Minggu, 23 Februari 2014

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (179): Akhir Dari Sebuah Awal

Pertama-tama perkenankan saya, Haryadi, putra bunda Julie yang bungsu untuk menyampaikan banyak terima kasih atas kesediaan dan keikhlasan teman-teman bloggers baik yang dulunya punya sarang di Multiply maupun yang sekarang baru bertemu beliau di Blogspot atau yang hanya mengintip dari Wordpress untuk menyemangati serta mengantar beliau sampai ke rumahnya yang terakhir meski seharian diguyur hujan deras. Mulai saat ini, blog ini akan saya isi semampu saya, dengan cara penyampaian saya yang jelas berbeda dari ibu saya, dan dengan isi yang benar-benar apa adanya. Mohon dimaklumi jika apa yang akan saya tulis kelak mungkin terlalu terbuka. Sepertinya memang setelah ditinggal ibu, urat malu saya sudah terputus satu. Saya hanya ingin melanjutkan apa yang pernah ibu saya mulai sejak di Multiply sampai sekarang. Saya yang memperkenalkannya dengan Multiply. Kemudian saya yang menyarankannya agar bersarang di Blogspot. Semuanya ingin saya buka apa adanya agar yang membaca pun bisa mengambil hikmahnya dan Insya Allah bisa bermanfaat untuk orang banyak.

***

esungguhnya tiada yang tahu apa kehendak Allah SWT. Tuhan yang maha pengasih serta maha penyayang selanjutnya. Kita sebagai umat manusia hanya bisa tawakal dan terus berikhtiar agar kehidupan kelak akan menjadi lebih baik.

Sebenarnya saat ini tak ada sama sekali rasa kecewa maupun kehilangan berlebih terhadap sosok yang sehari-hari aku panggil Ibu, Un, Une, Mamutnyuw, Mutnyuw, atau yang biasa disapa teman-teman maya sebagai Bunda. Oleh karena ini adalah dunia yang agak berbeda dari kehidupan di alam nyata dan di sinilah beliau rajin meluangkan sedikit atau banyak waktunya untuk berbagi apa saja yang ada di dalam pikirannya dengan orang banyak, maka aku akan memanggilnya sesuai panggilan sayang teman-teman bloggers, Bunda.

Seperti segala hal yang bersentuhan dengan hamparan pasir, bunda pun tak lupa selalu meninggalkan jejak atau berpesan kepada diri kami akan banyak hal. Jejak yang bunda tinggalkan selama ini, hanya kami anggap sebagai pesan biasa dan belum tentu akan terjadi maupun terbukti. Semuanya Wallahu’alam bissawab, benar-benar hanya Allah SWT yang tahu. Tapi perlahan-lahan satu per satu pesan bunda mulai muncul kebenarannya. Kami merasakan sendiri semua yang pernah bunda pesankan dalam masa akhir-akhir hidupnya.
Ramainya pengiring bunda

Bunda pernah berpesan banyak hal sewaktu beliau sudah mulai sakit dan mulai berobat ke sana ke mari, meminta belas kasihan pemerintah melalui program Jamkesda yang mengharuskan peserta memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari namanya saja sudah cukup jelas bahwa memang surat ini diperuntukkan bagi warga yang tidak mampu. Mungkin bunda bukan kriteria warga yang seperti itu. Rumah kami tak bisa dibilang mungil. Dibilang sederhana pun rasanya amat tidak pantas. Untuk dinyatakan tua dan tak terawat pun mustahil. Sebab kondisinya memang masih cukup kokoh, bersih dan terawat. Lantai masih dari keramik, tembok pun bukan dari bilik. Atapnya pun sudah genteng yang layak. Hanya ada kebocoran sedikit di sana sini.

Salah satu pesan bunda yang selalu saya ingat sampai dengan hari ini adalah:

"Kalian berdua berkorban demi ibu, untuk kesembuhan ibu, ikhlas tanpa pernah mengeluh. Jadi segala rizki dan kebaikan yang kalian terima sekarang ini adalah buah kerja keras kalian dalam merawat ibu. Kelak kalau nanti ada lagi bantuan-bantuan tak terduga dari orang-orang, itu juga karena keikhlasan kalian dalam merawat ibu. Ibu bersyukur punya anak seperti kalian berdua yang sekaligus sebagai penyemangat hidup."

Kira-kira begitulah pesan yang berulang kali bunda ucapkan di hadapan kami. Bagi kami saat itu, ini hanyalah salah satu cara bunda untuk menenangkan pikiran kami, untuk menyemangati kami dan untuk menunjukkan kepada kami bahwa yang hebat bukanlah beliau melainkan kami berdua. Tapi kami tidak pernah berpikir bahwa inilah pesan terhebat yang pernah bunda sampaikan semasa hidupnya. Inilah pesan yang setiap kali aku ingat-ingat belakangan ini selalu membuatku menitikkan air mata. Sementara bagi kakakku, ini hanyalah sebuah pesan. Tidak perlu melibatkan air mata apalagi sampai menciptakan replika air terjun Niagara yang kebetulan berada di negeri kelahirannya, di wajah kami. Saat kuketik kata-kata ini pun perasaanku masih sangat amat terharu. Ya, terharu. Rasa haru yang sangat amat luar biasa. Aku bukan bermaksud menyesali kepergian bunda. Itu semua sudah aku ikhlaskan. Tapi kekuatannya yang beliau sampaikan kepada kami memang benar-benar tiada duanya.

Hal serupa ternyata juga dirasakan oleh banyak sekali bloggers. Dari sekian banyak pesan-pesan yang bermunculan di Facebook, salah satu yang cukup menyita perhatianku adalah pesan dari:

Shanti Saptaning "Bunda Julie sudah menyentuh banyak hati teman2 mpers, banyak yg mendoaka, banyak yg merindukan, selamat jalan Bundel ...."

Jujur sebelum ini, aku sendiri belum pernah melihat atau sekedar tahu ada orang yang sebegitu dirindukannya apalagi orang itu hanyalah seorang penulis di blog. Mungkin banyak pembacanya yang tidak pernah bertemu langsung. 

Doa dari salah satu blogger lainnya yang juga menyita perhatianku adalah:

Arum Indriani Wisnu Nagara

"Subhanallah, beliau ini contoh nyata tentang kekuatan bertahan dan gak menyerah. Semoga beliau dilapangkan dan diterangkan kuburnya oleh Allah. Aamiin"

Kalau hendak dikutip satu per satu rasanya hampir tidak mungkin. Begitu banyaknya pesan yang tertulis mendoakan bunda sampai rasanya aku seperti selalu menunggu update-an terbaru karena takut ada pesan yang tak terbaca padahal itu adalah doa.

Ternyata apa yang bunda pesankan selama ini benar adanya. Bukan hanya perhatian teman-teman bloggers yang luar biasa banyak tadi, tapi juga dari pihak keluargaku. Semenjak bunda dinyatakan wafat pada Juma't sore sekitar pukul 17:45 WIB, aku dan kakakku sama sekali tidak harus dipusingkan dalam mengurus hal-hal baik administratif di RS maupun mempersiapkan penyambutan bunda di rumah kami hingga proses shalat jenazah di masjid dan pemakamannya. Semua sudah diurus oleh sepupu-sepupuku tercinta. Padahal apalah yang pernah aku perbuat untuk membantu mereka? Aku masih kuliah tingkat akhir, aku tak selalu bisa ke tempat mereka, aku tak pernah sempat ikut mendoakan almarhum tanteku/budeku yaitu kakak pertama ibuku yang wafat pada bulan November 2013 lalu dengan penyakit yang sama namun stadium yang masih lebih rendah pada setiap kesempatan tahlilan. Selama ini aku seperti mau menang atau enaknya sendiri. Hanya bunda yang aku pikirkan tiap hari jam menit hingga detik. Semua kebaikan ini terasa bagai mimpi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bahkan percaya atau tidak, aku nyaris tak mengeluarkan sepeserpun uang untuk segala proses di atas. Subhanallah. Betapa adil dan baiknya engkau ya Allah. Inilah bukti bahwa doa seorang ibu itu memang dahsyat adanya.

Buku inilah yang paling pertama kulihat.
Seperti secara tiba-tiba, sore tadi menjelang maghrib, aku merapikan setumpukan buku-buku yang ada di meja tidur di samping ranjangku. Rupanya buku yang paling atas yang paling dulu kulihat berjudul "Dahsyatnya Do'a Ibu". Seketika itu juga aku akhirnya menciptakan replika air terjun Niagara di wajahku. Subhanallah, pikirku dalam hati. Ternyata apa yang bunda sampaikan akhirnya menjadi kenyataan. Sembari menuliskan kejadian tadi sore ini mataku kembali berkaca-kaca. Memang inilah yang ingin Allah tegaskan kepada umatnya bahwa apabila Dia berkehendak, maka jadilah kenyataan. Bahwa memang Doa seorang ibu itu begitu dahsyatnya.

(bersambung)

[Haryadi]

24 komentar:

  1. Balasan
    1. Insya Allah selama masih diberi kesempatan menulis akan terus ditulis. Ini sebenernya juga jadi kayak dulu lagi jaman aku masih bersarang di Multiply dengan ID-nya Indoidols. Udah beberapa tahun ini berhenti total. Sejak masuk era Facebook dan Multiply mulai lesu, semangatnya berkurang jauh. Tapi sekarang sudah mulai bangkit lagi.

      Hapus
  2. Membaca tulisanmu di blog ini, membuat saya khususnya tak merasa telah ditinggalkan Bunda. Alhamdulillah ada penerusnya yang tahu betapa cintanya beliau dengan dunia menulis. Hal yang insya Allah akan menjadi salah satu kekayaannya kini di alam sana sebagai bentuk amal jariyahnya semasa berhidup di dunia ini.

    Semoga kebaikan-kebaikan yg muncul akibat dari tulisan2mu kini dan seterusnya, pahalanya akan melimpahi beliau dan para putera.

    BalasHapus
  3. Hah?? Bunda telah berpulang? Innalillaahi wainna ilaihi rojiun... Saya turut berduka cita, tika baru tahu ini :'(

    Allah kariimm :'(
    Semoga beliau disana tersenyum ditempat yg sangat indah nan mulia disisi Tuhan :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, beliau meninggal Juma't 21 Februari kemarin sekitar jam 17:45. Nanti akan dibuatkan postingan khusus tentang saat-saat terakhirnya.

      Hapus
  4. Salam kenal mas Haryadi.
    Saya kenal bunda Julie sejak di multiply, trus lanjut ke blogspot ini. Meski kami belum sempat kopdar, tapi saya selalu suka dengan cerita2 bunda, salut dengan semangat beliau. Beberapa kali saya menyarankan pada beliau, agar tulisan2 beliau ini dibukukan saja. Tapi waktu itu bunda Julie selalu menjawab bahwa beliau tidak PD. Padahal menurut saya, cerita2 beliau sangat menginspirasi :)

    Semoga bunda mendapat tempat terindah di sisiNya, dilapangkan kuburnya, dan diampuni segala khilafnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebernarnya selain gak PD, cerita bunda pernah sekali ditolak penerbit. Kemudian setelah itu gagal menang dalam Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta. Selanjutnya menang ada rencana akan dicoba ditawarkan lagi, Insya Allah kali ini tembus dan bisa dibaca lebih banyak orang.

      Hapus
    2. Maaf, koreksi sedikit itu maksudnya *memang.

      Hapus
  5. Salam kenal mas Haryadi..
    Aku baru dekat dengan bunda saat main di blogspot, saat itu aku sering sekali mengeluh akan sakitku yang sama sekali tak ada artinya, dan bundalah yang selalu menyuruhku untuk sabar. Aku ga tau kalo bunda saat itu sakit parah, tapi setelah membaca tulisannya rasanya aku jadi malu. Beliau begitu sabar dan ikhlas menerima sakitnya, dan aku malah mengeluh karena sakit yang sepele.

    Banyak pelajaran yang kudapat dari beliau yang skg menjadi pemacu dan pendorongku agar tak mudah mengeluh.

    Doaku dari jauh untuk ketenangan bunda... Dan selamat melanjutkan tulisan hebat di sini.. :)

    Ga berasa sampe air mata ngalir ih.. semoga seluruh keluarga mas Hari selalu dalam keadaan sehat dan bahagia..amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Syukurlah kalau bunda sudah sempat memberi banyak pelajaran buat mbak Ay (gitu aja ya manggilnya biar gak panjang. hehe.. :D). Kalau boleh tahu mbak Ay sakit apa ya?

      Hapus
  6. Saya baru saja mulai mengikuti blog Bunda Julie setelah melihat posting-an teman di FB mengenai kepergian Bunda. Saya mau mengucapkan Turut Berduka Cita buat kakak-kakak sekalian. Semoga kuat dan tabah menghadapi ini semua. Walaupun saya membaca setelah Bunda tidak ada, saya banyak belajar akan kepasrahan, perjuangan, ketabahan dari blog ini. Saya pun jadi ingin membaca blog Bunda di multiply tetapi karena website tersebut sudah tidak ada, maka saya pun tidak bisa membacanya. Terima kasih Bunda Julie buat semua ajaran kebaikannya, semoga Bunda tenang di sana. Doa kami untuk Bunda...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa kok dibaca. Caranya gampang. Buka website http://www.archive.org lalau ketikkan alamat bundel.multiply.com atau jandra22.mutiply.com . Nanti bisa dibuka blog-nya yang lama dari tahun ke tahun. Komentar-komentar beliau juga masih ada sebagian.

      Hapus
    2. Terima kasih banyak atas informasinya. Teriring doa saya untuk kalian...

      Hapus
  7. Salam kenal Mas Haryadi :)

    Saya membaca paragraf akhir. Merinding dan mata berair Mas. :)

    ID MP: ekohm.multiply.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga. Terima kasih. Syukurlah kalau ada bagian dari apa yang apa yang aku tulis yang bisa menyentuh hati. Padahal itu gaya bahasanya aja ngawur2an. ID saya dulu IndoIdols.

      Hapus
  8. Saya juga sampai menitikkan airmata membaca nya, Bunda benar-benar sangat menginspirasi untuk tidak mengeluh terhadap segala cobaan hidup. Subhanallah, begitu banyak yg bisa di petik dari tulisan-tulisan Bunda.

    Semoga Bunda ditempatkan disisi_Nya yang damai....aamiin..

    BalasHapus
  9. Saya baca ini sambil air mata terus menetes. Bunda adalah sahabat maya yang sangat istimewa buat saya. Satu-satunya yang panggil saya dengan nama kecil saya, Cipi (kalo Bunda sih nulisnya Cikpie). Sayangnya kami belum sempat ketemu.
    Berharap mas Haryadi bisa melanjutkan kecintaan Bunda terhadap dunia blog dan semangatnya untuk terus berbagi, bahkan hingga saat terakhir.

    Saya yakin Bunda sekarang sudah tenang, terbebas dari semua rasa sakit dan derita.
    Mas Haryadi dan mas Andri semoga selalu diberi kekuatan dan ketabahan dari Tuhan.

    BalasHapus
  10. Bunda orang yg kuat dan tabah. Baik.
    Sekarang bunda udah tenang.
    Aku bakal kangen sama bunda...

    BalasHapus
  11. Sayangnya tidak bisa mengantar bunda ke tempat peristirahatan terakhir :((

    BalasHapus
  12. masharry, semoga bisa meneruskan tulisan ibunda ya.. semangaaaattt..

    [mbakjulie pasti bahagia sekarang melihat blognya masih berlanjut, rest in paradise mbakyuku]

    BalasHapus
  13. Gimana tuh caranya, agar blog lebih banyak komentar ?

    BalasHapus

Pita Pink