Powered By Blogger

Rabu, 20 November 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (137)

Ada satu lagu yang akhir-akhir ini bergantung di ingatan saya. Rindu Purnama judulnya. Bukan hanya disebabkan karakter suara penyanyinya yang khas, melainkan karena penggalan-penggalan syairnya amat mengena di hati saya. Lagu yang mengisahkan seseorang dalam kesendiriannya namun dia tetap tersenyum untuk bertahan hidup. Sebab dia merasa masih banyak yang menyayangi, dan itu sangat disyukurinya.

Berulang kali saya minta si bungsu memutarkannya untuk saya hingga telinganya merasa bosan sendiri. Tapi saya beruntung karena dia tidak protes selain bertanya, "ada apa sih kok tiba-tiba ibu mau dengar lagu ini terus?" Dan jawaban saya adalah liriknya mengajari kita yang tengah terbuang untuk selalu bersyukur karena justru di dalam masa "pembuangan" ini kasih sayang datang melimpah dengan sendirinya menutupi duka yang menyelimuti.

Dia terdiam sejenak baru menyetujuinya. "Ah, iya juga ya," ucapnya seraya tersenyum.

Senyum anak saya adalah kesejukan untuk saya. Rasanya sakit saya yang membuat tubuh panas dingin seakan-akan tersiram guyuran air sumur. Ya memang tubuh saya tidak demam. Tapi hati saya "demam" oleh harga obat suntik yang harus segera saya peroleh. Sebab seingat saya dulu saya pernah membeli secara pribadi ketika tak punya waktu untuk mengurus permintaannya ke DKK sebanyak kurang lebih satu juta rupiah. Uang itu kini tak mudah saya peroleh, habis terkuras untuk kebutuhan lain penunjang pemulihan kondisi saya. Hidup memang pahit bagi kami meski tak sepahit yang dihadapi pengguna-pengguna Jamkesda lainnya. Sebab ternyata Tuhan selalu menjulurkan "tangan-tangan emas" untuk mengantarkan uang itu ke rumah kami.

Saya tiba-tiba teringat teman-teman DWP saya. Sikap mereka yang sangat pedulian membuat saya ingin minta didoakan terus. Saya kirimi salah seorang di antaranya sebuah SMS singkat tentang kondisi terkini saya dan rencana saya memenuhi kewajiban kontrol keesokan harinya ke RSKD. Tapi tentu saja tak saya ungkapkan kesulitan dana pembeli obat itu.

"Masya Allah adikku, gmn kl teteh kirim 4life yg prnh dikasih itu mau?" Jawaban segera saya terima tak lama kemudian. Tentu saja akan saya terima dengan senang hati, namun saya katakan saya yakin tak sanggup membayar harganya

Si teteh murah senyum itu membalas kembali, "jng bingung teteh akan urus."

"Tapi teh saya merepotkan orang terus dong?" Balas saya.

"Jgn lupa dik. Sebagian harta yg kami peroleh adlh utk menolong org yg membutuhkan. Kuatkan dirimu ya," jawabnya menyejukkan. Hampir saya menitikkan air mata karenanya, terlebih-lebih ketika ada SMS susulan yang menyebutkan uang pembeli obat suntik itu pun ada di tangannya, datang dari karib kami di luar negeri. Subhanallah! Inilah satu di antara nikmat itu jua.

Malam itu saya tidur cukup nyenyak. Bahkan lonceng penanda subuh pun nyaris tak terdengar. Padahal seharusnya saya segera bangun dan mandi untuk ke RSKD. Jalanan akan padat di Senin pagi.

Sambil beranjak dari kasur saya bangunkan anak saya. Dia salah seorang asisten setia saya yang amat penuh perhatian. "Dik, hampir jam lima, nanti pak Jamil keburu datang," kata saya lembut. Ya suara saya kini tak selantang biasanya. Kali ini dia langsung bereaksi, menggeliat sekejap dan bergegas bangkit sementara saya cuma diam menunggunya membantu saya.

Ritual bangun tidur seperti ini kini mau tak mau jadi kebiasaan. Termasuk mandi dan sarapan saya. Semua dalam bantuan anak-anak. Untuk itu saya tak bisa merasa malu lagi dipegang-pegang lawan jenis.

****

Pukul enam kami berangkat. Pak Jamil nampak prihatin menyaksikan keadaan saya sekarang. Dia bertanya kelanjutan pengobatan saya. Begitu saya jawab dia langsung mengucap nama Allah dan mendoakan yang terbaik. Kelihatan betapa tulus kebaikannya dari nada bicaranya meski sesungguhnya dia bukanlah siapa-siapa kami. Persaudaraan itu ternyata tak harus terikat darah.

Jalanan seperti dugaan sudah padat sejak ke luar dari rumah. Bahkan ada konvoi truk Marinir yang entah datang dari mana dalam keadaan kosong. Jakarta pun di luar kebiasaan, menjadi lebih tertib pada jalur Bus Trans Jakarta. Tak nampak lagi kendaraan-kendaraan pribadi yang ikut menyerobot kecuali sepeda motor yang semakin mirip lautan laron.

Di RS pun pengunjung sudah meluap sehingga saya terpaksa berjalan tertatih-tatih menuju lobby sebelum memperoleh kursi roda yang katanya sedang dalam antrian. Dan nyatanya begitu antrian dibuka, pengunjung pun serempak berlari memperebutkannya sesuai daftar tunggu. Padahal jumlah kursi roda nampaknya sudah bertambah melihat yang saya peroleh terlihat masih baru dengan roda-rodanya pun masih dilapisi pembungkus plastik. Sungguh tak mudah rupanya mencari kursi roda di RS besar. Setidak-tidaknya dibandingkan di Bogor, di mana banyak tersedia di suatu sudut tertentu yang bebas dipinjam tanpa perlu meninggalkan KTP sebagai penjamin.

Untung saya masih mendapat nomor di dokter yang saya tuju, meski nomor besar. Begitu saya nampak di muka ruang perawat mereka langsung menyambut saya dan menyuruh saya masuk untuk registrasi, mengukur tensi dan menimbang bobot. Kedapatan bobot saya turun tiga kilogram, dengan tensi yang rendah. Segera perawat yang mengasisteni onkologis saya membawa saya ke dokter ahli kemoterapi sebelum beliau menyela prakteknya untuk menjenguk pasien-pasien yang sedang dikemoterapi pada hari itu. 

"Ini bu Julie datang dok, tolong jangan naik dulu," ujar perawat favorit anak saya yang menurut kami memang sangat penuh kasih sayang itu. Agaknya onkologis saya sudah berpesan padanya untuk segera menghadapkan saya kepada beliau begitu saya nampak sebelum saya menemui dokter onkologis saya sendiri. Pun onkologis saya sudah bicara lebih dulu dengan seniornya ini.

"Assalamu'alaikum mbakyu dokter," saya langsung mengucap salam dan menebar senyum. Hati saya begitu senang bisa bertemu lagi dengannya untuk menyatakan isi hati saya yang sesungguhnya.

"Lho mbak, kok sudah di kursi roda?!" Reaksi beliau sambil membelalakkan matanya. Nampaknya beliau terkejut tak seperti perawat yang agaknya sudah mendengar kemunduran saya dari onkologis saya.

"Sudah, sudah. Duduklah di situ, tidak mengapa," lanjutnya lagi seraya menebar senyum dan mengulurkan tangan. Kelembutan kulit itu terasa mengantarkan kehangatan ke dalam diri saya.

"Iya bu, leukosit saya drop. Cuma 1250 saja. Kaki-kaki saya pun berulah jadi manja sekali. Ngilu pada pangkal paha, kaku dan lemas," jawab saya. "Tapi saya ingin mengucapkan terima kasih sudah mendampingi mas Bayu memformulasikan obat yang cocok untuk saya, panjenenengan hebat bu."

"Ah nggih mboten tha mbak. Yang hebat itu Allah," jawabnya merendah. "Jadi sudah kemo?"

"Sampun mbakyu. Tapi saya cuma dapat Brexel-Carbo, daripada mboten ding, 'kan nggih lumayan," jawab saya.

"Kapan?"

"Tanggal sembilan," sahut anak saya.

"Saya mengemis sendiri ke DKK minta didanai. Benar mas Bayu. Trastuzumab ditolak. Tapi saya mengemis minta setidak-tidaknya didanai Brexel dan Carbo lalu saya tunjukkan SMS kesepakatan dokter dengan saya karena pagi itu saya berunding dulu dengan beliau," terang saya seraya mengambil nafas sejenak. Sedih sekali rasanya akhir-akhir ini saya mudah terengah-engah lagi. "Mereka lalu minta waktu untuk menghubungi dokter dan pihak RS. Tapi tentu saja tak tersambungkan meski saya diminta menunggu hingga siang. Akhirnya saya terangkan bahwa mas Bayu sedang di ruang operasi di RSKD. Jadi silahkan ambil keputusan berdasarkan SMS beliau tadi. Dan akhirnya saya diberi yang dua itu saja. Tak apa lah saya tunggu sampai siang," tutup saya.

"Oh, berjuang terus nih," gurau dokter keibuan yang kini sudah akrab dengan saya. "Mana hasil lab nya?" Tanyanya.

Anak saya lalu mengangsurkan berkas-berkas di tangannya, dan dokter menarik lembar hasil laboratorium. Mengambilnya sebuah kemudian menyimpannya di berkas Rekam Medis saya. 

Saya meresapi gurauan bu dokter yang sudah doktor yang memimpin lembaga penelitian dan pengembangan di RS besar ini. Betul kata mbak Maria koleganya yang membawa saya berobat pertama kali. Saya adalah pejuang tangguh yang penuh semangat sehingga tim medis yang menangani saya pun semakin bersemangat mencari cara untuk menangani kasus saya yang sedemikian beratnya. Di dalam konferensi harian para dokter sering saya dibicarakan. Begitu kata mbak Ria seorang dokter yang ditugasi mendampingi pasien-pasien dengan tingkat kesakitan tinggi dan harapan hidup yang rendah.

"Oh ya rendah. Nanti diatasi dengan suntikan," ujar dokter itu.

"Ya, saya sedang mengupayakan diberi Leucogen juga. Mudah-mudahan dikabulkan. Kalau tidak akan saya carikan dana segera. Terus terang mbakyu, capek mengalami hal begini," cetus saya.

Disertai senyumnya yang tulus beliau menyahut, "saya tambahi antibiotik dan vitamin."

"Tapi saya tidak batuk kok," sahut saya spontan. 

"Ah ya nggak harus batuk. Pokoknya dihabiskan, ya?" Tegasnya membuat saya mengangguk-angguk mengerti.

"Mbakyu, obat pilihan panjenengan terbukti ampuh sangat. Ini tumor di cranio mulai mengecil dan menurut mas Bayu yang di clavicula pun melunak," lapor saya lagi seraya mengekspose tubuh saya. Jilbab saya angkat untuk itu.

"Mana?" Beliau bangkit dari kursinya setelah selesai menulis. Dihampirinya saya dan diraba serta diperhatikannya tumor saya cermat-cermat sebelum memulai pemeriksaan dada. 

"Insya Allah menolong ya mbak. Kita coba terus. Kapan jadwal kemo berikutnya?"

"Tanggal 30," sahut anak saya manajer pengobatan saya di lingkungan keluarga.

Dokter lalu kembali ke tempatnya. Melanjutkan kembali menulis di Rekam Medis saya.

"Inggih sampun mbak, kita ketemu lagi di waktu berikutnya," tutup bu dokter menyudahi pemeriksaan hari itu serta menyerahkan lembaran resep ke tangan anak saya untuk nanti ditiru oleh onkologis saya di kampung halaman.

Saya mengucapkan terima kasih dan kami pun bersalam-salaman kembali. Beliau langsung menutup pintu kliniknya sebelum melangkah naik memeriksa pasien-pasiennya yang sedang dikemoterapi, sedangkan saya kembali ke selasar ruang tunggu menanti kesempatan ke onkologis.

Ternyata menurut perawat, onkologis saya sudah bertugas di lantai dasar, tapi tadi meminta saya menunggu di sini di tempat yang lebih bersih karena lebih sepi. Saya patuh meski ternyata membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Dalam pada itu saya menilai betapa profesionalnya beliau menangani pasien. Tak seorang pun yang dalam keadaan sangat lemah diizinkan terekspos keramaian kerumunan orang. Teringat lagi alasan beliau menyetujui saya beristirahat di rumah saja daripada harus di rawat di bangsal kelas 3. Saya tersenyum-senyum bangga membayangkannya lalu kembali merasa sangat yakin bahwa kolaborasi kami berdua pasti akan membuahkan hasil yang menggembirakan dan mencengangkan kolega-kolega beliau yang sudah senior di situ.

Masa menunggu itu dihabiskan anak saya untuk browsing sehingga saya duduk-duduk melamun sambil memperhatikan tempat-tempat tidur serta kursi roda dengan pasien tak berdaya yang akan dibawa ke ruang radiologi. Dulu di Singapura saya adalah salah satu di antaranya.

Rasanya tak sabar saya menunggu meski banyak yang juga masih menunggu dokter mereka masing-masing termasuk bu dokter ahli kemoterapi yang kemudian kelihatan sudah kembali setelah selesai memeriksa mereka yang tengah dikemoterapi. 

"Dik, tolong naik dan tanyakan apa mas dokter jadi turun ke sini? Kalau masih lama di atas kita naik aja deh, minta tolong zuster yang masuk menyerahkan resep," pinta saya meluapkan rasa lelah di tubuh.

Anak saya mengangguk lalu beranjak pergi. Namun perawat mengingatkannya bahwa dokter pasti akan turun karena sudah berpesan agar saya disuruh menunggu di situ. Akhirnya dia duduk lagi dan masa menunggu diteruskan. Kata perawat masih banyak pasien beliau yang juga sama-sama menunggu di bawah. Saya pun tak bisa berkata-kata lain.

Saya tangkap pasien di dekat saya juga menunggu dokter yang sama dengan saya, meski saya lihat dia tak mengeluh karenanya. Saya jadi malu dibuatnya. Namun rasa letih yang terus saja menyergap akhir-akhir ini membuat saya ingin segera pulang, sampai di rumah lalu tidur. 

"Dik, udah lah......., naik aja. Tanya perawat di UDT," pinta saya lagi mengusik anak saya. Maka kali ini dia langsung pergi tanpa menoleh-noleh dan segera kembali menyampaikan temuannya, "eh, ternyata beliau baru aja tutup klinik dan kata perawat dah turun. Eh, beneran, ada tuh sedang di pos nya perawat," yang ternyata ketika saya menoleh ke arah situ beliau sudah muncul menuju klinik.

Perawat kemudian menyeru sebuah nama sebelum memanggil nama saya untuk giliran berikutnya. "Ibu Julie setelah ini ya," gerakan tubuhnya meminta saya bergeser ke muka pintu klinik yang ditempati beliau.

Tak lama kemudian tiba giliran saya. 

"Monggo bu," sapanya profesional. "Sudah ke dr. Noor?"

"Sudah boss! Ditambahi antibiotik dan vitamin. Njenengan bener lagi deh, diantibiotiki aja meski nggak batuk. Nurut saya sekarang," jawab saya sambil tersenyum.

"He...he..he..he..., lha iya 'kan?! Terus resepnya mana?" Beliau tertawa sambil melakukan tugasnya. 

Anak saya menyodorkan berkas-berkas resep serta blanko kosong yang harus beliau isi dengan meniru resep itu."Silahkan," kata anak saya.

"Oh nggih okay, masih sama ya?" Ujarnya sejenak kemudian sambil mengamat-amati komposisinya. Kami sih cuma diam saja tidak mengerti. "Eeeee...., leucogennya sudah dapat?"

"Oh sedang diurus Andrie ke DKK. Kalau gagal nanti saya cari uang beli sendiri aja deh mas. Wis kesel, aku ra kuat," jawab saya.

"Nggih," sahutnya pendek. "Bertahan ya bu," sarannya seperti biasa sambil terus menulis.

"Ah saya senang kok nggak harus dirawat. Nanti dapat kelas 3 rawan penyakit menular bahaya banget. Njenengan bijak deh mas," puji saya mengungkapkan kegembiraan saya.

"Ya, nggak cuma itu sih. Ruwet dan ribet deh di sana. Mending di rumah aja sih memang," tukasnya kemudian mengembalikan berkas-berkas resep ke tangan anak saya. "Istirahat dan jaga asupan makanan ya," pintanya.

Dokter muda nan simpatik itu bangkit dari kursinya bersamaan dengan bunyi di telepon genggamnya. Kemudian dia mengatakan sudah selesai dengan pasien di atas dan tidak lagi kembali ke sana sebab sudah mulai dengan pasien di basement. Kedengarannya ada pasien menunggu di lantai dasar.

"Wah, mas Surgonc beneran ngetop sekarang. Laris manis pasien makin mbludak," komentar saya.

"Ah, nggih mboten tante. Alhamdulillah ada sih," sahutnya merendah.

"Wuih, ra ngaku. Zuster, di kampung ya, kalau beliau nggak nongol banyak yang kecewa berat. Begitu praktek, nomor antrian dalam sekejap habizzzzz," cerita saya kepada perawat yang mengasisteninya membuat beliau tersipu-sipu malu.

"Pamit ya mas," ujar saya minta diri. Disambut olehnya dengan menyalami saya dan seperti biasa memegang sebelah bahu saya.

"Selamat istirahat, sampai ketemu lagi," katanya dengan hangat.

"Terima kasih. Sukses selalu ya mas," balas saya.

"Yang penting ibu tetap semangat," kata perawat sambil mendorong kursi roda saya menuju pintu keluar.

"Pasti dong. Saya mau sembuh untuk membanggakan beliau," janji saya sambil menjauh dari klinik.

Siang makin menjadi-jadi. Tapi di selasar masih sangat banyak pasien menunggu gilirannya. Semoga mereka pun menjemput harapan mereka mencapai kesembuhan.


(Bersambung)

9 komentar:

  1. Salut dengan semangat bu julie...tetap semangat ya bu. Salam kenal -evi-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata dr. Maria Witjaksono Kepala Unit Paliatif di RS Dharmais, semangat itu memang kunci pasien untuk menjangkau kesembuhannya. Karena pertama berobat saya dibawa beliau, jadi saya nurut sama beliau. :-D

      Salam kenal kembali bu Evi.

      Hapus
  2. mama saya thn 96 payudara sebelah kiri harus dibuang karena kanker stadium 3 dan seminggu setelah itu rahimnya juga diangkat karena kanker stadium 2, Alhamdulillah sampai saat ini mama masih sehat, dan itu kata mama karena semangat mama utk hidup. 11 Maret 2009, payudara kanan saya pun harus diangkat karena mastitis abses yang sudah parah. Saya niru semangat mama untuk hidup karena masih ada dua anak kecil yang butuh saya bu..Alhamdulillah Allah mengijinkan saya untuk beraktivitas kembali spt sblm saya sakit..dan Alhamdulillah Allah "mengenalkan" saya dng bu julie walau lewat dunia maya...krn semangat ibu sama spt semangat mama. Tetap semangat ya bu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamu'alaikum mbak Nada. Salam sehat dan salam kenal untuk mbak Raya dan mamanya. Saya sudah duluan diambili organ reproduksi saya 3 tahun berturut-turut termauj sebagian kecil usus saya di Singapura. Sampai saya hanis-habisan di sana selalu dibilang jinak. Teman saya almarhumah penderita kanker paru pun juga nggak terdiagnosa dengan baik. Alhamdulillah saya malah ketahuan ca mammae di kampung saya sendiri oleh dokter belia, putra tetangga saya yang okay sekale! Hebat 'kan ya?!

      Mbak Nada tinggal di mana? Terima kasih sudah mampir di sini.

      Hapus
    2. Aduh maaf mbak Nadaraysa banyak typo nih. Yabg bgetik orang sakit sih hihihihi.....

      Hapus
  3. Bu Julie, Nada itu nama anak ku bu..nama aku evi bu. kemarin blog aku memang pake nama nadaraysa eh tapi koq sekarang itu blog ilang ga tau kemana..karena gaptek ya udh aku ga cari bu..jadi nya aku buat baru lagi deh bu. evibachtiar.blogspot.com aku tinggal di kebayoran lama, bu Julie bogor nya di mana?

    Bu...kalo boleh tau, dokter ibu siapa ya namanya? praktek di Dharmais juga kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Evi sekarang saya sadar. Soal onkologis saya udah saya jawab di blog mbak Evi ya. Rumah saya dan onkologis saya di Taman Cimanggu, Bogor mbak. Mudah-mudahan suatu hari kita bisa ketemu. Terima kasih sudah membolehkan saya following blognya mbak Evi.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Dalem sayang..........

      Piye kabare katut putuku nak Medinna? Sehat-sehat tha?! Salam kangen ya.

      *cipika-cipiki*

      Hapus

Pita Pink