Powered By Blogger

Jumat, 02 November 2012

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (14)

Tidak boleh banyak berpikir. Itu satu nasehat terpenting untuk orang sakit, terutama penderita kanker. Sinshe saya menjelaskan, bahwa sel-sel syaraf di otak berhubungan dengan sel-sel kanker. Jika sel kanker dilukai baik dengan cara dibiopsi apalagi hingga dioperasi, maka sel kanker akan berontak dengan cara melaporkannya kepada otak. Kemudian otak akan menyuruh sel kanker mengamuk sehingga penyakit pasien menjadi-jadi, lalu timbul kembali bagi yang sudah dibuang tumornya. Karena itu amat penting menjaga kenyamanan daerah tubuh yang sakit, juga menjaga pikiran agar tidak menimbulkan reaksi otak yang negatif yang berimbas kepada meruyaknya jaringan tubuh yang sakit.

Tapi hal itu tak mudah dilaksanakan. Soalnya saya merasa sendiri bahwa orang sakit sangat mudah tersinggung. Belum lagi tubuh tidak merasa nyaman yang mengakibatkan jika pasien mendengar sedikit keributan menimbulkan amarah di dalam dada. Buruk sekali, bukan?

Saya teringat teman saya yang penyanyi itu. Beliau amat tidak sabaran jika menghendaki sesuatu. Salah seorang teman yang pernah menampungnya menginap selama berobat di Singapura menceritakan betapa setiap pulang dari kemoterapi, pasien yang satu ini selalu minta dilayani segera sambil menggerutu. Sehingga pembantu teman saya kewalahan. Tapi waktu itu alhamdulillah mereka masih bisa memaklumi, sehingga si pasien tidak terlantar.

Namun namanya juga manusia. Maka di suatu saat, teman kami ini benar-benar kewalahan dibuatnya. Pasalnya si sakit minta izin menginap di rumahnya ketika si pemilik rumah sedang berada di Indonesia karena putrinya datang dari Amerika Serikat. Sudah barang tentu rumahnya di Singapura cuma dijaga pembantunya. Tapi teman saya mengizinkan beliau datang menginap asal bersedia hanya ditemani pembantunya. Semula pasien setuju. Namun belakangan dia mengomel panjang pendek, dengan cara menelepon setiap hari ke ponsel teman saya yang susahnya tak mudah dihubungi karena sedang berada di desanya nun di kaki gunung yang pelit sinyal. Isi omelannya adalah dia merasa tidak diperhatikan oleh pembantu si nyonya rumah. 

Ketika teman kami ini mengeluhkan pengalamannya kepada saya, saya kemudian mengambil alih penginapan si pasien dengan menawarinya bermalam di rumah saya. Dan benar saja, kejadian yang sama nyaris terulang lagi. Segala hal yang saya persiapkan untuknya selalu ada saja kekurangannya membuat pembantu rumah tangga saya pun mengurut dada. Apalagi pembantu saya pun harus menghadapi saya yang juga sedang sakit yang sama dengan tetamu kami ini.

***

Sekarang sebagai pasien itu sendiri, saya pun ternyata tak luput dari kerewelan yang sama. Tanpa saya sadari saya menjadi sangat sensitif, sedikit-sedikit minta perhatian dan seterusnya. Bahkan hanya karena anak-anak saya menjatuhkan sebatang pensil di lantai atas yang persis berada di atas kamar saya, saya bisa menegur mereka dengan ketus. Pokoknya suasana harmonis jadi terganggu oleh sikap saya yang menyebalkan.

Minggu lalu ketika saya berobat ke sinshe, saya sudah mulai senang. Soalnya tumor payudara saya yang sudah sebesar biji alpukat ketika pertama saya periksakan, dikatakan mulai merespons pengobatan dengan baik. Tapi tiba-tiba saya dikejutkan oleh pernyataan seseorang yang amat dekat dengan keluarga saya yang isinya menikam perasaan saya. Walau kata-katanya amat terselubung, tapi saya bisa merasakan bahwa pernyataan itu ditujukan kepada keluarga saya. Semalaman saya tak nyenyak tidur, tumor saya menegang kembali sehingga ketika harinya saya diterapi sinshe, dia menerapkan regimen pengobatan yang lebih kuat lagi serta melarang saya beraktivitas apa pun. Pikiran saya pun harus dijaga, begitu pesannya kepada anak-anak saya. 

Saya berupaya mematuhinya. Diet saya benar-benar saya patuhi. Istirahat saya lakukan. Artinya saya tak mengerjakan apa pun yang membutuhkan tenaga. Namun entah mengapa, rasa terluka saya begitu hebat. Sehingga saya bahkan terserang batuk-batuk berkepanjangan yang saya tahu adalah batuk penderita asthma. Puncaknya semalam. Sehabis makan malam saya tak henti-hentinya terbatuk padahal obat asthma pemberian sinshe saya habis. Tepat tengah malam saya mengirimkan SMS kepada sinshe saya agar diizinkan makan obat bebas yang saya dapatkan dari toko. Saya berharap dia akan memberikan solusi untuk mengatasi batuk saya yang mulai membuat nafas saya putus-putus disertai keringat mengucur meski hari mulai dilingkupi hawa dingin. Sayang sinshe saya rupanya telah tidur.

Maka ketika saya terbangun tadi pagi, saya langsung menyalakan ponsel saya mengharap ada jawaban sinshe di sana. Begitu saya kecewa lagi oleh layar yang kosong saja, saya pun sekali lagi mengontaknya ke nomor yang kedua yang dimilikinya. Beruntunglah saya, dua jam kemudian dia menjawab. Setelah mengatakan tak mungkin mengirimkan obat untuk saya, dia menyetujui saya makan obat yang sudah saya beli itu asal berselisih dua jam dari saat saya makan jejamuan pemberiannya untuk kanker dan sinusitis serta radang usus saya. Lebih dari itu dia tak mengizinkan saya makan buah mangga, jeruk serta tentu saja goreng-gorengan. Lalu dia menekankan bahwa saya harus kembali memaku diri di atas kasur dengan pikiran kosong yang ditenangkan dzikir. Intinya, saya tak boleh beraktivitas termasuk berpikir. Sebab, ya, musuh utama orang sakit kanker adalah pikiran yang susah dan kelelahan fisik. Wah, repot juga ya jadi orang sakit? Sudahlah mesti mengeluarkan banyak biaya, tak boleh bergerak-gerak pula. Semoga Allah saja yang menolong saya keluar dari kendala menikmati indahnya hidup ini. 

(Bersambung)


8 komentar:

  1. Bundaaaa..... kangennnn.
    Semoga selalu diberikan kesabaran yah Bun. Insyallah anak2 paham banget jika bunda sedikit sensi.
    sekarang saya jadi ngerti ternyata penyakit tumor/kanker malah menjadi karena pikiran, gitu yah Bun?
    semoga cepat diberi kesembuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada mbak Ina, assalamu'alaikum. Jadi ikutan kangen juga, kangen suasana waktu ngempi. Apa kabar? Semoga sehat ya mbak. Sungguh sakit itu menyiksa lahir dan batin.

      Iya anak-anak saya begitu pengertian, tapi rasanya jadi berdosa sama mereka. Terima kasih ya mbak doanya, saya sangat berbesar hati. Salam manis. Udah buka rumah baru ya?

      Hapus
  2. emang berhubungan banget ya ceu antara pikiran dan tubuh kita. mudah-mudahan usaha ceu julie dalam berobat dimudahkan selalu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sangat berhubungan. Karena itu semua orang sakit kan dilarang banyak mikir ya? Cuma saya nggak bisa nggak mikir kalau saya sendiri memang orang nggak berdaya. Makanya begitu saya mikir langsung deh sakit lagi. Saya aminkan terus doanya ya dik, seperti saya pun terus mendoakan semoga dik Efin dan dik Tian senantiasa dituntun Allah di dalam menjalani kehidupan yang nggak mudah ini. Terima kasih lagi atas moral supportnya.

      Maafkan saya kalau jadi terkesan ceble, cengeng dan seperti itu.

      Hapus
  3. Tes tes tes...semoga saya dari wordpress bisa komen di sini via akun google...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa nak Mita, lha wong kebanyakan yang komen di sini mereka yang pada pindahan ke WP kok. Coba dilihat di tempatmu, komen tante masuk nggak?

      Hapus
  4. sekarang boleh makan mangga ga mbak? lagi musim nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah boleh lagi kok, soalnya batuk asthma saya udah sembuh.

      Hapus

Pita Pink