Powered By Blogger

Minggu, 17 Maret 2013

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (37)




"Another "C" came into my life. Yesterday was my fist "Chemoterapy"! A Road to happinness and beautiful life ever after!" Begitu yang ada di benak saya siap hendak saya tuangkan dalam bentuk tulisan di buku harian elektronik saya. Pasalnya saya sangat bahagia bisa mencicipi "C" yang kedua, yang juga bisa dikatakan sebagai "K" karena mengandung makna yang sama. Kanker dan kemoterapi.

Waktu menerima instruksi dari RS untuk dikemoterapi pada hari Rabu minggu lalu, sedih sekali saya. Pasalnya anak saya tidak siap untuk mengantar, sedangkan saya sendiri belum sempat diperiksa dokter internist. Padahal hasil pemeriksaan beliau ini yang akan dijadikan acuan layak tidaknya pasien dikemoterapi. Belum lagi ketika kemoterapi diundur dan saya dipersilahkan memeriksakan diri ke internist, kedapatan tekanan darah saya naik sangat tinggi yakni mencapai 170/110. Padahal selamanya selalu berada dalam takaran normal walau orang tua saya adalah penderita darah tinggi yang bersambungan dengan penyakit jantung serta stroke sekalian hingga mengakhiri hidupnya.

Kemudian saya mendapat obat penurun tekanan darah yang harus dimakan sehari sekali. Kepala Perawat yang membutuhkan kepastian siap tidaknya pelaksanaan kemoterapi saya, menyuruh saya untuk memeriksakan diri ke Puskesmas atau bidan keesokan harinya, agar jika normal pelaksanaan kemoterapi saya bisa berlangsung hari Jumat. Tapi saya tak melakukannya mengingat saya tak yakin dalam sehari tekanan darah itu bisa kembali normal. Walau kenaikan tekanan darah itu lebih dikarenakan faktor stress menghadapi kemoterapi pertama, serta diambil di tangan yang sakit pula, tetapi saya tetap ingin makan obat dua kali sebelum diperiksakan lagi. Sehingga akhirnya Jumat sore saya baru ke dokter. Di dokter yang merupakan alumnus dari perguruan tinggi yang sama dengan saya dan anak saya, ketegangan segera mencair. Dokter itu bahkan menganjurkan saya mencoba juga pengobatan holistik sambil meminjamkan sebuah buku tentang hal itu. Katanya dengan pengobatan holistik yang artinya kembali kepada alam, saudaranya tertolong dari kanker yang dideritanya. Akibat pembicaraan ringan yang menyenangkan begitu, alhamdulillah tekanan darah saya turun mencapai 140/100 sehingga saya bisa dikemoterapi keesokan harinya, yakni Sabtu.






Entah apa yang ada di dalam jiwa makhluk lemah seperti saya ini, yang jelas saya memang senantiasa memasrahkan diri ke tangan Allah. Dan sebagai imbalannya, saya kok selalu saja merasa berada di posisi yang sangat menguntungkan.

Malam Sabtu itu, anak tertua saya pulang kemalaman dari kantornya di Jakarta. Sebab dia mengerjakan tugas lembur hingga pukul setengah sepuluh malam. Dan begitu dia sampai di halte busway, tak satupun yang mau berhenti menjemput penumpang. Lama berdiri dan lelah menanti, anak saya memutuskan untuk naik busway ke jurusan lain yang kebetulan melewati stasion kereta ke arah Bogor. Dia bersama seorang temannya yang akan pulang ke Cibinong nekad saja. Sayang kereta terakhir telah berlalu. Namun untungnya teman dari teman anak saya itu menerima ajakan temannya bermobil ke Bogor, sehingga anak saya bisa ikut menumpang pulang. Saya yang gelisah serta mengomel-ngomel bisa menebar senyum kembali begitu dia mengetuk pintu rumah lalu menemui saya yang sedang menunaikan shalat malam saya. Sengaja saya tunaikan sebelum mendekati subuh sebab toch saya sudah sempat tertidur sejenak dan takut tak bisa bangun lagi nantinya. Anak saya minta maaf, saya pun juga, lalu perdamaian kami menghasilkan kesepakatan dia sanggup bangun pukul lima pagi untuk bersiap-siap menemani adiknya mengantar saya dikemoterapi.






Pesan yang disampaikan Muadzin di masjid menyuruh ummatNya menunaikan shalat subuh. Bersamaan dengan itu mata saya terjaga bulat. Segera saya beranjak membersihkan diri sambil menguap membuang kantuk. Hari sudah pagi mendekati setengah lima. Tak ada kokok ayam jantan lagi seperti ketika saya tinggal bersama orang tua saya dulu. Sebab sekarang tak mungkin kita memelihara ayam di rumah tangga seperti di masa itu. Tapi masih ada tanda kehidupan dimulai, yakni lalu lalang kendaraan bermotor di jalanan depan rumah.

Rasanya saya seperti akan pergi ke ujian akhir sekolah saja. Sebab ketika bersembahyang, saya memohon-mohon agar diluluskan dari penderitaan saya, terangkat menuju kesenangan hidup. Saya mintakan dengan mengiba agar kesehatan saya dipulihkan demi anak-anak saya yang rela menderita mendampingi saya menjalani penyembuhan penyakit mengerikan ini. Tapi setelahnya saya sanggup untuk segera mengguyur diri di bawah selang shower yang memancarkan air sangat sejuk peredam ketegangan batin saya.

Tepat pukul tujuh, berarti kesiangan dari waktu yang diperintahkan pihak rumah sakit, saya ditemani kedua anak saya keluar halaman. Sudah saya kira akan kesulitan menemukan angkutan kota yang kosong untuk kami sewa. Tapi ternyata Allah berpihak terus kepada kami. Tiba-tiba sebuah angkutan kota berhenti tepat di muka anak saya. Pengemudinya yang sudah sangat akrab dengan keluarga kami cuma membawa seorang penumpang saja lagi sebelum berputar arah kembali ke pasar. "Mas, mau ke mana?" Sapanya ramah. "Ke RSKB mau antarkan ibu, tapi mau nyewa," jawab anak saya. Lalu tanpa panjang lebar dia mempersilahkan kami naik tak pakai tawar menawar. Dan segera pula kami melaju ke RS setelah penumpang yang seorang itu diturunkan di pangkalan angkot.

Hanya perlu dua belas menit untuk sampai di meja registrasi pasien kemoterapi. Saya jadi pasien pertama. Di situ berkas-berkas saya diteliti, dan anak saya menyelesaikan pengisian berbagai formulir cukup lama. Selanjutnya dia diminta untuk menggandakan dulu berkas-berkas itu ke luar RS, sebab agaknya tak ada pengusaha yang pernah terpikir untuk membuka kedai foto kopi di dalam RS. Sambil menunggu selesainya pendaftaran datanglah dua orang lainnya masing-masing ditemani anak-anaknya. Ternyata benar, fasilitas ruang kemoterapi hanya ada 3 tempat saja. Begitu rupanya kendala lain menjalani kemoterapi selain ketersediaan obat di apotik.

Kedua pasien yang datang terakhir bisa selesai lebih cepat, sebab mereka bukan untuk pertama kalinya. Jadi prosedurnya sudah mereka ketahui sejak semula. Namun rupanya begitu sampai di ruang kemoterapi saya lah yang tiba lebih dulu, sebab kata petugas Customer Service yang melayani kami, saya boleh menunggu di ruang kemoterapi sementara urusan administrasi surat-menyuratnya bisa diselesaikan belakangan setelah Andrie anak tertua saya datang menyerahkan foto kopian. Jadilah saya dilayani paling dulu di ruangan kemoterapi, dan karenanya bisa memilih tempat yang paling nyaman.

Ruang yang kecil-mungil itu tidak menjemukan kok. Ada dua buah yang diisi oleh kursi malas empuk sedangkan satunya lagi diisi tempat tidur. Saya memilih di kubikel pertama dengan kursi malas. Di sudut ruangan itu dipasang sebuah bunga hiasan tiruan dalam jambangan besar yang cukup menyenangkan untuk dipandang. Kemudian ada juga meja makan pasien yang biasa ada di setiap kamar perawatan, ditambah lemari kecil yang juga biasa difungsikan sebagai meja itu serta sebuah lagi rak penyimpanan bahan bacaan. Ketika anak bungsu saya melongok ke dalam lemari, ada sebuah alat pemutar DVD yang agaknya dimaksudkan untuk pasien yang ingin menghibur diri dengan berkaraoke selagi dikemoterapi. Sebab, menurut cerita mereka yang pernah menjalani, kemoterapi akan memakan waktu berjam-jam.






Saya memosisikan diri sedemikian rupa, mencoba-coba kenikmatan ruangan itu, sementara kedua pasien lainnya yang sudah tiba juga di ruangan ikut memilih tempatnya masing-masing. Perawat yang bertugas menerangkan bahwa dokter saya sedang cuti hingga pertengahan bulan depan. Duh, batin saya, cuti dokter selama itu? Sudah dua minggu masih akan ditambah sebulan lagi? Seakan-akan mengerti kegalauan saya perawat mengatakan bahwa saya sudah diserahkan ke tangan koleganya, yaitu dokter bedah umum yang dulu juga menangani biopsi saya ketika dokter saya cuti umrah. Lega hati saya mendengarnya.

Perawat kemudian memeriksa tekanan darah saya dan juga suhu tubuh. Untung sudah normal kembali. Bahkan mencapai 110/90 saja, di bawah rata-rata. Agaknya itu disebabkan saya baru makan obat penurun tekanan darah untuk yang ketiga kalinya sehabis sarapan di rumah. Saya dinasehati untuk tidak tegang, mengingat ini kali pertama saya. Bahkan kalau saya mau saya diizinkan mengobrol dulu dengan kedua pasien lainnya yang sudah lebih dulu dikemo. 

Pasien itu kedua-duanya penderita kanker payudara juga. Yang di sebelah tengah berumur di atas enam puluh tahun, menjalani kemoterapinya yang kedua. Sedang yang di tepi dinding kamar, sudah akan mengakhiri kemoterapinya yang semua berjumlah 7 kali. Dia sudah dioperasi terlebih dulu, sedangkan pasien yang di tengah sama seperti saya, belum. Rencananya dia akan dikemoterapi tiga kali saja, sekali lebih singkat daripada kemoterapi saya yang direncanakan empat kali. Tapi dokter kami berbeda. Kedua ibu sepuh itu ditangani dokter lain yang hari itu ternyata juga tidak datang melaksanakan kewajibannya. Padahal dia tidak menunjuk penggantinya sebagaimana kebiasaan dokter saya.

Setelah hari agak siang, barulah dokter jaga RS datang menjenguk. Dia bertanya-jawab barang sejenak serta meneliti berkas medis yang dipegang perawat. Saya pikir setelah itu dia akan memasangkan infus kemoterapi saya. Ternyata keliru, dia tak melakukan apa-apa. Hingga satu jam kemudian benar-benar datang dokter pengganti onkologis saya. Saya menyapanya dengan memperkenalkan diri kembali sebagai pasien yang pernah ditanganinya waktu onkologis saya cuti umrah. Dalam sejenak beliau langsung mengingat saya. Beliau menanyai apakah saya sudah mulai dengan program kemoterapi saya. Ketika saya jawab belum, beliau mengatakan kalau begitu beliau yang akan memulainya. Lalu berkas medis saya ditelitinya, sebelum beliau menyampaikan pertanyaan berikutnya seputar kemoterapi ini.

Kata beliau, obat saya akan diganti dari rencana semula, bukan lagi Herceptin, karena dokter onkologi yang memerintahkannya. Alasannya tak dijelaskan, tapi mengingat saya menggunakan SKTM saya bisa menerka sendiri. Agaknya jatah dari Dinas Kesehatan tidak mencukupi untuk membeli Herceptin, yang konon selain mahal juga langka di pasaran di Bogor sini. Saya tetap akan diinfus dengan tiga jenis obat berbeda, sebagaimana rencana semula. Tak ada jalan lain selain menyetujuinya dengan kebulatan syukur sebab apa pun obat itu, saya sudah banyak mendapat pertolongan. Kemoterapi saya digratiskan sepenuhnya!

Perawat kemudian mulai memasangkan infus di tangan saya. Tentu saja saya sodori tangan yang sehat, yang artinya tangan kanan saya. Biarpun kelak saya tidak akan bisa menggunakannya selama beberapa jam, tapi itu tentu yang bagus. Tusukan jarum tak lagi jadi masalah sebab perawat mudah sekali menemukan pembuluh darah di tangan saya. Kantung infus pertama adalah cairan garam sebagai pembilas darah di tubuh saya. Jumlahnya setengah liter. Sehabis itu, ternyata tidak langsung dimulai dengan obat. Sebab masih disambung dengan cairan garam kedua yang di tengah-tengah dimasuki dengan obat yang disuntikkan lewat infusan. Perawat mengingatkan saya bahwa akan terasa pegal-pegal sedikit. Saya jawab saya sudah terbiasa, sebab saya hampir menjalani operasi yang kedua belas kalinya kelak. Perawat itu terperangah, namun pernyataan saya justru berkembang menjadi obrolan yang menyenangkan. Katanya saya termasuk pasien yang paling fit yang ditanganinya selama ini. Alhamdulillah, batin saya.






Sikap saya pun dinilai tenang oleh perawat-perawat di sana. Bahkan ketika obat kemoterapi yang pertama mulai dimasukkan, saya tak nampak ketakutan. Padahal mereka tahu saya sudah mendengar dari mana-mana bahwa obat-obatan itu akan membawa efek samping menyakitkan. Memang demikian kenyataannya, seperti yang dituturkan pasien-pasien di samping saya serta kakak saya yang mengantarkan almarhum suaminya berobat dulu.

Semua obat-obatan kemoterapi ini dibungkus oleh lapisan kertas alumunium foil yang tebal. Katanya supaya tidak rusak oleh cahaya, sebab sifatnya sangat sensitif cahaya. Dalam hati saya, kira-kira seperti bola mata yang akan sakit silau oleh matahari atau sinar lampu terang kiranya. Jadi alumunium foil ini berguna seolah-olah sebuah kaca mata rayban.

Obat pertama berwarna bening, begitu juga obat ketiga. Tapi obat kedua warnanya agak mengerikan, merah meski tidak pekat seperti darah. Ketika semula saya melihat pasien di sebelah saya dialiri cairan itu, saya pikir itu adalah darah yang berbalik arah menuju ke tabung infus. 






Di antara pergantian obat-obatan, selalu diselingi oleh cairan garam lagi. Jadi agaknya agar masing-masing obat lancar diserap oleh aliran darah, maka tak boleh tercampur dengan obat berikutnya. Saya menikmati semua proses itu tanpa mengeluh, hanya terganggu oleh rasa ingin buang air kecil yang sering. Sama halnya dengan para pasien lain. Mereka bahkan lebih sering daripada saya menggunakan bilik pertapaan yang bersih dan nyaman karena merupakan kloset kering seperti di luar negeri. Bahkan selain buang air, pasien-pasien itu juga memuntahkan isi perutnya. Padahal, kami di situ diperlakukan lebih istimewa dibandingkan pasien-pasien di RSCM yang pernah saya tanyai. Di RSCM pasien tak mendapat makanan dari RS sehingga harus membeli sendiri di luaran. Sedangkan di RSKB yang merupakan bagian dari misi sosial Partai Golongan Karya sejak dulu, pasien tanpa terkecuali mendapat makanan. Pada pukul sepuluh sebelum kemo dimulai saya sudah menyantap sepotong cake caramel yang lezat. Lalu di waktu makan siang, hidangan lengkap berikut potongan buah honeydew atau yang di Indonesiakan menjadi melon. Belum lagi sore harinya datang seiris pudding pandan yang tidak mengecewakan rasanya. Diakhiri oleh tawaran makan malam yang saya tolak saja, sebab sudah hampir pulang.

Waktu obat kemoterapi ketiga dimasukkan, perawat mengingatkan saya untuk tidak terkaget-kaget kalau merasakan sensasi aneh nantinya pada bagian bawah perut saya. Sebab biasanya pasien akan merasa seakan-akan di situ banyak semut yang menggerayanginya. Semula saya sama sekali tak merasa apa-apa. Namun ternyata benar, setelah obat yang ditambahkan lewat suntikan itu mencapai sasaran yang dimaksud perawat tiba-tiba saya tahu apa yang dimaksudkannya. Ya, seperti saya sedang dicumbu oleh semut-semut nakal yang ingin tahu apa yang sedang saya lakukan di ruang yang sejuk dan sepi nyaman di sudut rumah sakit ini.

Infusan terakhir adalah cairan garam yang menjadi tanda pembukaan dan penutupan terapi. Jumlahnya sekitar lima ratus mililiter alias setengah liter lagi. Tapi perawat menghentikannya di bilangan empat ratus liter karena sudah pukul setengah enam sore. Matahari sudah mau berpamitan. Tak jadi soal karena saya pun tetap gagah perkasa, tak perlu menggunakan tangan orang lain untuk beranjak ke luar gedung. Subhanallah, betapa mudahnya proses yang digambarkan mengerikan oleh orang-orang lain itu. Saya jadi sangat berbesar hati akan menghadapi hari-hari kemoterapi selanjutnya. Saya tutuplah "hari besar" ini dengan langkah tegap dan senyum yang mengembang sempurna layaknya bulan empat belas di langit sana.

(Bersambung)

20 komentar:

  1. Balasan
    1. Amin-amin-amin. Matur nuwun, kayaknya saya memang nggak mengalami side effect chemo seperti yang diceritakan pasien pada umumnya. Semoga seterusnya begitu juga deh.

      Hapus
  2. alhamdulillah bunda sdh mulai kemo & bisa melaluinya tanpa efek yg menakutkan. smoga kita bisa melaluinya hingga akhir & diberi kesembuhan oleh Allah...aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah sekali. Malah sampai hari ini paling rasanya cuma lemas aja sih, nggak ada rasa nggak enak di perut, pusing dan sebagainya. Ah saya rasa, herbal sinshe itu yang membantu saya bisa terus nyaman sejak pertama sakit.

      Apa kabar nak? Masih berapa kali lagi kemonya? Semoga survive ya!

      Hapus
    2. alhamdulillah baik bunda, msh 3x lg........aamiin

      Hapus
    3. Memang rencananya berapa kali? Sudah dihisterektomi ya?

      Saya doakan terus deh semoga bisa melewati semua tahapannya dengan mulus. Peluk cinta ya!

      Hapus
    4. 6x bunda jd msh 3x lg, sy mastectomy tgl 27/12/12. aamiin terimakasih doanya :-) peluk balik bunda.

      Hapus
    5. Oh gitu ya. Saya justru belum dimastektomi. Setelah empat kali kemo baru dimastektomi, dilanjutkan dengan kemo setahun penuh lagi. Rencananya sih begitu, semoga kesampaian. Amin-amin-amin.

      Hapus
  3. BUnda luar biasa *peluk*
    Saya pernah menjalani proses khemotherapy jg bunda, saya survivor cancer colon.
    Meski prosedurnya sedikit berbeda, tapi saya rasa...kegalauan dan doa-doa yang kita panjatkan sama. Harapan untuk dikuatkan dan dimudahkan menjalani proses nya.

    Ayooo, bunda pasti bisa... saya penyintas yang percaya bahwa, kanker memang hebat. Tapi Allah kita jauh lebih hebat dan pengasih. Bunda luar biasa... diusia bunda, saya yakin bunda akan jadi pemenang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, saya setuju. Dulu usus saya juga dipotong, tapi usus halus. Selain itu rahim, dan kedua indung telur saya juga sudah habis. Cuma waktu itu alhamdulillah semua jinak. Ketika akhirnya dia cari tempat baru, sekarang berkembang jadi ganas. Agresif pula.

      Tapi saya yakin, kalau kita tidak melupakan diet kita, mereka akan kalah juga. Yang penting sekarang memang merubah pola makanan dan gaya hidup.

      Sekarang sudah sehat ya mbak Irma? Semoga untuk selamanya ya, saya ikut doakan yang baik-baik dan terbaik.

      Salam kenal! Eh, atau kita sudah kenalan di Mp kah? Nanti saya kunjungi rumahnya ya.

      Peluk hangat juga!

      Hapus
  4. ikutan senang dan bersyukur dibagian paling penting ini bunda justru diberi kemudahan. wah kalo inget tulisan bunda soal pengurusan surat2nya. alhamdulillah udah lewat ya bun.

    berapa kali bun total jadwal kemonya? mudah2an semuanya lancar2 aja dan sukses ya bun, amin amin amin yra

    /kayka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Untungnya saya ke sinshe dulu, jadi sekarang saya nggak tumbang di kemoterapi.

      Rencananya kemoterapi ini 4 kali, nanti terus dimastektomi dan dilanjutkan lagi kemo setahun penuh. Semoga aja saya lulus dari ujian maha berat itu ya.

      Hapus
    2. pengobatan alternatif dari cina yang umurnya udah beribu2 tahun ini memang terbukti ampuh ya bun *alhamdulillah*

      doa dari jauh bunda semoga bunda lulus ujian berat ini, amin yra.

      salam
      /kayka

      Hapus
    3. Amin-amin-amin, terima kasih ya Kak.

      Hapus
  5. ini lebih lengkap versinya dibanding empi ya mbak, pake bersambung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah enggak juga kok, cuma pengin dibikin gayanya masing-masing beda aja sih.

      Hapus
    2. kemo berikutnya kasih tahu ya mbak.. pengen deh ngemil buah naga bareng mbakjulie sambil di kemo..

      Hapus
    3. Alah ngrepotin kalau nungguin saya. Tapi nanti pasti saya bikin jurnalnya kok. Iya tuh banyak yang bilangnya kepengin lihat saya dikemo, supaya tahu seperti apa. Biasa aja sih, kayak yang di foto itu lho. Eh btw buah naga merah sekarang udah banyak lagi. Sampai kebanyakan dan busuk deh di tempat saya, soalnya saya beli, keponakan kesayangan juga datang beliin buat saya. Padahal perut saya sekarang muatannya terbatas. Mubazir.

      Hapus
  6. Saya salut dgn bunda yg masih konsisten menulis dengan isi yang padat.
    Semangat ya bunnn....
    Posisinya rileks sekali ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nak In, kalau kita mau bertahan hidup ya harus memelihara semangat kan? Terima kasih ya atas perhatiannya. Selamat akhir pekan!

      Hapus

Pita Pink