Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Desember 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (154)









Blogging ternyata membawa banyak manfaat yang sangat mengesankan bagi saya. Di masa sehat saya menggunakannya untuk bersosialisasi dengan siapa saja tanpa harus berpayah-payah ke luar rumah. Dari pergaulan di dunia yang semu begini nyatanya saya boleh mendapat banyak pengetahuan berdasarkan cerita yang mereka ungkapkan di blog masing-masing. Sementara di kala susah, sakit atau sekedar sedih, saya pun menyimpan semua rasa dan pengalaman saya di blog saya yang memang saya niatkan sebagai buku harian. Alhamdulillah walau saya tak menjaring pengikut hingga ribuan atau ratus-ratusan yang banyak, tetapi selalu saja ada pembaca yang masuk meski tak meninggalkan komentar. Soalnya bagi saya komentar itu tidak penting, karena adakalanya isinya cuma sekedar basa-basi belaka. Bagi saya lebih penting kedatangan mereka itu sendiri, karena justru mereka merasa lekat dengan pribadi saya.

Walau bukan pemain lama di dunia maya, tapi saya pertama kali mengelola buku harian saya pada tahun 2006. Tidak di sini sih, melainkan di suatu tempat yang terpaksa ditutup sendiri oleh pengelolanya karena salah urus. Mereka punya impian untuk menjadi besar, tapi tak paham bagaimana caranya mencapai. Meski begitu saya tidak merasa dirugikan, karena dari sekitar hampir 300-an kontak atau pengikut saya di sana semua baik hati dan terus menjalin silaturahmi hingga kini. Bahkan di antaranya justru pengikut-pengikut baru yang menjalin perkawanan setahun pasca bubarnya rumah maya itu. 

Dari hubungan dengan para pengikut yang relatif baru itu saya punya pengalaman ajaib yang menggambarkan bagaimana Kemahaberkehendaknya Allah atas nasib umat manusia. Betapa ketika seseorang yang sedang kesulitan masih juga dipersulit oleh banyak pihak dan situasi, Allah datang menolong dengan mengirimkan seseorang yang tak pernah terduga di benak umatnya itu.

Begini ceritanya : Dalam bulan ini saya memang sedang kesulitan keuangan, sehubungan dengan tersendat-sendatnya permohonan pengobatan saya melalui program pemerintah. Biasanya pendanaan pengobatan saya mulai yang kecil-kecil semisal biaya kunjungan ke RS hingga pembelian obat kemoterapi yang sangat mahal itu didanai pemerintah. Tetapi belakangan ini nyaris ditolak akibat krisis dana Jamkesda yang menurut berita di media massa jumlahnya sangat sedikit sehingga tak mencukupi untuk masyarakat kecil yang biasa dibantu. Pemerintah menunggak hutang 1.4 T kepada RS yang melayani pasien di seluruh Indonesia.

Sudah lah demikian, tumor saya tumbuh semakin mengganas sehingga mau tak mau saya harus sesegera mungkin berusaha mencari dana sendiri guna pengobatan yang terancam terhenti lagi itu untuk yang kedua kalinya. Hal ini tak hanya meresahkan saya dan anak-anak, juga dokter yang merawat saya dengan segenap hatinya. Sebab kami memang sudah bertekad untuk sembuh.

Tak cukup dengan doa, kami menghubungi sanak keluarga guna mencari bantuan. Tetapi sayang tak ada yang dapat menolong, sehingga terlintas di benak keluarga besar kami untuk melepas harta pusaka kami yang sedianya akan diperuntukkan bagi masa depan generasi selanjutnya. Tapi ketika saya sampaikan kepada dokter saya yang sudah menjadi sedemikian akrabnya hingga seperti kenalan lama, beliau mencegahnya. Saya diminta terus merayu pemerintah dibantu surat pernyataan permohonan yang di luar prosedur permintaan bantuan, sengaja dikirimkannya menyertai formulir permohonan saya. Waktu itu surat ini akhirnya menjadi tanda tanya pejabat pelaksana program bantuan hingga kami perlu menjelaskan maksudnya. Yakni obat-obat saya tak bisa tidak diberikan mengingat kondisi saya yang terus memburuk. Untung lah akhirnya pemerintah paham hingga mengabulkannya walau sudah amat terlambat.

Bersamaan dengan itu pemasukkan keuangan keluarga kami pun tersendat juga. Nyaris tak ada dana untuk sekedar membayar tagihan-tagihan listrik, telepon, air minum bahkan gas alam yang bilangan tagihannya termurah. Untung pada akhirnya kami dapat pemasukkan juga meski kali ini lebih sedikit dibandingkan biasanya. Ini sudah sangat kami syukuri sekedar penyambung hidup kami. Persoalan larinya sebagian hak kami tak terpikirkan benar, sebab yang terpenting di tangan kami sudah ada uang pelunasan tagihan-tagihan tadi.

Keikhlasan kami agaknya dihargai Allah. Tak terduga kemarin sore anak saya tiba-tiba mendapat SMS dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai teman maya saya. Ibu itu berniat mengirim uang untuk membantu pengobatan saya. Karena merasa asing dengan namanya dan heran dari mana beliau mendapat nomor ponsel anak saya, maka SMS itu tak kami jawab. Sebab di masa aneh-anehan seperti sekarang sering kedengaran orang mau menipu, bukan?!

Namun satu jam kemudian seseorang teman maya saya lainnya mengirim pesan juga. Isinya menyatakan bahwa SMS terdahulu dari nomor tak dikenal itu mengharap jawaban. Sebab sejatinya dia teman maya saya yang belum terlalu lama berkenalan, namun hingga kini senantiasa mengikuti blog saya yang nampaknya sebagai silent reader. Begitu SMS kedua saya baca, entah bagaimana ingatan saya langsung terang benderang. 

Saya seketika itu teringat kepada masyarakat Indonesia di negeri Singa tempat saya dulu pernah tinggal beberapa waktu. Beliau merasa pernah melihat saya di negeri kecil itu, sehingga ketika sedang berkelana di dunia maya dan menjumpai buku harian saya yang lama, beliau langsung tergerak mengajak berteman. Sejak itu kami berteman walau tak lama sebab bubarnya arena bermain kata kami.

Sesegera mungkin anak saya membalas SMS yang kami biarkan tadi disertai ungkapan terima kasih atas kemurahan hatinya. Sebab secara nyata kami belum pernah bertemu apalagi bersentuhan, tetapi beliau bisa mengenang saya dengan baik dan ingin sekali mengulurkan bantuan.

Beliau tak berpikir panjang langsung menjawab bahwa beliau tulus ingin meringankan beban pengobatan saya seraya mendoakan kesembuhan saya. Di dalam hati kami terbersit pikiran beliau mungkin dari dulu sudah sering mendengar bahwa saya adalah pasien tetap di salah satu RS di Singapura dengan kasus yang ternyata tak tertangani dengan baik hingga kini. Sehingga terbit rasa iba dan kasih sayang di hatinya.

Seiring dengan itu tiba-tiba datang berita kiriman uang masuk dari beliau dengan jumlah yang sangat fantastis, yakni lima kali lipat dari uang pemasukkan kami yang menyusut bulan ini. Subhanallah! Sungguh kami langsung bersujud syukur karena tak pernah terbayang akan dapat gantinya. Apalagi ternyata sangat banyak mencapai persis sama dengan pemasukkan yang kami terima bulan ini. 

KUASA ALLAH! HANYA ATAS KEHENDAKNYA LAH INI BISA TERJADI. TAK ADA YANG BISA MENGHAMBAT APA PUN YANG TELAH DIRENCANAKAN DIBERIKAN ALLAH KEPADA UMATNYA. JUGA TAK AKAN MUNGKIN ALLAH MEMBERIKAN SESUATU KEPADA UMATNYA JIKA ALLAH TAK MENGHENDAKINYA.

Sejak dulu saya sudah percaya itu karena di dalam agama yang saya anut memang diajarkan demikian. Dan kini tentunya saya semakin percaya lagi. Hal ini membuat saya terus tercenung lalu merenung mencari jawaban apakah yang menjadikan ini terjadi.

Dalam gelap malam yang disertai rinai hujan dan hembusan angin akhir tahun, akhirnya pikiran saya kembali terbuka. Saya pun teringat akan ajaran agama kami kepada anak-anak. Diperintahkan Tuhan bagi anak-anak untuk senantiasa berbuat baik kepada orang tuanya, dengan mengutamakan memuliakan ibundanya. Setelah itu, mereka tak boleh mengesampingkan ayahnya jadi mereka pun wajib menyayanginya.

Penghormatan kepada ibu dianggap lebih utama mengingat ibu adalah pejuang yang rela bersakit-sakit demi anaknya, bahkan sejak sebelum anak itu dilahirkan. Apa yang dikatakan kitab suci sesuai dengan kenyataan bahwa mengandung dan merawat anak itu berat. Si ibu bisa jatuh sakit setidak-tidaknya merasa kurang sehat sewaktu hamil. Begitu juga ketika melahirkan dia akan disakiti. Lalu kelak harus rela kurang beristirahat demi merawat buah hatinya, memberinya susu bahkan di larut malam meski terkadang anaknya yang baru tumbuh gigi menggigit putingnya dalam keadaan terkantuk-kantuk. 
Keranjang cucian ibu akan dipenuhi kotoran bayi termasuk serpihan-serpihan sisa makannya. Serta kelak jika sudah besar, ibu juga yang terutama harus bertanggung jawab menjaga, merawat, mengawasi dan mendidik anak-anaknya. Sedangkan ayah, tentu saja juga berkorban dengan memeras tenaga untuk menghidupi anak-anaknya hingga mereka mampu mandiri. Di balik itu, ayah pun menjadi pendidik dan pengasuh mereka bersama-sama dengan si ibu.

Berdasarkan tindakan yang telah dilakukan kedua orang tua kepada anak-anaknya, maka di hari tua mereka agama meminta anak-anak membalasnya. Mereka bergantian memberikan kasih sayang kepada orang tuanya, terutama ibunda. Tak perlu pembalasan itu berupa materi. Merawat atau sekedar menjenguk dan menyapa orang tua sesering mungkin saja, sudah boleh disebut berbakti. Sebab uang tidak akan lebih berharga daripada perhatian serta sentuhan penuh kasih sayang. Apalagi ketika orang tua itu dalam keadaan sakit dan tak berdaya. Maka diwajibkan anaknya turun tangan merawat melayani orang tuanya tanpa canggung-canggung. Dan inilah yang dilakukan anak-anak saya terhadap saya.

Semasa sakit saya belum dioperasi, tumor itu luka berdarah-darah. Kedua anak saya lah yang merawat luka itu tanpa sedikit rasa jijik pun, apalagi mengeluh. Padahal luka kanker itu baunya luar biasa hingga tercium dari jarak jauh.

Kini ketika tubuh saya tak lagi sempurna akibat dioperasi, maka semua pekerjaan rumah tangga beralih ke bahu mereka. Sebab dengan sebelah tangan saja saya sudah kesulitan mencuci piring apalagi menyapu ruangan yang memerlukan kedua belah tangan untuk menggeser perabotan rumah tangga guna menjangkau debu di seluruh lantai.

Lalu semasa kemoterapi saya menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih jauh lagi, saya bahkan perlu dilayani seperti bayi. Mandi, membersihkan diri, makan dan minum pun memerlukan jasa mereka. 

Begitu luar biasanya mereka merawat saya walau dalam segala keterbatasan. Bahkan mereka merelakan biaya hidup dan tabungan mereka yang tak seberapa terkuras guna pengobatan saya. Tak pernah mereka mengeluh meski sekedar berbisik-bisik di belakang saya. Bahkan seperti ajaran agama kami, kata "ah" yang dilarang untuk dilontarkan juga tak kedengaran. Hanya saja jika mereka kurang sependapat dengan saya kami akan berdebat bertukar pikiran secara baik-baik.

Menilik kenyataan ini, kini tahulah saya dari mana rizki kami tiba-tiba datang. Menurut saya, itu bersumber dari perilaku ikhlas ridha anak-anak di dalam menjalankan ajaran agama yang dianut. Allah memenuhi janjinya, mengganjar ketaatan mereka dengan memudahkan segala urusan mereka. Buktinya pada akhirnya pemerintah mengulurkan bantuan juga untuk pembelian obat saya meski dibelikan yang termurah. Yang penting isinya cocok untuk kasus saya. Belum lagi uang anak saya yang menyusut tiba-tiba telah mendapat ganti lima kali lipat secara tak terduga. Subhanallah! Wa Allahu akbar! Tiada yang mustahil di dunia ini atas kehendak Tuhan.

Saya pun teringat ajaran agama kami untuk orang tua, terutama kaum ibu. Hendaknya kaum ibu pandai-pandai menjaga mulutnya di dalam menghadapi anak-anaknya yang memiliki sifat beragam. Bukankah tak semua anak bersikap manis budi? Nah jika ada yang bersikap kurang baik, kepadanya si ibu diharuskan mengingatkannya dengan halus dan tutur kata yang baik sambil mendoakan agar Allah menyadarkan anaknya. Hendak lah di dalam setiap doa ibunda dipanjatkan permohonan-permohonan yang baik untuk anak-anaknya. Juga ketika bertutur hanya mengeluarkan bahasa-bahasa yang santun sehingga layak dicatat malaikat di surga.

Percayalah, apa yang saya tuturkan sudah saya alami sendiri. Untuk itu selain bersyukur kepada Allah, izinkan saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu Ellen yang budiman teriring doa semoga rizki ibu sekeluarga selalu datang berkelimpahan dan penuh barokah. Amin.

Insya Allah dengan bantuan ini saya besok Senin bisa memenuhi kewajiban saya untuk memeriksakan diri ke RSK Dharmais tanpa ragu-ragu lagi. Bahkan program pengobatan saya untuk bulan depan pun sudah bisa terbayang akan lebih lancar. Sebab sebagian obat yang tak ditanggung pemerintah lagi, bisa terbeli dengan dana itu. Ah, matahari cerah membayang di hadapan saya meski pun akhir tahun begini hawa sejuk tertutup mendung selalu. Beginilah indahnya dunia, meski cuma dunia maya. Ayo, siapa yang tak suka blogging kalau begini?!

(Bersambung)


Minggu, 07 Juli 2013

"SEMUA DATANG DARI SISI ALLAH"

Kita hanyalah manusia biasa. Tiada daya tanpa pertolongan Tuhan, Sang Maha Segalanya. Kita tak pernah tahu juga kapan akan datang KeridhaanNya kepada kita kalau kita tak cukup bersabar menerima semua ujian kita yang pasti ada dalam hidup yang sarat beban ini.

Mengingatkan kedudukan kita sebagai hamba Allah yang harus selalu bersabar di dalam menyikapi ujian dariNya, menjadi bagian dari cara saya mendidik kedua anak saya sejak mereka kecil hingga dewasa. Bahwasannya ujian Allah itu lumrah adanya, juga saya tekankan kepada mereka agar mereka tak meratapi nasib jika tiba saatnya diuji. Dan alhamdulillah mereka semua bisa menerima serta mencernanya dengan baik.

Entah karena sikap saya demikian itu entah bukan, yang jelas saya merasa Allah jadi begitu sayang dan memperhatikan kami. Bertubi-tubi kemudahan, pertolongan, bantuan dan kebaikan-kebaikan lain tercurah di saat saya sakit selama ini, termasuk ketika saya dirawat minggu yang lalu itu.

Diam-diam saya ingat semua satu demi satu hingga saya menemukan uraian seperti ini :

1. Saya datang dari kalangan orang tidak mampu untuk ukuran pengobatan kanker payudara yang mahalnya luar biasa. Tiba-tiba, teman-teman satu organisasi saya menawari pengobatan di RS Kanker Dharmais yang tidak pernah terlintas di dalam benak bisa saya kunjungi. Bahkan sekedar membayangkan wujudnya yang berupa gedung jangkung itu saja saya tidak berani. Sebab saya tahu di situ bertugas dokter-dokter terlatih dengan ilmu yang tidak sembarangan, yang akan memungut tarif mahal bagi pasiennya.

2. Dari RSKD tadi, saya kemudian dirujuk teman saya yang kebetulan merupakan salah satu pimpinan di sana untuk berobat kepada juniornya di Bogor saja, yakni orang yang sangat saya incar tapi saya pun tak berani mendatangi kliniknya karena saya yakin tak akan sanggup menjalani kemoterapi, operasi maupun radiasi jika nantinya beliau harus melakukannya untuk mengatasi penyakit saya. Tapi tanpa diduga, tiba-tiba beliau menawari solusi yang baik, yakni mengajari saya untuk meminta dana Jaminan Kesehatan Masyarakat kepada pemerintah agar pengobatan bisa berlangsung. Dana itu akhirnya berhasil saya dapatkan, meski sayangnya tak bisa dipakai untuk berobat di RSKD yang berada di luar wilayah kota kami. Juga tak bisa dipakai membeli obat yang terbilang baru dengan harga yang amat mahal. Meski demikian, alhamdulillah obat yang dibelikan pemerintah bisa mengatasi penyakit saya, tumor saya mengecil sehingga dianggap dokter cocok untuk saya.

Setelah tumor mengecil oleh obat kemoterapi, dokter meminta saya dioperasi di Jakarta. Kali ini datang lagi pertolongannya, yakni menggratiskan biaya jasa dokter yang merupakan haknya serta teman-teman sejawat yang menjadi konsulen. Tak terduga, jumlahnya mencapai 19 juta rupiah, suatu jumlah yang fantastis untuk keluarga saya. Alhamdulillah sekali, bukan?! Biaya yang menakutkan itu datang sendiri solusinya kepada kami.

3. Setiap berobat ke Jakarta, biasanya saya memperoleh mobil pinjaman dari kenalan saya dengan mengganti sejumlah biaya yang bisa dikatakan murah. Selalu saja dia ada untuk saya, termasuk di hari libur tahun baru ketika jadwal kontrol saya tidak bisa ditunda-tunda lagi. Tapi kebetulan sekali justru di harinya saya harus menjalani rawat inap untuk dioperasi, beliau tak ada di tempat. Sebagai gantinya kami menyewa taksi meski sulit mendapatkannya. Kami bahkan sempat tertipu oleh persewaan mobil bohong-bohongan. Akibatnya ketika kami mendapat taksi, hari sudah siang sehingga kami terburu-buru berangkat. Ini menimbulkan kemalangan, dokumen RS yang justru penting untuk syarat perawatan inap tertinggal di rumah. Saya nyaris tak bisa masuk ke kamar perawatan. Akhirnya anak saya harus kembali ke rumah mengambilnya. Di saat-saat genting itu, tak terduga datang teman mantan suami saya suami-istri dengan mobilnya. Beliau kemudian bersedia mengantarkan anak saya, sehingga alhamdulillah saya bisa dirawat inap.

4. Dengan terpaksa anak-anak saya berniat menunggui operasi saya berdua saja. Mereka sengaja tak minta ditemani siapa-siapa karena sadar kesibukan orang kantoran yang tak mungkin ditinggal. Namun nyatanya, di harinya saya dioperasi teman-teman seorganisasi saya datang menemani tanpa diminta. Lebih mencengangkan lagi, salah seorang paman saya pun tiba-tiba datang mengambil alih peran sebagai keluarga pasien bersama-sama anak-anak saya. Jadi ketika anak-anak menerima penjelasan dari dokter yang mengoperasi saya, tidak ada kesedihan mendalam meski mendengar kabar yang sangat tidak sedap dari hasil pengamatan dokter. Mereka semua ada datang seakan-akan menjadi penguat mental anak-anak saya. Subhanallah!

5. Masa perawatan saya di RS sangat singkat. Saya dioperasi pada hari Selasa sore, mulai pukul 15.40 hingga pukul 19.40. Tetapi Kamis pagi saya sudah diizinkan pulang. Lamanya persis seperti rawat inap pasien operasi amandel atau apa saja yang minor. Sebab kakak saya yang menjalani biopsi dengan cara pembedahan juga menginap 2 malam di RS.

6. Selama perawatan di RS banyak keluarga, kerabat dan sahabat yang menjenguk, tetapi lebih banyak lagi yang dikecewakan karena saya sudah terlanjur pulang ke rumah. Mereka kemudian datang ke rumah sambil membawa buah tangan, bantuan serta tentu saja doa yang amat baik. Di antaranya ada bantuan dari keluarga almarhumah pakdhe saya yang disampaikan putra-putri serta cucunya. 

7. Waktu akan mencari taksi untuk pulang, tiba-tiba putri budhe saya menelepon mengatakan akan segera tiba di RS. Begitu tahu saya bersiap-siap pulang, beliau malah berniat mengantar sampai ke rumah kami di Bogor sekalian. Anak-anak dilarang mencari taksi. Betul-betul berkah yang tak terbayangkan mengingat kakak sepupu saya itu tinggal di Tangerang Selatan.

8. Saya tiba lebih dulu di rumah dibandingkan kakak saya. Waktu beliau pulang kemudian, beliau bercerita bahwa sekedar untuk dibiopsi saja, beliau sudah keluar biaya sangat banyak untuk ukuran kantung pensiunan PNS berstatus guru. Sayangnya keesokan harinya tanggal 1 sehingga kalau beliau nekad mengambil uang pensiunannya, pasti loket pengambilan gaji penuh sesak. Padahal uang di dompetnya terkuras di RS. 

Tanpa ragu-ragu saya ulurkan salah satu amplop pemberian saudara saya ketika di RS itu. Semula kakak saya menolak. Tapi saya memaksa, sebab saya tak ingin beliau kerepotan. 

Tak dinyana, beberapa hari kemudian saya menerima kembali uang sejumlah itu dari keluarga mertua saya. Jumlah yang persis sama ini tentu saja menakjubkan! Subhanallah!

9. Kemarin saya ke RS untuk memastikan bahwa obat kemoterapi saya memang sudah disiapkan untuk digunakan minggu depan. Pulangnya di angkot kami bertemu dengan penjual lotek dan soto di dekat rumah. Dia menyapa anak saya, tapi anak saya tak hafal kepadanya sehingga pembicaraan terjadi dengan saya. Ternyata dia pun mengenali saya. Ketika akan turun di muka rumah, anak saya sekaligus membayari ongkos angkot ibu itu tadi. Tentu saja dia menolaknya, tapi anak saya memaksa. Tak dinyana, siangnya uang receh itu kembali berpuluh-puluh kali lipat, subhanallah lagi!!!

10. Kemarin pagi juga, tak disangka-sangka sahabat mantan suami saya di SMA menghubungi saya menyatakan ingin menjenguk saya setelah tahu dari adiknya yang merupakan teman saya tentang kondisi saya. Semula dia ragu-ragu apakah saya masih mengenalnya. Tentu saja saya pastikan bahwa tak mudah melupakan gerombolan sekelas mantan suami saya yang rata-rata perempuan penggemar acara rujakan di siang terik sepulang sekolah. Lalu dia pun datang sendirian, tanpa kang Dede teman saya yang adiknya itu. Katanya mudah mencari rumah saya. Sedang saya mengobrol baru sebentar, tiba-tiba datang dua orang teman sekolah saya lainnya. Yang sungguh tak dinyana adalah saudara teman saya itu juga. Jadilah obrolan mereka serunya luar biasa disertai tangis bahagia campur haru. Maklum sudah bertahun-tahun mereka tak saling jumpa. Sungguh kebetulan yang membawa berkah bukan?! Saya saksikan senyum bahagia tersungging di bibir mereka ketika melangkah pulang bersama-sama.





Saya bersama Nida Djajadi, Elly Latief dan Chairudin


11. Sore harinya sedang saya dijenguk kemenakan saya, masuk panggilan dari nomor tak dikenal ke ponsel saya. Secara refleks saya terima. Seorang perempuan menyapa saya hangat. Nomor yang tak saya kenali itu ternyata berasal dari kenalan saya, isteri seorang petinggi di jajaran legislatif DKI. Dia sendiri aktivis wanita yang tertarik mengamati kehidupan saya. Yang lebih mencengangkan lagi, dia bilang dia bersaudara ipar dengan teman saya di SMP yang beberapa hari yang lalu datang menengok saya. Siang itu keluarga besar mereka sedang berkumpul. Secara iseng teman saya menceritakan kegiatannya minggu lalu termasuk menengok saya. Diperlihatkannya foto saya terakhir kepada iparnya itu. Tak disangka-sangka, iparnya yang kenalan saya langsung mengenali saya. Dia memeras habis kisah sakitnya saya yang memang tak pernah saya ceritakan kepadanya. Lalu serta merta dia menghubungi saya sambil mengisak di telepon, yang katanya karena haru.

Hari ini kembali dia menghubungi saya. Dikiriminya saya doa yang indah-indah. Serta dimintanya untuk terus menjalin hubungan dengannya. Sungguh indah semua kebetulan ini, bukan?! 

Ketahuilah, semuanya terjadi atas kehendak Allah juga. "In ahsantum ahsantum wa anfusikum," jika kita menolong seseorang dengan ikhlas, Allah akan menolong kita kembali, demikian kalau tak salah bunyi seruan seorang ustadz di televisi di suatu pagi dulu. Tak terasa, kiranya saya ditolong orang sesuai dengan pendapat teman-teman yang dulu asyik mengamati kehidupan saya, yakni katanya karena saya juga menolong dirinya yang membutuhkan bantuan. Insya Allah akan saya teruskan kebiasaan itu kepada anak-anak saya nantinya. Sungguh cantiknya Permainan Allah ini, saya bahagia sekali karenanya.

Selasa, 07 Mei 2013

CERMAT MEMILIH TAK AKAN SEDIH

Rakyat Malaysia baru saja selesai menyelenggarakan Pemilihan Umum di negeri mereka. Mendatang Indonesia juga akan melaksanakan hal yang sama. Gaungnya sudah mulai kedengaran sejak sekarang. Media massa ramai menyebut banyak artis yang berkeinginan mendaftar menjadi wakil rakyat dan masuk partai politik. Jumlahnya tak terbilang, latar belakang pendidikan, pekerjaan resmi dan pengalamannya pun turut disorot sebagai beraneka ragam. Termasuk wawasan pengetahuan dan pola pikirnya.

Ternyata tak hanya mereka. Seorang kerabat dari salah satu mantan wakil rakyat yang tak lagi terpilih di periode yang kini sedang menjabat menceritakan bahwa mantan wakil rakyat itu kini mendaftar kembali. Seraya menunjukkan "Daftar Calon Sementara" (DCS) di situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) dia membuka jati diri sang calon. Tercatat di sana yang bersangkutan berpendidikan SMA dengan latar belakang yang tidak jelas. Banyak kolom persyaratan yang dilabeli "Tidak Memenuhi Syarat" oleh KPU, tak seperti teman-temannya satu partai yang lain.

Meski di periode lalu dia tidak terpilih kembali, agaknya istri seorang pejabat negara ini nekad ingin terus mengajukan dirinya mengingat tuntutan zaman bahwasannya keterwakilan perempuan di Parlemen hendaklah dipentingkan. Yang kita tahu semasa menjabat wakil rakyat dulu, nama perempuan ini nyaris tak pernah kedengaran. Pasalnya dia tak berasal dari kalangan artis pendulang suara (vote getter), sedangkan kiprahnya mungkin tidak seberapa sehingga tak ada media massa yang bisa meliputnya. 

Namun kerabatnya yang setiap hari selalu berinteraksi dengan keluarganya menegaskan bahwa dia bukan orang sembarangan. Dia memastikan KPU telah salah mencatat identitas tingkat pendidikan sang calon wakil rakyat. Sebab dia seorang sarjana sosial politik strata satu seperti yang diketahuinya tercantum di dalam berbagai identitas perempuan bergelar Hajah itu. Saya lantas tersenyum di kulum sebab saya teringat dengan segera serial "Haji Tiga Kali dengan Ustadzah Hajjaaaaaahhhhh Halimahhhhh......." di sinetron "Ustadz Fotocopy" yang setiap malam tayang di SCTV untuk syiar Islam dengan metode yang "miring" alias nyeleneh. Di mata saya, dia mirip keduanya yang senantiasa membangga-banggakan diri hingga lupa kepada jati diri dan orang-orang di sekitarnya yang tahu sejarah dirinya. Belum lagi tindak tanduknya yang tak sepadan dengan gelar yang disandangnya membuat masyarakat menertawakannya karena muak memandangnya.

Bingung saya mendengar cerita soal calon wakil kita yang satu ini. Lebih bingung lagi ketika saya dengar dia menjadi Ketua Dharma Wanita Persatuan di Unit Kerja suaminya sehubungan dengan kedudukan suaminya sebagai pimpinan. Pasalnya setahu saya, Anggaran Dasar Dharma Wanita Persatuan pasal 3 ayat 2 bertuliskan, "Dharma Wanita Persatuan adalah organisasi mandiri yang tidak terikat kepada Partai Politik mana pun." Lebih tegas lagi "Anggaran Rumah Tangga" pasal 5 huruf "a" isinya, "Anggota DWP yang menjadi anggota Partai Politik tidak boleh menjadi Pengurus DWP."

Otak dangkal saya tentu tak mampu mencerna keadaan ini. Apakah kiranya AD dan ART DWP kurang jelas menerangkan mengenai keanggotan di DWP ataukah ada penyimpangan yang bisa ditolerir oleh pengurus DWP di tingkat yang lebih tinggi dari tempat beliau berkiprah? Jika tidak ada, lalu apakah yang menyebabkan beliau bisa bertolak belakang dari amanat AD dan ART DWP? Bukan main bingungnya saya mengamati hal ini. Tapi sesungguhnya, buat apa juga saya bingung ya? Lha wong itu bukan urusan saya kok...... :-p

Cuma ya begitu deh. Saya sekedar ingin mengingatkan bahwa kalau kelak kita dihadapkan kepada keharusan memilih wakil rakyat, ingat saja semboyan yang tertuang di "Mars Pemilu" semasa Orde Baru : "Pilihlah wakil mu yang dapat dipercaya........" Sebab jika tidak, dijamin kita akan sedih karena diwakili oleh seseorang yang tidak pandai memegang amanah sekali pun mungkin dia dicalonkan oleh partai yang menamakan dirinya partai amanah. Waspadalah......... waspadalah........ karenanya!

Jumat, 19 April 2013

KEINDAHAN SABAR




Seperti yang sudah saya ceritakan di jurnal berseri yang saya tulis sebelum ini, saya akan menerima bantuan dari Pemerintah Daerah untuk pengobatan penyakit kanker payudara saya hari Sabtu (20/04) lusa yang direncanakan disampaikan langsung oleh istri Walikota kami. Bantuan yang sungguh tak terduga ini amat mengejutkan saya dan anak-anak. Pasalnya kami tak pernah datang menghadap langsung ke kantor Walikota, dan kenal pun tidak dengan beliau beserta istri. Tapi begitulah nyatanya, entah mendengar dari mana mengenai kesulitan kami maka beliau berinisiatif untuk memberikan bantuan yang amat berharga ini.

Ternyata menurut teman-teman saya di Dharma Wanita Kementerian Luar Negeri, banyak teman yang tengah bertugas di luar negeri juga mengirimkan bantuan di luar rencana kami. Dana yang jumlahnya boleh dibilang cukup besar untuk ukuran kantung ibu rumah tangga itu, tadi siang telah dikirimkan langsung kepada kami melalui Jakarta. 

Adapun keinginan mereka membantu didasari tulisan-tulisan saya di buku harian elektronik ini yang rupanya telah terpantau luas oleh mesin pencari google sehingga terlacak oleh mereka. Semula mereka tidak menyadari siapa pemilik dan penulis buku harian ini. Akan tetapi setelah mereka membaca banyak akhirnya mereka menyadari bahwa penulisnya adalah satu di antara mereka, yakni saya yang kini sudah berada di luar keanggotaan DWP. Bahkan putri teman saya yang bekerja di sebuah lembaga internasional di New York, Amerika Serikat pun membaca hingga akhirnya mengontak orang tuanya yang tengah bertugas di Amerika Tengah untuk menanyakan kebenaran dugaannya. Setelah ibunya menceritakan ihwal saya panjang lebar serta upaya penggalangan dana yang tengah mereka lakukan untuk saya, sang putri kemudian menyatakan ikut menyumbang. Zakat hartanya diserahkan ke tangan saya lewat ibunya berikut sumbangan dari teman-teman di DWP yang sedang bertugas di New York. Dan tak hanya itu, teman sekampung saya yang sedang mendampingi tugas suaminya di Amerika Selatan pun mengontak teman saya ini untuk menitipkan sumbangan ibu-ibu di perwakilan yang dipimpin suaminya sebab beliau ternyata juga diantarkan google ke rumah peristirahatan saya ini. 

Subhanallah! Sungguh mengharukan, campur menakjubkan tentu saja. Apalagi menurut teman di Jakarta masih ada sejumlah sumbangan lagi dari teman-teman di negara lain yang sudah diterimanya untuk menunggu saatnya diserahkan ke tangan anak-anak saya sebagai dana cadangan perawatan saya. 


Bersama teh Nanan, mbak Sandra dan Ceu Titi (18/04)

Kemarin teman-teman saya di Jakarta datang menyampaikan dana itu ke rumah termasuk teman dari Amerika Tengah yang membawakan titipan putrinya dan teman di Amerika Selatan itu tadi. Sambil mendengarkan cerita saya soal rencana pemberian Kartu Jamkesda dan bantuan dana YKI dari istri Walikota, teman saya meneteskan air matanya. Semua sama tercenung, termangu menunjukkan wajah terheran-heran karenanya. 

"Jika Allah berkehendak Lik, tak ada yang bisa menghalang-halangi rizki yang dihadiahkanNya untukmu," begitu teh Nanan yang tertua di antara kami menyampaikan pendapatnya. 

Saya percaya benar akan hal itu. Sebab menilik QS Al-Ankabut ayat ke-62, tertulis demikian, "Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Tafsir ayat ini menurut ahli agama adalah bahwa lapang sempitnya rizki sesungguhnya hanyalah ujian bagi ummat manusia. Karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Luas pengetahuanNya, maka Dia akan memberi atau menolak permintaan seseorang sesuai dengan hikmah (kebijaksanaan) dan kemaslahatan (guna) nya. Dan karenanya kelak ketika saya sudah menerima bantuan itu nanti, sebaiknya saya tidak menyia-nyiakannya atau memamerkannya untuk bersombong-sombong kepada para penderita kanker lainnya yang tak seberuntung saya menerima bantuan pengobatan yang terkenal mahal itu.

Pendapat teh Nanan teman saya tadi didasari ingatan akan alasan awal penggalangan dana untuk saya di kalangan teman-teman. Waktu itu mereka mendengar bahwa saya menderita kanker payudara yang tak tertangani dengan baik disebabkan keterbatasan dana. Walau saya sudah berobat herbal pada sinshe yang saya akui membawa manfaat antara lain terjaganya stamina serta tak menyebarnya sel kanker di tubuh saya, tetapi akhirnya penyakit saya meruyak juga disebabkan faktor pikiran yang berat. Untuk diketahui, penderita penyakit apa saja termasuk kanker tak boleh berpikir keras. Namun masalah pengobatan ini mau tak mau mengganggu ketenangan batin saya. Dan ketika penyakit itu memburuk dengan cepat maka sinshe yang merawat saya menyatakan angkat tangan lalu menyuruh saya berobat ke dokter sehingga saya semakin kalut memikirkan biayanya. 

Anak-anak saya berupaya mengetuk hati sanak-saudara kami tapi nyaris tanpa hasil. Bahkan orang terdekat mereka pun menutup mata hatinya untuk kami. Maka uluran bantuan dari Pemerintah Daerah yang akan saya terima ini, menurut teman-teman saya merupakan balasan atas kesabaran saya dan anak-anak di dalam menerima ujian dariNya itu. Ceu Titi yang khusus datang dari Amerika sampai berurai air mata menyadarinya lalu menyukuri semua itu.

Ya, teman-teman saya kalau dipikir-pikir benar adanya. Dulu begitu mudahnya "seseorang" mencibir sambil menolak membantu kami. Bahkan pihaknya mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan. Tetapi kini, ternyata Allah menghapus luka hati kami sedemikian mudahnya tanpa diminta. Bantuan itu datang mengalir lewat tangan orang lain yang bukan sanak saudara kami. Sedangkan sebaliknya, mereka itu nampaknya sedang berupaya keras untuk mencukupi kebutuhannya sendiri yang nyatanya memang sangat jauh di atas standar kehidupan kami sampai mereka terpaksa harus jungkir-balik tidak menentu. Itulah hakekat ujian Allah kepada ummatNya.


Bersama dik Zsizsi, kak As, mbak Moeliek, dik Ilok dan dik Sally (19/04)


Bersama Ade istri penggagas blogger ASEAN (17/04)

Bernasib untunglah saya. Sebab selalu ada cinta dan kasih sayang yang senantiasa menyertai perjalanan hidup saya baik dalam suka maupun kepahitan. Maka di tanganNya saya percaya, semua akan diatur dengan baik untuk kenikmatan siapa yang mengabdi dan menghamba hanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Alhamdulillah!

Sabtu, 10 November 2012

KETIKA CINTA MENAHBISKAN LUKA

Cinta, kata lima huruf ini banyak ceritanya. Ada kisah-kisah manis yang menyertainya, tapi tak sedikit cinta justru dibumbui air mata. Tak percaya? Silahkan simak cerita saya di bawah ini yang tak bersangkut paut dengan kehidupan saya, namun jelas ada dalam jangkauan penglihatan saya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Rumah tangga yang bahagia adalah impian semua pasangan ketika baru merajut cinta. Untuk mendapatkan itu kedua makhluk yang mempersatukan diri ini menyatakan rela melakukan apa saja demi meraih kebahagiaan bersama. Cinta memang membius, bukan?

Namun sepanjang perjalanan rumah tangga itu, tak bisa disangkal ada saja batu sandungan yang mewarnai keharmonisan yang berusaha dijalani. Sehingga pada akhirnya tak sedikit rumah tangga yang goyah hingga berujung pada perceraian.

Saya tak berniat membahas masalah perceraian dan penyebabnya. Di sini saya cuma ingin menceritakan rumah tangga yang sudah terbelah begitu, yang kemudian menimbulkan masalah baru lagi seakan-akan puncak dari neraka dunia bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

***
Sehelai kartu undangan pernikahan bergaya gedongan sampai di alamat seseorang yang berkeberatan disebutkan namanya. Semula si penerima undangan ~katakanlah namanya "X"~ mengerutkan keningnya, karena tidak mengenali si pengirim undangan. Namun setelah diteliti, terungkaplah bahwa undangan itu berasal dari kenalannya yang sudah dua kali menjanda, tapi agaknya telah menikah kembali. Si penerima undangan mengenali benar nama pengantin perempuan yang akan dinikahkan itu.

Acara diadakan dua kali. Jumat pagi di rumah kediaman mereka akan dilangsungkan akad nikah, yang diharapkan dihadiri juga oleh "X'. Diikuti dengan resepsi di sebuah gedung bertingkat yang ditaksir harga sewanya mendekati dua ratus juta rupiah karena si pengundang adalah pejabat terhormat yang merangkap pengusaha. Tentu saja karenanya relasinya sangat banyak.

Mengingat acara resepsi akan diselenggarakan malam hari, sedangkan sekarang sudah masuk musim penghujan yang selalu mewarnai udara malam dengan percikan airnya, "X" memilih hadir di akad nikah. Sebelum melangkah ke sana, "X" sendiri sudah bertanya-tanya, mengapa pengantin perempuan yang tertera di undangan ditulis merupakan putri pertama keluarga bapak "D" yang tak lain dan tak bukan suami terbaru ibunya dengan si ibu kandung "Z" yang mengundang "X" ini. Begitu pulang dari acara akad nikah, meluncurlah banyak cerita mengesankan yang bisa kita ambil sebagai pelajaran untuk diri kita sendiri.

***

Di akad nikah itu, undangan yang hadir tidak banyak, mengingat rumah keluarga ibu "Z" tidak luas. Sebagian besar adalah keluarga pengantin, di mana "X" merasa nyaman bergabung. Ternyata keluarga pak "D" juga hadir di situ. Mereka saling berbisik dan memasang mata jeli untuk memantau siapa yang akan menikahkan pengantin sebab ayah kandung pengantin tak nampak hadir. Bahkan kehadiran mereka di acara itu sebenarnya lebih dipicu oleh kebingungan mereka waktu membaca undangan yang menyebutkan bahwa pengantin perempuan adalah anak bapak "D" dengan ibu "Z". Padahal sudah jelas pak "D" keluarga mereka adalah pendatang baru di rumah tangga itu.

Benar saja, pengantin yang menggunakan prosesi adat Jawa sesuai adat keluarga pengantin lelaki tidak dinikahkan oleh ayah kandungnya. Yang ada hanyalah kakak kandung si ayah yang datang dari kampung halaman mereka di Sumatera berdua dengan istrinya dan seorang anak mereka. Ya, cuma ketiga orang itulah keluarga dari pihak ayah kandung pengantin perempuan.

Sebagaimana lazimnya adat Jawa, pengantin perempuan tidak keluar dari kamar pengantin. Jadi pengantin tidak dipersandingkan dalam akad nikah. Penghulunya nampak masuk ke kamar pengantin membawa catatan yang nampaknya akan dipakai mencatat hasil tanya-jawab dengan si pengantin perempuan sebagai syarat pelengkap administrasi pernikahan. Setelah itu pembawa acara membuka kegiatan dengan menyebutkan bahwa akan dilaksanakan pernikahan putri bapak "D" dengan ibu "Z". Lalu bapak "D" dipersilahkan mengambil tempat, diikuti oleh uwak lelaki si pengantin, yakni kakak kandung ayah kandungnya. Di sini terjadi lagi tanya-jawab antara penghulu dengan mereka. Uwak pengantin kelihatan terbata-bata, matanya memerah lalu sedikit terisak. Baru selanjutnya disebutkan bahwa pengantin akan dinikahkan oleh uwaknya atas persetujuan dan izin ayah kandungnya, dengan disaksikan ayah tirinya, bapak "D".

Selesai akad nikah, si uwak kelihatan bergegas berpamitan. Sehingga menimbulkan keriuhan kecil selayaknya drama sinetron di televisi dengan disaksikan para undangan. Sebab keluarga ibu "Z" menahan beliau dengan alasan upacara adat akan dilangsungkan segera. Mereka diharapkan menyaksikannya. Meski bersikukuh untuk pulang, tetapi rupanya ada seorang di antara mereka yang cukup bijak. Dia menyampaikan permohonan dengan manis, sehingga si bapak tinggal duduk lagi di sudut ruang pada tangga naik menuju lantai atas rumah kediaman itu dengan istrinya. Mata mereka nampak basah menangis. Tak tahu apa yang ada di benak mereka.

Di akhir prosesi acara "Panggih Manten" yang berupa sungkeman atau menyembah sujud kepada para tetua, sepasang orang tua tadi dibiarkan saja tanpa dihampiri. Sehingga lagi-lagi mereka seperti tak dianggap penting sehingga kembali menangis diam-diam. Hal ini semakin memicu keingintahuan keluarga bapak "D" tentang apa yang terjadi. Mereka saling berbisik dan terus melirik ke arah tangga.

Singkat cerita, "X" berhasil menangkap isi pembicaraan orang dalam keluarga bapak "D" dan ibu "Z". Rupanya, ayah kandung pengantin perempuan dan keluarganya tersinggung atas sikap dan tindakan ibu "Z" yang bersifat sepihak sejak anak gadis mereka dilamar setahun yang lalu.

Pada waktu itu ibu "Z" baru saja menikah dengan bapak "D" yang terhormat. Bapak "D" dijadikan tokoh sentral di dalam acara lamaran anaknya, padahal ada bapak kandung si gadis di hari itu. Mengundang si bapak kandung tentu suatu keutamaan, bahkan wajib, karena bagaimana pun juga seharusnya justru beliau yang berperan menerima lamaran anaknya. Anehnya, figur bapak kandung ini diperlakukan sebagai angin lalu saja. Beliau tak didudukkan bersama mantan istrinya, melainkan disendirikan, sebab bapak "D" lah yang ada di sebelahnya menghadapi calon besan mereka. Begitu lamaran selesai, si calon pengantin diminta bersalaman. Dan dengan santainya dia melewati saja ayah kandungnya sendiri. Tentu saja beliau jadi merasa tersinggung dan merana. Padahal, anak gadis yang dibesarkannya dulu itu adalah lulusan perguruan tinggi ternama yang sekarang bekerja sebagai PNS di suatu instansi yang bergengsi seperti bapak tirinya, "D". Bagaimana mungkin orang dengan bekal ilmu serta pekerjaan seperti itu tidak tahu etika sopan santun terhadap orang tuanya? Saya dan "X" pun mengelus dada mendengar cerita ini.

Tak cukup sampai di situ, pak "D" dan bu "Z" tidak menghendaki ayah kandung si pengantin perempuan hadir di resepsi yang dikabarkan mengundang seribu lima ratus undangan yang sebagian besar merupakan para pejabat papan atas. Nah inilah yang memicu ketersinggungan si ayah hingga meluap-luap. Sebagai akibatnya, ya begitu tadi. Beliau menolak menikahkan anak gadisnya sendiri, menolak pula menginjakkan kaki di rumah itu. Lagi-lagi saya dan "X" mengelus dada.

***

Berkaca dari kehidupan nyata yang serunya melebihi drama sinetron betulan di televisi, saya cuma ingin menggaris bawahi bahwasannya cinta itu bisa menimbulkan luka. Kalau sudah demikian yang jadi pertanyaan saya, syahkah pernikahan si gadis mengingat ayah kandungnya masih hidup dan tidak kehilangan akal serta kemampuannya untuk menikahkan? Jawabnya hanya ada pada hati nurani masing-masing. Begitulah hendaknya..........

Semoga kita semua terhindar dari segala perbuatan yang tercela, insya Allah.

Sabtu, 11 Agustus 2012

SURATAN TAKDIR

Saya terlahir lebih dari setengah abad yang lalu dari seorang perempuan sederhana. Meski sederhana, ibu saya memberi saya banyak pelajaran hidup dengan caranya sendiri. 

Saya diajarinya mencintai bacaan. Karena itu sejak kelas satu Sekolah Dasar saya sudah mulai mengenal surat kabar juga majalah yang banyak dilanggani oleh ayah saya. Dari situ wawasan saya berkembang luas, sehingga meski saya tak berkesempatan menamatkan pendidikan tinggi saya tapi saya tetap bisa diajak bicara oleh orang lain tanpa kebingungan. Saya pun tak juga malu mengatakan bahwa saya bukan sarjana serta tak pernah menghasilkan satu karya ilmiah pun, meski bangku kuliah saya ikuti hingga akhirnya, yaitu tahun kelima di masa itu.

Saya kemudian memilih dinikahi sahabat kecil saya yang bekerja melanglang buana sebagai wakil dari pemerintah kita karena dengan cara itu saya bisa memuaskan keinginan saya menginjakkan kaki di berbagai kota besar dunia yang kerap saya baca namanya di berbagai bahan bacaan saya. Namun meski tak mengikuti jalan karier beliau hingga puncaknya, toch saya sempat juga bersentuhan dengan banyak kalangan yang bagi sebagian besar orang tak mudah untuk mendekatinya. Saya menganggap hal ini sebagai satu suratan takdir yang baik.

***

Dalam perjalanan hidup saya, seringkali saya bermasalah dalam kesehatan saya. Menjadi pasien dokter adalah hal yang rutin saya alami sejak kecil hingga kini. Saya teringat di masa SMA ada seorang teman saya yang iri karena saya seringkali diizinkan untuk tidak mengikuti pelajaran praktek olah raga, sehingga dia kemudian menyerahkan surat keterangan sakit yang dimintanya kepada seorang dokter umum kepada guru kami. Entah apa alasannya, yang jelas surat itu ternyata hanya berlaku sekali itu saja sehingga dia tetap mengiri kepada saya. 

Di masa tua, penyakit saya ini sungguh merepotkan. Seringkali saya harus beristirahat total berbulan-bulan lamanya untuk memulihkan keadaan saya. Dan ini juga menjadikan orang bertanya-tanya mengingat katanya banyak orang yang juga menderita sakit yang sama dengan saya, tetapi penyembuhannya cepat. Akibatnya banyak orang menganggap saya manja dan minta diistimewakan. Ah, sudahlah. Saya tak akan ambil pusing, toch masa-masa itu sudah lama berlalu. Kini saya bahkan tak lagi jadi bagian dari komunitas mana pun karena saya murni menjadi orang rumahan yang tak lagi diupah oleh siapa pun. 

Di balik penyakit yang merepotkan ini, secara fisik penampilan saya tak nampak sebagai orang sakit. Terus terang saja, saya memang menghindari kelihatan lunglai, kuyu tak berdaya. Jadi tak banyak orang yang mengira bahwa kini saya sedang merayu Allah untuk memanjangkan umur saya supaya masih bisa menyaksikan anak-anak saya mengepakkan sayap mereka ke luar dari sarang kami yang nyaman. Caranya, saya senantiasa tekun menjalani pengobatan saya dan anjuran yang harus saya patuhi seraya mematuhi larangan yang diterapkan kepada saya sedapat-dapatnya. Insya Allah saya berharap masih boleh memakai "nyawa sambungan" saya kembali yang dulu nyaris hilang ketika organ reproduksi dan usus saya bermasalah.

***

Di luar sana, banyak teman dan kerabat saya yang ternyata punya nasib lebih menyedihkan dibandingkan saya. Seorang teman lama, harus kehilangan suaminya di awal Ramadhan tahun ini ketika dirinya sendiri tengah terbaring di ICU karena kanker yang menyerang paru-parunya berkolaborasi dengan tingginya kadar gula darah di dalam tubuhnya. Padahal kepergian mendadak suami teman saya itu juga cukup menyedihkan dikarenakan serangan jantung yang tiba-tiba saja terjadi. Namun kini, teman saya ternyata mampu melawan penyakitnya dan sudah berada kembali di rumahnya meski tentu saja masih dalam keadaan lemah.

Duka yang menerpa saya tak cukup hanya itu. Anak saya menyampaikan cerita yang menguras emosi dan air mata dari dalam kampus kami. Minggu ini, sedang berlangsung prosesi wisuda para lulusan baru di Universitas Padjadjaran. Sayang suasana yang seharusnya dihiasi kebahagiaan itu tersaput mendung akibat meninggalnya salah seorang wisudawati tepat di hari dan jam wisuda fakultasnya akibat pendarahan otak yang terjadi tiba-tiba.

Ginda Firdaus, demikian namanya, mahasiswi asal Jambi yang diceritakan anak saya, lulus dalam usia 21 tahun dari Jurusan Teknik Informatika FMIPA UNPAD. Hanya sehari sebelum diwisuda, gadis cerdas itu terjatuh pingsan di kampusnya dengan keluhan sakit kepala. Kedua orang tuanya yang sudah tiba di Sumedang dan teman-temannya segera melarikannya ke RS Santo Borromeus di belakang Kampus Utama kami. Di situ diketemukan telah terjadi pendarahan otak masif padanya sehingga dia koma. Selanjutnya dalam keadaan koma, keesokan harinya kawan-kawannya berhasil memohon kebijaksanaan Rektor dan Dekan FMIPA untuk mewisuda almarhumah di pembaringannya di ICU. Dengan mengenakan toga dan atribut lengkap lainnya, almarhumah mengikuti prosesi wisuda dikelilingi teman-teman serta keluarganya yang terdiri dari ayah dan ibunya. Lalu sejenak kemudian dia meninggalkan dunia ini menuju alam keabadian.

Saya menganggap ini semua adalah suratan takdir yang tak bisa dielakkan. Tapi percayalah, jika kita termasuk orang yang beriman, maka Allah akan mengganjar kita dengan sejuta kebaikan pada akhirnya.

Ya, soal kematian suami teman saya, menurut saya adalah merupakan hal yang tepat karena teman saya sendiri kini sudah tak berdaya untuk menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Sedangkan soal kematian Ginda, si mahasiswi cemerlang, ini adalah cara Allah untuk mencarikan tempat yang terbaik di surga sebelum dia terkontaminasi oleh kekotoran polah manusia di dunia yang kini semakin menjadi-jadi.

Ya, sekali lagi itulah takdir. Kita manusia hanya diminta untuk mengikuti alur kehidupan ini sebagaimana yang dikehendaki Allah semata. Semoga saya tidak salah duga.

Salam hangat dari Kota Kenari.

Julie Utami

Pita Pink