Powered By Blogger

Rabu, 04 September 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (107)




Dalam sepekan terakhir ini organ jantung merupakan hal yang amat mengkhawatirkan dan menyita pemikiran saya. Seperti diketahui jantung adalah pusat nyawa bersemayam. Tanpa jantung yang sehat maka petaka yang akan nongol. Apalagi bagi penderita kanker yang sedang dan akan menjalani kemoterapi. Diperlukan keadaan tubuh yang prima serta organ-organnya berguna dengan baik. Jika tidak, kemoterapi tak bisa dilaksanakan menunggu hingga pasien dapat dipulihkan dengan pemberian obat-obatan tertentu yang sesuai.

Ini juga yang terjadi pada diri saya ketika akan dikemoterapi siklus kedua. Tak dinyana, obat-obat sitostatika itu ikut-ikutan mengganggu irama kerja jantung saya. Denyut jantung saya tiba-tiba melemah sehingga perlu dinormalkan kembali sebelum sesi kemoterapi tiba. Padahal tak banyak waktu tersisa mengingat dokter onkologi saya mengingatkan sel kanker saya bertipe sangat ganas yang dibuktikan dengan pertumbuhannya yang cepat. Bayangkan saja setelah dua minggu dioperasi dia mulai bangkit lagi hingga sekarang sudah menonjol ke luar menyulitkan saya berpakaian secara pantas.

Tuhan itu Maha Baik. Tak perlu diragukan. Dengan bantuan pemberian obat-obatan dosis tinggi oleh dokter ahli jantung konsulen kemoterapi, hanya dalam waktu seminggu segalanya membaik. Begitu yakinnya Doktor ahli kemoterapi yang menangani saya, hingga di hari ke enam saya makan obat itu, beliau memberi aba-aba agar saya memeriksakan kondisi saya ke RS Jantung yang kebetulan berdampingan letaknya dengan RS Kanker. Namun saya tidak mau gegabah melewati saja dokter onkologi saya. Jadi saya tunda pemeriksaan itu sehari hingga saya bisa bicara dengan dokter saya dulu. Saya berhasil menemuinya di kampung halaman di mana seharusnya seluruh administrasi pengobatan saya dilaksanakan karena menggunakan bantuan dana pemerintah. 

Atas persetujuan dokter yang juga merumuskan rencana kedua seandainya jantung saya tetap buruk, hari Senin (02/09) saya mengunjungi RS Jantung. Bangunannya kelihatan lebih bagus dibandingkan bangunan RS Kanker. Tapi pelayanannya sama baiknya. Bahkan di klinik eksekutif yang saya pilih supaya cepat dilayani seorang profesor dengan akurat, ada petugas yang berjaga-jaga di dekat pintu masuk untuk membantu mengarahkan pengunjung.

Saya datang tanpa membawa surat pengantar rujukan dari dokter. Karenanya saya katakan kedatangan saya adalah atas inisiatif sendiri untuk memantau jantung saya sebab koktail kemnoterapi saya akan masuk ke siklus kedua diganti dengan yang lebih kuat. Saya katakan saya ingin memudahkan tugas dokter saya di RS Kanker yang sedang meneliti obat kanker payudara. 

Profesor yang amat ramah dan bersifat kebapakan itu mempersilahkan saya naik ke meja pemeriksaan setelah sebelumnya meneliti lembar EKG yang dikerjakan asistennya sebelum menyuruh saya masuk ke klinik Profesor itu. Saya membayangkan beliau akan kesulitan menghadapi tubuh saya yang sudah rusak dan cacat ini. Ah tapi ternyata tidak. Dengan lembut beliau bilang tak ada masalah untuknya. Persis seperti yang dikatakan para asisten beliau di bilik EKG.

Elektrokardiografi atau EKG adalah pencatatan aktivitas kelistrikan jantung manusia. Tubuh manusia ditempeli alat yang terhubung dengan mesin perekam grafik. Biasanya mesin EKG berbunyi riuh, serta kulit yang ditempeli elektroda/katoda itu akan terasa kencang. Terutama di bekas trauma operasi cukup menyakitkan. Tetapi ajaib, di luar ekspektasi saya, peralatan di sana amat nyaman dipakai. Rasanya nyaris tak ada bahkan bunyinya pun sehalus mesin pendingin ruangan di hotel-hotel mewah itu hingga saya tak menyadari bahwa pemeriksaan sudah selesai.

Asisten beliau yang mengoperasikan mesin echo juga bekerja dengan sangat baik. Sepertinya sih mesin mereka lah yang menjadi penyebab. Sehingga para perawat tak kesulitan mencari area lengan saya yang pas untuk dipasangi katoda/elektroda itu. Padahal di RS lain dokter jantungnya itu sendiri pun kerap kesulitan mencari lokasi yang pas dikarenakan tangan saya bengkak. Mesin monitornya pun punya layar yang bagus. Ada semburat warna merah dan biru di beberapa titik yang saya duga menandai aliran darah dari bilik kanan dan bilik kiri. Bukan sekedar layar tua serupa pesawat TV kami yang hitam-putih jaman dulu itu.

Sambil bekerja yang seorang bertugas mencatat laporan pemeriksaan temannya diselingi obrolan-obrolan ringan dengan pasien. Mereka bahkan menanyai mengenai gejala kanker payudara, dilanjutkan dengan pertanyaan kepada siapa saya berobat. Ternyata hari itu ada juga pasien kanker lain yang minta diperiksa menjelang kemoterapi, tetapi atas suruhan dokternya. Buntut-buntutnya mereka mengomentari saya sebagai pasien cerdas, bahkan menduga saya berlatar belakang pendidikan medis karena saya bisa mengemukakan semua permasalahan saya dengan baik. Wah tak disangka, ternyata banyak orang yang salah sangka. Si bibi dapur yang tukang ngoceh disamakan dengan dokter dan perawat. Geli saya mendengarnya.

Sehabis menerima hasil test yang dinyatakan dokter prima untuk menerima obat-obat sitostatika, saya pun melangkah kembali ke RS Kanker melintasi Jalan Kota Bambu Selatan yang memisahkan kedua RS itu. Deretan kedai penjual makanan seakan-akan melambai-lambai mengundang kami untuk mampir makan siang. Tapi tak saya lakukan karena sulitnya mendapatkan makanan diet di situ. Sejak sakit kanker saya memilih makanan organik jika sedang berada di luar rumah.

Tiba di klinik, bu Doktor ahli kemoterapi belum ada. Tapi pasiennya sudah banyak. Saya mendapat giliran awal sehingga tak kelamaan menunggu. Hasil pemeriksaan jantung yang saya peroleh langsung dibacanya. Sorot matanya nampak puas, sebab kedapatan saya bisa segera dikemoterapi bahkan dengan obat keras yang sedang diteliti itu. Terlebih-lebih waktu saya mendapat pemeriksaan seorang Profesor yang tentunya tak diragukan lagi kepakarannya. Beliau langsung menyuruh saya kembali menunggu di selasar karena koordinator penelitian perlu dipanggil dulu untuk memastikan bahwa pasien beliau berhak jadi subyek penelitian berdasarkan hasil rekam jantung yang sudah membaik itu. Agak lama saya menunggu gadis kecil mungil ini sehingga punya kesempatan mengobrol dulu melepas ketegangan. Juga berkirim SMS kepada onkologis saya yang tengah memeriksa pasien di kliniknya dan dokter paliatif, teman saya sendiri itu. Meski cuma teman saya yang menjawab tapi saya tak kecewa. Bagi saya yang penting mereka segera tahu apa yang sudah saya capai.

Si nona datang bergegas-gegas seperti biasanya. Kalau saya perhatikan gadis ini selalu berpembawaan demikian. Di tangannya ada berkas-berkas berikut Rekam Medis saya. Setelah minta maaf dia mengajak saya ke klinik peneliti utama, yang sebetulnya bukan dokter ahli kemoterapi yang diserahi onkologis saya untuk menerapi saya. Sebab beliau itulah nantinya yang akan berbicara dengan saya melegalkan urusan kami.

Sayang pak Doktor tidak bisa segera ditemui, sehingga akhirnya si nona berinisiatif menelepon dokter ahli jantung saja. Kedengaran dia melaporkan keadaan jantung saya kini, yang diluluskan untuk ikut penelitian oleh dokter ahli kemoterapi saya. Dengan pemberitahuan itu dia berniat minta persetujuan dokter ahli jantung yang sudah membekali saya dengan sejumlah obat. 

Kelihatannya dokter ahli jantung terkejut tak mengira kondisi saya cepat membaik tanpa sepengetahuannya. Sebab kedengaran si nona meyakinkan sambil mengatakan bahwa dia memegang hasil pemeriksaan yang dikeluarkan pagi itu oleh pakar di RS Jantung. Entah apa reaksi dokter jantung konsulen dokter saya, yang pasti kemudian si nona mengajak saya kembali ke klinik bu Doktor. Kepada perawat dia menyampaikan keinginannya untuk masuk ke klinik. Perawat pun menyetujui, karena teringat pesan bu dokter untuk memanggilkan dirinya yang semula tak diindahkannya sendiri.

Tiba di dalam dokter itu mengarahkan apa yang harus dilakukan oleh si nona. Saya dinyatakan sudah menunaikan semua kewajiban saya yang disyaratkan. Tinggal mengulang pemeriksaan laboratorium jika dianggap kadaluwarsa. Sebelum mengizinkan saya pulang kami berjanji untuk langsung bertemu Doktor yang mengetuai penelitian ini hari Rabu (04/09) untuk menandatangani perjanjian kerjasama penelitian. Dan untuk itu saya dibekali lembaran perjanjian itu untuk dipelajari sebelum saya tanda tangani. Semoga impian saya untuk berobat dengan mudah tercapai. Di hati saya asa terus menyala, membakar semangat saya untuk tetap hidup. Betapa sayang rasanya jika saya harus segera beranjak pergi.........

(Bersambung)

4 komentar:

  1. speechless bun :(

    aku harap kondisi bunda segera membaik, rasanya sedih kalo baca keadaan bunda yang memburuk..
    teriring doa dari jakarta, semoga Allah memberi kesabaran pada bunda... *peluk*

    maaf kalo jarang nulis komen, bukan karena ga mampir, aku selalu mampir dan baca, cuma suka ngilu dan ga bisa ngomong jadinya :(

    ayo sehat bun..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah nak Rin, semua dinyatakan membaik. Besok Rabu saya dikemoterapi. Semoga selamanya baik-baik terus deh, supaya pengobatan cepat berhasil. Terus terang saya udah capek sakit, cuma kan ya nggak boleh nyerah toch?!

      Iya, saya tahu yang baca di tempat saya memang tiap episode banyak, meski nggak banyak yang komentar. Saya memang bukan cari komentar juga sih, tujuannya kan untuk bagi-bagi pengalaman. Terima kasih sekali lagi atas kebaikan dan perhatian nak Rin ya.

      Salam sehat selalu!

      Hapus
    2. Ah Ibu, aku sih nggak heran kalau ibu dianggap pasien cerdas. Apalagi kalau mereka tahu ibu punya ratusan tulisan keren seperti ini di blog pribadinya, pasti mereka lebih tercengang lagi.

      Sudah masuk siklus kedua ya Ibu kemo-nya, semoga Ibu bertambah sehat ya, terus dan teruuusss sehat lagi. Aamiiiinnnn

      *peluk sayang Ibu*

      Hapus
    3. Ya nggak gitu lah neng. :-D Saya cuma banyak baca sebelum ngadep dokter supaya bisa mengerti dengan baik proses perjalanan penyakit dan pengobatan saya yang mereka rancang. Adakalanya saya malah nyebelin lho, karena sok taunya kebablasan hehehehe........ Untung dokter saya pada baik-baik dan sabar-sabar, alhamdulillah. Saya ketemu nenek-nenek 70 tahun yang bilang dokter kami "someah, sopan tur kasep pisan" hihihihi......... Ternyata meski nenek-nenek matanya masih awas lho.

      Iya, siklus pertamanya dengan obat lain di Bogor dulu itu, tapi nggak mempan.

      *peluk balik*

      Hapus

Pita Pink