Powered By Blogger

Kamis, 01 November 2012

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (13)

Kematian memang milik Allah. Ini bisa menyapa siapa saja. Tak seorang pun mampu menolaknya kalau Allah sudah menginginkannya. Walau begitu besar upaya seseorang untuk sembuh dan begitu banyak harta terkuras habis untuk mendanai kesembuhan pasien kanker, tapi tetap saja mereka akan bertemu dengan malaikat maut. Pintunya seakan-akan ada di mana-mana, baik di rumah sakit, di tempat pengobatan alternatif maupun hanya di rumah saja.

Banyaknya pasien kanker yang saya kenal secara pribadi yang telah berpulang semakin mengukuhkan pandangan saya tentang sulitnya mendeteksi dan menyembuhkan kanker. Di keluarga saya pun ada pasien kanker yang tak tertolong lagi meski telah diupayakan untuk berobat ke dokter dan menerima semua regimen pengobatannya tanpa jeda, sebagaimana teman saya yang saya ceritakan di jurnal yang lalu.

Kakak ipar saya yang seorang lagi juga menyerah ditumbangkan kanker kandung kemih ketika usianya hampir mencapai enam puluh tahun. Seperti tak diizinkan merayakan ulang tahunnya yang ke-enam puluh bersama keluarga di rumah, beliau wafat setelah nyaris seluruh hartanya habis untuk mendanai pengobatan di RSUPN dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Jakarta.

Waktu itu saya sedang menetap di luar negeri. Akan tetapi kami sempat bertemu ketika keluarga besar saya menengok kami di Singapura. Saat pertemuan kami yang terakhir itu, kakak ipar saya masih nampak sehat meski wajahnya mulai kelihatan menua dan kelelahan. Menurut kakak saya, istrinya, gejala awal penyakit ipar saya hanya air seni yang berdarah yang tak disertai rasa sakit seperti yang dialami sebagian penderita kanker payudara. Karena penyakitnya dianggap ringan, akhirnya mulailah dia sulit buang air kecil serta mengeluhkan rasa sakit di sekitar pinggangnya. Menurut pemeriksaan USG dan CT-scan diketemukan adanya penyumbatan di kandung kemihnya, yang kemudian dipastikan sebagai penyakit kanker kandung kemih.

Sejak itu ipar saya keluar-masuk rumah sakit untuk perawatan maupun sekedar menjalani kemoterapi dan radiasi yang ternyata semakin melemahkan tubuh dan menyita staminanya. Kulitnya mulai kelihatan kering, tubuhnya kurus, matanya cekung serta rambutnya menipis. Walau kakak saya sudah memberikan kemoterapi tambahan seperti yang dianjurkan orang banyak berupa teh rebusan daun sirsak yang juga sekarang sedang saya konsumsi, penyakitnya tidak lagi merespons. Dia terlanjur merebak, lalu memaksanya pergi dari sisi kami untuk berkumpul dengan mereka yang sudah mendahului ke haribaan Allah. Kanker memang betul-betul kejam itu pendapat saya. Selain nyawa yang direnggut, rasa nyeri ketika penderita masih hidup pun merupakan siksaan tersendiri. Sedihnya beliau berpulang hanya berselisih sekian hari dari adiknya yang juga dilibas penyakit kanker. Benar-benar menjadi semacam pembuktian bahwa kanker merupakan penyakit yang diturunkan (herediter). Terlebih-lebih saat saya mendengar cerita dari kakaknya bahwa penyebab terbesar kematian keluarga mereka adalah kanker berbagai jenis. Ada yang menderita kanker otak, ada yang kena kanker hati.

***

Tadi pagi saya kedatangan tamu, yakni sahabat baik almarhumah kakak saya yang kebetulan seorang penderita kanker payudara. Ketika pertama kali beliau sakit dua tahun lalu, saya sempat menengok ke rumah putrinya di Jakarta membalas kunjungan beliau menengok saya di Singapura dulu.

Yu Wiwid begitu panggilan sayangnya, ibu berusia enam puluh tujuh tahun seorang janda pensiunan PNS. Ketika muda beliau tergolong sehat serta tak pernah mengabaikan masalah perawatan kesehatannya. Jabatan suaminya memungkinkannya untuk makan makanan bergizi setiap hari, hidup dikelilingi para pembantu yang siap menolong melaksanakan tugas-tugas hariannya serta tentu saja bersenang-senang bersama seluruh anggota keluarganya. Pendeknya beliau tak pernah kekurangan baik secara materi maupun kasih sayang, meski suaminya meninggal ketika baru saja menuntaskan tugasnya sebagai PNS. Seingat saya suaminya meninggal di balik kemudi mobilnya akibat serangan jantung di jalanan Jakarta ketika tengah santai berkendara.

Kanker payudara yang diderita sahabat kakak saya ini baru stadium awal, I-B. Dia langsung ditangani seorang profesor dokter di RSPN Tjipto Mangoenkoesoemo ahli onkologi yang mengangkat hanya tumornya yang baru berukuran satu setengah sentimeter itu, kemudian diradiasi dan kemoterapi.

Profesor yang merawatnya menetapkan serangkaian diet yang mirip aturan sinshe saya. Tapi pasien ini masih diizinkan makan daging-dagingan terutama ayam dalam jumlah sangat terbatas, begitu penuturannya. Selebihnya dia juga dilarang mengonsumsi makanan berpengawet termasuk yang diberi bumbu masak vetsin dan gorengan kecuali yang menggunakan minyak selada (salad oil). Semua makanannya berupa rebus-rebusan saja, termasuk tempe dan tahu.

Dua tahun lalu dia menghabiskan uang sebanyak sembilan puluh enam juta rupiah, yang untungnya sebagian besar didanai asuransi kesehatan. Dia menganjurkan saya untuk mengambil pengobatan secara kedokteran barat karena dia sudah berhasil sembuh setelah tekun berobat nyaris dua tahun itu. Saat ini dia katanya masih terus makan obat dokter yang tak boleh terlupa barang sehari pun hingga tiga tahun ke depan.

Mendengar nasehat dan cerita suksesnya, rasanya tentu saja saya pun ingin sekali berobat begitu. Tapi sekali lagi, saya terkendala biaya, mengingat saya ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Lebih menyakitkan lagi saya kini mulai kesulitan mendapatkan dana untuk pengobatan alternatif di sinshe yang sebetulnya jauh lebih murah daripada pengobatan empiris seperti yang dijalani yu Wiwid. Masalahnya ada pihak-pihak tertentu yang menghembuskan issue tak sedap yang menyerang pihak saya. Ah, astagfirullahaladzim, saya bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula!

Bayangkan, ketika minggu lalu sinshe yang merawat saya justru mengabarkan berita baik bahwa dia merasa tumor saya mulai menunjukkan respons positif terhadap pengobatannya, kini tiba-tiba saya harus terguncang lagi. Padahal sebagaimana pesan sinshe sebagaimana yang juga dipesankan dokter yang merawat yu Wiwid, penderita kanker tak boleh berpikir berat. Bahkan dengan enaknya dia menyitir pesan dokternya, bahwa katanya, "pasien diminta hidup bersenang-senang, melakukan aktivitas yang menggembirakan, karena yang akan memikirkan soal sakit dan pengobatan mereka adalah dokternya." Saya trsenyum miris mendengarnya. Bagaimana mungkin itu saya terapkan? Bahkan bagi sebagian besar orang pun tak mudah dilakukan. Bayangkan, untuk mencari dana pengobatan pun perlu berusaha keras. Apalagi sekedar untuk bersantai-santai menenangkan diri? Pedih hati saya mengenangkan ini. 

Lalu saya pun teringat kepada keluarga seorang penderita yang menanyai saya soal ongkos berobat di sinshe. Semua orang tahu tidak ada sinshe yang murah. Apalagi sinshe yang dulu mengiklankan diri di media massa. Perlu berbelas-belas juta untuk sekali terapi. 

Sinshe saya juga tak bisa dikatakan murah, meski mahalnya tidak sehebat itu. Sekarang sekali seminggu saya diberi ramuan jamu yang dihargai kurang lebih satu juta rupiah terdiri dari jamu anti kanker, antibiotik, vitamin dan beberapa obat penunjang lainnya disesuaikan dengan kondisi kesehatan saya saat diperiksa. Seperti bulan-bulan lalu saya mendapatkan juga obat penguat pencernaan saya, sedangkan saat ini saya menerima obat sinusitis disebabkan penyakit sinusitis dan asthma saya mulai kambuh. Obat-obat ini tak boleh terlewatkan barang sehari pun, persis sama dengan obat-obat yu Wiwid yang diperoleh dari dokternya. Jika sampai terlewat sehari, itu artinya saya harus mengulang kembali dari dosis awal.

Kini saya hanya bisa berpasrah diri kepada Tuhan. Sebab sekali lagi saya tahu bahwa Tuhan itu Maha Kaya dan Maha Pemurah. Maha Pemberi yang kasih sayangnya tiada bandingan. Dengan mengucap namaNya seraya mengenangNya di dalam hati saya senantiasa membawa semua permasalahan saya kepadanya. Saya berharap setelah ujian sakit yang sedemikian berat ini akan ada kesembuhan sejati bagi saya, dan tentunya juga bagi kedua anak-anak saya, pemuda yang amat berbakti. Insya Allah, semoga!

(Bersambung)

2 komentar:

  1. selalu ada jalan mbak.. pasti deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya nggak bisa meyakini seratus prosen, tapi saya tetap ingin terus berusaha berobat dengan herbalnya sinshe, semoga ini jalan kesembuhan untuk saya. BTW nggak disangka-sangka tadi siang teman-teman Dharma Wanita Persatuan saya pada nengok lagi ke rumah lho, padahal dulu kata mantan saya dan keluarga barunya, saya itu dimusuhin kolega mantan saya dan keluarga mereka. Halah, ternyata bohong besar. Sampai saya terharu banget deh.

      Hapus

Pita Pink