Kepergian Ina, perempuan cantik di umurnya yang ke 45 tahun memberi banyak pelajaran bagi saya. Waktu akan meninggalkan rumahnya, rumah duka yang saya inapi selama dua malam, saya menemukan sebuah buku baru yang nampaknya belum lama selesai dibaca di meja tidur di kamarnya. Saya pungut buku itu, sebab saya selalu ingin tahu apa saja yang dibaca orang lain.
Wajah seorang lelaki yang bulat bertopi dengan pandangan mata mengarah ke atas menghiasi halaman depannya. Penulisnya Risma Inoy, agaknya seorang blogger mencatatkan dan mengisahkan perjuangan seorang penyanyi lumpuh yang berkarya dari atas kasur dan kursi rodanya akibat terserang penyakit Guillain Barre Syndrome (GBS) yang relatif baru diketahui di Indonesia.
Membaca intinya yang dituliskan orang di bagian tertentu bukunya, saya memutuskan untuk meminjamnya. Sebab saya yakin buku itu tentu ada manfaatnya bagi para penderita penyakit berat, tak terkecuali saya. Sebab buku yang disebut-sebut inspiratif ini diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di tanah air yang kualitas bacaannya tak diragukan lagi. Jadi pastilah buku ini akan membawa angin segar, pencerahan bagi saya dan anak-anak saya.
***
Benar saja, di buku itu dikisahkan seorang pemuda 17 tahun yang tiba-tiba mengidap kelumpuhan ketika sedang bertamasya bersama teman-temannya ke pantai. Gejala-gejala awal penyakit yang terdiagnosa bertahun-tahun kemudian itu cuma rasa nyeri pada tulang-tulangnya dan lemas yang membuat anggota geraknya menjadi kaku. Belakangan dia terserang sesak nafas hingga pingsan yang membuatnya benar-benar tak mampu lagi bangkit untuk selamanya.
Bayangkan, seorang pemuda remaja yang tengah mengayuh perahunya ke masa depan tiba-tiba dihadapkan pada penyakit yang sedemikian dahsyat dan mengerikan. Soal sakitnya digambarkan amat sangat luar biasa. Apalagi ketika berbulan-bulan hingga tahunan dia tak bisa beranjak dari pembaringannya akibat kelumpuhan, kulit bagian belakang tubuhnya menjadi luka permanen yang menyakitkan. Pelan-pelan dagingnya membusuk menimbulkan lubang yang perlu dibersihkan dengan serangkaian tindakan bedah guna mencegah infeksi yang makin meluas. Bagaimana rasanya, sudah lah, tak perlu kita ketahui sebab hanya akan membuat kita semakin takut, ngeri dan ingin menangis saja. Dua puluh dua tahun dia menjalani semua itu dengan tabah dalam "kebutaan" pengetahuan tentang penyakitnya. Namun dia tetap tabah menjalani hari-harinya yang dijalankan di RS maupun tempat pengobatan alternatif serta di dalam kamar tidur rumahnya sendiri. Dengan dukungan dana yang tak sedikit keluarganya mencoba segala upaya penyembuhan, yang tak pernah mendatangkan hasil. Hanya berkat kesabaran si sakit lah semua teratasi, tentu saja ditunjang oleh kasih sayang orang-orang dekatnya yang tulus mencintainya termasuk kemudian teman SMA nya yang memilih untuk diperistri supaya bisa merawat penderita ini selamanya. Betapa penuh keharuan serta mengajarkan serangkaian semangat dan cinta kasih bagi siapa pun yang membacanya. Tak heran kiranya Ina membaca buku ini yang entah dihadiahkan oleh siapa. Boleh jadi dibelinya sendiri ketika dia merasa jemu dengan rutinitas sakitnya lalu memaksa suaminya untuk mendorongnya di atas kursi roda ke toko.
Ina juga inspiratif untuk saya. Dia tak menangisi nasibnya ketika terusir dari rumahnya sendiri yang terjual guna mendanai biaya sakitnya. Dia tak larut dalam penyesalan ketika akhirnya dia terpaksa harus bergabung di rumah mertuanya yang juga sudah sakit-sakitan. Di sana dia sendiri ikut merawat sang ibu yang sudah ditinggal lebih dulu oleh suaminya akibat kanker hati. Tentu saja sesanggupnya, sebab saya tahu persis rasanya penderita kanker. Tubuh mudah merasa letih. Itu yang dulu juga saya alami, tapi saya tak pernah dilabeli dengan label penderita "penyakit orang gedongan". Ya, tak salah kiranya kalau kanker dikategorikan penyakit orang kaya. Sebab kalau kita miskin, tinggal menunggu lubang kubur saja adanya, kecuali kita menerima dana Jamkes seperti yang sekarang alhamdulillah saya nikmati. Dulu itu, sepandai-pandainya dokter di negeri tetangga tempat banyak rakyat Indonesia berobat, sel-sel liar di tubuh saya selalu dikatakan sel jinak. Sampai bosan saya mendengar penjelasannya, apalagi menjalani rangkaian bedah yang seperti tak habis-habisnya dicadangkan untuk saya.
***
Melayat ke rumah kerabat mendatangkan pengetahuan lebih dalam lagi mengenai Jaminan Kesehatan (Jamkes), sebuah program yang digulirkan pemerintah untuk membantu pendanaan kesehatan rakyat tidak mampu. Kata istri sepupu saya seorang perawat senior di sebuah RS tua, Jamkes terbagi dua. Program tingkat nasional yang pemegang kartu Jamkesnya bisa berobat di mana saja di seluruh Indonesia, adalah Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sedangkan mereka yang kehabisan kuota Jamkesmas namun dipandang perlu dibantu, diberi Jamkes tingkat daerah yang penyelenggaranya adalah Dinas Kesehatan masing-masing daerah tingkat II. Namanya pun disesuaikan menjadi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Kekurangannya hanya tidak bisa digunakan secara nasional, terbatas saja di daerah di mana Jamkesda itu dikeluarkan. Itu sebabnya di RS tempat saya berobat pun, loket pelayanan pasien Jamkesda Kota dipisah dari loket pelayanan Jamkesda Kabupaten.
Jamkesda yang dibiayai dari APBD masing-masing daerah tentu saja dananya tidak akan bisa diseragamkan. Tentunya disesuaikan dengan Pemasukan Asli Daerah (PAD) masing-masing. Itu juga sebabnya dokter onkologi saya mengatakan, bahwa penggunaan obat-obatan terbagus selalu dikabulkan oleh pengelola Jamkesda Kabupaten tidak seperti di wilayah kota. Sangat bisa dimengerti, soalnya objek wisata daerah kami yang mendatangkan pemasukan dari sektor wisata sebagian besar terletak di wilayah Kabupaten. Begitu juga dengan pabrik-pabrik serta kekayaan alam terletak di Kabupaten. Kabupaten kami antara lain menghasilkan emas, yang ditambang di daerah sebelah barat berbatasan dengan wilayah Propinsi Banten. Belum lagi penambangan batu kerikil/pasir serta batu kapur semuanya berada di wilayah Kabupaten.
Menilik itu semua, sebetulnya terasa perlunya pemerintah pusat meningkatkan anggaran kesehatan agar masyarakat yang memerlukan dan perlu menerimanya merasakan pemerataan. Dengan demikian, tak perlu ada pikiran kotor yang muncul di benak penerima Jamkesda dengan plafon anggaran kecil. Saya tersenyum kecut ketika awal pelaksanaan kemoterapi saya akan dimulai dokter menganjurkan saya untuk berpindah kediaman ke wilayah kabupaten lalu mengajukan permohonan Jamkesda di sana agar saya bisa memperoleh obat terbaik mengingat kanker saya sudah dalam stadium lanjut III-B yang sifatnya sangat agresif pula. Sesuatu hal yang sangat tidak mungin, dan tidak pula patut sebab hanya akan menyalahi aturan pemerintah belaka namun terlontar begitu saja dari rasa keprihatinan seorang dokter yang penuh dedikasi dan belas kasih terhadap tugasnya.
Saya saksikan di luar negeri rakyat di sana sudah memiliki dana kesehatan sendiri. Sehingga ketika sakit, ada yang menjamin biaya pengobatan mereka. Bahkan di Republik Afrika Selatan bekas negara apartheid pun, di wilayah-wilayah pemukiman orang kulit hitam disediakan RS serta pusat-pusat perawatan kesehatan yang mudah dijangkau penduduknya. Nyaris tak ada bedanya dengan pemeliharaan kesehatan warga kulit putih di distrik mereka yang "terang benderang bermandikan cahaya gemerlap".
Soal asuransi kesehatan ini, saya pun pernah hampir menghadapi masalah ketika mengikuti tugas mantan suami saya di luar negeri. Waktu itu entah mengapa, tak seorang pun pegawai di kantor mantan suami saya yang ikut asuransi kesehatan. Secara resmi selama di luar negeri memang semua pegawai diminta membayar sendiri asuransi kesehatan mereka, sebab tentu saja ASKES PNS yang kami gunakan di Indonesia tidak berlaku secara internasional. Tapi, demi menyadari bahwa saya dan anak saya yang seorang sakit-sakitan, saya berhasil membujuk kepala keluarga kami untuk ikut asuransi. Berhubung preminya terbilang mahal, jadilah hanya kami berdua yang diasuransikan dan ternyata memang betul-betul terpakai.
Pada suatu hari saya mengalami pendarahan yang tidak berhenti-henti yang saya curigai berasal dari organ reproduksi saya. Karena cenderung menghebat sehabis saya bawa bekerja di Dharma Wanita untuk membantu pelaksanaan kegiatan kantor, akhirnya saya memeriksakan diri ke RS. Dokter mengatakan saya hamil di luar kandungan dan perlu segera dioperasi. Untung saja saya ikut asuransi itu tadi, jika tidak tak tahu akan dibayar dengan apa biaya RS yang demikian mahal itu. Lebih untung lagi sakit saya di RS tak berlama-lama. Cukup seminggu saya dirawat, sesuai dengan batas yang diizinkan pihak asuransi. Maka, berkaca dari pengalaman pahit tersebut, setiap penugasan di LN akhirnya kami semua ikut asuransi. Inilah yang kemudian juga sangat menolong ketika saya menjalani serangkaian pembedahan di Singapura serta Republik Afrika Selatan. Jadi kesimpulannya, bersedia payung sebelum hujan amatlah penting artinya. Merawat kesehatan sebelum sakit, sangat dianjurkan. Akan tetapi akan lebih baik jika dibarengi dengan menabung guna berjaga-jaga seandainya kita jatuh sakit. Sakit itu bisa memiskinkan kantung sih, betul 'kan?! :-(
(Bersambung)
Senin, 17 Juni 2013
Minggu, 16 Juni 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (71)
Seharian ini nyaris saya habiskan untuk berbaring-baring saja di tempat tidur. Rasanya tubuh saya letih sehabis perjalanan ke Bandung untuk melayat kemarin dulu. Padahal kemarin sepulangnya dari RS saya sudah tidur-tiduran juga. Saya tak tahu apa sebabnya jadi begini. Tapi saya duga, batin saya lelah luar dalam. Apalagi mengingat dokter onkologi saya tak jelas kelangsungan prakteknya selagi operasi dan kemoterapi saya belum terlaksana. Dan satu hal penting lagi, pikiran saya melayang kepada anak-anak almarhumah Ina yang terbilang cucu saya sendiri. Saya teringat akan si bungsu, bocah sembilan tahun yang otaknya selalu berputar membuat tak ada hal yang tak ingin diketahuinya dan juga tak ada hal yang tidak menjadikannya penasaran. Kematian ibundanya yang meski telah diketahuinya sendiri akibat sakit, tetaplah peristiwa yang butuh penjelasan. Mengapa serangkaian pengobatan yang mahal, menyakitkan terutama jiwa bocahnya yang masih haus belaian dan kasih sayang tidak mendatangkan hasil yang baik.
Saya merenunginya di setiap saat. Baik ketika saya terjaga di tempat tidur, maupun ketika saya melakukan segala aktivitas harian saya. Pipi bulat, perut buncit dan ikal rambut lebat bocah itu bermain-main di pelupuk mata saya. Saya lantas teringat di malam pertama kematian ibundanya, dia menangis di atas pembaringannya sambil memeluk erat foto sang ibu. Di sisinya tante yang disayanginya tak mampu meredam kehilangan mendalam itu.
Di malam kedua, dia bahkan menangis di dalam mobil ketika tantenya pergi ke luar rumah membawanya menghilangkan kedukaan itu. Tangis itu tak mau hilang bahkan sesudah dia kembali ke pembaringannya dan memeluk foto ibundanya yang sejak kemarin tak boleh dipindahkan dari atas bantalnya. "Aku mau ke makam, aku mau sama Mama," rengeknya merintih membekaskan lara di hati siapa pun yang mendengarnya. Waktu itu saya berusaha membujuknya dengan memberikan pengertian bahwa malam hari makam tak ada penjaganya, sehingga orang tak boleh ke sana. Karena itu dia harus menghentikan tangisnya supaya tidak kelelahan untuk berziarah keesokan harinya. Saya bujuk dia untuk segera tidur meski kemudian saya dapat laporan dari bibinya itu bahwa akhirnya si bibi mendahului tidur karena si kecil terus saja menangis, bahkan akhirnya si kakak yang baru saja lulus SMP dengan nilai amat memuaskan juga menangis dalam diam. Ah, pedih rasanya hati ini.
Begini rasanya jadi orang sakit. Stamina jauh berkurang. Dulu saya sanggup untuk bepergian jauh tanpa istirahat yang cukup selama itu. Namun sekarang, baru saja melaju ke Bandung yang jarak tempuhnya cuma 180 km saja seluruh tenaga saya rasanya terkuras habis. Apalagi selama dua hari di sana saya sama sekali mengabaikan acara baring-baring seperti yang diharuskan sinshe saya maupun dokter. Kelelahan ditambah beban pikiran ini amat menyusahkan saya. Tak habis-habisnya saya berdzikir memohon kekuatan saya dikembalikan olehNya.
***
Sambil berbaring saya mengenangkan kembali kisah sakitnya Ina. Waktu pertama kali dia merasa menemukan tumor di tubuhnya, ukurannya belum sebesar ukuran yang saya rasakan bertumbuh di tubuh saya. Tapi tumor kami sama-sama tumor yang teraba dengan tangan namun tak bisa bergerak-gerak ketika diraba dengan digoyangkan. Sebelum tumornya menjadi sakit seperti yang saya alami, Ina sudah lebih dulu waspada. Dia membawa kasusnya ke dokter umum yang kemudian merujuknya ke dokter bedah. Karena mendapat penjelasan bahwa dia terserang tumor, Ina lari ke pengobatan alternatif seperti halnya saya.
Dia menggunakan terapi juice dan herbal serta totok yang tidak sama dengan terapi yang digunakan sinshe saya. Tangan si terapis sama sekali tidak menyentuh kulit si sakit, sebagaimana yang dilakukan sinshe saya. Terapis ini bukan seorang sinshe, melainkan seorang pribumi. Satu tahun berobat dengan menghabiskan biaya yang sangat besar sebagaimana yang saya alami juga, penyakit Ina tidak kunjung membaik. Bahkan dia mulai merasakan sakit-sakit pada tulang belakangnya. Berbeda dari kondisi saya yang alhamdulillah sampai sekarang tidak pernah merasa sakit tulang. Sedangkan tumornya pun semakin membesar bagaikan tak tertangani.
Saya ingat waktu saya menengoknya dua tahun yang lalu, dia kemudian beralih ke dokter onkologi yang memeriksanya secara medis lebih teliti. Dari hasil biopsi, diketahui bahwa dia menderita kanker stadium II-C yang menyebar hingga ke tulang belakangnya. Berhubung tumor di payudaranya terawat baik sehingga tidak sampai luka pecah seperti tumor saya, dokter mendahulukan mengobati kanker tulangnya. Dia menerima serangkaian panjang kemoterapi, lebih dari sepuluh kali bahkan lebih dari selusin kali. Dalam pada itu saya ingat keluarganya masih terus memberinya juice termasuk juice sayuran yang terbuat dari brokoli dan entah sayur hijau apa namanya yang saya tidak hafal. Keyakinan keluarganya, juice itu bisa juga menjadi terapi penunjang si sakit. Tak ada bedanya dengan yang saya kerjakan sampai sekarang, sekali pun saya sudah diobati dokter onkologi, tetapi minum juice masih merupakan menu harian saya yang terbukti membantu mempertahankan sel-sel liar di payudara saya tidak sampai menyebar ke bagian tubuh lainnya. Selain itu, saya boleh dikata selalu fit sewaktu akan dan sudah menjalani kemoterapi.
Ina kemudian menjalani terapi untuk kanker payudaranya, dengan dibuang keseluruhan jaringan payudaranya yang sakit. Setelah itu dia menerima tujuh kali entah sembilan kali ~saya lupa~ kemoterapi yang membuatnya tidak menjadi semakin segar juga. Meskipun demikian semua diterimanya dengan baik, bahkan dia menyemangati saya untuk mau menjalani rutinitas kemoterapi itu. Katanya menjadi botak justru membuat seseorang tampil berbeda dan cantik karenanya. Saya sempat tersenyum simpul menyetujuinya. Ketika saya bertemu dengannya di sebuah perhelatan keluarga, dia memang terbukti semakin cantik sebab dia berkerudung yang serasi dengan baju yang dikenakannya saat itu. Wajahnya tak terlihat pucat, sebab dia tetap memolesnya dengan bedak tipis, perona pipi juga perona bibir. Tapi kuku-kuku jarinya, jelas saja membiru lebih biru daripada apa yang saya alami sekarang. Oleh sebab itu saya menduga terapi sinshe saya ada manfaatnya bagi pengobatan penyakit saya.
Setahun belakangan ini Ina mulai kesulitan bernafas. Dokter yang merawatnya memastikan kankernya sudah menjalar hingga ke paru-parunya. Untuk itu dia sering sekali keluar-masuk perawatan di RS. Sedangkan tabung oksigen tak pernah lepas dari hidungnya. Untuk menciptakan rasa ceria di hati si sakit, keluarganya sengaja membungkus tabung oksigen yang biru besar menyeramkan itu dengan semacam sarung guling bermotif ceria. Tapi keceriaan itu tak pernah tercapai, sebab setiap menjelang sore tabung besar itu habis isinya lalu kembali menyiksa si sakit. Betapa besar biaya yang dikeluarkan untuk perawatannya, saya ketahui dari terjualnya kedua buah rumah yang mereka miliki supaya masih bisa membayar biaya RS. Tak usah diragukan lagi, sebab kata dokter onkologi saya, setiap pasien kanker sebaiknya memang didanai dengan bantuan pemerintah, semacam Jamkes yang saya terima itu. Begitu pun kata istri sepupu saya yang bertugas sebagai perawat unit hemodyalisa (cuci darah) di sebuah RS di Bandung. Memang ada aturannya bahwa Jamkes diutamakan untuk mendanai pasien-pasien berpenyakit berat, terutama pasien gagal ginjal terminal yang harus dicuci darah dan pasien kanker. Sepupu saya bahkan nampak bersyukur ketika mengetahui bahwa saya sudah mendapat dana Jamkes dengan sendirinya tanpa bujukannya. Dia memuji saya yang cukup cerdik untuk menyiasati dana pengobatan saya. Ya, kanker itu mematikan tak saja manusianya, melainkan juga kehidupan di sekitarnya sebab dana yang ada akan selalu habis terpakai untuk pengobatan bahkan tak pernah mencukupi.
Soal dana Jamkes itu, tiba-tiba saya teringat keluhan keluarga almarhumah yang mengatakan sewaktu ide bergulir dari saya untuk memohon bantuan dana dari pemerintah keluarga kandung almarhumah melarang. Kata mereka Jamkes untuk menolong orang tidak punya. Di satu sisi saya rasa memang benar, tapi di sisi lain kami mempertanyakan kalau sampai sudah tidak punya harta benda lagi yang bisa digadaikan bukankah berarti keluarga si sakit juga termasuk orang tidak punya? Waktu itu sebersit pikiran kotor menghinggapi perasaan kami.
Ternyata ketika kemudian saya duduk dan berbicara baik-baik dengan kakak almarhumah yang bekerja sebagai pegawai RS dulunya, terkuaklah bahwa pelarangan mereka soal dana Jamkes bukan karena gengsi. Tetapi mengingat bobot tubuh si sakit tak mencapai tiga puluh kilogram, mereka kebingungan akan ditusukkan di mana jarum infus di RS seandainya almarhumah bisa dirawat dengan bantuan dana Jamkes.
Betul sekali. Di akhir hayatnya pasien ini sama sekali tidak lagi bisa menerima asupan makanan lewat mulut. Sebagaimana umumnya pasien yang dikemoterapi, sariawan mengganggu mulai dari rongga mulut hingga ke kerongkongan si sakit. Ini adalah suatu hal yang patut saya syukuri pada diri saya, sebab tidak pernah saya alami karena saya justru merasakan gangguan di kulit kepala saya berupa tumbuhnya bisul-bisul kecil akibat meradangnya sel rambut yang terbakar obat kemoterapi. Akibat sariawan itu dia tidak lagi bisa makan sebagaimana normalnya. Belakangan malah tak ada seteguk air pun yang bisa masuk perutnya. Pasalnya, ketika paru-parunya terserang kanker, saluran nafasnya ikut tertutup, buntu sehingga mempersempit saluran makanan di dekatnya. Dalam keadaan seperti itu si sakit akhirnya mengeluh lelah menghadapi sakitnya, tak tahan lagi dan minta didoakan agar cepat-cepat diambil ke HaribaanNya. Sakitnya hati saya mengingat itu semua.
Kanker memang jahat. Diharapkan penderita dan keluarganya punya pengetahuan luas untuk bisa melawannya. Jadi ketika memerlukan terapi alternatif kita tak asal pilih mau mengikuti yang mana. Semua harus dipertimbangkan rasionalitasnya, untuk mencapai kesembuhan yang sempurna. Cermat-cermat lah di dalam menatalaksana penyakit mematikan ini. Tak ada yang tak mungkin kalau kita punya pengetahuan luas, bukan?!
(Bersambung)
Saya merenunginya di setiap saat. Baik ketika saya terjaga di tempat tidur, maupun ketika saya melakukan segala aktivitas harian saya. Pipi bulat, perut buncit dan ikal rambut lebat bocah itu bermain-main di pelupuk mata saya. Saya lantas teringat di malam pertama kematian ibundanya, dia menangis di atas pembaringannya sambil memeluk erat foto sang ibu. Di sisinya tante yang disayanginya tak mampu meredam kehilangan mendalam itu.
Di malam kedua, dia bahkan menangis di dalam mobil ketika tantenya pergi ke luar rumah membawanya menghilangkan kedukaan itu. Tangis itu tak mau hilang bahkan sesudah dia kembali ke pembaringannya dan memeluk foto ibundanya yang sejak kemarin tak boleh dipindahkan dari atas bantalnya. "Aku mau ke makam, aku mau sama Mama," rengeknya merintih membekaskan lara di hati siapa pun yang mendengarnya. Waktu itu saya berusaha membujuknya dengan memberikan pengertian bahwa malam hari makam tak ada penjaganya, sehingga orang tak boleh ke sana. Karena itu dia harus menghentikan tangisnya supaya tidak kelelahan untuk berziarah keesokan harinya. Saya bujuk dia untuk segera tidur meski kemudian saya dapat laporan dari bibinya itu bahwa akhirnya si bibi mendahului tidur karena si kecil terus saja menangis, bahkan akhirnya si kakak yang baru saja lulus SMP dengan nilai amat memuaskan juga menangis dalam diam. Ah, pedih rasanya hati ini.
Begini rasanya jadi orang sakit. Stamina jauh berkurang. Dulu saya sanggup untuk bepergian jauh tanpa istirahat yang cukup selama itu. Namun sekarang, baru saja melaju ke Bandung yang jarak tempuhnya cuma 180 km saja seluruh tenaga saya rasanya terkuras habis. Apalagi selama dua hari di sana saya sama sekali mengabaikan acara baring-baring seperti yang diharuskan sinshe saya maupun dokter. Kelelahan ditambah beban pikiran ini amat menyusahkan saya. Tak habis-habisnya saya berdzikir memohon kekuatan saya dikembalikan olehNya.
***
Sambil berbaring saya mengenangkan kembali kisah sakitnya Ina. Waktu pertama kali dia merasa menemukan tumor di tubuhnya, ukurannya belum sebesar ukuran yang saya rasakan bertumbuh di tubuh saya. Tapi tumor kami sama-sama tumor yang teraba dengan tangan namun tak bisa bergerak-gerak ketika diraba dengan digoyangkan. Sebelum tumornya menjadi sakit seperti yang saya alami, Ina sudah lebih dulu waspada. Dia membawa kasusnya ke dokter umum yang kemudian merujuknya ke dokter bedah. Karena mendapat penjelasan bahwa dia terserang tumor, Ina lari ke pengobatan alternatif seperti halnya saya.
Dia menggunakan terapi juice dan herbal serta totok yang tidak sama dengan terapi yang digunakan sinshe saya. Tangan si terapis sama sekali tidak menyentuh kulit si sakit, sebagaimana yang dilakukan sinshe saya. Terapis ini bukan seorang sinshe, melainkan seorang pribumi. Satu tahun berobat dengan menghabiskan biaya yang sangat besar sebagaimana yang saya alami juga, penyakit Ina tidak kunjung membaik. Bahkan dia mulai merasakan sakit-sakit pada tulang belakangnya. Berbeda dari kondisi saya yang alhamdulillah sampai sekarang tidak pernah merasa sakit tulang. Sedangkan tumornya pun semakin membesar bagaikan tak tertangani.
Saya ingat waktu saya menengoknya dua tahun yang lalu, dia kemudian beralih ke dokter onkologi yang memeriksanya secara medis lebih teliti. Dari hasil biopsi, diketahui bahwa dia menderita kanker stadium II-C yang menyebar hingga ke tulang belakangnya. Berhubung tumor di payudaranya terawat baik sehingga tidak sampai luka pecah seperti tumor saya, dokter mendahulukan mengobati kanker tulangnya. Dia menerima serangkaian panjang kemoterapi, lebih dari sepuluh kali bahkan lebih dari selusin kali. Dalam pada itu saya ingat keluarganya masih terus memberinya juice termasuk juice sayuran yang terbuat dari brokoli dan entah sayur hijau apa namanya yang saya tidak hafal. Keyakinan keluarganya, juice itu bisa juga menjadi terapi penunjang si sakit. Tak ada bedanya dengan yang saya kerjakan sampai sekarang, sekali pun saya sudah diobati dokter onkologi, tetapi minum juice masih merupakan menu harian saya yang terbukti membantu mempertahankan sel-sel liar di payudara saya tidak sampai menyebar ke bagian tubuh lainnya. Selain itu, saya boleh dikata selalu fit sewaktu akan dan sudah menjalani kemoterapi.
Ina kemudian menjalani terapi untuk kanker payudaranya, dengan dibuang keseluruhan jaringan payudaranya yang sakit. Setelah itu dia menerima tujuh kali entah sembilan kali ~saya lupa~ kemoterapi yang membuatnya tidak menjadi semakin segar juga. Meskipun demikian semua diterimanya dengan baik, bahkan dia menyemangati saya untuk mau menjalani rutinitas kemoterapi itu. Katanya menjadi botak justru membuat seseorang tampil berbeda dan cantik karenanya. Saya sempat tersenyum simpul menyetujuinya. Ketika saya bertemu dengannya di sebuah perhelatan keluarga, dia memang terbukti semakin cantik sebab dia berkerudung yang serasi dengan baju yang dikenakannya saat itu. Wajahnya tak terlihat pucat, sebab dia tetap memolesnya dengan bedak tipis, perona pipi juga perona bibir. Tapi kuku-kuku jarinya, jelas saja membiru lebih biru daripada apa yang saya alami sekarang. Oleh sebab itu saya menduga terapi sinshe saya ada manfaatnya bagi pengobatan penyakit saya.
Setahun belakangan ini Ina mulai kesulitan bernafas. Dokter yang merawatnya memastikan kankernya sudah menjalar hingga ke paru-parunya. Untuk itu dia sering sekali keluar-masuk perawatan di RS. Sedangkan tabung oksigen tak pernah lepas dari hidungnya. Untuk menciptakan rasa ceria di hati si sakit, keluarganya sengaja membungkus tabung oksigen yang biru besar menyeramkan itu dengan semacam sarung guling bermotif ceria. Tapi keceriaan itu tak pernah tercapai, sebab setiap menjelang sore tabung besar itu habis isinya lalu kembali menyiksa si sakit. Betapa besar biaya yang dikeluarkan untuk perawatannya, saya ketahui dari terjualnya kedua buah rumah yang mereka miliki supaya masih bisa membayar biaya RS. Tak usah diragukan lagi, sebab kata dokter onkologi saya, setiap pasien kanker sebaiknya memang didanai dengan bantuan pemerintah, semacam Jamkes yang saya terima itu. Begitu pun kata istri sepupu saya yang bertugas sebagai perawat unit hemodyalisa (cuci darah) di sebuah RS di Bandung. Memang ada aturannya bahwa Jamkes diutamakan untuk mendanai pasien-pasien berpenyakit berat, terutama pasien gagal ginjal terminal yang harus dicuci darah dan pasien kanker. Sepupu saya bahkan nampak bersyukur ketika mengetahui bahwa saya sudah mendapat dana Jamkes dengan sendirinya tanpa bujukannya. Dia memuji saya yang cukup cerdik untuk menyiasati dana pengobatan saya. Ya, kanker itu mematikan tak saja manusianya, melainkan juga kehidupan di sekitarnya sebab dana yang ada akan selalu habis terpakai untuk pengobatan bahkan tak pernah mencukupi.
Soal dana Jamkes itu, tiba-tiba saya teringat keluhan keluarga almarhumah yang mengatakan sewaktu ide bergulir dari saya untuk memohon bantuan dana dari pemerintah keluarga kandung almarhumah melarang. Kata mereka Jamkes untuk menolong orang tidak punya. Di satu sisi saya rasa memang benar, tapi di sisi lain kami mempertanyakan kalau sampai sudah tidak punya harta benda lagi yang bisa digadaikan bukankah berarti keluarga si sakit juga termasuk orang tidak punya? Waktu itu sebersit pikiran kotor menghinggapi perasaan kami.
Ternyata ketika kemudian saya duduk dan berbicara baik-baik dengan kakak almarhumah yang bekerja sebagai pegawai RS dulunya, terkuaklah bahwa pelarangan mereka soal dana Jamkes bukan karena gengsi. Tetapi mengingat bobot tubuh si sakit tak mencapai tiga puluh kilogram, mereka kebingungan akan ditusukkan di mana jarum infus di RS seandainya almarhumah bisa dirawat dengan bantuan dana Jamkes.
Betul sekali. Di akhir hayatnya pasien ini sama sekali tidak lagi bisa menerima asupan makanan lewat mulut. Sebagaimana umumnya pasien yang dikemoterapi, sariawan mengganggu mulai dari rongga mulut hingga ke kerongkongan si sakit. Ini adalah suatu hal yang patut saya syukuri pada diri saya, sebab tidak pernah saya alami karena saya justru merasakan gangguan di kulit kepala saya berupa tumbuhnya bisul-bisul kecil akibat meradangnya sel rambut yang terbakar obat kemoterapi. Akibat sariawan itu dia tidak lagi bisa makan sebagaimana normalnya. Belakangan malah tak ada seteguk air pun yang bisa masuk perutnya. Pasalnya, ketika paru-parunya terserang kanker, saluran nafasnya ikut tertutup, buntu sehingga mempersempit saluran makanan di dekatnya. Dalam keadaan seperti itu si sakit akhirnya mengeluh lelah menghadapi sakitnya, tak tahan lagi dan minta didoakan agar cepat-cepat diambil ke HaribaanNya. Sakitnya hati saya mengingat itu semua.
Kanker memang jahat. Diharapkan penderita dan keluarganya punya pengetahuan luas untuk bisa melawannya. Jadi ketika memerlukan terapi alternatif kita tak asal pilih mau mengikuti yang mana. Semua harus dipertimbangkan rasionalitasnya, untuk mencapai kesembuhan yang sempurna. Cermat-cermat lah di dalam menatalaksana penyakit mematikan ini. Tak ada yang tak mungkin kalau kita punya pengetahuan luas, bukan?!
(Bersambung)
Sabtu, 15 Juni 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (70)
Malaikat itu telah menjemputnya Rabu (12/06) sore ketika dia berada di dalam gendongan suaminya. Tak seorang pun mampu mempertahankannya, setelah tubuh ringkihnya sendiri menolak untuk bertahan lebih lama lagi di dunia. Ya, saya bisa memakluminya sebab saya merasakan sendiri betapa nyerinya kanker mengganggu kehidupan seseorang.
Senyum tetap disunggingkan di wajahnya, meski mata yang bulat bola itu sudah tak bisa mengungkapkan sinar kebahagiaan seperti yang biasanya terlihat ketika dia merasa senang. Tapi saya tahu, perempuan itu merasakan kesenangan yang abadi, sebab tak akan ada lagi rasa sakit yang menguras semua tenaganya. Dia telah berpulang ke Keabadian meninggalkan cinta pertamanya yang abadi beserta dua orang anak lelaki buah kasih mereka yang masih amat belia.
Sore itu saya baru saja menyelesaikan sembahyang. Saya masih berdzikir memohonkan mukjizat terjadi untuk perempuan itu, karena beberapa kali seharian itu saya berhubungan dengan keluarga di dekatnya memantau perkembangan kondisi si sakit. Tiba-tiba berita duka itu datang mengakhiri semuanya. Tapi sembahyang saya justru tak langsung berakhir. Saya lanjutkan kemudian dengan membaca Surah Yasiin yang saya khususkan untuk mengantarkan kepergiannya. Sementara itu air mata mengalir deras dari mata batin saya, tapi tak sampai ke permukaan. Ini memang kebiasaan yang muncul begitu saja sejak dulu ketika hati saya sangat berduka. Sedangkan anak-anak saya mulai sibuk mengirim berita duka cita ini melalui jejaring sosial milik mereka dan hubungan telepon ke berbagai pihak. Kesedihan datang menyergap membawa aroma banjir air mata ke segala penjuru. Tuhan tak menghendaki si sakit menderita lebih lama dari pengalaman sakitnya yang telah menyita waktu empat tahun hingga menelan semua kekayaan yang dimilikinya. Karena itu semua kerabat menangis untuknya.
***
Buru-buru saya mengontak dokter onkologi saya untuk minta izin melayat ke Bandung, seraya minta maaf terpaksa mengulur jadwal ke dokter. Padahal rencananya hari itu saya ke dokter untuk memeriksakan kesehatan saya pasca kemoterapi sesuai aturan, serta menetapkan rencana hari operasi. Saya berharap dokter bersedia meluangkan waktu untuk membaca SMS saya.
Anak saya sibuk mencari kendaraan yang bisa disewa. Sayang tak ada yang kosong, namun kami tertolong oleh travel langganan kami yang berpangkalan di perumahan kami juga untuk pemberangkatan pukul lima pagi. Jadi setelah melaksanakan sembahyang subuh, tanpa sarapan lagi kami langsung berangkat agar tidak ketinggalan pemakaman jenazah. Ada keinginan kuat kami untuk melihat jasadnya terakhir kali.
Sopir membawa kami menjemput dua penumpang lagi di perumahan yang jauh dari lokasi kami, yang akhirnya saya kenali sebagai perkampungan dengan jalan berlumpur batu-batu besar lagi licin di masa dulunya. Walau pun jalanan itu tetap sempit seperti semula, tetapi jangan ditanya keadaan sekitarnya. Sudah sangat banyak berdiri rumah-rumah batu bagus yang merupakan perumahan. Meski begitu saya kurang menikmati perjalanan ke situ karena saya justru ingin segera sampai di rumah duka. Untunglah kami bersepakat untuk mengambil jalur tol supaya tidak harus melalui Puncak yang berkelok-kelok dan terasa menjadikan jarak semakin jauh.
Sepanjang perjalanan meski para penumpang tenang bahkan ada yang terlelap, tapi saya tak bisa mengikutinya. Pikiran saya tertuju kepada kedua anak almarhumah yang masih kecil. Tanpa pelukan ibunda tentu mereka akan kesepian dan kehilangan kehangatan cinta yang selama ini senantiasa melingkupi mereka meski si pemiliknya sedang didera sakit. Berlompatan satu demi satu adegan di rumah tangga mereka yang dulu sering juga saya saksikan. Tak pelak lagi tangis di hati menggoda saya.
Untung pagi itu tak ada hambatan di jalan, dan keluarga kami merupakan penumpang kedua yang diturunkan di tujuan sehingga kami masih bisa menyaksikan si cantik dibaringkan di antara banyak pelayat yang sebagian masih melantunkan doa dengan mata yang merah basah. Tubuh di atas permadani tua di ruang keluarga itu betul-betul tak lagi saya kenali. Sangat jauh berbeda dari sosok si cantik yang tak pernah membosankan dipandang mata.
ALMARHUMAH INA LUFIANI DENGAN IBU MERTUANYA
Lihatlah pipi berisi itu yang menonjol dari wajah berseri-seri. Siapa sangka dia penderita kanker payudara stadium IIC di masa itu, yang kemudian menyebar hingga ke tulang belakangnya? Dan kini tak disangka, kanker yang diperanginya dengan segenap tenaga serta hartanya tega memisahkan dia dari keluarganya terutama anak-anak lelaki kecilnya setelah terlebih dulu melumpuhkan paru-paru dan sistem pernafasannya. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Semua barang bernyawa akan kembali ke Pemiliknya jua. Dia sudah tiba pada akhir hayatnya di dunia untuk menyongsong kehidupan barunya. Saya sadari, tak seorang pun yang berhak untuk menahannya.
***
Tadi pagi giliran saya merawatkan penyakit saya ke RS. Tapi sebetulnya saya sudah terlambat dari jadwal yang semestinya. Seharusnya seminggu lalu saya sudah diperiksa onkologis saya pasca kemoterapi ke-empat yang direncanakannya menjadi kemoterapi terakhir saya menjelang dioperasi. Akan tetapi seperti yang saya keluhkan, onkologis saya tak datang berpraktek karena sibuk dengan tugas utamanya sebagai PNS di Jakarta. Saya diharapkan datang hari Rabu, karena beliau bilang beliau akan berpraktek. Sayang saya harus melawat, sehingga saya mengirim SMS minta izin datang di hari Sabtu, mundur seminggu lagi. Sayang SMS saya kali ini mengalami nasib sia-sia seperti kebanyakan SMS pasien lain. Tak ada jawaban dari beliau.
Kemudian saya minta anak saya menghubungi asisten senior beliau untuk mendapatkan kejelasan mengenai hari praktek berikutnya. Ini pun tetap tak terjawab, karena sang asisten tak bisa menghubungi dokter super sibuk tadi. Padahal sebagai pasien pengguna Jamkes saya harus tahu persis surat rujukan Puskesmas akan saya pergunakan berobat di dokter yang mana. Rasanya saya nyaris putus asa. Untung saya teringat Zuster Maria, Perawat Kepala yang manis budi itu. Saya tanyai beliau dengan SMS sambil mengajukan pertanyaan kemana sebaiknya saya memeriksakan diri. Beliau ini cukup responsif sehingga saya bisa melangkah mantap ke RS mendatangi dokter spesialis bedah umum daripada nasib saya tak menentu dan penyakit saya tak tertangani dengan baik. Beginilah nasib jadi orang kecil penghuni kota kecil. Semua serba terbatas adanya.
Jadi tadi pagi saya berangkat untuk menemui dokter spesialis bedah umum itu. Ketika tahu bahwa dokter onkologis saya tak jelas kedatangannya, menantu saudara saya yang kebetulan perawat memberitahukan bahwa di masa datang dalam waktu dekat ketika izin operasi RS habis kemungkinan struktur RS akan berubah. Sangat mungkin harapan saya untuk mendapat RS ini sebagai RSU milik pemerintah tercapai. Tapi, dokter onkologis saya kata kemenakan tadi tak lagi akan dipertahankan, disebabkan kesibukannya di Jakarta itu tadi. Sekarang dalam wacana santer bergulir kabar bahwa onkologis hanya tinggal seorang, yang hingga saat ini menjadi dokter tetap PNS di salah satu RSUD di kota kami. Untuk itu saya disarankan untuk pindah dokter saja, meski dia tidak menyatakan ke siapa sebaiknya. Namun dia senang hari ini saya berkonsultasi ke dokter spesialis bedah umum. Pokoknya perawatan saya terus berlangsung dan dalam kendali pengawasan dokter bedah.
Selepas makan pagi di kantin RS seperti biasanya, saya langsung menuju ke klinik. Di situ saya mendapat nomor giliran kecil sehingga alhamdulillah kebetulan dokter pun datang agak awal, saya diperiksa lebih pagi juga. Dokter yang cenderung tidak murah senyum namun ramah dan mau diajak berdiskusi ini sedikit terkejut mendapati saya di hadapannya. Setelah saya jelaskan kondisi terkini saya, dokter setuju menangani saya. Wajahnya menunjukkan kekecewaan sebab pasca kemoterapi saya terlambat dikontrol padahal kali ini kadar sel darah putih saya cukup rendah. Secara bergurau saya katakan bahwa kami mengharap beliau berkenan belajar sub spesialisasi kanker agar kelak beliau yang menangani pasien kanker di sini sekaligus memimpin RS ini dengan segala ketulusan hatinya yang setia mengabdi pada profesinya. Beliau cuma tersenyum sekilas, namun saya tahu beliau tertohok juga.
Selanjutnya beliau memeriksa tumor saya tak kalah telitinya dari onkologis. Dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai keluhan fisik saya pasca kemoterapi. Lalu beliau memutuskan untuk menangani saya dengan tulus, tapi tidak mengoperasi sekarang. Menurutnya tumor saya masih cukup besar untuk bisa dioperasi. Karena itu saya harus menjalani serangkaian kemoterapi lagi atas perintah dan pengawasannya.
Apa boleh buat, tak ada rotan akar pun berguna. Tak ada onkologis, beliau pun ada manfaatnya untuk penanganan penyakit saya. Dengan senang hati saya menyetujui rencana ini. Bahkan saya tak takut menjalaninya. Yang saya takuti justru kematian kalau saja saya tak tertangani dengan cermat. Bahkan sempat saya tanyakan mengapa orang muda dengan stadium yang lebih rendah dari saya kankernya bisa menyebar dengan cepat dan tak merespons pengobatan yang diberikan meski dia sudah menjalani tujuh kali kemoterapi untuk kanker payudaranya dan lebih banyak lagi untuk kanker tulangnya. Dokter mengatakan faktor usia menentukan itu. Pasien dengan usia yang muda, lebih cepat menjadi agresif. Jadi saya seakan-akan diminta untuk tak terlalu memikirkan diri saya. Lewat keterangan medis yang bersifat teknis yang sulit saya terangkan di sini, beliau memberi gambaran bahwa ada faktor-faktor pemicu kanker tertentu yang membuat antara seorang pasien dengan pasien lainnya tidak sama progres penyakitnya. Begitu tenangnya beliau menjelaskan itu membuat hati saya jadi tertata baik. Ternyata untuk saya, selalu ada penghiburan di balik setiap kepedihan yang ditimbulkan oleh berbagai peristiwa memilukan di depan mata. Allah itu terbukti Maha Baik adanya. Alhamdulillah!
(Bersambung)
Senin, 10 Juni 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (69)
Biru bukanlah warna kegemaran saya. Tapi tak bisa tidak, setiap hati saya merasa gundah, sedih atau semacam itu selalu saja kata "biru" mampir di benak saya. Seakan-akan merajai suasana hati saya, membawa saya kepada rasa pedih yang begitu dalam.
Biru juga yang membuat saya merasa menemukan ketenangan setelah saya membayangkan kelembutan warnanya. Karena untuk saya di dalam kejernihan warna biru ada keteduhan yang menawarkan penghiburan untuk saya guna mengusir segala nestapa.
Biru adalah nuansa hati saya sejak semalam, ketika saya mendengar tentang kerabat saya sesama penderita kanker payudara yang sudah bertahun-tahun hingga menyebar ke tulang belakang dan paru-parunya berada dalam keadaan kritis sejak kemarin dulu. Padahal pengobatan yang dilaluinya sudah cukup beragam baik secara alternatif maupun secara medis empiris. Tak terbilang jumlah kemoterapi yang diterimanya, hingga operasi dan sederet tindakan medis lainnya guna memerangi kanker itu. Hartanya seperti yang sudah bisa diduga, bahkan lebih patut dikasihani dibandingkan harta keluarga saya, sudah habis semua. Rumahnya dipindahtangankan dengan paksa ketika keluarganya harus menyediakan sejumlah besar dana lagi untuk ke rumah sakit. Sampai akhirnya atas belas kasihan keluarga dia menetap kembali di rumah warisan mendiang orang tuanya dengan segala keterbatasan yang ada. Pahit sekali mengenangkannya. Sepahit ketika tak sengaja saya menggigit sayur pare yang seumur-umur tak pernah saya sukai, juga daun pepaya yang pernah jadi jamu favorit ibu mertua saya untuk menambah stamina dan nafsu makan keluarganya.
***
Ini adalah kali kesekian saya mendengar keluhan keluarga penderita kanker payudara yang benar-benar sudah kehabisan dana dan daya. Tak bisa tidak, sebagai pengguna SKTM saya dan anak-anak jadi tergerak untuk menganjurkan keluarga itu meminta bantuan pengobatan dari pemerintah. Apalagi mengingat sang kepala keluarga yang berwiraswasta kecil-kecilan di rumahnya kini praktis tak lagi bisa menunggui dagangannya. Ditambah melihat anak mereka yang masih kecil semua. Seorang di antaranya konon bahkan tak lagi terurus sehingga selayaknya memerlukan uluran tangan negara. Sebab keluarga besar mereka sendiri semuanya hidup dalam serba keterbatasan sehingga tak bisa mengulurkan bantuan.
Kabar yang membirukan hati saya menyebutkan, pasien berusia 46 tahun itu kini hanya tergolek lemah dengan pandang mata kosong di tempat tidurnya. Bahkan mulutnya tak lagi bisa mengaduh menjeritkan sakit yang diwakili oleh deraian air mata berlinangan. Mata bulat yang bolanya pernah memukau saya itu kini redup sayu, demikian cerita seseorang yang menengoknya. Pasien itu tak lagi mengenali siapa-siapa, termasuk sanak saudaranya sendiri.
Tak pelak hati saya teriris. Rasanya lebih pedih daripada rasa sakit yang saya tanggung sendiri. Seharian kemarin saya terpaksa mengurung diri di rumah dan kembali melempar "tantrum" ke mana-mana. Termasuk kepada anggota keluarga saya yang tak punya salah apa pun kepada saya.
Demi mendapati keadaan saya, anak bungsu saya segera berinisiatif untuk menelepon kerabat si sakit yang paling dekat dengan keluarga itu, dari siapa saya mendengar kabarnya. Anak saya mengajari untuk membujuk sang kepala keluarga meminta SKTM seperti yang saya peroleh agar si pasien bisa segera dilarikan ke rumah sakit. Sedihnya saya justru mendengar bahwa si pasien memang benar-benar sudah bagai tulang berbalut kulit, dengan bobot tubuh tak lebih dari tiga puluh kilogram saja untuk posturnya yang tinggi. Bayangan saya segera tertancap di Kamp Konsentrasi Mauthausen, Austria, yang kami kunjungi dulu sekali untuk mempelajari sejarah kekejaman Hitler dengan Nazinya. Di sana dipamerkan foto-foto para penghuni kamp yang persis seperti tengkorak, tulang berbalut kulit. Ah, ngeri sekali rasanya, membuat mata saya basah gelap oleh lelehan kepedihan dari mata batin saya.
Kata anak saya membujuk, mengurus SKTM pada mulanya memang terasa melelahkan. Namun setelah memanfaatkan hasilnya, kini yang ada hanya rasa bahagia. Tak ada lagi penyesalan, gerutuan dan semacamnya akibat proses pengurusan SKTM yang panjang itu mulai dari tingkat pengurus RT hingga ke Dinas Kesehatan Kota. Lelah yang terasa, katanya hilang begitu saja. Terharu saya mendengar ungkapan hati anak saya di telepon di dekat saya semalam. Dia menekankan bahwa dia tak merasa sia-sia telah melakukan serangkaian kegiatan yang menyita waktu kuliah dan belajarnya itu demi memperoleh bantuan pemerintah yang insya Allah bisa memperpanjang umur saya.
***
SKTM memang untuk warga tidak mampu. Keluarga kandung si sakit selama ini tak pernah tahu kenyataan yang sesungguhnya pada keluarga mereka. Walau setiap hari mereka bergantian datang menengok bahkan turut merawatnya, tetapi mereka tidak mengerti bahwa suami si sakit sudah kehabisan dana untuk melanjutkan pengobatan di RS. Itulah sebabnya kini pasien dibiarkan terbujur di rumah peninggalan orang tuanya dengan pengobatan seadanya. Jadi, ketika saya mengusulkan untuk minta bantuan kepada pemerintah, kata kerabatnya yang lagi-lagi bersedia saya hubungi, keluarga kandung si sakit berkeberatan. Salah seorang di antaranya memang pensiunan pegawai administrasi di RSUD. Jadi dia melarang permintaan SKTM dengan alasan keluarga si sakit tidak pantas memperolehnya, dan karenanya tak berhak mendapatkan SKTM.
Terhenyak saya ketika mendengar itu. Tidakkah mereka melihat sendiri kondisi rumah tangga keluarganya yang katanya setiap hari mereka jenguk berjam-jam itu? Apakah suaminya harus dipaksa memasukkan istrinya ke RS dengan berhutang sana-sini? Seketika mata saya buram. Beningnya bola mata saya tertimbun air yang tiba-tiba minta saya tangiskan. Benar kata sebagian besar kerabat saya bahwa saya adalah orang yang mudah tersentuh, halus perasaannya. Saya coba untuk menahannya keluar agar tak terlihat anak saya yang asyik di muka layar PC nya di dekat saya. Bibir yang lama tak saya polesi pewarna saya gigit sendiri sebab saya berharap tangis itu berhenti di sini.
Duh, nasib jadi orang kecil yang sakit kanker, di mana-mana selalu menjeritkan derita bagi seluruh keluarganya. Itu serangkai kata yang muncul di pikiran saya. Bagaimana tidak menderita jika sudah kehabisan dana tapi penyakitnya justru semakin menjadi-jadi? Bagaimana tidak sedih kalau dinilai tidak mau membawa pasien ke RS ketika si sakit jelas-jelas memang membutuhkan penanganan medis yang serius tapi tak punya uang? Ini cobaan berat yang tak bisa diselesaikan hanya dengan memohon Pertolongan Tuhan dengan kesabaran dan ketawakalan. Sebab ada masalah duniawi di belakangnya, yakni hilangnya respek keluarga sedarah sedaging si sakit terhadap keluarga inti si pasien, yaitu suami/istri nya. Mereka mengira si sakit ditelantarkan, sedangkan suami/istri si sakit malu untuk mengungkapkan situasi sesungguhnya yang sudah habis-habisan itu.
Akhirnya saya menghubungi lagi kerabat saya itu untuk memaksanya pergi mengurus SKTM secara diam-diam. Alhamdulillah dia mengerti tujuan baik saya, sehingga hari ini dia sedang dalam proses pengurusan SKTM tanpa sepengetahuan saudara sedarah sedaging si sakit. Ah, peduli amat dengan gengsi keluarga, yang penting si sakit terdanai untuk mendapat perawatan di RS. Itu yang jadi tekad saya. Dalam kesusahan berpacu melawan maut begini, apa gunanya gengsi dilekatkan pada pribadi kita bukan?! Ini buktinya, saya sendiri tanpa merasa gengsi, tak merasa jadi rendahan, sudah tertolong oleh dana Pemerintah sehingga aman sentosa menjalani pengobatan saya :-)
(Bersambung)
Sabtu, 08 Juni 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (68)
Sepokok pohon palma dengan daunnya yang menjulur seperti ditata indah menyapa mata saya ketika kaki melangkah ke dalam halaman rumah sakit. Sesungguhnya memang banyak deretan palma di situ. Selama ini saya melewatinya begitu saja, hingga tak sengaja tadi pagi tiba-tiba saya menyadari keberadaannya. Agaknya hati saya sedang senang, sebab ini adalah kontrol pasca kemoterapi saya yang dijadwalkan kemoterapi terakhir yang artinya akan segera berlanjut dengan operasi. Betul, saya amat mengingini operasi itu karena saya tak tahan lagi dengan tumor saya yang luka menyakitkan ini. Walau pengertian operasi itu adalah menyakiti daging tubuh saya tapi sakitnya tentu menuju kesembuhan selamanya. Apalagi kalau kelak saya jadi menerima kemoterapi lagi selama setahun penuh. Saya berharap nyawa saya kembali diperpanjang Sang Maha Memiliki supaya saya bisa mendampingi kedua anak saya hingga mereka memiliki keluarga masing-masing. Dan tentunya juga supaya teman-teman karib saya yang kebaikannya tidak tertandingi kepada saya itu bisa merasakan buah keberhasilan dari upaya mereka merawat dan menyayangi saya. Semogalah, amin.
Udara pagi cuma terisi hangatnya sinar matahari yang menjulur dari langit sehingga saya tak bisa membayangkan daun-daun palma itu bagaikan tangan penari serimpi di kraton-kraton Jawa. Tapi meski begitu saya justru senang karenanya, sebab anomali cuaca tahun ini yang katanya akan selalu mendatangkan hujan sepanjang masa tak terbukti. Sejak sakit begini entah mengapa jika bepergian saya jadi selalu takut tersergap hujan lebat. Tapi barangkali wajar saja sebab tubuh saya memiliki daya tahan yang lemah akhir-akhir ini. Itu jugalah sebabnya hari ini saya nekad ke RS meski saya sudah tahu dari tangan dokter onkologi sendiri bahwa beliau tak bisa berpraktek sebab punya agenda sebagai pembicara di salah satu seminar di ibu kota. Tak mengapa, saya akan mengunjungi penggantinya, dokter bedah umum senior itu sebab ini memang harinya pemeriksaan pasca kemoterapi. Dengan begitu hari Rabu mendatang saya sudah punya laporan yang akurat tentang perkembangan penyakit saya ketika dokter onkologi memeriksa, supaya penatalaksanaan pengobatan penyakit saya bisa segera diatur dengan cermat.
Seperti biasanya halaman RS pada pukul tujuh kurang sedikit sudah dipenuhi para pegawainya yang melaksanakan senam pagi. Saya pikir dokter bedah umum itu seperti biasanya ada juga di sana membaur bersama para perawat dan tenaga administrasi. Besar sekali hati saya hendak menjemput upaya penyembuhan. Senyum tersungging di bibir saya, langkah pun ringan menuju ke lobby RS membaur bersama puluhan pasien yang sudah datang lebih dulu.
Petugas pendaftaran menyatakan dokter onkologi saya berpraktek sore itu, meski sudah saya bantah. Tapi dia pun mengizinkan saya mendaftar ke klinik bedah umum untuk dokter senior yang saya maksud. Tak ada keterangan apa pun darinya sehingga saya merasa beruntung mendapat nomor kecil di daftar tunggu pasien. Lalu setelah menyelesaikan administrasi pendaftaran seperti biasanya saya serahkan lengan saya kepada petugas laboratorium yang dimintai jasa memeriksa kadar dalam darah saya. Di situ pun kali ini saya beruntung. Saya merupakan pasien pertama. Pintu klinik baru dibuka, pegawainya belum lengkap datang. Teknisi laboratorium yang akan bertugas nampak masih merapikan peralatan serta ruangan. Saya dipersilahkan menunggu sejenak, benar-benar cuma sejenak sebab tak ada pasien lain.
Lalu petugas lelaki yang masih muda, bukan petugas yang biasanya berdinas dan sudah sangat mengenali saya mempersilahkan saya masuk. Saya sodorkan lengan kanan saya dengan catatan supaya dia berhati-hati karena minggu lalu vena saya habis ditusuki di sana-sini sehingga saya khawatir keadaannya belum pulih. "Di sini saja ya, mudah-mudahan bisa terlihat," ujar saya seraya menyodorkan lipatan siku kanan saya. Lelaki itu mengangguk, meraih lengan saya dan memperhatikan dengan seksama sebelum masuk ke dalam mempersiapkan jarum yang pas untuk saya. "Iya bu, kelihatan, tapi tipis sekali ya?" Jawabnya membenarkan seraya memasangkan turnike (tourniquette) ke lengan saya. "Bismillah, sakit sedikit ya bu, tarik nafas yang dalam," pesannya yang saya kerjakan dengan segera. Alhamdulillah, ajaib sekali, darah mengucur segera dengan mudahnya memenuhi tabung suntikan yang dimainkan teknisi laboratorium itu. "Terima kasih pak," sambut saya bersamaan dengan ditutupnya bekas tusukan jarum itu menggunakan kapas dan secarik kain plester. Saya senang sekali atas semua kejadian pagi ini.
Di ruang tunggu laboratorium nampak mulai ada pasien lagi. Seorang lelaki paruh baya yang diantarkan anak lelakinya. Entah di mana istrinya berada. Saya membayangkan jika saya masih bersama ayah anak-anak saya, tentu tak akan saya biarkan dia pergi dengan anak-anak. Saya pasti akan mendampinginya, sebab pengalaman saya selama ini mengatakan bahwa kaum lelaki cenderung lebih cengeng di dalam menghadapi sakitnya dibandingkan kaum perempuan. Fakta yang aneh dan tak terbantahkan ini berawal dari kejadian sariawan di gusi yang diklaim seorang lelaki jantan dewasa sebagai akibat dari tersenggol mata bor sewaktu dokter gigi merawat giginya di siang itu. Baik dokter gigi maupun saya sampai tergelak-gelak seraya menggeleng-gelengkan kepala waktu melihat fakta yang sesungguhnya. Lelaki memang makhluk yang perlu genggaman tangan seorang perempuan yang disebut ibu ketika dirinya dalam keadaan sakit. Sakit apa pun itu namanya.
Berdua dengan si bungsu saya meninggalkan laboratorium guna memberi kesempatan petugas mengerjakan pemeriksaannya. Melalui pintu bagian belakang gedung kami mengarah ke kantin. Seperti biasanya kami manfaatkan waktu untuk sarapan. Di sana ada kedai favorit kami, milik pendatang dari Wonogiri. Tanpa banyak tanya dia mempersilahkan kami dan menyiapkan makanan kesukaan kami masing-masing hingga sepiring nasi goreng tandas masuk ke perut anak saya, selagi ketoprak di piring saya masih saja bersisa. Entah mengapa, akhir-akhir ini saya semakin malas makan meski masih bisa masuk dengan dipaksa-paksakan. Pemilik warung nasi itu menanyai saya, bagaimana kondisi saya hari itu seraya menanyakan anak saya Andrie yang kali ini tinggal di rumah karena terserang influensa akibat anomali cuaca itu tadi. Saya menjawab apa adanya. Dibalas perempuan itu dengan doa semoga semuanya segera membaik diiringi ucapan terima kasih saya. Agaknya orang-orang di sekitar rumah sakit mulai mengenali saya sekeluarga, batin saya seraya tersenyum.
Di selasar klinik anak-anak saya bertemu dengan Zuster Maria, Perawat Kepala yang selalu memuji keadaan saya secara berlebihan. Saya tahu itu didasari pengalamannya merawat almarhum suaminya yang diserang kanker hati sesaat. Persis seperti riwayat meninggalnya ibu mertua saya dulu. Hanya berbilang minggu mereka kembali ke tangan Sang Pemilik Nyawa.
Diberitahukannya bahwa hari itu dokter bedah umum yang saya tuju sedang mengikuti seminar juga, sehingga prakteknya digantikan dokter lain. "Bu Maria, kenapa saya nggak dikabari?" Keluh saya kecewa. Dijawabnya bahwa pemberitahuan dari dokter itu kepadanya pun serba mendadak, baru saja, sehingga dia tak sempat mengabari saya. Disarankannya untuk ke dokter hari Rabu saja, di mana dokter onkologi saya pun berpraktek. Kalau begitu tak ada yang perlu disalahkan, sehingga saya mengucapkan terima kasih dan melambai menyatakan salam perpisahan. Saya putuskan untuk segera pulang sebab kebetulan tubuh saya pun sudah minta istirahat lagi.
Baru melangkah di halaman depan saya sudah dihentikan oleh Zuster Een, perawat yang sering melayani kemoterapi saya. Dengan senyum di wajah bulatnya dia menanyai saya hendak ke mana. Saya katakan saya mau pulang sebab dokter onkologi saya tidak berpraktek, begitu juga dengan dokter bedah umum. Tapi dia tak begitu saja percaya pada pernyataan saya. Katanya sih dokter onkologi saya membuka praktek dan sudah terdaftar tujuh orang pasien hari itu. Barangkali memang tidak akan banyak, jadi katanya saya boleh menjadi pasien kedelapan kalau saya mau. Diakuinya dokter ini memang sangat sibuk. Lalu dia meminta nomor kontak saya sebab dia berjanji akan menghubungi saya secepatnya begitu dokter datang. Walau tidak percaya pada perkataannya, tak urung saya berikan juga nomor saya sehingga dia segera mengontak saya untuk memberikan nomornya yang memang belum saya miliki. Tak ubahnya kerbau dicucuk hidung, anak saya percaya saja pada perkataan bu Een meski saya tertawa di dalam hati. Tak pernah dokter saya berdusta pada saya. Di dalam SMS terakhirnya dia minta maaf baru bisa memeriksa saya hari Rabu nanti, sehingga dia tak keberatan hari Sabtu ini saya memeriksakan diri ke dokter pengganti yang ditunjuknya itu.
Baru saja sampai di luar pagar RS seorang pasien tersenyum menyapa saya begitu dia turun dari angkutan kota yang datang dari arah Kecamatan Parung di Kabupaten. "Ibu mau ke mana?" Itu yang jadi pertanyaannya. "Sudah dikemo belum?" Sambungnya seraya menceritakan bahwa dirinya akhirnya dikemoterapi hari Rabu yang lalu.
Saya jawab bahwa saya mau pulang, karena kemoterapi saya sudah di hari Sabtu seminggu yang lalu tetapi dokter tidak berpraktek hari ini jadi saya tidak bisa diperiksanya. Juga saya tambahkan bahwa dokter pengganti tidak juga datang karenanya Zuster Maria menyarankan saya datang hari Rabu persis perintah dokter onkologi dengan SMS. "Ibu terima SMS dokter?" Tanya bu Rus pasien itu dengan wajah tidak percaya mendengar penjelasan saya.
"Ya, ini dia bilang gini," kata saya meyakinkan seraya membuka pesan yang saya terima. Sementara itu katanya SMS darinya ke nomor dokter yang diperolehnya dari saya tidak ada jawabannya. "Barangkali dokternya bukan kenalan saya sih ya?" Tuduhnya membuat saya kecut. Sebab saya sendiri kan juga bukan kenalan dokter. Hanya kebetulan bertetangga kampung dan punya lingkup pergaulan yang sama. Tak urung diambilnya juga ponsel saya dan dibacalah SMS pemberitahuan dokter itu berdua dengan putrinya yang menurut anak saya sekarang tampil beda karena tiba-tiba menutup seluruh auratnya yang biasanya dibiarkan terbuka menantang mata pemuda. :-D Setelah itu saya berpamitan beranjak pulang, rasanya tubuh saya minta ditidurkan segera.
Tak saya sangsikan angkutan kota yang membawa saya pulang kali ini disopiri oleh pengemudi yang memang benar-benar mengenal saya juga. Tanpa banyak tanya sebagaimana seharusnya kepada setiap penumpang dia mengarah ke rumah saya dan baru menanyakan saya minta diturunkan di pintu halaman yang mana, yang mengarah ke muka atau ke samping. Sungguh luar biasa, saya tak henti-hentinya bersyukur bahwasannya saya benar-benar dikenali orang meski mungkin mereka tak kenal nama saya.
Sesampainya di rumah saya segera mengingatkan Zuster Een untuk segera mengabari saya kalau dokter jadi berpraktek. Akhirnya dengan malu-malu SMS jawaban darinya mengakui bahwa saya benar, dokter ada kegiatan seminar di Jakarta sebagai pembicara. Lagi-lagi di dalam hati saya tersenyum menang, sebab ternyata saya lebih dulu tahu dibandingkan petugas di RS. "Aduh, jadi malu sama ibu....... saya udah ke-ge-er-an duluan lagi........," begitu antara lain bunyi SMS bu Een.
Untung saya tak harus mengerjakan apa-apa di rumah sebab ada tenaga yang dengan suka rela membantu menyapu dan merapikan rumah sementara cucian kami pun sudah dijemur anak saya. Jadi sambil menunggu waktu makan siang saya baringkan tubuh di kasur. Dalam pada itu saya terpikir alangkah senangnya warga masyarakat kota Bogor seandainya RS kami yang didirikan sebuah Parpol ini benar-benar bisa diambil alih kepemilikannya oleh negara tahun depan karena izin operasionalnya kebetulan sudah habis. Dengan begitu akan ada RS Pemerintah lainnya selain RS yang dulunya merupakan RS Jiwa di kota kami yang siap beroperasi melayani masyarakat dari golongan menengah ke bawah. Apalagi RS ini lebih lengkap fasilitasnya jika dibandingkan RS Pemerintah yang dokternya dulu menyarankan saya berobat ke sini karena mencurigai kanker pada tumor saya. Lalu angan-angan saya terbang melambung tinggi membayangkan andaikata saja onkologis saya bisa dipindah tugaskan untuk selamanya dari Jakarta ke sini. Ah, betapa mudahnya semua penatalaksanaan pengobatan kami pasien-pasien kanker yang sedang menunggu keajaiban sebelum Ketentuan Allah datang mengambil nyawa kami. Rasanya di benak saya, tersalur melalui pelupuk mata, beratus-ratus pasang mata menatap gedung RS dengan sinar yang sumringah. Akan kah itu terjadi? Wallahu alam karena saya cuma rakyat biasa yang butuh bantuan tapi pandai sekali mengkhayal hehehehe...........
(Bersambung)
Udara pagi cuma terisi hangatnya sinar matahari yang menjulur dari langit sehingga saya tak bisa membayangkan daun-daun palma itu bagaikan tangan penari serimpi di kraton-kraton Jawa. Tapi meski begitu saya justru senang karenanya, sebab anomali cuaca tahun ini yang katanya akan selalu mendatangkan hujan sepanjang masa tak terbukti. Sejak sakit begini entah mengapa jika bepergian saya jadi selalu takut tersergap hujan lebat. Tapi barangkali wajar saja sebab tubuh saya memiliki daya tahan yang lemah akhir-akhir ini. Itu jugalah sebabnya hari ini saya nekad ke RS meski saya sudah tahu dari tangan dokter onkologi sendiri bahwa beliau tak bisa berpraktek sebab punya agenda sebagai pembicara di salah satu seminar di ibu kota. Tak mengapa, saya akan mengunjungi penggantinya, dokter bedah umum senior itu sebab ini memang harinya pemeriksaan pasca kemoterapi. Dengan begitu hari Rabu mendatang saya sudah punya laporan yang akurat tentang perkembangan penyakit saya ketika dokter onkologi memeriksa, supaya penatalaksanaan pengobatan penyakit saya bisa segera diatur dengan cermat.
Seperti biasanya halaman RS pada pukul tujuh kurang sedikit sudah dipenuhi para pegawainya yang melaksanakan senam pagi. Saya pikir dokter bedah umum itu seperti biasanya ada juga di sana membaur bersama para perawat dan tenaga administrasi. Besar sekali hati saya hendak menjemput upaya penyembuhan. Senyum tersungging di bibir saya, langkah pun ringan menuju ke lobby RS membaur bersama puluhan pasien yang sudah datang lebih dulu.
Petugas pendaftaran menyatakan dokter onkologi saya berpraktek sore itu, meski sudah saya bantah. Tapi dia pun mengizinkan saya mendaftar ke klinik bedah umum untuk dokter senior yang saya maksud. Tak ada keterangan apa pun darinya sehingga saya merasa beruntung mendapat nomor kecil di daftar tunggu pasien. Lalu setelah menyelesaikan administrasi pendaftaran seperti biasanya saya serahkan lengan saya kepada petugas laboratorium yang dimintai jasa memeriksa kadar dalam darah saya. Di situ pun kali ini saya beruntung. Saya merupakan pasien pertama. Pintu klinik baru dibuka, pegawainya belum lengkap datang. Teknisi laboratorium yang akan bertugas nampak masih merapikan peralatan serta ruangan. Saya dipersilahkan menunggu sejenak, benar-benar cuma sejenak sebab tak ada pasien lain.
Lalu petugas lelaki yang masih muda, bukan petugas yang biasanya berdinas dan sudah sangat mengenali saya mempersilahkan saya masuk. Saya sodorkan lengan kanan saya dengan catatan supaya dia berhati-hati karena minggu lalu vena saya habis ditusuki di sana-sini sehingga saya khawatir keadaannya belum pulih. "Di sini saja ya, mudah-mudahan bisa terlihat," ujar saya seraya menyodorkan lipatan siku kanan saya. Lelaki itu mengangguk, meraih lengan saya dan memperhatikan dengan seksama sebelum masuk ke dalam mempersiapkan jarum yang pas untuk saya. "Iya bu, kelihatan, tapi tipis sekali ya?" Jawabnya membenarkan seraya memasangkan turnike (tourniquette) ke lengan saya. "Bismillah, sakit sedikit ya bu, tarik nafas yang dalam," pesannya yang saya kerjakan dengan segera. Alhamdulillah, ajaib sekali, darah mengucur segera dengan mudahnya memenuhi tabung suntikan yang dimainkan teknisi laboratorium itu. "Terima kasih pak," sambut saya bersamaan dengan ditutupnya bekas tusukan jarum itu menggunakan kapas dan secarik kain plester. Saya senang sekali atas semua kejadian pagi ini.
Di ruang tunggu laboratorium nampak mulai ada pasien lagi. Seorang lelaki paruh baya yang diantarkan anak lelakinya. Entah di mana istrinya berada. Saya membayangkan jika saya masih bersama ayah anak-anak saya, tentu tak akan saya biarkan dia pergi dengan anak-anak. Saya pasti akan mendampinginya, sebab pengalaman saya selama ini mengatakan bahwa kaum lelaki cenderung lebih cengeng di dalam menghadapi sakitnya dibandingkan kaum perempuan. Fakta yang aneh dan tak terbantahkan ini berawal dari kejadian sariawan di gusi yang diklaim seorang lelaki jantan dewasa sebagai akibat dari tersenggol mata bor sewaktu dokter gigi merawat giginya di siang itu. Baik dokter gigi maupun saya sampai tergelak-gelak seraya menggeleng-gelengkan kepala waktu melihat fakta yang sesungguhnya. Lelaki memang makhluk yang perlu genggaman tangan seorang perempuan yang disebut ibu ketika dirinya dalam keadaan sakit. Sakit apa pun itu namanya.
Berdua dengan si bungsu saya meninggalkan laboratorium guna memberi kesempatan petugas mengerjakan pemeriksaannya. Melalui pintu bagian belakang gedung kami mengarah ke kantin. Seperti biasanya kami manfaatkan waktu untuk sarapan. Di sana ada kedai favorit kami, milik pendatang dari Wonogiri. Tanpa banyak tanya dia mempersilahkan kami dan menyiapkan makanan kesukaan kami masing-masing hingga sepiring nasi goreng tandas masuk ke perut anak saya, selagi ketoprak di piring saya masih saja bersisa. Entah mengapa, akhir-akhir ini saya semakin malas makan meski masih bisa masuk dengan dipaksa-paksakan. Pemilik warung nasi itu menanyai saya, bagaimana kondisi saya hari itu seraya menanyakan anak saya Andrie yang kali ini tinggal di rumah karena terserang influensa akibat anomali cuaca itu tadi. Saya menjawab apa adanya. Dibalas perempuan itu dengan doa semoga semuanya segera membaik diiringi ucapan terima kasih saya. Agaknya orang-orang di sekitar rumah sakit mulai mengenali saya sekeluarga, batin saya seraya tersenyum.
Di selasar klinik anak-anak saya bertemu dengan Zuster Maria, Perawat Kepala yang selalu memuji keadaan saya secara berlebihan. Saya tahu itu didasari pengalamannya merawat almarhum suaminya yang diserang kanker hati sesaat. Persis seperti riwayat meninggalnya ibu mertua saya dulu. Hanya berbilang minggu mereka kembali ke tangan Sang Pemilik Nyawa.
Diberitahukannya bahwa hari itu dokter bedah umum yang saya tuju sedang mengikuti seminar juga, sehingga prakteknya digantikan dokter lain. "Bu Maria, kenapa saya nggak dikabari?" Keluh saya kecewa. Dijawabnya bahwa pemberitahuan dari dokter itu kepadanya pun serba mendadak, baru saja, sehingga dia tak sempat mengabari saya. Disarankannya untuk ke dokter hari Rabu saja, di mana dokter onkologi saya pun berpraktek. Kalau begitu tak ada yang perlu disalahkan, sehingga saya mengucapkan terima kasih dan melambai menyatakan salam perpisahan. Saya putuskan untuk segera pulang sebab kebetulan tubuh saya pun sudah minta istirahat lagi.
Baru melangkah di halaman depan saya sudah dihentikan oleh Zuster Een, perawat yang sering melayani kemoterapi saya. Dengan senyum di wajah bulatnya dia menanyai saya hendak ke mana. Saya katakan saya mau pulang sebab dokter onkologi saya tidak berpraktek, begitu juga dengan dokter bedah umum. Tapi dia tak begitu saja percaya pada pernyataan saya. Katanya sih dokter onkologi saya membuka praktek dan sudah terdaftar tujuh orang pasien hari itu. Barangkali memang tidak akan banyak, jadi katanya saya boleh menjadi pasien kedelapan kalau saya mau. Diakuinya dokter ini memang sangat sibuk. Lalu dia meminta nomor kontak saya sebab dia berjanji akan menghubungi saya secepatnya begitu dokter datang. Walau tidak percaya pada perkataannya, tak urung saya berikan juga nomor saya sehingga dia segera mengontak saya untuk memberikan nomornya yang memang belum saya miliki. Tak ubahnya kerbau dicucuk hidung, anak saya percaya saja pada perkataan bu Een meski saya tertawa di dalam hati. Tak pernah dokter saya berdusta pada saya. Di dalam SMS terakhirnya dia minta maaf baru bisa memeriksa saya hari Rabu nanti, sehingga dia tak keberatan hari Sabtu ini saya memeriksakan diri ke dokter pengganti yang ditunjuknya itu.
Baru saja sampai di luar pagar RS seorang pasien tersenyum menyapa saya begitu dia turun dari angkutan kota yang datang dari arah Kecamatan Parung di Kabupaten. "Ibu mau ke mana?" Itu yang jadi pertanyaannya. "Sudah dikemo belum?" Sambungnya seraya menceritakan bahwa dirinya akhirnya dikemoterapi hari Rabu yang lalu.
Saya jawab bahwa saya mau pulang, karena kemoterapi saya sudah di hari Sabtu seminggu yang lalu tetapi dokter tidak berpraktek hari ini jadi saya tidak bisa diperiksanya. Juga saya tambahkan bahwa dokter pengganti tidak juga datang karenanya Zuster Maria menyarankan saya datang hari Rabu persis perintah dokter onkologi dengan SMS. "Ibu terima SMS dokter?" Tanya bu Rus pasien itu dengan wajah tidak percaya mendengar penjelasan saya.
"Ya, ini dia bilang gini," kata saya meyakinkan seraya membuka pesan yang saya terima. Sementara itu katanya SMS darinya ke nomor dokter yang diperolehnya dari saya tidak ada jawabannya. "Barangkali dokternya bukan kenalan saya sih ya?" Tuduhnya membuat saya kecut. Sebab saya sendiri kan juga bukan kenalan dokter. Hanya kebetulan bertetangga kampung dan punya lingkup pergaulan yang sama. Tak urung diambilnya juga ponsel saya dan dibacalah SMS pemberitahuan dokter itu berdua dengan putrinya yang menurut anak saya sekarang tampil beda karena tiba-tiba menutup seluruh auratnya yang biasanya dibiarkan terbuka menantang mata pemuda. :-D Setelah itu saya berpamitan beranjak pulang, rasanya tubuh saya minta ditidurkan segera.
Tak saya sangsikan angkutan kota yang membawa saya pulang kali ini disopiri oleh pengemudi yang memang benar-benar mengenal saya juga. Tanpa banyak tanya sebagaimana seharusnya kepada setiap penumpang dia mengarah ke rumah saya dan baru menanyakan saya minta diturunkan di pintu halaman yang mana, yang mengarah ke muka atau ke samping. Sungguh luar biasa, saya tak henti-hentinya bersyukur bahwasannya saya benar-benar dikenali orang meski mungkin mereka tak kenal nama saya.
Sesampainya di rumah saya segera mengingatkan Zuster Een untuk segera mengabari saya kalau dokter jadi berpraktek. Akhirnya dengan malu-malu SMS jawaban darinya mengakui bahwa saya benar, dokter ada kegiatan seminar di Jakarta sebagai pembicara. Lagi-lagi di dalam hati saya tersenyum menang, sebab ternyata saya lebih dulu tahu dibandingkan petugas di RS. "Aduh, jadi malu sama ibu....... saya udah ke-ge-er-an duluan lagi........," begitu antara lain bunyi SMS bu Een.
Untung saya tak harus mengerjakan apa-apa di rumah sebab ada tenaga yang dengan suka rela membantu menyapu dan merapikan rumah sementara cucian kami pun sudah dijemur anak saya. Jadi sambil menunggu waktu makan siang saya baringkan tubuh di kasur. Dalam pada itu saya terpikir alangkah senangnya warga masyarakat kota Bogor seandainya RS kami yang didirikan sebuah Parpol ini benar-benar bisa diambil alih kepemilikannya oleh negara tahun depan karena izin operasionalnya kebetulan sudah habis. Dengan begitu akan ada RS Pemerintah lainnya selain RS yang dulunya merupakan RS Jiwa di kota kami yang siap beroperasi melayani masyarakat dari golongan menengah ke bawah. Apalagi RS ini lebih lengkap fasilitasnya jika dibandingkan RS Pemerintah yang dokternya dulu menyarankan saya berobat ke sini karena mencurigai kanker pada tumor saya. Lalu angan-angan saya terbang melambung tinggi membayangkan andaikata saja onkologis saya bisa dipindah tugaskan untuk selamanya dari Jakarta ke sini. Ah, betapa mudahnya semua penatalaksanaan pengobatan kami pasien-pasien kanker yang sedang menunggu keajaiban sebelum Ketentuan Allah datang mengambil nyawa kami. Rasanya di benak saya, tersalur melalui pelupuk mata, beratus-ratus pasang mata menatap gedung RS dengan sinar yang sumringah. Akan kah itu terjadi? Wallahu alam karena saya cuma rakyat biasa yang butuh bantuan tapi pandai sekali mengkhayal hehehehe...........
(Bersambung)
Jumat, 07 Juni 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (67)
Perlu kesabaran ekstra di dalam menyikapi pengobatan saya, demikian yang saya tanamkan di dalam diri mengingat saya berobat gratisan atas bantuan pemerintah. Sudah beruntung dan perlu disyukuri sekali pemerintah mau mengulurkan bantuannya untuk memperpanjang nyawa pinjaman ini, demikian juga yang mendasari kepasrahan saya tadi. Coba bayangkan, andaikata saya menuntut semua serba nyaman bukankah artinya saya saya tidak tahu diri? Tersenyum sendiri saya untuk menjawabnya.
Pagi ini awal bulan Juni, masih di minggu pertama rumah sudah dalam keadaan kosong sejak pagi. Anak saya berangkat mengurus keperluan berobat saya sebagaimana biasanya ke Kelurahan, Puskesmas, Kecamatan dan Dinas Kesehatan Kota (DKK). Sudah jadi aturan setiap bulan warga tidak mampu yang didanai pemerintah harus memperbaharui Surat Keterangan warga Tidak Mampu (SKTM) mereka supaya tetap berlaku untuk pengobatan di institusi kesehatan yang disetujui pemerintah. Termasuk tentunya bagi saya. Kakak saya pun pergi memanfaatkan fasilitas ASKES nya ke Puskesmas karena besok beliau akan melaksanakan serangkaian pemeriksaan guna menegakkan diagnosa atas tumor yang katanya tumbuh di payudaranya juga.
Dalam balutan pagi yang indah saya duduk-duduk sendiri. Sebab tak ada kegiatan yang sanggup saya lakukan setelah saya sakit, persis seperti anjuran tenaga kesehatan yang menangani penyakit saya. Sepoi-sepoi angin mengantarkan rasa segar melalui kisi-kisi jendela di dekat saya duduk, sedangkan kupu-kupu cantik yang sejak kemarin malam menerobos masuk masih saja berterbangan. Jika diperhatikan dunia terasa berseri, namun hati saya kering. Saya kesepian. Tapi tiba-tiba seakan-akan kata hati saya berbisik bahwa saya harus terus mengetik, menuliskan semua perasaan saya baik yang menyenangkan maupun yang tak begitu baik. Toch kelak semuanya akan jadi perenungan yang baik belaka.
Saya balikkan badan saya menghadap perangkat komputer pribadi saya, lalu saya hidupkan. Layar yang gelap itu dalam sekejap berkedip-kedip kemudian menghadirkan sejuta warna yang mampu membuat mata saya nyala bergairah.
Sekejap itu berloncatan kata-kata yang minta dituangkan di sini, pada buku harian saya yang ternyata banyak dibaca orang dengan segala pemaknaannya menurut diri mereka masing-masing.
Sesungguhnya saya sedang mencoba mendalami kerumitan yang harus kami alami di dalam proses pengobatan penyakit kanker saya. Bukan berarti kami mengeluh, sebab anak-anak saya melakukannya dengan keikhlasan dibarengi rasa syukur bahwasannya kini kami bisa menjangkau pengobatan yang benar untuk melawan penyakit mematikan ini. Hanya saja saya merasa menyesal tak bisa berobat ke Jakarta untuk mendapat fasilitas yang lebih baik. Pasalnya dana dari DKK hanya bisa dimanfaatkan untuk berobat di Bogor saja, tidak di Jakarta tempat di mana dokter onkologi saya bekerja sebagai PNS.
Dengan keterbatasan seperti itu pengobatan saya jadi terkendala. Dokter sulit ditemui disebabkan lebih mementingkan tugas utamanya sebagai PNS tentu saja, meski di kampung halamannya sendiri beliau cuma berpraktek dua kali seminggu masing-masing dua jam saja. Dengan keadaan seperti itu beliau menyarankan kemoterapi dan operasi saya dijalankan di Jakarta, yang tentu saja tak mungkin terpenuhi. Akhirnya tercapai kata sepakat saya diserahkan kepada dokter bedah umum senior yang kemudian akan melaporkan hasilnya kepada beliau seperti yang selama ini sudah kami jalankan.
Kemarin dulu kakak saya pun dikecewakan oleh keterlambatan di klinik onkologi ini. Sejak mengeluhkan kekhawatirannya terkena kanker payudara saya mendaftarkannya ke RS segera. Kakak saya tak beruntung di hari Sabtu bertepatan dengan kemoterapi saya, sebab dokter berhalangan datang. Ada operasi yang harus ditangani di Jakarta. Jadi hari Rabu adalah kesempatan kakak saya memeriksakan diri. Sayangnya hari itu dokter datang kemalaman, sudah pukul tujuh lewat tiga jam dari jadwal prakteknya. Saya sendiri sudah beberapa kali mengalami sehingga maklum. Begitu pun kebanyakan pasien. Tapi namanya juga orang sakit, apa hendak dikata. Tak urung kakak saya mengeluh seirama para pasien lain panjang-pendek.
Keluhan baru berakhir ketika dokter tiba dengan tenangnya disambut sorak pasiennya. Bahkan dokter yang berpraktek di klinik di sebelahnya pun ikut lega sambil melenggang pulang sebab kasihan menyaksikan para pasien berpenyakit berat yang bertebaran tak teratur di bangsal tunggu pasien. Inilah salah satu keistimewaan onkologis kami yang saya hargai. Meski terlambat beliau mengupayakan memeriksa pasien dengan ketenangan yang membuahkan pemeriksaan yang teliti seperti yang kemudian diakui kakak saya. Bahkan kata kakak saya, dia merasa senang berobat kepadanya pada kesempatan pertama itu. Pembawaannya yang mau diajak bicara itu menjadi salah satu kelebihan lagi yang dimilikinya. Untuk diketahui keluarga saya terutama saya, selalu banyak bicara dengan dokter untuk memberikan gambaran yang tepat kepada beliau dalam upaya menegakkan diagnosa atas penyakit kami. Di dokter ini hal itu bisa saja terjadi, sebab dokter tak pernah memotong begitu saja pembicaraan kami, bahkan kelihatannya cenderung mencermati lalu mencatatnya dengan cermat di catatan kesehatan saya. Ya, sekarang saya jadi teringat bundel catatan kesehatan saya di RS langganan saya di Singapura yang tebalnya menyerupai bantal bayi itu. Dan saya amat merindukannya tiba-tiba sebab di sana terekam dengan baik semua riwayat perjalanan penyakit saya serta upaya penanganannya.
***
Hari ini ketika anak saya pulang dari mengurus kelengkapan pembiayaan pengobatan saya, dia bercerita bahwa nasib orang tak punya ketika sakit tak pernah ada enaknya. Walau di satu sisi kami tak pusing memikirkan biaya pengobatan, tetapi menjalani urusan administrasinya amat melelahkan. Tadi, katanya, seorang lelaki nampak terduduk lesu dengan sorot mata sayu kelelahan sehabis selesai mendapatkan haknya di kantor DKK.
Lelaki itu datang dari RSCM karena keluarganya terpaksa berobat di sana dan sedang dalam perawatan. Setelah mengantri cukup lama siang itu juga dia harus segera kembali ke RSCM di Jakarta sebelum loket pendaftaran pasien Jamkesda tutup di RSCM. Itulah yang memberatkannya. Nampaknya sepagian dia belum sempat sarapan. Itu terlihat dari wajahnya yang pucat. Seraya menarik nafas dia minta izin duduk di sebelah anak saya yang kemudian terpaksa menggeser duduknya supaya bisa memberikan tempatnya. Lelaki itu mengeluh kelelahan seraya menarik nafas dan membuang pandang mata kosongnya ke langit yang dihiasi awan biru serta matahari bersinar garang.
Orang di dekatnya turut menyambung ceritanya. Kata perempuan itu dia datang dari wilayah kabupaten. Tapi saya tak mengerti, mengapa dia mengurus SKTM di wilayah kota. Yang diuruskannya adalah tetangganya yang melahirkan di Ema Paraji, sebutan untuk dukun beranak di daerah Pasundan. Konon bayinya yang lahir dengan berat badan rendah terserang kulit kuning (ikterus, dalam bahasa medis, yang disebabkan belum berfungsinya bilirubin secara normal). Lalu bidan desa mengirimkan bayi itu bersama ibunya ke RSUD Cibinong. Waktu di bagian pendaftaran, warga tak mampu itu ditanyai soal pembiayaannya. Ketika dijawab dia minta bantuan pemerintah, pihak RSUD menyuruhnya mengurus SKTM terlebih dahulu. Bayi beserta ibunya ditinggalkan di RS seakan-akan tersandera belum sempat ditangani menunggu hingga SKTM nya di dapat. Sudah mendekati jam istirahat makan siang perempuan itu belum mendapatkan gilirannya. Tentu saja dia pun mengungkapkan kegelisahan yang sama dengan lelaki yang harus segera kembali ke RSCM tadi. Sehingga kata anak saya, kami masih termasuk pasien yang beruntung meski dokter saya tak rutin datang bertugas di sini.
Betul juga, sebab besok saya pun masih bisa memeriksakan diri sebagai persyaratan wajib bagi pasien yang habis menjalani kemoterapi. Walau dalam komunikasi kami melalui SMS ~bayangkan, sangat jarang bukan dokter sibuk mau dikontak begini~ onkologis saya menyatakan saya diminta datang hari Rabu, artinya tertunda tiga hari dari jadwal pemeriksaan semestinya. Sebab besok beliau harus menjadi pembicara dalam sebuah seminar kesehatan yang penting. Tapi, saya dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter bedah senior seperti biasanya agar jadwal tetap tak terganggu. Saya rasa nasib saya jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang sakit dan sangat kesulitan menjangkau pengobatan yang wajar itu, bukan? Tentu saja kita mesti setuju terutama kalau menyimak berita di harian nasional yang saya baca hari ini bahwa banyak warga masyarakat yang tidak mampu yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri sebab putus asa tak bisa berobat. Naudzubillahimindzalik! Saya tak hendak melakukannya sebab saya tahu, hanya Allah lah Pemilik nyawa saya.
(Bersambung)
Selasa, 04 Juni 2013
SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (66)
Penyakit yang menghinggapi diri saya ini tak boleh dibilang penyakit sembarangan. Semua orang pun saya yakin sudah tahu. Masalahnya, penyakit ini berurusan dengan kematian, meski tidak masuk kategori penyakit menular. Kanker yang tidak tertangani dengan baik cenderung merongrong bukan saja kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Soalnya banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi penyakit ini. Pun banyak pikiran tercurah di sini sebab semua orang seakan-akan berlomba-lomba ingin merawat dan mencarikan obat yang tepat untuk si sakit baik itu keluarganya maupun orang-orang dekatnya.
Ketika saya berkunjung ke RS menjelang kemoterapi, saya sempat bertemu lagi dengan jurnalis yang beberapa kali saya ceritakan di dalam serial ini mengantarkan istrinya yang sakit kanker payudara. Kali itu kami bersinggungan di area kantin yang sempit ketika beliau sedang mencari hawa pagi, sedangkan saya dan anak saya sarapan sehabis pemeriksaan di laboratorium. Seperti biasanya beliau kelihatan sangat lelah dengan penampilan yang tak terurus. Katanya istrinya kembali dirawat di RS karena kondisinya cenderung memburuk. Sel darah merahnya rendah sekali sehingga tetap belum bisa dikemoterapi serta tak bisa menerima suntikan obat Zoladex yang menjadi obat utama terapi kanker payudaranya yang disebabkan hormon. Kendalanya, selain obat Zoladex sulit diperoleh, pasien itu juga tidak kunjung fit sebagai persyaratan menjalani kemoterapi.
Seraya menarik bangku plastik di dekat saya, lelaki itu duduk sejenak menyapa saya dan anak saya. Dengan hangat dia menyatakan bahagia menyaksikan keadaan saya yang prima. Selanjutnya dia menceritakan bahwa dia tak jadi membawa istrinya berobat ke sinshe seperti anjuran saya. Menurutnya, dia sudah kehabisan daya untuk mengobatkan istrinya sebab sudah sangat banyak upaya dilakukannya baik dengan pengobatan medis empiris ke dokter maupun alternatif. Katanya dia pernah mendatangi seorang pemuka agama yang kabarnya berhasil menangani banyak pasien kanker dengan terapi tangan kosongnya. Waktu itu istrinya diurut-urut hingga mengeluarkan darah sangat kental bergelas-gelas dari payudaranya. Tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Selanjutnya dia juga mendatangi pengobat alternatif lainnya yang menerapi istrinya juga dengan tangan kosong yang diklaim mengandung energi. Tapi tangan si pengobat itu tak seperti halnya tangan sinshe saya yang juga mengandung energi, tak ditempelkan ke tubuh si sakit. Yang saya rasakan sehabis di totok syaraf dengan tangan berenergi itu, tubuh saya serasa dijalari rasa hangat yang membuat otot-otot saya relaks. Setelah itu istri sang jurnalis juga dibekali jejamuan dari berbagai herbal yang katanya sangat berkhasiat meski pahit sekali. Sayangnya khasiat itu tak pernah membawa perbaikan. Lepas dari situ beliau juga mencoba aneka obat herbal yang kini sedang marak dipasarkan di Indonesia. Disebutnya berbagai merek yang katanya herbal dari daun sirsak dicampur kulit manggis atau kulit manggis itu sendiri dan teh daun sirsak. Ini pun belum membawa perbaikan pada istrinya, hingga sekarang si istri terpaksa menginap di bangsal isolasi RS selama beberapa waktu. Miris saya mendengarnya. Sebab terbayang di mata saya istrinya yang saya tahu sendiri sudah dalam keadaan sangat lemah itu. Belum lagi terbayang kondisi rumah yang ditinggalkan terlantar akibat masa perawatan itu. Dulu beliau mengeluh bahwa beliau terpaksa menjual rumahnya dan juga berbagai harta yang dimiliki demi mengobatkan si istri. Tak jauh berbeda dengan kondisi rumah tangga saya yang telah menghabiskan nyaris seluruh tabungan kami hanya untuk pengobatan saya bertahun-tahun dulu.
***
Hari ini pagi-pagi sekali kakak sulung saya sudah meneguk salah satu obat herbal yang sedang marak di pasaran. Dari bungkusnya terbaca obat itu berasal dari sari kulit manggis yang diklaim sebagai ratu buah tropis yang sangat berkhasiat untuk bermacam-macam penyakit serta daun sirsak. Harganya tak bisa dibilang murah, dua ratus ribu rupiah lebih per botol, meski dia bisa mendapatkannya hanya seratus enam puluh ribu rupiah sebab membeli di tempat sahabatnya. Konon sahabatnya merupakan agen penjualan obat itu.
Sahabat kakak saya sudah lama saya kenal. Beliau persis seusia dengan kakak saya, sedangkan suaminya yang merupakan dosen kakak saya dulunya berumur hampir delapan puluh tahunan. Tentu saja faktor usia membuat keduanya sudah tak prima lagi bahkan berpenyakit menetap. Sedihnya lagi salah seorang menantu beliau yang masih muda dan sedang giat-giatnya mengambil kuliah strata-3 sambil mengurus rumah tangga, menderita sakit serius pula. Konon katanya sih sakit syaraf yang belum ada obatnya. Penyakit degeneratif atau penurunan fungsi tubuh itu membuatnya kini terpaksa bergantung kepada orang lain untuk seluruh hidupnya sebab dia tak lagi mampu bergerak. Syaraf-syarafnya yang rusak telah mencelakai gerak motoriknya. Tapi harus diakui dengan memberi acungan jempol, sahabat kakak saya yang aslinya memang berwajah cantik bagaikan bintang film itu bisa mengatasi penyakitnya sendiri sehingga beliau merupakan motor di keluarganya. Tenaganya lah yang setiap hari terpakai merawat seluruh anggota keluarganya, terutama suaminya yang sudah sangat bergantung kepadanya dan tentu saja si menantu itu tadi. Apakah ini diakibatkan beliau mengonsumsi obat herbal tadi, saya tidak tahu persis. Yang jelas kakak saya terkagum-kagum pada stamina beliau.
Entah bujukan apa yang disampaikan kepada kakak saya sehingga kakak saya tertarik membeli produk obat herbal yang dijualnya tadi. Sesungguhnya saya tidak melarang kakak saya mengonsumsinya, apalagi mengingat kakak saya benar-benar khawatir terserang kanker payudara seperti saya. Hanya saja saya ingin kakak saya kelak teratur mengonsumsi herbal ini sehingga manfaatnya tercapai. Sebab selama ini kakak saya sering membeli berbagai produk yang ditawarkan orang, tetapi nyatanya tidak mau rutin mengonsumsinya sehingga beliau masih saja selalu merasa kurang fit. Tiada hari tanpa keluhan pusing dan sakit kepala, itu yang sering terlontar dari mulutnya dan tertangkap telinga kami semua sehingga saya khawatir.
Di dalam hati saya seandainya efek obat herbal itu benar-benar mujarab, mengapa tidak membawa perbaikan berarti? Lihatlah istri sang jurnalis di RS. Apakah berarti obat ini harus dikonsumsi terus-menerus tanpa putus-putus? Lalu berapa banyak kah kelak uang yang harus dikeluarkan untuk membelinya? Tentunya akan sama mahalnya dengan ongkos berobat di sinshe saya yang bisa dikatakan sinshe termurah yang saya dengar-dengar. Berarti itu juga kelak yang harus disediakan oleh kakak saya seorang pensiunan. Nah, sedih bukan menjadi penderita kanker? Terpukul saya merasakannya.
Saya bukan tidak menghargai penemuan obat-obat herbal itu. Justru saya amat bangga jika dari khasanah tanaman Indonesia bisa dihasilkan obat yang tak kalah mutunya dibandingkan herbal Cina. Itu memang harapan saya. Namun tidak kah harga jualnya bisa ditekan menjadi lebih murah lagi? Tidak kah obat itu bisa diproduksi massal sehingga mudah diperoleh masyarakat dan terjangkau segala kalangan? Ya, sakit kanker itu memang butuh dukungan semua pihak termasuk kalangan pengusaha jejamuan. Rasanya sayang jika kita tak bisa menandingi para pakar pengobatan tradisional Cina yang ekspansi pengobatannya sudah merambah Indonesia dan berurat-akar di sini.
Inilah obat-obat herbal Indonesia yang saya maksudkan :
Semua obat herbal ini menyatakan diri sudah mendapat pengakuan dari Kementerian Kesehatan. Akan tetapi sayangnya ketika saya mencoba mencari informasi di internet, begitu saya masukkan kata kunci berupa nama obat itu sederet kata berjajar di bawahnya termasuk yang bertuliskan "palsu". Saya jadi agak ragu untuk mengonsumsinya, sebab mana-mana yang asli dan mana-mana yang palsu penampakannya sangat mirip. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa apa yang kita beli itu asli saya tak tahu caranya.
Kalau ini yang terjadi alangkah ngerinya. Sudahlah mahal khasiatnya tak bisa dipertanggung jawabkan pula. Beginilah nasib penderita kanker. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tapi saya sih tetap optimis bahwa saya akan memperoleh kesembuhan saya setelah memperjuangkan segalanya dengan dukungan moral dan material dari banyak teman yang setulusnya menyayangi saya. Rasanya setelah kita berupaya keras seraya berpasrah diri kepada Tuhan, tak mungkin Dia mengabaikan kita begitu saja.
Dan berhubung saya orang unik dengan sifat yang aneh, saya bisiki ya, ngomong-ngomong saya justru senang begitu dinyatakan berpenyakit kanker oleh dokter onkologi saya. Pasalnya, setelah pencarian sekian lama akan jenis sel yang senantiasa minta menghuni tubuh saya tanpa hasil selain menghabiskan tabungan keluarga kami saja, kini saya tahu bahwa saya berpenyakit "gedongan". Penyakit yang sebaiknya hanya patut menghinggapi orang kaya karena penanganannya tidak mudah, makan waktu lama dengan biaya yang mahalnya luar biasa itu. Saya kena penyakit : KANKER ~begitu lho~ :-D
(Bersambung)
Ketika saya berkunjung ke RS menjelang kemoterapi, saya sempat bertemu lagi dengan jurnalis yang beberapa kali saya ceritakan di dalam serial ini mengantarkan istrinya yang sakit kanker payudara. Kali itu kami bersinggungan di area kantin yang sempit ketika beliau sedang mencari hawa pagi, sedangkan saya dan anak saya sarapan sehabis pemeriksaan di laboratorium. Seperti biasanya beliau kelihatan sangat lelah dengan penampilan yang tak terurus. Katanya istrinya kembali dirawat di RS karena kondisinya cenderung memburuk. Sel darah merahnya rendah sekali sehingga tetap belum bisa dikemoterapi serta tak bisa menerima suntikan obat Zoladex yang menjadi obat utama terapi kanker payudaranya yang disebabkan hormon. Kendalanya, selain obat Zoladex sulit diperoleh, pasien itu juga tidak kunjung fit sebagai persyaratan menjalani kemoterapi.
Seraya menarik bangku plastik di dekat saya, lelaki itu duduk sejenak menyapa saya dan anak saya. Dengan hangat dia menyatakan bahagia menyaksikan keadaan saya yang prima. Selanjutnya dia menceritakan bahwa dia tak jadi membawa istrinya berobat ke sinshe seperti anjuran saya. Menurutnya, dia sudah kehabisan daya untuk mengobatkan istrinya sebab sudah sangat banyak upaya dilakukannya baik dengan pengobatan medis empiris ke dokter maupun alternatif. Katanya dia pernah mendatangi seorang pemuka agama yang kabarnya berhasil menangani banyak pasien kanker dengan terapi tangan kosongnya. Waktu itu istrinya diurut-urut hingga mengeluarkan darah sangat kental bergelas-gelas dari payudaranya. Tapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Selanjutnya dia juga mendatangi pengobat alternatif lainnya yang menerapi istrinya juga dengan tangan kosong yang diklaim mengandung energi. Tapi tangan si pengobat itu tak seperti halnya tangan sinshe saya yang juga mengandung energi, tak ditempelkan ke tubuh si sakit. Yang saya rasakan sehabis di totok syaraf dengan tangan berenergi itu, tubuh saya serasa dijalari rasa hangat yang membuat otot-otot saya relaks. Setelah itu istri sang jurnalis juga dibekali jejamuan dari berbagai herbal yang katanya sangat berkhasiat meski pahit sekali. Sayangnya khasiat itu tak pernah membawa perbaikan. Lepas dari situ beliau juga mencoba aneka obat herbal yang kini sedang marak dipasarkan di Indonesia. Disebutnya berbagai merek yang katanya herbal dari daun sirsak dicampur kulit manggis atau kulit manggis itu sendiri dan teh daun sirsak. Ini pun belum membawa perbaikan pada istrinya, hingga sekarang si istri terpaksa menginap di bangsal isolasi RS selama beberapa waktu. Miris saya mendengarnya. Sebab terbayang di mata saya istrinya yang saya tahu sendiri sudah dalam keadaan sangat lemah itu. Belum lagi terbayang kondisi rumah yang ditinggalkan terlantar akibat masa perawatan itu. Dulu beliau mengeluh bahwa beliau terpaksa menjual rumahnya dan juga berbagai harta yang dimiliki demi mengobatkan si istri. Tak jauh berbeda dengan kondisi rumah tangga saya yang telah menghabiskan nyaris seluruh tabungan kami hanya untuk pengobatan saya bertahun-tahun dulu.
***
Hari ini pagi-pagi sekali kakak sulung saya sudah meneguk salah satu obat herbal yang sedang marak di pasaran. Dari bungkusnya terbaca obat itu berasal dari sari kulit manggis yang diklaim sebagai ratu buah tropis yang sangat berkhasiat untuk bermacam-macam penyakit serta daun sirsak. Harganya tak bisa dibilang murah, dua ratus ribu rupiah lebih per botol, meski dia bisa mendapatkannya hanya seratus enam puluh ribu rupiah sebab membeli di tempat sahabatnya. Konon sahabatnya merupakan agen penjualan obat itu.
Sahabat kakak saya sudah lama saya kenal. Beliau persis seusia dengan kakak saya, sedangkan suaminya yang merupakan dosen kakak saya dulunya berumur hampir delapan puluh tahunan. Tentu saja faktor usia membuat keduanya sudah tak prima lagi bahkan berpenyakit menetap. Sedihnya lagi salah seorang menantu beliau yang masih muda dan sedang giat-giatnya mengambil kuliah strata-3 sambil mengurus rumah tangga, menderita sakit serius pula. Konon katanya sih sakit syaraf yang belum ada obatnya. Penyakit degeneratif atau penurunan fungsi tubuh itu membuatnya kini terpaksa bergantung kepada orang lain untuk seluruh hidupnya sebab dia tak lagi mampu bergerak. Syaraf-syarafnya yang rusak telah mencelakai gerak motoriknya. Tapi harus diakui dengan memberi acungan jempol, sahabat kakak saya yang aslinya memang berwajah cantik bagaikan bintang film itu bisa mengatasi penyakitnya sendiri sehingga beliau merupakan motor di keluarganya. Tenaganya lah yang setiap hari terpakai merawat seluruh anggota keluarganya, terutama suaminya yang sudah sangat bergantung kepadanya dan tentu saja si menantu itu tadi. Apakah ini diakibatkan beliau mengonsumsi obat herbal tadi, saya tidak tahu persis. Yang jelas kakak saya terkagum-kagum pada stamina beliau.
Entah bujukan apa yang disampaikan kepada kakak saya sehingga kakak saya tertarik membeli produk obat herbal yang dijualnya tadi. Sesungguhnya saya tidak melarang kakak saya mengonsumsinya, apalagi mengingat kakak saya benar-benar khawatir terserang kanker payudara seperti saya. Hanya saja saya ingin kakak saya kelak teratur mengonsumsi herbal ini sehingga manfaatnya tercapai. Sebab selama ini kakak saya sering membeli berbagai produk yang ditawarkan orang, tetapi nyatanya tidak mau rutin mengonsumsinya sehingga beliau masih saja selalu merasa kurang fit. Tiada hari tanpa keluhan pusing dan sakit kepala, itu yang sering terlontar dari mulutnya dan tertangkap telinga kami semua sehingga saya khawatir.
Di dalam hati saya seandainya efek obat herbal itu benar-benar mujarab, mengapa tidak membawa perbaikan berarti? Lihatlah istri sang jurnalis di RS. Apakah berarti obat ini harus dikonsumsi terus-menerus tanpa putus-putus? Lalu berapa banyak kah kelak uang yang harus dikeluarkan untuk membelinya? Tentunya akan sama mahalnya dengan ongkos berobat di sinshe saya yang bisa dikatakan sinshe termurah yang saya dengar-dengar. Berarti itu juga kelak yang harus disediakan oleh kakak saya seorang pensiunan. Nah, sedih bukan menjadi penderita kanker? Terpukul saya merasakannya.
Saya bukan tidak menghargai penemuan obat-obat herbal itu. Justru saya amat bangga jika dari khasanah tanaman Indonesia bisa dihasilkan obat yang tak kalah mutunya dibandingkan herbal Cina. Itu memang harapan saya. Namun tidak kah harga jualnya bisa ditekan menjadi lebih murah lagi? Tidak kah obat itu bisa diproduksi massal sehingga mudah diperoleh masyarakat dan terjangkau segala kalangan? Ya, sakit kanker itu memang butuh dukungan semua pihak termasuk kalangan pengusaha jejamuan. Rasanya sayang jika kita tak bisa menandingi para pakar pengobatan tradisional Cina yang ekspansi pengobatannya sudah merambah Indonesia dan berurat-akar di sini.
Inilah obat-obat herbal Indonesia yang saya maksudkan :
Semua obat herbal ini menyatakan diri sudah mendapat pengakuan dari Kementerian Kesehatan. Akan tetapi sayangnya ketika saya mencoba mencari informasi di internet, begitu saya masukkan kata kunci berupa nama obat itu sederet kata berjajar di bawahnya termasuk yang bertuliskan "palsu". Saya jadi agak ragu untuk mengonsumsinya, sebab mana-mana yang asli dan mana-mana yang palsu penampakannya sangat mirip. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa apa yang kita beli itu asli saya tak tahu caranya.
Kalau ini yang terjadi alangkah ngerinya. Sudahlah mahal khasiatnya tak bisa dipertanggung jawabkan pula. Beginilah nasib penderita kanker. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tapi saya sih tetap optimis bahwa saya akan memperoleh kesembuhan saya setelah memperjuangkan segalanya dengan dukungan moral dan material dari banyak teman yang setulusnya menyayangi saya. Rasanya setelah kita berupaya keras seraya berpasrah diri kepada Tuhan, tak mungkin Dia mengabaikan kita begitu saja.
Dan berhubung saya orang unik dengan sifat yang aneh, saya bisiki ya, ngomong-ngomong saya justru senang begitu dinyatakan berpenyakit kanker oleh dokter onkologi saya. Pasalnya, setelah pencarian sekian lama akan jenis sel yang senantiasa minta menghuni tubuh saya tanpa hasil selain menghabiskan tabungan keluarga kami saja, kini saya tahu bahwa saya berpenyakit "gedongan". Penyakit yang sebaiknya hanya patut menghinggapi orang kaya karena penanganannya tidak mudah, makan waktu lama dengan biaya yang mahalnya luar biasa itu. Saya kena penyakit : KANKER ~begitu lho~ :-D
(Bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)












