Selasa, 06 Mei 2014

ROBOT GEDEK JILID 2

Melihat pemberitaan seputar pelecehan seksual terhadap anak-anak belakangan ini yang muncul di media, aku jadi teringat salah satu pengorbanan bunda yang sekarang terasa begitu berarti.

Tentu kita masih ingat dengan fenomena Robot Gedek yang muncul di era tahun 90-an awal. Robot Gedek adalah seseorang yang mempunyai kelainan pada orientasi seksnya dan memilih melampiaskannya pada anak-anak di bawah umur. Kala itu aku dan kakakku masih sangat lugu mengingat kami baru kembali dari luar negeri. Kakakku masih duduk di bangku SD sedangkan aku sendiri masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK).

Robot Gedek ramai diperbincangkan di media dan menjadi salah satu topik terhangat di antara para orang tua kala itu. Usia kami yang masih belum sampai 10 tahun membuat bunda sangat amat khawatir akan fenomena Robot Gedek itu. Kami memang punya pengasuh yang tinggal di rumah kami, tapi setiap berangkat ke sekolah kami selalu di antar bunda. Sekolah kakakku memang tak begitu dekat dari rumah. Butuh satu kali naik angkutan kota (angkot) dari ujung trayek hingga ke ujungnya lagi yang berada di pasar, sebuah tempat yang amat sangat ramai akan orang dan kendaraan. Sementara sekolahku sendiri hanya berjarak tak sampai 200 meter dari rumah. Meski begitu, bunda selalu mengantarku ke sekolah sedangkan beberapa temanku ada yang diikutkan dalam jemputan becak beramai-ramai. Peran pengasuh kami tentu juga utuk mengawasi keberadaan kami, tapi umumnya hanya saat di dalam rumah. Ia jarang pergi bersama kami bertiga saja. Kami pun nyaris tak pernah diberi izin untuk bermain di luar, khususnya di rumah teman atau orang lain. Karena pengawasan tidak bisa maksimal. Maka dari itu sebagian besar teman kami yang datang ke rumah untuk bermain.

Karena kekhawatiran itulah bunda tak pernah ingin melepaskan kami begitu saja untuk pergi main sendiri. Hal ini sempat membuat sedikit perdebatan antara bunda dan ayah, di mana ayah mengganggap bahwa tidak selalu kami harus dijaga dan diantarkan ke sekolah. Menurutnya kami bisa dipasrahkan pada pengasuh yang memang sudah sejak sebelum kelahiran kami ikut bekerja hingga itu berpindah-pindah negara sesuai penempatan tugas ayah. Tapi bunda punya kekhawatiran yang tinggi akan fenomena Robot Gedek. Sehingga beliau tidak sampai hati meninggalkan kami bersama orang lain.

Kini, berpuluh-puluh tahun kemudian fenomena serupa merebak kembali. Pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak mulai beraksi lagi. Semua media ramai memberitakan mulai dari kasus di Jakarta International School (JIS) yang kebetulan adalah satu grup dengan sekolahku di Cape Town, Afrika Selatan, American International School of Cape Town (AISCT) hingga yang lebih menghebohkan lagi di mana seseorang dengan nama panggilan Emon melecehkan 110 orang anak.

Bunda telah tiada, tapi akhirnya apa yang dilakukan bunda begitu terasa manfaatnya. Bukan tidak mungkin pada saat itu kami menjadi salah satu korban Robot Gedek. Kini kami hidup selayaknya. Terima kasih bunda. Terima kasih atas pengorbanan waktumu yang tiada batas bagi kami. Insya Allah, Allah menghargai tujuan baikmu itu dan membalasnya dengan kebaikan dan kebahagiaan di sisi-Nya. Amin.

8 komentar:

  1. Dan sekarang, dirimu harus mengikuti jejak bunda, waspada dg anak2 kecil disekeliling kita, jaga mereka sebaik bunda menjaga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Kebetulan keponakanku udah banyak. Jadi seenggak-enggaknya mesti ngawasin mereka kalau pas lagi ngumpul.

      Hapus
    2. baca postingan di grup mp (fb) banyak yg mengalami pelecehan2 itu, ya sgala amcem jenisnya, dr yg ketemu org di jalan trus dikasih liat, ada yg dikerjain sodara, temen dan kenalan keluarga...
      yah, gak aman buat anak2 sendirian tanpa pengawasan
      #merinding

      Hapus
  2. Bundaaaa.... saya kangen bangetttss. bunda sehat?? gimana progress bunda?
    *hug hug

    BalasHapus
    Balasan
    1. bunda Julie sudah meninggal, sekarang yang melanjutkan blog ini anaknya.

      Hapus
    2. Inalilahi wa ina ilaihi rajiun... semoga bunda Julie tenang di sisi-Nya...

      Hapus
  3. Innaalillahi wa innaa ilaihi raji'un.... Bunda udah bahagia di sisinya.... Bun, terima kasih atas nasehat dan tauladan serta sharing-mu sejak kita bareng-bareng di Multiply dulu ya.

    Maafkan aku, belum sempat kopdaran walau berkali-kali kita janjian ya, Bun.... Love you, Bunda Julie....

    BalasHapus
  4. kebaikan bunda akan selalu ada walaupun beliau sudah tiada :)

    BalasHapus

Pita Pink