Powered By Blogger

Kamis, 23 Agustus 2012

"RANGKAIAN MELATI DI HARI NAN FITRI"

Melati, puspa bangsa yang selalu saya kenang sebagai hiasan di sanggul ibunda. Dulu sekali, selalu saya merangkainya sehabis memetik di halaman, untuk saya sangkutkan di rambut lebat yang mengilap hitam milik perempuan sejati yang telah melahirkan saya. Harum rambut itu campuran minyak kelapa dengan irisan pandan wangi, mawar, melati serta cempaka tak ada bandingannya. Begitu khas menciptakan nuansa magis yang menggeret rasa kagum saya pada keistimewaan halaman rumah kami. Ibu meramunya sendiri dari hasil bertanam sehari-hari.

Bertahun-tahun kemudian, setiap malam takbiran tiba, melati akan jadi salah satu keharusan yang saya hadirkan di rumah tangga saya atas permintaan mantan suami saya. Dia akan mencampurkan dengan berbagai bunga lainnya yang disebut orang sebagai kembang setaman sebagai pelengkap sesaji yang biasa dipersiapkannya menurut aturan cara kepercayaan orang Jawa, nenek moyang kami. Tak tahu apa yang kemudian dilakukannya dengan sesaji itu, saya tak pernah ikut-ikutan karena memang tak sesuai dengan keyakinan yang saya miliki. Yang jelas, saya lah yang berada di belakangnya untuk mempersiapkan keinginannya itu.

***

Tahun ini gema takbir berkumandang lagi. Tapi sudah tiga hari raya tak pernah saya menyiapkan kembang setaman itu karena ayah anak-anak saya sudah memilih hidup baru, meninggalkan kami. Namun Rangkaian Melati tetap hidup di dalam jiwa saya, karena saya mendengarkan alunan nada keroncong yang digubah Raden Maladi itu di dalam kamar pribadi saya. Selalu lagu ini menyentuh jiwa saya, membuat saya terbuai dalam tekad untuk tetap menyimpan rangkaian bunga wangi itu selamanya sebagai tanda kesetiaan saya kepada apa yang dinamakan cinta kasih yang hidup. Tak peduli apa pun kendala yang menghadangnya kemudian, ketika kereta perjalanan keluarga saya melaju di tengah belantara kehidupan, saya akan tetap menyimpan rangkaian melati saya dengan setia.

Saya membiarkan bebungaan bermekaran di tangkainya, di halaman rumah yang pernah jadi kebanggaan ayah anak-anak saya dulu. Tak sekuntum pun saya bawa ke dalam rumah, membuat wangi srigading bercampur dengan kemuning masuk ke dalam digiring angin sepoi-sepoi yang muncul pagi hari.  Maka diiringkan harum semerbak itu, melangkahlah kami menuju jalan raya yang dijadikan tempat sembahyang hari raya di wilayah kami. Saya, bersama kedua lelaki belia yang kini menjadi tambatan hati dan sandaran hidup saya.

Pagi itu tak juga sama dengan pagi-pagi Idul Fitri ketika keluarga kami masih utuh. Kami tiba di tempat shalat kesiangan, karena anak-anak saya selalu kelihatan malas bangkit dari pembaringan mereka. Saya menduga, mereka kehilangan sosok pemimpin yang biasa mengajak kami bersama-sama menghadiri jamaah shalat Idul Fitri. Tapi toch saya masih bisa menyimak dan  menangkap makna khotbah yang disampaikan sebagai pesan kebaikan. Bahwasannya di hadapan Allah semua manusia adalah sama. Karenanya semangat tolong-menolong, saling mengasihi dan saling peduli hendaklah diutamakan, sebab tak ada bedanya satu manusia dengan manusia lainnya, termasuk orang-orang suku Rohingya dari Myanmar. Ajaran mulia yang dilatihkan kepada setiap ummat di masa Ramadhan harus menjadi spirit yang hidup sepanjang zaman, melewati batas-batas waktu yang ada. Begitu pun dengan kebiasaan memperbagus ibadah yang telah dijalankan semasa puasa berlangsung, tak boleh kemudian diputus begitu saja atas nama bulan Syawal yang telah mengakhiri Ramadhan. Manusia hendaklah meneruskan kebiasaan baik itu atas kesadaran diri untuk menjadi ummat yang beriman. Saya tercenung mencermatinya. Sebab saya teringat akan diri sendiri, yang kerap lalai di luar bulan suci. Siraman rohani di bawah siraman matahari pagi yang hangat itu membuat saya merasa belum cukup baik sebagai ummat Islam. Padahal agama Islam itu indah, seindah kehidupan saya yang tak pernah lupa dihiasi dengan barokah dan rahmat Illahi bagaimana pun wujudnya.

***

Selepas menyediakan hidangan sarapan untuk kami sekeluarga, kami saling bermaafan. Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih saya yang banyak kepada kedua anak saya yang merupakan rahmat Allah dalam kehidupan saya. Bagaimana tidak, mereka selalu ada ketika saya menghadapi kesulitan hidup. 

Semasa saya terpuruk, mereka berdiri menopang saya, lalu membantu saya untuk menyukuri kesulitan itu sebab di baliknya saya menemukan anugrah yang luar biasa berupa kehidupan yang damai. Kini ketika Allah kembali menguji saya dengan penyakit yang tak bisa dikatakan ringan, mereka jugalah yang berada di sisi saya menyuntikkan semangat hidup serta merawat tanpa pamrih. Sebagai manusia, saya tak luput dari dosa salah dan khilaf karena sering tak bisa menghargai usaha dan upaya mereka. Dan di hari yang fitri ini saya tegaskan niat saya ingin menjadi lebih baik supaya anak-anak tak terpaksa merawat dan mendampingi saya. Pun terlantun doa pengharapan supaya mereka berolah banyak barokah karena keikhlasan mereka itu.

***

Ini adalah lebaran paling kelam di dalam kisah keluarga kami sebab tak seorang pun keluarga inti kami yang bisa pulang mudik. Anak-anak almarhumah kakak kedua saya di Bandung sakit, bahkan seorang di antaranya sedang terus berjuang menyelesaikan perlawanannya terhadap penyakit kanker seperti yang menyerang saya. Dua tahun lebih sudah dia mengidap kanker yang berawal di payudara hingga akhirnya merambat ke tulangnya. Kini setelah kemoterapi dan radioterapi panjangnya selesai, tulangnya menjadi begitu rapuh. Sebuah peristiwa sepele meretakkan tulang punggungnya, menjadikannya separuh lumpuh tanpa daya. Sedangkan adik-adiknya menggalang solidaritas untuk bersama-sama merayakan hari raya di rumahnya di Bandung sana atas nama kasih sayang sepenanggungan walau tentu saja tidak senasib dengannya.

Kakak saya ketiga merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar almarhum suaminya, setelah dijemput anak-anaknya di Panti Wredha. Mereka berniat langsung berziarah ke makam sang ayah yang terletak tak jauh dari rumah besar keluarga mereka di Indramayu.

Sedangkan kakak keempat saya juga tak bisa mudik walau sekedar menziarahi makam suaminya. Sebab dia sendiri terkendala penyakit parkinson yang membuat kemampuan fisiknya amat mundur. Dalam pada itu anaknya berlebaran di tempat mertuanya karena akan memperkenalkan bayinya yang baru lahir bulan lalu. Maka jadilah lebaran kami sepi pemudik.

Namun tak dinyana, sedang saya menyantap sarapan pagi tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Seseorang yang tak terduga menyatakan diri ingin bersilaturahmi ke rumah saya karena sedang berada di tempat keluarga istrinya tak jauh dari rumah saya. Kiranya kedatangannya akan jadi satu pengobat kesepian bagi keluarga saya. Maka saya pun menantikan kedatangannya sepenuh hati.



Anak maya saya yang satu ini ternyata datang seorang diri. Jadi saya menggunakan telepon untuk bermaafan dengan istrinya, Yanti yang dari penampakannya di koleksi foto Tiar suaminya, secantik cahaya gemilang. Yang membuat saya tercengang adalah, Tiar menggunakan kesempatan Idul Fitri ini untuk mengamati serta menggambil gambar beberapa sudut ruang tamu kami. Entah apa maksudnya, yang jelas saya melihat sekilas bahwasannya beberapa bagian tertentu dari benda milik saya jadi punya kesan yang menarik setelah dijepret dengan kamera milik ananda Tiar Rahman.

Bang Tiar, begitu saya membiasakan diri memanggilnya cukup betah berlama-lama mengobrol dengan saya, sehingga ketika sepupu ibu saya datang dengan keluarganya dia sempat saya perkenalkan. Tante saya terheran-heran mendapati saya sedang duduk mengobrol dengan seorang lelaki. Meski sudah dijelaskan bahwa dia adalah teman yang saya kenal dari jaringan sosial di internet, tetapi senyum nakal di bibir tante dan para sepupu saya membuat label "brondong" melekat padanya :-D Ah, tak mengapa lah toch saya tidak pernah punya hubungan intens dengannya. 

Ketika tante saya berpamitan, bang Tiar masih saja asyik mengamat-amati segenap penjuru ruang tamu saya. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk minta tolong membuat dokumentasi keluarga. Di teras rumah kami, keluarga saya dan keluarga besar Wijono berfoto bersama.

***

Begitu menjelang waktu Ashar, bang Tiar pun minta diri juga. Sebegitu selesai mengantar hingga ke jalanan, saya bersiap-siap shalat lalu mengarahkan kaki menziarahi makam orang tua dan mertua saya di TPU Blender. Ini adalah juga kesempatan ziarah yang baru sekali ini kami ambil, sebab biasanya kami datang di makam pagi. Tapi sudah barang tentu ziarah kami tidak pernah bisa khusyu mengingat banyaknya peziarah serta para penduduk di sekitar makam yang biasa memanfaatkan waktu lebaran sebagai lahan mencari rizki baik dengan berjualan bunga taburan maupun membersihkan nisan. 

Dalam perjalanan ke makam, ingatan saya kembali ke tahun lalu dan tahun sebelumnya ketika mantan pasangan saya melarang saya menziarahi makam orang tuanya dengan alasan yang dibuat-buat. Dan dalam pada itu, dia menghindari pertemuan dengan saya di sana sehingga selalu berziarah di waktu-waktu yang tak terduga.

Angkutan Kota yang kami bertiga tumpangi benar-benar sepi, menandakan kota sedang ditinggalkan penghuninya yang agaknya kebanyakan justru masyarakat pendatang di Bogor. Seorang ibu nampak akan berziarah juga, dan katanya sama dengan alasan saya, dia ingin mencoba mendapatkan kekhusyukan karena berharap pemakaman sudah sepi. Dan itu betul, sebab perempuan itu ternyata turun di muka pemakaman tanah wakaf tak seberapa jauh dari kampung saya. Begitu juga dengan pemakaman keluarga saya, tinggal beberapa penjual bunga tersisa, melayani sedikit keluarga yang berziarah. Makam sudah sepi, meski tentu saja tak sunyi dikarenakan dari kejauhan kedengaran anak gadis kecil dengan lidahnya yang masih belum jelas melantunkan shalawat yang nadanya naik-turun tak beraturan. Tetap tegap langkah saya mengikuti anak-anak menyusuri makam batu yang berderet padat di sana.

Lalu di sana, pada dua buah pusara batu yang terawat baik kami berhenti. Seorang perempuan paruh baya mencoba menyapa kami menawari jasa membersihkan pusara. Saya menengok ke segala penjuru untuk memastikan bahwa perawat makam yang sehari-hari kami percaya untuk memelihara makam keluarga kami tak ada di situ. Anak bungsu saya sibuk memunguti beberapa guguran frangipani, si bunga kamboja yang putih wangi kesukaan mertua saya. Konon kisahnya, ibu mertua saya memang tak mengizinkan kami menaburi makam dengan bunga taburan, sebab bunga-bunga itu hanya akan menampakkan kesan kotor saja di pusara yang baru saja dibersihkan. Jadi sebagai gantinya sejak dulu Mama selalu memunguti kamboja yang dulu sekali banyak di sana menaungi tanah makam yang kini jadi gersang.

Ziarah kubur selalu berlangsung lama. Dari satu makam ke makam lainnya yang umumnya adalah makam kerabat mantan suami saya. Tapi saya tak menyesal melakukannya, sebab, saya cukup tahu bahwa suatu saat nanti saya pun akan menjadi seperti itu : Berbaring dengan tenang di alam keabadian. Tapi semoga, insya Allah saya tak membawa kegelapan. Sebab cahaya agama saya yakini akan menaungi saya setelah saya sempatkan untuk memahami bacaan-bacaan yang dikandung kitab suci itu.

***

Matahari yang mulai turun ke arah barat menggusur kaki kami meninggalkan pemakaman menuju ke rumah kerabat terdekat mantan suami saya. Sambil berjalan menuju ke pemberhentian angkot saya mengingat-ingat kenangan lama saya. Dulu titian bambu menjadi penanda jalan masuk ke areal pemakaman. Tapi kini telah berganti jembatan besi. Begitulah dunia, tak ada sesuatu yang akan abadi. Termasuk kita yang sesungguhnya juga sedang dalam proses menunggu terminal kehidupan kita yang selanjutnya. Akan kah kereta kita segera merapat ke sana? Tak ada yang bisa menjawabnya selain Dia, maka seharusnyalah kita senantiasa mengingatNya dan terus bertasbih menyebut namaNya. Semoga pergantian hidup kita kelak akan berlangsung nyaman. Wallahu alam bisshawab.

Syawal 1433 Hijriyah di Kota Kenari

Sabtu, 11 Agustus 2012

SURATAN TAKDIR

Saya terlahir lebih dari setengah abad yang lalu dari seorang perempuan sederhana. Meski sederhana, ibu saya memberi saya banyak pelajaran hidup dengan caranya sendiri. 

Saya diajarinya mencintai bacaan. Karena itu sejak kelas satu Sekolah Dasar saya sudah mulai mengenal surat kabar juga majalah yang banyak dilanggani oleh ayah saya. Dari situ wawasan saya berkembang luas, sehingga meski saya tak berkesempatan menamatkan pendidikan tinggi saya tapi saya tetap bisa diajak bicara oleh orang lain tanpa kebingungan. Saya pun tak juga malu mengatakan bahwa saya bukan sarjana serta tak pernah menghasilkan satu karya ilmiah pun, meski bangku kuliah saya ikuti hingga akhirnya, yaitu tahun kelima di masa itu.

Saya kemudian memilih dinikahi sahabat kecil saya yang bekerja melanglang buana sebagai wakil dari pemerintah kita karena dengan cara itu saya bisa memuaskan keinginan saya menginjakkan kaki di berbagai kota besar dunia yang kerap saya baca namanya di berbagai bahan bacaan saya. Namun meski tak mengikuti jalan karier beliau hingga puncaknya, toch saya sempat juga bersentuhan dengan banyak kalangan yang bagi sebagian besar orang tak mudah untuk mendekatinya. Saya menganggap hal ini sebagai satu suratan takdir yang baik.

***

Dalam perjalanan hidup saya, seringkali saya bermasalah dalam kesehatan saya. Menjadi pasien dokter adalah hal yang rutin saya alami sejak kecil hingga kini. Saya teringat di masa SMA ada seorang teman saya yang iri karena saya seringkali diizinkan untuk tidak mengikuti pelajaran praktek olah raga, sehingga dia kemudian menyerahkan surat keterangan sakit yang dimintanya kepada seorang dokter umum kepada guru kami. Entah apa alasannya, yang jelas surat itu ternyata hanya berlaku sekali itu saja sehingga dia tetap mengiri kepada saya. 

Di masa tua, penyakit saya ini sungguh merepotkan. Seringkali saya harus beristirahat total berbulan-bulan lamanya untuk memulihkan keadaan saya. Dan ini juga menjadikan orang bertanya-tanya mengingat katanya banyak orang yang juga menderita sakit yang sama dengan saya, tetapi penyembuhannya cepat. Akibatnya banyak orang menganggap saya manja dan minta diistimewakan. Ah, sudahlah. Saya tak akan ambil pusing, toch masa-masa itu sudah lama berlalu. Kini saya bahkan tak lagi jadi bagian dari komunitas mana pun karena saya murni menjadi orang rumahan yang tak lagi diupah oleh siapa pun. 

Di balik penyakit yang merepotkan ini, secara fisik penampilan saya tak nampak sebagai orang sakit. Terus terang saja, saya memang menghindari kelihatan lunglai, kuyu tak berdaya. Jadi tak banyak orang yang mengira bahwa kini saya sedang merayu Allah untuk memanjangkan umur saya supaya masih bisa menyaksikan anak-anak saya mengepakkan sayap mereka ke luar dari sarang kami yang nyaman. Caranya, saya senantiasa tekun menjalani pengobatan saya dan anjuran yang harus saya patuhi seraya mematuhi larangan yang diterapkan kepada saya sedapat-dapatnya. Insya Allah saya berharap masih boleh memakai "nyawa sambungan" saya kembali yang dulu nyaris hilang ketika organ reproduksi dan usus saya bermasalah.

***

Di luar sana, banyak teman dan kerabat saya yang ternyata punya nasib lebih menyedihkan dibandingkan saya. Seorang teman lama, harus kehilangan suaminya di awal Ramadhan tahun ini ketika dirinya sendiri tengah terbaring di ICU karena kanker yang menyerang paru-parunya berkolaborasi dengan tingginya kadar gula darah di dalam tubuhnya. Padahal kepergian mendadak suami teman saya itu juga cukup menyedihkan dikarenakan serangan jantung yang tiba-tiba saja terjadi. Namun kini, teman saya ternyata mampu melawan penyakitnya dan sudah berada kembali di rumahnya meski tentu saja masih dalam keadaan lemah.

Duka yang menerpa saya tak cukup hanya itu. Anak saya menyampaikan cerita yang menguras emosi dan air mata dari dalam kampus kami. Minggu ini, sedang berlangsung prosesi wisuda para lulusan baru di Universitas Padjadjaran. Sayang suasana yang seharusnya dihiasi kebahagiaan itu tersaput mendung akibat meninggalnya salah seorang wisudawati tepat di hari dan jam wisuda fakultasnya akibat pendarahan otak yang terjadi tiba-tiba.

Ginda Firdaus, demikian namanya, mahasiswi asal Jambi yang diceritakan anak saya, lulus dalam usia 21 tahun dari Jurusan Teknik Informatika FMIPA UNPAD. Hanya sehari sebelum diwisuda, gadis cerdas itu terjatuh pingsan di kampusnya dengan keluhan sakit kepala. Kedua orang tuanya yang sudah tiba di Sumedang dan teman-temannya segera melarikannya ke RS Santo Borromeus di belakang Kampus Utama kami. Di situ diketemukan telah terjadi pendarahan otak masif padanya sehingga dia koma. Selanjutnya dalam keadaan koma, keesokan harinya kawan-kawannya berhasil memohon kebijaksanaan Rektor dan Dekan FMIPA untuk mewisuda almarhumah di pembaringannya di ICU. Dengan mengenakan toga dan atribut lengkap lainnya, almarhumah mengikuti prosesi wisuda dikelilingi teman-teman serta keluarganya yang terdiri dari ayah dan ibunya. Lalu sejenak kemudian dia meninggalkan dunia ini menuju alam keabadian.

Saya menganggap ini semua adalah suratan takdir yang tak bisa dielakkan. Tapi percayalah, jika kita termasuk orang yang beriman, maka Allah akan mengganjar kita dengan sejuta kebaikan pada akhirnya.

Ya, soal kematian suami teman saya, menurut saya adalah merupakan hal yang tepat karena teman saya sendiri kini sudah tak berdaya untuk menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Sedangkan soal kematian Ginda, si mahasiswi cemerlang, ini adalah cara Allah untuk mencarikan tempat yang terbaik di surga sebelum dia terkontaminasi oleh kekotoran polah manusia di dunia yang kini semakin menjadi-jadi.

Ya, sekali lagi itulah takdir. Kita manusia hanya diminta untuk mengikuti alur kehidupan ini sebagaimana yang dikehendaki Allah semata. Semoga saya tidak salah duga.

Salam hangat dari Kota Kenari.

Julie Utami

Jumat, 10 Agustus 2012

RUMAHKU TEMPATKU BERBAGI RASA




Tiada hidup yang abadi. Itu adalah fenomena alam bagi siapa pun yang mempercayainya. Tiada kehidupan yang kekal. Itu juga kenyataan yang tak terbantahkan. Setelah setengah abad lebih saya lalui bilangan usia saya serta puluhan ribu mill saya jalani permukaan bumi ini, sampailah saya di tempat yang aman damai ini. Di sini, di lembaran putih ini, saya menempatkan diri saya setelah saya terpaksa angkat kaki dari rumah maya lama saya di suatu tempat yang juga asri tapi penuh keharmonisan.

Mulai hari ini, insya Allah saya akan menetap di sini dan belajar mencintai rumah maya baru saya supaya saya senantiasa dapat terus berbagi dengan handai taulan, sanak saudara dan kerabat yang banyak menghampiri saya di rumah maya saya yang lama. Karena untuk saya, menulis adalah cara saya untuk meredam ketegangan yang timbul di dalam kehidupan nyata seraya belajar dan menggali banyak hal yang positif.

Mulai hari ini akan saya tinggalkan semua kisah perjalanan hidup saya di "kotak ajaib" yang tak sesiapa pun bisa menyentuhnya. Semoga kelak keluarga saya masih bisa menemukan diri saya ketika tiba saatnya saya pergi menghadap ke haribaanNya. Dan, rumah ini adalah pelengkap semua perjalanan yang sudah berlalu. Saya berharap masih akan sangat banyak cerita yang bisa direkam di sini. 

Tabik untuk hari ini! Salam hangat dari Kota Kenari.

Julie Utami

Sabtu, 02 Juni 2012

"TIADA CINTA YANG MURNI, TAK AKAN PERNAH ADA KASIH YANG ABADI"

PENGANTAR :

Tulisan ini adalah ikhtisar dari ketiga buah novel yang kucoba untuk menuliskannya sejak tiga tahun yang lalu, yang kujuduli "BIRU ITU TAK SEBENING LAUTAN". Namun kemudian karena dianggap masih belum selesai dengan sempurna, banyak teman yang mendorongku untuk terus menulis lanjutannya, sehingga di tahun lalu aku menulis buku kedua dari rangkaian kisah hidup sepasang anak manusia ini, yang kujuduli dengan "SITI". Dan tak bisa selesai di situ, aku pun mengakhirinya dengan novel berjudul "TITIK BALIK" yang pada akhirnya mencapai titik terakhirnya semalam.

***

Bagian pertama dari trilogi percobaan kemampuanku menyusun cerita, berkisah tentang kesepian seorang ibu rumah tangga beranak dua yang masih kecil-kecil. Suaminya adalah seorang diplomat yang ditugaskan di salah satu perwakilan RI yang sibuk di Eropa. Untuk membunuh kesepiannya, wanita bernama Siti Suratmi ini menjalin persahabatan dengan istri kolega suaminya yang berumur sedikit lebih muda, Retnoningdyah yang biasa disapa Nonik. Dan tidak hanya itu, dia juga berkawan baik dengan seorang gadis Indonesia yang membuka perusahaan penyedia jasa informasi dari siapa kantor Taufik Rahman suami Suratmi menjalin kerja sama yang baik. Gadis yang juga diperkenalkan Nonik kepadanya. Nonik memang sudah lebih dulu mengenal Elisabeth Handayani nama gadis itu, dari temannya yang bekerjasama dengan Elis di Jakarta.

Elisabeth tidak hanya cerdas. Dia sarjana ekonomi lulusan luar negeri yang berwawasan luas, namun taat beribadah di gereja Katholik menurut agama yang dianutnya. Karenanya banyak orang suka kepada pribadinya, termasuk Taufik suami Suratmi dan seluruh keluarga mereka.

Pada suatu hari tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Ami, nama kecil Siti Suratmi menghilang begitu saja dari rumah sewaan suaminya di Eropa setelah dia pulang cuti ke Indonesia. Tak seorang pun yang tahu keberadaannya, termasuk tak ada kejelasan kabarnya dari anak-anaknya yang ditinggal di Eropa bersama suaminya.

Nonik kemudian berkawan akrab hanya dengan Elis. Di saat kehilangan sosok teman mereka itulah mereka menjadi semakin dekat satu sama lain. Elis kemudian menceritakan pengamatannya mengenai keluarga Taufik Rahman, terutama soal Taufik yang mempunyai sifat sedikit aneh.

Kata Elis, dia sangat baik dan memperhatikan Elis. Tetapi di satu sisi, dia nampak begitu dingin kepada istrinya sendiri. Hal ini sempat dipertanyakannya kepada pasangan suami istri itu secara sendiri-sendiri. Tetapi Ami alias Suratmi menganggap hubungan dingin begitu tidak menjadi masalah baginya, sepanjang suaminya tetap menyayangi anak-anak mereka dan menafkahinya. Sedangkan Taufik mengatakan dirinya sudah bosan hidup dengan istrinya itu, sehingga dia selalu mencari-cari kejelekan dan kekurangan istrinya sampai akhirnya Elis menyadari bahwa dia pun harus menjauhi keluarga tersebut.

Dengan ditemani dan dibantu doa-doa Ami, Elis mengupayakan diri memohon jodoh di gereja selama beberapa waktu hingga dia benar-benar berjodohan dengan seorang dosen yang sedang mendapat tugas belajar di negeri tempat tinggalnya di Eropa itu. Maka hubungan yang menghangat ini memicu kemarahan dan kecemburuan Taufik. Terlebih-lebih lagi akhirnya Elis jadi menikah dengan dosen itu, kemudian menetap di Indonesia. Sayang dia tak berumur panjang. Dia meninggal ketika melahirkan anaknya.

Sedangkan kisah raibnya Ami kemudian terbongkar ketika istri salah seorang staff baru di kantor Taufik bertemu dengan Nonik di kios pencucian baju di luar rumah. Erna nama pendatang baru itu menyatakan bertemu dengan seseorang secara tidak sengaja yang kemudian menyatakan diri bahwa dia nyonya Suratmi Rahman, istri Taufik Rahman kolega suami Erna. Temuan ini segera dilaporkan kepada Duta Besar yang memimpin kantor mereka yang kemudian memanggil anak buahnya Taufik itu untuk dimintai keterangan sambil mengungkap temuan para istri anak buahnya yang lain, sehingga Taufik pun terpaksa mengakui perbuatannya memenjarakan istrinya sendiri di dalam rumah tujuh bulan lamanya. Lalu Ami pun dibebaskan hingga selesai masa penugasan suaminya di luar negeri. Dalam pada itu, dia dan Nonik bekerjasama merancang pernikahan Elisabeth dengan Baskara sebelum dosen itu menyelesaikan pendidikannya di Eropa, sehingga semakin menyulut kebencian di dada suaminya yang berujung dendam berkepanjangan. Sikapnya semakin menyakitkan. Dia membina banyak hubungan gelap dengan berbagai perempuan dari kalangan terhormat, seperti yang dipergoki keluarga Nonik dengan Triatman ketika mereka singgah di bandara Changi, Singapura dalam perjalanan pulang mutasi ke Jakarta.

Di Jakarta Taufik kembali sekantor dengan Triatman suami Nonik, sehingga persahabatan Nonik dengan Ami terajut kembali. Tapi selama itu hubungan Taufik dengan istrinya kelihatan sudah membaik dan normal lagi, hingga di suatu saat ketika Triatman sudah kembali bertugas di luar negeri, Nonik kedatangan Ami yang pulang hendak menjemput salah satu anaknya yang akan menyusul kepindahan orang tuanya. Seorang lainnya memilih melanjutkan sekolah di Jakarta saja, sehingga sebagai sahabat karib ibunya, Ami menawarkan diri untuk mengawasi anak itu meski tak tinggal bersamanya.

Sewaktu pulang itulah Ami membuka diri, mencurahkan semua kekecewaannya atas sikap suaminya yang senang menduakan cinta kepada Nonik. Lalu dia minta ditemani untuk menemui seorang pemuka agama di luar kota untuk meluluhkan kebiasaan tak terpuji suaminya. Nonik pun menurut serta merahasiakan apa yang diketahuinya ini kepada kawan-kawan mereka.

Sikap Taufik terhadap istrinya semakin menjadi-jadi. Pernikahan mereka semu belaka, sebab Taufik sepertinya tak menganggap keberadaan istrinya lagi. Dia memilih mendiamkan istrinya, serta cenderung tak membawanya ke muka umum untuk banyak kegiatan yang seharusnya disertai pasangannya. Akibatnya, Ami terpukul lalu menjadi sakit. Dia diharuskan menjalani serangkaian operasi pada kandungannya karena kata dokter yang memeriksanya di luar negeri, tidak ada cara lain untuk mengurangi rasa sakit yang diidapnya.

Dalam pada itu, Triatman pun dipindahtugaskan kembali ke luar negeri. Di sana, istri pimpinannya juga dinyatakan sakit, sehingga harus berobat ke negara yang lebih maju. Untuk itu beliau memilih berobat di tempat penugasan Taufik, dan menyuruh Nonik mendampingi beliau berobat di situ. Kesempatan itu mempertemukan dan mempererat kembali hubungan Nonik dengan Ami yang ternyata memang sedang sakit dan nampak amat menderita, namun tetap tegar tabah menjalaninya. Inilah yang dipakai sebagai senjata untuk menguatkan ibu Farid istri boss Triatman oleh Ami dan Nonik.

***

Cerita pertama kuakhiri hingga di situ. Namun, karena sejujurnya aku memang bukan penulis, dan sedang memberanikan diri untuk mencoba mengarang cerita, maka akhir dari buku pertama ini terasa tidak tuntas. Para teman mayaku yang setia mengusulkan untuk membuat buku kedua sebagai lanjutannya. Tetapi tentu saja aku memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk memikirkan apa yang harus kutulis. Sehingga secara tiba-tiba, di suatu malam aku ingin menuliskan kisah para perempuan yang terbuang dan tersisih dalam kehidupan karena cinta. Mereka ini adalah para penghuni Rumah Sakit Jiwa yang kebetulan sekaligus difungsikan sebagai Rumah Sakit Umum oleh pemerintah.

Lahirlah "SITI" novelku yang kedua yang mengisahkan kehidupan keluarga Triatman sepulangnya dari luar negeri lagi, di sebuah daerah di kaki Gunung Salak yang permai di Bogor. Di mana Nonik berkesempatan menolong anak gadis tetangga di sebelah rumahnya yang terguncang jiwanya ketika diperkosa sekelompok pemuda yang menjeratnya naik ke atas angkutan kota sepulang kuliah. Di sela-sela pemakaman Cina yang luas dan tenang, gadis cantik anak pengusaha kaya-raya yang kedua orang tuanya bekerja di luar rumah itu diperkosa para pemuda berandalan ini.

Lalu secara rutin Nonik mendampingi nyonya Liliana Sonny mengantar putrinya menjalani therapy kejiwaan di RS di kota Bogor setiap Minggu. Bahkan karena dipercaya oleh Liliana, akhirnya Lidya gadis itu cuma ditemani oleh Nonik yang kemudian sering berjalan-jalan merintang waktu di dalam RS seraya mengamat-amati suasana di bangsal penyakit jiwa.

Suatu hari dia mendengar suara merdu dari salah satu kamar di sebuah bangsal di RS. Ketika dia menanyai suster yang bertugas di situ, diperolehlah keterangan bahwa suara itu milik seorang pasien yang merasa ditipu lelaki yang menjanjikan akan menjadikannya penyanyi terkenal sekelas "Siti Nurhaliza". Janji itu tak dipenuhi, bahkan dia dirusak kehormatannya. Setelah kejadian itu, dia selalu menyamakan diri dengan Siti Nurhaliza, lalu mengganti namanya dari Betty Nurbaiti menjadi Siti Nurhaliza alias cik Siti. Mendengar kisah itu serta melihat banyak kasus serupa di seputar RS tua ini, timbul niatan Nonik untuk mengajak pengurus Dharma Wanita Persatuan di kantor suaminya berdarma bakti di sini. Dia yang kebetulan suaminya sudah menduduki jabatan cukup penting di kantornya, mengajak Erna yang juga sudah kembali dari luar negeri. Usulan ini ditanggapi pengurus DWP dengan baik, dengan janji tak membawa serta nyonya Taufik Rahman yang baru, yang tentunya bukan Suratmi lagi. Sedangkan Suratmi seperti dulu, tiba-tiba sudah raib bak ditelan bumi.

Secara tak terduga Nonik dan Erna suatu hari tiba-tiba melihat sosok pegawai RS yang sangat mirip dengan salah seorang anak keluarga Taufik. Mereka kemudian berusaha mencari tahu kepada perawat di bangsal penyakit jiwa, yang mengatakan bahwa lelaki yang dimaksudkannya adalah asisten apotheker di RS itu, bernama Rizqi Rahman. Kebetulan suami perawat itu adalah atasan langsung Rizqi,

Demi mendengar nama itu, Nonik langsung meyakini dugaannya. Sedangkan si perawat tadi malah menyatakan bahwa Rizqi adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya, yang kini sedang terbaring di bangsal penyakit dalam dengan keadaan yang mengenaskan. Perempuan separuh baya itu hanya bisa tergeletak pasrah akibat penyakit yang disebabkan stress berkepanjangan.

Selanjutnya Nonik mengajak Erna menemui pemuda yang terkejut-kejut atas tetamu yang sama sekali tak diduganya. Setelah melepas kerinduan dan keharuan, dia mempertemukan keduanya dengan sang bunda yang juga nampak amat terkejut serta haru. Sejak itu hubungan terjalin kembali.

Bakti sosial mereka kemudian melibatkan Ami, dengan cara memberi kesempatan kepada Ami untuk melatih vokal para pasien bangsal penyakit jiwa yang sudah dinyatakan sehat atau tak membahayakan lagi, sebab Ami dulu dikenal sebagai istri staff yang piawai menyanyi dan bermusik. Setelah memaparkan niat mereka kepada direktur RS, akhirnya niat itu dilaksanakan. Direktur RS malah menganggap kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk membangkitkan harga diri dan semangat hidup Ami. Benar adanya, pelan-pelan Ami kembali mampu bangkit dari tempat tidurnya berlama-lama, meski harus mengandalkan kursi roda sebagai penopang tubuhnya. Bahkan Betty pun menunjukkan perbaikan yang memadai setelah "disulap" menjadi "Siti Nurhaliza" palsu, berduet dengan Ami di dalam setiap acara-acara yang digelar di RS. Dia cukup bangga dengan predikat barunya sebagai penyanyi "Duo Siti" rekaan Ami dan teman-teman Dharma Wanita Persatuannya itu. Akhirnya Ami pun bisa keluar dari RS untuk menjalani perawatan jalan. Semula dia kembali ke rumahnya, namun atas saran dan anjuran keluarga Triatman, dia seringkali menginap di rumah mereka di Bogor agar tak jauh dari RS.

***

Menurut beberapa kontakku, cerita rekaanku ini layak untuk dibukukan. Apalagi kalau aku menambahinya dengan satu "sekuel" lagi. Di benak mereka, akan jadi seramai sinetron-sinetron yang setiap hari menyemarakkan layar kaca.

Tapi seperti sudah kukatakan, aku bukanlah siapa-siapa, orang yang memang berlabel penulis profesional. Aku hanya ibu rumah tangga yang gemar menuangkan lamunan, khayalan serta isi hatiku ke dalam blog. Jadi tak mungkin aku bisa membawa naskahku ke penerbit hingga menjadi buku.

Kuharapkan alasan ini menghentikan keinginan mereka. Namun aku keliru. Mereka terus saja menyemangatiku. Sehingga aku nekad menyelesaikan naskah ini dengan buku ketiga yang kujuduli "TITIK BALIK". Inilah akhir dari trilogi "jadi-jadianku" yang kuanggap sebagai percobaan mengasah bakatku, sebab toch aku memang tak berbakat jadi penulis, bukan?!

Di "TITIK BALIK" ini Taufik kuminta untuk membuka jati dirinya. Sebab banyak pembaca novelku baik yang bicara secara terbuka di kolom reply mau pun yang mengirimkan "Personal Message" menyatakan kegeraman mereka kepada lelaki yang satu itu. Ah, lelaki yang hanya ada di dalam khayalanku? Begitu dahsyatnya kuukirkan cerita, sehingga dia benar-benar seperti menjelma di dalam kehidupan ini.

Dia ternyata memang lelaki yang punya segudang pesona. Sikapnya hangat terutama kepada lawan jenisnya. Meski tidak terlalu tampan, tapi dia senantiasa menjaga kerapihan dirinya serta tahu mematut-matut sehingga menimbulkan pesona di sana-sini. Belum lagi dia selalu bersedia menjadi teman mengobrol yang mengasyikkan bagi para kenalan wanitanya. Bermodalkan sikapnya itu siapa pun mudah didekatinya. Apalagi dia merupakan salah seorang pejabat negara dengan kedudukan yang cukup tinggi.

Taufik kemudian menikahi Martina seorang pengusaha yang bertukar haluan menjadi politisi. Lelaki itu mengusir Suratmi serta anak-anak mereka secara paksa dari tempat tugasnya di luar negeri. Pengusiran itu tentu saja tanpa seizin atasannya, sebagaimana kewajiban seorang pejabat negara. Bahkan kemudian, dia mendatangkan perempuan lain dengan diam-diam, yakni Martina itu ke tempat tugasnya. Selanjutnya mereka berdua merancang perceraian sepihak.

Rumah yang menjadi tempat berlindung satu-satunya bagi keluarganya, dihadiahkan Taufik sebagai peluluh hati anak-anak mereka yang tahu betul semua perbuatan keji ayah mereka terhadap sang ibu. Maksudnya agar anak-anak yang menjelang dewasa itu menyetujui perceraiannya dengan ibu mereka. Malangnya Pengadilan Agama pun menutup mata serta menyetujui perceraian itu dengan alasan untuk membebaskan sang istri dari kekejaman suaminya sendiri. Sehingga sebagai akibatnya, Suratmi pun menderita batin lalu sakit berkepanjangan tanpa dipedulikannya lagi. Mereka toch sudah mengantungi akta perceraian dari negara yang dibuat tanpa seizin pimpinan kantor mereka.

Martina yang kaya raya pun setali tiga uang dengan Taufik. Ia memilih membawa pergi semua anak-anaknya setelah suaminya sendiri dipenjarakan karena terlibat kasus penggelapan dana negara untuk dipakai Martina menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dari tempat tinggal barunya yang dibeli memakai uang warisan dari orang tuanya sendiri yang kaya raya, Martina kemudian malah menggugat cerai suaminya di penjara.

Sesungguhnya, Taufik bukan pejabat kaya-raya. Selama menikah dengan Suratmi dia bekerja sangat jujur terdorong oleh peringatan yang selalu dilontarkan istrinya itu dan anak-anak mereka. Tetapi, Martina tak pernah mengetahui itu. Dalam benaknya, sebagaimana biasaya pejabat negara, Taufik tentulah orang berpunya.

Martina yang haus harta dan pangkat tinggi, memilih menghidupi Taufik dengan uang hasil perusahaannya ketika akhirnya mengetahui keadaan Taufik yang sesungguhnya. Di dalam benaknya, ketika Taufik sudah berhasil direbutnya, maka nanti Taufik pun dengan mudah akan dapat dipengaruhinya untuk mencari jalan mengeruk harta sebanyak-banyaknya sebagaimana Zain, suaminya yang pertama, seorang Kepala Daerah yang kini meringkuk di penjara.

Sebagai seseorang dari strata sosial yang tinggi, Martina memang cukup berpendidikan. Tetapi sayang, dia kurang menguasai etika sopan santun, terutama sopan santun internasional yang seharusnya dikuasai istri diplomat. Dalam suatu jamuan makan malam resmi yang diadakan Taufik sebagai Kepala Perwakilan, Martina melanggar etika. Peristiwa ini kemudian diketahui atasan tertinggi Taufik di Jakarta, yang tentu saja sangat terkejut. Apalagi melihat yang menjadi istri Taufik bukan lagi Suratmi. Dan ternyata dari anak buah Taufik, diperoleh keterangan bahwa Taufik telah mengusir anak dan istrinya pulang ke Indonesia.

Pelanggaran peraturan kepegawaian yang fatal ini membuat Taufik dimutasi ke Jakarta sebelum selesai tugasnya. Lalu dia dibiarkan tanpa pekerjaan beberapa waktu lamanya.

Dalam kegalauannya, dia berpaling kepada keluarga sepupunya yang juga tinggal di Jakarta. Dia minta tolong dibantu mencari anak-anak dan mantan istrinya untuk minta maaf seraya mengakui kesalahannya. Tetapi usaha itu gagal. Rumah yang dulu dihadiahkan kepada mereka sudah kosong. Penghuninya tak lagi diketahui keberadaannya. Demikian juga di kampung halaman mereka, tak ada yang tahu. Mereka bahkan berhadapan dengan sebuah makam tanpa nama yang sangat misterius, berada di dekat makam ayah-ibu Suratmi.

Tanpa sepengetahuannya, Martina kemudian mencari paranormal yang diminta untuk mempengaruhi pikiran Taufik agar kembali menyayangi dan mencintai dirinya. Bahkan dia meminta jabatan untuk Taufik di kantornya dengan segala cara. Sebagai politisi berpengalaman, melakukan itu merupakan hal yang mudah. Sehingga akhirnya Taufik pun bisa kembali memperoleh jabatan, bahkan dalam waktu singkat dinaikkan menjadi Kepala Rumah Tangga di Istana Negara.

Pekerjaan barunya itu, mempertemukan Taufik dengan seorang jurnalis muda yang enerjetik dan terkesan lain daripada yang lain. Dia selalu mengenakan topi Vietnam seperti yang dulu pernah dimilikinya ketika masih bersama Suratmi dan anak-anaknya. Karena penasaran, dia pun menanyai jurnalis yang ternyata bekerja untuk media massa Amerika Serikat tentang topi di kepalanya. Dijawabnya, topi itu milik saudara sepupunya yang memperoleh warisan dari ayahnya.

Pada suatu hari Ibu Negara menugaskan Martina untuk memimpin bakti sosial ke Rumah Sakit Jiwa di Bogor. Untuk itu tentu saja Taufik harus bekerja memfasilitasinya, sesuai dengan jabatannya di Istana. Tak dinyana, di sana dia bertemu dengan seorang pasien yang pandai menyanyi. Lagu-lagunya mengingatkan Taufik akan suara Suratmi karena mempunyai banyak kemiripan. Taufik menangis haru waktu mendengar pasien itu menyanyi di dalam acara ramah tamah dengan rombongan Istana, yang direkam oleh kamera Rudinando, jurnalis favoritenya tadi. Foto dirinya yang tengah menangis, diserahkan kepadanya, disertai pesan jika Taufik ingin bertemu langsung dengan sang penyanyi, maka Rudi bersedia mengantarnya. Katanya, pasien itu adalah pasangan duet dari tante Rudi yang tengah terbaring sakit keras di RS yang sama.

Tanpa berpikir panjang, Taufik bersedia dengan ditemani pasangan sepupunya. Sesampainya di RS jurnalis itu langsung mempertemukannya dengan tantenya, bukan dengan si penyanyi yang berhasil memancing rasa harunya. Tak dinyana, tante jurnalis itu adalah mantan istrinya sendiri. Di sana, di sisi ranjang pasien yang kelihatan amat menderita itu, berdiri dua lelaki yang tak lain dan tak bukan Rizqi serta Ridho anak-anak yang dirindukan dan selama ini dicari-carinya.

Pertemuan singkat di RS itu mengungkap dengan jelas jati diri Taufik yang sesungguhnya, yaitu anak terbuang dari sepasang mahasiswa yang kemudian bermukim di Amerika Serikat serta menikah resmi hingga memiliki anak-anak lain, di antaranya adalah orang tua Rudi. Keterangan yang amat pahit dan mengejutkan itu, justru diperolehnya berkat upaya mantan istrinya yang menghendaki anak-anak mereka berdua untuk rajin mendoakan ayah mereka agar dibukakan pintu hatinya menuju ke jalan Allah serta diampuni dosa-dosanya. Tapi, untuk itu Suratmi meminta anak-anaknya menyebut nasab ayah mereka secara benar dengan cara membongkar surat rahasia pengangkatan anak Taufik yang ada di tangannya, serta mencari tahu kebenarannya sesuai catatan yang ada di akta pengangkatan anak itu. Dari situlah kemudian semua rahasia hidup dan jati diri Taufik terbongkar.

Sayang Taufik belum sempat mengucapkan apa-apa kepada mantan istrinya, perempuan itu meninggal dunia selepas berjumpa Taufik untuk pertama dan terakhir kalinya sesudah mereka bercerai. Tak ada kata lain selain penyesalan tiada akhir di hati Taufik.

Begitulah adanya cinta dan kasih sayang di antara manusia. Bahwasannya jika cinta disandarkan kepada nafsu, maka cinta itu tak ada yang murni. Sedang kasih sayang yang abadi pun, datangnya hanya dari Allah Yang Maha Esa saja.

Inilah akhir dari percobaan pertamaku mengolah sebuah khayalan menjadi naskah fiksi. Tapi, berhubung aku tidak pandai, maka untuk saat ini karanganku hanya ku khususkan kepada para kontakku saja, dengan ucapan terima kasih serta salut atas kesabaran mereka menunggu moodku yang seringkali menghilang dengan tiba-tiba.

Rabu, 25 Januari 2012

SYAIR NINA BOBO UNTUK PERMATA JIWAKU

Lewat tengah malam waktu pintu rumah kalian buka. Membuatku segera terjaga, tak hanya mata tapi juga jiwaku. Rasa jaga yang kemarin-kemarin ingin kusampaikan kepada kalian.

Kini waktunya, aku menyampaikannya kepada kalian. Dalam serangkum kata sempena syair dalam tembang Nina Bobo yang dulu kunyanyikan di sisi pembaringan kalian di waktu gelap malam. Bintang-bintang yang berkedipan itu kini sedang padam sinarnya, cintaku. Tapi kau berdua tetaplah menyala terang di hatiku. Sebab bagiku permata indah adalah anak-anak shaleh yang penuh ketakwaan dan cinta kepada Illahi. Kalian berdua.

***

Ku sampaikan terima kasih dan penghargaan ku untuk kalian, karena kalian telah berhasil melawan nafsu amarah kalian. Oleh karena itu kaki-kaki kalian sigap melangkah, hati kalian lapang menimbulkan senyum di bibir-bibir kalian yang tak sekali pun tersentuh noda, baik nikotin dari rokok yang merenggut nyawa kakek kalian maupun dusta yang menghancurkan hidup kita bersama.

Aku bangga kepada kalian. Maka ku elus pucuk rambut kalian, lalu kususupkan doa untuk menitipkanmu ke tangan Allah Subhanahu wa ta'ala. Selanjutnya dengan keikhlasanku kubiarkan kau ada di antara mereka. Berbaur dalam kehidupan yang tak pernah kita rancang itu.

"Kasihanilah ayah kalian," begitu ku katakan ketika itu. Meski raut duka menyelimuti wajah-wajah kalian dengan durjana yang telah lama kuminta kalian untuk menghapusnya. "Jangan pernah membiarkan nafsu mu membawa nafas-nafas kalian ke pintu neraka jahanam," begitu sering kupesankan, sebab, "di sana, pada lapisan langit ke-tujuh ada tempat yang akan menampungmu dalam damai dan kesenangan abadi."

Kembali ke dalam bilik tidurku, aku tertegun saja. Termangu belaka menyadari betapa indahnya cucuran kasih Allah yang bernama "pembebasan" itu. Ya anak-anakku, ketahuilah, kita sudah dibebaskanNya. Pembebasan sempurna yang tak menyisakan dosa. Panjatkan puji syukur dan pujaan kita kepada Sang Maha Pembebas sekarang juga, ya sekarang juga!

Maka aku tak lagi sabar menanti kedatangan kalian kembali ke rumah, sebab aku tahu kalian juga ingin menguakkan arti dari segala dosa dan kekhilafan yang telah kuperbuat dahulu. Hm, maka sudut bibirku pun mengembang senyum, laksana sepotong bulan di mega sana yang lama tak kunikmati benar kecantikannya. Ya, aku memang melupakannya sejenak sejak tak ada lagi peristiwa-peristiwa malam yang perlu diterangi sinarnya seperti dahulu itu.

Ku sucikan diriku, lalu kugelar tikar sujudku. Pada kitab hijau tua bertulisan cantik itu ingin ku kabarkan bahwa Dia telah meminangku menjadi salah satu pemujaNya yang setia. Alhamdulillah.

***

Hari merambat ke pagi waktu aku mendapati wajah-wajah letih tapi penuh gairah milik kalian berdua. Kusambut kusut masai rambutmu dengan ciuman lembut pada kening kalian. Dan lagi-lagi aku menyukuri karuniaNya itu. Aku menyukuri keberadaanmu anak-anakku tercinta.

Kalian katakan sekarang bahwa kita seharusnya bersyukur telah "masuk kotak". Sebab kepergian ayah kalian kali ini adalah kepergian terindah, terheboh dan terpanjang sepanjang sejarah. Ayah nampak letih, menua dan banyak melamun. Itu memang nyata pada gambar-gambar yang kau curi-curi untukku. :- Aku bersedih untuknya...........

Gerak sigap ayah yang dulu nyaris tertandingi oleh kiprahku kini tak lagi berbanding. Ayah melaju sendiri, mengurus ini, mengatur itu, menyimpan apa-apa dan juga memberi apa-apa. :- Ayah kalian perlu tangan kanan.........

Pada wajahnya yang menggembung gemuk, daging-daging bertonjolan di sekitar pelupuk matanya. Bening bola mata tua itu juga mulai surut, kata kalian. :- Maka ayah adalah lelaki lelah yang butuh peristirahatan tenteram barang sejenak.......

Lalu ada dua warna di kepala ayah kalian. Rambut yang menandakan ketuaan dengan segera. Selagi kalian bilang, jari jemari kalian pun masih cukup untuk menghitung uban di kepalaku. :- Ketuaan bisa diatur anak-anakku sayang. Kenteteraman jiwa dan pikiran, itulah kunci segalanya..........

Ayah adalah lelaki yang kini berbeda dari yang dulu. Lelaki yang penuh toleransi. Lelaki yang tak mengharuskan siapa menjadi siapa seperti di masa kalian cilik dulu. :- Pengelanaan dan pengembaraan jiwanya telah merubah segalanya sayangku. Ketahuilah itu.........

***

Karenanya kuminta kalian untuk beristirahat sekarang juga anak-anakku. Sebab lelakon kita boleh dikata sudah paripurna, dengan kau sebagai pemain pendukung yang tampil amat memuaskan. Mempesona banyak mata, mata-mata hati dari para dermawan yang mendermakan keikhlasan dan ketulusan hati mereka untuk menyokong keadaan kita.

Rebahkan tubuh-tubuh lesu kalian di sini, pada pembaringan yang dulu ditegakkan ayah kalian, di dekatku jua. Katupkan pelupukmu, kosongkan pikiranmu, tapi jangan lupa arahkan gendang telingamu untuk menangkap gita cinta yang akan kutembangkan sebagaimana biasanya dulu.

Dengar, dengarkan kekasih hatiku, lagu cinta itu, bukti kecintaan Allah kepada kita. Teruslah benamkan diri di dalam alunannya, sebab kini kita telah terbebas, bahkan merdeka merajut mimpi! Sampai esok tiba. Ketika burung pelatuk telah pergi terbang menjauh, digantikan murai yang ceria menyemangati harimu. Maka terjagalah kau! Ajak aku untuk berangkat bersamamu, meniti hari-hari baru kalian yang sungguh berlainan dari cerita usang kita ini. Dan di situlah, Tuhan akan menjamu kita sepanjang masa! Allah Maha Bijaksana!

~Bogor, dua puluh enam Januari dua ribu dua belas~

Sabtu, 30 Juli 2011

SALAM RAMADHAN MULIA

Mencintaimu
Sepenuh senja
Merinduimu
Sepanjang masa

Ramadhan tiba
Muliakan hidup kita
Penjarakan nafsu
dari segala dosa
yang sibuk menyeru
mengganggu kalbu.

"SELAMAT MENYOSONG IBADAH RAMADHAN, TEKADKAN NIAT AGAR MENCAPAI JATI DIRI MANUSIA SHALIH DALAM SEPENUH KETAKWAAN KEPADA YANG KUASA. MAAF LAHIR DAN BATIN"

Bogor, 31 Juli 2011

Jumat, 20 Mei 2011

TIBA DI TITIK BALIK

Hampir tiga tahun setengah aku mulai belajar menuangkan daya khayalanku di laman ini. Tepatnya, satu Januari duaribu delapan aku mulai memberanikan diri menulis di sini. Gaya yang tak bisa kuekspresikan di rumah mayaku yang berupa Electronic Diary serasa mendapat penampung di ruangan ini. Maka sejak itu mulailah aku nekad menulis apa saja yang berasal dari pengalamanku dalam keseharian, kekinian, maupun endapan pengalaman dari pengamatan atas perjalanan hidup yang kutapaki atau kebetulan melintas di depan mataku.

Maka selain tentang diriku dan keluargaku, tentu saja aku menuliskan imajinasi-imajinasi liar yang bermunculan di saat senggangku ke dalam serangkaian cerita pendek maupun cerita bersambung yang kemudian cenderung kunamai novellet karena aku tak pernah tahu seberapa jauh kemampuanku menulis fiksi. Maklum, aku hanya ibu rumah tangga biasa yang tak makan sekolahan menulis seperti kebanyakan penulis sekarang. Entah mengapa aku tidak tertarik bergabung dengan sekolah menulis on line yang menjanjikan menjadikan seseorang sebagai penulis profesional yang ngetop. Aku menganggap menulis bagiku hanyalah menuruti kata hati menggoreskan apa saja yang kebetulan bertandang di benakku ke dalam media menulis baik berupa sobekan-sobekan kertas yang banyak berserakan di sekitar meja kerjaku, maupun komputer kesayanganku.

Apa yang kemudian kudapati antara lain adalah sejumlah cerita pendek yang tidak bisa dikatakan banyak, puisi-puisi yang cuma asal jadi tanpa bentuk, dan alhamdulillah tiga buah novel yang dimulai dari "Biru Itu Tak Sebening Lautan" yang kupostingkan dari pojok benua hitam kira-kira dua setengah tahun yang lalu. Novel yang menceritakan drama rumah tangga dan persahabatan itu berujung pada rasa penasaran para pembaca setiaku yang menunggu kelanjutannya yang sengaja kupotong untuk menguji kemampuanku menulis. Dan aku membiarkannya bahkan menyelinginya dengan sebuah novel lepas yang kujuduli "Kerling Mata Elizabeth Millar" kira-kira sebelas bulan yang lalu.

"Kerling Mata Elizabeth Millar" meninggalkan banyak kenangan dan kesan manis dari para pembacaku yang rata-rata kontak baru semuanya. Mereka bergairah mengikuti hasil lamunanku, sehingga aku terpicu kembali untuk melanjutkan novel pertamaku dulu itu. Akhirnya, "Siti" lahir sebagai bagian kedua cerita bersambung itu tepat di hari kasih sayang, empatbelas Februari tahun ini. Kukisahkan ketulusan hati seorang ibu merawat para pasien rumah sakit jiwa yang kemudian justru membuahkan hadiah teramat manis, yaitu bertemunya kembali dengan sahabat lamanya yang "menghilang dari peredaran" konon setelah diceraikan suaminya. Lalu tekad menjadi mediator penyembuh itu, dipakainya untuk mendekati kembali sang sahabat hingga dia bisa menjadi dirinya yang dulu dan bergaul dengan semua teman-teman lamanya yang bersahabat.

Tak cukup sampai di situ, para pembaca setia baruku membujuk-bujuk agar aku menuliskan kisah lanjutannya. Wah, rasanya aku semakin tak percaya pada kemampuan menulisku yang entah apa sebabnya tak pernah membuatku percaya diri untuk mulai menjual karyaku secara serius. Masih tetap ada keraguan padaku akan mutunya.

Namun, hari ini tiba-tiba aku tersenyum membaca komentar salah satu di antara mereka yang rajin mengomentari dengan bunyi "Ditunggu season selanjutnya." Aduh, rasanya aku tersanjung. Season, sebuah istilah baru yang populer sejak adanya sinetron penguras emosi di televisi itu telah memacuku untuk mengiyakan permintaannya.

Maka ketika aku sedang membersihkan badanku di bawah guyuran air sumur yang segar sore tadi, tiba-tiba terlintas "Titik Balik". Sesuatu yang kuharapkan akan dapat membawa diriku berbalik menjadi seorang yang penuh percaya diri. Aku tersenyum sendiri di balik tirai bak mandiku, sambil menggosok menyabuni seluruh bagian-bagian tubuhku. Aku ingin membersihkan diri melalui "Titik Balik" agar Allah semakin menyayangiku dan berkenan menghadiahiku rizki yang halal dari upayaku apa saja selama ini. Kata orang Jawa, "Gusti Allah iku ora sare........." Insya Allah. Aku akan segera tiba di "Titik Balik".

Pita Pink