Senin, 07 April 2014

KEMBALI MENGISI

Sudah nyaris satu bulan lamanya blog bunda ini tak sempat kuisi walau hanya dengan sedikit kata-kata. Rasanya dengan keadaan seperti sekarang ini agak sulit bagiku untuk dapat mengisi blog ini secara rutin. Mungkin kalau bunda lihat dari alamnya, beliau akan sedikit ngomel meski alhamdulillah semasa hidupnya beliau gak pernah sekalipun membentak kedua putranya apalagi sampai menggunakan fisiknya hanya sekedar untuk mengingatkan sesuatu.

Selama waktu satu bulan ini cukup banyak hal-hal baru yang kualami dalam hidupku. Mulai dari gedung kampus yang baru, bertemu dengan ayahanda tercinta, sampai puncaknya adalah kemarin saat acara 40 harian meninggalnya bunda. Semua hal ini benar-benar memberiku banyak pelajaran berarti tentang bagaimana kita bisa menghargai hidup ini tanpa sedikitpun merasa kekurangan.

Saat kembali ke kampus sekitar sebulan yang lalu, ku dapati ternyata gedungnya telah berubah menjadi sebuah gedung baru yang nampak modern. Penampilan temboknya yang diselimuti lubang-lubang berukuran cukup besar memberi kesan seperti sebuah kantor Research In Motion (RIM) yang terkenal akan produk telepon seluler pintar Blackberry-nya.
Sisi lain kampus yang nampak baru.







Gedung fakultasku yang kini nampak mirip kantor RIM.

Berselang seminggu kemudian, ayahku pulang dari negara penempatannya untuk urusan pekerjaan. Di sela-sela waktunya, beliau menyempatkan menengok aku beserta kakakku di rumah yang beliau dirikan dengan segala jerih payahnya selama ini. Sebuah rumah yang bagi kami semua, termasuk bagi kedua orang tua kami, sangat sarat akan kenangan. Setiap hari aku tak henti-hentinya merasa bersykur karena telah dilahirkan dari sepasang orang tua yang begitu luar biasa. Mereka memang hanya orang biasa, tapi ketika mereka menjadi orang tua, saat itulah mereka menjadi luar biasa.

Bu, kalau ibu mendengar setiap ucapanku atau membaca tulisan ini, aku ingin sekali mengatakan bahwa Bapak & Ibu sungguh amat luar biasa. Aku yakin, banyak orang yang akan iri dengan keberhasilan kalian berdua dalam membesarkan kami hingga seperti sekarang ini. Maka dari itu, kelak akan kubagi semua hal yang pernah ibu terapkan dalam mendidik kami. Insya Allah ada manfaatnya bagi orang lain. Amin.

Ayahku seperti biasa membawakan beberapa oleh-oleh yang tak bisa dibilang sedikit. Selama ini bunda sempat beberapa kali menyayangkan bahwa oleh-oleh yang diberikannya hanya sebatas suvenir. Hal ini berulang kali aku tegaskan pada bunda bahwa ini tak menjadi masalah bagi kami. Yang terpenting adalah keikhlasan ayah ketika memberikan sesuatu pada kami. Karena kami juga ikhlas memberikan perhatian dan kasih sayang kami kepada mereka berdua. Lagipula apalah artinya memberi barang dalam jumlah dan nilai yang fantastis kalau tak dibarengi dengan keikhlasan. Percuma!

"Jumlah dan bentukanya tak penting, yang terpenting nilai keikhlasan dan kasih sayangnya
."


Beliau hari itu tiba sekira pukul 3 sore, mundur dari rencana awal sekitar pukul 1 siang. Sesampainya di rumah, beliau langsung menyapa kami lalu melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke seluruh sudut rumah sembari menanyakan mengenai beberapa bagian yang sudah perlu perbaikan. Alhamdulillah kami sempat membereskan rumah sejak beberapa hari menjelang kedatangan beliau. Sehingga ketika beliau sidak, semua dalam keadaan yang rapi dan bersih. Memang biasanya juga kami tak sanggup apabila melihat rumah dalam keadaan yang kotor. Namun khusus untuk kali ini, kami sempatkan untuk membersihkannya lebih bersih lagi serta merapikan serapi-rapinya.

Seusai itu beliau mengunjungi salah satu kerabatnya yang kebetulan sejak masih kecil terbiasa memomong beliau. Rumahnya tak jauh dari rumah kami sehingga tak sampai 10 menit kami sudah tiba di rumahnya. Wanita yang biasa kusapa dengan panggilan Bude, karena usianya yang lebih tua dari ayah, memeluknya seraya menitikkan air mata haru.

"Matur nuwun Djat, kowe wis gelem niliki anak-anakmu.(1) Mereka anak-anak yang hebat. Mbak salut sama caramu dan ibunya anak-anak dalam mendidik mereka."

(1) Terima kasih Djat, kamu sudah mau menengok anak-anakmu.

Kira-kira begitulah ucapnya ketika memeluk ayah dalam rasa harunya. Kami mengobrol tak terlalu lama, hanya sekitar setengah jam saja. Sebab saat itu waktu sudah semakin sore dan agenda kami masih cukup banyak. Dari sana kami pergi menengok bunda serta kakek & nenek yang kebetulan berada di satu pemakaman. Ayahku yang belakangan ini sempat memelihara jenggot putih cukup tebal bak sinterklaas langsung kugeret menuju makam bunda terlebih dahulu. Langkahku sengaja kupercepat karena ada rasa rindu yang amat sangat terasa di diriku ini. Sesampainya di sana, ayah sedikit terkejut karena mendapati makam telah benar-benar rapi meski usianya belum genap satu bulan. Rumput hijau yang menghiasinya nampak begitu indah dan asri. Tapi beliau sama sekali tak menampilkan raut wajah yang sedih. Entahlah, mungkin baginya ini hanyalah bagian dari masa lalu dan tak ada yang perlu disesali. Semua terlah terjadi dan kini saatnya untuk memulai kehidupan yang baru.


Menatap sang mantan dalam tidurnya yang abadi.

Sebelum meninggalkan makam bunda, aku seperti biasa sempat mencari-cari bunga kamboja yang bertebaran di sekitar makam. Namun sayang saat itu tak banyak yang dapat kutemui. Ayahku dan kakak telah meninggalkan makam bunda lebih dulu. Sementara aku masih terus berusaha untuk mendapatkan bunga tersebut. Dalam perjalanan menuju makam kakekku, tiba-tiba perasaanku menjadi berat sekali. Seolah-olah ada yang tak mau ditinggal olehku, sehingga tanpa bisa kutahan ada air mata yang menetes membasahi ruas-ruas makam yang sempit. Mungkin bunda sedang terharu melihat kebersamaan kami bertiga yang belakangan ini sudah agak sulit diwujudkan. Dari makam bunda, kami meneruskan perjalanan menuju makam orang tua ayahku dan orang tua bunda. Aku terus bersyukur bahwa dalam keadaan seperti sekarang pun beliau masih berkenan menengok makam orang tua bunda, setidaknya masih mau menemani kami ke sana.

Selepas itu, kami beranjak dari pemakaman yang rupanya juga menjadi tempat dimakamkannya beberapa orang ternama antara lain penyanyi Alda Risma dan yang terakhir pelawak Djodjon. Makam Djodjon letaknya tak begitu jauh dari makam bunda. Kami menuju makam mas Didit, kakakku yang pertama. Lokasinya tak jauh dari rumah masa kecil bunda. Sebelum kembali ke sini, ayahku sempat berpesan untuk menyiapkan sikat dan sebotol air untuk sedikit menggosok makam mas Didit yang memang sudah dipenuhi lumut. Setibanya di sana kami langsung berdoa lalu membersihkan makamnya sesuai arahan ayah. Sejak dulu nampaknya ayah sangat merasa kehilangan anak pertamanya itu. Setiap ada kesempatan, beliau selalu mengajak kami untuk menengoknya. Makamnya yang mungil dan juga dikelilingi makam-makam mungil lainnya, membuat kami terkadang agak kesusahan ketika hendak duduk sejenak untuk berdoa atau membersihkan makamnya. Tapi di pemakaman itu lebih sepi dari tempat bunda, sebab tanahnya pun tanah wakaf. Tak sembarang orang bisa dimakamkan di sana. 

Tiga hari kemudian beliau sudah jadwalnya untuk kembali lagi penempatannya. Memang beliau tak bisa berlama-lama di sini sebab di tempat kerjanya pun masih banyak pekerjaan yang menunggu, antara lain persiapan Pemilu 2014 yang baru saja berlangsung di beberapa negara. Kami mengantarkannya ke bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu malam sekitar pukul 8. Ketika beliau hendak masuk sekira pukul 11, kami memeluknya seraya berpesan agar menjaga kesehatan. Pengalaman kami merawat bunda yang terserang penyakit kanker, membuat kami waspada akan kesehatan semua orang yang ada di sekitar kehidupan kami. Tak terkecuali orang tua, teman, serta kerabat. 


"Pak, jaga kesehatan ya. Jangan makan yang serba bakar-bakar dan jangan terlalu banyak makan daging. Perbanyak sayurnya aja. Aku gak mau bapak seperti ibu, harus sakit-sakitan melawan kankernya." ujarku dengan nada sedikit memelas. 

"Iya dik, bapak akan usahakan" begitu ujarnya dengan nada meyakinkan. 

Lalu kami berpamitan dan tak lupa kutuliskan pesan yang sama melalui Blackberry Messenger (BBM) sesaat sebelum beliau lepas landas. 


***
Tiga minggu berselang, kami mengadakan acara 40 harian meninggalnya bunda. Kami mengundang sanak saudara, tetangga, teman-teman sekolah bunda, beberapa teman-teman blogger serta teman-teman bunda di Dharma Wanita Persatuan (DWP) melalui Facebook dan SMS. Alhamdulillah seluruh acara berjalan lancar, meski hanya dipersiapkan oleh kami berdua. Aku dan kakakku benar-benar tak dibantu siapapun. Hal itu lantas mebuat ayah terkejut. Bahkan salah satu orang tua temanku yang kebetulan mengelola rumah makan tempat kami memesan kue-kue pun terkejut. Beliau mengungkapkan rasa kasihannya padaku saat aku hendak mengambil kue pesanan. Lantas kujawab saja bahwa hal ini tidak perlu dikasihani, toh semuanya terurus dengan baik. 

Dari kalangan blogger, yang sempat hadir adalah mas Bambang Priantono yang jauh-jauh datang naik KRL. Ia menyampaikan bahwa teman-teman blogger yang lain tak dapat hadir. Terima kasih sekali mas Bambang. Kemudian dari kalangan teman-teman sekolah bunda banyak sekali yang datang. Sebagian besar belakangan ini sering ku lihat saat mereka menjenguk bunda ke rumah maupun ke RS. Lalu saudara walaupun tak semuanya dapat hadir tapi untuk hari itu cukup ramai. Tetangga pun walau tiba agak belakangan tapi juga cukup banyak yang hadir meski kebanyakan dari kalangan ibu-ibu. Apabila dijumlah, hampir seratus orang yang hadir pada acara yang digelar sabtu (5/4) siang lalu itu. 

Rupanya bukan orang yang hadir saja yang banyak. Rupanya banyak dari mereka yang menyumbang kue-kue dalam jumlah banyak. Entah karena apa aku tak tahu pasti, tapi mungkin mereka beranggapan bahwa karena kami hanya tinggal berdua dan kami adalah laki-laki jadi belum tentu semuanya terurus dengan baik. Sehingga dengan inisiatif mereka sendiri, meja makanku jadi penuh oleh makanan-makanan sumbangan orang banyak bahkan sampai ke lantai. Saudara-saudaraku yang datang dari Bandung pun tak ku larang untuk memilih sendiri makanan mana yang hendak mereka bawa pulang dan sebanyak apapun jumlahnya. Malah aku berharap makanan ini segera habis dibawa orang sebelum terlanjur tak enak untuk dimakan. Satpam di depan rumah pun sudah dibagikan masing-masing satu besek dan berbagai bungkus kue aneka rasa. Namun tetap saja meja makanku masih penuh. Tadi siang salah seorang bibiku datang menengok, ia pun kuberi sekantung kue dan sekantung buah-buahan. 

Ingin rasanya berbagai lewat internet. Kalau bisa di-attach ingin sekali rasanya meng-attach semua makanan itu di sini
 
Hehehe... :D

(Haryadi)
Makam bunda saat terakhir kali ditengok hari minggu (6/4).

4 komentar:

  1. Insyaallah, bunda selalu bahagia di sana, karena selalu dikirimkan do'a oleh anak-anaknya...
    Aamiin...

    Makanannya boleh dikirim ke sini :D *dijitakrame2*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Sekarang udah 7 hari setelah 40 harian. Makanannya masih layak gak ya? Hmmm...

      Hapus
  2. innalillahi wa inaillaihirojiun...
    semoga segala amal baik bunda diterima allah swt, diampuni segala dosa2nya dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, amin.

    salam
    /kayka
    *salah satu yang mengenal bunda dari tulisan2nya...

    BalasHapus
  3. Bunda.... aku kangen....

    BalasHapus

Pita Pink