Powered By Blogger

Rabu, 27 November 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (140)

Ibu Linda datang pagi-pagi sekali serta sejumlah tetamu lainnya yang tak terduga, di antaranya bu Netty adik dari teman baik saya sewaktu di Kanada dulu. Dia penderita kanker payudara juga yang sudah sangat lama ingin saya temui.

Kedatangan mereka membuahkan harapan untuk bangkit kembali dan sembuh meski jalan untuk ke sana masih tetap terganjal birokrasi. Obat kemoterapi saya belum jelas pendanaannya karena pihak DKK tak bisa dinegosiasi oleh pihak RS seperti permintaannya sendiri waktu itu. Agaknya mereka tetap ingin bicara dengan dokter onkologi saya meski beliau sulit dicari. Apalagi hari ini para dokter di RS melakukan aksi mogok nasional demi menggalang solidaritas atas kasus dokter ahli yang dipenjara karena tuduhan malpraktek sewaktu mencoba menolong seseorang pasien tapi gagal.

Pihak administrasi RS sebetulnya menyimpan berbagai pertanyaan ketika anak saya melapor dirinya diminta mendesak pihak RS untuk bicara atas nama saya. Hal ini terkesan janggal sebab kini pasien diharuskan datang menghadap ke DKK sendiri membawa perincian harga obat yang dimintakan pendanaannya. Adapun harga obat itu ditetapkan pihak RS, bukan DKK. Tetapi nantinya DKK sendiri yang akan memutuskan dikabulkan atau tidaknya. Di masa lalu, DKK langsung berhubungan dengan pihak RS sehingga pasien tak dilibatkan, tinggal menunggu dengan tenang di rumah. Sekarang ketika peraturan dirubah, DKK justru tak mau bernegosiasi langsung dengan pasien karena menganggap pihak RS yang berhak merundingkannya dan membuat keputusan. Sungguh membingungkan. Saya menduga ini terjadi karena kami dalam masa transisi dari program Jamkesda yang digagas masing-masing Pemda menuju ke program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pihak RS pun menganggap DKK kebingungan dengan aturan baru hasil perubahannya sendiri apalagi menjelang tutup tahun.

Kemudian ketika disampaikan bahwa mereka menyarankan saya dikemoterapi di RSU tertentu, pihak RS kebingungan karena sepengetahuan umum hanya RS tempat kami berobat lah yang menyediakan fasilitas kemoterapi. Ada pasien-pasien RS lain yang dititipkan di sini bersama-sama kami. Saya sering dikemoterapi bersama pasien titipan RS lain itu.

Memang kini terasa ada perlakuan berbeda yang diterapkan DKK kepada masing-masing RS yang menjalin kerjasama melalui program Jamkesda. Ini terlihat sewaktu anak saya ditawari memindahkan pengobatan saya ke RS tertentu dengan alasan di sana semua obat-obat kemoterapi akan didanai. Sebab RS itu katanya tak memerlukan lembar persetujuan permintaan pembelian obat seperti di RS tempat saya berobat. Semua aturan ini menciutkan nyali saya, membuat saya terpukul seakan-akan terlempar keluar gelanggang pertarungan antara sembuh melawan mati.

Untung seorang relawan kanker datang menjenguk saya memberikan penawarnya. Drh. Linda namanya, seorang purnakaryawan Sucofindo sebaya saya dengan penuh semangat melayani pasien-pasien tak mampu terutama pasien kanker. Dia memiliki dua rumah di Jabodetabek, yang sebuah di Bogor. Dengan begitu banyak pasien-pasien tak mampu di Bogor yang didampingi dan menikmati jasanya. Kemarin pagi itu dia datang langsung dari Jakarta, sesuai janjinya hari Sabtu ketika gagal ke rumah saya sebab saya berada di RS.

Dokter saya memang sangat ingin agar saya bertemu dengan beliau. Apa sebabnya tak dijelaskan. Pokoknya sambil tersenyum beliau bilang saya harus mengupayakan bertemu bu Linda. Ternyata inilah jawabannya. Bu Linda dimintai tolong mencarikan bantuan untuk mendanai pengobatan saya yang terancam terhenti.

Kata bu Linda dia baru saja menghubungi Yayasan Kanker Indonesia Pusat untuk mencari tahu bantuan apa yang mereka ulurkan untuk penderita kanker yang tak mampu. Diberitahukannya kepada saya SMS dokter saya yang berisi permintaan tolong untuk saya. "Bu Linda ada solusi?" Itu katanya. Sungguh tak terduga di zaman manusia dianggap mulai berperilaku individualistis dan dokter-dokter dicap kurang memiliki empati, dokter saya amat memperhatikan saya dan ingin sekali membantu. Mengharukan.

"Ya bu Linda. Saya memang belum mau mati sebelum bikin masyarakat di lingkungan kami melek tentang bahaya kanker," kata saya menegaskan seraya mempersilahkan bu Linda yang berpenampilan sedehana dan santai itu menghirup secangkir teh yang dihidangkan si bungsu.

"Saya tahu. Itu juga yang diceritakan dr. Bayu kepada saya soal ibu," sahut bu Linda sambil tertawa. Gigi-giginya yang putih nampak kontras dengan T-Shirt merah yang dikenakannya.

"Apa sih ceritanya?" Saya mulai terbangkit penasaran. 

"Nggak dokter Bayu bilang ibu baru rela mati kalau beliau dan ibu sudah kasih pecerahan untuk masyarakat mengenai bahaya kanker. Dokter terkesan lho bu. Makanya katanya carikan solusi untuk nolong ibu hihihihi......," bu Linda membuka kartu sambil tertawa membuat saya pun tertawa juga sambil mengangguk-angguk mirip boneka temanten Yogya.

"Siiip dong. Bu Linda pasti kasih banyak bantuan untuk saya," sahut saya nakal. 

"Ya, ini ada formulir dari YKI, bisa ibu baca syarat-syarat permohonan bantuannya dan nanti ibu ke sana untuk minta dibantu," Kata bu Linda seraya menunjukkan formulir yang diambilnya dari YKI Pusat untuk saya atas permintaan dokter saya tadi. Saya menerimanya lalu mencermati. Di situ tertulis YKI bersedia mengulurkan bantuan berupa pembelian obat-obatan dengan harga murah karena disubsidi.

"Mas Koko ini contact personnya, ya bu?" Tanya saya melihat nama yang ditulis dengan tangan di halaman muka lembaran itu.

"Ya. tapi ibu mesti bawa resep yang ditulis dr. spesialis KHOM ya," jawab bu Linda seraya menegaskan maksud tulisan KHOM di sampingnya.

Saya pun mengerti. "Oh, jadi resepnya bukan ditulis dokter Bayu dong, saya perlu minta dari dr. Noorwati, gitu?" Tanya saya kemudian mengingat dr. Noor adalah konsulen ahli kemoterapi yang sangat dipercaya dokter saya untuk menangani kemoterapi saya meski kami melakukannya di kampung saja.

"Betul. Ibu ke dr. Noor ya?" tanya bu Linda kemudian.

"Ya, saya masih tetap pasien RSKD ikut dr. Bayu dan dr. Maria teman saya," jawab saya menegaskan sementara itu pembicaraan kian menjadi hangat.

Bu Linda mengisahkan awal mula dirinya berkecimpung di pelayanan sosial begini. Waktu itu beliau berniat berhenti bekerja, namun ingin mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang berarti. Beliau lalu berkunjung ke RS St. Carolus dan mencari tahu kemungkinan untuk itu sesuai dengan agama yang dianutnya. Dipertemukanlah dia dengan pasien-pasien penderita penyakit berat yang perlu dibantu. Hatinya tersentuh sehingga dia menekuni pekerjaan itu dan melepas kariernya demi orang sakit.

Sejak itu dia punya komitmen untuk membantu penderita-penderita kanker. Di Bogor sini, di mana rumah keduanya berada dia justru "naik gunung" menyelusup desa untuk membantu warga miskin yang tak bisa mengakses pengobatan dokter dari berbagai agama, tak terbatas Katholik saja. Mereka dibantu untuk mengurus Surat Keterangan warga Tidak Mampu (SKTM) hingga membawanya ke dokter. Acap kali dia bekerjasama dengan Yayasan Sosial Dompet Dhuafa yang jelas-jelas milik muslim yang bersedia mengulurkan banyak bantuan termasuk menyediakan transportasi pasien dengan ambulans. 

Dia banyak berkisah tentang itu dengan nuansa yang mengharukan yang membuat saya ingin menangis jadinya. Sebab drh. Linda hanya seorang yang sederhana yang hidup sendirian dan kemana-mana mengandalkan moda transportasi umum. Seperti pagi itu ketika dia datang langsung dari Jakarta menjenguk saya. Bayangkan, manusia yang juga punya keterbatasan masih punya kepedulian untuk makhluk lain yang lebih papa. Luar biasa!

"Oh ya bu, ada lagi lho Leucogen dijual dengan harga murah di RS. Ibu bisa tanya-tanya sama bu Elies, pasien dr. Denny di sini, dijamin di bawah harga apotek YKI sekali pun," tiba-tiba bu Linda teringat satu lagi kebutuhan penting saya.

"Ah masa' sih?!" Seru saya tak percaya. Bayangkan suntikan untuk meningkatkan sel darah putih yang amat saya butuhkan itu harganya membuat perut menjerit keroncongan.

"Betul, belinya di orang dalam RS. Silahkan tanya bu Elies sendiri sekalian kenalan, nih nomornya ada di saya," tegas bu Linda meyakinkan. Ada kesungguhan di bola matanya yang kecil sebab sebagai warga keturunan Cina dia punya mata sipit meski memancarkan kecerahan. Saya kemudian mencermati kata-katanya. Ah, bu Linda sungguh baik budi.

"Bu Julie, urusan Jamkot memang ribet ya? Mendingan di DKI atau di Kabupaten sekalian deh," tiba-tiba bu Linda bicara soal ruwetnya birokrasi untuk pengguna Jamkesda seperti saya.

"Iya tuh bu," sahut saya.

"Saya 'kan juga suka nolong orang kota. Tapi aduh ampun deh urusannya bikin emosi aja," keluh bu Linda membuat saya geli sendiri. Ini relawan kena batunya, kata hati saya. Tapi dia akan menjemput nikmatnya kelak di surga, itu kepercayaan saya.

Setelah sadar bahwa adzan kaji memanggil saya untuk bersembahyang dhuhur bu Linda buru-buru minta diri. Dia mengaku keasyikan mengobrol dengan saya karena dianggap cocok. Saya pun membenarkannya meski mengaku juga bahwa saya sudah lelah menerima tamu. Saya ucapkan terima kasih karena sudah mengingatkan saya untuk tidak mau dicium tetamu sebab kondisi saya yang lemah dalam masa kemoterapi ini.

Sore harinya saya berkirim SMS kepada bu Elies sesuai saran bu Linda untuk mendapatkan obat suntik dengan harga murah di RS. Meski tak segera dijawab tetapi saya menjadi lega karena ternyata beliau pasien dr. Noorwati juga, sehingga memudahkan saya untuk memperoleh harga yang sama sebab dr. Noor type dokter yang banyak membantu juga. Nyatanya sesekali dana jamkes kasiho saya datang dari kantung beliau hehehehe.....

Lalu ketika saya selesai bersembahyang Ashar, tiba-tiba An teman baik saya menelepon dari ruang praktek sinshe menyatakan ingin menjenguk saya serta menanyai apakah saya perlu dibawakan sesuatu jamu dari sinshe kami? Memang dua hari sebelumnya sinshe mengecek kondisi saya lewat anak saya, yang dijawab bahwa saya sangat lemah dan untuk itu minta dikirimi enerji positif saja sebab tak mampu lagi ke sinshe. Beliau menjanjikan akan melakukannya. Katanya alasan beliau menelepon anak saya juga terdorong nalurinya yang mengatakan saya perlu dibantu. Subhanallah! 

Tak dinyana An datang bersama Netty, adik teman lama saya yang saya belum pernah mengenalnya. Kondisi kanker payudaranya seperti saya dulu, pecah. Sinshe pun tak sanggup mengobatinya sehingga kami disuruh berobat ke dokter. Tetapi kondisi Netty belum separah saya. Kelenjar getah bening ketiaknya masih sehat hingga sekarang, meski luka tumor di payudaranya tetap tidak mengering dan menutup sempurna sepenuhnya.

Netty tak dioperasi. Entah apa sebabnya. Meski ternyata kankernya menyebar jauh hingga ke tulang dan paru-parunya, Netty cukup berobat di dr. Noorwati saja. Dengan obat kemoterapi yang katanya paling ringan. Namun alhamdulillah obat itu menolongnya. Setelah habis hanya satu siklus kemoterapi enam kali yang membuatnya sempat tak mampu berjalan seperti saya, Netty dinyatakan sembuh total. Saya bangga atas hasil kerja keras dokter kami. Perempuan yang menurut saya segagah Srikandi. Dan di dalam lubuk hati saya, saya iri kepada Netty. Terus terang saya menjeritkan pinta ingin sembuh! Dan saya berharap di tangan dr. Noor dan dr. Bayu itu akan terjadi.

Mata saya menerawang ke langit-langit membayangkan lakon-lakon perjuangan yang dramatis. Saya dan mereka berdua adalah pelakunya. Tiba-tiba mata saya buram terbalut air mata apalagi begitu saya menyadari An dan Netty berpamitan memunggungi saya pergi.

"Selamat istirahat Julie, tetap semangat, kamu pun pasti bisa sembuh," kata mereka serempak seraya meninggalkan sisi pembaringan saya. 

"Amin, insya Allah," jawab  saya seraya mengucap terima kasih dan salam selamat petang. Matahari pun mulai tenggelam menuju ke peraduannya membiarkan gelap menerpa.

(Bersambung)

5 komentar:

  1. cuma bisa bilang
    ya Allah
    moga cepat sembuh ya Bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya mbak Zen. Semoga mbak Zen sekeluarga termasuk si kecil cucuku pun senantiasa dikaruniai kesehatan yang bagus ya. *pelukan*

      Hapus
  2. Biyungeeeeee.......jyan ana-ana baen yah rintangane.....salutlah atas ketabahane. Janji Allah sesudah ada kesulitan ada kemudahan........keep fighting bund!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalem kang Emil?Sampun kondur wonten prantoan malih tha?

      Iya genah kiye, anu Pemerintah jare akeh nunggake meng pihak RS lan farmasi. dadi dana Jamkes angel metune, hiks! Iyalah kudu berjuang maning kiyeh.

      *dadaaaaag.....bye-bye Sir!*

      Hapus

Pita Pink