Powered By Blogger

Sabtu, 22 Desember 2012

SERENADA DALAM LEMBAH BIRU (21)

Telah cukup lama saya tinggalkan laman ini. Laman yang memuat cerita mengenai kanker penyakit menakutkan yang mematikan itu. Dan malam ini saya tersadar untuk segera melanjutkannya, karena kemarin pagi selepas subuh masuk sebuah pesan pendek dari teman maya saya yang merasa kehilangan kisah saya. Ada terbersit kekhawatiran padanya, meski tentu saja kekhawatiran yang wajar. Pasalnya minggu-minggu ini keadaan fisik saya semakin memburuk. Tumor saya pecah, menimbulkan nanah yang mengucur basah menembus pakaian saya. Rasa sakitnya jangan ditanya, sehingga saya pun tak mampu lagi mengenakan pakain yang wajar.

Sebetulnya bersamaan dengan itu saya juga tiba-tiba teringat lagi akan kisah seorang diplomat wanita dari generasi terdahulu yang sudah berpulang akibat kanker payudara seperti yang saya alami. Sore itu, seminggu yang lalu, saya melihat menantunya di tayangan televisi yang ternyata juga mewarisi gen kanker dari orang tuanya sendiri. Katanya, ibundanya sudah meninggalkannya saat dia masih remaja. Di situ dia bercerita tentang dirinya, keluarga besarnya dan kesehariannya. Presenter cantik yang cerdas itu ternyata pengidap kanker ovarium, seperti mendiang ibundanya. Sedangkan, ibu mertuanya yang saya kenal, cukup lama berjuang mengenyahkan kankernya.

Diplomat karier yang cantik itu tetap sibuk menunaikan tugasnya, ketika penyakit kanker pada payudaranya sudah diketahui. Saya ingat betapa beliau masih terbiasa mengerjakan laporan-laporannya untuk dikirimkan ke Pejambon walau nyaris lewat tengah malam. Waktu itu, saya sedang menemani mantan suami saya yang merupakan diplomat muda yang baru saja belajar bekerja (magang). Kegesitan dan ketangkasan ibu yang satu itu amat menonjol membuat kami semua terkagum-kagum. Staminanya amat prima, itu pendapat kami. Dengan telaten beliau menuntun juniornya mengerjakan tugas-tugas kantor mereka.

Sampai akhirnya di periode awal tahun 1990 tibalah berita duka cita itu. Beliau menyerah meski telah menjalani pembedahan diikuti rangkaiannya berupa kemoterapi dan radiasi di kota Bonn, Jerman tempat beliau bertugas. Ada teman saya di sana yang menyaksikan sendiri rangkaian pengobatan dan perjuangan beliau. Katanya, beliau tak kenal menyerah. Di sela-sela padatnya tugas, beliau tetap berobat; sedangkan di sela-sela pengobatannya, beliau pun tetap mengerjakan tugas-tugas kantornya. Di saat itu, kata teman saya, beliau sudah sama sekali mengikuti gaya hidup vegetarian karena dokternya menganjurkan demikian. Memang memperbanyak asupan sayur-mayur dan buah-buahan yang kaya antioksidan adalah keharusan untuk penderita kanker apa pun.

Suami beliau yang merupakan sastrawan ternama, juga meninggal dunia di usia lanjut (79 tahun) karena kanker prostat. Biasanya penyakit ini memang menyerang orang-orang tua dengan gejala sulit buang air kecil atau buang air kecil terputus-putus serta merasa tidak tuntas. Pada akhirnya nanti, tulang belakang di sekitar panggulnya akan terasa sakit disebabkan penyebaran sel-sel kankernya. 

Saya sendiri tak melihat penderitaan beliau, namun mendengar dari asisten pribadi beliau yang saya kenal baik, Fitriasari. Ceritanya, beliau juga sudah menjalani operasi dan kemoterapi serta radiasi di rumah sakit di Republik Afrika Selatan yang relatif modern. Ingat saja, transplantasi (pencangkokan) jantung yang pertama di dunia berlangsung di sana puluhan tahun yang silam. Jadi kemajuan teknologi pengobatannya tak diragukan lagi, meski di belahan bumi Afrika yang diasosiasikan orang dengan keterbelakangan.

Meski begitu, kondisi pasien sepuh ini terus saja memburuk hingga akhirnya keluarganya memutuskan untuk dirawat jalan saja agar beliau senantiasa berada dalam lingkungan yang menenteramkan, yakni kalangan keluarganya sendiri. Di akhir hayatnya beliau cuma mampu berbaring-baring tanpa bisa melakukan apa-apa lagi. Saya percaya itu, karena sesudah sekian tahun beliau berpulang, saya menemukan draft naskah novel yang sedang ditulisnya tapi tak tuntas di meja kerja yang pernah beliau gunakan selagi hidupnya. Sayang saya tak terpikir untuk menyelamatkan naskahnya. Saya biarkan saja lembar-lembar kertas itu menguning dan mulai keriting kusut di suatu rak dinding yang dingin di negeri yang jauh itu. Kini hanya ada penyesalan pada diri saya, sebab saya tak yakin ada orang yang menaruh minat menyimpan dan mengabadikan naskah itu. Sebab tak semua orang membaca sastra, bukan?

***

Kanker memang amat menyakitkan dan perlu ditangani dengan tepat sekaligus hati-hati. Sewaktu menyadari bahwa penyakit mematikan ini kembali menyerang saya, yang terbayang adalah mahalnya biaya perawatan saya di rumah sakit. Akan ada komponen biaya pemeriksaan dokter, pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta sudah barang tentu administrasi. Sepanjang pengetahuan saya, semua terapi akan memakan waktu lama yang berimbas pada mahalnya ongkos yang dikeluarkan. Celakanya, saya kini bukan istri Pegawai Negeri Sipil (PNS) lagi. Sebab perceraian yang dipaksakan sepihak tanpa izin atasan telah membuat saya terpuruk menjadi seseorang tanpa arti. Hak-hak pemenuhan hajat hidup saya tak pernah lagi saya terima, termasuk hak penggunaan Asuransi Kesehatan (Askes) yang diberikan kepada setiap PNS dan keluarganya. Padahal menurut peraturan kepegawaian pada Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1983 pasal 8 ayat 2, sebagai istri yang diceraikan dan tidak menikah lagi, saya berhak memperoleh sebagian gaji mantan suami saya. Sayang nasib baik belum berpihak kepada saya.

Oleh sebab itu, saya kemudian beralih ke pengobatan alternatif yakni pengobatan herbal melalui seorang sinshe Cina. Kepadanya biaya pengobatan bisa ditekan lebih memadai untuk saya. Obat kemoterapi yang harus digunakan pun dimasukkan per oral sehingga harganya lebih murah dibandingkan kemoterapi di rumah sakit. Secara logika mengikuti penjelasan sinshe, keuntungan pengobatan ini adalah saya tak perlu disakiti namun obat kemoterapinya tetap akan masuk ke dalam tubuh bahkan bisa menjangkau seluruh bagian tubuh sebab larut di dalam aliran darah.

Satu hal yang harus saya jaga benar adalah, kondisi kejiwaan saya. Saya tak boleh banyak berpikir. Stress harus dihindari. Selain itu, kelelahan fisik pun tak boleh terjadi. Dengan kata lain, saya harus beristirahat total.

Hal-hal menyenangkan itu ternyata jauh dari jangkauan saya. Selain tak punya penata laksana rumah tangga yang bisa membantu melakukan tugas-tugas harian saya, hidup saya pun penuh dengan tekanan. Ada pihak-pihak tertentu yang sepertinya tak menghendaki hidup saya bahagia. Oleh karena itu, saya rentan terkena stress yang berimbas pada meruyaknya penyakit saya.

Kini tumor saya pecah di bagian luar, menimbulkan luka yang basah menyakitkan. Sinshe mengatasinya dengan memberikan sejenis serbuk obat luka yang terbuat dari  akar-akaran. Dengan menaburkannya di atas luka pecahan tumor saya seharusnya luka itu akan mengering. Namun entah mengapa, serbuk yang amat mahal harganya itu tetap tak mampu menolong keadaan saya. Sehingga akhirnya sinshe menganjurkan saya untuk membeli antibiotika yang amat terkenal dalam khazanah pengobatan Cina, yaitu obat Pien Tze Huang. Obat ini biasa digunakan sebagai pelawan infeksi, termasuk membantu mempercepat penyembuhan pasien yang habis menjalani operasi.

Untuk mendapatkannya, seorang pasien mesti teliti. Sebab konon sinshe mengatakan, di negara asalnya sana, obat itu hanya diproduksi oleh empu-empu tertentu yang betul-betul adidaya. Bahkan pabrik obat keluarga sinshe saya di Propinsi Guangzhou pun tidak bisa membuatnya. Itu sebabnya obat berbentuk lempengan sebesar setengah jari manusia yang kemudian akan ditumbuk terlebih dulu sebelum diserahkan kepada pembelinya, harganya pun luar biasa mahal berpatokan kepada kurs dollar yang berlaku saat itu. 

Obat yang satu ini dijual dalam kemasan karton kecil berwarna merah jingga dengan logo keperak-perakan. Di Indonesia, Pien Tze Huang yang terdaftar pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kementerian Kesehatan adalah hasil impor PT. Saras Subur Ayoe. Selain yang itu kata sinshe, adalah obat dengan kualitas nomor dua. 

Anak-anak saya yang alhamdulillah selalu sabar serta ikhlas mengupayakan pengobatan untuk saya mencoba untuk mendapatkannya. Pada masa ini harganya berkisar enam ratus dua puluh ribu rupiah. Obat ini dibagi menjadi enam butir kapsul yang harus dimakan sehari tiga kali. Jika beruntung, dengan dua dosis atau dua belas kapsul saja, pasien sudah tertolong. Namun tak demikian halnya dengan saya, agaknya obat ini seperti tak sudi meringankan beban penderitaan saya. Sehingga akhir-akhir ini sinshe bahkan menganjurkan saya untuk pergi ke rumah sakit dan menjalani pengangkatan payudara saya.

Duh, operasi lagi. Itu keluhan saya ketika menanggapi usulannya. Sudah barang tentu saya tak mampu mendanainya. Belum lagi saya dan anak saya teringat pesan sinshe untuk menghindari operasi sedapat mungkin. Dulu, di masa awal pengobatan kepadanya, sinshe sangat senang mendapati tumor saya belum dilukai, belum pernah dioperasi. Tapi mengapa kini justru larangannya dicabutnya sendiri?

Mencermati kegelisahan dan tanda tanya kami sinshe mengatakan, larangan dioperasi hanya berlaku untuk pasien yang tumornya masuk kategori prima, yakni tumor yang belum disentuh-sentuh pisau bedah atau alat apa pun juga. Sebab dengan dilukai, sel-sel kanker seperti ceritanya dulu, akan berontak melawan menjadi semakin ganas. Itu sebabnya dulu kista pada organ reproduksi saya selalu tumbuh kembali. Tapi kini berhubung tumor saya sudah luka dengan sendirinya, tak ada cara lain untuk menghilangkan sakit yang menyiksa itu selain membuang tempat tumbuhnya. Artinya payudara saya diangkat seluruhnya. Lalu nanti bekas-bekasnya digempur dengan kemoterapi, radiasi dan juga obat-obatan herbal darinya yang tetap harus saya makan seperti sekarang. Syaratnya cuma satu, saya tak boleh menyatukan obat-obat rumah sakit dengan obat herbal itu. Jadi saya harus mengonsumsinya dua jam setelah selesai dikemoterapi atau menelan obat-obatan dokter.

Penjelasannya mudah dimengerti dan sangat masuk akal pula. Sebab, sinshe ternyata memperhitungkan juga mahalnya biaya pengobatan yang mesti saya tanggung hingga sembuh tuntas. Kata sinshe, pengobatan herbal yang diberikannya bukanlah obat yang bisa segera menyembuhkan. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memperlihatkan hasilnya. Sangat berbeda dengan pengobatan empiris dari rumah sakit. Jadi, kalau saya dioperasi, maka waktu penyembuhan penyakit diharapkan lebih singkat sehingga biaya dapat ditekan.

Saya tercenung mencermati penjelasannya. Di masa kini di mana manusia kelihatannya sangat individualistis, ternyata masih ada yang sudi memikirkan manusia lainnya, meski dia bukan sanak bukan pula saudara. Dan, sinshe ini cuma salah satu di antaranya. Sebab ternyata, kabar sakit saya sudah menyebar di kalangan teman-teman saya, baik teman sekolah, teman kuliah maupun teman-teman anggota Dharma Wanita Persatuan di kementerian tempat mantan suami saya bekerja. Lalu mereka secara beramai-ramai menengok saya serta merundingkan cara terbaik untuk menyelamatkan nyawa saya. 

Di antara bibir-bibir yang mengembangkan senyum dan mata-mata indah yang memancarkan kehangatan, mereka akan berjuang bersama-sama mengusahakan pengobatan itu untuk saya. Bahkan secara tak terduga, Allah lagi-lagi telah menampakkan kuasaNya bagi saya. Minggu lalu ketika dalam perjalanan menuju kampusnya di Jakarta, anak bungsu saya bertemu secara tak sengaja dengan salah seorang dari mereka. Subhanallah! Teman saya yang satu ini menyuruh anak saya membujuk saya untuk mau berobat ke RS Kanker Dharmais. Beliau sendiri menjanjikan akan membawa saya kepada dokter kenalannya di sana, lalu teman-teman yang lain akan bergantian bersama-sama merawat saya. Ya Tuhanku! Panjang benar uluran TanganNya, KasihNya tiada henti dan tiada berbatas. Artinya, tiada pula saya dapat membalasnya. Kini saya dalam kebimbangan, bimbang menanti saat yang tepat untuk menjalani semuanya. Sebab, masih ada faktor psikologis yang mesti saya pertimbangkan sebelum saya memulai perjuangan saya yang selanjutnya. Yakni perjuangan kali ini untuk melawan penyakit mematikan ini guna meraih mahkota kebahagiaan yang akan saya persembahkan bagi anak-anak saya yang budiman. Saya cuma bisa merenunginya sekarang ini. Hidup dengan penyakit kanker benar-benar tidak mudah kiranya.

(Bersambung)

28 komentar:

  1. bener-bener jadi serba salah ya Tante
    padahal mesti banyak tertawa dan pikiran tenang untuk proses penyembuhan
    tapi....., tertawa dan tenangnya itu ya susah ya
    inget cerita Tante, nonton yang lucu aja ngga bisa tertawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihihi....... iya, gitu deh :-D

      Tapi katanya sih life must go on, jadi ya dijalanin aja deh menurut skenario Allah Swt.

      Beneran, tante susah disuruh ngetawain isinya tayangan TV yang bisa bikin orang ketawa. Udah nggak ada rasa geli-gelinya gitu.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Akan dan harus saya coba terus sih kang. Terima kasih atas moral supportnya. Akhir-akhir ini saya semakin tahu bahwa Allah itu ada di antara kita dan menjadi pendengar yang amat baik serta pengamat tentang segala kehidupan kita.

      Selamat akhir pekan, selamat memandangi gundukan salju ya kang.

      Hapus
  3. salam kenal bunda & tetap semangat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu Fauziah, salam kenal kembali, iya saya belum kepengin mati ah, jadi harus tetap memelihara semangat. :-)

      Hapus
    2. iiih bunda jgn panggil ibu dong ;-) ,dah lama pengen kenalan sama bunda, Alhamdulillah kesampean juga :-).

      Hapus
    3. Aih..... hihihihihi....... ex komunitas Mp juga ya? Id Mp nya apa sih mbak?

      Hapus
    4. saya hanya punya di BS aja bunda, tapi saya pembaca setia bundel & jandra 22. boleh tanya ga bunda sejak kpn bunda mengetahui ada benjolan di payudara? maaf kepo nih klo kata anak2 sekarang :-)

      Hapus
    5. Maksudnya pembaca setia blog saya di mana, di BS yang satu ini atau dua blog yang di Mp?

      Saya sudah lama tahu ada benjolan. Bahkan dulu di organ reproduksi juga banyak sel-sel yang tumbuh mengganggu. Namun saya baru berobat untuk kanker payudara saya setengah tahun yang lalu. Karena terkendala biaya, saya memilih ke sinshe. Sayang sinshe saya sekarang menganjurkan saya beralih ke RS aja untuk menjalani operasi dan seterusnya. Gitu sih. Mbak Fauziah bukan follower saya ya? Nggak 'pa'pa juga sih, cuma sekedar tanya aja mengingat follower saya semua memang kontak lama saya di Mp.

      Hapus
    6. iya bunda sy pembaca setia 2 MP bunda. sy baru jd follower bunda nih seneng deh. bunda smoga jln pengobatan medis yg disarankan sinshe adlh yang terbaik untuk mengangkat rasa sakit yang bunda alami selama ini....aamiin

      Hapus
    7. Oh gitu ya? Ternyata di luaran Mper's banyak juga yang sering baca-baca di lapak saya. Terima kasih ya mbak, padahal tulisan biasa aja kan tuh.

      Kok tau juga saya pun buka site di BS ini?

      Hapus
    8. tulisan bunda enak dibaca jd ketagihan mau baca trs tlsn2 yg lain. saya tahu dr tulisan bunda & komen di buku tamunya bundel :-)

      Hapus
    9. Ah sebetulnya enggak juga sih, cuma curhatan biasa yang semua orang juga bisa bikin. Tapi terima kasih ya.

      Hapus
  4. itu cerita tentang ibunya gilang ramadhan ya mbak?

    tetap semangat ya mbak.. emang susah kalu kitanya sakit dan pengen ketawa ga bisa.. pasti banyak jalan menuju sembuh.. jadi inget sapa gitu yang bilang: for every problem, there is a solution.. for every sickness, there is a medicine..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tentang beliau dan suaminya, yang biasa saya panggil bu Tines dan mang Atun.

      Suka banget deh aku sama kutipan pernyataan orang itu. Hari ini ada fakta mengejutkan lagi buat saya yang penuh surprise, nanti saya tulis di tempat yang satunya aja karena berkaitan dengan yang di sana.

      Hapus
  5. sabar ya bunda
    hugs always for you

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sabar itu harus kalau kita ingin sehat lagi. Bener ya nak In? *pelukan balik ala tinky winky*

      Hapus
  6. Mak, mau minta tolong di share link foto saya dan mamak ini , supaya teman2 yang punya FB bisa membukanya dan melike nya. maaf ngerepotin ya mak


    http://subsite.liputan6.com/me-and-mom/detail.php?img=3440

    terimakasih banyaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto apa sih nak? Yang dulu itu bukan? Maaf kok linknya nggak bisa dibuka ya.........

      Ada apa gerangan?

      Hapus
  7. Shanaz Haque saja bisa melawan kankernya dan hidup panjang umur sampai sekarang, apalagi Bunda. Semangat dan yang sabar ya Bunda.

    Ngga ingin coba Pengobatan Jeng Ana, Si Ratu Herbal itu, Bunda ? Saya sering lihat dia di TV belakangan ini. Bunda bisa googling untuk tahu lebih lanjut tentangnya. Dan waktu saya nonton di TV, pasiennya kalau memang tidak berdaya untuk bangun dari pembaringan, bisa tidak datang kok dan diwakilkan siapapun sambil membawa hasil cek laboratorium kesehatannya walau kunjungan pertama sebaiknya memang datang sendiri. Sekedar informasi, Bunda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul dia berhasil, ibunda dan mertuanya enggak. Waktu saya melawat mertuanya dulu, sedih juga saya, terasa kehilangan sosoknya yang cantik. Sekarang saya berobat ke RSK Dharmais kok, walau belum ditreatment dokter karena dokter yang saya tuju sedang cuti natal, baru masuk kerja lusa. Terima kasih dukungan semangatnya dan juga mbak udah jadi follower saya meski site saya sangat apa adanya. :-)

      Hapus
  8. Sudah seminggu lebih tidak melihat update-an tulisan ini, semoga mbak Julie sehat wal afiat.
    Selamat tahun baru 2013, semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu meliputi mbak Julie sekeluarga. aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Updating di Senthong mas. Saya akhirnya nyerah, dibawa teman-teman dari Kemlu ke RSK Dharmais, tapi belum bisa ketemu dokter karena dokter yang dituju teman-teman saya sedang cuti natal, baru masuk besok lusa.

      Sinshe sudah nyerah nangani saya, tolong doakan saya supaya bisa tetap survive ya. Saya masih ingin bisa berbagi sih.

      Selamat tahun baru juga dik Iwan, semoga senantiasa sehat sejahtera dan penuh barokah di tahun mendatang.

      Hapus
  9. Sama-sama, terima kasih juga. Ah kata siapa ini sitenya biasa saja ? Istimewa banget kok. Saya sampai bikin blog karena Bunda dan ingin ngikutin cerita Bunda terus hehe. Alhamdulillah kalau sudah di Dharmais. Ingin nengok Bunda boleh kah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini yang sebagian besar kan pindahan dari Mp saya yang satunya. :-D

      BTW saya nggak hospitalized di Dharmais, kok baru pemeriksaan aja, nantinya mau di Bogor sini biar nggak kejauhan.

      Hapus
  10. Bundaaaaa....heem..perjuangan tiada akhir ya. Tetap semangat, insyaAllah bisa ya bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nak. Semoga Allah senantiasa memberikan kesabaran dan jalan yang terbaik menuju kesembuhan saya. Terima kasih dukungan moralnya ya.

      Hapus

Pita Pink