Semua yang bernyawa hanyalah milikNya semata, dan kepadaNya kita akan dikembalikan. Itu hakikat hidup ini. Dan itu yang terjadi di sekitar saya sekarang. Guru aljabar saya di SMP dulu wafat tadi pagi akibat serangan stroke. Saya belum sempat menjenguk beliau, sebab kabar sakit beliau pun baru saya dengar kemarin pagi di RS.
Ceritanya kemarin pagi saya kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam yang menjadi konsulen onkologis saya. Jika kedapatan tubuh saya kurang fit, maka kemoterapi tak boleh dilakukan. Pasien cukup banyak pada hari itu meski di akhir pekan. Saya menunggu cukup lama namun lega, karena tekanan darah saya normal juga hitung darah saya di laboratorium dalam keadaan baik. Saya berharap boleh langsung melanjutkan kemoterapi minggu depan.
Sambil menunggu giliran saya menyempatkan diri menjenguk kakak saya dulu ke ruang perawatannya. Sejak dibedah malam sebelumnya saya belum menemui beliau. Meski belum tiba jam kunjungan tetapi Satpam di pintu bangsal rawat inap agaknya mengenali saya dengan cukup baik. Saya diizinkannya masuk setelah mengucap salam tanpa sepotong pertanyaan pun.
Kakak saya kedapatan sedang berbaring dalam kesadaran yang penuh. Beliau tersenyum menyambut saya. Katanya kepalanya masih pusing dan juga masih sedikit mengantuk serta mual. Saya lihat siang harinya beliau memang muntah-muntah, sedang matanya selalu berair. Jauh berbeda dengan saya yang hanya merasa lemas dan letih belaka dulu.
Ruang perawatan kakak saya meski di kelas I tidak menyenangkan bagi saya, karena tidak mengesankan RS modern. Jadi saya senantiasa terbayang-bayang suasana ketika harus menunggui ibu saya sakit tiga puluhan tahun yang lalu. Di dalam hati saya bersyukur telah diberi kemewahan dirawat dokter saya di Jakarta. Karenanya saya tak berlama-lama di situ lalu segera kembali ke klinik dokter.
Pengunjung RS semakin padat, di antaranya ibu tua yang saya hafal wajahnya dan kerap kelihatan di situ mengantarkan seorang kakek renta yang saya duga orang tuanya. Saya duduk di bangku terdepan sambil merebahkan kepala dan bahu ke sandaran bangku tunggu, Tubuh saya boleh dikata memang masih lemah. Apalagi perut saya sedang berulah.
Nyaman sekali disain bangku itu membuat saya agak terkantuk-kantuk. Tiba-tiba saya dibangunkan sentuhan tangan dan suara kemenakan saya yang berpamitan sambil lalu menitipkan ibunya di dalam sana kepada saya. Belum juga saya bertanya banyak dia mau ke mana, tiba-tiba dia sudah mengobrol dengan ibu di belakang saya, yang sudah sering saya temui di situ.
Setelah saya simak sambil diperkenalkan kepada beliau, ternyata mereka mengobrolkan guru aljabar kami di SMP. Perempuan itu adalah koleganya, guru SMP yang mulai mengajar ketika saya sudah kuliah. Guru aljabar kami lelaki asal Aceh yang terkenal keras sudah tak berdaya di kediamannya akibat penyakit stroke yang mendera ditambah usia tua. Terbayang wajahnya yang dingin berupa seraut roman berbentuk kotak dihiasi sepasang mata setajam milik elang.Seketika berdiri bulu roma saya, sebab teringat suasana di kelas ketika saya jadi murid terdungu.
Guru kami ini menikahi muridnya sendiri, kakak kelas saya. Jadi sewaktu beliau jadi pengantin baru dulu, murid-murid sering meledek dengan mulut usil yang seharusnya tak pantas ditujukan bagi guru yang terhormat.
Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pasien paruh baya di dekat kami berdiri menghampiri dan menyapa saya. Agaknya dia tahu persis siapa saya. Tapi otak saya terpaksa mundur-maju berbelit-belit memeras ingatan tentangnya. "Kita dulu sama-sama di SMA, berteman di Pramuka," ujarnya membuka diri. "Saya tidak satu SMP dengan ibu, tapi dengan suami ibu," sambungnya lagi.
Masya Allah, batin saya. Ini pasti Nina teman saya semenjak SD yang juga sesama anggota DWP Kemenlu tetapi tak pernah berkesempatan bersama-sama sejak dulu. Dia membenarkan, sejurus kemudian kami berpelukan meleburkan persahabatan yang terputus. Saya mengoreksi ucapannya, bahwa saya sudah tak lagi bersama suami yang saya tahu bukan rahasia lagi di kalangan pegawai di kantornya. Saya tegaskan bahwa saya disebut-sebut sebagai musuh semua orang.
Nina membelalak terkejut! Itu fitnah, katanya. Dia tak pernah tahu perpisahan kami, apalagi sampai aroma permusuhan yang disebut-sebut itu. Lagi-lagi seperti teman-teman yang lain, sahabat saya ini pun tak habis pikir. Kemana larinya cinta yang dulu selalu kami pelihara itu.
Menurut Nina, penyakit saya sekarang boleh jadi bersumber pada kejadian-kejadian itu. Namun dia pun bersyukur serta memuji-muji teman-teman satu angkatan saya di Kemenlu dan dokter Maria yang mengorbankan segala-galanya atas nama kepedulian serta kemanusiaan dalam mengobatkan saya. Katanya, angkatan-angkatan lain sebaiknya pun meniru sikap kesetiakawanan kami. Menurut Nina sulit mempercayai dugaan orang bahwa saya adalah orang yang suka keonaran. Apalagi begitu saya menanyai kabar teman-teman SD kami yang masih bisa saya sebut satu-satu. "Kamu dari dulu 'kan punya banyak teman, bukan musuh," alasannya membuat saya merasa lega.
Sebetulnya wajah kami memang tidak ada yang berubah. Hanya dihiasi kerut-merut wajah yang menyiratkan ketuaan. Meski begitu Nina tetap cantik, cerdas cemerlang dan enak diajak mengobrol hingga tak terasa tiba saatnya nama saya dipanggil masuk. Kami kembali berpisahan entah hingga kapan.
***
Dokter spesialis penyakit dalam nampak gusar ketika saya mencoba mencandainya dengan pernyataan bahwa saya sudah dieksekusi onkologis saya di Jakarta dan kini minta persetujuan untuk memulai kemoterapi lanjutan. "Dieksekusi, maksudnya apa?" Tanyanya sambil mengangkat wajahnya menatap saya.
"Dimastektomi dok," sahut perawat yang mengasisteninya yang sudah melihat kondisi terbaru tubuh saya ketika memeriksa irama jantung saya dengan mesin elektro kardiogram
Saya tertawa membenarkan, sekaligus memberitahukan bahwa kakak saya pun baru menjalaninya semalam di RS ini dengan sepengetahuannya. Seperti biasa saya kemudian diminta berbaring supaya bisa segera diperiksa. Ternyata alhamdulillah semua dinyatakan baik, termasuk nadi saya yang kemarin masih bengkak. Tapi soal sakit pada perut saya entah mengapa dokter tak mau memeriksanya. Beliau langsung menyetujui dugaan kekambuhan penyakit Irritable Bowel Syndrome saya karena saya tak muntah maupun mual. Maka pemeriksaan pun selesai disertai ucapan selamat menunaikan kemoterapi dari dokter itu. Insya Allah saya siap menjalaninya akhir pekan ini.
Selepas dari apotik saya kembali ke tempat Nina untuk bertukar nomor ponsel, lalu ke kamar perawatan kakak saya. Kebetulan sekali onkologis beliau sedang memeriksa, sehingga saya berkesempatan berkenalan juga. Seraya mengucapkan salam saya berterima kasih atas operasi yang dilkakukan kakak saya sambil memperkenalkan diri bahwa saya adalah saudara kandungnya yang menjadi sumber kekhawatiran beliau.
"Oh, ibu ya? Itu kenapa tangannya dibalut?" Tanya beliau dalam logat Surabaya yang kental meski kata orang beliau berasal dari luar Jawa.
"Ini akibat limfedema dok. Sudah sejak sebelum diradikal tangan saya membengkak," terang saya. "Dan sekarang seminggu tiga kali saya difisioterapi," lanjut saya lagi.
"Ibu nggak usah kuatir, pasien saya tangannya normal kok," sambutbya seraya mempersilakan saya melihat lengan kakak saya. Memang benar, karena tumornya kecil, maka kakak saya tidak sampai bernasib seperti saya.
Dokter yang komunikatif ini kemudian menjelaskan bahwa seharusnya ketika benjolan mulai teraba, pasien dibawa ke dokter. Jika didapati kanker, cara terbaik adalah segera dioperasi. Setelahnya bisa dikemoterapi atau diradiasi. Pasien dijamin aman dan selamat, katanya. Tak boleh takut-takut.
Saya menyadari dulu saya memang terlambat, sebab saya memang ketakutan ke dokter. Tapi, yang menimbulkan ketakutan saya adalah proses pengobatan yang membutuhkan dana yang banyak serta waktu yang panjang. Inilah yang agaknya tak mudah dipahami setiap dokter.
Pada kasus kakak saya itu tak terjadi sebab beliau berpenghasilan dan punya asuransi kesehatan. Jadi meski tumornya baru seukuran 3-4 cm saja tetapi lebih baik operasi dilakukan sekaligus membuang kelenjar getah bening di ketiaknya supaya tak menjadi masalah seperti kasus saya. Adapun penyebab tumbuhnya sel kanker kakak saya tak dijelaskannya. Karena beliau kemudian justru meluruskan istilah saya tentang apa yang saya namai "virus Her2" penyebab kanker saya.
Ternyata Her2 bukanlah virus. Itu merupakan protein yang tumbuh pada diri seseorang wanita sebagai bawaan. Pada orang-orang tertentu protein itu bisa terpicu menjadi sel yang amat ganas dan memiliki agresivitas yang sangat tinggi. Inilah yang kemudian menjadikan kanker payudara pada saya. Karena bukan berasal dari hormon, maka nampaknya dokter onkologi saya membiarkan saja saya mengistilahkannya sebagai virus. :-D
Senang sekali saya bisa bertemu dengan onkologis kakak saya ini, karena saya juga kemudian melihatnya melayani sendiri pasiennya dalam menguras tabung drainase darah kakak saya. Di sini nampaknya peran perawat amatlah sedikit. Dokter cuma menyaratkan RS untuk memiliki cangkir ukuran guna mencatatkan sekresi darah pasien setiap hari, karena ternyata di situ tak tersedia. Ah, dokter yang baik hati tak suka marah-marah rupanya.
Setelah mengobrol sejenak saya pun berpamitan pulang. Tak dinyana hari itu banyak pengalaman baru saya lagi. Agaknya tak ada hari yang sia-sia untuk saya.
(Bersambung)
Minggu, 14 Juli 2013
Jumat, 12 Juli 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (85)
Kamis, 11 Juli 2013 adalah hari yang paling menyakitkan untuk saya. Bukan sakit oleh kanker saya yang sudah "diceraikan" dokter dari tubuh saya lewat pembedahan, melainkan karena merisaukan kakak saya.
Kakak saya disarankan dokternya untuk segera menjalani pengangkatan payudara karena menderita kanker stadium II-A. Usianya sudah 71 tahun, tetapi di masa gadisnya pernah menderita tumor jinak. Selain itu mengingat dia bersaudara kandung dengan saya, maka untuk menghindari keadaan yang lebih buruk, pengangkatan payudara secara radikal menjadi penting baginya.
Lain dokter lain caranya, begitu kesimpulan saya mengamati kasus kami. Lain pasien, lain juga penerimaannya, begitu kata kakak saya mengomentari kegelisahan saya di dalam menghadapi masalah beliau.
Tumor kakak saya masih terbilang kecil. Katanya baru sebesar 3-4 cm saja, jauh lebih kecil daripada tumor saya yang sudah sebesar biji alpukat ketika pertama ke dokter. Belum lagi tumor saya tak hanya nyeri, melainkan gatal, pecah dan bernanah-berdarah.
Nasehat dokter yang menyatakan sebaiknya payudara kakak saya segera diangkat, disikapi kakak saya dengan terburu-buru mencari ruang rawat inap. Jadi, bukan dokternya yang mengindikasikan kakak saya kapan harus mulai dirawat. Beda sekali dengan kondisi saya yang semua hal mengenai hari operasi dan mulai masuk RS untuk rawat inap ditentukan dokter.
Dalam kasus saya, penatalaksanaan penyakit sudah lebih dulu terencana dengan baik. Karena stadium lanjut yang amat ganas dan agresif, maka saya tak bisa terburu-buru dioperasi. Saya diberi obat yang dimakan dulu berupa hormon selama beberapa minggu. Hasilnya dipantau. Jika mengecil berarti penyebab penyakit saya adalah hormonal, pengobatan bisa diteruskan dengan obat-obat hormon yang sesuai.
Kebetulan tumor saya tak merespons terapi hormon, maka sampel jaringan tumor saya diperiksakan lagi ke laboratorium pathologi anatomi lebih lanjut untuk memastikan sebabnya. Hasilnya diketahui berasal dari virus. Jadi saya harus diobati dengan anti viral melalui kemoterapi. Secara teoritis hasilnya akan maksimal jika kemoterapi dimulai sebelum dioperasi dengan mencobakan berbagai obat guna melihat mana yang paling ampuh. Obat yang bisa memperkecil tumor, itulah yang seterusnya akan dipakai. Kemoterapi ini tak boleh lebih dari empat kali. Jadi, begitu tumor mengecil dan jadi memudahkan dokter untuk mengambil semua sel-sel kanker saya, maka operasi segera dilaksanakan. Beberapa minggu setelahnya kemoterapi dijalankan lagi untuk membabat tuntas sisa-sisa dan bekas-bekas tumbuhnya sel itu.
Tata laksana penyakit saya setahu saya memang wajib untuk kanker stadium lanjut. Namanya "neo adjuvant therapy". Ini yang dulu tak pernah dilakukan dokter negara tetangga terhadap saya, sehingga terus-menerus menimbulkan kekambuhan kembali.
Adapun untuk kanker stadium awal kakak saya, dokter langsung mengoperasi tanpa menyampaikan pasca operasi akan diapakan sebagai tindak lanjutnya. Bahkan prosedur menuju operasi pun beda dengan standar operasional pelaksanaan operasi saya. Dokter saya mengharuskan saya membawa hasil pemeriksaan darah lengkap terbaru minggu itu ke klinik guna menetapkan hari operasi. Jika masih ada yang kurang baik, harus diobati dulu. Pada saya kedapatan sel darah putih saya nyaris habis dirusak obat-obatan kemoterapi, sehingga perlu segera disuntik leucogen untuk menaikkannya. Sehabis disuntik sekali lagi dilakukan pemeriksaan darah berikut pemeriksaan echo jantung, USG perut dan roentgent guna persiapan kesiagaan tim dokter yang membantu dokter saya.
Dokter kakak saya memberikan lembaran formulir pemeriksaan darah lengkap, tetapi tak menanyakan hasilnya ketika kakak saya menghadap ke klinik. Echo jantung pun tidak dimintanya. Sedangkan USG perut dan roentgent memang sudah ada hasil pemeriksaan dari beberapa minggu sebelumnya. Untuk diketahui efek radiasi pada penggunaan alat roentgent memang tak boleh sering-sering terjadi, karena membahayakan pasien.
Perbedaan di atas itu sudah merisaukan saya. Apa yang terjadi seandainya pasien dalam keadaan kurang fit sewaktu dioperasi? Tapi kakak saya mencoba menenangkan saya. Walau saya tahu dirinya pun mengerti kegundahan saya. Belum lagi karena keterbatasan waktu dokternya, operasi hanya bisa dilakukan malam hari.
Malam hari, itu juga yang membimbangkan saya. Bagaimana seandainya dokter mengantuk dan konsentrasinya berkurang?! Ngeri sekali saya membayangkannya.
Dari waktu ke waktu saya terus menghubungi keluarga kakak saya di RS pada harinya operasi dijadwalkan akan dilakukan. Semula dijanjikan pukul tujuh malam. Karenanya kakak saya mulai menginap di RS pagi harinya, lalu berpuasa sejak siang. Nyatanya hingga pukul lima sore perut kakak saya belum dikuras, sebagaimana mestinya pada setiap prosedur pembedahan. Tetapi dokter konsulen, yakni anggota tim dokter sudah ada yang menengok ke kamar kakak saya. Tapi sampai lewat waktunya kakak saya masih belum diapa-apakan. Baru kemudian diberi tahu bahwa operasi diundur ke pukul sepuluh karena dokter anestesi berhalangan.
Pukul sepuluh malam waktunya mata minta dipejamkan. Bayangkan, betapa jeleknya gambaran-gambaran yang tercipta di kepala saya. Untung akhirnya malah dibatalkan, karena dokter bedah onkologi tak lagi bersedia. Jadi operasi diundur keesokan harinya, malam ini, pukul sembilan.
***
Peristiwa ini membuat beban pikiran saya menjadi berat. Bahkan sejak beberapa hari sebelumnya ketika kakak saya baru pulang dari klinik mengabarkan rencana operasi itu. Akibatnya asam lambung saya meningkat mengambuhkan penyakit di saluran pencernaan saya. Sinshe mengatakan saya sakit maag walau nyatanya saya tidak merasa mual apalagi muntah. Saya lebih cenderung menduga penyakit Irritable Bowel Syndrome (IBS) saya kambuh kembali setelah sempat tenang beberapa tahun. Gejala-gejalanya tampak nyata, perut saya nyeri, kembung, terasa penuh dan sering sekali minta dikosongkan segera. Duh, tiba-tiba saya merindukan dokter saya di negeri tetangga yang menemukan penyakit itu pada saya dulu. Dia lah yang menghindarkan saya dari kanker kolorektal waktu itu. Apakah penyakit ini ada hubungannya dengan stress tak jelas benar. Tapi saya menduganya demikian.
Sinshe meningkatkan lagi dosis obat nyeri lambung saya, sekaligus menerapi dengan totok syaraf. Saya berharap ada hasilnya karena saya baru akan diperiksa dokter spesialis penyakit dalam besok sebagai syarat lulus uji untuk kemoterapi minggu depan. Ya, kemoterapi saya akan segera dimulai lagi untuk setahun ke depan. Sayang sudah tiga hari obat sinshe tak membawa perbaikan yang berarti.
Jadi tahun ini saya batal berpuasa. Baik dokter maupun sinshe tak mengizinkan saya. Ada rasa kehilangan ketika kini saya hanya diam sebagai penonton saja. Kebersamaan ibadah dengan hiasan takjil yang lezat di meja makan bersama anak-anak saya itulah yang saya rindukan.
Sementara itu fisioterapi untuk kasus pembengkakan di tangan saya masih terus berlangsung. Seminggu tiga kali saya harus ke RS di Jakarta. Sedihnya hari ini fisioterapist mengaatakan kondisi saya yang seharusnya sudah membaik tak kunjung tercapai. Bahkan jari-jari saya pun harus ikut-ikutan dibalut. Penampakannya menjadi demikian :
Bayangkan, dengan tangan seperti itu pergerakan saya amat sangat terbatas, bukan? Tapi apa boleh buat. Hanya inilah caranya untuk membantu menjadi normal lagi. Tak ada salahnya menerima nasib begini :-D
(Bersambung)
Kakak saya disarankan dokternya untuk segera menjalani pengangkatan payudara karena menderita kanker stadium II-A. Usianya sudah 71 tahun, tetapi di masa gadisnya pernah menderita tumor jinak. Selain itu mengingat dia bersaudara kandung dengan saya, maka untuk menghindari keadaan yang lebih buruk, pengangkatan payudara secara radikal menjadi penting baginya.
Lain dokter lain caranya, begitu kesimpulan saya mengamati kasus kami. Lain pasien, lain juga penerimaannya, begitu kata kakak saya mengomentari kegelisahan saya di dalam menghadapi masalah beliau.
Tumor kakak saya masih terbilang kecil. Katanya baru sebesar 3-4 cm saja, jauh lebih kecil daripada tumor saya yang sudah sebesar biji alpukat ketika pertama ke dokter. Belum lagi tumor saya tak hanya nyeri, melainkan gatal, pecah dan bernanah-berdarah.
Nasehat dokter yang menyatakan sebaiknya payudara kakak saya segera diangkat, disikapi kakak saya dengan terburu-buru mencari ruang rawat inap. Jadi, bukan dokternya yang mengindikasikan kakak saya kapan harus mulai dirawat. Beda sekali dengan kondisi saya yang semua hal mengenai hari operasi dan mulai masuk RS untuk rawat inap ditentukan dokter.
Dalam kasus saya, penatalaksanaan penyakit sudah lebih dulu terencana dengan baik. Karena stadium lanjut yang amat ganas dan agresif, maka saya tak bisa terburu-buru dioperasi. Saya diberi obat yang dimakan dulu berupa hormon selama beberapa minggu. Hasilnya dipantau. Jika mengecil berarti penyebab penyakit saya adalah hormonal, pengobatan bisa diteruskan dengan obat-obat hormon yang sesuai.
Kebetulan tumor saya tak merespons terapi hormon, maka sampel jaringan tumor saya diperiksakan lagi ke laboratorium pathologi anatomi lebih lanjut untuk memastikan sebabnya. Hasilnya diketahui berasal dari virus. Jadi saya harus diobati dengan anti viral melalui kemoterapi. Secara teoritis hasilnya akan maksimal jika kemoterapi dimulai sebelum dioperasi dengan mencobakan berbagai obat guna melihat mana yang paling ampuh. Obat yang bisa memperkecil tumor, itulah yang seterusnya akan dipakai. Kemoterapi ini tak boleh lebih dari empat kali. Jadi, begitu tumor mengecil dan jadi memudahkan dokter untuk mengambil semua sel-sel kanker saya, maka operasi segera dilaksanakan. Beberapa minggu setelahnya kemoterapi dijalankan lagi untuk membabat tuntas sisa-sisa dan bekas-bekas tumbuhnya sel itu.
Tata laksana penyakit saya setahu saya memang wajib untuk kanker stadium lanjut. Namanya "neo adjuvant therapy". Ini yang dulu tak pernah dilakukan dokter negara tetangga terhadap saya, sehingga terus-menerus menimbulkan kekambuhan kembali.
Adapun untuk kanker stadium awal kakak saya, dokter langsung mengoperasi tanpa menyampaikan pasca operasi akan diapakan sebagai tindak lanjutnya. Bahkan prosedur menuju operasi pun beda dengan standar operasional pelaksanaan operasi saya. Dokter saya mengharuskan saya membawa hasil pemeriksaan darah lengkap terbaru minggu itu ke klinik guna menetapkan hari operasi. Jika masih ada yang kurang baik, harus diobati dulu. Pada saya kedapatan sel darah putih saya nyaris habis dirusak obat-obatan kemoterapi, sehingga perlu segera disuntik leucogen untuk menaikkannya. Sehabis disuntik sekali lagi dilakukan pemeriksaan darah berikut pemeriksaan echo jantung, USG perut dan roentgent guna persiapan kesiagaan tim dokter yang membantu dokter saya.
Dokter kakak saya memberikan lembaran formulir pemeriksaan darah lengkap, tetapi tak menanyakan hasilnya ketika kakak saya menghadap ke klinik. Echo jantung pun tidak dimintanya. Sedangkan USG perut dan roentgent memang sudah ada hasil pemeriksaan dari beberapa minggu sebelumnya. Untuk diketahui efek radiasi pada penggunaan alat roentgent memang tak boleh sering-sering terjadi, karena membahayakan pasien.
Perbedaan di atas itu sudah merisaukan saya. Apa yang terjadi seandainya pasien dalam keadaan kurang fit sewaktu dioperasi? Tapi kakak saya mencoba menenangkan saya. Walau saya tahu dirinya pun mengerti kegundahan saya. Belum lagi karena keterbatasan waktu dokternya, operasi hanya bisa dilakukan malam hari.
Malam hari, itu juga yang membimbangkan saya. Bagaimana seandainya dokter mengantuk dan konsentrasinya berkurang?! Ngeri sekali saya membayangkannya.
Dari waktu ke waktu saya terus menghubungi keluarga kakak saya di RS pada harinya operasi dijadwalkan akan dilakukan. Semula dijanjikan pukul tujuh malam. Karenanya kakak saya mulai menginap di RS pagi harinya, lalu berpuasa sejak siang. Nyatanya hingga pukul lima sore perut kakak saya belum dikuras, sebagaimana mestinya pada setiap prosedur pembedahan. Tetapi dokter konsulen, yakni anggota tim dokter sudah ada yang menengok ke kamar kakak saya. Tapi sampai lewat waktunya kakak saya masih belum diapa-apakan. Baru kemudian diberi tahu bahwa operasi diundur ke pukul sepuluh karena dokter anestesi berhalangan.
Pukul sepuluh malam waktunya mata minta dipejamkan. Bayangkan, betapa jeleknya gambaran-gambaran yang tercipta di kepala saya. Untung akhirnya malah dibatalkan, karena dokter bedah onkologi tak lagi bersedia. Jadi operasi diundur keesokan harinya, malam ini, pukul sembilan.
***
Peristiwa ini membuat beban pikiran saya menjadi berat. Bahkan sejak beberapa hari sebelumnya ketika kakak saya baru pulang dari klinik mengabarkan rencana operasi itu. Akibatnya asam lambung saya meningkat mengambuhkan penyakit di saluran pencernaan saya. Sinshe mengatakan saya sakit maag walau nyatanya saya tidak merasa mual apalagi muntah. Saya lebih cenderung menduga penyakit Irritable Bowel Syndrome (IBS) saya kambuh kembali setelah sempat tenang beberapa tahun. Gejala-gejalanya tampak nyata, perut saya nyeri, kembung, terasa penuh dan sering sekali minta dikosongkan segera. Duh, tiba-tiba saya merindukan dokter saya di negeri tetangga yang menemukan penyakit itu pada saya dulu. Dia lah yang menghindarkan saya dari kanker kolorektal waktu itu. Apakah penyakit ini ada hubungannya dengan stress tak jelas benar. Tapi saya menduganya demikian.
Sinshe meningkatkan lagi dosis obat nyeri lambung saya, sekaligus menerapi dengan totok syaraf. Saya berharap ada hasilnya karena saya baru akan diperiksa dokter spesialis penyakit dalam besok sebagai syarat lulus uji untuk kemoterapi minggu depan. Ya, kemoterapi saya akan segera dimulai lagi untuk setahun ke depan. Sayang sudah tiga hari obat sinshe tak membawa perbaikan yang berarti.
Jadi tahun ini saya batal berpuasa. Baik dokter maupun sinshe tak mengizinkan saya. Ada rasa kehilangan ketika kini saya hanya diam sebagai penonton saja. Kebersamaan ibadah dengan hiasan takjil yang lezat di meja makan bersama anak-anak saya itulah yang saya rindukan.
Sementara itu fisioterapi untuk kasus pembengkakan di tangan saya masih terus berlangsung. Seminggu tiga kali saya harus ke RS di Jakarta. Sedihnya hari ini fisioterapist mengaatakan kondisi saya yang seharusnya sudah membaik tak kunjung tercapai. Bahkan jari-jari saya pun harus ikut-ikutan dibalut. Penampakannya menjadi demikian :
Bayangkan, dengan tangan seperti itu pergerakan saya amat sangat terbatas, bukan? Tapi apa boleh buat. Hanya inilah caranya untuk membantu menjadi normal lagi. Tak ada salahnya menerima nasib begini :-D
(Bersambung)
Selasa, 09 Juli 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (84)
Genap dua minggu sudah saya menjalani operasi pengangkatan payudara saya. Walau tak terbasmi semua, tapi saya merasa lebih ringan dalam menghadapi penyakit mematikan ini. Sebab sudah dijalani operasi yang rumit di tempat yang terbaik di Indonesia, oleh dokter muda belia yang gemar menimba ilmu. Juga diizinkannya saya mendobeli pengobatan saya dengan herbal sinshe. Ditambah saya masih akan menjalani setahun lagi kemoterapi untuk membasmi tuntas sisa-sisa sel kanker itu. Insya Allah. Sekarang yang saya lakukan secara rutin hanyalah fisioterapi seminggu tiga kali untuk memulihkan kemampuan tangan dan dada saya yang baru dioperasi.
Perawat fisioterapi membaringkan saya di kubikel khusus seraya mengajari saya menggerak-gerakkan tangan dan bahu saya di sisi yang sakit, untuk meminimalisasi rasa kaku serta kebas yang biasa menyertai pasien pasca operasi pengangkatan payudara. Selain itu otot-otot yang mengeras di area bekas pembedahan juga diurut-urut. Rasanya memang nikmat sekali, membuat saya ketagihan difisioterapi. Tapi saya pun sadar, saya mesti juga melatih diri sendiri di rumah setiap hari.
Tadi pagi saat saya sedang mencobanya, tiba-tiba anak saya mengabari dari luar rumah bahwa dia bertemu teman-teman SMP saya yang katanya akan menengok saya ke rumah. Berita ini mengejutkan dan tak terduga, sebab saya pikir di hari kerja sulit untuk orang-orang meninggalkan pekerjaan mereka hanya demi perkara sepele menjenguk saya. Lagi pula saya pun tak pernah mengharapkan dijenguk siapa-siapa lagi. Sebab, walau pun hati saya senang tapi artinya saya bangkit mengorbankan waktu untuk duduk menemani mereka. Padahal istirahat masih penting untuk saya. Apalagi sejak kemarin perut saya mulai berulah. Ada rasa nyeri yang membuat saya tak bisa jauh dari kamar kecil, yang mengingatkan saya akan efek kemoterapi yang mestinya saya jalani hari Sabtu akhir pekan ini, tapi telah saya tolak.
Kemarin waktu saya ke RS untuk memeriksakan lagi luka sayatan operasi saya kepada onkologis sebelum beliau bertugas ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan, saya sampaikan bahwa saya belum siap dikemoterapi lagi. Selain urusan surat-menyurat saya dengan pihak pemerintah guna mendapatkan legalisasi sebagai pengguna jasa Jamkesda masih tertahan di Kecamatan, pembuluh nadi saya pun belum sembuh kembali. Di beberapa titik krusial yang biasa jadi nadi alternatif untuk memasukkan jarum infus luka lebamnya belum sembuh. Selain meninggalkan parut dan bengkak, warna kebiru-biruan lebamnya masih nyata menimbulkan nyeri. Dokter saya menyatakan kemoterapi boleh diundur hingga seminggu berikutnya. Dengan syarat saya harus benar-benar mempersiapkan diri. Agaknya beliau kasihan juga melihat kondisi saya.
Luka dan jahitan saya kini sudah benar-benar sembuh sempurna. Kering meninggalkan parut persis parut di bagian bawah perut saya yang sudah berulang kali dibuka. Ini pertanda baik, meski jujur saja saya masih ngeri kalau harus melihatnya. Yang saya lakukan selama ini ketika mandi dan berpakaian adalah mengalihkan pandangan mata saya ke arah dinding atau kejauhan agar tak bertumbukan dengannya.
Sampai hari ini saya tetap belum bisa menaklukan kengerian itu, meski fisioterapis menertawakan saya. Masa bodoh dengan tawanya. Yang punya badan dan perasaan toch diri saya sendiri, begitu pikir saya.
Adapun soal obat kemoterapi saya yang resepnya sudah lama dibuatkan oleh dokter spesialis bedah umum, kemarin sempat saya mintakan legalisasinya kepada onkologis saya sebagai dokter yang berwenang mengeluarkannya. Sebabnya saya pernah ditegur kemenakan saya yang perawat serta perawat kepala, karena membiarkan dokter bedah umum menggantikan onkologis menuliskan resep. Padahal itu di luar kemauan saya, dan saya yakin beliau sudah menimbang-nimbang dengan baik. Tidak akan gegabah meresepkannya tanpa melihat cara dan takaran dokter onkologi menuliskannya untuk saya sebelum ini. Menurut perawat-perawat itu, pihak Dinas Kesehatan Kota tak akan mengizinkan saya mendapatkan obat kemoterapi itu.
Nyatanya obat sudah ada di lemari penyimpanan apotik RS seperti yang dikatakan perawat kepala itu sendiri sejak lama. Artinya semua tak ada masalah. Namun supaya lebih pasti lagi, saya tanyakan keabsahan resep itu kepada onkologis saya. Perawat kepala agak ambigu di dalam menetapkan apakah obat di lemari apotik itu memang jatah saya.
Betapa leganya hati sebab katanya resep itu diketahuinya, tentu berdasarkan laporan spesialis bedah umum yang dititipi saya. Isinya persis dengan resep beliau. Protokol kemonya tidak disalah tafsirkan. Jadi tak ada hambatan saya untuk menggunakannya. Meski begitu, bertanya kepada beliau tentu lebih baik guna meyakinkan para perawat bahwa obat saya tak keliru tulis. Sehingga ketika saya kemudian memberitahu perawat kepala sebagai penanggung jawab pengaturan ruang dan giliran kemoterapi pasien, beliau ganti mengucapkan terima kasih atas kerja sama saya. Saya tegaskan, saya tidak mau main-main, mengingat dokter saya akan ke luar negeri di saat itu. "Ah, pasiennya lebih tahu daripada staf RS," cetusnya mencengangkan.
***
Di antara teman sekolah saya yang datang tadi, ada Ani seorang perawat jiwa. Dia membiarkan saya mengoceh panjang lebar menceritakan riwayat sakit saya dan pengobatan yang dijalani. Belakangan dia menilai bahwa saya memiliki pola pikir yang baik. Sambil memegang kepalanya dia berkata bahwa kekuatan saya terletak pada kepala.
"Maksudnya apa Ni? Memori saya sangat bagus gitu?" Tanya saya tak mengerti mengingat umumnya teman-teman selalu memuji ingatan saya tentang hal-hal yang sudah lama berlangsung.
"Bukan," Ani menggelengkan kepalanya. "Otak kamu. Cara kamu menggunakan otak untuk meyakinkan diri bahwa kamu akan sembuh, itu yang bagus dari dirimu," jawab Ani. Selaku perawat kejiwaan dia tentunya sangat paham mengenai hal-hal yang berhubungan dengan otak manusia. Apalagi tahun depan dia sudah akan memasuki masa pensiun.
Perawat fisioterapi membaringkan saya di kubikel khusus seraya mengajari saya menggerak-gerakkan tangan dan bahu saya di sisi yang sakit, untuk meminimalisasi rasa kaku serta kebas yang biasa menyertai pasien pasca operasi pengangkatan payudara. Selain itu otot-otot yang mengeras di area bekas pembedahan juga diurut-urut. Rasanya memang nikmat sekali, membuat saya ketagihan difisioterapi. Tapi saya pun sadar, saya mesti juga melatih diri sendiri di rumah setiap hari.
Tadi pagi saat saya sedang mencobanya, tiba-tiba anak saya mengabari dari luar rumah bahwa dia bertemu teman-teman SMP saya yang katanya akan menengok saya ke rumah. Berita ini mengejutkan dan tak terduga, sebab saya pikir di hari kerja sulit untuk orang-orang meninggalkan pekerjaan mereka hanya demi perkara sepele menjenguk saya. Lagi pula saya pun tak pernah mengharapkan dijenguk siapa-siapa lagi. Sebab, walau pun hati saya senang tapi artinya saya bangkit mengorbankan waktu untuk duduk menemani mereka. Padahal istirahat masih penting untuk saya. Apalagi sejak kemarin perut saya mulai berulah. Ada rasa nyeri yang membuat saya tak bisa jauh dari kamar kecil, yang mengingatkan saya akan efek kemoterapi yang mestinya saya jalani hari Sabtu akhir pekan ini, tapi telah saya tolak.
Kemarin waktu saya ke RS untuk memeriksakan lagi luka sayatan operasi saya kepada onkologis sebelum beliau bertugas ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan, saya sampaikan bahwa saya belum siap dikemoterapi lagi. Selain urusan surat-menyurat saya dengan pihak pemerintah guna mendapatkan legalisasi sebagai pengguna jasa Jamkesda masih tertahan di Kecamatan, pembuluh nadi saya pun belum sembuh kembali. Di beberapa titik krusial yang biasa jadi nadi alternatif untuk memasukkan jarum infus luka lebamnya belum sembuh. Selain meninggalkan parut dan bengkak, warna kebiru-biruan lebamnya masih nyata menimbulkan nyeri. Dokter saya menyatakan kemoterapi boleh diundur hingga seminggu berikutnya. Dengan syarat saya harus benar-benar mempersiapkan diri. Agaknya beliau kasihan juga melihat kondisi saya.
Luka dan jahitan saya kini sudah benar-benar sembuh sempurna. Kering meninggalkan parut persis parut di bagian bawah perut saya yang sudah berulang kali dibuka. Ini pertanda baik, meski jujur saja saya masih ngeri kalau harus melihatnya. Yang saya lakukan selama ini ketika mandi dan berpakaian adalah mengalihkan pandangan mata saya ke arah dinding atau kejauhan agar tak bertumbukan dengannya.
Sampai hari ini saya tetap belum bisa menaklukan kengerian itu, meski fisioterapis menertawakan saya. Masa bodoh dengan tawanya. Yang punya badan dan perasaan toch diri saya sendiri, begitu pikir saya.
Adapun soal obat kemoterapi saya yang resepnya sudah lama dibuatkan oleh dokter spesialis bedah umum, kemarin sempat saya mintakan legalisasinya kepada onkologis saya sebagai dokter yang berwenang mengeluarkannya. Sebabnya saya pernah ditegur kemenakan saya yang perawat serta perawat kepala, karena membiarkan dokter bedah umum menggantikan onkologis menuliskan resep. Padahal itu di luar kemauan saya, dan saya yakin beliau sudah menimbang-nimbang dengan baik. Tidak akan gegabah meresepkannya tanpa melihat cara dan takaran dokter onkologi menuliskannya untuk saya sebelum ini. Menurut perawat-perawat itu, pihak Dinas Kesehatan Kota tak akan mengizinkan saya mendapatkan obat kemoterapi itu.
Nyatanya obat sudah ada di lemari penyimpanan apotik RS seperti yang dikatakan perawat kepala itu sendiri sejak lama. Artinya semua tak ada masalah. Namun supaya lebih pasti lagi, saya tanyakan keabsahan resep itu kepada onkologis saya. Perawat kepala agak ambigu di dalam menetapkan apakah obat di lemari apotik itu memang jatah saya.
Betapa leganya hati sebab katanya resep itu diketahuinya, tentu berdasarkan laporan spesialis bedah umum yang dititipi saya. Isinya persis dengan resep beliau. Protokol kemonya tidak disalah tafsirkan. Jadi tak ada hambatan saya untuk menggunakannya. Meski begitu, bertanya kepada beliau tentu lebih baik guna meyakinkan para perawat bahwa obat saya tak keliru tulis. Sehingga ketika saya kemudian memberitahu perawat kepala sebagai penanggung jawab pengaturan ruang dan giliran kemoterapi pasien, beliau ganti mengucapkan terima kasih atas kerja sama saya. Saya tegaskan, saya tidak mau main-main, mengingat dokter saya akan ke luar negeri di saat itu. "Ah, pasiennya lebih tahu daripada staf RS," cetusnya mencengangkan.
***
Di antara teman sekolah saya yang datang tadi, ada Ani seorang perawat jiwa. Dia membiarkan saya mengoceh panjang lebar menceritakan riwayat sakit saya dan pengobatan yang dijalani. Belakangan dia menilai bahwa saya memiliki pola pikir yang baik. Sambil memegang kepalanya dia berkata bahwa kekuatan saya terletak pada kepala.
"Maksudnya apa Ni? Memori saya sangat bagus gitu?" Tanya saya tak mengerti mengingat umumnya teman-teman selalu memuji ingatan saya tentang hal-hal yang sudah lama berlangsung.
"Bukan," Ani menggelengkan kepalanya. "Otak kamu. Cara kamu menggunakan otak untuk meyakinkan diri bahwa kamu akan sembuh, itu yang bagus dari dirimu," jawab Ani. Selaku perawat kejiwaan dia tentunya sangat paham mengenai hal-hal yang berhubungan dengan otak manusia. Apalagi tahun depan dia sudah akan memasuki masa pensiun.
Ani berkemeja kotak-kotak bersama Titin, Tati, Mufti dan Hamzah
teman-teman SMP saya
Otak manusia mempunyai kekuatan yang baik untuk mengendalikan penyakit. Demikian kira-kira maksud pembicaraan Ani. Jika kita menanamkan di dalam otak bahwa kita akan menuju kesembuhan, maka sikap dan perilaku kita turut mendukung dengan menampilkan hal-hal yang positif. Misalnya si sakit tak nampak kesakitan, tak mengeluh, serta bersikap seperti orang normal saja layaknya. Dengan sendirinya tubuh akan mengikuti irama perintah otak itu sehingga tak malas menjalankan fungsinya. Akibatnya penyakit akan terkalahkan. Begitu inti pembicaraan Ani.
Agaknya Ani didukung teman-teman untuk melakukan semacam home visit ke rumah saya guna menilai bagaimana pandangan saya menghadapi penyakit berat ini. Bila mindset saya dirasa perlu diubah, Ani bertugas untuk mengarahkan dan menggerakkan perubahan itu.
Teman-teman saya lainnya pun sepakat membenarkan Ani, bahwasannya saya tak nampak seperti orang sakit. Meski mereka juga ingat bahwa sejak remaja dulu saya memang langganan sakit. Namun itulah, saya berhasil melumpuhkan kelemahan fisik saya itu.
Mereka juga sepakat menganggap saya mempunyai ingatan yang jelas, ketika saya menanyakan tentang beberapa orang teman yang bahkan di antara mereka sudah banyak yang lupa. Bahwasannya Endang tetangga Ani yang hitam manis sudah berpulang, hanya Ani yang ingat. Namun Helmy si gadis berkacamata yang terbilang gadis gaul dulunya semua tahu. Innalillahi wa innailaihi raji'un, perempuan itu pun sudah mendahului kami.
Memang kami belum terlalu tua. Boleh dibilang masih muda, kalau melihat bilangan umur kami yang belum mencapai kepala enam. Tapi penampilan banyak yang sudah "uzur". Contohnya Hamzah si tukang ngocol yang bangga memeragakan giginya yang sudah banyak tanggal juga rambutnya yang memutih bak dikotori bunga jambu. Meski begitu, kami cukup percaya diri dengan keadaan fisik kami, termasuk saya yang kini berdada rata sebelah.
"Kamu hebat ya, tangguh menghadapi sakit dan keadaan kamu," kata salah seorang di antara mereka. Mereka menyayangkan mengapa saya harus mengalami semua keadaan ini. Tapi lagi-lagi mereka kembali kepada keyakinan bahwa tidak semua orang dikaruniai kemampuan untuk bisa menerima kenyataan takdirnya. Jadi saya termasuk seseorang yang istimewa. Semogalah, insya Allah.
Sebelum beranjak pulang untuk bertukar rumah menjenguk teman lain lagi yang juga sakit, Tati yang sangat dekat dengan saya minta izin untuk memberikan nomor telepon dan alamat rumah saya kepada Boetje, juara kelas kami yang sebenarnya tinggal tak jauh dari rumah kami. Sebab Boetje berkeinginan menengok juga. Bahkan semalam kata Tetty teman saya yang lain lagi, Boetje dan kawan-kawan ingin menggelar doa bersama untuk membantu saya. Tak dinyana, tadi siang itu, ternyata rombongan teman-teman saya sehabis menengok kami yang sakit masih singgah di rumah Tetty untuk berdoa bersama juga bagi kami. Itu saya ketahui malam harinya dari Tetty yang menjawab SMS saya yang menanyakan mengenai keberadaan kakak iparnya yang kemarin dulu sangat surprise menemukan saya kembali tapi dalam keadaan sakit.
Indahnya persahabatan kami ini tak terkira. Silaturahmi yang terputus segera bertaut kembali, dalam keadaan banyak di antara kami yang sedang kemalangan. Barangkali saja itu sudah kehendak Allah untuk mengingatkan manusia agar tak lalai menjaga dirinya serta menjaga persaudaraan dengan siapa pun juga. Saya bahagia telah dikaruniai sejumlah teman-teman yang begitu peduli kepada saya. Semoga selamanya kami akan berteman. Tak ada yang perlu dijauhkan di dalam pergaulan ini. Itu inti dari pertemanan kami.
(Bersambung)
Minggu, 07 Juli 2013
"SEMUA DATANG DARI SISI ALLAH"
Kita hanyalah manusia biasa. Tiada daya tanpa pertolongan Tuhan, Sang Maha Segalanya. Kita tak pernah tahu juga kapan akan datang KeridhaanNya kepada kita kalau kita tak cukup bersabar menerima semua ujian kita yang pasti ada dalam hidup yang sarat beban ini.
Mengingatkan kedudukan kita sebagai hamba Allah yang harus selalu bersabar di dalam menyikapi ujian dariNya, menjadi bagian dari cara saya mendidik kedua anak saya sejak mereka kecil hingga dewasa. Bahwasannya ujian Allah itu lumrah adanya, juga saya tekankan kepada mereka agar mereka tak meratapi nasib jika tiba saatnya diuji. Dan alhamdulillah mereka semua bisa menerima serta mencernanya dengan baik.
Entah karena sikap saya demikian itu entah bukan, yang jelas saya merasa Allah jadi begitu sayang dan memperhatikan kami. Bertubi-tubi kemudahan, pertolongan, bantuan dan kebaikan-kebaikan lain tercurah di saat saya sakit selama ini, termasuk ketika saya dirawat minggu yang lalu itu.
Diam-diam saya ingat semua satu demi satu hingga saya menemukan uraian seperti ini :
1. Saya datang dari kalangan orang tidak mampu untuk ukuran pengobatan kanker payudara yang mahalnya luar biasa. Tiba-tiba, teman-teman satu organisasi saya menawari pengobatan di RS Kanker Dharmais yang tidak pernah terlintas di dalam benak bisa saya kunjungi. Bahkan sekedar membayangkan wujudnya yang berupa gedung jangkung itu saja saya tidak berani. Sebab saya tahu di situ bertugas dokter-dokter terlatih dengan ilmu yang tidak sembarangan, yang akan memungut tarif mahal bagi pasiennya.
2. Dari RSKD tadi, saya kemudian dirujuk teman saya yang kebetulan merupakan salah satu pimpinan di sana untuk berobat kepada juniornya di Bogor saja, yakni orang yang sangat saya incar tapi saya pun tak berani mendatangi kliniknya karena saya yakin tak akan sanggup menjalani kemoterapi, operasi maupun radiasi jika nantinya beliau harus melakukannya untuk mengatasi penyakit saya. Tapi tanpa diduga, tiba-tiba beliau menawari solusi yang baik, yakni mengajari saya untuk meminta dana Jaminan Kesehatan Masyarakat kepada pemerintah agar pengobatan bisa berlangsung. Dana itu akhirnya berhasil saya dapatkan, meski sayangnya tak bisa dipakai untuk berobat di RSKD yang berada di luar wilayah kota kami. Juga tak bisa dipakai membeli obat yang terbilang baru dengan harga yang amat mahal. Meski demikian, alhamdulillah obat yang dibelikan pemerintah bisa mengatasi penyakit saya, tumor saya mengecil sehingga dianggap dokter cocok untuk saya.
Setelah tumor mengecil oleh obat kemoterapi, dokter meminta saya dioperasi di Jakarta. Kali ini datang lagi pertolongannya, yakni menggratiskan biaya jasa dokter yang merupakan haknya serta teman-teman sejawat yang menjadi konsulen. Tak terduga, jumlahnya mencapai 19 juta rupiah, suatu jumlah yang fantastis untuk keluarga saya. Alhamdulillah sekali, bukan?! Biaya yang menakutkan itu datang sendiri solusinya kepada kami.
3. Setiap berobat ke Jakarta, biasanya saya memperoleh mobil pinjaman dari kenalan saya dengan mengganti sejumlah biaya yang bisa dikatakan murah. Selalu saja dia ada untuk saya, termasuk di hari libur tahun baru ketika jadwal kontrol saya tidak bisa ditunda-tunda lagi. Tapi kebetulan sekali justru di harinya saya harus menjalani rawat inap untuk dioperasi, beliau tak ada di tempat. Sebagai gantinya kami menyewa taksi meski sulit mendapatkannya. Kami bahkan sempat tertipu oleh persewaan mobil bohong-bohongan. Akibatnya ketika kami mendapat taksi, hari sudah siang sehingga kami terburu-buru berangkat. Ini menimbulkan kemalangan, dokumen RS yang justru penting untuk syarat perawatan inap tertinggal di rumah. Saya nyaris tak bisa masuk ke kamar perawatan. Akhirnya anak saya harus kembali ke rumah mengambilnya. Di saat-saat genting itu, tak terduga datang teman mantan suami saya suami-istri dengan mobilnya. Beliau kemudian bersedia mengantarkan anak saya, sehingga alhamdulillah saya bisa dirawat inap.
4. Dengan terpaksa anak-anak saya berniat menunggui operasi saya berdua saja. Mereka sengaja tak minta ditemani siapa-siapa karena sadar kesibukan orang kantoran yang tak mungkin ditinggal. Namun nyatanya, di harinya saya dioperasi teman-teman seorganisasi saya datang menemani tanpa diminta. Lebih mencengangkan lagi, salah seorang paman saya pun tiba-tiba datang mengambil alih peran sebagai keluarga pasien bersama-sama anak-anak saya. Jadi ketika anak-anak menerima penjelasan dari dokter yang mengoperasi saya, tidak ada kesedihan mendalam meski mendengar kabar yang sangat tidak sedap dari hasil pengamatan dokter. Mereka semua ada datang seakan-akan menjadi penguat mental anak-anak saya. Subhanallah!
5. Masa perawatan saya di RS sangat singkat. Saya dioperasi pada hari Selasa sore, mulai pukul 15.40 hingga pukul 19.40. Tetapi Kamis pagi saya sudah diizinkan pulang. Lamanya persis seperti rawat inap pasien operasi amandel atau apa saja yang minor. Sebab kakak saya yang menjalani biopsi dengan cara pembedahan juga menginap 2 malam di RS.
6. Selama perawatan di RS banyak keluarga, kerabat dan sahabat yang menjenguk, tetapi lebih banyak lagi yang dikecewakan karena saya sudah terlanjur pulang ke rumah. Mereka kemudian datang ke rumah sambil membawa buah tangan, bantuan serta tentu saja doa yang amat baik. Di antaranya ada bantuan dari keluarga almarhumah pakdhe saya yang disampaikan putra-putri serta cucunya.
7. Waktu akan mencari taksi untuk pulang, tiba-tiba putri budhe saya menelepon mengatakan akan segera tiba di RS. Begitu tahu saya bersiap-siap pulang, beliau malah berniat mengantar sampai ke rumah kami di Bogor sekalian. Anak-anak dilarang mencari taksi. Betul-betul berkah yang tak terbayangkan mengingat kakak sepupu saya itu tinggal di Tangerang Selatan.
8. Saya tiba lebih dulu di rumah dibandingkan kakak saya. Waktu beliau pulang kemudian, beliau bercerita bahwa sekedar untuk dibiopsi saja, beliau sudah keluar biaya sangat banyak untuk ukuran kantung pensiunan PNS berstatus guru. Sayangnya keesokan harinya tanggal 1 sehingga kalau beliau nekad mengambil uang pensiunannya, pasti loket pengambilan gaji penuh sesak. Padahal uang di dompetnya terkuras di RS.
Tanpa ragu-ragu saya ulurkan salah satu amplop pemberian saudara saya ketika di RS itu. Semula kakak saya menolak. Tapi saya memaksa, sebab saya tak ingin beliau kerepotan.
Tak dinyana, beberapa hari kemudian saya menerima kembali uang sejumlah itu dari keluarga mertua saya. Jumlah yang persis sama ini tentu saja menakjubkan! Subhanallah!
9. Kemarin saya ke RS untuk memastikan bahwa obat kemoterapi saya memang sudah disiapkan untuk digunakan minggu depan. Pulangnya di angkot kami bertemu dengan penjual lotek dan soto di dekat rumah. Dia menyapa anak saya, tapi anak saya tak hafal kepadanya sehingga pembicaraan terjadi dengan saya. Ternyata dia pun mengenali saya. Ketika akan turun di muka rumah, anak saya sekaligus membayari ongkos angkot ibu itu tadi. Tentu saja dia menolaknya, tapi anak saya memaksa. Tak dinyana, siangnya uang receh itu kembali berpuluh-puluh kali lipat, subhanallah lagi!!!
10. Kemarin pagi juga, tak disangka-sangka sahabat mantan suami saya di SMA menghubungi saya menyatakan ingin menjenguk saya setelah tahu dari adiknya yang merupakan teman saya tentang kondisi saya. Semula dia ragu-ragu apakah saya masih mengenalnya. Tentu saja saya pastikan bahwa tak mudah melupakan gerombolan sekelas mantan suami saya yang rata-rata perempuan penggemar acara rujakan di siang terik sepulang sekolah. Lalu dia pun datang sendirian, tanpa kang Dede teman saya yang adiknya itu. Katanya mudah mencari rumah saya. Sedang saya mengobrol baru sebentar, tiba-tiba datang dua orang teman sekolah saya lainnya. Yang sungguh tak dinyana adalah saudara teman saya itu juga. Jadilah obrolan mereka serunya luar biasa disertai tangis bahagia campur haru. Maklum sudah bertahun-tahun mereka tak saling jumpa. Sungguh kebetulan yang membawa berkah bukan?! Saya saksikan senyum bahagia tersungging di bibir mereka ketika melangkah pulang bersama-sama.
11. Sore harinya sedang saya dijenguk kemenakan saya, masuk panggilan dari nomor tak dikenal ke ponsel saya. Secara refleks saya terima. Seorang perempuan menyapa saya hangat. Nomor yang tak saya kenali itu ternyata berasal dari kenalan saya, isteri seorang petinggi di jajaran legislatif DKI. Dia sendiri aktivis wanita yang tertarik mengamati kehidupan saya. Yang lebih mencengangkan lagi, dia bilang dia bersaudara ipar dengan teman saya di SMP yang beberapa hari yang lalu datang menengok saya. Siang itu keluarga besar mereka sedang berkumpul. Secara iseng teman saya menceritakan kegiatannya minggu lalu termasuk menengok saya. Diperlihatkannya foto saya terakhir kepada iparnya itu. Tak disangka-sangka, iparnya yang kenalan saya langsung mengenali saya. Dia memeras habis kisah sakitnya saya yang memang tak pernah saya ceritakan kepadanya. Lalu serta merta dia menghubungi saya sambil mengisak di telepon, yang katanya karena haru.
Hari ini kembali dia menghubungi saya. Dikiriminya saya doa yang indah-indah. Serta dimintanya untuk terus menjalin hubungan dengannya. Sungguh indah semua kebetulan ini, bukan?!
Ketahuilah, semuanya terjadi atas kehendak Allah juga. "In ahsantum ahsantum wa anfusikum," jika kita menolong seseorang dengan ikhlas, Allah akan menolong kita kembali, demikian kalau tak salah bunyi seruan seorang ustadz di televisi di suatu pagi dulu. Tak terasa, kiranya saya ditolong orang sesuai dengan pendapat teman-teman yang dulu asyik mengamati kehidupan saya, yakni katanya karena saya juga menolong dirinya yang membutuhkan bantuan. Insya Allah akan saya teruskan kebiasaan itu kepada anak-anak saya nantinya. Sungguh cantiknya Permainan Allah ini, saya bahagia sekali karenanya.
Mengingatkan kedudukan kita sebagai hamba Allah yang harus selalu bersabar di dalam menyikapi ujian dariNya, menjadi bagian dari cara saya mendidik kedua anak saya sejak mereka kecil hingga dewasa. Bahwasannya ujian Allah itu lumrah adanya, juga saya tekankan kepada mereka agar mereka tak meratapi nasib jika tiba saatnya diuji. Dan alhamdulillah mereka semua bisa menerima serta mencernanya dengan baik.
Entah karena sikap saya demikian itu entah bukan, yang jelas saya merasa Allah jadi begitu sayang dan memperhatikan kami. Bertubi-tubi kemudahan, pertolongan, bantuan dan kebaikan-kebaikan lain tercurah di saat saya sakit selama ini, termasuk ketika saya dirawat minggu yang lalu itu.
Diam-diam saya ingat semua satu demi satu hingga saya menemukan uraian seperti ini :
1. Saya datang dari kalangan orang tidak mampu untuk ukuran pengobatan kanker payudara yang mahalnya luar biasa. Tiba-tiba, teman-teman satu organisasi saya menawari pengobatan di RS Kanker Dharmais yang tidak pernah terlintas di dalam benak bisa saya kunjungi. Bahkan sekedar membayangkan wujudnya yang berupa gedung jangkung itu saja saya tidak berani. Sebab saya tahu di situ bertugas dokter-dokter terlatih dengan ilmu yang tidak sembarangan, yang akan memungut tarif mahal bagi pasiennya.
2. Dari RSKD tadi, saya kemudian dirujuk teman saya yang kebetulan merupakan salah satu pimpinan di sana untuk berobat kepada juniornya di Bogor saja, yakni orang yang sangat saya incar tapi saya pun tak berani mendatangi kliniknya karena saya yakin tak akan sanggup menjalani kemoterapi, operasi maupun radiasi jika nantinya beliau harus melakukannya untuk mengatasi penyakit saya. Tapi tanpa diduga, tiba-tiba beliau menawari solusi yang baik, yakni mengajari saya untuk meminta dana Jaminan Kesehatan Masyarakat kepada pemerintah agar pengobatan bisa berlangsung. Dana itu akhirnya berhasil saya dapatkan, meski sayangnya tak bisa dipakai untuk berobat di RSKD yang berada di luar wilayah kota kami. Juga tak bisa dipakai membeli obat yang terbilang baru dengan harga yang amat mahal. Meski demikian, alhamdulillah obat yang dibelikan pemerintah bisa mengatasi penyakit saya, tumor saya mengecil sehingga dianggap dokter cocok untuk saya.
Setelah tumor mengecil oleh obat kemoterapi, dokter meminta saya dioperasi di Jakarta. Kali ini datang lagi pertolongannya, yakni menggratiskan biaya jasa dokter yang merupakan haknya serta teman-teman sejawat yang menjadi konsulen. Tak terduga, jumlahnya mencapai 19 juta rupiah, suatu jumlah yang fantastis untuk keluarga saya. Alhamdulillah sekali, bukan?! Biaya yang menakutkan itu datang sendiri solusinya kepada kami.
3. Setiap berobat ke Jakarta, biasanya saya memperoleh mobil pinjaman dari kenalan saya dengan mengganti sejumlah biaya yang bisa dikatakan murah. Selalu saja dia ada untuk saya, termasuk di hari libur tahun baru ketika jadwal kontrol saya tidak bisa ditunda-tunda lagi. Tapi kebetulan sekali justru di harinya saya harus menjalani rawat inap untuk dioperasi, beliau tak ada di tempat. Sebagai gantinya kami menyewa taksi meski sulit mendapatkannya. Kami bahkan sempat tertipu oleh persewaan mobil bohong-bohongan. Akibatnya ketika kami mendapat taksi, hari sudah siang sehingga kami terburu-buru berangkat. Ini menimbulkan kemalangan, dokumen RS yang justru penting untuk syarat perawatan inap tertinggal di rumah. Saya nyaris tak bisa masuk ke kamar perawatan. Akhirnya anak saya harus kembali ke rumah mengambilnya. Di saat-saat genting itu, tak terduga datang teman mantan suami saya suami-istri dengan mobilnya. Beliau kemudian bersedia mengantarkan anak saya, sehingga alhamdulillah saya bisa dirawat inap.
4. Dengan terpaksa anak-anak saya berniat menunggui operasi saya berdua saja. Mereka sengaja tak minta ditemani siapa-siapa karena sadar kesibukan orang kantoran yang tak mungkin ditinggal. Namun nyatanya, di harinya saya dioperasi teman-teman seorganisasi saya datang menemani tanpa diminta. Lebih mencengangkan lagi, salah seorang paman saya pun tiba-tiba datang mengambil alih peran sebagai keluarga pasien bersama-sama anak-anak saya. Jadi ketika anak-anak menerima penjelasan dari dokter yang mengoperasi saya, tidak ada kesedihan mendalam meski mendengar kabar yang sangat tidak sedap dari hasil pengamatan dokter. Mereka semua ada datang seakan-akan menjadi penguat mental anak-anak saya. Subhanallah!
5. Masa perawatan saya di RS sangat singkat. Saya dioperasi pada hari Selasa sore, mulai pukul 15.40 hingga pukul 19.40. Tetapi Kamis pagi saya sudah diizinkan pulang. Lamanya persis seperti rawat inap pasien operasi amandel atau apa saja yang minor. Sebab kakak saya yang menjalani biopsi dengan cara pembedahan juga menginap 2 malam di RS.
6. Selama perawatan di RS banyak keluarga, kerabat dan sahabat yang menjenguk, tetapi lebih banyak lagi yang dikecewakan karena saya sudah terlanjur pulang ke rumah. Mereka kemudian datang ke rumah sambil membawa buah tangan, bantuan serta tentu saja doa yang amat baik. Di antaranya ada bantuan dari keluarga almarhumah pakdhe saya yang disampaikan putra-putri serta cucunya.
7. Waktu akan mencari taksi untuk pulang, tiba-tiba putri budhe saya menelepon mengatakan akan segera tiba di RS. Begitu tahu saya bersiap-siap pulang, beliau malah berniat mengantar sampai ke rumah kami di Bogor sekalian. Anak-anak dilarang mencari taksi. Betul-betul berkah yang tak terbayangkan mengingat kakak sepupu saya itu tinggal di Tangerang Selatan.
8. Saya tiba lebih dulu di rumah dibandingkan kakak saya. Waktu beliau pulang kemudian, beliau bercerita bahwa sekedar untuk dibiopsi saja, beliau sudah keluar biaya sangat banyak untuk ukuran kantung pensiunan PNS berstatus guru. Sayangnya keesokan harinya tanggal 1 sehingga kalau beliau nekad mengambil uang pensiunannya, pasti loket pengambilan gaji penuh sesak. Padahal uang di dompetnya terkuras di RS.
Tanpa ragu-ragu saya ulurkan salah satu amplop pemberian saudara saya ketika di RS itu. Semula kakak saya menolak. Tapi saya memaksa, sebab saya tak ingin beliau kerepotan.
Tak dinyana, beberapa hari kemudian saya menerima kembali uang sejumlah itu dari keluarga mertua saya. Jumlah yang persis sama ini tentu saja menakjubkan! Subhanallah!
9. Kemarin saya ke RS untuk memastikan bahwa obat kemoterapi saya memang sudah disiapkan untuk digunakan minggu depan. Pulangnya di angkot kami bertemu dengan penjual lotek dan soto di dekat rumah. Dia menyapa anak saya, tapi anak saya tak hafal kepadanya sehingga pembicaraan terjadi dengan saya. Ternyata dia pun mengenali saya. Ketika akan turun di muka rumah, anak saya sekaligus membayari ongkos angkot ibu itu tadi. Tentu saja dia menolaknya, tapi anak saya memaksa. Tak dinyana, siangnya uang receh itu kembali berpuluh-puluh kali lipat, subhanallah lagi!!!
10. Kemarin pagi juga, tak disangka-sangka sahabat mantan suami saya di SMA menghubungi saya menyatakan ingin menjenguk saya setelah tahu dari adiknya yang merupakan teman saya tentang kondisi saya. Semula dia ragu-ragu apakah saya masih mengenalnya. Tentu saja saya pastikan bahwa tak mudah melupakan gerombolan sekelas mantan suami saya yang rata-rata perempuan penggemar acara rujakan di siang terik sepulang sekolah. Lalu dia pun datang sendirian, tanpa kang Dede teman saya yang adiknya itu. Katanya mudah mencari rumah saya. Sedang saya mengobrol baru sebentar, tiba-tiba datang dua orang teman sekolah saya lainnya. Yang sungguh tak dinyana adalah saudara teman saya itu juga. Jadilah obrolan mereka serunya luar biasa disertai tangis bahagia campur haru. Maklum sudah bertahun-tahun mereka tak saling jumpa. Sungguh kebetulan yang membawa berkah bukan?! Saya saksikan senyum bahagia tersungging di bibir mereka ketika melangkah pulang bersama-sama.
Saya bersama Nida Djajadi, Elly Latief dan Chairudin
11. Sore harinya sedang saya dijenguk kemenakan saya, masuk panggilan dari nomor tak dikenal ke ponsel saya. Secara refleks saya terima. Seorang perempuan menyapa saya hangat. Nomor yang tak saya kenali itu ternyata berasal dari kenalan saya, isteri seorang petinggi di jajaran legislatif DKI. Dia sendiri aktivis wanita yang tertarik mengamati kehidupan saya. Yang lebih mencengangkan lagi, dia bilang dia bersaudara ipar dengan teman saya di SMP yang beberapa hari yang lalu datang menengok saya. Siang itu keluarga besar mereka sedang berkumpul. Secara iseng teman saya menceritakan kegiatannya minggu lalu termasuk menengok saya. Diperlihatkannya foto saya terakhir kepada iparnya itu. Tak disangka-sangka, iparnya yang kenalan saya langsung mengenali saya. Dia memeras habis kisah sakitnya saya yang memang tak pernah saya ceritakan kepadanya. Lalu serta merta dia menghubungi saya sambil mengisak di telepon, yang katanya karena haru.
Hari ini kembali dia menghubungi saya. Dikiriminya saya doa yang indah-indah. Serta dimintanya untuk terus menjalin hubungan dengannya. Sungguh indah semua kebetulan ini, bukan?!
Ketahuilah, semuanya terjadi atas kehendak Allah juga. "In ahsantum ahsantum wa anfusikum," jika kita menolong seseorang dengan ikhlas, Allah akan menolong kita kembali, demikian kalau tak salah bunyi seruan seorang ustadz di televisi di suatu pagi dulu. Tak terasa, kiranya saya ditolong orang sesuai dengan pendapat teman-teman yang dulu asyik mengamati kehidupan saya, yakni katanya karena saya juga menolong dirinya yang membutuhkan bantuan. Insya Allah akan saya teruskan kebiasaan itu kepada anak-anak saya nantinya. Sungguh cantiknya Permainan Allah ini, saya bahagia sekali karenanya.
Kamis, 04 Juli 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (83)
Nyeri dan ngeri adalah perasaan yang paling menghantui saya selepas dioperasi besar kali ini. Sebab meski merupakan opersai ke-dua belas sepanjang sejarah hidup saya, tetapi ini adalah operasi pertama dengan sayatan yang mudah kelihatan oleh mata. Dada saya akan pula menjadi datar sebelah karena hilangnya simbol kewanitaan saya.
Jadi ketika kemarin dulu dokter mengelupas plaster di bagian dada saya, mata saya tak mau melihat ke bawah. Tidak juga saat saya bercermin pandangan saya melirik ke dada. Saya benar-benar hanya fokus ke arah wajah saya yang kata orang-orang termasuk para perawat di RS memiliki kulit kencang dan mulus, meski kemoterapi lanjutan saya mau berlanjut lagi untuk setahun ke depan. Pokoknya saya ngeri.
Namun mau tak mau akhirnya saya tergerak dengan sendirinya untuk melihat, sebab hari kemarin semua peralatan yang terpasang di kulit tubuh saya pasca dioperasi sudah dicabut. Artinya saya tidak lagi perlu pertolongan orang lain untuk membersihkan tubuh saya. Saya bebas merdeka untuk mandi sendiri.
Kegiatan saya dimulai pagi-pagi sekali, genap seminggu setelah operasi saya berlangsug. Hari kemarin, saya punya tiga jadwal. Ke Instalasi Rehabilitasi Medik RSKD Jakarta untuk difisioterapi, kemudian ke sinshe untuk treatment dan, kontrol seminggu pasca operasi di RS tempat saya biasa berobat.
Sambil menunggu bagian pendaftaran pasien di RS dibuka, saya memutuskan berangkat pada pukul enam seperempat. Saya berharap akan mendapat nomor antrian kecil. Nyatanya saya keliru. Ataukah Bogor memang kekurangan RS dengan dokter ahli yang lengkap? Saya tak tahu, yang jelas sepagi iru saya sudah mendapat nomor antrian 76, padahal meja pendaftaran pasien baru akan dibuka pukul tujuh pagi.
"Tapi di klinik ibu dapat nomor lima," terang anak saya memperlihatkan lembar antrian di tangannya. Saya tersenyum senang, "alhamdulillah mas, jadi nggak kemalaman," ujar saya. Terus terang saja tubuh saya masih terasa kurang bugar sampai saat ini. Walau menurut kebanyakan orang sih, saya justru istimewa tidak menampakkan wujud pasien pasca operasi berat.
Banyak pasien mengantri ticket antrian di loket Satuan Pengamanan (Satpam). Agaknya tengah terjadi kekisruhan menyangkut pendaftaran ke dokter spesialis penyakit dalam, tetangga saya di rumah yang kami akui sangat populer sehingga meski berpraktek di berbagai RS tetap saja di suatu RS pasiennya membludak. Tapi tak salah juga sih, sebab beliau merupakan satu-satunya internist yang memiliki dua keahlian, yakni merangkap ahli alergi dan asthma. Ibu-ibu tua di samping saya yang sudah lebih dulu duduk di situ melirik ke tangan saya. "Mau ke dokter siapa?" Pancingnya. "Klinik onkologi," jawab saya. "Dokter apa itu?" Tanyanya lagi dengan raut wajah tak paham. "Ahli bedah kanker," lagi-lagi saya menjawab singkat.
"Siapa yang sakit?" Kini dia mulai menyelidik sambil mengamat-amati tangan saya yang masih berpembalut.
"Ya saya sendiri. Minggu lalu payudara saya diangkat, sekarang kontrol pasca operasinya," terang saya.
"Oh?! Ibu?! Kanker apa? Itu tangannya kenapa?" Dia semakin menunjukkan perhatian, lebih tepatnya keingin tahuannya.
"Ya kanker payudara. Sudah menjalar ke ketiak, jadi tangan saya selama sakit bengkak begini. Ini makanya saya pakai verband untuk memulihkannya. Habis mendaftar ini saya ke Dharmais, di sana saya dioperasi sehingga fisioterapi untuk tangan saya pun di situ," kali ini saya menjawab panjang lebar. "Ibu sakit apa?" Ujar saya balik bertanya.
"Sakit gula. Itu yang kisruh antrian untuk klinik dokter internist. Ngomong-ngomong kakak saya dulu meninggal karena kanker payudara juga," tiba-tiba dia bercerita sendiri sambil terus mengawasi saya. Rasanya dia sedang menelusuri lekuk-liku tubuh saya, terpusat di dada. Seperti menelanjangi diri saya.
"Kenapa nggak tertolong, bu?" Sahut saya.
Perempuan tua yang datang bersama-sama suaminya itu cuma mengangkat bahu. "Padahal sudah dikemo lho sampai badannya kurus kering," terangnya. Saya pun cuma mengangguk-angguk seakan-akan mengerti. Sebab nyatanya kanker memang penuh misteri. Ada yang bisa sembuh total, ada juga yang tak mampu melawan. Walau menurut analisa dan asumsi saya, sikap penderita dalam menghadapi sakitnya berpengaruh sangat besar. Pasien yang merasa sedih, murung akan sulit menyesuaikan diri dengan takdirnya menjalani pengobatan melelahkan dan menyakitkan ini. Sedangkan mereka yang menganggap matahari sedang mengintai di atap ruang kemoterapi serta bulan-bintang berseri di ruang bedah, akan merasa hidupnya diangkat dari kubangan duka.
***
Sehabis meletakkan lembar antrian pasien ke klinik onkologi yang kebetulan dijaga saudara saya, kami sarapan di kantin. Ingin rasanya saya mencoba nasi goreng di situ yang jadi menu favorit anak-anak saya. Karena selama ini saya hindari disebabkan kandungan daging ayam dan telurnya yang pasti bukan dari ayam kampung. Baru kemudian mobil meluncur ke Jakarta. Saya pesankan pada sopirnya untuk tak tergesa-gesa sebab saya cuma mau ke klinik fisioterapi saja, bukan bertemu onkologis muda yang sibuk itu. Tumben sekali, hari itu jalanan malah lengang tak seperti ketika saya mesti "kontrol klinik".
Pukul setengah sepuluh kami sudah di dalam ruang fisioterapi yang juga lengang. Anak-anak diminta masuk memperhatikan kerja perawat supaya bisa menerapi saya setiap hari di rumah. Sedangkan kakek di sebelah bilik saya kedengarannya ditemani perawat pribadinya, meski menurut anak saya si nenek pasangannya tadinya juga kelihatan mengantar. Mungkin saja beliau juga akan diterapi sendiri. Kakek itu penderita stroke, sementara pasien di sisi bilik saya sebelah kiri adalah pasien pasca operasi kanker payudara. Kedengaran instruksi perawatnya persis dengan instruksi kepada saya.
Belum selesai diterapi ponsel saya dipanggil bibi mantan suami saya. Terpaksa anak saya yang mengangkatnya. Beliau ada di tol menuju ke Bogor akan menjenguk saya. Untung belum di luar Jakarta sehingga beliau akhirnya berputar arah, memutuskan untuk bertemu di RS. Sungguh tak terduga lagi, keluarga mertua saya ternyata amatlah sayang kepada kami. Cuma ketika minggu lalu menengok ke RS, terlanjur keduluan saya pulang. Kata beliau sih itu artinya saya pasien istimewa. Subhanallah!
Perawat bilang, bengkak sya boleh jadi akan menetap selamanya. Ciut hati saya menerimanya. Tapi akal sehat saya mengatakan saya mesti berpasrah diri. Ya, akan saya terima KetetapanNya dengan ikhlas sambil terus diterapi sampai dokter ahli rehabilitasi medik menghentikannya.
***
Siang itu sehabis makan kentang keju yang nikmat, meluncurlah kami ke sinshe meski semula saya minta izin tidak datang terapi sebab harus membayar ongkos fisioterapi yang tak didanai Jamkesda. Tapi setelah dipikir ulang saya ingin juga melihat reaksi sinshe pasca seminggu operasi.
Sinshe saya sedang duduk minum kopi susu di teras seraya menunggu pasiennya. Ah, ternyata saya pasien pertama di hari itu. Sinshe tersenyum lebar menyambut saya. Lalu tanpa meraba dia bilang kondisi saya fit, hanya kadar darah merah dan darah putih saya melorot drastis. Untuk itu saya diberi obatnya tanpa ditotok syaraf. Katanya totok syaraf hanya boleh sebulan setelah dioperasi yakni ketika jaringan luka saya pulih kembali. Kelihatan betapa berhati-hatinya beliau. Saya diminta banyak beristirahat, makan protein, buah, sayur dan minum air putih supaya siap tempur untuk kemoterpi yang akan dilanjutkan. Kata sinshe sih, sel kanker saya masih ada. Itu harus ditumpas baik dengan kemoterapi di RS maupun dengan jejamunnya yang selama ini saya makan namun sempat terhenti seminggu sebab saya dalam masa operasi. Percaya lah, deteksi sinshe saya persis sama dengan keterangan onkologis segera setelah selesai mengoperasi saya.
Kami tiba di rumah sudah mendekati senja. Waktunya untuk kontrol ke klinik RS. Tapi saya nekad berisirahat barang satu jam setengah sekalian bersembahyang Ashar. Maka hujan sore hari pun keburu turun menemani perjalanan kami ke RS. Kali ini tentu saja naik angkot seperti biasanya, sebab mobil pinjaman sudah saya kembalikan.
Sedikit berbasah-basah kami tiba di klinik. Kata kemenakan saya, dokter sudah datang sejam yang lalu, tepat waktu. Saya segera masuk. RS memang sepi, saya duga pasien onkologis saya banyak yang putus asa karena dokter memutuskan untuk praktek cuma seminggu sekali.
Kali ini kateter saya dicabut, sebab slangnya sudah kering sama sekali meski menurut catatan harian terakhir sekresi darah luka saya masih 35 Cc, jauh di atas batas aturan pencabutannya. Dalam pada itu dokter memperingatkan akan terjadinya penimbunan cairan di kulit bekas sayatan dan tusukan jarum. Itu hal yang lumrah. Dan seandainya terjadi, nanti akan ditolong dengan teknik pengisapan.
Betul saja, hari ini terjadi. Untung besok saya ke klinik fisioterapi, jadi tak begitu risau. Di sana pasti bisa ditangani.
Dalam pada itu, untuk selanjutnya saya cukup dikemoterapi saja lagi dengan obat murah meriah itu. Soalnya tawaran menggunakan Herceptin tidak ada lagi. Namun saya yakin bisa menang menghabisi semua sel jahat itu meki dalan jangka waktu lama. Soalnya sudah terbukti, saya bisa mengecilkan tumor sebelum operasi dilakukan hanya dengan obat yang dijatahkan Jamkesda itu. Insya Allah! Ruang kemo pun siap merawat membantu kesembuhan saya tanggal 13/07 nanti, meski onkologis saya pamitan belajar ke luar negeri lagi hingga tanggal 22/07. Alangkah senangnya kalau beliau jadi semakin pintar.
(Bersambung)
Selasa, 02 Juli 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (82)
Minggu sore teman-teman sekolah saya datang menjenguk. Semua tanpa diduga. Winnie membawa serta Rini sahabatnya sekalian mengantarkan Tati pulang. Saya langsung teringat bahwa teman-teman SMP hari itu diundang ke sekolah milik engkoh Slamet salah seorang di antara kami untuk saling melepas rindu seraya menyaksikan kiprah si empunya sekolah bagi orang banyak. Kata mereka sih banyak teman yang datang. Umumnya mereka masih ingat saya dan tahu bahwa saya sedang sakit. Ketiga teman saya itu bahkan sudah beberapa kali datang menengok saya. Kata mereka sih teman-teman lain mendoakan saya dan berkirim salam. Bahkan Koswara teman saya di kelas satu SMP berpesan menyarankan saya berobat ke dokter "B" di RS Cisarua yang pernah saya datangi sebagai alternatif atas ajakan anak saya waktu saya baru sakit. Dokter itu mengobati dengan singkong racun. Kata Koswara banyak keluarganya yang sudah dioperasi di RSKD berobat ke beliau juga. Tapi sayang, saya dulu justru ditolak dokter "B" itu lalu dipaksa ke onkologis sebab beliau khawatir melihat tumor saya. Teman-teman cuma bisa terdiam mendengar sahutan saya. Sedangkan hati saya sendiri teriris perih terkenang kembali ketika uang tak ada di dompet kami untuk berobat ke onkologis sesuai saran dokter "B". Lalu perjalanan panjang ganti berganti angkot yang dimulai pukul setengah dua siang dan berakhir pukul sembilan malam di bawah terpaan hujan tiupan angin malam itu seakan-akan bermain-main di pelupuk mata saya. Kanker memang menyakitkan dan memiskinkan.
Kata Rini masih banyak teman yang ingin menengok saya. Benar saja, tepat ketika gema adzan Maghrib memanggil ummatNya Butet datang lagi. Kali ini disertai Amie, Yus dan beberapa teman SMA saya. Sadarlah saya kini bahwa mereka baru pulang dari acara lain, doa seratus hari sahabat sekolah kami Tutie yang nyawanya direnggut DBD tak seberapa lama sehabis menengok saya dulu. Memang hidup dan mati seseorang itu ada di TanganNya. Tutie yang menjenguk dan mendoakan saya, berpulang jugalah mendahului saya.
Malam itu kang Dede teman SMA saya bahkan mengirimkan doa dan salam dari kakaknya, ceu Runida yang dulu bersahabat dengan mantan suami saya. Alhamdulillah, di luaran sana terpisah jarak yang jauh dan waktu yang panjang masih banyak orang-orang yang menyenangkan dan menenangkan saya dengan segala kenangan mereka akan saya.
***
"Kalau Julie sudah pernah berobat ke dokter Budi dan justru disuruh ke ahli kanker, ya sudah. Jalani semua dengan tekun ya Jul, ini ada sekedar ongkos transportasi ke Dharmais," pesan Winnie sebelum pulang menyelipkan uang ke tangan saya. Ibu mungil yang satu ini sejak dulu jadi orang pertama yang begitu peduli akan kondisi saya. Saya sangat menghargai tulusnya persahabatan kami yang tanpa pretensi apa pun.
Winnie bukan satu-satunya orang yang peduli pada saya. Dia cuma setitik di antara seember perhatian yang saya terima. Tapi dia inilah orang yang pertama peduli pada kondisi saya dengan memanfaatkan jasa Tati teman juga tetangga saya. Karenanya Winnie punya tempat khusus di hati saya.
Winnie seakan-akan tahu bahwa keesokan harinya saya memang harus memeriksakan bekas operasi saya ke RSKD serta difisioterapi. Untuk diketahui, setiap pasien yang dibedah payudara harus datang menjalani fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik. Soalnya lengan dan tangan yang bengkak memerlukan perlakuan dan perawatan khusus. Lymphedema, begitu istilah medis pada pembengkakan di lengan akibat operasi pengangkatan payudara itu. Kata fisioterapis yang menangani saya, terapis nya dilatih secara khusus. Itulah sebabnya terapi hanya bisa dilakukan di RSK Dharmais, Tak ada RS lain yang mengirimkan staf nya ke pusat pelatihan terapis lymphedema selain RSKD ini.
Kami berangkat pukul setengah enam pagi keesokan harinya. Untung ada pak Djamil yang bersedia mengantar seperti biasanya, walau katanya kaki dan tangannya masih agak kaku-kaku bekas serangan chikungunya. Lebih beruntung lagi gerakannya lancar saja sehingga pukul delapan kami sudah tiba di RS. Tapi sebelum menuju klinik, saya sempatkan sarapan di kedai makanan di dalam RS untuk makan obat jatah pagi hari. Badan saya mulai terasa kurang nyaman karena penahan nyeri saya sudah kehabisan daya. Heran juga saya, perut saya cuma muat diisi sepotong tahu goreng dan sepotong arem-arem sayuran. Sudah mengerutkah kantung makanan saya? Tapi konon saya termasuk pasien yang baik, yang masih doyan makan dalam kondisi apa pun.
Sesampainya di klinik onkologi khusus perawat memberitahukan bahwa sepagi itu dokter sudah sedang melakukan operasi. Jadi kami diminta menunggu. Selasar ruang tunggu masih sepi, tapi saya tahu seorang wanita muda yang ditemani suaminya juga pasien onkologis saya. Daripada melamun dan kedinginan saya memilih pergi ke Instalasi Rehabilitasi Medik saja dulu.
Ternyata lift menuju ke atas cukup padat, menandakan kesibukan kerja benar-benar dimulai. Staf RS berpakaian seragam Kementerian Kesehatan keluar-masuk lift membaur bersama orang-orang yang nampaknya pasien dengan keluarganya. Cukup banyak juga yang berkursi roda.
Ruang fisioterapi juga penuh pasien, sehingga saya harus menunggu sejenak. Fisioterapis saya saja melayani lebih dari seorang pasien sehingga harus berpindah dari satu kubikel ke kubikel lainnya. Di sebelah saya sedang berlangsung fisioterapi pada seorang lelaki yang dari suaranya saya taksir sudah tua. Menengahi rintih kesakitan lelaki itu, perawat nampak berkata-kata lembut namun penuh bujukan. Begitu juga perawat lain yang kedengaran menerapi seseorang yang disapanya dengan "akung". Saya taksir dia kakek-kakek juga.
Sesudah dibaringkan di dipan, lengan saya yang sakit tapi sudah saya lepas dari blouse saya, dibalut dengan kain semacam sarung guling. Alat itu dihubungkan dengan listrik, kemudian mulai bekerja dengan sendirinya. Rasanya persis seperti dipijat dengan sensasi serupa cara kerja mesin pengukur tekanan darah. Nikmat sekali untuk meredakan otot saya yang tegang bengkak. Lima belas menit lamanya membuat saya nyaris terlelap jua.
Beginilah gambar perlakuan alat fisioterapi itu :
Setelah itu perawat mengurut lengan yang sakit mulai dari sekitar telapak tangan hingga ke bahu. Di sini prinsipnya hanya untuk mengarahkan aliran darah menuju ke daerah dada tempat operasi dilakukan. Jadi jemari terapis bergerak searah saja, tidak boleh berputar-putar atau naik turun. Rasanya ya enak juga, lumayan untuk meredakan ketegangan di sekitar yang sakit.
Terakhir sekali sebelum kembali dibalut dengan pembalut khusus yang panjang, lengan saya digerak-gerakkan sesuai petunjuk perawat agar bisa segera normal kembali. Semuanya makan waktu kira-kira setengah jam. Tapi pasien baru boleh pulang jika sudah berkonsultasi dengan dokter ahli Rehabilitasi Medik. Di meja beliau inilah kembali saya menerima komplimen, merupakan pasien radikal mastektomi dengan rawat inap tersingkat. Beliau bilang sempat kehilangan saya sebab cuma sekali bertemu saya di kamar rawat inap. Padahal instruksi beliau belum seluruhnya mampu saya pahami. Saya hanya nyengir-nyengir kuda sebagai permintaan maaf saya.
Kata dokter, saya diharuskan datang seminggu tiga kali, sesuai keadaan saya. Jadi artinya besok dan lusa saya difisioterapi lagi. Anak saya pun diharapkan menyimak rangkaian proses fisioterapi itu untuk kelak membantu saya di rumah. Ah, begini rasanya jadi orang sakit.
***
Selesai difisioterapi dokter onkologi saya rupanya menunggu. Perawat yang sesungguhnya tidak punya nomor saya tiba-tiba memanggil. Pasti dokter yang memintanya sambil memberikan nomor saya. Karena sudah di selasar ruang tunggu, saya pun berinisiatif masuk. Ternyata saya keliru, masih ada pasien di dalam. Setengah malu hati saya kembali duduk di bangku tunggu di antara dinding-dinding yang dingin dan tempat tidur pasien yang akan diperiksa di ruang radiologi di sebelah belakang saya.
"Bu Julie, masuk bu," ajak perawat itu sejurus kemudian. Onkologis saya nampak cerah ketika menyapa menyambut saya. "Apa kabar? Enak 'kan bu?!" Saya menjawab penuh antusiasme meski sambil memperlihatkan noda darah di bagian belakang blouse saya. Ternyata luka saya sudah kering dab menutup sempurna. Adapun darah itu berasal dari alergi plaster di bagian punggung saya.
Dokter kemudian melepas plaster saya yang menutupi luka sayatan memanjang dari tepi dada kiri hingga mencapai pinggiran dada kanan. Tapi berhubung luka di bagian dalam tubuh saya masih mengeluarkan darah, kateter saya belum bisa dicabut. Meski begitu kondisi saya dinilai dokter amat memuaskan. Sungguh besar Kuasa Allah yang penuh mukjizat.
Selanjutnya dokter meminta saya datang lagi Rabu malam besok. "Di Bogor saja ya bu, nggak ada yang perlu ditangani di sini kok. Cuma jangan lupa ke Instalasi Rehab Mediknya rutin ya," pesan dokter saya sebelum melepas saya pulang diikuti tawanya waktu saya sampaikan pujian para tetangga kami di kampung yang merasa bingung belum sempat menjenguk saya di RS. Ya, kemudahan-kemudahan memang selalu hadir untuk saya. Alhamdulillah!!!
(Bersambung)
Kata Rini masih banyak teman yang ingin menengok saya. Benar saja, tepat ketika gema adzan Maghrib memanggil ummatNya Butet datang lagi. Kali ini disertai Amie, Yus dan beberapa teman SMA saya. Sadarlah saya kini bahwa mereka baru pulang dari acara lain, doa seratus hari sahabat sekolah kami Tutie yang nyawanya direnggut DBD tak seberapa lama sehabis menengok saya dulu. Memang hidup dan mati seseorang itu ada di TanganNya. Tutie yang menjenguk dan mendoakan saya, berpulang jugalah mendahului saya.
Malam itu kang Dede teman SMA saya bahkan mengirimkan doa dan salam dari kakaknya, ceu Runida yang dulu bersahabat dengan mantan suami saya. Alhamdulillah, di luaran sana terpisah jarak yang jauh dan waktu yang panjang masih banyak orang-orang yang menyenangkan dan menenangkan saya dengan segala kenangan mereka akan saya.
***
"Kalau Julie sudah pernah berobat ke dokter Budi dan justru disuruh ke ahli kanker, ya sudah. Jalani semua dengan tekun ya Jul, ini ada sekedar ongkos transportasi ke Dharmais," pesan Winnie sebelum pulang menyelipkan uang ke tangan saya. Ibu mungil yang satu ini sejak dulu jadi orang pertama yang begitu peduli akan kondisi saya. Saya sangat menghargai tulusnya persahabatan kami yang tanpa pretensi apa pun.
Winnie bukan satu-satunya orang yang peduli pada saya. Dia cuma setitik di antara seember perhatian yang saya terima. Tapi dia inilah orang yang pertama peduli pada kondisi saya dengan memanfaatkan jasa Tati teman juga tetangga saya. Karenanya Winnie punya tempat khusus di hati saya.
Winnie seakan-akan tahu bahwa keesokan harinya saya memang harus memeriksakan bekas operasi saya ke RSKD serta difisioterapi. Untuk diketahui, setiap pasien yang dibedah payudara harus datang menjalani fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi Medik. Soalnya lengan dan tangan yang bengkak memerlukan perlakuan dan perawatan khusus. Lymphedema, begitu istilah medis pada pembengkakan di lengan akibat operasi pengangkatan payudara itu. Kata fisioterapis yang menangani saya, terapis nya dilatih secara khusus. Itulah sebabnya terapi hanya bisa dilakukan di RSK Dharmais, Tak ada RS lain yang mengirimkan staf nya ke pusat pelatihan terapis lymphedema selain RSKD ini.
Kami berangkat pukul setengah enam pagi keesokan harinya. Untung ada pak Djamil yang bersedia mengantar seperti biasanya, walau katanya kaki dan tangannya masih agak kaku-kaku bekas serangan chikungunya. Lebih beruntung lagi gerakannya lancar saja sehingga pukul delapan kami sudah tiba di RS. Tapi sebelum menuju klinik, saya sempatkan sarapan di kedai makanan di dalam RS untuk makan obat jatah pagi hari. Badan saya mulai terasa kurang nyaman karena penahan nyeri saya sudah kehabisan daya. Heran juga saya, perut saya cuma muat diisi sepotong tahu goreng dan sepotong arem-arem sayuran. Sudah mengerutkah kantung makanan saya? Tapi konon saya termasuk pasien yang baik, yang masih doyan makan dalam kondisi apa pun.
Sesampainya di klinik onkologi khusus perawat memberitahukan bahwa sepagi itu dokter sudah sedang melakukan operasi. Jadi kami diminta menunggu. Selasar ruang tunggu masih sepi, tapi saya tahu seorang wanita muda yang ditemani suaminya juga pasien onkologis saya. Daripada melamun dan kedinginan saya memilih pergi ke Instalasi Rehabilitasi Medik saja dulu.
Ternyata lift menuju ke atas cukup padat, menandakan kesibukan kerja benar-benar dimulai. Staf RS berpakaian seragam Kementerian Kesehatan keluar-masuk lift membaur bersama orang-orang yang nampaknya pasien dengan keluarganya. Cukup banyak juga yang berkursi roda.
Ruang fisioterapi juga penuh pasien, sehingga saya harus menunggu sejenak. Fisioterapis saya saja melayani lebih dari seorang pasien sehingga harus berpindah dari satu kubikel ke kubikel lainnya. Di sebelah saya sedang berlangsung fisioterapi pada seorang lelaki yang dari suaranya saya taksir sudah tua. Menengahi rintih kesakitan lelaki itu, perawat nampak berkata-kata lembut namun penuh bujukan. Begitu juga perawat lain yang kedengaran menerapi seseorang yang disapanya dengan "akung". Saya taksir dia kakek-kakek juga.
Sesudah dibaringkan di dipan, lengan saya yang sakit tapi sudah saya lepas dari blouse saya, dibalut dengan kain semacam sarung guling. Alat itu dihubungkan dengan listrik, kemudian mulai bekerja dengan sendirinya. Rasanya persis seperti dipijat dengan sensasi serupa cara kerja mesin pengukur tekanan darah. Nikmat sekali untuk meredakan otot saya yang tegang bengkak. Lima belas menit lamanya membuat saya nyaris terlelap jua.
Beginilah gambar perlakuan alat fisioterapi itu :
Setelah itu perawat mengurut lengan yang sakit mulai dari sekitar telapak tangan hingga ke bahu. Di sini prinsipnya hanya untuk mengarahkan aliran darah menuju ke daerah dada tempat operasi dilakukan. Jadi jemari terapis bergerak searah saja, tidak boleh berputar-putar atau naik turun. Rasanya ya enak juga, lumayan untuk meredakan ketegangan di sekitar yang sakit.
Terakhir sekali sebelum kembali dibalut dengan pembalut khusus yang panjang, lengan saya digerak-gerakkan sesuai petunjuk perawat agar bisa segera normal kembali. Semuanya makan waktu kira-kira setengah jam. Tapi pasien baru boleh pulang jika sudah berkonsultasi dengan dokter ahli Rehabilitasi Medik. Di meja beliau inilah kembali saya menerima komplimen, merupakan pasien radikal mastektomi dengan rawat inap tersingkat. Beliau bilang sempat kehilangan saya sebab cuma sekali bertemu saya di kamar rawat inap. Padahal instruksi beliau belum seluruhnya mampu saya pahami. Saya hanya nyengir-nyengir kuda sebagai permintaan maaf saya.
Kata dokter, saya diharuskan datang seminggu tiga kali, sesuai keadaan saya. Jadi artinya besok dan lusa saya difisioterapi lagi. Anak saya pun diharapkan menyimak rangkaian proses fisioterapi itu untuk kelak membantu saya di rumah. Ah, begini rasanya jadi orang sakit.
***
Selesai difisioterapi dokter onkologi saya rupanya menunggu. Perawat yang sesungguhnya tidak punya nomor saya tiba-tiba memanggil. Pasti dokter yang memintanya sambil memberikan nomor saya. Karena sudah di selasar ruang tunggu, saya pun berinisiatif masuk. Ternyata saya keliru, masih ada pasien di dalam. Setengah malu hati saya kembali duduk di bangku tunggu di antara dinding-dinding yang dingin dan tempat tidur pasien yang akan diperiksa di ruang radiologi di sebelah belakang saya.
"Bu Julie, masuk bu," ajak perawat itu sejurus kemudian. Onkologis saya nampak cerah ketika menyapa menyambut saya. "Apa kabar? Enak 'kan bu?!" Saya menjawab penuh antusiasme meski sambil memperlihatkan noda darah di bagian belakang blouse saya. Ternyata luka saya sudah kering dab menutup sempurna. Adapun darah itu berasal dari alergi plaster di bagian punggung saya.
Dokter kemudian melepas plaster saya yang menutupi luka sayatan memanjang dari tepi dada kiri hingga mencapai pinggiran dada kanan. Tapi berhubung luka di bagian dalam tubuh saya masih mengeluarkan darah, kateter saya belum bisa dicabut. Meski begitu kondisi saya dinilai dokter amat memuaskan. Sungguh besar Kuasa Allah yang penuh mukjizat.
Selanjutnya dokter meminta saya datang lagi Rabu malam besok. "Di Bogor saja ya bu, nggak ada yang perlu ditangani di sini kok. Cuma jangan lupa ke Instalasi Rehab Mediknya rutin ya," pesan dokter saya sebelum melepas saya pulang diikuti tawanya waktu saya sampaikan pujian para tetangga kami di kampung yang merasa bingung belum sempat menjenguk saya di RS. Ya, kemudahan-kemudahan memang selalu hadir untuk saya. Alhamdulillah!!!
(Bersambung)
Senin, 01 Juli 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (81)
Malam ketiga saya kembali ke rumah, saya dikejutkan oleh sebuah telepon dari perempuan yang mencari saya. Suara yang asing memanggil nama saya. Persis seperti komunikasi lewat SMS yang diterima anak saya malam sebelumnya dari sebuah nomor asing.
SMS itu memberitahukan bahwa onkologis saya akan berbicara dalam sebuah forum mengupas mengenai penatalaksanaan pengobatan kanker di era modern keesokan harinya di sebuah perumahan yang jauh dari rumah kami. SMS tanpa nama pengirim itu menyebut penyelenggara acaranya sebuah forum berinisial "CISC". Karena merasa SMS itu bukan berasal dari pengiklan obat antikanker, maka saya mencoba menghubunginya langsung dari nomor saya. Saya bertanya lembaga apakah penyelenggara "talk show" kanker itu, sebab saya amat awam. Saya nyatakan saya tak dapat datang karena baru selesai dioperasi.
Lama tiada jawaban, malam harinya lagi-lagi seseorang menghubungi ponsel saya. dia cuma minta nomor rumah saya, diikuti telepon satu jam kemudian.
Ternyata itulah jawaban atas rasa penasaran saya. Perempuan sebaya saya ini merupakan relawan kanker yang memiliki rumah kedua di Bogor. Dialah penyelenggara talk show tadi. Dia mendapat nomor kontak anak saya dari asisten dokter saya di RS, yang dijumpainya secara rutin jika akan mengadakan pertemuan membahas kanker. Entah apa sebabnya, para perawat memberikan nama saya tetapi dengan nomor ponsel anak saya. Agaknya saya dianggap bisa menerima semua kenyataan tentang kanker dan cocok untuk berada di tengah-tengah komunitas tersebut. Tapi perawat paham bahwa saya minggu itu sedang dioperasi di Jakarta. Jadi sebaiknya anak saya lah yang dihubungi. Untuk diketahui, di RS nomor trlepon kami sekeluarga memang diminta.
Banyak yang akan disampaikannya kepada saya, sebanyak apa yang akan saya tuturkan kepadanya. Dan dia asyik saja menyimak riwayat penyakit saya, sambil sesekali mengomentarinya. Terjadilah pembicaraan setara dua arah pada akhirnya.
Perempuan itu membenarkan bahwa lembaganya adalah organisasi nirlaba untuk membantu pasien kanker. Pusatnya di Jakarta, karena di Jakarta banyak pasien dari daerah yang mengalami kesulitan sehingga perlu didampingi dan dibantu. Adapun talk show itu, merupakan pengisi acara kegiatan rutin. Berhubung di Bogor banyak pasien yang kesulitan untuk datang ke Jakarta, maka perempuan bergelar dokter hewan yang sudah lama meninggalkan profesinya menyediakan rumah akhir pekannya sebagai tempat berkegiatan. Anggotanya bebas merdeka tanpa dipungut bayaran berhubung pengobatan kanker itu sendiri sudah jelas-jelas "memiskinkan" keluarga pasiennya.
Katanya sayang sekali acara pagi itu sepi pengunjung. Tapi toch onkologis saya tetap datang dengan antusiasmenya sebagai pembicara. Pokok pembicaraan kami kemudian beralih ke masalah kesehatan saya. Setelah tahu apa penyebab kanker saya, relawan itu menganjurkan saya untuk mengambil obat terbaru yang sudah banyak dipakai orang dan menyelamatkan. Tapi saya tak mungkin membelinya karena terkendala harga yang amat mahal yang tak dibiayai pemerintah sebagai "Dewa Penolong" saya.
Virus Her2 penyebab kanker saya sudah menemukan obatnya, yakni Herceptin. Di Amerika Serikat menurut buku yang saya baca sudah banyak dipakai, karena hasilnya memuaskan. Tapi menurut onkologis saya, di RSKD obat ini masih terus diteliti dan dikembangkan. Beliau dulu menawari saya menjadi semacam kelinci percobaannya. Tetapi anak-anak saya berkeberatan. Waktu itu saya tidak bisa membujuk anak saya guna mengiyakan, sebab saya takut jika seandainya terjadi kegagalan saya akan disesali. Meski di dalam hati ketika secara tak sengaja saya dapati pasien di ranjang sebelah saya memakai obat itu terbit iri hati saya, tetapi saya berusaha memendamnya dalam-dalam.
Relawan itu menjelaskan bahwa virus Her2 ternyata ada bermacam-macam jenis. Itulah sebabnya Herceptin masih terus diteliti. Maksudnya supaya setiap "sub-virus" mendapatkan obat yang paling cepat memberikan reaksi. Ya, kanker kan memang ganas betul, mampu merenggut nyawa bahkan dalam waktu singkat. Karenanya dunia pengobatan kanker harus berpacu dengan waktu.
***
Meski tak bisa ikutan talkshow rasanya saya tak menyesal telah ditelepon relawan CISC. Kelihatannya beliau pun juga tak menyesal menemukan saya secara tak disengaja. Sebab pembicaraan kami klop.
Dalam pada itu beliau setelah saya beri tahu soal blog saya ini kemudian justru menyemangati saya untuk terus saja menuliskan segalanya di sini. Menurutnya akan ada manfaatnya isi blog saya nantinya untuk orang banyak, terutama penderita kanker payudara dan keluarganya.
Luar biasa hebat rupanya efek berbagi pada penderita kanker. Selain pasien tak lagi merasa sendirian, orang-orang lain pun merasa punya teman senasib yang bisa menularkan pengalamannya untuk menyemangati sesamanya. Ah mudah-mudahan saja saya sehat kembali dan panjang umur supaya bisa ikut-ikutan jadi relawan. Baiklah, akan saya tata lebih baik hidup saya pasca operasi berat ini. Tolong doakan saya ya kawan-kawan. Terima kasih, salam sehat!
(Bersambung)
SMS itu memberitahukan bahwa onkologis saya akan berbicara dalam sebuah forum mengupas mengenai penatalaksanaan pengobatan kanker di era modern keesokan harinya di sebuah perumahan yang jauh dari rumah kami. SMS tanpa nama pengirim itu menyebut penyelenggara acaranya sebuah forum berinisial "CISC". Karena merasa SMS itu bukan berasal dari pengiklan obat antikanker, maka saya mencoba menghubunginya langsung dari nomor saya. Saya bertanya lembaga apakah penyelenggara "talk show" kanker itu, sebab saya amat awam. Saya nyatakan saya tak dapat datang karena baru selesai dioperasi.
Lama tiada jawaban, malam harinya lagi-lagi seseorang menghubungi ponsel saya. dia cuma minta nomor rumah saya, diikuti telepon satu jam kemudian.
Ternyata itulah jawaban atas rasa penasaran saya. Perempuan sebaya saya ini merupakan relawan kanker yang memiliki rumah kedua di Bogor. Dialah penyelenggara talk show tadi. Dia mendapat nomor kontak anak saya dari asisten dokter saya di RS, yang dijumpainya secara rutin jika akan mengadakan pertemuan membahas kanker. Entah apa sebabnya, para perawat memberikan nama saya tetapi dengan nomor ponsel anak saya. Agaknya saya dianggap bisa menerima semua kenyataan tentang kanker dan cocok untuk berada di tengah-tengah komunitas tersebut. Tapi perawat paham bahwa saya minggu itu sedang dioperasi di Jakarta. Jadi sebaiknya anak saya lah yang dihubungi. Untuk diketahui, di RS nomor trlepon kami sekeluarga memang diminta.
Banyak yang akan disampaikannya kepada saya, sebanyak apa yang akan saya tuturkan kepadanya. Dan dia asyik saja menyimak riwayat penyakit saya, sambil sesekali mengomentarinya. Terjadilah pembicaraan setara dua arah pada akhirnya.
Perempuan itu membenarkan bahwa lembaganya adalah organisasi nirlaba untuk membantu pasien kanker. Pusatnya di Jakarta, karena di Jakarta banyak pasien dari daerah yang mengalami kesulitan sehingga perlu didampingi dan dibantu. Adapun talk show itu, merupakan pengisi acara kegiatan rutin. Berhubung di Bogor banyak pasien yang kesulitan untuk datang ke Jakarta, maka perempuan bergelar dokter hewan yang sudah lama meninggalkan profesinya menyediakan rumah akhir pekannya sebagai tempat berkegiatan. Anggotanya bebas merdeka tanpa dipungut bayaran berhubung pengobatan kanker itu sendiri sudah jelas-jelas "memiskinkan" keluarga pasiennya.
Katanya sayang sekali acara pagi itu sepi pengunjung. Tapi toch onkologis saya tetap datang dengan antusiasmenya sebagai pembicara. Pokok pembicaraan kami kemudian beralih ke masalah kesehatan saya. Setelah tahu apa penyebab kanker saya, relawan itu menganjurkan saya untuk mengambil obat terbaru yang sudah banyak dipakai orang dan menyelamatkan. Tapi saya tak mungkin membelinya karena terkendala harga yang amat mahal yang tak dibiayai pemerintah sebagai "Dewa Penolong" saya.
Virus Her2 penyebab kanker saya sudah menemukan obatnya, yakni Herceptin. Di Amerika Serikat menurut buku yang saya baca sudah banyak dipakai, karena hasilnya memuaskan. Tapi menurut onkologis saya, di RSKD obat ini masih terus diteliti dan dikembangkan. Beliau dulu menawari saya menjadi semacam kelinci percobaannya. Tetapi anak-anak saya berkeberatan. Waktu itu saya tidak bisa membujuk anak saya guna mengiyakan, sebab saya takut jika seandainya terjadi kegagalan saya akan disesali. Meski di dalam hati ketika secara tak sengaja saya dapati pasien di ranjang sebelah saya memakai obat itu terbit iri hati saya, tetapi saya berusaha memendamnya dalam-dalam.
Relawan itu menjelaskan bahwa virus Her2 ternyata ada bermacam-macam jenis. Itulah sebabnya Herceptin masih terus diteliti. Maksudnya supaya setiap "sub-virus" mendapatkan obat yang paling cepat memberikan reaksi. Ya, kanker kan memang ganas betul, mampu merenggut nyawa bahkan dalam waktu singkat. Karenanya dunia pengobatan kanker harus berpacu dengan waktu.
***
Meski tak bisa ikutan talkshow rasanya saya tak menyesal telah ditelepon relawan CISC. Kelihatannya beliau pun juga tak menyesal menemukan saya secara tak disengaja. Sebab pembicaraan kami klop.
Dalam pada itu beliau setelah saya beri tahu soal blog saya ini kemudian justru menyemangati saya untuk terus saja menuliskan segalanya di sini. Menurutnya akan ada manfaatnya isi blog saya nantinya untuk orang banyak, terutama penderita kanker payudara dan keluarganya.
Luar biasa hebat rupanya efek berbagi pada penderita kanker. Selain pasien tak lagi merasa sendirian, orang-orang lain pun merasa punya teman senasib yang bisa menularkan pengalamannya untuk menyemangati sesamanya. Ah mudah-mudahan saja saya sehat kembali dan panjang umur supaya bisa ikut-ikutan jadi relawan. Baiklah, akan saya tata lebih baik hidup saya pasca operasi berat ini. Tolong doakan saya ya kawan-kawan. Terima kasih, salam sehat!
(Bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)






