Powered By Blogger

Jumat, 18 April 2008

PEREMPUAN-PEREMPUAN ITU

Aku bangun pagi dengan rasa berat menggelayut di kepalaku. Sudah sangat lama aku terbebas dari sakit kepala. Hampir dua tahun sejak obat pemberian dokter yang biasa rutin kuminum dinyatakan tidak usah dikonsumsi lagi karena keadaanku sudah membaik, sedangkan obatpun sudah dicabut dari peredaran. Pasti ada sesuatu efek negatifnya yang membonceng di obat itu. Hi, ngeri juga rasanya membayangkan begitu banyak obat yang telah kutelan selama ini.

Udara pagi yang segar tidak mampu menyembunyikan rasa berdentam di sisi kiri kepalaku. Tepat di ubun-ubun serasa ditimbuni beban. Tentu bukan beban pikiran, karena aku telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Dan suamiku sudah tersenyum manis lagi. Kucoba untuk bangkit dari pembaringan. Alhamdulillah mampu. Lalu seperti biasa aku segera masuk ke kamar mandi, mulai dengan kegiatan pagi mengguyur tubuh dan bersembahyang. Hanya suara adzan yang tak ada di sini. Padahal aku merindukannya sebagai teman penyejuk jiwaku. Dinginnya air kuatur sedemikian rupa dengan memadukannya dengan kran air panas sampai ke titik yang bisa kutolerir. Senngaja aku menghidupkannya sepanas mungkin, sambil mengharap sakit di kepalaku akan reda.

Burung di luar sana mulai kedengaran kicaunya, berpadu dengan derum mobil yang mulai melaju satu-satu meninggalkan rumah masing-masing. Sajadahku kubentangkan. Kupilih telekungku yang putih susu dengan pinggiran borduur untuk membalut tubuh. Wangi cairan pelembut menyeruak begitu aku mengerudungkannya menyelubungi kepala. Kuhirup dalam-dalam. Nyaman sekali.

Di tengah sujudku yang kedua, hampir tak dapat kutahan untuk terus merunduk. Kepalaku terasa sangat berat. Kuselingi bacaanku dengan istighfar sambil mencoba mengangkat kepala lagi. Rasa sakit itu kian menjadi-jadi. Pandanganku seperti kabur. Padahal selamanya aku tidak pernah bisa melepaskan kacamataku kecuali waktu tidur dan mandi. Maka kuikuti sujudku dengan doa mengharap keridhaanNya.

-ad-

Lepas sembahyang aku masuk ke ruang kerja suamiku. Suasana masih senyap. Lampu-lampu baru mulai dimatikan oleh pengurus rumah tanggaku. Bahkan dia sendrii belum kedengaran bergerak di dapur. Kunyalakan komputer untuk melahap sarapan pertama berupa berita dari Indonesia. Yang pertama ku 'klik" adalah koran lokal dari ibu kota propinsi kami. Justru semakin jauh kami dari kampung halaman, terasa betapa kami semakin membutuhkan informasi mengenai situas di kampung. Ah sayang, aku harus menahan kecewa lagi karena sudah berminggu-minggu tampilannya di layar komputerku tidak mau sempurna. Hari kemarin bisa dibaca, hari ini tiba-tiba menghilang dengan sepatah kata "error". Ya ampun, sambatku sambil mengarahkan cursor menuju koran nasional. Sepintas kubaca topik-topik yang menarik, sekedar bahan diskusi seandainya ada ajakan berbincang-bincang dari orang-orang di sekitarku. Tapi mata dan kepalaku, alamak, betul-betul seperti zandzak tinju. Berat tak menentu.

Kupanaskan water ketle dan kutuang sesendok kopi tubruk dengan tiga gula di dalam cangkir. Uap air yang memenuhi udara berpadu kopi, sangat nikmat. Kuharap bisa meredakan sakit di kepalaku. Lalu aku kembali ke muka komputer untuk melanjutkan tugasku membaca sebelum suami dan anakku minta ditemani makan pagi. Sebetulnya siapa bilang mereka minta ditemani makan pagi? Duduk menyantap jatah sarapanku bersama mereka lebih berupa kewajiban saja. Pagi yang suram.

Di luar matahari menyembul malu-malu menyapa langit Cape Town yang sejuk. Pohon alpukat di muka kamarku belum mulai berbuah. Aku membayangkan, betapa hebohnya kelak jika alpukat kami mulai bermunculan. Aku tahu, akan banyak ulat bulu merayap menggatalkan kulit. Semuanya seperti terbayang kembali di depan mataku.

-ad-

Di sana, di depan rumahku tumbuh sebatang sirsak. Di sisi kiri ada nangka dan pisang Lampung. Lalu mengarah ke kebun di belakang rumah ada rambutan, kelapa, jambu Semarang, belimbing, pisang kepok dan alpukat itu. Letaknya hampir mepet ke sumur, bertetangga dengan kelapa kuning yang tinggi. Tak jauh-jauh amat dari dapur. Di waktu-waktu tertentu, tanpa permisi tiba-tiba ulat bulu sudah ikut nongkrong bersama kami para perempuan penghuni dapur. Hiii..... aku akan segera lari menjauh dan mengucap permisi untuk tidak lagi-lagi menginjak dapur sebab aku benci sekaligus takut kepada ulat-ulat itu.

Kenangan itu bermain-main dengan sangat manisnya, di antara regukan kopi Liong Bulan yang kubawa hampir setahun yang lalu dari kampungku. Aku seperti meliha sosok ibuku, perempuan suci dalam bilanganku yang langka. Pemimpin dapur kami yang tahan bantingan mengabdikan diri ke tangan seorang pegawai negeri murni semacam ayahku. Ibu memanggilku untuk segera kembali ke dapur membantu menyiangi sayuran atau mencuci perabotan dapur. "Anak manja!" gerutunya, "ulat aja kok takut," lalu suaranya yang lembut akan menggema kemana-mana menyuruh setiap orang yang lalu di dekat dapur untuk memanggilku kembali. Aku, jangan ditanya. Sudah pasti akan lari bablas ke depan. Menjauh meninggalkan musuh-musuhku.

-ad-

Biasanya aku akan menenggelamkan diri di dalam bacaan apa saja di kamarku. Memang aku tidak rajin belajar. Tapi aku gila membaca. Hampir semua bahan bacaan masuk ke otakku. Terlebih-lebih karya sastra dan budaya. Jika tidak malu kepada waktu, ingin rasanya kuhabiskan semua masa di balik bacaan-bacaan itu, atau kusetorkan semua uang jajanku ke toko buku Filia Strores atau Nusa Indah milik orang tua teman-temanku. Karenanya konon tak heran, kacamataku semakin tebal saja. menciptakan sinar mata tersendiri pada wajahku.

Pagi ini entah bagaimana tampak mukaku. Yang jelas, mataku terasa berat seberat beban di tempurung kepalaku. Buru-buru kuseduh cangkir kopi kedua sehingga menimbuklkan protes dari bu Mimin, ratu dapurku sekarang. "Ibu, lha kok ada orang minta tambah kopi?" serunya sambil mengaduk-aduk teh untuk tetamu kami yang baru bangun dan sudah siap-siap akan pulang. Aku "berbenturan" dengannya di muka pintu ruang kerja. "Selamat pagi," sapanya hangat. Air muka cerah itu mengingatkanku bahwa di balik predikatnya sebagai pegawai, dia tetaplah juga seorang ibu rumah tangga yang dibebani tanggungjawab mengurus suami dan anaknya. Dan itu berarti, hari ini adalah saatnya harus menyetel ulang posisinya sebagai ibu rumah tangga disertai polesan rindu yang menggebu setelah selama seminggu berpisah demi pekerjaannya.

"Siap pulang, bu Rina?" tanyaku ketika dia mendekat berhadapan denganku di meja kerja suamiku. Pagi-pagi begini aku selalu membaca di sana karena di kamar tidur kami suamiku juga sedang menggunakan komputernya dan bersiap-siap hendak ke kantor. "Ya bu," angguknya. "Malam terakhir kemarin saya sudah rapikan semua bawaan saya, terima kasih atas kesediaan ibu menampung saya," ucapnya lagi menegaskan. Semburat uban di kepalanya mengingatkan aku akan guguran bunga jambu di pojok belakang rumahku. Wajahnya nampak letih, tapi segar dibalut selapis tipis bedak dan lipstick yang memberinya kecerahan. Dia kenalan baru kami. Ketika kami meninggalkan pos ketiga kami di Belgia dulu, beliau belum tiba. Dan di saat kami sudah harus sampai di Singapura, beliau masih juga di Belgia. Begitulah perputaran kerja. Satu disana satu disini, tak memberi kesempatan kami untuk bertemu.

Aku menawarkan secangkir kopi yang segera ditolaknya. Lalu kugusur ke meja makan supaya kami bisa bersama-sama sarapan dengan anakku. Suamiku masih sibuk di kamar. Ada pekerjaan yang belum terselesaikan sebab semalam kami menjamu tetamu hingga hampir tengah malam. Bu Rina mengobrol dengan anakku, sementara aku menyimak. Dia menceritakan putranya yang cuma seorang sebaya anak lelakiku yang kedua. Betapa sulitnya dia dulu mencari sekolahan di Belgia. Betapa kemudian dia berhasil menamatkan sekolah Indonesia di Belanda dan kini tengah bersiap-siap ingin ikut saringan masuk perguruan tinggi negeri. Hidup memang tidak mudah dan butuh perjuangan. Anakku mengiyakan sambil menyuap satu-demi satu sendok nasi ke mulutnya. Kutangkap nada harap pada tetamuku akan sekolah anaknya di masa datang. Lalu kutatap anakku yang mendengarkan dengan serius. Dalam batinku berdoa, semoga anakku menghargai waktu dan bersemangat dalam menjalankan tugasnya belajar karena terbukti bahwa mencari sekolah yang baik dan sesuai itu tidak mudah. Seperti kata Ibu Rina, satu dari sejuta perempuan Indonesia masa kini yang mendarmabaktikan hidupnya tidak hanya di dalam rumah tangganya tetapi juga di masyarakat luas. Seorang srikandi yang jauh bertolak belakang denganku ibu rumah tangga rumahan. Piring itu menjadi licin tandas, menyisakan kuah gulai nangka dan serpihan tulang-belulang ikan dari Samudera Atlantik.

-ad-

Jam dua belas baru aku tiba di rumah kembali, murni sebagai ibu sejati setelah sepagian aku membereskan dapur kantor suamiku dan mengantarkan tetamu kami ke airport. Aku enggan makan. Hanya semangkuk sup kambing yang kupaksakan masuk. Kepalaku masih tetap terasa berat minta ditidurkan kembali. Lalu aku menyegerakan shalatku walau aku tahu kemungkinan besar suamiku masih di Masjid Nurul Latief belum selesai dengan Jum'atan dan silaturahmi dengan masyarakat Macassar Faure, saudara-saudara baru kami. Di atas bantal itu semua menjadi gelap. Sebelum kemudian terang kembali mencitrakan mimpi bahwa kenikmatan hanyalah sebatas angan-angan. Manusia harus tahu diri. Ada saatnya kita menjadi senang, tapi ada pula tuntutan untuk tidak lupa daratan. Bahwa di balik punggung kita, ada manusia-manusia lain yang masih butuh perhatian dan uluran kasih cinta. Setidak-tidaknya mereka, anak-anak kita yang butuh bimbingan kita para empu, sebagai ibunya. Di situlah khayalanu bermain-main kembali menciptakan cerita yang seru antara kemenangan dan gejolak batinku. Masya Allah! Kubuka mataku, aku terjaga dalam temaram senja di kekinian. Aku tersadar, di kamarnya anakku butuh bimbingan belajar. Sementara sebentar lagi suamiku akan masuk ke rumah siap menerima laporan tentang perkembangan dan kemajuan studi anakku. Apa yang akan kulaporkan kepadanya jika seharian ini aku tersiksa oleh sakit di kepalaku dan belum sempat bertanya tentang hal sekolah anakku minggu itu? Buru-buru aku melangkah ke luar kamar, menyapa anakku yang asyik dengan tugas sekolahnya di muka komputer. Mengajaknya untuk menunaikan ashar yang hampir habis sebelum kemudian menuai cerita-cerita dari anakku. Ingin kuingatkan padanya, bahwa dia harus tetap bersemangat belajar demi mendidik anak-nakanya sendiri kelak. Tentu bersama perempuan juga, empu generasi baru yang mungkin akan jauh lebih sibuk daripada tetamuku tadi, Ibu Rina Sumarno. Begitulah dunia, akan terus berkembang dan semakin maju. Siapa yang dapat mencegahnya? Tak satupun ada.

21 komentar:

  1. tehhh... samiii... daku juga sukaaa bangett ngupiii... :D

    BalasHapus
  2. semoga kapalanya ah baikan yach mbak......
    have a nice weekend

    BalasHapus
  3. sakit kepalanya dah baikan bunda???? mudah-mudahan ya ... migren kah????
    suamiku dulu sering migren ... tapi sekarang hampir tidak pernah kambuh ...
    asal istirahat teratur ... makan teratur ...
    jangan banyak pikiran bunda ... salam hangat dari Qatar ...

    BalasHapus
  4. Badan kita ini memang ada batasnya ya bu Julie. Bila ibu diberi ujian sakit, semoga dengan kesabaran dan sholat, Ibu bisa kuat bertahan untuk melanjutkan hidup yang kita tidak pernah tahu.

    BalasHapus
  5. saya gak suka kopi, biasanya kalo minum kopi dada saya seperti sesak.
    lagi-lagi saya dibikin terbuai membaca tulisannya ibu.

    BalasHapus
  6. Mari, mari ke rumahku. Aku lagi ngopi tubruk (yang dateng dari kampungku) sambil makan kaastengels Kartikasari kiriman mbak Tetty Kadi, mau..........?

    BalasHapus
  7. Terima kasih didoain dan atas perhatiannya juga. Selamat senang-senang dengan anak-anak ya dik.

    BalasHapus
  8. Udah lumayan tuh sakit kepalaku. Bukan migren, nggak tau apa, soalnya kepalaku udah 2 kali di scanned di Singapura dulu itu.

    BalasHapus
  9. Iya saya sadar, bahwa sekarang badan saya udha tua, kemampuan terbatas, tapi nggak nauin tuanya, jadi ya beginilah........ (Rasain, rasain!!)

    BalasHapus
  10. Ih, kopi enaknya luar biasa. Belum tau dia!! Sini saya kasih sesendok dulu, besok pasti ketagihan.

    BalasHapus
  11. Walaupun usia lebih muda, belum tentu lebih kuat. Allah memang memberikan sesuatu sesuai dengan porsi masing-masing. Semoga ibu Julie cukup istirahat yah, dan menimati kopi..hmmuah.. enaknya. Aku juga suka ngopi lho ... tapi yang three in one :-)

    BalasHapus
  12. Mbak Rina dinas ke Cape Town ya Bu? Kami sempat ketemu beliau di Brussel.
    Btw, ibu pernah tinggal di Spore juga ya? Dari tahun 1999 sampai 2002 kami di Spore Bu, di Holland Road

    BalasHapus
  13. Ya, sekarang saya mau tiduran dulu ah. Habis itu bangun tidur siang ngopi lagi........

    BalasHapus
  14. Terima kasih atas ucapan dan uluran persahabatannya. Salam kenal kembali.

    BalasHapus
  15. waaaah.. comment ku mana ya hari itu???

    BalasHapus
  16. Nanya apa ya mak, lupa! So....so....so....sorrry!! (Ups....! Aku ngacir duluan!)

    BalasHapus
  17. enggak kayaknya hari itu aku yakin ada masukin comment di sini... tapi kok sekarang gak ada tuh comment waks!!! tapi aku juga lupa sih ada click submit ato enggak ye...

    BalasHapus
  18. hehehe, masa lupa sich mbak, dan untuk bunda keep healty ya..

    BalasHapus
  19. Ass. wr wb. salam kenal bu yulie..., saya sekarang tinggal di Brussel bersama ninda dan leli baru kurang lebih 5 bulan.., semoga lekas sembuh ya... bu. Kapan main kembali ke Brussel?

    BalasHapus
  20. Walekum salam bu. Terima kasih atas perkenalannya. Senang juga saya berkenalan dengan teman baru dari Bxl. Insya Allah lain kali kami kembali mengunjungi rumah lama. Jauhnya itu bo.....!!

    BalasHapus

Pita Pink