Rabu, 30 Januari 2008

BALLADA SUMIRAH LASKAR PENGASONG

Penguasa,

Tolong aku

Biarkan aku menjejakkan kaki di tanah perkasa

Di antara dinding-dinding besi dan narapidana

Dimana kebebasan cuma jadi cerita

Dan impian yang tiada terhingga

 

Aku ini laskar terbuang

Tersuruk-suruk dalam rimbanya para penantang

Yang menghendaki keadilan jadi wajah bumi ini

 

Aku ini kaum Sumirah

Yang hidup tanpa gairah

Sebab nafas kami path terengah-engah

Lama lari diburu petuas yang jengah

Karena mengasong di tepian jalan

 

Rumah perkasa itu

Impianku untuk hidup damai

Tanpa beban esok pagi

Dan hari-hari nanti harus makan apa

 

Aku rela

Demi inderaku yang silau semata tertusuk

oleh keadilan yang seperti jauh mengawang

Mengangkasa

Mengejek kaumku

Kaum Sumirah, laskar pengasong

 

-ad-

 

Wien, empat mei sembilan tiga

BALLADA ORANG-ORANG TERBUANG

Dan pelita pun padam

Di mega yang bertaburkan bintang-bintang

Perasaan pun kelu

Di antara kaum proletar yang maju

 

Kita ini kaum tersingkir

Di tengah gelanggang pembangunan bangsa

Sebab kita hanya punya cita-cita

Dan kejujuran yang setia

 

Jangan menangis anakku,

Jika engkau bangun esok pagi

Tanpa secangkir kopi dan sesuap nasi

Sebab kini lahan telah habis untuk properti

Sebuah kenyataan untuk cepat menjadi kaya

atas nama kekayaaan 

atas nama kemakmuran

 

Kita ini orang-orang yang terbuang

Yang mengepit harapan untuk sepotong impian

Kita ini kaum sandal jepit

Yang terjepit diantara keinginan dan kenyataan

Untuk bangkit

Dari hidup papa, tidur lena di tanah merdeka

 

-ad-

 

Wien, tepian Donau dua mei sembilan tiga

SAJAK KEPASRAHAN

Dalam rinduku menebal kelam yang kelabu

Asa dan harap luruh satu-satu

Mengoyak seru yang dulu menggebu-gebu

 

Tanganku tengadah

Mengharap apa yang tak pernah ada

Penantian pun tinggal sia-sia

 

Kaumku,

Kita tinggal dalam kepasrahan

Apa yang ada

Hanyalah gema semata

 

Bangunlah!

Ucapkan salammu pada sang Raja

Segala yang empunya

Agar kasihnya padamu manis terasa

 

-ad-

 

Wien, dua puluh dua april sembilan tiga

PEKUBURAN

Di pelataran pekuburan

Para pelayat beriring satu satu

Menerjangi kerikil berserak di tanah basah

Diam dalam ketiadaberdayaan

 

Di pelataran pekuburan

Kususuri perjalanan yang telah lewat

Seraya menghitung bila saatnya

Aku tiba di tanah peristirahatan

Hari kemudian yang abadi

Bersama kekasih, kekal selamanya

ELEGI BAGI SANG GURU

Keluh yang bernama pedih itu kini datang satu-satu

Dan bara api pun redup

Cintaku hilang menuju sangkarnya yang dulu

 

Di batas senja ini

Kau ukir namamu wangi

Tinggalkan aku

Yang masih menyusuri jalanku

Yang panjang tak berbatas

Sendiri

 

Guruku,

Peluk aku untuk yang terakhir kali

Biarkan aku mencumbui candamu yang hangat

Agar perjuangan kita tak hanya tinggal sia-sia

Berteman kebijakanmu yang lekat di sini

Menegakkan kebenaran yang pelu ada

untuk mengisi kehidpan kita

Sebulat tekad

Yang lekat pada hayat

 

-ad-

Wien, sembilan belas april sembilan tiga

Kepada mentorku SN dan NS

 

DI DJUANDA ENAM BELAS

Rumah tua, kukuh tegak tapi angkuh

Gereja kuna, lama menatap lurus pandang ke sorga

Perempatan jalan, sepi, sepi namanya

 

Di sini cintaku bersaksi

Bulan makhdum mabuk kepayang

Cintaku, sayang, hanya kuberi

Pada siapa bisa abadi

 

-ad-

 

Bogor, sembilan maret tujuh empat

Kepada mas Tri

cintaku sejati

 

Sabtu, 26 Januari 2008

BALLADA SEPATU

Pada masaku kecil dulu, harga sepasang sepatu amatlah mahal. Karenanya beruntunglah orang yang memakai sepasang sepatu dengan pantas. Adakalanya sepatu diwariskan secara turun-temurun dari satu kaki ke kaki berikutnya, seperti halnya milikku. Walau ayahku orang berpangkat, tetapi pangkat ayahku tidak cukup untuk menjadikannya makmur. Ayahku orang yang sederhana dan bekerja bukan untuk mencari kekayaan. Bagi ayahku, kerja adalah pengabdian, baik bagi bangsa dan negara maupun untuk membahagiakan orang tua. Sebab dengan bekerja ayahku bisa menafkahi kami dengan halal, tanpa harus meminta-minta pula.

Sifat ayahku yang demikian ini menjadikannya seorang teladan. Tidak hanya di instansi tempatnya bekerja, melainkan tentu saja pada keluarga kami. Suamiku yang hanya mengenal figur ayahku sebagai seorang "kepala rumah tangga" mengadopsinya mentah-mentah. Dia akan sanggup bekerja tanpa mengenal batas waktu, asal hasilnya memuaskan dinas. Dan dia juga akan betah "meninggalkanku" untuk urusan-urusan pekerjaannya, asal dia setiap hari kembali membawakan rejeki yang halaal.

Aku tidak terlalu peduli pada itu. Buatku, dia ada di sisiku duapuluhempat jam atau hanya sekilas saja, tidaklah menjadi soal. Yang penting dia selalu mengingat tanggungjawabnya yang diambilnya ketika ayah menyerahkan aku ke tangannya di suatu pagi, saat dia baru saja dapat pekerjaan sebagai pegawai negeri. "Kali ini kuserahkan adikmu ke tanganmu sepenuhnya untuk selama-lamanya," begitu ucap ayahku dengan suara bergetar di ruang tamu rumah kami. Dan kudengar suamiku menyambut dengan ijab-kabul yang mantap. Suaranya lantang sampai ke telingaku yang mencuri-curi dengar dengan harap-harap cemas di ruang pengantin yang menempati kamar kakakku yang kedua. Kami menikah dengan adat Jawa, yang juga mengadopsi syariah Islam dengan tidak mengijinkan pasangan pengantin bersanding di acara akad-nikah. Mataku berbinar-binar lagi mengenangkannya. Mengingat-ingat pagi yang indah saat dulu aku dilepas untuk selamanya berjalan bersama mas Dj, cintaku yang satu.

-ad-

Sebetulnya aku tidak perlu marah mendengar rengekan anak bungsuku minta dibelikan sepasang addidas yang jadi impiannya di Jalan Suryakencana. Dia memang butuh sepatu itu walaupun harganya sangat mahal, sepertiga gaji sebulan suamiku. Tapi aku memang tak suka pada rengekannya, karena dia bersekolah di desa -dalam artian yang sesungguhnya- bersama masyarakat kelas bawah anak-anak para pedagang kecil, kuli bangunan, supir angkot dan petani. Aku ingin dia melihat kenyataan bahwa di sekitarnya masih banyak orang-orang yang hidup serba kekurangan, karenanya dia tidak pantas merengek. Seharusnya justru dia bersyukur dan menyisihkan sedikit uang sakunya untuk membantu teman-temannya yang kurang beruntung.

Sebutlah, membantu si Yanto atau Budi, misalnya. Ayah Yanto, montir pada bengkel di tepi jalan raya tak jauh dari rumahnya. Dan orang tua Budi berdagang bakso dari kampung ke kampung. Keduanya merupakan teman main anakku. Dan anakku dengan kemampuan yang ada rajin menularkan ilmu teknologi informasi kepada mereka berdua. Berjam-jam setiap minggu sepulang sekolah mereka akan duduk di muka komputer anakku dan asyik mempelajari apa yang ada. Aku bersyukur, dengan begitu anakku tidak lari ke luar rumah mencari teman yang aku tidak mengenal latar belakangnya.

Tapi anakku bukanlah anakku jika tidak pandai merengek. "Ibu tidak kasihan kepadaku, jalanan ke sekolah jauuuuuh dan medannya berat," begitu dia memberi alasan menyertai rengekannya akan sepatu baru. "Maksudmu bagaimana?" balasku bertanya. "Ya, karenanya aku perlu sepatu yang kuat untuk menginjak tanah becek campur batu-batu kali dan pasir," balasnya sambil menyusut keringat yang membajiri keningnya. Di punggungnya kaus dalam Rider telah melengket dengan seragam sekolahnya yang kubeli jadi di Jembatan Merah. Penuh resapan keringatnya sendiri. Aku memang iba melihatnya. Tapi aku telah terbiasa untuk mengatakan tidak dan meberinya pengertian, mumpung ayahnya masih di kantor. Sehingga waktu ini jadi kesempatan emas buatku mengatur rumah tanggaku sendiri.

"Adik," bujukku pelan, "ibu lebih suka kamu sering beli sepatu daripada sekali beli tapi mahalnya menyakiti perasaan teman-temanmu." Kupandangi wajahnya yang bulat telur yang mulai dihiasi jerawat disana-sini. "Hm, ibu pelit," gerutunya sambil melengos meninggalkanku yang berdiri di bawah anak tangga menuju ke kamarnya di lantai atas. Memang di rumahku yang kucicil dari BTN ini kami seakan-akan membuat dua buah rumah. Di bagian bawah untuk kami semua terdiri dari kamar tidurku, kamar untuk tetamu, ruang makan dan ruang tamu serta dapur. Sementara di atas anak-anak kami bebas melakukan apa saja tanpa khawatir kena semprot mulutku yang sejak aku menderita endometriosis galaknya melebihi salak anjing herder polisi. Kami menatanya menjadi dua buah kamar untuk masing-masng anak kami dilengkapi gudang mereka, ruang belajar bersama, kamar mandi mereka dan kamar pembantu kami.

"Dengar adik," bujukku lagi sambil membawakan segelas teh botol dingin kesukaannya serta sepiring kue pengisi perutnya yang mungkin mulai lapar lagi. Tiba-tiba dia sudah ada di tengah-tengah tangga akan kembali turun memasukkan seragam bekas pakainya ke keranjang cucian di kamar mandiku. Diterimanya teh botol dari tanganku, dan ditukarnya dengan menyerahkan baju-baju kotor itu. Dia tidak jadi turun, langsung masuk ke kamar kakaknya menyalakan komputer yang ada di situ mulai bermain.

Sehabis menaruh baju kotor, aku kembali ke atas mulai dengan ceramahku. Tentang sepatu itu. "Dulu, ibu juga berjalan kaki ke sekolah bersama bapakmu. Tapi ibu dan bapak tidak pernah memakai sepatu yang mahal-mahal, dan kami malah senang jika setiap tahun nenek-kakekmu membelikan kami sepasang sepatu baru," ujarku memulai sambil menyeret kursi di sebelahnya. Mata anakku nyalang menatap layar komputer yang baru berkedip-kedip mulai menyala. "Itu karena dulu belum ada sepatu mahal," balasnya ketus. "Bukan sayang, siapa bilang?" tanyaku. "Toko Sri Sura dari dulu sudah ada, namanya Eng Hoat," kataku berkisah sambil menyebut nama toko sepatu tertua dan paling terkenal karena keawetan produknya di Jembatan Merah, pertokoan tua di daerah kami. "Sepatu mereka bagus dan mahal, sekali-kali kami beli di situ. Tapi lebih sering kami beli di toko-toko lain karena kami tidak pernah punya keinginan harus selalu pakai sepatu mahal begitu," lanjutku. "Bukan, pasti bukan," sanggahnya, "pasti karena modelnya nggak ada yang ibu suka. Dan itu cuma satu-satunya toko sepatu bagus." Dia memonyongkan mulutnya menunjukkan kejengkelan hatinya.

Tiba-tiba aku jadi ingat kakakku yang ke empat. Umurnya enam tahun di atasku karena dia adalah kakaku langsung. Di antara kami lima bersaudara, dialah yang memiliki wajah paling cantik sekalipun tidak seorangpun di antara kami yang cantik. Rambutya yang hitam panjang selalu dicucinya dngan shampoo botolan, yang entah apa mereknya. Wajahnya dibedaki dengan Maya buatan Myrurgia, Spanyol yang dikemas dalam kertas bergambar nona cantik berambut keriting mempermainkan kipas di tangannya. Bibirnya dipoles dengan lipstick curian dari lemari rias ibuku yang aku ingat mereknya "Elizabeth Arden", serta diakhiri dengan semprotan minyak wangi Topaz, Avon atau Soir de Paris. Sekali-kali kalau pergi ke pesta ulang tahun temannya yang diisi dengan acara menari a-go-go dia memoleskan perona mata dari koleksinya yang berbentuk stick bersusun mulai dari warna biru muda di dasarnya, hingga hijau pada puncaknya. Kalau sudah begitu, ayah kami akan marah dan menyuruhnya mencuci muka dengan mengata-ngatai dia seperti orang kalah berkelahi.

Kakakku senang berdandan. Hampir setiap bulan dia mampir ke Pasar Bogor memilih satu-dua meter tekstil bagus dari toko cita Herotex dengan uang yang dimintanya pada kakak-kakak kami yang sudah berkeluarga. Selain itu, kakinya pasti dialasi sepatu warna-warni sesuai warna gaunnya atau eye shadownya yang biru atau hijau. Kadang-kadang kuning, merah atu oranye. Semua dipilih dari koleksi Wimo Shoes di toko "Tropic" yang memang terkenal karena koleksinya yang chic. Harganya jangan ditanya. Tapi ibu atau mbak Ning pasti akan dengan senang hati membelikannya karena dia sangat pandai mengambil hati orang tua. Sebetulnya persis sama dengan anak bungsuku ini.

Perjaka kecilku yang tak pernah rewel. Bahkan ketika dia sakit sekalipun. Aku ingat, dia tidak menangis sedikitpun ketika perutnya kembung dan gembung membesar disebabkan salah dosis obat sewaktu kami baru pulang dari Wina, Austria. Umurnya ketika itu belum genap lima tahun, sehingga masih rentan terserang penyakit. Lagi pula bicaranya pun belum lengkap, masih sedikit terbata-bata terkacaukan oleh bahasa Jerman yang sempat nyantel di lidahnya. Dengan keadaan yang demikian, kami sulit mengetahui keluhan anakku yang sesungguhnya. Hingga ketika dokter yang memberinya obat memutuskan untuk mengirim anakku ke kamar bedah, aku hampir saja menurut. Untung kemudian dia menyebut nama rumah sakit yang aku tidak begitu percaya. Karenanya kami tolak dan kami bawa anak kami ke RS PMI, RS tertua tempat kami sekeluarga biasa memasrahkan nasib. Dan di rumah sakit itulah kami bertemu dengan dokter berhati mulia yang kemudian menjadi langganan kami. Menurut beliau, anak kami tidak memerlukan tindakan bedah. Dia hanya perlu ditangani dengan cara tradisional yang sangat mudah. Dan dokter itu seratus prosen benar. Anakku cepat pulih di tangannya tanpa bedah, tanpa kesakitan dan tanpa air mata walaupun dokter Ali -demikian namanya- bilang, sebetulnya dia sangat kesakitan, hanya daya tahannya kuat.

-ad-

Sudah seminggu ini anakku terus merajuk. Gagal menembus belas kasihku dia lari ke pangkuan bapaknya. Tentu saja dia sebagai pencari nafkah tidak banyak pikir. Diturutinya kemauan anakku dan jadilah sepasang addidas baru hitam dengan garis-garis merah tiga, bersedia mengantarnya menapaki jalanan yang berat menuju ke desa Kayumanis, tempat dia bersekolah di SMPN 16. Kali ini aku lagi-lagi kalah dan mengalah. Apalah yang bisa kuperbuat? Aku hanya "bibi dapur" penunggu rumah "majikanku".

Kami mampir di rumah makan Alam Kuring di ujung jalan rumahku sehabis membeli sepatu itu. Tempat ini selain sangat dekat dengan rumah kami, juga sepi nyaris tanpa pengunjung. Pemiliknya seorang single mother berdarah Minang, teman SMA kakakku. Karenanya rasa masakannya agak sedikit melenceng dari pakem hidangan Sunda. Mungkin itulah yang menyebabkan restoran ini sepi pengunjung. Tapi kami justru suka duduk makan disana, di saung yang bertebaran di seputar lahannya yang luas. Kedua anak kami makan dengan lahapnya dengan hanya menggunakan jari-jari mereka. Kali ini aku tidak banyak cakap, juga tidak banyak makan. Nafsulku sudah hilang bersama tingkah anakku.

-ad-

Malam ini aku sibuk mengemasi barang-barangku, bersama suamiku besok kami akan terbang ke Singapura menjalankan tugas yang baru. Kali ini kami hanya berdua saja tanpa anak-anak sebab mereka belum selesai dengan kelas mereka sekarang. Menurut rencana, si kakak sudah tidak akan ikut kami lagi dan memilih jadi penunggu rumah. Tapi si bungsuku akan menyusul dua bulan ke depan.

"Kamu butuh apa dik? Apa yang harus ibu beli selama dua bulan ditinggal?" tanyaku membuka cakap ketika si bungsu duduk menjejeriku di lantai. "Nggak, semua masih ada. Juga sepatu itu. Aku cuma butuh kita cepat berkumpul lagi," jawabnya manja. Tangannya ikut melipat bajuku satu demi satu dan memasukkannya ke dalam kopor samsonite kami. "Ibu jangan marah lagi ya, sepatu itu akan aku pakai sampai bosan." katanya. Aku mengangguk mengiyakan. "Tapi adik harus tahu, hidup memang penuh perjuangan. Ada masanya adik susah seperti sekarang. Sekolah di desa,  jauh, banyak hambatan. Namun suatu saat Tuhan membalikkan hidupmu. Besok lusa kau akan jadi anak metropolitan di kota Besar yang namanya negara Singapura. Mana pernah kau sangka 'kan, anak desa melanglang buana?" timpalku sambil mengelus pucuk rambutnya yang tebal. "Iya," jawabnya singkat.

"Dulu, ibu dan bapak juga orang biasa. Tapi karena perjuangan bapakmu yang didasari rasa ikhlas sekarang bapakmu beruntung berkesempatan pergi kemana saja. Allah mengganjarnya dengan kenikmatan jua." tutupku sambil juga menutup kopor yang sudah mulai padat. Lalu tiba-tiba ku dengar teriakan anakku yang besar dari arah "rumah mereka" di atas sana, "Ibu, kopor yang di kamar adik tidak dibawa?" Aku berhenti mengepak, lalu meneliti tampilan koporku. Masya Allah, "Oh, ibu keliru ambil mas, habis ibu sejak kemarin marah-marah terus soal sepatuku," jawab si bungsu sambil tertawa mencibir padaku. "Yang ini koporku, punya ibu di kamarku," lalu dia tertawa terkekeh-kekeh, sebab kopornya sudah padat terisi harta pribadiku, bahkan termasuk hatiku yang kusimpan rapi di sana, di dalam jiwanya.

 

Kamis, 24 Januari 2008

WARGA WISMA WALUYA

Aku perempuan biasa. Sama biasanya dengan perempuan-perempuan di sekitarku. Hanya ibu rumah tangga, pendamping suami, dan ibu bagi anak-anaknya. Yang tidak biasa pada diriku adalah kebiasaanku melamun melepas gundah. Bagiku ini maha penting, daripada aku menghabiskan waktu dengan bergossip, ghibah kata orang sekarang sejak Gus Dur menelurkan kata suudzon dalam kehidupan sehari-hari.

Lamunanku inilah yang kadang memang keterlaluan, menjadikan aku seperti ada di dunia lain, di masa yang lain, yang sungguh tidak bertepatan dengan keadaan sekarang. Untung aku tidak jadi gila. Tidak seperti orang-orang yang dulu kerap mampir di rumah orang tuaku dan jadi sahabat-sahabat baik bagi ibu-bapakku.

Banyak jumlah mereka. Yang pertama kucatat "hadir' di keluarga kami adalah bibi Dasikem. Dia datang dari kampung halaman nenek-moyangku dibawa oleh paman dengan menggunakan kereta, untuk mengasuh kemenakanku yang pertama, cucu kesayangan ibu. Bibi Dasikem seorang janda, punya dua orang anak. Yang pertama yu Maniyem namanya, sudah cukup perawan, walaupun perawan cilik. Dia lebih dulu sampai di rumah kami mengikuti pamanku yang tinggal tidak jauh dari rumah. Kemudian menyusul datang Dasiman adik lelakinya sebayaku, mengikuti emaknya bibi Dasikem itu tadi.

Dari desa Bibi Dasikem dan Dasiman masih waras, dan dia mampu melakukan tugas apa saja sesuai keinginan ibuku. Waktu itu kakakku melahirkan di kampung halaman kami, menggunakan jasa oma De Groot seorang keturunan Belanda yang lebih pantas disebut Tionghoa sebab matanya yang sipit. Pada pertengahan tahun enam puluhan komunis baru saja bergejolak, tidak ada yang enak dalam kehidupan ini. Rasa amanpun belum ada, bahkan masih porak-poranda, sehingga ibu memutuskan untuk memanggil mbakyuku pulang kampung di saat dia hamil besar. Akibatnya, ibu menanggung beban mencarikan seorang pengasuh untuk bayi yang akan lahir, Jadilah kami panggil si mbok Dasikem itu, yang minta kami panggil bibi walaupun kampungnya di Jawa Tengah. Dan, bibi Dasikem bisa melaksanakan segala tugasnya dengan baik.

-ad-

Mbakyuku kemudian membawanya pindah kembali ke kampung halaman suaminya setelah umur si bayi empat puluh hari, sebagaimana disyaratkan ibu kami. Tentu saja ibu turut menyerahkan bibi Dasikem dan Dasiman kepadanya. Dengan serangkaian nasehat serta pesan, jadilah si bibi berpindah rumah. Di suatu kota kecil yang sepi, jauh lebih sepi dripada Bogor yang kala itu juga tidak ramai-ramai amat. Namun Bogor toh masih lumayan. Ada bus-bus kota yang melayani trayek-trayek tertentu, serta kendaraan omperengan sejenis opelet. Aku tidak tahu kenapa disebut omperengan, seperti tempat nasiku kalau aku membawa bekal ke sekolah, Juga kenapa dinamakan opelet, walaupun mobil-mobil itu keluaran pabrik Austin dan bukan Opel. Ah, buat apa pusing-pusing soal merek ya? Yang penting dengan kendaraan-kendaraan itu Bogor lebih ramai daripada kampung halaman kakak iparku.

Aku sangat bangga akan kota kelahiranku ini, karena bagiku Bogor memberikan kehidupan yang baik dan menyenangkan. Aku bisa dengan nyaman berjalan kaki kemana saja tanpa takut kepanasan, sebab di sepanjang jalanan kotaku bertumbuhan pohon-pohon besar semisal kenari atau asam. Bahkan ada juga flamboyant seperti yang ditanam di halaman sekolah kami dulu.

Lebih dari itu, sekalipun orang tuaku bukan orang penting, tapi setiap kali kami melangkah ke luar rumah, hampir bisa dipastikan banyak yang mengenali kami berasal dari rumah beliau yang megah dan kokoh di sudut jalan. Aku pernah terpana, karena suatu pagi, seorang tukang becak telah salah menurunkan penumpang di rumah kami, padahal kami tidak mengenalinya. Usut punya usut, ternyata 'tamu kesasar" itu datang dari kampung halaman orang tua kami dan minta diantar ke rumah saudaranya yang kebetulan sama namanya dengan ayahku, namun rumahnya jelas tidak disitu. Begitulah gambaran kampung halamanku, Bogorku yang menyenangkan, di waktu dulu, menurut sebagian besar orang. Tapi menurutku, sampai sekarang pun Bogor tetaplah menyenangkan dan memberiku perlindungan dari segala rasa keterasingan. Itulah sebabnya sampai tua begini kami masih menggunakannya sebagai home base sekalipun harus minggir sampai ke desa yang dulu dinamakan Pabangbon yang sarat dengan rumpun bambu, kebun sayur, semak-semak serta sawah ladang.

-ad-

Tidak begitu halnya dengan bibi Dasikem dan Dasiman. Di kampung halaman iparku yang mepet ke laut Jawa, mereka tidak menemukan kenyamanan. Konon di situ Partai Komunis baru saja membabi buta menghabiskan segalanya, sehingga genangan air merah darah bebas melaju di sungai yang membelah kota. Hiburanpun serba kurang, walaupun kakak iparku yang lebih mampu daripada ayah telah berhasil membeli sebuah televisi yang ketika itu jadi "kotak kaca ajaib" bagi rakyat kebanyakan semacam kami. Akibatnya, suatu hari kakakku pulang membawa bibi Dasikem dan Dasiman dalam keadaan bibi Dasikem setengah linglung.

Dan di rumah kami keadaannya semakin memburuk. Dia menjadi pelamun, bicara sendiri dan menceracau tidak karuan serta sering kali mengamuk meronta-ronta sambil membenturkan kepalanya ke dinding. Yang lebih mengerikan lagi, suatu saat tempat tidur kayu jati tua yang berukuran king size pun, habis "diterjang"nya sehingga menimbulkan ketakutan pada Dasiman dan membawanya menjauh hingga terpaksa sembunyi di kebun belakang dapur kami.

Untung ibu Supardi tetangga kami berdinas di Rumah Sakit Jiwa "Tjilendek" bersama bu Kardjan salah satu orang tua teman mbakyuku. Jadilah atas bantuan mereka si bibi menginap jadi pasien tetap berbulan-bulan disana, sampai orang tua kami menyerah kehabisan dana sebab biaya perawatan yang tidak bisa dikatakan murah. Begitu bibi akan dipindah ruang ke Wisma Wauya yang menampung pasien-pasien yang sudah mulai membaik, kami mengirimkannya kembali ke kampung untuk dirawat keluarga besar kami bersama keluarganya. Sayang, ketika itu Dasiman pun sudah mulai menunjukkan gejala sakit jiwa sehingga akhirnya kami dengar ada dua orang pasien di desa kami di pelosok selatan Jawa Tengah. Salah satunya Dasiman di dalam pasungan.

-ad-

Selepas mereka, ibuku bersentuhan lagi dengan seorang gadis belasan tahun bertubuh sintal. Rambutnya sangat lebat dan panjang, persis seuntai cemara di sanggul ibuku. Rasanya aku hanya menemukan rambut sejenis di kepala Titiek Sandhora penyanyi cantik dengan seribu tahi lalat ketika dia baru tampil menyanyi yang pertama kalinya di tahun enam puluh delapan membawakan lagu "Si Bontjel".

Kami memanggilnya Yem, karena namanya Dhiyem. Akan aneh di telinga jika kami menyeru-nyeru namanya sebagai "Dhi...." Semula aku mengira dia punya darah Cina, sebab matanya "hanya segaris' sedang kulitnya kuning terang.Tapi kemudian baru kutahu itu semua ciri-ciri orang Banyumas, sebagaimana petinggi-petinggi negara asal Banyumas di masa itu. Dan justru profilnya yang mirip "Lingling gadis Petak Sembilan" inilah yang kemudian mencelakakan dirinya. Kisah yang beredar, dia "dihabisi" oleh seorang lelaki teman berkebun ayahnya ketika sedang sama-sama menggarap lahan transmigrasi di Lampung.

Boleh dikata Yem kami adalah "korban transmigrasi". Ayahnya yang tidak berpendidikan dan kurang daya cuma bisa meratapi nasib sambil mengasuh tiga orang adik Dhiyem yang jadi piatu sejak ibunya melahirkan si bungsu Dhikun.Jadilah Yem dipulangkan ke Jawa dan tersangkut di rumah kami dalam genggaman kasih sayang ibu sambil mengasuh dua bayi kemenakanku yang lain yang akhirnya menjadi "anak-anakku" sebab aku terlibat di dalam pengasuhan mereka sebagai bentuk dari rasa simpatiku terhadap mbakyu sulungku yang juga korban permaianan nasib. Walaupun ketika itu aku masih SMP tapi anak-anak itu sudah ada di hatiku dan menyertai semua perjalanan cintaku bersama mas Dj.

Yem kami lepas kembali ke desanya atas keinginannya sendiri ketika dia berumur sekitar dua puluh lima tahun. Naluri kewanitaannya tidak pernah hilang sekalipun dia agak kurang waras. Dia bilang dia ingin kawin, kawin dalam arti yang sesungguhnya. Maka kami antarkan dia kembali di suatu pagi dengan menumpang mobil mbakyuku bersama-sama ibuku dan calon ibu mertuaku yang kebetulan hendak pulang kampung bersama-sama. Kami serahkan dengan baik ke tangan pamannya yang disebutnya sebagai "Lik Usup' meniru-niru nama tukang kebun ayahku yng tinggal di belakang rumah kami. Kami ikhlaskan dia seperti ikhlasnya hati kami bersibuk-sibuk memeras otak untuk mencari alamat Lik Usup yang tidak pernah diketahui oleh Yem. Mulut Yem cuma bisa menuturkan "turunkan saya di depan sebuah warung makan yang pada bagian mukanya diseraki gundukan bebatuan..........."

-ad-

Yem gadis itu bukan yang terakhir. Sehabis Yem, kami kedatangan Pak Parman. Bajunya yang merupakan seragam Wisma Waluya tidak menakutkan kami. Apalagi pak Parman berwajah priyayi meski penampilannya khas penghuni Rumah Sakit Jiwa. Dia sering lewat di depan rumah sebagaimana penghuni Wisma Waluya lainnya. Hal itu dimungkinkan sebab pasien-pasien RSJ seperti mereka sudah mendekati taraf kesembuhan, namun tidak punya keluarga lagi. Demikain bu Pardi menjelaskan. Menurut bu Pardi mereka dilatih berbagai keterampilan membuat kerajinan tangan semisal sikat ijuk, sapu lidi dan kemoceng bulu ayam yang ketika itu dimana-mana warnanya seragam cuma hitam saja. Dan kerajinan tangan itulah sarana mengisi kekosongan waktu mereka serta sarana pemberdayaan mereka agar merasa menjadi orang yang berguna.

Pak Parman hampir dipastikan selalu lewat di depan rumah pukul sepuluh pagi, lalu sekali lagi kira-kira menjelang sore. Seperti hari itu ketika pekerja bangunan sedang menyelesaikan perbaikan rumah dinas ayah yang sudah mulai dimakan rayap disana-sini sebab belum pernah tersentuh perawatan sejak pertama didirikan dan dihuni orang Belanda yang kami kenali sebagai Mevrouw Morris. Ibu iseng-iseng menyapanya, menghentikan langkahnya seperti halnya secara spontan ibu menghentikan kerja para tukang yang kebingungan campur was-was atas tindakan ibu kami itu.

Di waktu siang pak Parman memang tidak punya kegiatan apapun. Kisahnya, kalau sedang beruntung dia bisa berkeliling kota membawa hasil karyanya untuk ditawarkan. Tapi kalau sedang tidak ada yang bisa dijual, dia mengelana mengukur jalanan kota yang mulai panas sebab di awal tahun tujuh puluhan bemo mulai marak menyesaki kota kami melaju ke berbagai arah menggantikan fungsi opelet dan bis kota.

Pak Parman mengaku lulusan Sekolah Teknik di Jawa Timur. Dulu dia pernah bekerja kantoran, seperti adik perempuannya Sumiati yang menduduki jabatan klerk kantor pos. Sekalipun matanya cekung ke dalam, tapi pak Parman kelihatan terpelajar. Bicaranya boleh dibilang runut serta sering diselingi bahasa Belanda yang kebetulan juga dimengerti ibu kami. Riwayat keluarga batihnya dia tak bisa mengungkapkan, namun konon dia punya anak gadis seumuranku. "Anak yang cantik dan punya suara lembut," begitu pak Parman memujinya. Karena itu pak Parman bersedia memenuhi permintaan ibu untuk menolong para pekerja bangunan kami menggali sumur. Agar dia selalu berada di dekat "anak gadis"nya, begitu katanya. Meluap mata airku ke pipi mulusku. Tersentuh jiwaku mendengar betapa seorang manusia yang sudah luluh lantak oleh skizofrenia toch masih punya hati dan rasa untuk dicintai dan mencintai, disayangi dan lebih menyayangi. Mulai saat itu setiap pak Parman ada di halaman rumah kami, aku bawakan kopi di sore hari. Kadang-kadang aku suguhkan pisang goreng hasil panen pisang kepok di kebun ayahku di belakang dapur kami yang luas. Dan pak Parman selalu meneguknya berdikit-dikit sambil memandangiku dengan tatapan penuh rindu. "Terima kasih," katanya.

Agak lama dia bersama kami, sekalipun pekerjaan bangunan sudah selesai. Kadang ibu dan ayahku memanggil pak Parman hanya untuk memintanya menyapu halaman agar kontak kami senantiasa terjalin. Dalam pada itu matanya akan selalu melirik ke dalam rumah kami yang dilindungi teralis besi mencoba-coba mencuri pandang ke arahku. Sampai suatu hari tiba-tiba pak Parman datang memberiku setumpuk buku tulis dan uang sejumlah tujuh puluh lima rupiah berupa tiga helai lembaran hijau bergambar wajah seorang tokoh. Aku bingung dibuatnya, tapi pak Parman keburu menjelaskan, "ini hasil kerja bapak untukmu. Bapak tidak perlu uang dan barang-barang apapun untuk diri sendiri. Bapak sudah dicukupi di asrama -demikian dia menyebut Wisma Waluya-, sehingga bapak harus memberikannya padamu," Aku terpana tak mengerti. "Pak Parman," jawab ibuku, "anakku akan mengambil semua buku ini dengan ucapan terima kasih, tapi kirimkanlah uang itu ke yu Sumiati, aku yang akan menuliskan wesselnya." Pak Parman nampak kecewa, mukanya mendung, wajahnya surut ke dalam. Sejenak dia menatapi kami ganti-berganti lalu menggenggam tanganku dan memasukkan uang itu ke genggamanku. "Terimalah untukmu, Santi, jangan berikan kepada Lik Sum. Dia bukan apa-apa kita....." lalu pak Paarman membalikkan tubuhnya meninggalkan halaman rumah kami tanpa pernah kembali lagi. Tanpa mengerti betapa kepedihan hatiku cukup dalam untuk turut merasakan sakitnya jiwa yang terbuang......

-ad-

Lalu aki Wawoh juga setia mengunjungi rumah kami. Dimulai dengan keranjang rotannya yang memuat tapai ketan hitam terlezat di dalam stoples yang pernah aku nikmati bersama ketan uli yang putih mulus seputih kapur tembok produksi gunung Walad, bukit di kecamatan Cibadak, Sukabumi. Bapakku sangat suka menyantap ketan uli dan tape si aki. Bapakku juga tidak keberatan ibu memanggilnya masuk ke dalam halaman sekalipun menurut para tetangga dia kurang waras dan sering mengamuk.

Ayah-ibuku memberinya pekerjaan sebagai tukang pangkas pagar. Itulah yang menurut para tetangga amat membahayakan. Sebab dia sering mengamuk dengan mengacung-acungkan parangnya. Tapi orang tuaku memang manusia ajaib. Mereka seakan tidak peduli, dan terus memberinya pekerjaan yang membutuhkan benda tajam itu. Memang ajaib juga, kepada kami aki Wawoh tidak pernah mengamuk. Bahkan setiap habis makan, aki Wawoh akan masuk ke dapur serta mencuci sendiri piring bekas makannya. Dan dia juga tidak tergerak untuk meakai pisau dapur ibu cap mata yang tajamnya terkenal luar biasa, untuk melukai siapapun di dapur kami.

Maka lebaran akan jadi saat yang terenak bagi kami. Kue-kue kering lezat produksi rumah tangga kami akan bertemankan tape ketan-uli dan ranginang Pasundan upeti aki Wawoh yang dibawanya naik kereta dari desanya di Cipetir jauh di pedalaman Sukabumi mengarah ke Palabuhan Ratu. Untuk itu ibu selalu menggantinya dengan uang serta selembar kain sarung baru, cap Bintang Gajah seperti yang dipamerkan Kwartet BKAK di TVRI. Aki Wawoh akan memakai sarung barunya dan melipat yang lama. "Hatur nuhun juragan istri.......," serunya senang sambil menghilang di kelokan jalan diikuti pandangan tidak percaya dari tetangga-tetangga di sekitar kami.

Sama tidak percayanya dengan diriku saat ini, yang masih sering bermimpi bertemu dan berinteraksi dengan mereka yang telah memberiku banyak pelajaran. Yaitu, jangan terlalu banyak berangan serta jangan pernah menyesali nasib. Hiduplah apa adanya, bagaikan putaran roda, sambil senantiasa mengingat Dia Sang Maha Pengatur. Berterimakasihlah.

 

Minggu, 20 Januari 2008

TERLAHIR KEMBALI

Kini aku gembira. Sebab bunga-bunga cinta kembali bermekaran di rumahku. Aku sudah kembali melanglang buana ke dunia luar sejak kesabaranku dihargai Allah. Aku memang bukan manusia istimewa, tapi sejujurnya aku punya satu sifat yang memang tidak banyak yang memilikinya. Itu kuterima sebagai pujian dari ibu mertuaku, ketika aku masih anak-anak dulu. Lebih tepat dari calon ibu mertuaku.

Mama bilang, aku dan ibuku setali tiga uang. Ayahku yang cenderung keras dan kaku sering menyakiti hati ibuku. Ibu sendiri yang mengatakannya pada kami. Dan kami juga menyaksikannya. Uang gaji ayah memang disetorkan semua ke tangan ibu melalui tangan kami. Terutama tanganku. Setiap awal bulan tiba, ayah akan memanggilku untuk menolongnya menjadi perantara "serah-terima" uang gaji sebulan yang diserahkan utuh kepada ibu. Aku ingat ritual itu, kira-kira setiap tanggal 2 atau 3 ayah akan memanggilku, lalu mempertemukan aku dengan ibu dan menyerahkan sebuah amplop coklat panjang berisi sejumlah uang. Di luarnya tertera nama ayah, berikut pangkat dan golongannya serta nama bulan berlangsung. Lalu aku diminta menghitung isinya di depan ibu seraya mencocokkan dengan jumlah yang tertera di kertas yang menyertainya. Jumlahnya pasti selalu tepat, tidak ada berkurang satu sen pun, walaupun ketika jamannya aku diminta menghitung, uang sen-senan sudah tidak eksis lagi di pasaran. Selain uang itu aku tidak pernah diminta menyerahkan apa-apa. Padahal, setahuku ayahku selalu punya uang untuk membayari ini itu keperluan tidak terjadwal termasuk langganan berbagai majalah dan membeli apel kesukaannya di toko Pakally atau setidak-tidaknya di toko Kaca Mawar. Belum lagi hampir setiap minggu ayah minta tolong dibelikan aneka rokok baik dari jenis kretek maupun rokok putih merek 555 hingga klembak menyan cap Siluman yang merupakan rokok khas penduduk Banyumas. Ternyata, walaupun gaji ayah yang jatuh ke tangan ibu tidak seberapa, ibu tidak pernah meminta tambahan dari honor-honor yang kemudian dipakai menyenangkan diri sendiri oleh ayahku itu. Paling-paling ibu cuma berkata, sayang uang dibakar tidak karuan. Dan kami semuapun setuju mengiyakan.

Selain itu, ayahku punya sifat yang kaku. Semua penghuni rumah dilarang menumpang mobil ayah tanpa disuruh. Termasuk ibuku jika mau ke kantor menghadiri pertemuan anggota "Periska Tani" ikatan istri-istri karyawan Departemen Pertanian sebelum difusikan dengan nama Dharma Wanita di pertengahan tahun tujuh puluh empat. Ibu harus selalu siap sebelum ayah masuk ke mobil jika ingin ikut. Kalau tidak, pasti ditinggal dan dibiarkan berjalan kaki atau naik beca. Kejadian itu tidak hanya sekali, sebab aku pernah mendapati ibuku berurai air mata sambil memoleskan lagi bedak Marcks di pipinya yang halus sebab mobil telah berjalan sebelum ibu selesai menjemur handdoek bekas mandi mereka. Itulah ayahku.

Sama uniknya dengan suamiku. Dulu, dulu sekali, ketika kami masih sama-sama anak-anak ada kalanya suamiku tiba-tiba marah kepadaku oleh sebab yang sepele. Kalau sudah begitu aku harus siap kehilangan dia untuk sehari penuh. Padahal, tiada hari yang menyenangkan bagiku tanpa bertemu dengannya. Walau hanya sekedar memandang, apalagi sampai duduk berdua atau ngobrol sepanjang jalan menuju ke suatu tempat yang sama-sama hendak kami tuju. Sampai akhirnya aku bertekad untuk menyusulnya masuk SMA 1 agar bisa selalu memandanginya.

Suamiku tidak istimewa. Banyak anak lelaki yang lebih tampan darinya, lebih berada pula. Termasuk mas Wawan yang sangat akrab denganku. Ayahnya bahkan punya Fiat dengan pintu yang unik, membuka ke arah kiri, berlawanan arah dengan normalnya mobil-mobil yang ada. Tapi aku memang tidak mencari teman model begini. Yang aku butuhkan seorang anak lelaki yang tidak banyak cakap, cenderung pendiam, tapi pemberani dan sangat melindungi perempuan. Terutama perempuan lemah fisik seperti diriku.

Mas Dj -suamiku sekarang- punya itu semua. Juga punya kelebihan, semangatnya yang membaja tanpa mengenal halang-rintang apapun, "ora peduli jenderal", seloroh ibu mertuaku.

Aku sangat tergila-gila padanya, sehingga ketika dia tiba-tiba marah dan mengurung diri aku lah yang tanpa malu-malu mengejarnya hingga ke pintu kamar tidurnya. Aku ketuk terus-menerus sambil menyerukan namanya mengiba minta maaf untuk kesalahan yang tidak kumengerti. Biasanya ibu mertuaku (ma'af waktu itu masih calon) akan menyemangati aku, sebab hanya aku jugalah yang kelak bisa menyembuhkan marahnya dan mengeluarkan dia dari kamar pertapaannya.

Itulah uniknya kami. Seperti uniknya diriku sendiri juga, ketika dia baru jadi mahasiswa di Bandung dan tiba-tiba memberiku sebuah dompet dengan diselipi foto seorang gadis. Aku tidak marah, tidak juga sakit hati. Foto itu kemudian kukembalikan kepadanya lewat pos dengan hanya sebaris surat, "mas, bersama ini kukembalikan foto yang tertinggal di dompet yang kau berikan untukku." Akhirnya, suamiku menjelaskan hubungan gadis itu dengannya secara panjang lebar. Dia cuma teman sekelas yang kebetulan jadi sahabat di kelompok belajarnya, karena namanya kebetulan sama dengan nama mamanya. Aku tidak marah, juga tidak mengatakan tidak percaya. Aku biarkan saja semuanya berlalu dengan sendirinya, sebab aku tahu, dia hanya punya hati untukku sekalipun senantiasa baik terhadap perempuan-perempuan di sekitarnya.

Kesabaranku memang tetap terpelihara sampai sekarang, sampai kapan jua, sampai saatnya aku berpulang kelak. Karena itu aku berhak menerima kemenangan untuk yang kesekian kalinya. Berhasil lagi memecah batu es kebekuan dan "hukuman" suamiku yang datang dan pergi. Selalu kukatakan pada diri sendiri dan anak-anak kami, lelaki selalu benar, karena lelaki ditakdirkan berperan sebagai imam bagi perempuan dan bagi keluarganya. Aku menggumam sendiri, lega rasanya.

-ad-

Hari ini kami pergi ke luar rumah bersama-sama. Suamiku, aku dan anak-anak kami. Anakku asyik menikmati bebek panggang di Fulai, restoran Cina di ujung Tramlaan. Bapaknya asyik menghabiskan semangkuk bakmi kuah panas dari mangkuk yang ukurannya sangat raksasa. Aku sendiri tenggelam dalam piring bertabur brokoli ca daging sapi. Kenikmatan ini seakan tiada tara. Sudah tujuh bulan lamanya aku tidak pernah makan-makan di luar atau sekedar menikmati suasana di luar rumah. Kadang-kadang aku bahkan membayangkan diriku seumpama budak saja. Tapi aku tidak pernah merasa menjadi budak yang sesungguhnya. Sebab aku tahu perlakuan suamiku padaku didasari cinta yang sangat. Dia takut aku keliru melangkah di luar rumah, di pergaulan yang banyak "intrik-intriknya". Lagipula akhir-akhir ini tubuhku sendiri terlalu lemah untuk beraktivitas. Aku terus mengunyah, dan "mengunyah" kenikmatan itu.

"Ibu melamun?" sapa anak sulungku disela-sela suapannya. Sumpit di tangannya diletakkan barang sejenak, sambil dia menegakkan kepalanya menatapku. "Nggak," jawabku mantap. "Aku sedang merasakan kenikmatan. Mensyukuri lagi semua rejekiku. Jarang-jarang lho ada orang bisa makan enak begini,' kataku memberikan penjelasan yang sebetulnya mungkin tidak mereka perlukan. Karena yang aku tahu nampaknya anakku cuma terpesona menyaksikan cara makanku yang sangat nikmat. Kami pun tersenyum bersama menikmati hidangan kami masing-masing. Brokoli yang masih ijo royo-royo itu terasa renyah, sangat pas, apalagi berpadu dengan irisan daging sapi yang dibumbui saus tiram. Hmmm, jangan tanya sedapnya.

-ad-

Sejak makan malam yang sedap itu aku semakin menghargai setiap hasil jerih payah suamiku. Sebab aku jadi teringat akan salah satu teman dekatku di SMP. gadis berkulit bersih, dengan rambut panjang dan matanya sayu. Ibunya teman bergaul ibu mertuaku. Sama-sama harus berjuang menafkahi putra-putrinya sejak ditinggalkan suami mereke ke alam baka. Sama persis dengan ibu mertuaku, beliau berkeliling kota membawa dagangan apa saja, terutama kebutuhan ibu rumah tangga. Sementara di rumah, putra-putri beliau diserahi tugas menjalankan roda rumah tangga dari sisi lain. Ada yang belanja dan memasak, ada yang menyapu dan mengepel, ada yang mencuci dan menyetrika.

Waktu itu, teman gadisku yang berumur baru empat belas tahun kebagian tugas belanja dan memasak. Aku sendiri pernah mencoba masakannya yang lezat saat kelas kami mendapat pelajaran tata-boga dalam mata pelajaran PKK. Siapa yang tidak tahu pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga? Pelajaran yang satu ini walaupun mudah tapi paling kubenci. Karena aku tidak terampil apapun, sehingga aku malas mengerjakannya.

Tapi Ratri, demikian aku menyebut teman baikku yang satu ini, tidak pernah merasa tersiksa. Dia dengan sigap akan menjadi leader kelompok kami jika tiba saatnya praktek masak-memasak. Uang yang tidak seberapa bisa diaturnya sedemikain rupa menjadi menu sehat seperti tuntutan slogan "4 sehat 5 sempurna". Bu Mae guru kami sangat sayang padanya. Mungkin selain tahu kondisi Ratri yang sesungguhnya, bu Mae juga takjub akan rasa tempe gorengnya yang pas di lidah atau sayur asamnya yang segar, apalagi kalau ditambah teri-kacang balado. Wah, luar biasa.

-ad-

Rumah Ratri terletak di kampung yang sama dengan rumah mas Dj. Bedanya, rumah mas Dj yang tidak seberapa luas hanya dihuni oleh ibu mertuaku dan mas Dj ditambah seorang kerabat bapak mertuaku yang kami panggil sebagai papie untuk melengkapi fungsi lelaki dewasa di rumah mereka. Tiga kamar yang sempit terisi masing-masing oleh seorang saja, berlainan dengan rumah Ratri yang masing-masing kamarnya dihuni beramai-ramai. Rumah itu terletak beberapa puluh meter ke dalam dari jalan beraspal, terhalang di beberapa sisi oleh dinding-dinding tinggi rumah tetangga. Di dalamnya aku merasakan kesan gelap, tapi rapi. Tidak banyak barang di situ, terutama di kamar Ratri ketika aku dan teman-teman menengoknya sepulang sekolah sebab Ratri dikabarkan patah kaki terjatuh di kamar mandi yang licin. Hanya ada sebuah dipan besi untuk dua orang dewasa dan satu lemari serta meja tulis.

Di atas meja tulis itu kutemui secarik kertas betulisan tangan mriring ke kanan, jelas tebal-tipisnya, yang kupastikan dibuat oleh ibunya. Bunyinya cuma sepotong, "Tri, ada oebi di dapoer. Bisa kamoe masak oentoek makan nanti," sangat singkat tapi menggetarkan hatiku.

Ratri yang tergolek lemah kelihatan semakin pucat melihat aku tidak sengaja menemukan surat ibunya. "Kamu kuat bangun?" tanyaku. Dia mengangguk lemah sambil mencoba turun dari pembaringannya. Ketika tadi kami mengetuk pintu rumahnyapun, dia sendiri yang maju ke depan dengan beringsut membawa kakinya yang kesakitan dan pincang. Ratri, sahabatku, sambatku dalam hati. Betapa berat hidupmu. Sungguh bertolak belakang dengan aku si anak manja. Bahkan dengan Lanna sekalipun, teman karibnya anak seorang bintara TNI yang tinggal di suatu asrama mirip 'penginapan" sebab harus dibagi-bagi dengan tiga keluarga lainnya. Diambilnya surat ibunya, kemudian dilipatnya dan diselipkan di saku roknya.

-ad-

Dia tidak menawari kami makanan apapun. Dan kami juga tidak minta apapun. Kami cukup senang bisa mendatangi pembaringannya dan membawa kisah tentang sekolah hari itu saat dia sedang kesepian sendiri ditinggal kakak-kakak dan ibunya beraktivitas. "Kamu sudah makan?" tanya kami. Maksudnya kami akan menawari untuk membelikan sebungkus lontong pecel di warung dekat-dekat situ seandainya masih ada tersisa. Maklum sudah lebih dari pukul satu siang. Bibir pucatnya mengulum senyum, "sudah," jawabnya pendek.

Kuedarkan mataku seperti biasa senantiasa ingin tahu. Tidak terlihat bekas-bekas dia makan. Bahkan segelas air pun tidak. "Tri, boleh kalau kami beli pecel untuk kamu?" tanyaku memberanikan diri. Dia terus saja tersenyum tanpa menjawab apapun. Tidak juga keluar kata ya darinya, sampai kami pulang setengah jam kemudian. Dia tetap di atas kasurnya dengan ditemani Lanna yang sangat sayang dan setia kepadanya.

-ad-

Esoknya Lanna bilang, kemarin Ratri merebus ubinya dan itulah yang dimakannya jauh lewat tengah hari bahkan menjelang sore. Kami tertegun semua. Dari Ratri kami dapati pelajaran bahwa manusia tidak boleh menyia-nyiakan makanan dan harus senantiasa bersyukur akan apa yang ada di hadapannya. Seperti syukurku kali ini. Syukur karena aku sudah bisa menikmati dunia luar kembali, dan lebih syukur karena suamiku selalu punya rejeki halaal untuk menghidupi kami anak-beranak. Aku serasa bagaikan terlahir kembali. Dalam wujud yang baru, sebagai manusia yang ingin selalu dekat padaNya.

 

 

Jumat, 18 Januari 2008

DI POJOK KOTA BOGOR

Hidup itu indah. Begitu seharusnya. Dan hidupku pun memang indah, terutama jika dibandingkan dengan hidup sebagian teman-temanku. Bapakku bekerja sebagai pegawai negeri dengan penghasilan yang tetap, ditambah fasilitas sebuah rumah dinas yang sangat megah dan mobil.

Di sekitarku ada banyak kehidupan yang tidak indah. Seperti yang ditunjukkan oleh ibu Sumiati ketika beliau membawaku ke Tegal Sapi, melewati kampung Sindangsari sambil menunjukkan rumah si Sri dan Supri dua teman sekelasku. Letaknya persis di tepi kanaal Cidepit, tidak kokoh, sangat mirip dengan tempat tinggal mang Usup tukang kebun kami yang bekerja sebagai opas di kantor ayahku. Di belakangya ada pekuburan, yang kelak anakku pun jadi salah satu penghuninya. Aku tidak tahu apa kerja ayah si Sri, yang jelas ibunya sama sederhananya dengan penampilan ibuku, berkain kebaya dengan sanggul cemara. Mereka berdua termasuk pelanggan tetap di warung sayur mbok Parti, ibunya Supri. Aku tahu persis itu, sebab di hari-hari tertentu akulah yang betugas belanja kebutuhan dapur selagi ibuku siap-siap untuk memasak. Ibu akan memberiku sekitar lima ratus rupiah sekali belanja, sedangkan ibunya Sri lebih sering tidak mengeluarkan apa-apa dari genggaman sapu tangannya.

Tegal Sapi di tahun enampuluhan merupakan suatu lahan luas dihampari rumput yang lembut bagaikan permadani hijau. Kami biasa menggunakannya sebagai tempat piknik. Anak-anak membuka bekal masing-masing yang ditaruh di ompreng kaleng berbentuk kotak atau oval. Mengapa sampai dinamakan ompreng, aku tidak tahu dan tidak pernah mau tahu. Hanya aku satu-satunya yang cukup "kaya" karena suatu hari ompreng kalengku ditukar oleh tante Mintarsih dengan ompreng plastik merah, lengkap disertai sebuah botol minum yang juga plastik merah. Aku sangat ingat, pada bagian bawahnya bergambar ayam jantan yang gagah. Kira-kira itu menggambarkan merknya yaitu "pioneer". Tante Mintarsih sangat sayang padaku. Menurut ibu, ayahnya seorang pendeta kenamaan di Yogyakarta, paman ibuku sendiri karena keluarga kami satu desa dua agama. Tante Mien, konon anak tunggal, sehingga beliau sangat sayang padaku. Umurnya persis sama dengan mbakyuku yang tertua, sehingga mereka cocok satu sama lain. Dan di wakrtu-waktu tertentu tante Mien akan datang bertandang sebab ketika itu beliau sudah bertunangan dengan perwira AURI yang tinggal di mess tak seberapa jauh dari rumah kami. Yang aku tahu, tante Mien memang sudah siap untuk menikah. Beliau sudah kembali dari sekolahnya di Jepang dan menghidupi diri sebagai pelukis dengan lukisan gaya Jepang.

Biasanya bu Sum menggiring kami di hari Sabtu yang disebut sebagai hari krida. Di Tegal Sapi itu kami dibebaskannya berlari-larian setelah senam dipimpin bu Sum. Anak-anak amat menikmati, karena bu Sum tidak pernah meneriaki kami macam-macam, seperti orang tua kami di rumah. Agak siang sedikit bu Sum membariskan kami kembali, pulang ke daerah Kota Paris, letak sekolah kami. Sebentar kemudian, rumput empuk itu berubah jadi lahan permainan orang dewasa. Para lelaki berpakaian bagus menyeret kantung-kantung beroda, dan mengeluarkan sebutir bola putih kecil untuk dipukul-pukulkan dengan tongkat besi. Kini aku baru tahu, permainan yang waktu itu disebut bola pancong adalah golf, olah raga para eksekutif tapi tidak termasuk suamiku yang masih tradisional dan setia dengan bulu tangkis.

-ad-

Lapangan bola pancong itu masih ada hingga kini, dan dengan mudah dijangkau dari jalan raya masuk melalui Jalan dokter Sumeru tidak jauh dari Rumah Sakit Jiwa. Kalau tak salah ingat, namanya jadi padang golf. Rumah Sri dan Supri pun masih ada. Malah dilengkapi dengan deretan becak dan satu sepeda motor.

Aku tahu, Sri jadi guru di SMP Negeri jauh di Jakarta. Pengabdiannya sama seperti bu Sum, tanpa pamrih. Dengan bus antar kota dia biasa berangkat selepas subuh, dan baru kembali malam hari. Sehingga badannya yang dari dulu tidak bisa gemuk karena dimakan asma, menjadi semakin ciut. Aku tetap menjalin hubungan dengan Sri jika kebetulan aku sedang menetap di tanah air. Biasanya kami duduk-duduk mengobrol di halaman sekolah anak-anak kami, melepas rindu dan mengulang masa lalu, di akhir pekan waktu tiba saatnya dia libur mengajar. Sri tidak canggung berhadapan denganku, sebagaimana aku juga tidak risih menghadapinya. Dia sangat cerdas, pandai berhitung, sehingga dipercaya mentransfer ilmu mathematika kepada anak-anak didiknya. Sedangkan aku, cuma ibu rumah tangga yang tidak punya kepandaian apapun. Tapi Sri sangat senang menimba pengetahuan mengenai penanganan penyakit asma padaku, sebab dengan kemampuan finansial suamiku yang lebih baik daripadanya, aku bisa rajin kontrol ke dokter dan membeli buku-buku tentang penyakit asma untuk membantu dokter kami menangani kasus-kasus asma yang memang ada pada keluargaku. Sri adalah semacam cermin untukku mematut diri sebelum tiba saatnya kelak Allah memanggilku ke haribaanNya.

-ad-

Selain dengan Sri, aku juga senang bergaul dengan Mumuy, gadis penyandang rachitis pindahan dari Bangka. Ayahnya bekerja sebagai pedagang di daerah Sudut Gembira, di ujung gang Teksan, daerah Pasar Anyar. Segala macam bahan pokok ada di kios mereka yang sempit, tetapi yang terbanyak adalah komoditas ikan asin dan terasi yang mereka sebut sebagai belacan. Akibat penyakit rachitisnya itu, kaki Mumuy kesulitan untuk melangkah, walaupun dia pernah dibawa ke Rumah Sakit Ortopedi dokter Soeharso di Sala. Dan akibatnya, anak-anak sering menertawainya dengan julukan "gadis bersepatu sebelah". Tapi aku tidak demikian, bagiku Mumuy justru istimewa dengan sepatunya yang cuma sebelah itu. Dia toch tetap bisa berjalan, dan menyerahkan sendiri buku tulisnya ke meja guru setiap usai bekerja. Hasilnyapun selalu memuaskan. Jadi, apa yang salah dari Mumuy? Aku tidak tahu dan ingin membuktikan.

Aku ikuti becak yang membawanya adik-beradik pulang ke rumah bilik mereka di ujung Gang Ardio yang memutar. Dan aku duduk di dalam rumah mereka yang sempit lagi pengap tanpa jendela yang memadai. Aku ikut juga makan dengan ikan bilis campur kacang dan sejumput tumis kangkung berbumbu belacan. Semua serba sedap di lidahku. Tidak ada bedanya dengan tempe gorengan ibu atau simbok di dapur kami. Walapun tanpa jangan lodeh wayu  yang terbuat dari buah keluwih yang sarat dengan biji dan serat-serat buahnya serta gereh pethek.

Rumahku adalah istanaku, begitu judul buku yang kubeli dengan "menguthil" sisa belanja ibu di Toko Liong, penjual buku favoritku di Jembatan Merah. Jangan tanya siapa pengarangnya, aku pasti lupa. Yang kuingat hanya judulnya itu. Tapi bagi Mumuy, Yuyung, Pipie dan kak Kwet abang mereka, rumah mereka juga senyaman istana. Aku selalu menangkap nuansa itu setiap aku disana. Mereka tidak pernah mengeluh jika harus menyelesaikan kewajiban mereka membersihkan rumah atau membantu memasak. Mereka juga cukup bahagia jika waktu luang mereka hanya diisi dengan membaca komik dan buku-buku bacaan dari kios Taman Bacaan yang dikelola kak Kwet. Mereka bahkan mengijinkanku meminjam buku-buku kak Kwet tanpa membayar, sekalipun aku sering kelupaan mengembalikan dengan segera. Tapi begitu aku ingat kelalaianku, dengan segera aku minta ijin ibu menuju ke rumah mereka dengan membawa komik kak Kwet yang jadi lusuh dibawa tidur.

Perjalanan itulah yang menyenangkanku. Aku tidak pernah lewat jalan raya. Selalu aku mulai dari kampung gang Maxim kemudian mengarah ke utara, membelok di dekat warung si Apoh untuk menuju jembatan gantung di daerah Ciwaringin Pabrik Es yang menuju ke rumah mereka. Kampung itu hanya dibelah oleh kanaal Cipakancilan, letaknya persis di sebelah timur Ciwaringin. Tapi padatnya sama dan sebangun. Berjejer-jejer gang kecil menyerupai jalan tikus di Gang Ardio serupa dengan deretan gang Bir Ali, gang Masjid dan sejenisnya di daerah Ciwaringin.

Mataku yang tidak awas selalu melirik-lirik keadaan yang sangat-sangat berbeda dengan keadaan di rumahku. Rumah-rumah nyaris tanpa halaman, namun asri karena pada teras-teras mereka dibariskan pot-pot tanaman hias mulai dari kaktus yang kecil-kecil hingga kuping gajah mengkilap seperti yang ada di rumah mama, ibu mertuaku tercinta. Membayangkan itu sekarang, ah, air mataku hampir tumpah. Sebab mamaku identik dengan tanaman hias yang cantik.

Pada satu dua sudut halaman, kadang ada pohon-pohon pisang atau jambu. Entah jambu batu maupun jambu air. Jika sedang beruntung, aku berhadapan dengan pemiliknya yang sedang memanen jambunya, dan dengan ramah dia menawari apakah aku ingin. Biasanya aku jadi malu, namun mengambilnya juga barang sebuah serta menggerogotinya sepanjang jalan menuju ke rumah Mumuy. Lumayan untuk mengguyur rasa haus yang mulai menyerang.

Setibanya di seberang kali, aku biasanya mampir di sebuah warung rumahan yang menjajakan makanan kecil dan es komoditas baru yang dikemas dalam tabung-tabung plastik serta dinamakan es mambo. Rupa dan rasanya warna-warni, tapi favoritku selalu yang hijau rasa buah pala atau yang putih rasa buah nangka Belanda. Asam-asam segar, sangat cocok untuk dinikmati di siang terik. Sementara itu, aku tahu, mas Dj sedang asyik membantu di dapur mama -ibunya- mencetak kue-kue kering yang akan dijual kepada kenalan-kenalan kami. Setelah itu dengan cepat dia akan lari mencari anak-anak lelaki yang jadi teman mainnya untuk bermain 'torti", sembunyi-sembunyian gaya baru yang ditandai oleh larinya anak-anak berpencar ke tempat-tempat yang sangat jauh disertai teriakan "tortiiiii" sekeras-kerasnya. Aku tidak suka itu, dan karenanya aku memilih main entah ke rumah pak Effendy guru kelasku, atau ke rumah Mumuy dan teman-teman mainku lainnya.

-ad-

Kenangan akan Mumuy, Sri atau bahkan pak Effendy guru kelas enamku adalah memori yang paling berharga untuk kukoleksi. Ditambah dengan goresan masa lalu dalam perjalanan hidup suamiku. Aku selalu menjenguknya kembali, untuk mengingatkan diri sendiri bahwa sesungguhnya aku termasuk orang yang sangat beruntung. Hidup tidak pernah kekurangan, bahkan cinta kasih sayangpun berlipat ganda. Semua serba melimpah ruah, di samping penyakit-penyakit yang jadi jatahku juga.

Kenapa aku selalu merasa kurang bersyukur? Kadang-kadang itu terlintas di benakku sendiri. Ayah anak-anakku tipe lelaki setia dan bertanggungjawab, sekalipun pendiam dan sifatnya unik. Dan anak-anak kami juga berperangai baik semua, santun, tidak nakal dan yang penting tipe rumahan tidak seperti kami kedua orang tuanya.

-ad-

Dulu selain "ngluyur" ke rumah Mumuy, adakalanya aku duduk-duduk di warung Lina, temanku yang membantu ibunya berdagang hasil-bumi di Pasar Mawar dekat rumah kami. Dengan Lina aku hanya bisa mengobrol. Sebab pekerjaannya cukup banyak. Mula-mula dia akan menyiapkan makan siang untuk ayahnya yang dipanggil papie serta seluruh anggota keluarga mereka di dapur mereka yang sempit dan -maaf- berbau di paviliun rumah Bambang, teman satu kelas kami. Kemudian dia makan siang cepat-cepat, mencuci sendiri bekasnya, dan menggantikan mamie -ibunya- berdagang di pasar, karena mamie akan berangkat berkeliling kota menjajakan entah apa yang disandang di dalam tasnya. Menjelang sore, waktu matahari mulai condong ke barat dia akan memanggil mang Inan tetangga di warung seberangnya untuk membantu memasangkan kembali papan-papan penutup kedai, lalu pulang menuju "kamar" keluarga mereka yang disewa dari keluarga Bambang.

Lina dan teman-teman lain selalu iri kepadaku sebab aku bebas merdeka melanglang kemana saja, menghabiskan waktu siangku menunggu jam mengaji dan mengandangkan ayam peliharaan kami. Tentu saja tanpa sepengetahuan bapak sebab aku baru akan keluar setelah ibu beristirahat di kamar, dan kembali sebelum bapak masuk rumah. Kala itu kantor bapakku sudah di Jakarta, di Jalan Salemba yang dicapainya dengan Fiat 124 kami bersama-sama dengan tiga orang kawan bapak lainnya. Keadaan ini memudahkan aku untuk mencuri-curi waktu keluar rumah.

Lina pernah bilang bahwa pemalas seperti aku bisa berakhir di Rumah Sakit Jiwa. Jadi gila, maksudnya. Sebab otakku tidak pernah dipakai berpikir apapun, sementara tangan dan kaki juga tidak dikaryakan untuk hal-hal yang positif. Sehingga setan mudah masuk, lalu mengganggu otakku persis seperti yang dialami pak Karim dan kang Keneng dua lelaki yang senang bicara dan tertawa sendiri di sekitar Pasar Mawar berbungkus baju seragam bertuliskan "Wisma Waluja". Aku tertawa tidak percaya.

Yang kutahu pak Karim justru sangat pandai, namun tidak beruntung di dalam hidupnya. Logikaku menuntun sampai pada kesimpulan demikian, karena dia selalu berdiri persis di pertigaan jalan mengoceh sambil menunjuk-nunjuk dengan suara yang berapi-api mirip pemimpin Republik berpidato di muka umum. Waktu itu Bung Karno baru saja lengser, atau tepatnya dilengserkan. Sedangkan pengangguranpun aku tahu tidak sedikit jumlahnya di kotaku ini. Adik mang Usup tukang kebun kami, selalu ada di rumah walaupun dia sudah tamat SMP. Belum lagi anak-anak pak Atjih pegawai kantor pos yang tingal di muka rumah kami, juga tidak semuanya bekerja sekalipun lulusan SMA.  

Soal kang Keneng, aku tidak tahu. Bicaranya selalu tidak menentu, dan penampilannya seperti orang linglung. Banyak anak-anak yang sering mempermainkan dia sambil menakut-nakuti bahwa mantri kesehatan atau suster akan datang menyuntiknya. Jelas dia ketakutan.Setelah itu dengan jahil anak-anak nakal itu akan menyuruhnya melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Yang sampai sekarang aku tidak sanggup untuk mengatakannya.

Mungkin kang Keneng serupa dengan mbah Harry lelaki tua berpeci yang sering kedapatan duduk-duduk bicara sendiri di bangku taman Kebon Kembang. Anak-anak takut kepadanya, sebab mbah Harry punya mata yang dalam-tajam dan kumis yang panjang yang membuat wajahnya angker. Belum lagi kalau anak-anak mendekat, mbah Harary siap mengejar dengan garang disertai sumpah serapah. Padahal, anak-anak hanya penasaran akan apa yang dipercakapkan mbah Harry.

Mungkin, mereka berdua sama-sama orang linglung akibat menanggung beban berat di tengah roda kehidupan di Republik yang belum bisa menyejahterakan rakyatnya. Begitulah kira-kira.

Aku sangat ingat, suatu hari sepeda pengantar roti dari toko roti Julia tidak bisa lagi mampir ke rumah kami. Menurut ibu, babah pemilik pabrik tidak sanggup lagi menggaji para pengantar roti. Akhirnya ibu menyuruhku ke toko roti Delicieus setiap hari. Alhamdulillah, rasanya justru lebih enak daripada roti Julia. Tapi itupun tidak bisa berlangsung mulus. Di tanggal-tanggal tertentu -umumnya pertengahan bulan- ibu terpaksa menyuruh aku mengganti roti dengan robur alias jibeuh yang entah terbuat dari tepung apa. Harganya murah, besarnya di atas rata-rata, tapi rasanya sangat sesuai dengan harganya. Agak getir, asam dan seret.

-ad-

Kini aku dapat mengenangkannya kembali dengan jelas. Dari sini, dari rumah sewaanku di Clos St Roch nomor 1, di daerah Wezembeek Oppem, Belgia yang telah memenjarakanku dan mengajariku untuk menerima keadaan dengan arif dan sabar. Aku tahu, tuhan Maha Sayang padaku, dan kelak aku akan menerima hadiahnya. Tapi entah bila............

 

 

Rabu, 16 Januari 2008

SEKALI LAYAR TERKEMBANG

Tempe adalah makanan kegemaranku. Biasanya aku akan lebih lahap makan dengan lauk tempe daripada tanpanya. Oncom yang bersaudara kandung dengan tempe juga jadi sahabatku. Aku biasa mencampurkannya ke dalam tumis kangkung, genjer atau parutan singkong sebagai comro. Dalam keadaan sakit sering aku hanya mau makan dengan lauk tempe saja. Bahkan ketika aku hamil,makanan yang sangat enak menghuni perutku ya oncom itu. Tapi mentalku tidak sesederhana tempe dan oncom.

Aku tidak mudah hancur, serta tidak mau diinjak-injak. Aku sangat sadar bahwa harga diriku tidak semurah tempe dan oncom. Jadi aku selalu bangkit menunjukkan bahwa aku termasuk perempuan berkelas, ibu yang agung bagi anak-anakku.

Aku juga tidak menangis dan menyatakan "mogok kerja" ketika suamiku seakan-akan sudah mulai bosan dan bersikap acuh tak acuh padaku. Selalu aku setia di sisinya, menjadi pendorong semangat kerjanya sambil mengawasi dan menemani anak-anaknya yang diperoleh hanya dariku.

-ad-

Bahkan ketika aku terpuruk karena penyakitku, kutanggung sendiri semuanya. Dia hanya bertanggungjawab membawaku sekali ke rumah dokter, mula-mula dokter umum Daniel Widajaja di pinggiran Brussels yang tidak dapat dicapai dengan kendaraan umum apapun. Setelah itu dia mengantarkan aku ke rumah sakit di luar kota untuk menemui dokter kebidanan dan kandungan Arjoko Wisanto yang terkenal berjiwa sosial dan penuh dedikasi.

Suamiku melakukannya dengan terpaksa. Aku diingatkan jauh sebelum waktunya untuk bersiap-siap dan sudah harus sampai di sana sebelum jam praktek. Tapi aku tak lupa berterima kasih padanya. Bagiku kebaikan suamiku adalah anugrah, karena sakitku tak tertahankan lagi.

Aku yang dimintanya untuk 'berkurung diri" di rumah merasa semakin sakit saja. Tidak hanya fisikku, melainkan juga hatiku. Bayangkan, hari-hariku hanya dipenuhi kegiatan menyiapkan makanan semata. Tidak keluar rumah, tidak berbelanja, tidak juga mencuci yang di Belgia biasanya harus dilakukan di kios mesin cuci di luar rumah, bahkan anak-anak yang jadi tanggungjawabku pun dikuasainya sendiri. Dia yang mengantarkan ke sekolah, dan dia pula ynag menjemput. Sebagai manusia normal, aku tidak bersyukur. Bahkan aku menangisi diri sendiri. Sering teringat olehku lagu "Burung Dalam Sangkar" yang dinyanyikan May Sumarna. Itulah layaknya hidupku.

-ad-

Ketika itu sudah bulan ke-lima aku dirumahkan. Badanku menyusut tipis, kulitku semakin memudar. Aku sangat bingung. Maka kerjaku hanya membersihkan rumah, memasak apa yang disediakan olehnya, dan menyeterika. Lalu sisa waktu kupakai "tidur" untuk menghentikan laju waktu. Dalam "tidur"ku aku sering bertemu dengan orang-orang dari masa laluku.

Bahkan siang itupun aku sempat bertemu seseorang yang aku tak ingat namanya. Perempuan separuh baya itu punya bola mata yang teduh. Sikapnya sangat santun dan menyenangkan. Dia kerap bertandang ke kamarku, mengajakku duduk-duduk di bawah deretan pohon cemara sambil mengajariku sulam-menyulam. Begitu anggunnya, sehingga setiap kali aku ingin menanyakan namanya mulutku tak sanggup bersuara. Tapi aku tidak takut, malu atau sungkan berhadapan dengannya. Dan yang terpenting aku tahu, bahwa aku mengenalnya.

Rasanya aku masih gadis kecil yang dulu, dengan rambut dipotong seadanya model kurung batok, hasil cukuran bapakku di teras belakang rumah kami yang luas. Model itu kuperoleh sebagai hasil bapakku menelungkupkan separuh bulatan tempurung kelapa sebagai "cetakan" di atas rambut. Sebab, di masa itu kalau ingin dicukur di kapsalon -begitu orang menyebutnya-, perlu uang yang tidak sedikit. Sedangkan ayahku cuma pegawai negeri dengan lima anak yang menjadi tanggungjawabnya untuk dihidupi. Sebagai anak kecil, tentu tak perlu aku menikmati "kemewahan" salon kecantikan seperti itu. Hanya kedua mbakyuku yang besar yang pernah diizinkan masuk ke situ. Ke "Gunting Rambut Sukabumi" di ujung Jembatan Merah mengarah ke Cikeumeuh atau ke "Kapsalon Zus Merry", tempat baru di ujung jalan rumah kami yang letaknya dari ujung ke ujung sebab lokasinya tepat di belakang "Toko Goan" yang merupakan deretan toko terujung di Jalan Banten sebelah kanan. Aku sangat iri dan termimpi-mimpi bisa mencicipi guntingan rambut di situ. Dan akhirnya keinginanku tercapai juga menjelang pesta natal di tahun tujuh puluh. Sekolahku milik gereja Zebaoth -setidak-tidaknya berafiliasi dengan gereja Zebaoth-, menugasiku untuk ikut tableau natal berperan sebagai malaikat. Aku hanya diwajibkan menyanyi di sudut panggung sambil menebarkan "sayap" mengisi suara yang diperlukan dalam rangkaian gerak tableau. Walaupun aku muslimah, tapi guruku yang kebetulan juga muslim diminta oleh kepala sekolah kami pak Nicko untuk menugasiku memerankan malaikat. Konon katanya, suaraku cukup baik untuk didengarkan. Aku merasa tersanjung. Maka, ornag tuaku memberiku kesempatan untuk potong rambut di kursi kapsalon Zus Merry dengan hasil yang gemilang. Tidak saja gayaku langsung berubah seperti Connie Francis yang lagu "Aldila"nya jadi favoritku dan paman, tapi entah kenapa tiba-tiba rambutku naik semua membentuk spiral menciptakan gelombang yang sangat indah. Menakjubkan, walaupun aku tahu tante Merry tidak mengoleskan obat apapun pada rambutku.

Di mataku perempuan itu sangat istimewa. Dia tidak pernah memarahiku, bahkan menertawaikupun tidak. Padahal, aku terlahir sebagai gadis "bodoh" yang kurang cekatan. Setiap kali kelas kami bermain kasti di halaman, aku selalu menjadi pecundang. Semua orang akan tertawa menyaksikan aku kebingungan mencari bola yang harus kupukul atau menyaksikan aku terlongong-longong tak tahu harus lari kemana setelah memukul bola.

Aku memang sangat tidak cerdas. selain itu matakupun sangat tidak bisa diajak melihat. Memang aku tidak buta, tapi segala yang ada di depan mataku nampak samar-samar dan berbayang-bayang semua. Dan susahnya, orang tuaku terutama ibu, tidak mau tahu keadaanku. Baginya sudah terlalu repot harus mengatur uang belanja istri pegawai negeri untuk menghidupi kami yang kebetulan berkaca mata semua. Apa boleh buat, aku harus menanggungkan segalanya sendiri. 

-ad-

Dia guruku di Taman Kanak-Kanak. Samar-samar kuingat namanya, ibu Sumiati. Ibu Sum sedikit lebih muda dibandingkan ibuku. Namun ibu Sum punya kecerdasan yang jauh lebih banyak. Aku maklum, karena bu Sum punya kesempatan sekolah lebih tinggi daripada ibuku yang cuma lulusan HIS, SD di jaman Belanda. Setiap pagi bu Sum akan berbelok ke halaman rumahku untuk menjemputku berjalan bersama ke sekolah yang lebih layak disebut "gudang" duaratus meter dari rumahku. Dan tanpa bantuan siapapun kecuali seorang perempuan keturunan Tionghoa yang kemudian selalu kami panggil Tante Anastasia, beliau akan menghadapi kami semua. Aku belum pandai menghitung, sehingga aku tidak pernah tahu pasti berapa jumlah murid di kelasku yang duduk pada bangku-bangku kayu warna-warni.

Bu Sumiati selalu memulai hari-hari kami dengan menyanyikan "Lagu Taman Kanak-Kanak", kemudian memanggil nama kami satu demi satu. Yang kuingat ada anak bernama Wati, Sri, Diana, Magda, Euis, Susi, Maemunah, Ine, Yani, Supri, juga Puspo, Buyung, Sartono, Sutisna dan beberapa anak lagi. Bu Sum berkeliling meneliti kuku-kuku kami. Jika ada yang kedapatan kotor atau panjang, tidak segan bu Sum memperlihatkannya kepada teman-teman dan mengatakan bahwa kuku-kuku itu membawa penyakit. Lalu bu Sum mengguntingnya dengan penjepit kuku yang aku tahu sekarang, buatan Cina.

Setelah itu bu Sum akan mengajari kami menggambar, melipat kertas-kertas warna, bernyanyi bahkan mengeja huruf. Aku paling suka pelajaran ini, karena bu Sum akan menggambar terlebih dahulu benda yang harus kami eja namanya. Dua buah roda di gambarkan berjarak, kemudian beliau menambahkan semacam garis bersilangan dengan ujung bawah melengkung ke kanan. Di sebelahnya sudah ada gambar sebuah mobil, yang menurut ajaran bu Sum harus kami eja sebagai o-t-o, oto. Lalu digambarnya pula bentuk-bentuk lain dengan huruf-huruf sederhana di sisinya. Aku memperhatikan dengan penuh semangat, sebab bu Sum akan menyuruh kami menerka hurf-huruf apa yang tertera disana. Hanya di sinilah kepandaianku menonjol. Aku bisa mengejanya dengan sempurna.

Sebagai imbalannya, bu Sum akan mendudukkan aku di pangkuannya sambil membuka buku cerita dan mulai membaca tentu dengan mengajak serta semua murid untuk menyimaknya. Dan lagi-lagi aku juga suka acara ini. Sebab wajah bu Sum dapat berubah-ubah dengan segala gaya dan mimiknya menampilkan watak dari tokoh dalam ceritanya. Suaranya bisa diubah-ubah sebagaimana yang dikehendaki si pengarang. Bukan main, di mataku bu Sum snagat luar biasa, aku terkagum-kagum padanya.

Taman Kanak-Kanak yang dipimpinnya bernama Perwari, yang setelah aku besar baru kuetahui singkatan dari Persatuan Wanita Republik Indonesia,  pemiliknya. Ibu mertuaku juga anggota di Perwari sehingga aku tahu pasti kiprahnya di dunia sosial sangat banyak. Di kelasku banyak murid-murid dari kalangan penduduk kelas menengah ke bawah, sehingga uang sekolah kami kadang-kadang ditunggak dan baru bisa dibayarkan beberapa bulan sekali. Untuk itu aku tahu, bu Sum akan selalu kena marah pak Wandi pembina sekolah yang kebingungan akan membayar gaji bu Sum dan uang saku tante Anna dengan apa. Aku menangkap rona gelisah di mata bu Sum kalau kebetulan dia membawaku berjalan menyetorkan uang sekolah ke rumah pak Wandi di daerah Kalapa Senggeh, kampung di dekat-dekat tempat tinggal kami. Karena jumlahnya tidak seberapa.

Namun bu Sum sangat teguh pada keinginannya mengajar. Aku menganggap demikian, sebab sekalipun pak Wandi habis memarahinya, tapi bu Sum tetap akan berdiri di muka kelas keesokan harinya, mengajari kami berbagai hal yang menyenangkan itu tadi. Suatu saat pernah kudengar bu Sum mengatakan pada pak Wandi, "saya ikhlas tidak diberi apapun pak, asal saya tetap dapat menemani ank-anak itu di kelas". Lalu pak Wandi menutup pintu kuat-kuat seakan-akan ingin mengatakan bahwa uang sekolah anak-anak tidak semata-mata untuk menggaji bu Sum saja, melainkan juga untuk menghidupi kegiatan organisasi Perwari. Kuingat kemudian bu Sum menggenggam tanganku, berbalik arah dan berjalan pulang meninggalkan halaman rumah pak Wandi. Kami berbimbing-bimbingan di bawah payung kertas Tasik kuning berbunga-bunga merah menuju rumah kami. Semua dalam kemesraan, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

-ad-

Aku harus dapat menjadi seperti bu Sum. Hidup dalam keterbatasan tapi tidak merengek dan tidak juga mogok kerja. Aku harus mementingkan kepentingan yang lebih utama, yaitu anak-anakku. Pengasuhan mereka harus ada di tanganku, dan aku sendirilah yang harus mengajari mereka bagaimana melangkahkan kaki dan berdiri dengan tegak serta bicara dengan mantap. Diriku harus tampil sebagai "ibu bangsa" seperti slogan hari ibu yang seriing didengung-dengungkan setiap bulan Desember tiba.

Karena itu dalam "tidur"ku aku merasa diberi kekuatan batin oleh bu Sum, sehingga ketika tiba saatnya kami berkumpul di rumah dalam keremangan senja, aku akan tetap ada di sana. Sekalipun mulut suamiku terkatup rapat dan aku hanya bisa bicara dengan bayangannya dan khayalan tentangnya semata. Aku rela, sebab bu Sumiati, guru utamaku telah menyuntikan semangat pengabdiannya padaku, siang itu, ketika seisi rumah menunaikan kewajiban utama mereka di luar rumah. Untuk masa depan kami dan kelangsungan hidup hari ini. Sejenak akupun tertidur lagi, kali ini tidur dalam arti yang sesungguhnya dengan menyunggingkan senyum keikhlasan.

Kekuatanku tidaklah terletak pada perlawanan fisik sebagaimana biasa dilakukan wanita-wanita lain pada umumnya. Dengan caraku sendiri, aku punya keyakinan bahwa aku sudah menang melawan belahan jiwaku yang sekali ini sedang "tertidur lena". Tuhan Maha Tahu.

Rabu, 09 Januari 2008

SI BAJU BIRU

Stambul Baju Biru dan Keroncong Tanah Air ku lantunan Toto Salmon mengalun halus dari piringan cakram di ruang keluarga kami. Mengingatkan aku akan hari pernikahan ku dengan mas Dj suatu pagi di bulan Januari lebih dari duapuluh tahun yang lalu. Kami sengaja memilih nya untuk meramaikan perayaan pernikahan kami. Memang tidak lazim, sebab di zaman itu jarang anak muda yang tergila-gila musik keroncong. Dan di antara yang sedikit itu adalah kami berdua. Stambul Baju Biru "miliknya" dan "Keroncong Tanah Airku" punya ku. Itulah lagu kebangsaan kami selain "Gubahan ku" yang ku nyanyikan untuknya di malam pengukuhan siswa SMA 1 dulu yang kemudian dituliskan nya kembali untukku dalam huruf sandi rumput sebagai surat cinta pertama dan terakhir dari lelaki yang berhak kusebut sebagai pacar.

Berulang kali lagu-lagu itu ku putar pembunuh sepi sebab suamiku masih disibukkan oleh pekerjaan kantornya. Dan aku tidak boleh cengeng. Tidak pada tempatnya bagiku merengek minta perhatian dan waktu darinya, sebab dia bekerja dengan ikhlas dan tekun juga demi untukku. Hanya kedua lagu itu yang aku butuhkan kalau aku sedang sangat rindu padanya. Seperti rinduku siang ini walaupun sedang libur akhir pekan. Untuk suamiku nyaris tidak ada kata akhir pekan. Semua hari adalah sama maknanya, kerja dan kerja semata.

Dia lelaki yang sangat bertanggung jawab. Dan aku patut sangat bangga padanya.Sedari kecil aku tahu, bahwa hidupnya diabdikan untuk keluarga. Untuk merawat bapak mertua ku yang dilumpuhkan kanker paru, dan untuk membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Karenanya tidak heran juga kalau kini dia mendapat berkahnya. Punya pendidikan yang memadai dan pekerjaan tetap. Dan yang terutama, dia tidak harus menadahkan tangan atau mencuri-curi untuk menghidupi kami anak-beranak.

Aku bangkit dari sofa, mematikan stereo set guna melengkapi kebanggaanku dengan puji syukur padaNya. Jahitan dalam perutku ini masih sangat ngilu. Sehingga aku berjalan beringsut untuk mencapai kamar mandi mengambil air sembahyang. Pembedahan yang kemarin adalah kali kelima aku bersentuhan dengan prosedur bedah dan pembiusan nya.

Perkenalan pertama ku dengan meja bedah terjadi tahun tujuh puluh. Hanya operasi kecil, pengangkatan amandel ku. Dan aku tidak sendirian. Bersamaku ada sahabat kecilku yang setahun lebih tua. Luckman namanya. Semua orang memanggilnya begitu, seperti orang memanggil ku Julie. Tapi aku lebih suka menyebutnya mas Wawan seperti dia memanggil ku Liliek, yang selalu diucapkannya dengan menyelipkan huruf 'e' sehingga kesannya namaku jadi panjang. Sifatnya usil, banyak tingkah dan dia paling senang menggoda ku.Kalau kami bermain sembunyi-sembunyian bersama, dia akan masuk kolong meja dan mojok di situ atau bahkan mengurung diri dalam kamar mandi yang basah sampai aku kewalahan mencarinya dan menangis jengkel. Lalu dia akan tertawa-tawa dengan senyum kemenangan sambil menjulur-julurkan lidahnya dengan tangan ditegakkan di sisi kepala menyerupai tanduk.

Itu juga yang dilakukannya ketika kami berdua duduk di muka ruang bedah Rumah Sakit PMI di penghujung tahun menunggu nama kami dipanggil masuk. "Kowe kudu mlebu ndisikan, ya" katanya sambil mendorong tubuhku ke depan pintu. Tentu saja aku takut dan menolak, "kowe sing bocah lanang kudu ndisiki," bantahku sambil bersikeras mencari tempat duduk. Ibu kami saling berpandangan dan tersenyum, "ayo, ora pareng nakal," seru ibunya, sahabat terkarib ibuku sambil menyerahkan Luckman kepada pak Achmad asisten ruang bedah disertai helaan nafas legaku. Tak lama dia sudah muncul kembali di pintu sambil menjulur-julurkan lidahnya dan meledek, "hayoh kowe, diogrok-ogrok nang njero kono" katanya menciutkan nyali ku kembali. Dan peristiwa itu tak akan pernah terlupakan seumur hidupku.

Dia dengan "angkuhn ya" kemudian siuman dan "bangkit" lebih dulu sambil menyetel lagu-lagu Koes Plus dari radio merahnya yang baru, hadiah orang tuanya karena dia berani dibedah. Lagunya "Derita" dan "Kelelawar". Di dekatkannya radio itu ke kasurku, di ruang depan kamar ke dua dari sudut kanan RS PMI. Dalam keadaan tidak bisa bicara, toch sahabatku yang satu ini tetap lincah. Diambilnya segelas es krim dari thermos biru ibuku dan dijilat-jilatnya di depanku. Dia sekan-akan ingin mengatakan bahwa es itu adalah makanan terenak yang hanya boleh disantap oleh jagoan seperti dirinya. Air mataku meleleh benci. Benci pada sikapnya yang selalu ingin menang sendiri dan merendahkan perempuan.

Waktu itu angkutan kota belum marak di kota kami. Di Jalan Otto Iskandardinata tempat rumah sakit itu berdiri hanya ada bemo dan delman saja. Untung orang tua kami punya mobil walaupun konon inventaris dinas. Kami dijemput bapak dengan Fiat 1100 biru tuanya, dan melaju meninggalkan rumah sakit, mula-mula ke Bondongan mengantar Luckman setelah itu baru pulang. Itulah kenangan ku yang terakhir bersamanya. Sehabis itu dia bertumbuh jadi perjaka cilik yang aku tidak mengenali nya lagi sementara hari-hari ku justru terpaut pada orang lain lagi. Lelaki yang sabar, selalu mengalah dan tahu bagaimana harus memperlakukan wanita walaupun umurnya belum dewasa. Dan lelaki itulah yang menjadi tambatan hatiku serta senantiasa hadir di setiap mimpi malam hari ku.

Aku terpaksa "menggadaikan" nama Luckman pada ayahku yang galak dan penuh peraturan ketika aku mau diajak pergi yang pertama kalinya di malam hari oleh pria itu. Kepada bapak kukatakan bahwa aku akan pergi beramai-ramai dengan Wawan juga. Ayahku mengangguk lega, tapi seketika matanya membelalak bola menyaksikan yang berdiri di hadapannya untuk minta izin membawa ku adalah mas Dj. Ayah bukan tidak mengenalnya. Ibu mas Dj adalah teman baik ibuku juga, dan paman mas Dj bekerja membantu ayahku di kantornya. Bapak ku hanya tidak menduga bahwa di antara kami terjalin pertemanan yang mengarah kepada persahabatan yang serius. Sebab, ketika itu umurku belum lagi genap enam belas. Tapi ayahku justru sangat respek kepadanya sesudah peristiwa itu. Dan hari-hari kemudian ku benar-benar dipasrahkan seluruhnya ke tangan mas Dj. Sebab ayahku tahu, betapa mas Dj memperlakukan aku sebagaimana beliau memperlakukanku. Aku diambil dari dalam rumah, dan dikembalikan juga ke dalam rumah, ke dalam genggaman ayahku yang tahu betapa aku gadis yang lemah dan punya keterbatasan fisik.

-ad-

Shalat ku berakhir dengan doa yang panjang, doa syukur yang kupanjatkan sebab Allah telah mengarunia ku nikmat hidup bersama seorang lelaki yang bertanggung jawab. Juga doa untuk keselamatan suamiku yang hari-harinya selalu dipenuhi kesibukan luar biasa. Lepas shalat yang kulakukan sambil duduk kuambil buku referensi ku mengenai penyakit kanker. Karena sebetulnya sekali pun aku sudah menjalani semua tahap pengobatan, tapi hasil pemeriksaan kultur jaringan belum juga keluar. Dan ini menyisakan tanda tanya serta keresahan padaku. Tidak mustahil suatu hari nanti aku harus kembali berurusan dengan meja bedah untuk yang kesekian kalinya. Aku menghela nafas panjang. Dadaku terasa sesak.

Dokter mengatakan bahwa kelainan pada kandunganku bukanlah akibat sel-sel ganas. Melainkan karena darah bulananku terhalang oleh sesuatu sehingga tidak tuntas keluar semua dan kembali masuk menyebar ke segala penjuru rahim. Waktu pertama dokter mengambil organ tubuhku yang maha penting itu, aku tahu bahwa penyakitku akan kembali lagi. Sebab dokter masih menyisakan kedua indung telurku yang konon diperuntukkan nya bagi suamiku.

Aku kecewa mendengarnya. Bukan aku tak sayang pada suamiku, tapi penyakit itu sangat mengganggu ku. Nyeri nya senantiasa menjalar ke segenap lorong di tubuhku. Bahkan kaki, lengan serta paru-paru ku sering mogok kerja karenanya. Kalau sudah begitu aku akan terdiam menyusun kekuatan dan terpaksa mengurung diri.

Tak mudah bagiku menghapus kata endometriosis dan adenomyosis nama penyakitku ini. Karenanya malam ini kubuka dan kubaca teliti apa yang tertera di buku itu.Apa yang tertulis telah kualami semuanya

-ad-.

Pagi itu aku bangun dengan rasa kejang dan nyeri pada organ tubuh kananku, tepatnya dari arah pinggul ke kaki. Belum pernah aku mengalami nyeri sehebat itu. Bahkan ketika nyeri datang bulan ku bertandang, rasanya pun tidak persis sama. Biasanya aku hanya merasakan nyeri di perut diikuti keinginan untuk melepaskan isi perut yang tiada habis-habisnya. Karenanya aku amat terkejut pagi itu.

Kucoba untuk menggerakkan kaki, masya Allah! Rasanya seluruh urat-urat dan otot ku tertarik ke jantung. Sehingga ku lepas lagi kakiku ke atas kasur. Waktu sudah pukul setengah enam, dan tram kota yang pertama sudah kedengaran melaju di jalannya di sebelah utara rumahku. Sebentar lagi ketiga jagoan yang jadi kewajibanku untuk mengurusnya, butuh sarapan pagi dan senyum ku untuk melepas ke tempat tugas masing-masing. Andrie dan Yadi ke sekolahnya di Ecole La Fermette 2000, sementara suamiku ke kantor selepas menurunkan mereka di gerbang sekolah persis di dekat mansion terbesar di daerah rumahku di Wezembeek Oppem, Belgia.

Aku tahu, aku harus berlomba dengan waktu. Dan aku harus mempersiapkan bekal terbaik untuk mengisi energi mereka di musim winter yang baru jatuh ini. Semakin kucoba bergerak, semakin sakit rasanya. Dengan putus asa aku memiringkan tubuh, lalu beringsut pelan menjatuhkan kaki kiri ku yang normal, sehingga kaki kananku terpaksa juga ikut turun. Mas Dj masih meringkuk di bawah selimut setelah semalam menyelesaikan naskah penelitiannya hingga menjelang pagi.

Pada akhirnya upaya ku membuahkan hasil, dengan bertelekan pada sisi ranjang aku berhasil bangkit dan lagi-lagi beringsut menuju kamar mandi sebelum mulai tugas pagi ku di dapur di lantai dasar. Rumah sewaan kami di Belgia ini terdiri dari tiga lantai yang dimulai dari basement di bagian bawah diikuti ruang-ruang tamu, keluarga, makan dan dapur, serta diakhiri ruang tidur pada bagian teratas. Sehingga untuk mencapai dapur aku butuh kekuatan menuruni lebih dari dua puluh anak tangga. Dadaku terasa sakit, seakan-akan paru-paru ku dihimpit kencang sehingga untuk menarik nafas pun dibarengi lelehan keringat dan air mata.

Tapi semua tugas berhasil kueselesaikan dengan baik, sehingga mas Dj dan anak-anak tidak pernah tahu apa yang terjadi. Mereka hanya memandang heran ketika aku malas bangkit dari kursi makan dan tidak seperti biasanya menyelesaikan semua urusan dengan lambat. Menjelang turun ke garasi di basement barulah kukatakan bahwa aku merasa sakit dan mohon maaf tidak bisa melambaikan tanganku dari rolling door garasi kami. Mereka mengangguk maklum, lalu menciumi aku satu persatu sebelum menghilang ke luar rumah.

Dan hari itu bagiku terasa beku, sedingin udara delapan derajat celcius di luar sana. Aku sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk dan berbaring. Sedangkan darah segar mengucur nyaris tak berhenti. Padahal untuk mencapai toilet di sudut kamarpun rasanya aku tak mampu. Tapi inilah hidup. Jadi aku tidak berhak menyesalinya.

Jam tiga siang ku kumpulkan semua kekuatanku untuk berjalan menjemput anak-anak kami dalam cuaca yang basah. Titik-titik salju yang lembut turun menyentuh mantelku dan mencair kembali. Waktu yang biasa ku habiskan hanya dua puluh menit saja, kini berlipat jadi setengah jam lebih, sehingga memaksa anak-anak kami berdiri di muka pagar tinggi sekolah mereka sambil melongok ke luar meneliti wajah orang yang lewat satu persatu. Ketika akhirnya aku nampak, si kecil berlari menghambur sampai lupa mengucapkan salam kepada guru piket yang bertugas hari itu. Aku minta maaf kepada mereka lalu kami berjalan beriringan, kali ini dua perjaka kecil ku mengapit ku dengan erat seolah-olah takut kehilangan sekaligus ingin mengisi kekuatan untukku.

"Aku telepon bapak ya bu?", usul si kecil dengan cemas. "Tidak usah sekarang," jawabku sambil mengunci pintu rumah kembali. "Nanti malam menjelang pulang, sampaikan bahwa ibu tidak masak dan minta tolong bapak mampir ke restoran Saigon seperti kalau kita baru pulang liburan itu lho....." jawabku mencegah. Kedua anakku patuh, namun dari sorot mata dan bahasa tubuh mereka tercermin kekhawatiran untukku.

Ketika kudengar rolling door diseret ke atas segera aku coba untuk bangkit menyamburt suami. Kami hanya sempat berpapasan di anak tangga ketiga dari atas, saat mata kami bertatapan. Suamiku menanyakan apa yang terjadi padaku, dan kembali kujawab bahwa aku sakit. Dia meneruskan langkah masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya, sedangkan aku tetap beringsut ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang baru saja dibelinya.

Sepiring chop suey dan beef and broccoli kutaruh di meja bersebelahan dengan braised tofu dan roast duck kegemaran anak-anak. Kami makan dengan nikmat, sebab aku tidak memasak tapi masih ada makan malam yang dapat kami santap malam ini. Pada suapan kedua, tiba-tiba tanganku kejang, sehingga sendok yang ku genggam terlempar jatuh di dekat piring anakku. Aku menjerit menahan nyeri sambil menekan dadaku dengan tangan kiri ku diikuti pandang tak mengerti dari suamiku serta anak-anak. "Kamu kenapa?", tanya suamiku. Hanya sepatah seperti yang tadi sore dipertanyakannya pada anak kami. Sudah sangat lama dia menjadi begitu pendiam dan sulit untuk berbicara, terutama denganku atau mengenai aku. Tapi sejauh ini aku memaklumi nya, sebab suasana di tempat tugas baru suamiku sedang serba tidak mendukung. Keadaan ekonomi di tanah air imbas nya sampai ke segala lapisan termasuk ke kantor suamiku di belahan bumi yang lain. Sehingga sebagai akibatnya, pekerjaan menumpuk dan harus dikerjakan sendiri demi penghematan tenaga.

Ku jelaskan padanya apa yang kurasakan dan terjadi. Dia memasang telinga. Lalu dengan sigap ia meraih tangkai telepon serta memutar nomor dokter gigi kesayangannya, seorang Indonesia yang baik hati dan dermawan. Aku bingung sendiri, ternyata suamiku minta persetujuan untuk memberikan obat pereda rasa sakit giginya untukku. Dokter yang baik hati itu menyarankan agar aku dibawa kepada seorang dokter umum asal Indonesia -temannya- yang dapat melimpahkan kasusku kepada dokter kandungan yang kebetulan orang Indonesia juga. Tapi malam sudah terlalu larut sehingga suamiku nekad menyuruhku menelan obat sakit giginya. Lalu malam itu aku tidur dengan menahan sakit yang sangat.

Bangun pagi rasa nyeri itu semakin menghebat. Aku merasa, inilah saatnya aku "menganggur". Sepertinya aku lumpuh dan tidak bisa lagi menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai ibu rumah tangga. Suamiku mengatakan bahwa penyakit ini memang sudah diprediksi seseorang ketika kami masih remaja. Aku mencoba-coba mengingat lagi selagi pikiran ku masih jernih terbawa suasana pagi. Dan kini terbayang kembali suasana di rumah pak Djoemin ahli pijat refleksi di kampung nenek moyang orang tua kami yang pernah memijat ku waktu ibuku membawa kami ke sana. Menurutnya, kelainan dan kelemahanku terletak pada kandungan. Dan aku diminta membuktikan sendiri. Kini apa yang telah kulupakan datang lagi sedikit demi sedikit. Dimulai dari kasus kehamilan dan kelahiran anak-anakku yang senantiasa bermasalah hingga rasa sakit yang tiba-tiba menghebat ini. Dalam hatiku terbersit keyakinan bawa mas Dj betul-betul tercipta untukku. Dia sangat tahu sejarah dan kondisi ku, dan dia sangat maklum akan segala kelemahanku. Aku menghela nafas panjang sambil terus memegangi dadaku yang seperti disayat.....

Akhirnya aku tidak jadi ke dokter. Kesibukan suamiku menghambat keinginanku minta diantar, sehingga pengobatan ku tertunda cukup lama. Namun di balik itu aku justru bersyukur, karena anak-anak kami kemudian berubah jadi mandiri. Di saat-saat aku sakit, mereka bahu-membahu bersama ayah mereka menyelenggarakan semua urusan rumah tangga termasuk menyiapkan makan untuk kami semua. Dan secara ajaib, tiba-tiba mereka bisa menghidangkan sepiring nasi goreng hangat yang dicampuri kacang polong serta udang ditambah omelet terlezat dan terlembut yang pernah aku rasakan. Aku merasakan cinta kami semakin erat bertumbuhan. Semua berkat sakit ku yang membawa rahmat.

-ad-

Mas Dj masuk kamar jam lima sore. Tidak dengan wajah letih, tapi dengan degupan rindu di dada. Dihampirinya ranjang tidur ku, didekatkannya wajahnya ke bantal ku. Lalu hidung itu menyentuh dahi ku dan menghirup bau keringat ku. "Aku minta maaf tidak bisa menemani mu di rumah," sesal nya. "Tapi aku selalu ingat kamu dan ingin cepat pulang ke rumah,," sambungnya lagi. "Bukankah aku telah mengecewakanmu karena aku telah kehilangan "kebanggaanku"?, tanyaku sambil menatapnya ragu. Dia tidak menjawab, selain merebahkan diri di sisiku lalu mengelus-elus anak rambut ku. Persis seperti dua puluh tahun lalu ketika aku baru kehilangan anak pertama kami, dan hati kami saling mencari obatnya. Sore itu jadi moment yang menyenangkan, kami saling berbagi, kegundahan dan kegelisahan, juga kasih sayang yang tulus.

Selasa, 08 Januari 2008

PERASAAN YANG DITINGGALKAN

Di luar rumah kudengar rombongan ibu-ibu semua temanku berombongan berjalan beriringan sambil mengobrol. Aku tidak ada bersama mereka, masih menikmati cuti sakitku di atas kasur. Renyahnya tawa mereka serta celotehan ringan menggelitik kupingku. Aku menggigit bibir, menahan keinginan keluar.

Sudah lebih dari dua minggu aku terpaku begini. Bukan kehendakku memang, dan juga tak mungkin kutolak. Dalam masa tetirah ini aku bahkan justru menyukuri nikmat karena suamiku menjadi semakin sayang dan bisa menerimaku tanpa pamrih. Apa adanya. Padahal sebelum aku terpuruk, dia seperti tak mau tahu kondisiku. Dan aku tahu ini terjadi karena dia sudah lelah mendampingiku sejak dulu, ketika namaku masih perawan kencur.

Aku masih ingat dengan jelas betapa setiap bulan aku pasti merepotkannya. Datang kepadanya dengan keluhan sakit perut dan sejenisnya. Memasrahkan diri ke tangannya untuk diantar pulang ke rumah atau ditemani. Dan dia biasa melakukannya dengan ikhlas. Tangan itulah yang menuntunku melewati hari-hari menyakitkan sampai aku bisa tidur di kasur empuk bukan di rumahku sendiri, melainkan di luar negeri menumpang hidup padanya.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk orang, dan bu Bambang asistenku yang setia masuk mengantarkan salah satu temanku. "Mbak, kita ada pekerjaan di rumah sebelah,' ujarnya setelah mengucap salam. "Ikut yuk, sekedar duduk-duduk ngawasin aja," bujuknya. Aku menggeleng meyatakan penolakan, sebab aku tahu duduk-duduk di situ adalah hal yang tidak nyaman. Rumah yang di maksud adalah kediaman resmi pimpinan kantor suamiku. Dan pekerjaan mereka adalah pekerjaan besar yang menyita waktu, pemikiran dan perhatian penuh. Aku sudah dengar dari suamiku apa yang akan dihadapi karena suamiku ingin minta pengertian akan keterbatasan waktunya untukku. "Mbak nggak harus kerja kok, duduk-duduk sajalah sekedar melepas jenuh,' katanya lagi membujuk terus. "Maaf, aku belum sanggup," jawabku sambil terus berbaring. Tapi dia tak kalah ngotot. Akhirnya aku coba bangkit pelan-pelan dan merayap menuju rumah di sebelah.

Pekerjaan besar memang nyata. Boss kami duduk di ujung meja mengorganisir beban kerja yang dilimpahkan dinas ke tangan para ibu. Semua temanku memegang kertas dan pena masing-masing, mendengarkan instruksi dan pembagian kerja dengan cermat. Kecuali aku tentunya. Aku merasa seakan-akan semua mata teruju padaku yang hanya duduk separuh bersandar melorotkan tubuh di kursi sambil meringis-ringis. Sungguh suasana yang tidak nyaman. Karenanya kutahu, suamiku patut untuk merasa bosan. Dia menanggung malu akan keterbatasan fisikku sebagai pendamping suami, bukankah begitu?

Waktu makan malam tiba aku pamit pulang dan kembali menyendiri di pembaringan. Ibu-ibu masih asyik menyelesaikan tugas. Begitupun para suami, pasti belum akan masuk rumah sebelum lewat tengah malam. Resiko pekerjan pamong praja memang begitu. Apalagi di luar negeri, duapuluhempat jam adalah waktu yang tepat untuk urusan dinas. Kupandangi bantal kosong di sebelahku, dan kuraba dinginnya. Biasanya pada pukul sekian rambut halus lebat itu sudah ada di atasnya, mengharap belaian lembutku sambil menyenandungkan keroncong yang menggugah kantuk kami. Sudah puluhan tahun kami jalani ritual yang sama, untukku tanpa bosan.

-ad-

Dulu aku selalu duduk-duduk berdua dengannya. Melangkahpun selalu bersama, ibarat sepasang sandal, tak mungkin sandal kiri berjalan tanpa dibarengi sandal kanan. Cintanya yang hitam-putih tak pernah luntur. Dia akan bilang sayang, kalau dia memang sayang dan bencipun duingkapkannya kalau memang aku berubah tidak menjadi diriku sendiri.

Waktu itu aku pernah ditegurnya dengan sindiran karena terlalu sering pamitan ke rumah Agnes teman kepanduanku lain gugus depan. Padahal dia sendiri mengenal Agnes sebaik aku mengenalnya, sebab mereka sama-sama pernah ikut jambore di Sulawesi sebagai kontingen kota Bogor. Aku waktu itu hanya menonton foto-foto yang diambil mereka baik di lokasi Perkemahan Wirakarya maupun ketika di atas kapal Tampomas yang menyeberangkan mereka keluar pulau. Dokter tidak mengijinkanku ikut pergi, begitu juga dia. Mereka sama-sama takut aku sakit dan merepotkan disana. Aku cuma mengangguk sekalipun kecewa. Dan sebagai "upah"nya dia mengirimiku foto-foto itu serta sebuah hiasan dinding kayu bergambar rumah Tongkonan. (Menengok keadaanku sekarang, aku tersenyum sendiri, itukah tandanya aku akan hidup di rantau orang? Sebab rumah tongkonan itu sekarang berdiri di halaman rumah kami di Afrika Selatan).

Mas Dj tak lepas dari sisiku sebagaimana ia tak melepaskan aku seorang diri. Waktu tiba saatnya dia menimba ilmu di ibu kota propinsi, aku dipasrahkannya kepada teman lain yang dipercayainya akan menemani aku dengan baik. Dan amanah itu dilaksanakan sampai saatnya aku bergabung kembali di sisi tunanganku untuk juga melanjutkan sekolah.

-ad-

Malam itu adalah salah satu saksi betapa dia takut kehilangan diriku. Tanpa diduga-duga, nalurinya tiba-tiba menuntun langkahnya pulang ke rumah ketika aku sedang asyik akan ikut perkemahan Sabtu-Minggu bersama adik-adik kami penggalang se-kota. Aku baru saja selesai mendirikan tenda dibantu Helga, Suryaningsih, Ita dan Nina, sedangkan perkemahan belum sempat dibuka. Matahari baru saja resmi turun walaupun sejak siang udara dingin, basah oleh hawa musim penghujan.

Di tendaku Ningsih membuka bekalnya berupa sebungkus kacang sukro yang dimintanya dari warung bapaknya seorang pedagang hasil bumi dan kue-kue terkenal di kampungku. Helga asyik mengobrol dengan Hans dan Herry dari tenda putra di seberang sana yang terpisah api unggun. Mbak Wiwiek kakak pembina sekaligus guru ilmu ukurku di SMP melongokkan kepalanya mencari aku. "Jul, kakakmu datang, kau harus pulang," katanya. Aku dan teman-teman mendongakkan kepala serentak. "Tuh, dia di situ," sambung kak Wiwiek lagi. Dan di seberang sana pada tenda gugus depan 23 teruna impianku berdiri gagah. Tangannya masuk ke dalam saku celana, senyumnya membuncah cerah.

Hatiku langsung layu, kecewa. Aku tahu, dia pasti akan menyuruhku pulang dengan alasan takut aku sakit. Aku tak habis pikir, siapa yang telah membisikkan padanya bahwa hari ini aku akan ikut persami. Teman-temankupun memandang tak percaya, tapi mereka semua maklum. "Ya udah, pulang aja deh, daripada kita disalahin,' kata Nina bijak. Lalu dia membantu mengemasi barang-barangku yang baru saja aku keluarkan kemudian menyerahkannya pada mas Dj di luar tenda. Bagai kerbau dicocok hidung, aku menurut bangkit, membawa berbagai rasa, campuran antara kecewa dan senang. Senang sebab akhir pekan itu akan kulewati bersamanya seperti dulu. "Ibu menunggu di jalan raya," katanya sambil menggandengku.

Persis anak kecil kehilangan kesempatan, aku menurut mengikuti langkahnya dengan pandangan kabur karena kecamata yang mulai basah oleh lelehan bening air mataku. Aku kehilangan selera untuk bicara. Air mata itu begitu menyekat di tenggorokanku, sementra dia diam membisu. Nafasku mulai pendek-pendek dan gatal di tenggorokanku mendesak minta dibatukkan. "Diam," katanya. "Nanti orang-orang mengira kamu korban kejahatan," sambungnya lagi. Aku tidak peduli, keinginan menangis itu begitu kuat menemani kekecewaanku, apalagi setelah kami keluar dari lapangan Sekip tempat para anggota TNI bermukim, ibuku tidak nampak. "Dimana ibu?", tanyaku. "Di rumah," jawabnya singkat lalu membimbingku masuk ke dalam bemo hijau yang meraung-raung di kegelapan malam sepi meninggalkan asap pekat lagi bau. Lutut kami berdempetan di bangku belakang bemo yang memang sempit itu. Baru kusadari bahwa ternyata ibu ada di rumah dan ini hanya bentuk kasih sayangnya padaku semata. Bukan murni atas kehendak ibu. Tak urung aku berterima kasih juga padanya, sebab malam itu ternyata tidurku betul-betul tidak nyaman terganggu oleh batuk-batuk berkepanjangan yang keluar dari asmaku.

-ad-

Kecupan lembut pada dahiku dan guncangan tangan yang kekar membangunkanku dari tidur barusan. Suamiku sudah pulang dan berdiri di dekatku karena aku kedapatan menangis dalam tidur. "Sakit?", tanyanya? Aku menggeleng dan berusaha tersenyum lembut. Diusapkannya tissue ke pipiku dan digenggamkannya sebuah ke tanganku. "Aku bersih-bersih dulu, ya?" pamitnya sambil melangkah masuk ke kamar mandi membawa piyama bersih.

-ad-

Dia masih seperti dulu, baik dan penuh perhatian padaku sekalipun sekarang pekerjaannya sangat menyita waktu. Kelirulah penilaianku jika aku menganggapnya sudah punya dunia baru dan tidak membutuhkan aku sebagai pendampingnya lagi.

Tapi jujur saja, aku pernah sangat kecewa padanya. Dia lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah tidak bersamaku. Sekalipun aku tidak mempermasalahkannya, tetapi sahabatku menangkap nuansa aneh ini dan mencoba mendekatkan aku padanya lagi. "Aku sedang butuh waktu untuk diriku sendiri," alasannya pada sahabatku. Dia selalu menganggap aku terlalu bergantung padanya, tidak pernah bisa mandiri, dan tidak mau mengikuti perkembangan jaman.

Aku sempat terperangah, sebelum kemudian menyodorkan "Buku Harian Dari Maret ke Juli" pusaka kami yang menyimpan semua cerita kami di masa remaja dulu. Di situ jelas tertulis bahwa dia menyukai aku karena aku adalah pribadi yang tampil apa adanya.  Di balik itu semua dia juga menyiratkan keinginnya untuk memiliki istri yang tampil sebagai ibu rumah tangga murni. Memang dia tidak menyaratkan aku harus selalu mengurung diri, tapi nampak jelas bahwa istri ideal baginya adalah perempuan rumahan. Itu sebabnya dia dulu sangat mendukung bidang studi lanjutan yang kupilih karena kalau aku lulus nanti, aku masih bisa berkarya dari rumah. Dan seingatku, dia tidak pernah mempermasalahkan aktivitasku sebagai tukang antar-jemput anak semata. Aku menghela nafas dan menggeser tubuhku pelan-pelan mencari posisi yang nyaman. Punggungku mulai sakit-sakit menyaingi bekas sayatan pisau bedah pada perutku.

-ad-

Mas Dj menyingkap selimut di sebelahku dan memasukkan tubuhnya yang hangat ke dalam. Senyum itu begitu manis bertengger di bibir, lalu merebak pelan sambil menjelaskan bahwa aku tidak perlu risau akan ketidakhadiranku bersama teman-teman menangani pekerjaan kantor yang cukup penting ini. "Yang penting kamu sembuh sempurna," tegasnya. "Sekalipun aku bukan istri pendamping suami yang baik?", sindirku menirukan ucapannya sendiri ketika kejemuan sempat menjamah hatinya beberapa tahun yang lalu. "Ah, jangan pikirkan itu, kamu tetap mutiaraku apapun adanya. Kau selalu di hatiku dengan perhatian dan tulusnya kasihmu," bantah suamiku sambil mendaratkan sekali lagi kecupan di pipiku. Maka malam itu serasa bertaburkan bintang. Aku terlarut dalam pesta yang terang benderang sepanjang hidupku dengannya.


 

 

Pita Pink