinyalakan. Sedangkan aku bangun lebih siang sekitar pukul 7 atau bahkan dulunya bisa antara pukul 8 hingga 11. Sungguh kebiasaan yang amat buruk. Kali ini semua kulakukan sendiri. Kakakku yang kemarin nampak kelelahan, baru bangun sekitar pukul tujuh kurang, itupun setelah aku berulang kali mencoba membangunkannya. Setelah mematikan lampu dan membuka jendela, tak lupa aku shalat Subuh sekaligus mendoakan bundaku tercinta.

Seusai itu TV di ruang makan pun masih nampak padam. Padahal biasanya bunda sudah "nongkrong" di depan TV sambil menyaksikan berita atau tayangan lain semisal Solusi Keluarga Sakinah: Mamah dan Aa, Was Was atau acara gosip lainnya. Tapi bunda lebih sering memindah-mindah saluran televisi untuk mencari program berita yang sedang tayang. Bahkan semenjak masuk RS, beliau selalu meminta dinyalakan televisi sekitar pukul 6 pagi dan 4 sore untuk mencari program berita. Menurutnya, selama di RS beliau jadi kurang update terhadap kejadian-kejadian di luar sana. Pernah beberapa kali terlontar dari mulutnya pertanyaan "Apa gak ada berita seputar SBY (presiden) ?" Sebab yang ada di benaknya adalah, setiap menyetel TV yang muncul berita letusan gunung Sinabung. Sementara SBY tak mendapat porsi sedikitpun, sampai akhirnya dia mengunjungi para pengungsi erupsi gunung Sinabung meski dengan sedikit "mewah". Terkadang walau belum masuk waktunya tayangan berita, beliau sudah mencari berita. Dan yang terakhir kali sekitar 2 minggu terakhir ini beliau selalu minta disetelkan channel Indosiar tepat pukul 5 sore untuk mentonton kuis yang memang jadi favorit keluarga kami sejak kami masih kecil: New Family Seratus. Mungkin bunda teringant dulu saat tante dan para pamanku masih ada, setiap lebaran pasti kami mengadakan kuis Family 100 tiap lebaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang super konyol bersumber dari buku-buku humor. Kakakku yang paling rajin dalam menyiapkan semua pertanyaan padahal usianya pada saat itu masih belum genap 10 tahun. 

Oke, kembalilah ke masa kini. Setelah menunaikan shalat subuh, aku menghangatkan sarapan berupa mie goreng yang telah aku beli malam tadi lalu kunyalakan televisi serta laptoku agar aku bisa sarapan, sambil memantau blog dan Facebook serta sambil menyimak informasi-informasi terkini seperti yang rutin dilakukan bunda. Rupanya pemberitahuan di FB-ku sudah penuh lagi. Blog pun sudah semakin banyak yang membacanya.  Inilah yang mebuat keramaian 2 hari belakangan ini tiba-tiba terasa sunyi.

***

Banyak yang bertanya soal "resep" bunda kepada kami. Lantas "resep" apa yang mereka maksud? Sampai dengan hari ini setahuku, bunda amat jarang menuliskan resep masakan yang ia ketahui, di blognya. Biasanya resep itu hanya akan diajarkan kepada teman-temannya di Dharma Wanita atau orang-orang terdekatnya. Memang bunda dulu punya buku kumpulan resep-resep masakan yang beliau kumpulkan dari berbagai majalah dan tabloid sejak kami kecil dulu. Buku itu tak pernah berpindah tangan. Bunda menyimpannya dengan sangat rapi meski ukurannya cukup besar dan tebal serta pernah diajak keliling dunia nyaris ke semua benua. Tapi rupanya yang ditanyakan orang-orang bukan resep itu. Melainkan "resep" bagaimana bunda mendidik kami anak-anaknya sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Menurutku pribadi tidak ada resep khusus yang bunda terapkan. Sama sekali tidak ada. Bapakku adalah saksi hidupnya. Beliau yang bersama bunda mendidik kami berdua hingga kami dewasa kini. Benar-benar kami hanya dididik dengan metode yang umum saja. Diajari sopan santun, berkenalan dengan keluarga hingga keluarga yang jauh, serta dibiasakan untuk mendidik diri sendiri tentang kedisiplinan dalam hidup. Salah satunya yang selalu bunda ingat dan kami juga ingat adalah, bapak kami tidak pernah membangunkan orang yang bangun kesiangan. Itu baginya dianggap sebagai resiko atau kesalahannya sendiri. Dengan begitu kami tahu betapa pentingnya bangun pada waktu yang sewajarnya. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa kalau kita bangun siang, rejekinya terlanjur diambil orang.

Mungkin orang-orang bertanya seperti itu karena melihat kegigihan dan kesetiaan kami merawat bunda sampai akhir hayatnya tanpa pamrih. Bagiku pribadi, merawat orang tua bukanlah sebuah kewajiban dan bukanlah sebuah keterpaksaan pula. Ini memang sudah naluri saja, rasanya enak sekali kalau bisa merawat orang tua sampai akhir hidupnya. Dua tahun kami berdua merawat bunda dalam kesakitan beliau yang sungguh tak terkira. Di masa-masa sakitnya yang parah ini, beliau tidak pernah sekalipun mengeluh, marah kepada Allah SWT maupun mencaci maki kami hanya karena rasa sakitnya yang sudah tak tertahankan dan kami dianggap kurang perhatian. Selama ini yang orang tahu adalah penyakit Kanker Payudara bunda yang sudah 2 tahun bersarang di tubuhnya. Tapi sesungguhnya, penyakit beliau telah ada sejak 14 tahun yang lalu. Waktu itu kami masih terlalu kecil untuk mengerti rasa sakitnya. Sehingga tak banyak yang bisa kami lakukan untuk menenangkannya dari semua rasa sakit yang dideritanya. Kasihan sekali rasanya kalau melihat semua itu ke belakang. 

Salah satu senyum terindahnya semasa sakit
Bunda selalu menegaskan kepada semua orang bahwa dirinya telah diberi nyawa tambahan sebanyak 12 kali oleh Allah SWT sang maha pencipta. Dua belas kali? Memang begitulah kenyataannya. Sepanjang hidupnya, beliau sudah keluar-masuk kamar bedah sebanyak 13 kali dengan operasi patah tulang kemarin sebagai hitungan yang ke-13. Selebihnya bermacam-macam termasuk melahirkan kami berdua secara cesar, operasi minor seperti gigi dan amandel, serta berbagai operasi lainnya di bagian perut dan bahu yang berujung pada penyakit kankernya ini. Lantas mengapa bunda tidak pernah menyebutkan nyawa tambahan yang ke-13? Mungkin itulah tanda dari Yang Maha Esa bahwa setelah itu beliau tak akan diberi nyawa tambahan lagi. Sudah cukup bagiNya memberi kesempatan bagi bunda untuk menjalani hidup di dunia ini bersama kami dan keluarganya serta teman-teman terkasih. Tanpa perlu mendengar apa-apa lagi dari bunda, kami sudah tahu bahwa 12 nyawa tambahan adalah bentuk kekuatan dan semangat hidup yang amat tinggi yang bunda tularkan pada kami. Sejak kecil memang bunda cenderung sering sakit. Tapi operasinya tak sebanyak setelah beliau dewasa dan punya kami berdua. Hanya memang keluarga beliau dulu, termasuk kakek & nenek kami seolah tak percaya bahwa beliau memang penyakitan. Bunda acap kali dianggap berlebihan dan hanya ikut-ikutan sakit. Namun pada akhirnya semua itu terbukti. Tak perlu ada yang disesali. Mungkin memang begitulah cara kakek & nenek kami mendidik bunda agar menjadi insan yang lebih kuat dan tidak mudah mengeluh.

Kepergian bunda rupanya telah dipersiapkan oleh kakek-nenek kami sejak dulu. Setidaknya dalam keadaan sakit yang luar biasa sekalipun, bunda sudah tahu bahwa dirinya tak boleh mengeluh. Ya mungkin inilah cara Allah SWT mempersiapkan umatnya untuk mampu menjalani hidup di dunia maupun di akhirat. Wallahhu a’lam.

(bersambung)

[Haryadi]


4 komentar:

  1. It never ceases to amaze me to read about how wonderful your mother is.. Some of her life stories (the ones i've read at least) have provided me with inspiration to motivate my patients..

    This past monday i received a consult to treat a patient with malignant lymphoma experiencing depression and refusing chemotherapy..

    After talking with her, i found out that her reason to refuse chemo was because she didnt understand anything about it but have heard of the horrendous side effects.. I admit MOST indonesian doctors lack that communication chip that enables them to provide patients with detailed explanations about diagnosis & treatment.. Things a patient deserves to know..

    I learned she didnt even know that her lymphoma has caused a growing tumor in her chest and that the cancer had spread to her rib bones..

    Despite her pain and absolute inability to eat/drink/swallow whatsover, she always had a huge smile.. It reminded me of your mother's strength that was visible through her sweet smile..

    For the past 3 days, i've been educating my patient about the importance & advantage of chemotherapy but i figured to explain the side effects, it would be better to inform her using real stories/cases.

    I read her two of your mother's blog posts discussing chemotherapy (entry 160 & 148).. She then said to me "that woman sounds hopeful.."

    I guess that's what I admired most about Bunda and what i wanted my patient to learn from her stories.. To never run out of hope.. Today, Bunda taught my patient just that.. My patient has decided to go through with the chemo and have hope..

    Alhamdulillah..

    I look forward to sharing more of Bunda's stories..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. I'm so happy to hear that.

      Insya Allah kelak nanti akan muncul cerita-cerita lain tentang ibuku yang mudah-mudahan gak kalah menariknya. Sampaikan ke pasien itu, bahwa aku bangga dengan orang yang bersemangat. Insya Allah dia gak seperti ibuku. Berapa umurnya pasien itu?

      Hapus
    2. Umurnya 45 tahun, mas Yadi.. Masih tergolong muda dengan penyakit yang sangat ganas.. Pesan mas Yadi sudah kusampaikan, beliau bilang terima kasih.. Hari ini beliau menjalani operasi gastrostomy (membuatkan lubang ke perut untuk memasukkan makanan/minuman) karena sudah sama sekali tidak bisa menelan apapun.. Semoga operasinya berjalan lancar dan beliau bisa lekas pulih..

      Semoga mas Yadi & mas Andri juga senantiasa diberikan kesehatan ya.. Amin..

      Hapus

Pita Pink